Bab 2

Linda memegang ujung baju Joseph dan berkata dengan sedih,

"Kak Joseph, jangan marah. Aku yang payah, malah alergi seafood. Kak Rina pasti nggak sengaja. Kalian jangan salahkan dia!"

Ekspresi Joseph berubah seketika. Dia berujar dengan wajah dingin,

"Sialan anak itu. Kami terlalu memanjakannya sehingga dia memiliki sifat yang sombong dan arogan."

Tatapan mata William berisikan kemarahan yang bertubi-tubi.

"Makin besar, makin picik hatinya. Kalau bukan karena dia, mana mungkin Linda begini?"

Pada saat ini, Linda sengaja menunjukkan anggota tubuhnya yang masih merah karena alergi di depan ketiga kakakku.

Albert dengan sedih mengelus kulit yang masih sedikit merah itu.

"Masih sakit nggak, Linda?"

Linda menundukkan kepala. Suaranya gemetar, seperti akan menangis.

"Aku nggak sakit ... nggak sakit ...."

Kemarahan tersulut di hati William. Dia berseru dengan marah,

"Kalau terlambat pergi ke rumah sakit, nyawa Linda pun terancam. Tapi setelah beberapa hari, dia nggak kirim pesan apa-apa. Dia sama sekali nggak merasa menyesal!"

Joseph membentak dengan gusar,

"Cepat bawa Rina ke sini! Aku nggak percaya dia akan begitu keras kepala dan nggak mau minta maaf!"

William dan Albert juga berseru dengan marah,

"Dia keras kepala karena ada kita, 'kan? Dia sudah berbuat salah. Dia harus mendapat hukuman yang setimpal!"

Lalu, mereka memberi perintah pada pelayan dengan emosi,

"Kenapa bengong saja? Cepat bawa orang yang nggak punya hati itu ke sini. Lalu, ambilkan cambuk. Kalau bukan karena Rina sengaja masak seafood, mana mungkin Linda menderita di rumah sakit selama tiga hari?"

"Sudah saatnya kita membersihkan hama di Keluarga Handoko kita!"

Pelayan tidak berani membangkang perintah. Dia terburu-buru pergi ke ruang bawah tanah.

Aku tersenyum getir dan kecewa. Tanpa menyelidiki kebenarannya, ketiga kakakku yakin bahwa itu adalah perbuatanku.

Tiga hari lalu, Linda ingin makan bubur. Aku mengambil inisiatif untuk memasak karena ingin memenangkan hatinya.

Linda secara khusus memberiku sebungkus bumbu dan mengatakan ingin makan itu. Aku mencicipinya. Itu adalah bubur seafood yang simpel.

Alhasil, itulah yang menyebabkan Linda alergi.

Joseph yang merupakan pebisnis elite pun tidak dapat menyadari tipu muslihat kecil untuk memperebutkan kasih sayang semacam itu. Bukankah itu pilih kasih?

Di hati ketiga kakakku, Linda selalu lebih penting daripada aku. Hatiku makin sedih.

Akan tetapi, tidak apa-apa. Aku sudah mati di dalam ruang bawah tanah. Mereka bisa memberikan kasih sayang mereka dengan sepenuhnya pada Linda.

"Tuan Muda Joseph, sudah dari tadi kami panggil Nona Rina, tapi nggak ada respons."

"Dari apa yang kami dengar, sepertinya sudah nggak ada suara napas!"

Joseph mengernyit. Dia langsung beranjak dari kursinya dengan wajah dingin.

"Dia mau pura-pura apa lagi? Dia merasa terhina karena disuruh minta maaf pada Linda?"

"Dia sebenarnya paham nggak, dia hampir membunuhmu kali ini!"

Linda menarik ujung baju Joseph dan berpura-pura berkata dengan sedih,

"Kak Joseph, nggak apa-apa. Aku ini anak yatim-piatu, nggak berhak suruh Kak Rina minta maaf padaku."

Kemarahan Joseph memuncak.

"Dia pikir aku nggak bisa lihat tipu muslihat rendahan begitu?"

"Enak sekali! Dia pikir dia bisa pura-pura jadi bisu? Kelihatannya, hukumannya terlalu ringan!"

"Ayo, seret dia keluar. Lihat bagaimana dia bisa sembunyi terus. Dia harus berlutut dan minta maaf pada Linda!"

