Bab 1
Petir di Siang Bolong
Penjara Neraka.
Tempat ini tidak dimiliki oleh negara mana pun, juga tidak di bawah kontrol pemerintahan negara mana pun.
Tempat ini menampung orang-orang paling mengerikan dan paling kejam di dunia. Setiap narapidana di tempat ini bisa menggetarkan dunia!
Namun, hingga saat ini, tidak ada negara yang berani menyentuh tempat ini!
Bukan hanya karena orang-orang kejam yang ditahan di sini, tetapi juga karena seorang pemuda di sini, Dirga Maharaja!
Pada saat ini, lebih dari seratus orang kejam sedang berlutut di depan Dirga. Mereka sangat hormat, bahkan tidak mau membubarkan diri!
Semua itu tidak lain karena Dirga akan bebas hari ini.
"Bos Dirga, inilah seluruh kekayaanku di Negara Kambaja. Jumlahnya nggak banyak, hanya 50 miliar Gulbi. Sebagai tanda penghargaan terdalamku atas dukungan Bos selama beberapa tahun ini. Semoga Bos bisa menerimanya."
"Bos Dirga, ini 50% sahamku di Grup Bintang Lima, menurut harga saat ini sahamnya bernilai 100 miliar Gulbi!"
"Bos Dirga, ini adalah kartu eksekutif VVIP yang diterbitkan oleh Keluarga Rothschild, hanya ada tiga di dunia. Fungsi kartu ini bisa melakukan tarikan besar sebanyak 50 miliar Gulbi di bank mana pun. Dengan kartu ini, Bos juga bisa mendapatkan pinjaman setiap kalinya sebanyak 10 miliar Gulbi dari lima konglomerat terbesar di dunia!"
"Bos Dirga, aku hanya seorang gelandangan. Aku nggak punya apa-apa selain plakat Istana Raja Langit dan sepasang anak kembar perempuan ...."
"Bos Dirga, aku akan mengeluarkan perintah pemanggilan pasukan pribadiku yang berjumlah 50 ribu orang di Negara Malaika ...."
...
"Apa-apaan kalian ini? Tingkah kalian seolah aku mau merampok kalian saja!"
"Kalian meremehkanku? Takut aku akan mati kelaparan saat aku bebas nanti?"
"Ampun Bos, Bos Dirga tolong jangan marah!"
Semua orang gemetaran sampai tersungkur ke lantai.
"Baiklah, aku pergi dulu. Ingat, ya. Kalian harus bijak di sini, aku nggak mau membunuh siapa pun di antara kalian dengan tanganku sendiri!"
Sshh!
Semua orang sangat ketakutan.
"Ampun Bos Dirga, Bos tenang saja. Kami pasti akan menjaga tempat ini untuk Bos Dirga dan Bos Besar!"
Beberapa menit kemudian, di luar penjara.
"Kenapa kalian kemari?"
Begitu Dirga keluar dari gerbang penjara, tiga pria berjalan mendekatinya dan berlutut dengan satu lutut.
"Guru, kami di sini datang untuk menjemput Guru dari penjara!"
Dirga menatap ketiga orang yang berlutut di depannya dan sangat bingung!
"Kalian ini, ya! Kalian yang satu komandan dari tiga pasukan Negara Naga, yang satu penguasa bangsawan Keluarga Sudarsa, yang satu orang terkaya di Negara Naga. Kalian bukan orang-orang sini. Kalau sampai ketahuan penjaga penjara, apa kalian nggak takut jadi bahan perbincangan panas!"
"Cepat berdiri!"
"Siap!"
Mereka bertiga bangkit dan berdiri di depan Dirga dengan hormat!
"Guru, ikutlah denganku. Aku akan memberikan posisi komandan tiga pasukan Negara Naga-ku untukmu!"
"Sembarangan kamu! Guru pasti ikut denganku. Putri dari keluarga bangsawan Keluarga Sudarsa masih menunggu dinikahi Guru!"
"Kalian berdua jangan bertengkar lagi. Aku yang paling banyak punya anak gadis. Guru, ikutlah denganku. Mulai sekarang, Guru akan menjadi penguasa Grup Harmadi!"
Orang terkaya di Negara Naga menyerahkan surat transfer saham Grup Harmadi kepada Dirga.
Dirga mengusap kedua pelipisnya, sakit sekali kepalanya.
"Kalian bertiga bahkan bisa menjadi kakekku, apa-apaan ini? Ke depannya, aku hanya ingin berbakti kepada ibuku, membalas waktu yang terbuang dulu dengan istriku. Jangan ganggu aku lagi!"
"Pergi, pergi kalian semua!"
Setelah selesai bicara, Dirga segera melompat ke perahu dan pergi.
Dia hanya ingin cepat-cepat pulang.
Lima tahun yang lalu, dia tersandung masalah hukum setelah membunuh seorang anak orang kaya yang menganiaya istrinya di resepsi pernikahannya. Malam itu dia ditangkap dan masuk penjara. Saat di penjara, dia bertemu dengan seorang lelaki tua. Lelaki tua itu berkata bahwa Dirga memiliki bakat seorang genius dalam bela diri. Lelaki tua tersebut harus mengangkat Dirga sebagai muridnya!
Waktu itu Dirga tidak banyak berpikir juga. Dia menganggap lelaki tua itu sebagai orang gila, lalu langsung setuju untuk menjadi muridnya!
Namun, di kemudian waktu Dirga tahu bahwa dirinya salah besar.
Setengah tahun kemudian, Guru membawanya kembali ke Penjara Neraka. Sampai saat itu, dia tidak tahu bahwa Guru sebenarnya adalah sipir Penjara Neraka, orang dengan kekuatan bela diri dan keterampilan medis terhebat di Negara Naga!
Maka dari itu, dia mengikuti Guru dengan tekun untuk berlatih berbagai ilmu bela diri dan mempelajari keterampilan medis.
Tiga tahun yang lalu, saat pergi, gurunya menyuruh Dirga untuk membantu Departemen Perang Negara Naga melawan musuh. Dirga menggunakan kekuatannya sendiri berhasil memukul mundur jutaan pasukan musuh dari perbatasan utara dan memenggal kepala lebih dari seratus dewa perang bintang sembilan dari pihak musuh!
Hanya dengan satu pertempuran ini, presiden secara pribadi memanggilnya, memberinya gelar "Panglima Perang Neraka", menjadikannya orang pertama dalam sepuluh ribu tahun berdirinya Negara Naga!
Hanya dengan satu anggukan, dia bisa langsung menjadi orang paling kuat dan kaya di dunia ini!
Namun, saat ini Dirga hanya ingin pulang!
Karena baru kemarin dia mendapatkan kabar, ternyata lima tahun yang lalu anak orang kaya yang menyiksa istrinya itu belum mati.
Setelah langit gelap!
Kota Langgara.
Dirga tiba di sebuah kompleks perumahan mewah, dia memandangi gedung tinggi di depannya, dengan tak sabar dia memasuki lift.
Dia segera sampai di pintu sebuah kamar di lantai tujuh, merasa sedikit bersemangat dan juga bersalah.
Ini adalah kamar pengantinnya dengan istrinya, Melly Martino!
Dirga mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu, tetapi dia menemukan pintu tidak terkunci. Dari dalam terdengar suara wanita yang tidak asing di telinganya.
"Kak Reno, kamu hebat sekali ...."
'Itu .... Bukannya itu suara Melly, istriku?'
Siapa Kak Reno?
Firasat buruk muncul hati Dirga. Dia pun mendorong pintu dengan keras dan bergegas masuk. Alhasil, dia terpaku di tempat saat melihat pemandangan di atas ranjang.
Seperti petir di siang bolong!
Seorang pria dan seorang wanita di tempat tidur, dalam keadaan telanjang ....
Wanita itu adalah istrinya, Melly, sementara pria itu ternyata adalah anak orang kaya yang katanya sudah 'dibunuh' Dirga pada lima tahun yang lalu yaitu Reno Markus!
"Sialan, siapa itu!"
"Kak Reno, dia ... dia mirip Dirga?"
"Hah? Sial, benar-benar Dirga!"
Reno dan Melly mengenali Dirga!
"Melly, katakan padaku, kenapa?"
Api kemarahan di dalam hati Dirga membara berkobar-kobar, tatapannya seolah-olah membawa pisau!
Melly meraih pakaiannya untuk menutupi tubuhnya, lalu dengan ekspresi acuh tak acuh berkata, "Kenapa apanya? Nggak ada kenapa. Dirga, toh kamu sudah lihat sendiri. Jadi, nggak ada yang perlu aku jelaskan lagi!"
"Sayang, kamu harus mengatakan yang sebenarnya kepada Dirga, lupakan saja atau aku saja yang mengatakannya!"
Reno menatap Dirga dengan ekspresi mengejek, "Dirga, kamu nggak lihat siapa dirimu? Kamu hanya seorang berandal rendahan. Apa kamu benar-benar berpikir kalau Lilly akan jatuh cinta padamu?"
"Sebenarnya ya, semua permainan ini aku dan Lilly lakukan untukmu. Apa kamu tahu berapa harga rumah ini sekarang?"
"Minimal 10 miliar!"
Dirga tampaknya mengerti sesuatu. Dia menekan amarah di dalam hatinya dan menanyai Melly, "Katakan padaku, permainan apa?"
"Dari dulu, aku selalu menjadi pacar Kak Reno!"
"Dari dulu, aku itu pacar Kak Reno!"
Setelah Melly selesai bicara, Reno melanjutkan dengan mengatakan, "Aku bisa bersaksi tentang ini. Bagaimana Dirga? Terkejut nggak?"
"Semua kejadian ini sejak awal adalah permainan yang aku dan Lilly buat untukmu. Tujuannya tentu saja demi rumah ini, kalau nggak, kamu pikir kamu bisa 'membunuhku' begitu saja?"
"Baiklah, aku dan Lilly sudah cukup baik kepadamu. Kami sudah mengatakan yang sebenarnya. Sekarang kamu bisa pergi!"
"Oh ya, seminggu lagi, aku dan Lilly akan menikah di Hotel Richy. Nanti, aku bisa mengizinkanmu masuk dan makan gratis."
Duar!
Dirga seolah tersambar petir, dia tidak bisa menahan amarah di dalam hatinya lagi!
"Plak! Plak!"
Dirga menampar Melly dan Reno sampai tersungkur ke lantai.
"Bajingan, kamu masih berani memukulku! Cari mati!"
Reno sangat marah dan kaget, dia tidak menyangka Dirga masih berani memukulnya.
"Memukulmu? Aku juga berani membunuh kalian berdua!"
Dirga meraih leher Melly dan Reno lalu mengangkatnya.
Dalam sekejap, mereka berdua tidak bisa bernapas dengan lancar, wajah mereka seketika pucat.
Ada apa ini?
Sejak kapan Dirga begitu kuat?
Reno dan Melly panik, Mereka merasa mereka akan mati lemas.
"Dirga, lepas ... lepaskan tanganmu. Apa kamu masih mau masuk penjara?"
Kata-kata Melly melemahkan kekuatan di tangan Dirga seketika. Akhirnya Dirga pun melepaskan keduanya.
Dia melirik Melly sekali lagi dan merasa muak.
"Plak!"
Dirga menampar wajah Melly dan meninju Reno sampai terjatuh.
"Kalian pasangan sialan, aku akan selalu mengingat kalian!"
"Melly, rumah ini waktu itu aku beli tunai, ternyata harganya sekarang mencapai 10 miliar. Kalau begitu, aku beri kalian waktu selama 3 hari untuk mengembalikan 10 miliar itu padaku. Kalau nggak, kalian akan menyesal sudah dilahirkan ke dunia ini!"
Dirga pergi, dia tidak pernah membayangkan akhir yang seperti ini.
Dia ingin membunuh Melly dan Reno, tapi itu terlalu mudah bagi mereka berdua. Dirga ingin membuat mereka berdua tidak punya apa-apa, agar keduanya menyesali semuanya!
Dia tidak menginginkan rumah ini lagi, sudah kotor!
Namun, uang itu harus kembali ke tangannya!
Suasana hati Dirga sangat kacau. Saat itu sudah larut malam, semua angkutan umum untuk kembali ke rumah sudah tidak beroperasi.
Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan mencari bar untuk minum, lalu tidur nyenyak dan pulang besok pagi!
Bab 2
Dewi Perang Angsa Putih
Di dalam apartemen.
Reno terus marah-marah.
"Berengsek Dirga, mati saja kamu!"
"Seharusnya aku membunuhmu lima tahun yang lalu!"
"Sialan, kamu masih mau uang? Tunggu aku!"
Sebagai tuan muda dari keluarga konglomerat kelas tiga, mana pernah Reno mengalami penghinaan seperti itu? Dia tidak bisa menahan emosi ini!
"Kak Reno, kamu harus membunuh Dirga. Beraninya dia memukulmu! Cepat suruh anak buahmu bunuh dia!"
Melly menggertakkan giginya, wajahnya sudah berdarah karena tamparan tadi.
Keluarga Martino hanyalah keluarga kecil kelas sembilan di Kota Langgara, tetapi sejak dia menemani Reno, Keluarga Martino mendapatkan peluang luar biasa dan berkembang pesat dalam lima tahun terakhir.
Sekarang Keluarga Martino hanya selangkah lagi dari menjadi keluarga konglomerat kelas tiga!
Melly tidak akan pernah membiarkan dirinya dipermalukan, dia tidak akan memberi Dirga sepeser pun!
"Sayang, kamu tenang saja. Mudah sekali untuk membunuh Dirga. Sekalipun dia nggak bisa dibunuh, antarkan saja dia ke gerbang kematian!"
"Bukannya kamu tinggal di pinggiran kota? Waktu itu yang bertanggung jawab adalah Jager dan anak-anak buahnya. Sekarang aku telepon Jager, aku suruh dia lumpuhkan Dirga!"
Tepat setelah Reno menelepon, telepon berdering lagi dan telepon itu dari ayahnya.
Setelah selesai telepon, Reno bersemangat berkata kepada Melly, "Ayahku telepon. Pamanku sedang dalam perjalanan pulang. Paman bilang, Dewi Perang bintang tujuh, si Angsa Putih yang baru diangkat dari Departemen Perang tiga bulan yang lalu sudah dalam perjalanan ke Kota Langgara!"
"Ayahku menyuruhku pulang besok pagi dan pergi bersama pamanku untuk menemui Dewi Perang Angsa Putih itu!"
"Paman adalah seorang jenderal bintang sembilan, ini adalah kesempatanku untuk menaikkan derajat Keluarga Markus. Kalau aku bisa mendapatkan kesan baik dari Dewi Perang itu, mungkin Keluarga Markus bisa melompat ke keluarga kelas dua, bahkan menjadi keluarga kelas atas!"
"Selain itu, pamanku sudah berjanji kepada ayahku bahwa dia secara pribadi akan meminta Dewi Perang Angsa Putih untuk menjadi saksi pernikahan kita!"
Begitu mendengarnya, Melly langsung mencium Reno dengan penuh semangat.
"Benarkah Kak Reno? Kakak baik sekali padaku. Ngomong-ngomong, Kak Reno, apa status Dewi Perang bintang tujuh yang bernama Angsa Putih itu lebih tinggi dari pamanmu?"
"Tentu saja. Pamanku hanya seorang jenderal perang, tapi si Angsa Putih adalah dewa perang, bintang tujuh pula. Statusnya jelas jauh lebih tinggi dari pamanku!"
Sshh!
Melly langsung terkejut dengan kata-kata Reno. Pada saat yang sama, dia sangat antusias. Dia sangat senang karena dirinya sudah memilih Reno lima tahun yang lalu.
"Kak Reno, huhuhu .... Kamu baik sekali padaku, aku akan melahirkan banyak anak untukmu!"
Melly dengan antusias menangis dan memeluk Reno!
...
Di bar.
Dirga memesan sebuah ruang pribadi dan memesan semeja anggur. Setelah mabuk dalam alunan musik, dia pun tertidur di sofa.
Dia baru saja tertidur kemudian dua wanita cantik membuka pintu.
"Pria ini akhirnya ketemu, Jenderal. Apa Jenderal yakin dia tunangan yang belum pernah Jenderal temui itu?"
"Kenapa dia seorang pecandu alkohol?"
"Aisa, diam!"
Wanita yang dipanggil sebagai jenderal itu memiringkan kucirannya lalu berdiri tegak. Seluruh tubuhnya memancarkan wibawa yang dingin dan tajam. Sepasang mata besar hitamnya bersinar dan dalam. Wajah cantiknya yang tanpa darah membuatnya terlihat seolah akan mati kapan saja.
Namanya Zira Manggala, Dewi Perang bintang tujuh baru di Departemen Perang tiga bulan lalu, nama kodenya Angsa Putih!
Zira terbatuk pelan dan menatap Dirga yang mabuk di sofa dan tidak bangun. Kemudian, Zira berkata dengan sungguh-sungguh, "Empat tahun yang lalu, aku pulang dan ayahku datang menjemputku di bandara. Dalam perjalanan, ayahku dan aku disergap lebih dari belasan kepala keluarga dari keluarga musuh. Kami terluka parah dan hidup kami dalam bahaya."
"Kalau penyelamatku nggak kebetulan lewat untuk membantu, ayahku dan aku pasti sudah mati sejak lama."
"Kemudian, penyelamatku itu juga membantuku dan Keluarga Manggala. Dia sudah begitu banyak membantu kami, tapi dia malah nggak pernah dapat imbalan apa pun. Sebagai imbalan atas kebaikannya, ayahku awalnya ingin menjodohkanku dengan anak buahnya, tapi ayahku justru mengatakan bahwa penyelamatku itu punya satu-satunya murid yang baik."
"Jadi, ayahku setuju untuk memberikanku kepada satu-satunya muridnya, orang itu adalah Dirga!"
"Cincin di tangan Dirga dan cincin di tanganku ini sepasang, nggak mungkin salah!"
Zira mengambil cincin kuno dari sakunya dan meletakkannya di tangannya. Setelah mengucapkan begitu banyak kata dalam satu tarikan napas, wajahnya menjadi sedikit pucat hingga kesulitan bernapas.
Namun, Aisa malah meragukan Dirga.
"Jenderal, sudah zaman apa sekarang ini? Kenapa Paman masih percaya takhayul? Bukankah ini sama saja dengan menjadikan hidup Jenderal sebagai lelucon?"
"Ya, aku akui bahwa gurunya Dirga memang menjadi penyelamat Keluarga Manggala. Tapi bukan berarti Jenderal harus menikah dengan Dirga, 'kan? Lihatlah Dirga ini, tukang mabuk, manusia biasa, tanpa kekuatan apa pun."
"Dia benar-benar nggak pantas untuk Jenderal. Dia pernah masuk penjara dan diselingkuhi istrinya. Aku yakin sekali, gurunya pasti akan langsung menampar dan membunuh muridnya ini kalau dia melihatnya yang sekarang. Dia pasti akan menyesal menjadikan Dirga sebagai muridnya!"
"Jenderal, kamu adalah Dewi Perang bintang tujuh yang terkenal. Pertempuran tiga bulan yang lalu, Jenderal bertarung sendirian melawan tiga dewa musuh di Negara Sutara, memenggal dua dari mereka dan melukai satu dengan serius!"
"Tapi Jenderal juga membayar mahal dan menderita luka serius. Para dokter terkenal yang dipimpin oleh Dokter Ajaib Sean dari Ikatan Dokter Nasional berkumpul di Departemen Perang dan mengeluarkan perintah militer. Nggak peduli berapa pun harganya, mereka harus bisa menyembuhkan luka Jenderal!"
"Tapi kenapa Jenderal nggak mematuhi pengaturan Departemen Perang, malah ke sini mencari Dirga?"
"Jenderal, aku memohon padamu jangan marah. Ikuti aku pulang ke Departemen Perang untuk diobati oleh para Dokter Ajaib itu!"
"Aku mohon Jenderal!"
Aisa berlutut tepat di depan Zira dengan air mata mengalir.
Uhuk!
Zira terbatuk pelan lalu menyunggingkan bibirnya. Dia menepuk bahu Aisa dan berkata, "Aisa, itu nggak ada gunanya. Dokter Ajaib Sean memang sangat pintar. Tapi mereka nggak bisa menyembuhkan lukaku. Hanya penyelamatku yang bisa menyembuhkannya!"
