Bab 5
Usik Nona Zira Sedikit saja, Aku Lenyapkan Seluruh Keluargamu
Reno dan Melly datang dengan beberapa pengawal.
Melihat tragedi Jager dan yang lainnya, Reno tak bisa menahan emosi dan mulai memaki-maki.
"Mengurus Dirga dan ibunya saja nggak bisa, apa gunanya aku pelihara kalian!"
"Kalian semua nggak berguna!"
"Bukan begitu, Tuan Reno, anak itu benar-benar pandai berkelahi. Tuan Reno, tolong bantu kami!"
Jager merangkak ke kaki Reno dan menyeka sepatunya dengan lengan bajunya.
Namun, fokus Reno sekarang sepenuhnya pada Zira dan Aisa.
Dua wanita yang cantik dan elegan!
Bila Melly dibandingkan dengan Zira dan Aisa, perbedaannya sangat jelas!
Mereka bagaikan itik buruk rupa dan angsa putih yang cantik!
Pikiran Reno seketika dipenuhi dengan pikiran jahat, matanya tertuju pada tubuh Zira.
"Halo, dua wanita cantik, namaku Reno Markus, ini kartu namaku!"
"Keluarga Markus adalah keluarga konglomerat kelas tiga di Kota Langgara. Ayahku adalah kepala keluarga, aku khawatir kamu belum tahu bahwa Dewi Perang Angsa Putih sudah tiba di Kota Langgara, ya?"
"Aku lihat kalian berdua seperti bukan berasal dari Kota Langgara, tapi pasti pernah mendengar nama Dewi Perang Angsa Putih. Sejujurnya, Keluarga Markus adalah satu-satunya keluarga yang pendapatnya bisa diterima oleh Dewi Perang Angsa Putih."
"Karena pamanku adalah jenderal bintang sembilan di Departemen Perang, inilah berita yang pamanku dapat dari Departemen Perang. Sekarang pamanku yang menemani Dewi Perang Angsa Putih, jadi aku dengan tulus mengundang kalian berdua ke kediaman Keluarga Markus sebagai tamu!"
"Kalau kalian mau melihat aura pahlawan Dewi Perang Angsa Putih, itu soal gampang bagi pamanku!"
Reno membagikan kartu namanya dengan sombong!
Dalam hatinya Reno merasa senang, berpikir bahwa dua wanita cantik itu pasti tidak akan menolak berita yang begitu mengejutkan. Pada saat itu, ketika mereka tiba di Keluarga Markus, apa mereka masih bisa melarikan diri?
Kecantikan yang luar biasa ini harus dinikmati oleh Reno!
Melly menatap Reno, raut wajahnya bahkan terlihat kesal.
"Kak Reno, kapan paman menemani Dewi Perang Angsa Putih? Bicara apa kamu ini?"
Melly sangat tidak senang, karena tatapan Reno pada Zira membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Hari ini, dia pulang bersama Reno sejak pagi dan bertemu dengan paman Reno. Namun, setelah bertanya, dia baru tahu bahwa pamannya hanya tahu Dewi Perang Angsa Putih sedang dalam perjalanan ke Kota Langgara.
Sedangkan kapan dia akan tiba dan di mana, pamannya sama sekali tidak tahu. Sekarang, Keluarga Markus sedang secara diam-diam menggerakkan semua orang sekitar di seluruh kota untuk mencari tahu tentang berita Dewi Perang Angsa Putih.
Dia dan Reno juga ditugaskan untuk menyelidiki sebuah daerah.
Duar!
Saat Reno mengatakan bahwa Zira akan datang ke Kota Langgara, Aisa tiba-tiba mengeluarkan aura yang dingin dan kejam!
Sudah menjadi rahasia bahwa dia dan Zira datang ke Kota Langgara, bahkan di Departemen Perang, hal ini hanya diketahui oleh Komandan.
Dari mana dia mendengar tentang jenderal perang bintang sembilan ini?
Pada titik ini, Reno sudah mati di mata Aisa! Selama Zira memberi perintah, dia tidak akan ragu untuk membanting Reno ke lantai!