Bab 3

Aku mengikuti ketiga kakakku. Hatiku makin sedih.

Ketiga kakakku dengan tergesa-gesa pergi ke ruang bawah tanah.

"Rina, kamu pikir kamu bisa menghindari hukuman dengan cara berdiam di dalam?"

Hanya saja, tidak ada tanggapan dari dalam ruang bawah tanah.

Wajah William menjadi masam.

"Rina, kamu mau pura-pura apa lagi? Cepat keluar, berlutut dan minta maaf pada Linda!"

"Jangan pikir dengan bersembunyi di dalam, matikan ponselmu, dan nggak menghubungi kami, kami bisa mengelakkan perbuatanmu yang dengan sengaja membahayakan Linda!"

Mata Albert juga penuh kemarahan. Dia membentak,

"Rina, sudah hebat kamu? Kamu nggak senang melihat kami memperlakukan Linda dengan baik, jadi sengaja diam untuk membuat kami marah, ya?"

"Kamu benar-benar pikir dengan bersembunyi di dalam dan menentang kami, kami akan mengalah lebih dulu?"

Tetap tidak ada tanggapan dari dalam ruang bawah tanah.

Joseph menoleh pada pelayan-pelayan yang berdiri di samping dengan gemetar. Dia bertanya dengan suara dingin,

"Kenapa kalian semua gemetar? Ayo jujur, apa anak sialan itu menyogok kalian? Kalian sudah mengeluarkannya secara diam-diam?"

William mendengkus.

"Berdasarkan sifatnya, mungkin setelah kita pergi, dia akan menyuruh pelayan-pelayan mengeluarkannya karena nggak tahan dengan lingkungan di ruang bawah tanah."

Tatapan mata Albert menjadi kecewa.

"Kamu sudah hampir membunuh Linda, tapi sama sekali nggak mau terima konsekuensi atas kesalahanmu. Apakah ini adalah adik yang kukenal?"

"Kamu benar-benar pikir kamu adalah satu-satunya adik kami?"

Pada saat ini, seorang pelayan berujar dengan takut-takut,

"Tuan Muda Joseph, kami nggak akan berani mengeluarkannya tanpa perintah darimu!"

"Nona Rina benar-benar sudah dikurung di ruang bawah tanah selama tiga hari."

Albert menolah pada ruang bawah tanah yang tetap hening. Tiba-tiba, kegelisahan melintas di matanya.

Albert berjalan ke depan dan berulang kali menarik pintu ruang bawah tanah dengan kuat, tetapi tidak dapat membukanya.

"Rina, sudah cukup? Aku sudah buka kuncinya. Kamu masih tahan pintu dan nggak mau keluar?"

Aku tersenyum getir saat melihat pintu ruang bawah tanah yang sudah berubah bentuk di bagian dalam.

Pada saat itu, aku kekurangan oksigen. Aku terus-menerus mendobrak pintu untuk menyelamatkan diri. Aku hanya ingin bertahan hidup.

Akan tetapi, pintu ruang bawah tanah sangat kokoh. Aku bahkan tidak bisa membuka celah sedikit pun, hanya bisa mati lemas di ruang bawah tanah itu.

Kakak-kakakku, setelah melihat mayatku, bisakah kalian memberiku sedikit kasih sayang saja dan menguburkanku di samping orang tua kita?

Joseph makin emosi. Dia langsung menendang pintu.

Terbuka celah yang agak besar pada pintu ruang bawah tanah yang berubah bentuk. Ada bau busuk.

Pelayan yang berdiri di samping berkata dengan suara gemetar, "Sepertinya ... bau mayat!"

William dan Albert juga berjalan ke depan dengan marah.

"Bau mayat apaan? Dia sudah kabur, tapi buang tikus mati ke dalam untuk menipu kita?"

"Rina, kamu pikir kami mudah ditipu?"

Ketiga kakakku makin emosi. Mereka serempak menendang pintu. Pintu ruang bawah tanah goyang sekali lagi.

Bam! Pintu ditendang hingga terbuka. Disertai bau busuk, ruang bawah tanah yang kecil dan gelap terpapar di depan mata.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B71502" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B71502
Salin

Kak, Kalian Sungguh Kejam

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya