Bab 7

Murid Penyelamatku Tidak Mungkin Tidak Punya Kemampuan

"Jenderal, Dirga benar-benar seorang dokter? Apa dia benar-benar bisa menyembuhkan cederamu?"

"Selain itu, apa Jenderal hanya ingin memberitahunya bahwa Jenderal adalah Angsa Putih?"

Begitu dia tiba di luar rumah sakit, Aisa tidak sabar untuk bertanya dan Zira sudah memberitahunya bahwa Dirga adalah seorang dokter dan sedang proses menyembuhkannya.

"Aku yakin Dirga akan menyembuhkan lukaku, tapi kuharap nggak begitu cepat. Aku memang ingin memberitahunya identitas asliku barusan, tapi kamu tahu akhirnya nggak. Ekspresi Dirga tampak nggak tenang saat aku mengakui bahwa kita berdua adalah tentara dan berada di Departemen Perang!"

Aisa baru ingat setelah mendengar ucapan Zira.

"Dirga jauh lebih misterius dari yang kamu kira, murid penyelamatku nggak mungkin orang yang nggak punya kemampuan. Jadi, ingat apa yang aku katakan di ruang rawat, kamu jangan mencoba menyelidikinya!" lanjut Zira.

"Siap!"

Aisa setuju, lalu dia membuka pintu mobil untuk Zira.

Telepon Zira berdering begitu dia masuk ke mobil. Ketika dia melihat nomor itu, dia mengerutkan kening dan memberi isyarat agar Aisa mengemudi. Setelah mobil menyala, dia menekan tombol angkat.

...

Pada saat ini, Dirga sudah menyelesaikan prosedur operasi untuk ibunya.

Dua jam kemudian, dia kembali ke rumah pinggiran kota sambil menggendong ibunya. Begitu dia memasuki rumah, dia melihat seorang pria paruh baya duduk di halaman sambil merokok.

"Ayah sudah pulang?"

Ayah Dirga bernama Arlan Maharaja. Dalam ingatan Dirga, ayahnya sudah bertahun-tahun tidak ada di rumah. Jika tidak salah ingat, ayahnya belum pulang ke rumah selama hampir delapan tahun.

Ayah sangat sedikit berbicara, Dirga merasa asing dengannya. Entah apa yang dilakukan ayahnya di luar, Dirga dan ibunya tidak pernah bertanya juga.

"Ya, Ayah pulang. Bagaimana kabar ibumu?"

Arlan memadamkan rokok dan berdiri untuk menurunkan Tika dari punggung Dirga dan membawanya ke kamar tidur.

"Bukan masalah besar. Sebentar lagi juga bangun. Ibu akan benar-benar sembuh setelah istirahat beberapa hari!"

"Ayah, kali ini Ayah mau berapa lama di rumah?"

"Ayah nggak akan pergi-pergi lagi!"

"Kamu dan ibumu sudah mengalami kesulitan beberapa tahun terakhir ini, bukan?"

Arlan menidurkan Tika, menutupinya dengan selimut dan menarik Dirga keluar.

"Aku baik-baik saja, ibu yang sudah terlalu bekerja keras. Ayah, karena ayah nggak akan pergi lagi, aku mau buka klinik di kota. Aku seorang mahasiswa kedokteran dan secara akademis lumayan. Jadi, semoga Ayah bisa mendukungku!"

Dirga tidak perlu bekerja sama sekali, uangnya tidak akan habis jika hanya dihabiskan untuk menghidupi dirinya dan orang tuanya selama masa hidup ini.

Karena gurunya memberinya kartu bank sebelum pergi, deposit di kartu bank itu tak terhitung jumlah angkanya.

Namun, Dirga adalah seorang dokter, dia suka menyelamatkan orang lain. Lebih penting lagi, sekarang dia memiliki Zira. Dia tahu bahwa Zira adalah seorang prajurit di Departemen Perang!

Tanpa mengungkapkan status Panglima Perang Neraka, dia membutuhkan karier yang bagus, menjalankan klinik tidak diragukan lagi adalah pilihan yang terbaik untuknya.

Arlan tidak berbicara, dia menyerahkan sebatang rokok pada Dirga. Pada akhirnya, dia berkata, "Ayah selalu mendukung apa yang akan kamu lakukan, kamu butuh uang?"

"Nggak, aku masih punya uang sedikit!"

"Kalau begitu, Ayah rawat Ibu di rumah. Aku akan mengurus plang klinik, sekalian membeli satu unit rumah!"

"Oke!"

Arlan duduk dan merokok, sementara Dirga segera meninggalkan rumah dan kembali ke kota.

Rumah Sakit.

"Sungguh berani. Berani mematahkan kaki anakku!"

"Melly, siapa Dirga ini?"

"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!"

Di bangsal, ayah Reno, Romeo Markus, marah besar. Reno sudah pingsan di ranjang rumah sakit. Dokter terbaik di rumah sakit sudah datang untuk memeriksa luka-lukanya. Dokter langsung terus terang, Reno hanya bisa menggunakan kursi roda selama sisa hidupnya!

Reno adalah putra satu-satunya, dia akan mewarisi posisi kepala keluarga di masa depan. Jika dia hanya bisa menggunakan kursi roda nantinya, bagaimana dia bisa mewarisi posisi kepala keluarga?!

Melly sudah ketakutan, wajahnya saat ini sudah bengkak juga. Mata Dirga yang mengerikan masih terngiang-ngiang di pikirannya!

Namun, sekarang dengan dukungan Keluarga Markus, dia kembali menghina Dirga dan berkata, "Paman Romeo, Dirga itu hanya gelandangan miskin!"

"Lima tahun yang lalu, dia memukul Kak Reno sampai masuk penjara. Setelah keluar penjara, dia langsung menindasku juga. Dia memukulku dan Kak Reno tadi malam, aku nggak menyangka dia ada di sini hari ini ...."

"Dia nggak hanya mematahkan kaki Kak Reno dan Jager, dia juga memeras Kak Reno dan aku sebesar 10 miliar!"

"Huhuhu .... Paman Romeo, Paman harus membalaskan dendam Kak Reno. Kalau Kak Reno nggak bisa berdiri lagi, aku nggak mau hidup lagi ...."

Untuk membuat kesan yang baik pada Romeo, Melly bahkan membenturkan kepalanya ke dinding.

Akting bersikerasnya diterima oleh Romeo. Romeo pun menahannya tepat ketika kepalanya hendak membentur dinding.

"Keterlaluan, sangat melanggar hukum! Apa Dirga menganggap Keluarga Markus ini keluarga sembarangan?"

"Melly, aku selalu melihat cinta tulusmu untuk Reno. Jangan khawatir, aku nggak akan pernah membiarkan Dirga bebas!"

"Paron!"

Romeo sangat marah, segera kapten pengawal Keluarga Markus, Paron datang di belakangnya.

"Pergi, bawa kaki dan tangan Dirga ke hadapanku!"

"Jangan khawatir, Pak. aku pasti akan mematahkan kaki dan tangan anak itu, lalu membawanya kepadamu!"

"Berani menyakiti Tuan Muda Keluarga Markus, dia sudah bosan hidup!"

Paron adalah Seniman Bela Diri Tinggi Tingkat Puncak. Keberadaannya membuat Romeo merasa sangat tenang!

Tak lama kemudian, Paron pun pergi. Kemudian, Reno meninggalkan rumah sakit. Romeo sama sekali tidak percaya meskipun dokter mengatakan bahwa Reno hanya akan menghabiskan sisa waktunya di kursi roda.

Romeo sudah menelepon adik keduanya, Kevin Markus dan memintanya untuk memanggil dokter ajaib Kota Damon untuk datang ke Kota Langgara menyembuhkan kaki Reno.