"Tapi aku harus pergi ke mana untuk mencari penyelamatku itu? Aku belum membalas budi apa pun kepadanya. Mana mungkin aku masih punya muka untuk mengecewakannya lagi? Hidupku singkat dan aku, Zira harus berguna untuk negara dan Keluarga Manggala. Sekarang aku sudah berjanji pada penyelamatku untuk menjadi istri Dirga, apa aku bisa mengingkarinya?"
"Selama sisa hidupku, aku hanya ingin menjadi wanita biasa di sisi Dirga!"
"Sekalipun dia adalah manusia biasa nggak berharga, aku akan menemaninya sampai dia bisa sukses dan mandiri. Ketika hari itu tiba, aku akan diam-diam meninggalkannya!"
"Aisa, bawa dia pergi!"
Setelah selesai bicara, wajah pucat Zira menunjukkan senyum yang belum pernah terlihat sebelumnya, kelembutannya sungguh luar biasa!
...
Keesokan paginya, Dirga terbangun dalam keadaan kepala sakit seperti akan meledak. Hal pertama yang dia katakan ketika dia membuka matanya adalah mau minum air.
Namun, dia tiba-tiba menyadari ada yang tidak beres.
Karena dirinya bukan di bar!
"Di mana ini?"
Dirga mengusap kepalanya, melihat sekeliling dengan hampa dan segera mendapati dirinya terbaring di tempat tidur besar!
Ini adalah kamar wanita!
Pada saat ini.
Pintu terbuka dengan mencicit.
Zira datang dengan segelas air.
"Sudah bangun, minum air nih!"
Dirga langsung tertegun.
"Ah, kamu, kamu, siapa kamu? Di mana aku?"
"Jam berapa sekarang? Aku ingat aku minum tadi malam ...."
Suara Dirga tiba-tiba berhenti, karena saat ini dia memperhatikan bahwa Zira hanya mengenakan piama tipis yang hampir transparan. Bentuk tubuhnya terlihat dan sangat menggoda!
Eh?
Luka wanita ini parah sekali, dia seorang petarung pula!
Siapa dia sebenarnya?
Bab 3
Tunangan
Siapa dia sebenarnya?
Meskipun pada saat itu Dirga terpaku oleh tubuh dan wajah Zira, Dirga langsung dapat mendiagnosis cedera Zira dan bisa melihat bahwa dia adalah seorang petarung!
Tanpa menghiraukan tatapan Dirga, Zira mendekati tepi tempat tidur dan menyerahkan cangkir itu.
Dirga mengambil gelas air dan meminumnya dengan cepat. Barulah Zira berkata dengan tenang, "Hai Dirga, aku Zira Manggala, tunanganmu!"
"Apa? Tunanganku?"
Dirga bingung, dia sama sekali tidak punya pikiran untuk mengagumi tubuh indah Zira.
Tunanganku dari mana?
Tepat ketika Dirga bingung harus apa, Zira tiba-tiba bersandar ke pelukannya dan berkata, "Aku ingin memberikan diriku kepadamu tadi malam, tapi kamu mabuk sekali. Sekarang kamu sudah bangun. Cuaca di luar cerah sekali, kita jangan lewatkan pagi yang indah ini!"
Setelah itu, Zira mencium bibir Dirga.
Dirga terkejut, tetapi sebagai Panglima Perang Neraka, kemampuannya untuk menahan nafsu tentu saja tidak buruk. Jadi, dia dengan cepat mengulurkan tangan dan meletakkan tangannya di bahu Zira untuk mendorongnya.
"Nona Zira, apa yang kamu lakukan? Jangan gegabah, jangan asal ciuman!"
"Apa kamu nggak merasa kalau kita perlu ngobrol baik-baik?"
"Kamu bilang kamu tunanganku, tapi kenapa aku nggak ingat kalau kita sudah tunangan?"
"Aku bukan orang sembarangan. Kalau begini, bukannya nggak adil juga buat kamu?"
Zira sangat marah ketika mendengar kata-kata Dirga.
"Apa maksudmu? Maksudmu aku wanita sembarangan?"
"Oke, kalau begitu hari ini aku tunjukkan kesembaranganku padamu!"
Zira langsung melangkah ke depan Dirga, meletakkan tangan di wajah Dirga dan menciumnya!