"Hehe, Keluarga Markus itu apaan? Kalian memenuhi syarat untuk diterima pendapatnya oleh Dewi Perang Angsa Putih?"
"Apa kamu tahu apa itu cari mati?"
Aisa melangkah maju, tubuh Reno dan yang lainnya tanpa sadar gemetaran!
Sial, bagaimana wanita ini bisa begitu mengintimidasi?
Pada saat ini, Zira berbicara.
"Reno, 'kan? Apa kamu yang menyuruh mereka untuk memukuli ibunya Pak Dirga?"
Pada saat ini, Zira seperti ratu berkuasa yang menatap semua makhluk hidup. Kata-katanya menyiratkan niat membunuh. Dia selalu sangat tenang dan tidak ingin orang-orang luar mengetahui hubungannya dengan Dirga!
Kalau tidak, ibunya akan segera tahu tentang Dirga, hal ini tentu akan berbahaya bagi Dirga dan ibunya!
Namun, dia sudah memutuskan untuk menikahi Dirga. Ibu Dirga adalah calon ibu mertuanya. Kalau ibu mertuanya dipukuli, apakah Zira bisa diam saja?
Sedangkan identitasnya akan segera ketahuan, dia sama sekali tidak peduli!
"Pak Dirga? Dirga? Apa hubunganmu dengan Dirga?"
"Kalian berdua bukan wanita yang dibungkus Dirga dari kelab malam, 'kan?"
Sejak awal, Melly kesal melihat Zira dan Aisa, terutama Zira. Karena baik temperamen ataupun kecantikannya, semuanya kalah dari Zira!
Ditambah cara Reno menatap Zira barusan, Reno terlihat begitu ingin memikat hati Zira. Melly sangat kesal melihatnya!
"Berani sekali menghina atasanku, kotor sekali mulutmu!"
"Plak!"
Aisa menampar wajah Melly seperti kilat hingga merontokkan satu giginya!
Melly langsung tercengang. Tepat ketika dia ingin menatap mata dingin Aisa, dia langsung ketakutan oleh aura pembunuh yang melintas dari matanya yang dingin!
Dengan sedih, dia meminta bantuan Reno.
"Kak Reno, dia, dia benar-benar berani memukulku. Cepat suruh pengawalmu lampiaskan emosiku!"
Reno juga benar-benar ketakutan dengan aura Zira dan Aisa, tapi dia langsung tenang dan merasa senang.
Karena sekarang dia punya alasan untuk memberikan tekanan pada Aisa dan Zira.
"Aku benar-benar ingin berteman dengan kalian berdua. Tapi kalian malah memukul tunaganku. Masalah ini tentu saja besar, kalian hanya punya satu pilihan sekarang!"
"Kalian berlutut meminta maaf pada tunanganku, lalu kalian temani aku minum!"
"Kalau nggak begitu, aku jamin kalian berdua nggak akan bisa keluar dari rumah sakit ini hari ini!"
Reno selesai bicara. Dia menoleh melemparkan tatapan ke pengawal di belakangnya. Tak lama kemudian beberapa pengawal mengelilingi Zira dan Aisa!
"Kamu mengancamku?"
Zira tidak marah, tetapi malah menatap Reno dengan konyol.
Reno berkata dengan kesal, "Nona, kalau kamu masih bersikeras, aku pun nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Begini saja, selama pamanku nggak ada, setengah Kota Langgara ini dikuasai oleh Keluarga Markus!"
"Sekarang pamanku menemani Dewi Perang Angsa Putih, seluruh Kota Langgara bisa dikuasai oleh Keluarga Markus!"
"Pamanmu Jenderal Bintang Sembilan? Dia sangat kuat?"
Zira meledeknya.
"Biasa saja, Keluarga Markus adalah keluarga konglomerat kelas tiga di Kota Langgara. Tapi kekuatan Keluarga Markus dalam bidang medis berada di tiga besar di Kota Langgara!"
"Obat-obatan dari Keluarga Markus dipasok langsung ke Departemen Perang, Dewi Perang Angsa Putih sudah berjanji akan menjadi saksi pertunanganku enam hari lagi."
"Apa kamu tahu apa artinya ini? Artinya, Keluarga Markus akan menjadi keluarga kelas dua atau bahkan nomor satu. Pamanku akan segera dipromosikan menjadi Raja Perang. Bukan nggak mungkin untuk dipromosikan menjadi Dewa Perang dalam waktu dua tahun."
Pfftt!
Aisa tidak bisa menahan tawa!
"Apa yang kamu tertawakan?"
Reno agak marah.
"Aku ingat hal-hal menyenangkan. Aku bebas tertawa kalau aku mau, bukan?"
Aisa menutup mulutnya dan tertawa!
Wajah Reno langsung muram.
"Hal menyenangkan apa? Aku sarankan kamu tahu diri dan meminta maaf kepada tunanganku sambil berlutut. Kalau nggak, jangan salahkan aku kalau main kasar!"
Siapa sangka, setelah Reno selesai bicara, Aisa tertawa lagi dan berkata, "Kucingku lahiran!"
Pfftt!
Kali ini giliran Zira yang tertawa. Tawa ini mengejutkan semua orang!
"Kenapa kamu tertawa lagi?"
Reno kagum dengan tawa Zira, dia ingin marah tapi tidak bisa!
"Kucingku lahiran juga!"
Zira ikut-ikutan Aisa.
Eh?
Kenapa kata-katanya mirip sekali?
Reno seketika sadar!
"Kalian sedang mentertawakanku? Bagus sekali, kalian berdua cari gara-gara, ya!"
"Habisi mereka, agak lembut sedikit!"
Reno memerintahkan pengawal, tetapi pada saat ini suara Dirga datang dari ruang rawat.
"Reno, kalau kamu berani mengusik Nona Zira, aku akan menghancurkan seluruh keluargamu!"
Saat suara itu terdengar, Dirga keluar dari kamar sakit dengan aura yang mematikan. Dia datang ke depan Zira dan meraih tangan wanita itu, lalu melindungi Zira di belakangnya.
Pada saat itu, Zira merasakan aliran hangat aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya di hatinya. Dia sepenuhnya mengabaikan aura membunuh dari diri Dirga.
Jadi, beginilah rasanya dilindungi oleh pasangan sendiri?
Namun, Aisa saat ini merasakan bahaya yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dari sosok Dirga!
Bahaya parah!
Bahaya ini membuatnya merasakan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya!
Aisa ketakutan sampai ke tulang-tulangnya!
Bab 6
Aku Berani Membunuhmu, Mau Coba?
Aisa ketakutan sampai ke tulang-tulangnya!
Ada apa ini?
Bagaimana Dirga si gelandangan ini membuatku sangat ketakutan?
Aisa tanpa sadar gemetaran.
Ilusi!
Pasti ilusi!
Niat membunuh yang terpancar dari Dirga berlalu begitu saja, sekarang Aisa tidak bisa merasakannya sama sekali.
Saat ini, Zira hanya merasa terharu, terharu karena dilindungi oleh pasangannya sendiri. Selain itu, dia sama sekali tidak merasakan apa-apa!
Pada saat ini, pengawal Reno mundur ke sisinya dan berbisik dengan suara gemetar, "Tuan, anak ini agak jahat. Takutnya dia seorang master!"
"Plak!"
Reno menampar wajah pengawal itu dan berkata dengan marah, "Apa kalian buta?"
Setelah itu, Reno mengarahkan pandangannya pada Dirga.
"Dirga, aku nggak menyangka kamu dan ibumu akan mengalami kehidupan yang sulit, senang sekali memukuli aku dan tunanganku tadi malam, 'kan?"
"Kamu bisa bertarung, ya? Jangan bilang aku menggertakmu, lihat pengawal di belakangku?"
"Salah satu dari mereka bisa satu lawan sepuluh. Kalau kamu paham, bersujudlah dan benturkan kepalamu tiga kali kepadaku dan Lilly. Bayar biaya perlindungan sebanyak 200 juta, biarkan mereka pergi dan minum denganku. Aku akan melepaskan kamu dan ibumu!"
"Kalau kamu nggak mau, pengawalku akan membuatmu menyesal datang ke dunia ini!"
Setelah selesai bicara, Reno mengarahkan pandangannya pada Zira dan Aisa lagi.
Hasratnya sangat membuncah pada mereka berdua.
Dirga berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarah di dalam hatinya, dia berkata dengan nada datar, "Ini adalah rumah sakit, kalau ada apa-apa kita bisa bicara di bawah. Jangan khawatir, aku akan memenuhi semua permintaanmu hari ini!"
Aisa mendengar dan mengutuk Dirga, "Dirga, kamu cari mati!"
Namun, dia langsung terdiam lagi setelah menerima tatapan suram dari Zira.
Zira menatap Dirga dan ekspresinya pun melunak.
"Aku bisa menanganinya!"
"Terima kasih, tapi nggak perlu. Aku, Dirga, nggak terbiasa membiarkan pasanganku sendiri untuk menggantikanku menghadapi masalah!"
"Kamu dan Nona Aisa tolong jaga ibuku di ruang rawat, aku akan segera kembali!"
Satu kalimat menghantam tali paling lembut di hati Zira, tanpa ragu dia berbalik dan menarik Aisa ke ruang rawat!
"Jen .... Nona, Dirga dia ...."
"Diam, aku percaya padanya!"
Untuk pertama kalinya, Zira mengalami perasaan dipedulikan dan dirawat. Rasa ingin tahunya tentang Dirga dan kepercayaan padanya sudah mencapai puncaknya!
Di luar ruang rawat.
Raut wajah Dirga berubah suram dan suhu di udara turun menjadi beku!
"Ayo, Tuan Reno, jangan khawatir. Keluarga Markus sangat kuat, dua wanita cantik itu nggak akan bisa kabur!"
Setelah itu, Dirga pun melangkah pergi.
Di sini adalah rumah sakit, tempat suci, dia tidak ingin membunuh di sini.
"Huh, anggap saja kamu cukup tahu diri."
Reno melihat Jager dan Dirga meninggalkan mereka di luar pintu ruang rawat. Kemudian, dia mengejar Dirga bersama Melly dan pengawal serta Jager dan yang lainnya!
Segera semua orang berada di garasi parkir bawah tanah rumah sakit.
"Dirga, aku nggak menyangka kamu cukup hebat. Diselingkuhi Lilly lalu secepat itu mendapatkan wanita cantik. Baiklah, silakan mulai penampilanmu!"
Reno tampak percaya diri akan mengalahkan Dirga.
"Reno, nggak seharusnya kamu membiarkan mereka menyakiti ibuku!"
Setelah itu, Dirga langsung menendang kaki Reno dengan keras, lalu membanting para pengawal dan kaki Jager bersama-sama!
Semua proses ini tidak sampai dua detik!
Melly yang berada di samping sudah ketakutan sedari tadi, dia terjatuh ke tanah dengan lembuht!
"Ah!"
Reno dan yang lainnya teriak kesakitan!
Pada saat ini, Dirga menginjak kaki Reno yang utuh dengan satu kaki.
"Dirga, berengsek, kamu, apa kamu gila?"
"Kamu berani mematahkan kakiku?! Tamat sudah kamu. Aku akan menghancurkan seluruh keluargamu!"
"Krek!"
Dirga menginjak keras dan suara patah tulang terdengar!
"Ah! Ah! Ah!"
Reno menyaksikan Dirga meremukkan lututnya kali ini!
"Dirga, kamu, kamu tamat riwayatmu. Pamanku akan membunuh seluruh keluargamu!"
"Tunggu saja aku!"
"Plak! Plak!"
Dirga menampar wajah Reno yang pucat beberapa kali dan mengucapkan kata demi kata, "Kalau kalian mematahkan satu kaki ibuku, aku akan mematahkan semua kakimu."
"Hanya aku yang bisa membuatmu bisa berdiri kembali. Aku akan memberimu kesempatan untuk berdiri kembali. Dalam dua hari, siapkan 10 miliar untuk meminta maaf kepada ibuku!"
"Kalau nggak, aku akan mengeluarkan Keluarga Markus dari Kota Langgara!"
Dalam sekejap, Reno dan yang lainnya merasakan udara di sekitar mereka merosot ke titik beku, terutama Melly. Dia tidak menyangka Dirga yang telah berada di penjara selama lima tahun, menjadi begitu hebat dalam bertarung.
"Dirga, kamu, kamu tamat sudah. Kamu tinggal tunggu mati saja! Beraninya kamu mematahkan kaki Kak Reno ...."
"Plak!"
Dirga menampar Melly hingga membuat tubuhnya terpental!
"Kamu ... kamu berani menamparku?"
"Plak!"
Dirga menghampiri Melly dalam sekejap dan menginjak wajahnya!
"Aku juga berani membunuhmu. Mau coba?"
"Kamu!"
Melly dibuat ketakutan oleh mata galak Dirga dan menelan kembali kata-kata itu.
"Ingat, kamu dan Reno hanya punya dua hari. Kalau aku nggak lihat uang 10 miliar sebagai permintaan maaf dari kalian dalam dua hari, keluarga Martino dan Keluarga Markus akan menghilang dari Kota Langgara!"
Dirga pun pergi.
Dia dengan cepat kembali ke ruang rawat. Ibunya belum bangun, tetapi kaki dan tubuhnya yang patah sudah tidak fatal lagi.
"Cepat sekali sudah kembali lagi? Mereka tidak mempersulitmu?"
Aisa terkejut melihat Dirga kembali tanpa cedera.
"Aku beralasan dengan mereka!"
"Apa kamu pikir aku ini anak tiga tahun? Dirga, nggak disangka, kamu pengecut sekali? Beraninya kamu membiarkanku dan Nona pergi minum dengan si bodoh itu?"
"Aku akan membunuhmu!"
Aisa bergegas menghantam Dirga, tetapi dia terkejut dengan tatapan galak Zira.
Begitu Zira ingin marah, dia dengan lembut meraih Dirga dan berkata, "Kenapa kamu nggak nurut lagi? Bukannya aku sudah bilang kamu jangan marah?"
"Jangan marah-marah lagi, ya!"
"Oke, aku akan mendengarkanmu, nggak akan marah, nggak akan!"
Zira mengangguk patuh. Dirga bisa kembali dalam keadaan utuh, Zira percaya bahwa Dirga sudah menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh.
Dirga menatap Aisa dan berkata, "Nona Aisa, aku nggak tahu apa yang salah denganmu yang membuatmu memusuhiku. Aku nggak cukup kompeten. Aku bahkan nggak bisa melindungi ibuku sendiri. Aku masuk penjara dan diselingkuhi istriku sendiri setelah keluar dari penjara!"
"Tapi, sekalipun aku nggak berguna, aku nggak akan mengandalkan Nona Zira dan kamu untuk bertahan hidup. Nona Zira terluka sekarang. Apa kamu tahu konsekuensi membuatnya marah?"
"Karena kamu memanggilnya Nona, kamu harus memikirkan keselamatannya. Kalau kamu nggak suka padaku, kamu bisa menemuiku sendiri setelah Nona Zira sembuh!"
Dirga tahu sejak awal, Aisa sangat memusuhinya. Dirga tidak pernah keberatan.
Namun, tidak bisa dibiarkan jika Aisa sampai memengaruhi Zira!
Saat ini, Aisa pun sadar dirinya sudah salah, dia pun buru-buru minta maaf kepada Zira.
"Aisa, kamu minta maaf bukan kepadaku, tapi kepada Dirga."
Aisa meminta maaf kepada Dirga meskipun dia enggan.
Pada saat ini, Dirga bertanya dengan rasa ingin tahu, "Nona Zira, kalian berdua tentara, 'kan?"
"Ya, Departemen Perang!"
Zira dengan jujur mengakuinya. Apa pun yang Dirga ingin ketahui, Zira akan menjawabnya dengan jujur.
Siapa sangka, Dirga justru berkata dengan wajah patah hati, "Nggak heran kamu terluka parah. Apa yang dilakukan bajingan-bajingan di Departemen Perang itu? Apa semua pria di Departemen Perang sudah mati?"
"Bagaimana bisa sampai membuatmu begitu terluka parah!"