Seandainya Keluarga Markus tidak sedang mencari keberadaan Dewi Perang Angsa Putih, Romeo tidak akan melakukan aksi ini. Kalau bukan karena itu, dia pasti akan menemui Dirga secara pribadi untuk membunuhnya.

...

Pada saat ini, Dirga datang ke sebuah perusahaan real estate untuk membeli rumah.

Dia berencana untuk membeli rumah terlebih dahulu, kemudian pergi untuk membeli obat sekalian melihat-lihat plang untuk kliniknya.

Namun, begitu dia memasuki pintu, dia melihat sekelompok orang di sekitarnya menangis dan berteriak.

"Nenek, Nenek pasti baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Nenek apa yang harus aku katakan kepada ayahku?"

"Ambulans kapan datangnya? Cepat tanyakan lagi ...."

Ada apa?

Dirga berjalan menuju kerumunan yang kacau. Di dekatnya, dia melihat seorang wanita tua yang tidak sadarkan diri terbaring di sofa. Dalam sekilas saja, dia bisa mendiagnosis penyebab koma wanita tua itu!

Serangan jantung mendadak!

Situasinya berbahaya, sekalipun ambulans itu datang sekarang, semuanya sudah terlambat.

"Aku dokter. Aku bisa menyelamatkannya. Beri jalan!"

Dokter berkewajiban menyelamatkan pasien. Dengan situasi yang berbahaya, Dirga tak memedulikan apa-apa lagi. Begitu orang-orang di depan minggir, dia melangkah maju ke wanita tua itu dan memasukkan beberapa jarum perak ke tubuhnya.

Kemudian, dia mengulurkan tangan untuk menyandarkan punggung wanita tua itu dan menyuntikkan gelombang energi sejati ke tubuhnya.

Segera, wanita tua yang sudah koma itu secara ajaib terbangun, dia merasakan energi sejati yang aneh berkeliaran di dalam tubuhnya. Kini tubuhnya terasa sangat segar.

Dia terkejut. Sebelum dia bisa berbicara, dia mendengar Dirga berkata, "Minum obat ini dulu. Kamu sudah menderita penyakit jantung setidaknya selama 30 tahun. Barusan kamu koma mendadak. Minum obat ini, kemudian pergi ke rumah sakit untuk membeli beberapa obat untuk penyakit jantung. Ke depannya nggak akan kambuh-kambuh lagi!"

"Tapi ke depannya, kamu harus perhatikan kondisi tubuh. Jangan sampai terpancing emosi!"

Dirga berkata demikian lalu memasukkan pil ke mulut wanita tua itu. Kurang dari satu menit setelah dia menelannya, seluruh tubuhnya benar-benar pelih.

"Nak, terima kasih ya. Aku memang sudah menderita penyakit jantung selama 30 tahun lebih, tapi sekarang aku merasa tubuhku lebih sehat dari sebelumnya!"

"Terima kasih banyak. Perkenalkan diriku, namaku Mora Candra!"

Mora mengungkapkan isi hatinya. Dia menatap Dirga di depannya, tapi hatinya benar-benar gelisah. Dirga benar-benar biasa-biasa saja.

Namun, dia tidak melupakan energi sejati yang baru saja Dirga masukkan ke dalam tubuhnya.

Jelas-jelas aku nggak merasakan aura petarung dari tubuhnya, tapi bagaimana bisa energi sejati yang dia masukkan ke dalam tubuhku begitu murni? Kenapa aku nggak bisa merasakan kultivasinya sepenuhnya?'

'Apa sebenarnya pil yang dia berikan padaku, bagaimana itu bisa memiliki efek magis seperti itu?'

Hanya dalam beberapa detik, banyak tanda tanya melintas di benak Mora.

Bab 8

Aku Menerima Permintaan Maafmu

Banyak tanda tanya terlintas di benak Mora.

"Dokter itu harus menyelamatkan nyawa pasien. Aku seorang dokter. Sudah menjadi tugasku menyembuhkan dan menyelamatkan orang sakit!"

"Nenek Mora, sama-sama. Namaku Dirga!"

Dirga menarik jarum perak dari tubuh Mora dan berkata kepadanya, "Nenek Mora, Nenek bisa berdiri dan bergerak sekarang!"

Seorang gadis berumur 18 tahunan bergaun putih di sampingnya segera membantu Mora berdiri, lalu gadis dengan cemas bertanya, "Nenek, bagaimana perasaan Nenek sekarang?"

"Membaik, Nenek merasa lebih baik sekarang!"

"Benarkah? Baguslah, Nenek buat aku ketakutan tadi, huhuhu ...."

Gadis itu mulai menangis, orang-orang di sebelahnya juga menghela napas dan berkata satu demi satu, "Bu Mora, syukurlah keadaan Ibu membaik!"

"Ya, terima kasih atas perhatian kalian. Kembalilah ke posisi dan pekerjaan kalian masing-masing."

"Lista, pergi dan tuliskan cek 200 miliar untuk dokter ajaib ini!"

"Hah?"

Lista Candra, cucu Mora tercengang.

"Ah, apanya? Cepat!"

"Nggak bisa, Nenek, jangan beri dia sebanyak itu. Nggak ada yang tahu kalau dia sudah menyembuhkan Nenek atau belum, nggak ada yang tahu apa yang diberikan dia pada Nenek tadi?"

"Bagaimana kalau itu racun?"

"Dik, kamu boleh meragukan keterampilan medisku, tapi kamu nggak boleh meragukan karakterku!"

"Aku nggak ada masalah apa pun dengan nenekmu, aku baru saja menyelamatkannya. Apa sekarang kamu menuduhku meracuninya?"

Dirga dalam suasana hati yang baik, tetapi dia sangat kesal saat diragukan oleh Lista!

Siapa sangka, Lista malah membusungkan dada dan berkata dengan arogan, "Huh, aku nggak percaya kamu nggak tahu identitas nenekku. Seluruh Kota Langgara sangat ingin menjilat nenekku. Sekalipun aku salah memahamimu, kamu pasti punya niat tertentu!"

"Tutup mulutmu!"

Mora sangat marah dan hampir pingsan.

Lista sangat ketakutan sampai buru-buru menepuk punggung neneknya.

"Nenek, aku salah. Nenek jangan marah!"

"Hehe, nenekmu punya cucu yang nggak punya otak seperti kamu, cepat atau lambat akan mati karena dibuat marah sama kamu!"

"Kamu!"

Kata-kata Dirga membuat Lista marah dan menggertakkan giginya, tetapi dia tidak berani berbicara lagi saat melihat wajah neneknya.

"Uhuk!" Dokter, maafkan aku, cucuku terlalu aku manjakan dari kecil. Aku sangat berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan hidupku!"

"Lista, cepat minta maaf ke Dokter dan tulis cek. Cepat!"

Lista sangat enggan, tetapi dia tetap meminta maaf kepada Dirga dan pergi untuk mengisi cek.

Dirga dengan cepat berkata, "Nenek Mora, aku nggak butuh uang. Aku ini seorang dokter. Sebenarnya aku kemari untuk beli rumah. Aku baru saja mendengar mereka memanggilmu Bu Direktur Mora. Lantas, apa perusahaan ini milikmu?"

"Kalau demikian, apa Nenek bisa memberiku diskon?"

Dirga bukan cari kesempatan dalam kesempitan, tetapi dia tahu betul bahwa real estat sangat menguntungkan. Tidak peduli bagaimana rumah itu didiskon, penjualnya tidak akan rugi!

Mora tersenyum dan berkata, "Jadi, kamu di sini untuk beli rumah. Kamu benar. Perusahaan real estat ini benar-benar milik Keluarga Candra. Ada penyerahan properti baru hari ini, jadi aku menemani cucuku untuk memeriksanya. Eh, aku malah terkena serangan jantung!"

"Dokter ajaib, begini saja, rumah ini gratis untukmu. Vila Pratama di Resort Genting kosong. Aku akan memberikannya kepadamu ditambah 200 miliar. Anggap sebagai hadiahmu karena menyelamatkan nyawaku!"

Dirga mendengarkan dan dengan cepat menolak, "Nenek Mora, nggak perlu, beri aku diskon saja!"

Mora tidak senang mendengarnya.

"Apa? Apa menurutmu nyawaku nggak sebanding dengan vila dan uang 200 miliar?"

"Eh .... Bukan, Nenek Mora, Nenek salah paham, itu ... baiklah, aku akan menerimanya!"

Mora sudah bicara seperti itu, Dirga merasa Mora kesal jika ditolak.

Jadi, dia buru-buru berkata, "Nenek Mora, panggil saja aku Dirga, aku nggak berani dipanggil Dokter Ajaib!"

"Hahaha, oke, kalau begitu aku memanggilmu Dirga mulai sekarang. Kalau begini kita terlihat lebih akrab!"

Pada saat ini, Lista menulis cek dan kembali. Dia seketika kesal setelah mendengar neneknya akan memberikan Vila Pratama di Resort Genting kepada Dirga.

"Nenek, bagaimana kamu bisa memberinya Vila Pratama itu?" Dia hanya beruntung. Uang 200 miliar sudah cukup baginya!"

"Sembarangan, apa ucapanmu itu sopan? Apa kamu mencoba membunuh Nenek dengan membuat Nenek kesal? Lantas, apa nyawa Nenek bernilai sebuah vila dan uang 200 miliar? Bawakan kunci Vila Pratama kepada Dirga!"

Mora marah, Lista tidak berani berkata apa-apa lagi, dia langsung berlari keluar. Setelah kembali, kunci Vila Pratama dengan hormat diserahkan kepada Dirga.

"Dokter Dirga, aku minta maaf. Aku nggak seharusnya bicara seperti itu, terima kasih sudah menyelamatkan nenekku!"

Melihat Lista yang air matanya hampir jatuh, Dirga menerima permintaan maafnya.

"Aku menerima permintaan maafmu. Aku menerima cek dan kuncinya. Jangan buat marah nenekmu lagi!"

"Baik!"

Lista menyeka hidungnya dan berdiri di samping neneknya.

"Nenek Mora, terima kasih, aku pergi dulu!"

Dirga hendak pergi, tetapi Mora berkata, "Dirga, aku harus berbicara dengan dua teman di Hotel Richy malam ini. Apa kamu punya waktu untuk makan bersama? Jangan salah paham, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih lagi!"

Dirga sedikit mengerutkan kening, wanita tua itu sudah memberinya vila dan 200 miliar. Sekarang mengajaknya makan malam juga, sungguh terlampau sopan.

"Nenek Mora, Nenek terlalu sungkan padaku. Malam ini aku harus pulang makan malam dengan orang tuaku!"

"Jadi, mari kita makan malam bersama lain kali saja!"

Ketika Mora mendengarnya, ada sedikit penyesalan dalam hatinya. Dia berhenti bersikeras!

Dirga pun segera pergi.

Begitu Dirga meninggalkan Mora, dia mulai menasihati Lista.

"Kamu merasa tersakiti? Apa menurutmu menyakitkan kalau Nenek beri uang, vila dan juga mengajak Dirga makan malam? Menurutmu dia nggak pantas mendapatkannya?"

"Nggak!"

Lista dengan penuh semangat membela diri.

"Nak, kamu sudah nggak punya ibu sejak kamu masih kecil. Nenek membesarkanmu dengan tangan Nenek sendiri. Nenek tahu persis apa yang kamu pikirkan sekarang. Nenek kecewa padamu hari ini, paham?"

"Nenek, aku salah. Maafkan aku .... Huhu!"