Dia benar-benar marah.
Zira seorang Dewi Perang Bintang Tujuh ditolak meskipun sudah mengambil inisiatif. Meski begitu, penilaian Dirga adalah Zira seorang wanita sembarangan!
Wanita mana pun akan marah jika dikatai seperti itu!
Dirga merasa mulutnya dipaksa buka dan arus listrik menyebar ke seluruh tubuhnya dalam sekejap.
Ada saat ketika dia ingin berbalik dan menekan Zira di bawahnya, tetapi ketika dia memikirkan cedera Zira, dia langsung tenang dan mendorong wanita itu menjauh. Kemudian, Dirga berkata dengan cepat, "Nona Zira, jangan marah, kamu salah mengerti kata-kataku. Aku nggak bermaksud begitu!"
"Selain itu, kamu terluka parah. Kalau kamu ingin sekali melakukan itu denganku, apa kamu nggak takut mati?"
Zira sangat terkejut.
"Kamu bisa melihat lukaku?"
"Kamu asal ngomong, ya? Wajahmu pucat sekali, siapa pun bisa melihatnya."
"Aku nggak percaya. Kalau begitu katakan padaku cedera macam apa yang aku derita!"
Zira tiba-tiba penasaran dengan Dirga, tapi dia tidak memercayainya. Karena dirinya menderita luka dalam. Jangankan orang biasa, bahkan para dokter terkenal dari Ikatan Dokter Nasional saja dari awal tidak bisa melihatnya!
Mungkinkah Dirga adalah makhluk asing?
Sebelum datang ke sini, Zira sudah menyelidiki Dirga dan tahu bahwa Dirga sebelumnya berada di penjara. Saat tahu Dirga baru saja diselingkuhi istrinya, hal ini menunjukkan bahwa Dirga adalah pria gagal tak berguna!
Bagaimanapun juga, Dirga adalah murid dari penyelamatnya, jadi Zira tetap menaruh sedikit harapan dari Dirga.
Pada saat ini, Dirga berkata, "Cedera dalam, sistem meridian tubuhmu terputus dan ada gumpalan darah di paru-paru."
"Pengobatan tradisional berfokus pada pemeriksaan melihat, memeriksa denyut nadi, mendengar, mengendus dan bertanya. Aku punya sedikit pengalaman selama itu berhubungan dengan pengobatan tradisional. Bakat medisku lumayan. Hanya dengan mengamati tubuh, wajah dan kontak fisik denganmu tadi, mudah sekali untuk mendiagnosis cedera dalammu!"
Kata-kata Dirga sangat mengejutkan Zira!
Zira bukan seorang dokter, dia tidak paham tentang ilmu medis. Namun, mana mungkin hal ini tidak mengejutkannya, Dirga membuat diagnosis yang akurat tentang luka dalamnya dalam waktu singkat, hanya berdasarkan mata telanjang dan kontak fisik pertama dengannya.
Murid penyelamatnya itu benar-benar bukan orang sembarangan!
Zira sangat penasaran pada Dirga dan ingin tahu apa lagi yang bisa dia lakukan!
"Nona Zira, kita tenang dulu, oke? Pertama-tama, aku seorang dokter. Aku bisa menyembuhkan lukamu, hanya saja sedikit rumit."
"Kalau kamu memercayaiku, aku bisa melakukan pengobatan akupunktur untukmu. Tentu saja, ini adalah proses yang panjang. Sebenarnya, aku rasa kita harus membahas pertanyaan pertamaku!"
"Menurutmu?"
Dirga mengatakan hal yang sama, Zira tidak lagi bersikeras melakukan itu dengannya. Zira bangkit dan meninggalkan Dirga, lalu duduk di samping dan berkata, "Ya, kalau kamu ada pertanyaan, kamu boleh tanya sekarang!"
"Oke, kalau begitu aku akan langsung ke intinya. Nona Zira, kamu bilang kamu tunanganku. Apa kamu punya suratnya?"
"Nggak, tapi aku punya cincin ini dan kamu punya juga. Cincin ini sepasang. Ini buktinya!"
"Selain itu, kalau aku menyebut nama seseorang, kamu akan mengetahuinya!"
"Rafan Shafik!"
"Rafan Shafik? Kamu kenal guruku?"
Dirga sudah lebih percaya begitu dia melihat cincin di tangan Zira dan mendengarnya menyebut nama gurunya juga. Pada saat ini, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Ketika dia bertemu Guru di penjara lima tahun yang lalu, Guru mengatakan akan mencarikannya tujuh istri!
Selain itu, ketika Guru meninggalkan Penjara Neraka, dia juga menyebutkan bahwa dia sudah menyiapkan tujuh pernikahan untuknya. Dia juga diberi cincin, yang dia kenakan di jari-jarinya.
Dia juga mengatakan bahwa masing-masing dari tujuh tunangannya memiliki satu dan masing-masing adalah sepasang dengan dia!
Hanya saja, di dalam hatinya hanya ada Melly. Dia tidak menganggap ucapan gurunya serius sama sekali!
Namun, sekarang semuanya ternyata sungguhan!
Kemudian, Zira menceritakan tentang bagaimana Rafan menyelamatkannya dan ayahnya empat tahun lalu, juga bagaimana ayahnya menjodohkannya dengan Dirga. Akhirnya, Dirga pun percaya sepenuhnya.
"Oh ternyata begitu, aku nggak menyangka bisa begitu!"
"Nona Zira, apa Nona bisa menghubungi guruku? Jangan salah paham, kamu itu wanita cantik, asalkan normal, pria mana pun nggak akan menolakmu. Kalau aku benar-benar menikahimu, aku akan memperlakukanmu dengan baik selama hidupku!"
"Tapi ini terlalu mendadak, kamu sedang terluka parah. Lukamu pasti bisa sembuh lebih cepat kalau guruku yang mengobatimu!"
Ucapan Dirga memang ada benarnya, dia sudah lama sekali tidak menghubungi gurunya itu. Dia juga sangat ingin bertemu gurunya, akan sangat bagus jika Zira bisa menghubunginya.
"Nggak perlu menghubunginya lagi. Kamu adalah murid penyelamatku. Aku percaya keterampilan medismu! Aku sudah sangat berutang budi kepada penyelamatku. Bagaimana aku masih punya malu untuk mengecewakannya lagi!"
"Selain itu, penyelamatku itu sudah lama meninggalkan Negara Naga. Kamu saja bahkan nggak bisa menghubunginya, kamu pikir aku bisa menghubunginya?"
"Kamu nggak perlu khawatir. Pelan-pelan lukaku bisa sembuh. Bahkan untuk seumur hidup, aku bersedia memercayaimu!"
"Eh ...."
Dirga ragu-ragu, Zira terlalu sempurna dan cantik. Kebahagiaan ini datang terlalu tiba-tiba, Dirga merasa seperti sedang bermimpi.
Dia takut tiba-tiba terbangun dari mimpi ini!
"Aku nggak suka pria plin-plan. Mau berapa lama penyembuhannya, aku percaya kamu. Sekalipun kamu nggak bisa menyembuhkanku, aku nggak akan menyalahkan kamu dan nggak akan pergi meninggalkan kamu juga!" ujar Zira.
Zira tentu berharap Dirga bisa menyembuhkan lukanya, tetapi dia berharap proses ini akan berlangsung seumur hidup. Dengan begitu, dia bisa tinggal bersama Dirga selamanya tanpa terpengaruh oleh masalah di rumah.
"Oke, Nona Zira berbaring dulu. Aku harus membersihkan memar di paru-parumu dengan akupunktur dulu. Kamu harus melepas semua pakaianmu!"
Dirga tidak ragu-ragu. Bahaya jika dia ragu-ragu, mungkin tak akan bisa mengontrol diri lagi.
Wush.
Zira sudah melepaskan baju tidurnya, tubuh indahnya yang menggemaskan tersaji di depan mata Dirga. Tiba-tiba, Dirga merasa pusing!
Jangan sembarangan!
Jangan sembarangan!
Lagi pula, tadi peluk-peluk sudah, sentuh-sentuh juga sudah!
Dirga berkata dalam hati untuk membuang pikiran-pikiran lain yang mengganggu di benaknya. Setelah itu, dia menusuk dada Zira dengan jarum perak di tangannya.