"Nona Zira, terima kasih sudah datang menjenguk ibuku. Begini, kamu dan Nona Aisa pulang dulu. Kamu harus beristirahat dengan baik, makan dan minum obat sesuai dengan resep yang aku berikan padamu!"
"Aku harus membawa ibuku pulang. Cedera ibuku akan memakan waktu sekitar empat hari untuk sembuh. Aku akan merawatmu ketika cedera ibuku sembuh!"
"Beri tahu aku kalau selama beberapa hari ini kamu nggak enak badan."
"Mari kita bertukar nomor ponsel!"
Meskipun Dirga bukan dari Departemen Perang, dia tahu bahwa Departemen Perang memiliki aturan kerahasiaan yang ketat, jadi dia tidak bertanya lagi.
Setelah bertukar kontak dengan Dirga, Zira dan Aisa meninggalkan rumah sakit.
Bab 7
Murid Penyelamatku Tidak Mungkin Tidak Punya Kemampuan
"Jenderal, Dirga benar-benar seorang dokter? Apa dia benar-benar bisa menyembuhkan cederamu?"
"Selain itu, apa Jenderal hanya ingin memberitahunya bahwa Jenderal adalah Angsa Putih?"
Begitu dia tiba di luar rumah sakit, Aisa tidak sabar untuk bertanya dan Zira sudah memberitahunya bahwa Dirga adalah seorang dokter dan sedang proses menyembuhkannya.
"Aku yakin Dirga akan menyembuhkan lukaku, tapi kuharap nggak begitu cepat. Aku memang ingin memberitahunya identitas asliku barusan, tapi kamu tahu akhirnya nggak. Ekspresi Dirga tampak nggak tenang saat aku mengakui bahwa kita berdua adalah tentara dan berada di Departemen Perang!"
Aisa baru ingat setelah mendengar ucapan Zira.
"Dirga jauh lebih misterius dari yang kamu kira, murid penyelamatku nggak mungkin orang yang nggak punya kemampuan. Jadi, ingat apa yang aku katakan di ruang rawat, kamu jangan mencoba menyelidikinya!" lanjut Zira.
"Siap!"
Aisa setuju, lalu dia membuka pintu mobil untuk Zira.
Telepon Zira berdering begitu dia masuk ke mobil. Ketika dia melihat nomor itu, dia mengerutkan kening dan memberi isyarat agar Aisa mengemudi. Setelah mobil menyala, dia menekan tombol angkat.
...
Pada saat ini, Dirga sudah menyelesaikan prosedur operasi untuk ibunya.
Dua jam kemudian, dia kembali ke rumah pinggiran kota sambil menggendong ibunya. Begitu dia memasuki rumah, dia melihat seorang pria paruh baya duduk di halaman sambil merokok.
"Ayah sudah pulang?"
Ayah Dirga bernama Arlan Maharaja. Dalam ingatan Dirga, ayahnya sudah bertahun-tahun tidak ada di rumah. Jika tidak salah ingat, ayahnya belum pulang ke rumah selama hampir delapan tahun.
Ayah sangat sedikit berbicara, Dirga merasa asing dengannya. Entah apa yang dilakukan ayahnya di luar, Dirga dan ibunya tidak pernah bertanya juga.
"Ya, Ayah pulang. Bagaimana kabar ibumu?"
Arlan memadamkan rokok dan berdiri untuk menurunkan Tika dari punggung Dirga dan membawanya ke kamar tidur.
"Bukan masalah besar. Sebentar lagi juga bangun. Ibu akan benar-benar sembuh setelah istirahat beberapa hari!"
"Ayah, kali ini Ayah mau berapa lama di rumah?"
"Ayah nggak akan pergi-pergi lagi!"
"Kamu dan ibumu sudah mengalami kesulitan beberapa tahun terakhir ini, bukan?"
Arlan menidurkan Tika, menutupinya dengan selimut dan menarik Dirga keluar.
"Aku baik-baik saja, ibu yang sudah terlalu bekerja keras. Ayah, karena ayah nggak akan pergi lagi, aku mau buka klinik di kota. Aku seorang mahasiswa kedokteran dan secara akademis lumayan. Jadi, semoga Ayah bisa mendukungku!"
Dirga tidak perlu bekerja sama sekali, uangnya tidak akan habis jika hanya dihabiskan untuk menghidupi dirinya dan orang tuanya selama masa hidup ini.
Karena gurunya memberinya kartu bank sebelum pergi, deposit di kartu bank itu tak terhitung jumlah angkanya.
Namun, Dirga adalah seorang dokter, dia suka menyelamatkan orang lain. Lebih penting lagi, sekarang dia memiliki Zira. Dia tahu bahwa Zira adalah seorang prajurit di Departemen Perang!
Tanpa mengungkapkan status Panglima Perang Neraka, dia membutuhkan karier yang bagus, menjalankan klinik tidak diragukan lagi adalah pilihan yang terbaik untuknya.
Arlan tidak berbicara, dia menyerahkan sebatang rokok pada Dirga. Pada akhirnya, dia berkata, "Ayah selalu mendukung apa yang akan kamu lakukan, kamu butuh uang?"
"Nggak, aku masih punya uang sedikit!"
"Kalau begitu, Ayah rawat Ibu di rumah. Aku akan mengurus plang klinik, sekalian membeli satu unit rumah!"
"Oke!"
Arlan duduk dan merokok, sementara Dirga segera meninggalkan rumah dan kembali ke kota.
Rumah Sakit.
"Sungguh berani. Berani mematahkan kaki anakku!"
"Melly, siapa Dirga ini?"
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!"
Di bangsal, ayah Reno, Romeo Markus, marah besar. Reno sudah pingsan di ranjang rumah sakit. Dokter terbaik di rumah sakit sudah datang untuk memeriksa luka-lukanya. Dokter langsung terus terang, Reno hanya bisa menggunakan kursi roda selama sisa hidupnya!
Reno adalah putra satu-satunya, dia akan mewarisi posisi kepala keluarga di masa depan. Jika dia hanya bisa menggunakan kursi roda nantinya, bagaimana dia bisa mewarisi posisi kepala keluarga?!
Melly sudah ketakutan, wajahnya saat ini sudah bengkak juga. Mata Dirga yang mengerikan masih terngiang-ngiang di pikirannya!
Namun, sekarang dengan dukungan Keluarga Markus, dia kembali menghina Dirga dan berkata, "Paman Romeo, Dirga itu hanya gelandangan miskin!"
"Lima tahun yang lalu, dia memukul Kak Reno sampai masuk penjara. Setelah keluar penjara, dia langsung menindasku juga. Dia memukulku dan Kak Reno tadi malam, aku nggak menyangka dia ada di sini hari ini ...."
"Dia nggak hanya mematahkan kaki Kak Reno dan Jager, dia juga memeras Kak Reno dan aku sebesar 10 miliar!"
"Huhuhu .... Paman Romeo, Paman harus membalaskan dendam Kak Reno. Kalau Kak Reno nggak bisa berdiri lagi, aku nggak mau hidup lagi ...."
Untuk membuat kesan yang baik pada Romeo, Melly bahkan membenturkan kepalanya ke dinding.
Akting bersikerasnya diterima oleh Romeo. Romeo pun menahannya tepat ketika kepalanya hendak membentur dinding.
"Keterlaluan, sangat melanggar hukum! Apa Dirga menganggap Keluarga Markus ini keluarga sembarangan?"
"Melly, aku selalu melihat cinta tulusmu untuk Reno. Jangan khawatir, aku nggak akan pernah membiarkan Dirga bebas!"
"Paron!"
Romeo sangat marah, segera kapten pengawal Keluarga Markus, Paron datang di belakangnya.
"Pergi, bawa kaki dan tangan Dirga ke hadapanku!"
"Jangan khawatir, Pak. aku pasti akan mematahkan kaki dan tangan anak itu, lalu membawanya kepadamu!"
"Berani menyakiti Tuan Muda Keluarga Markus, dia sudah bosan hidup!"
Paron adalah Seniman Bela Diri Tinggi Tingkat Puncak. Keberadaannya membuat Romeo merasa sangat tenang!
Tak lama kemudian, Paron pun pergi. Kemudian, Reno meninggalkan rumah sakit. Romeo sama sekali tidak percaya meskipun dokter mengatakan bahwa Reno hanya akan menghabiskan sisa waktunya di kursi roda.
Romeo sudah menelepon adik keduanya, Kevin Markus dan memintanya untuk memanggil dokter ajaib Kota Damon untuk datang ke Kota Langgara menyembuhkan kaki Reno.
Seandainya Keluarga Markus tidak sedang mencari keberadaan Dewi Perang Angsa Putih, Romeo tidak akan melakukan aksi ini. Kalau bukan karena itu, dia pasti akan menemui Dirga secara pribadi untuk membunuhnya.
...
Pada saat ini, Dirga datang ke sebuah perusahaan real estate untuk membeli rumah.
Dia berencana untuk membeli rumah terlebih dahulu, kemudian pergi untuk membeli obat sekalian melihat-lihat plang untuk kliniknya.
Namun, begitu dia memasuki pintu, dia melihat sekelompok orang di sekitarnya menangis dan berteriak.
"Nenek, Nenek pasti baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Nenek apa yang harus aku katakan kepada ayahku?"
"Ambulans kapan datangnya? Cepat tanyakan lagi ...."
Ada apa?
Dirga berjalan menuju kerumunan yang kacau. Di dekatnya, dia melihat seorang wanita tua yang tidak sadarkan diri terbaring di sofa. Dalam sekilas saja, dia bisa mendiagnosis penyebab koma wanita tua itu!
Serangan jantung mendadak!
Situasinya berbahaya, sekalipun ambulans itu datang sekarang, semuanya sudah terlambat.
"Aku dokter. Aku bisa menyelamatkannya. Beri jalan!"
Dokter berkewajiban menyelamatkan pasien. Dengan situasi yang berbahaya, Dirga tak memedulikan apa-apa lagi. Begitu orang-orang di depan minggir, dia melangkah maju ke wanita tua itu dan memasukkan beberapa jarum perak ke tubuhnya.
Kemudian, dia mengulurkan tangan untuk menyandarkan punggung wanita tua itu dan menyuntikkan gelombang energi sejati ke tubuhnya.
Segera, wanita tua yang sudah koma itu secara ajaib terbangun, dia merasakan energi sejati yang aneh berkeliaran di dalam tubuhnya. Kini tubuhnya terasa sangat segar.
Dia terkejut. Sebelum dia bisa berbicara, dia mendengar Dirga berkata, "Minum obat ini dulu. Kamu sudah menderita penyakit jantung setidaknya selama 30 tahun. Barusan kamu koma mendadak. Minum obat ini, kemudian pergi ke rumah sakit untuk membeli beberapa obat untuk penyakit jantung. Ke depannya nggak akan kambuh-kambuh lagi!"
"Tapi ke depannya, kamu harus perhatikan kondisi tubuh. Jangan sampai terpancing emosi!"
Dirga berkata demikian lalu memasukkan pil ke mulut wanita tua itu. Kurang dari satu menit setelah dia menelannya, seluruh tubuhnya benar-benar pelih.
"Nak, terima kasih ya. Aku memang sudah menderita penyakit jantung selama 30 tahun lebih, tapi sekarang aku merasa tubuhku lebih sehat dari sebelumnya!"
"Terima kasih banyak. Perkenalkan diriku, namaku Mora Candra!"
Mora mengungkapkan isi hatinya. Dia menatap Dirga di depannya, tapi hatinya benar-benar gelisah. Dirga benar-benar biasa-biasa saja.
Namun, dia tidak melupakan energi sejati yang baru saja Dirga masukkan ke dalam tubuhnya.
Jelas-jelas aku nggak merasakan aura petarung dari tubuhnya, tapi bagaimana bisa energi sejati yang dia masukkan ke dalam tubuhku begitu murni? Kenapa aku nggak bisa merasakan kultivasinya sepenuhnya?'
'Apa sebenarnya pil yang dia berikan padaku, bagaimana itu bisa memiliki efek magis seperti itu?'
Hanya dalam beberapa detik, banyak tanda tanya melintas di benak Mora.