Lista mendengarkan dan berlutut ketakutan. Mora menghela napas, menariknya berdiri dan duduk di sofa. Setelah itu, Mora perlahan berkata, "Nak, Nenek melatihmu sebagai penerusku. Nenek sudah mengajarimu sejak kecil untuk melihat jangka panjang dalam segala hal yang kamu lakukan. Jangan remehkan siapa pun!"

"Apa kamu tahu apa yang Dirga lakukan selain menusukkan jarum dan memberi Nenek obat?"

"Dia memasukkan energi sejati ke dalam tubuh Nenek, tapi Nenek nggak bisa sepenuhnya merasakan aura petarungnya, apalagi mendeteksi kultivasinya!"

"Berarti apa? Berarti alam kultivasinya sudah jauh melampaui alam kultivasi nenek saat ini. Alam kultivasinya sudah mencapai atau mungkin sudah melampaui monster-monster tua itu!"

"Apa? Eh, bagaimana mungkin?"

"Nenek, maksudmu dia? Bukankah alam kultivasinya ...."

"Astaga!"

"Bagaimana mungkin? Berapa umurnya?"

"Nenek, mungkinkah Nenek salah lihat?"

Lista sangat terkejut sampai kakinya terasa lemas. Dia juga seorang petarung. Dia tahu betapa menakutkannya monster-monster tua itu!

Namun, dia tidak percaya bahwa Dirga akan sehebat yang dikatakan neneknya!

Bab 9

Aku Tidak Akan Meladeni Sampah Kecuali Aku Tidak Tahan

Lista tidak percaya Dirga sehebat yang dikatakan neneknya!

Mora tidak bisa tenang saat ini, dia tidak takut pada siapa pun di Kota Langgara kecuali beberapa monster tua itu.

Beberapa tahun yang lalu, dia memiliki keberuntungan untuk melawan salah satu monster tua. Akhirnya, dia tentu saja dikalahkan.

Dia bisa merasakan fluktuasi aura monster itu dan tahu seberapa jauh perbedaan alam kultivasinya.

Namun, tadi itu dia tidak bisa merasakan alam kultivasi Dirga. Dirga bagaikan lubang hitam yang tak terduga di matanya!

"Di atas langit masih ada langit!"

"Nak, kamu harus ingat kalau kamu nggak bisa melakukannya, bukan berarti orang lain nggak bisa melakukannya juga!"

"Ingat, jangan menilai orang dari penampilannya. Nenek selalu menilai orang dengan akurat!"

"Nenek memberimu misi. Temui Dirga dan berteman dengannya!"

"Paham?"

Nada bicara Mora terdengar santai, tapi tak perlu dipertanyakan lagi ketegasannya. Meskipun di hati Lista sangat enggan, dia hanya bisa pasrah mengiakan permintaan neneknya.

...

Dirga sudah membeli plang toko saat ini, tepat ketika dia akan pergi, seorang pria menghalangi jalannya.

Orang itu adalah kapten pengawal Keluarga Markus, Paron!

"Nak, namaku Paron, kapten pengawal Keluarga Markus. Aku datang untuk mengambil kaki dan tanganmu atas perintah kepala Keluarga Markus. Aku nggak mungkin meladeni pecundang, biar aku sendiri yang melakukannya!"

Paron berkata demikian sambil melempar belati ke arah Dirga. Dia sangat kecewa melihat Dirga!

Karena dia tidak merasakan aura petarung dari sosok Dirga. Dia pikir bahwa Dirga itu seorang master, setidaknya harus membuat Paron mengeluarkan tenaga untuk mengalahkannya!

Lagi pula, Dirga sudah mematahkan kaki Reno dan Jager.

Namun, sekarang dia kehilangan nafsu untuk melakukan kekerasan saat dia melihat Dirga.

"Gila!"

Dirga bahkan tidak melirik Paron, dia langsung pergi melewatinya!

"Nak, apa kamu nggak dengar ucapanku?"

Dirga berhenti dan berkata kata demi kata, "Aku bisa mendengarmu dengan sangat jelas, aku akan memberikan kata-kata yang sama. Aku nggak akan melakukan apa pun dengan pecundang, kecuali aku nggak bisa tahan diri!"

"Hahaha, bagus, bagus sekali!"

"Nak, kamu sudah berhasil membuatku marah. Karena kamu memaksaku untuk melakukannya, aku akan memenuhi keinginanmu!"

Paron berkata demikian sambil berjalan selangkah demi selangkah menuju Dirga. Dia sepenuhnya meremehkan Dirga. Di matanya, Dirga hanya seekor domba yang menunggu disembelih, dengan ekspresi meremehkan di wajahnya.

Dirga agak mengerutkan kening, berpikir orang ini mungkin orang bodoh.

"Dasar bodoh!"

Dirga masih mengabaikan Paron dan berjalan mengelilinginya dengan jijik.

Paron sangat marah, dia menghampiri Dirga, tangannya yang besar seperti kilat di bahunya!

"Nak, kamu adalah pecundang paling mematikan yang pernah aku lihat!"

"Sialan, kamu berani mengabaikanku?"

Paron sangat marah!

"Hidupmu kurang enak, hah?"

Dirga menoleh dengan tatapan muram. Paron merasa suhu di sekitarnya seolah turun ke titik beku dalam sekejap. Ketakutan Dirga yang menusuk membuatnya gemetar dan mundur!

"Apa kamu petarung?"

"Kamu berada di alam kultivasi apa?"

Paron merasa ngeri, ketakutan benar-benar menggerogoti tubuhnya.

Namun, sampai saat ini dia masih tidak merasakan aura petarung Dirga!

Tatapan mata Dirga barusan membuatnya merasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya! Dia merasa seperti pernah mati sekali!

"Pulanglah dan beri tahu Keluarga Markus bahwa dalam dua hari, aku harus melihat Reno dan Melly berlutut di depan ibuku meminta maaf kepadanya, bawa uang 10 miliar juga!"

"Pergi!"

Setelah itu, Dirga pun pergi.

Tidak sampai beberapa menit setelah dia pergi, Paron baru terbangun dari lamunannya. Saat ini, dia sudah basah oleh keringat dan tubuhnya masih gemetar.

"Apa yang terjadi? Kenapa anak itu memiliki aura yang membunuh yang mengerikan barusan?"

"Apa dia seorang petarung dan master juga?"

"Nggak mungkin. Sama sekali nggak mungkin."

"Aku nggak bisa merasakan aura petarung di tubuhnya!"

"Sialan, sejak kapan aku pernah dipermalukan seperti tadi tadi!" maki Paron.

Sebagai kapten tim pengawal Keluarga Markus, Paron tidak akan pernah membiarkan dirinya dipermalukan seperti itu. Dia langsung berdiri tegak dan bergegas mengejar Dirga.

Tak lama kemudian, dia pun menyusul Dirga.

"Nak, jangan banyak akting di depanku. Coba ambil nyawaku!"

Paron tidak berani meremehkan Dirga lagi, tinjunya langsung mencapai sisi Dirga.

Dirga mengangkat tangannya dan mengempaskannya!

Detik berikutnya, dengan sekali klik, seluruh lengan Paron patah. Dia menjerit dan terbanting ke tanah dengan keras!

"Mana mungkin?!"

"Kamu .... Apa kamu petarung?"

"Kamu menyembunyikan alam kultivasimu?"

Paron terbaring di tanah dengan wajah kesakitan dan ketakutan!

"Kamu pengawal Kapten Keluarga Markus? Dasar pecundang!"

Dirga terlalu malas untuk melihat Paron dan berbalik untuk pergi.

Setengah jam kemudian, dia kembali ke rumah. Begitu dia masuk, dia melihat ibunya, Tika sibuk di dapur. Pada saat itu, mata Dirga terasa lembap.

"Ibu!"

Tika yang sedang menggoreng ikan langsung mengabaikan masakannya. Dia berbalik dan menatap Dirga, air mata pun mengalir di matanya!

"Bu, aku sudah pulang!"

"Maafkan aku nggak bisa berbakti pada Ibu, membuat Ibu harus menderita sendirian!"

Dirga berlutut, menyalahkan dirinya sendiri dan merasa bersalah.

Dari masa kanak-kanak hingga dewasa, ayahnya jarang ada di rumah. Ibunya mengurus Dirga sendirian, utang budi Dirga pada ibunya sangatlah besar.

"Yang penting kamu sudah pulang. Ibu akan menyiapkan makanan segera, semua itu makanan favoritmu!"

Tika dengan cepat menarik Dirga untuk berdiri. Meskipun masih ada air mata di wajahnya, senyum bahagia sudah terpancar di seluruh wajahnya.

"Hei, Bu, ayo masak bersama!"

Dirga memeriksa luka ibunya dan melihat lukanya sudah pulih. Hal ini membuat Dirga agak sulit percaya!

Namun, dia tidak terlalu memikirkannya. Kedamaian ibunya adalah keinginan terbesarnya, jadi dia buru-buru membantu ibunya untuk bekerja. Tak lama kemudian, beberapa hidangan disajikan ke meja.

Mereka bertiga sekeluarga pun mulai makan!

Dalam benak Dirga, hal seperti ini jarang terjadi.

"Temani aku minum, ya?"

"Itu wajib, Ayah. Duduklah. Aku akan mengambil anggurnya!"

Dirga berdiri untuk mengambil anggur. Setelah makan, ayah dan anak itu minum anggur bagus yang sudah disimpan ibu selama bertahun-tahun. Kemudian, dia memberi tahu orang tuanya tentang dirinya sudah membeli plang kliniknya.

Awalnya, dia ingin memberi tahu orang tuanya tentang Zira, tetapi dipikir-pikir saat ini belum waktunya!

Soal Zira masih seperti mimpi di hidup Dirga.

Dia takut tiba-tiba terbangun dari mimpi itu.

"Nak, kamu sudah bebas dan ayahmu nggak akan pergi-pergi lagi juga. Apa pun yang kamu lakukan, Ibu selalu mendukungmu. Ibu hanya punya satu permintaan. Kamu jangan berhubungan dengan Melly lagi. Dia benar-benar nggak pantas untukmu!"

Selama lima tahun terakhir, Tika sudah mengetahui keadaan Melly. Tika pernah mengunjungi Melly juga. Namun, setiap kedatangannya selalu dipermalukan oleh Melly dan Reno!

"Bu, jangan khawatir, aku sudah tahu semua yang terjadi selama lima tahun aku pergi. Aku sudah nggak punya hubungan apa pun lagi dengan Melly, tapi rumah itu dibeli tunai olehku dan Ibu saat itu!"

"Apartemen itu sekarang bernilai 10 miliar, uang itu pasti akan mereka kembalikan. Reno dan Melly harus datang minta maaf kepada Ibu!"

"Bu, nggak usah pedulikan hal-hal ini lagi. Sekarang ayah dan aku sudah kembali. Aku nggak akan membiarkan siapa pun menindas Ibu lagi!"

Dirga baru saja selesai berbicara, Arlan melanjutkan, "Bu, dengarkan Dirga. Dia sudah dewasa. Dia punya urusan sendiri. Kita berdua sudah tua. Nanti kita bantu dia di kliniknya!"

Tika pun berhenti berkata-kata. Pada saat ini, hatinya akhirnya mantap, dia merasa keluarganya sudah lengkap lagi.

Pada saat ini, telepon dari Zira masuk ke ponsel Dirga.

Dirga pun berdiri dan berjalan ke luar pintu untuk menjawab telepon.

"Dirga, apa kamu bisa kemari sekarang? Ada yang ingin kukatakan padamu!"

"Oke!"

Dirga menutup telepon dan meninggalkan rumah setelah pamitan pada orang tuanya.

Istriku Dewi Perang yang Sakti

Bab 7
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya