Bab 4
Ibu Dipukuli
"Mungkin sakit sedikit. Kamu tahan sebentar!"
Jarum kedua ditusukkan.
"Kemarilah, letakkan bantal di belakang dadamu di posisi ini. Dengan satu tusukan ini, gumpalan darah di paru-parumu akan dibersihkan sepenuhnya dalam waktu setengah jam!"
Dirga berkata demikian sambil meraih bantal dan menyerahkannya kepada Zira.
Setelah setengah jam, memar di paru-paru Zira benar-benar hilang. Ekspresi wajahnya langsung membaik, sosoknya pun makin cantik dan bergairah.
"Sekarang aku perlu menusukkan jarum lagi dan melindungi sistem meridian tubuhmu terlebih dahulu. Ini adalah luka fatal. Selanjutnya, kamu harus membentuk kembali sistem meridian tubuhmu dan itu membutuhkan 16 jenis herbal langka. Selain itu, perlu direbus menjadi pil obat. Aku belum punya bahan-bahan itu sekarang, tapi aku jamin akan bisa membelinya dalam dua hari!"
"Apa kamu benar-benar bisa membentuk kembali sistem meridian tubuhku?"
Zira makin penasaran dengan Dirga sekarang, dia belum pernah mendengar tentang teknik pengobatan ini!
"Tentu saja, hanya agak rumit saja."
Tindakan pengobatan Dirga masih belum berhenti, tubuh Zira hampir penuh dengan jarum perak saat ini!
Sepanjang proses ini, Zira berbaring dengan tenang sambil sesekali melirik Dirga. Jantungnya tiba-tiba menjadi sangat tenang. Sedikit demi sedikit memori perang dan membunuh itu hilang dari benaknya!
Setelah beberapa tahun ini, dia tidak pernah merasa senyaman saat ini!
Dia perlahan menutup matanya dan menikmati ketenangan yang langka ini!
Tanpa sadar, satu jam berlalu.
"Nona Zira, aku sudah melindungi sistem meridian tubuhmu dengan akupunktur. Sekarang kita mulai mencabut jarumnya, bagaimana perasaanmu sekarang?"
Raut wajah Zira terlihat lebih baik dari sebelumnya, dia sudah merasa sangat beruntung. Namun, dalam hatinya justru tidak senang. Semua itu karena dia sudah sepenuhnya yakin bahwa Dirga dapat menyembuhkan luka dalamnya dalam waktu singkat. Saat itu terjadi, dia harus menghadapi rasa tersiksa di rumah!
Dirga melihat ada yang salah dengan ekspresi Zira dan buru-buru berkata, "Nona Zira, kamu kenapa? Kenapa kelihatannya nggak senang sama sekali?"
"Nggak apa-apa, aku merasa jauh lebih baik sekarang. Dirga, terima kasih banyak!"
"Bicara apa kamu ini? Kamu 'kan tunanganku. Kenapa kamu mengatakan ini? Cederamu sangat serius, meskipun aku sudah membersihkan memar dari paru-parumu dan melindungi sistem meridian tubuhmu dengan akupunktur!"
"Kamu nggak boleh melakukan olahraga berat, kamu harus lebih banyak beristirahat dan jangan terpancing emosi. Hari ini cukup sampai di sini dulu. Aku harus pulang untuk menemui ibuku dulu. Aku akan kembali besok untuk perawatanmu selanjutnya!"
"Juga, aku sudah menyusun daftar resep untukmu. Aku pergi nanti, aku akan membelinya dan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya kemari!"
"Sebelum lukamu benar-benar sembuh, kamu harus makan dan minum obat sesuai dengan resep yang aku berikan!"
Kata-kata Dirga menyentuh Zira dan menghangatkan hatinya.
Ternyata seperti ini rasanya dipedulikan seseorang!
Zira menatap Dirga dengan sedikit kelembutan di wajahnya dan berkata dengan lembut, "Terima kasih Dirga, tulis saja resep dan obatnya, aku akan menyuruh Aisa membelinya nanti!"
"Ketika kondisi tubuhku lebih baik, aku akan pulang bersamamu untuk mengunjungi ibumu!"
"Oke, kalau begitu ingat apa aku katakan tadi, istirahatlah dengan baik dan jaga suasana hatimu tetap bahagia!"
Dirga dengan cepat menuliskan resep dan menyerahkannya kepada Zira. Saat hendak pergi, sebuah telepon dari nomor tidak dikenal pun datang.
Dirga menjawab tanpa terlalu banyak berpikir.
"Apa kamu anggota keluarga Tika Gabean?"
Terdengar suara seorang wanita.
"Ya, aku anaknya, Dirga. Ada apa dengan ibuku?"
"Dia sekarat, cepat datang ke Rumah Sakit Rakyat Daerah!"
Duar!
Seperti petir di siang bolong, Dirga belum sempat menanyakan apa yang terjadi dan telepon itu sudah dimatikan.
"Nona Zira, aku harus pergi dulu. Ibuku masuk rumah sakit. Aku harus pergi menemuinya!"
Dirga segera pergi. Begitu dia pergi, Aisa datang ke kamar Zira.
"Jenderal terlihat jauh lebih baik. Apa Jenderal tidur dengan Dirga tadi malam?"
"Kenapa Jenderal nggak mau mendengar ucapanku, sekarang semuanya sudah terlambat!"
Aisa mulai menangis tersedu-sedu. Sebenarnya, dia selalu ada di luar, tetapi tanpa izin Zira, dia tidak berani masuk. Dia juga tidak tahu bahwa Dirga sedang menyembuhkan Zira.
"Jangan menangis. Ambil resep ini, ke depannya kamu harus memberiku obat dan makanan sesuai dengan resep-resep ini!"
"Sekarang siapkan mobilnya. Ibu Dirga ada di rumah sakit. Aku harus memeriksanya!"
"Cepat sedikit!"
Zira khawatir, terdengar jelas dari nada bicaranya.
Aisa langsung merasakan suhu di udara mendingin. Dia pun segera mengambil resep lalu lari keluar untuk menyiapkan mobil.
...
Rumah Sakit Rakyat Daerah.
Pada saat ini, Dirga sudah tiba di rumah sakit dan menanyakan lokasi ruang rawat ibunya di resepsionis. Setelah itu, dia segera pergi menuju ruang rawat tersebut.
Namun, sekelompok orang berjaga di luar bangsal dan mengelilingi Dirga saat melihat kedatangannya!
"Kamu anak Tika Gabean? Kamu datang tepat waktu, cepat berikan uangnya, 200 juta!"
"Uang apa? Kalian siapa? Apa yang sudah kalian lakukan pada ibuku?"
"Uang apa? Tentu saja, uang biaya perlindungan. Ibumu keras kepala sekali nggak mau bayar biaya perlindungan, jadi kami harus mematahkan kakinya."
Duar!
Kaki ibunya dipatahkan?
"Plak! Plak!" "Plak!"
Dirga menampar dengan beberapa tamparan berturut-turut, menampar semua orang sampai tersungkur lalu masuk ke ruang rawat. Dia melihat ibunya terbaring di tempat tidur berlumuran darah dan dalam keadaan pingsan!
Dalam sekejap, Dirga merasa bersalah. Hatinya sangat tidak karuan!
'Sialan, aku seharusnya pulang tadi malam!'
"Bu, maafkan Dirga!"
Dirga menangis tersedu-sedu, tetapi dia segera tenang kembali. Dia memeriksa luka-luka ibunya dengan cermat, lalu menemukan bahwa selain kaki kirinya yang patah, bagian tubuh lainnya juga terluka!
Dia segera menusukkan jarum ke tubuh ibunya, saat itu orang yang dibantingnya ke lantai di luar bergegas masuk!
"Sialan, ibumu nggak mau bayar, kamu berani memukul kami juga?"
"Apa kalian tahu siapa aku?"
"Namaku Jager, orang di belakangku adalah Tuan Reno. Ibumu, seorang wanita tua bodoh berani-beraninya nggak bayar biaya perlindungan. Hanya patahkan satu kaki saja sudah bagus!"
"Anaknya saja nggak mau gantikan ibunya bayar biaya perlindungan, kamu masih berani mukul kami?"
"Kamu cari mati, ya?"
"Kamu cari mati!"
Dirga berteriak marah. DIa mengangkat kakinya dan menendang dengan keras beberapa kali. Semua orang seketika terpental ke lantai dan terluka parah!
Dia sudah sangat baik, karena ini adalah rumah sakit, dia tidak ingin mulai membunuh dan tidak ingin membuat situasi terlalu berdarah.
Jika bukan karena itu, satu tatapannya saja bisa memenggal kepala orang-orang ini.
"Reno!"
"Lagi-lagi kamu. Bagus sekali, ya. Aku akan mengambil nyawamu!"
Sejak kecil, ayah tidak pernah pulang selama bertahun-tahun, Dirga dan ibunya hidup bergantung satu sama lain.
Ibunya adalah orang paling penting di hidupnya. Siapa pun yang menyakitinya akan mati!
Reno tidak akan pernah melepaskan orang-orang itu, dia akan menyiksanya sampai mati secara perlahan.
"Sialan, anak ini cukup pandai berkelahi. Panggil Tuan Reno dan bawa seseorang untuk membunuhnya!"
Jager dan yang lainnya terkulai lemas di lantai sambil meratap dan berteriak!
Pada saat ini, Zira dan Aisa bergegas mendekat lalu segera menemukan ruang rawat ibu Dirga.
"Kenapa kamu datang kemari?"
Dirga terkejut melihat Zira.
"Bagaimana luka Bibi?"
Wajah Zira penuh kekhawatiran.
"Kakinya patah, tapi aku akan menyembuhkannya. Nona Zira, kamu masih terluka dan sulit bergerak. Nona pulang saja untuk istirahat!"
"Perawatanmu mungkin harus ditunda selama beberapa hari. Aku harus merawat ibuku dulu!"
"Terima kasih sudah menjenguk ibuku!"
Raut wajah Zira tampak tidak senang begitu mendengarnya!
"Bicara apa kamu ini? Kamu adalah tunanganku, ibumu adalah calon ibu mertuaku. Sekalipun ibumu nggak terluka seperti ini, apa aku tetap nggak boleh datang menemuinya?"
"Lakukan apa yang harus kamu lakukan dan serahkan sisanya padaku!"
"Oh, ya. Orang-orang di luar kenapa?"
Dirga tersentuh mendengar ucapan Zira.
"Mereka memukuli ibuku, Nona Zira. Aku bisa mengatasinya sendiri, kenapa kamu nggak pulang saja dulu?"
"Jangan basa-basi lagi, fokuslah menyembuhkan Bibi. Aisa dan aku menjaga bagian luar. Kalau ada apa-apa, kamu beri kode saja!"
Nada bicara Zira jelas tegas sekali, dia pun segera keluar dari ruang rawat.
Tepat di luar, Reno dan Melly muncul dengan beberapa pengawal.
Bab 5
Usik Nona Zira Sedikit saja, Aku Lenyapkan Seluruh Keluargamu
Reno dan Melly datang dengan beberapa pengawal.
Melihat tragedi Jager dan yang lainnya, Reno tak bisa menahan emosi dan mulai memaki-maki.
"Mengurus Dirga dan ibunya saja nggak bisa, apa gunanya aku pelihara kalian!"
"Kalian semua nggak berguna!"
"Bukan begitu, Tuan Reno, anak itu benar-benar pandai berkelahi. Tuan Reno, tolong bantu kami!"
Jager merangkak ke kaki Reno dan menyeka sepatunya dengan lengan bajunya.
Namun, fokus Reno sekarang sepenuhnya pada Zira dan Aisa.
Dua wanita yang cantik dan elegan!
Bila Melly dibandingkan dengan Zira dan Aisa, perbedaannya sangat jelas!
Mereka bagaikan itik buruk rupa dan angsa putih yang cantik!
Pikiran Reno seketika dipenuhi dengan pikiran jahat, matanya tertuju pada tubuh Zira.
"Halo, dua wanita cantik, namaku Reno Markus, ini kartu namaku!"
"Keluarga Markus adalah keluarga konglomerat kelas tiga di Kota Langgara. Ayahku adalah kepala keluarga, aku khawatir kamu belum tahu bahwa Dewi Perang Angsa Putih sudah tiba di Kota Langgara, ya?"
"Aku lihat kalian berdua seperti bukan berasal dari Kota Langgara, tapi pasti pernah mendengar nama Dewi Perang Angsa Putih. Sejujurnya, Keluarga Markus adalah satu-satunya keluarga yang pendapatnya bisa diterima oleh Dewi Perang Angsa Putih."
"Karena pamanku adalah jenderal bintang sembilan di Departemen Perang, inilah berita yang pamanku dapat dari Departemen Perang. Sekarang pamanku yang menemani Dewi Perang Angsa Putih, jadi aku dengan tulus mengundang kalian berdua ke kediaman Keluarga Markus sebagai tamu!"
"Kalau kalian mau melihat aura pahlawan Dewi Perang Angsa Putih, itu soal gampang bagi pamanku!"
Reno membagikan kartu namanya dengan sombong!
Dalam hatinya Reno merasa senang, berpikir bahwa dua wanita cantik itu pasti tidak akan menolak berita yang begitu mengejutkan. Pada saat itu, ketika mereka tiba di Keluarga Markus, apa mereka masih bisa melarikan diri?
Kecantikan yang luar biasa ini harus dinikmati oleh Reno!
Melly menatap Reno, raut wajahnya bahkan terlihat kesal.
"Kak Reno, kapan paman menemani Dewi Perang Angsa Putih? Bicara apa kamu ini?"
Melly sangat tidak senang, karena tatapan Reno pada Zira membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Hari ini, dia pulang bersama Reno sejak pagi dan bertemu dengan paman Reno. Namun, setelah bertanya, dia baru tahu bahwa pamannya hanya tahu Dewi Perang Angsa Putih sedang dalam perjalanan ke Kota Langgara.
Sedangkan kapan dia akan tiba dan di mana, pamannya sama sekali tidak tahu. Sekarang, Keluarga Markus sedang secara diam-diam menggerakkan semua orang sekitar di seluruh kota untuk mencari tahu tentang berita Dewi Perang Angsa Putih.
Dia dan Reno juga ditugaskan untuk menyelidiki sebuah daerah.
Duar!
Saat Reno mengatakan bahwa Zira akan datang ke Kota Langgara, Aisa tiba-tiba mengeluarkan aura yang dingin dan kejam!
Sudah menjadi rahasia bahwa dia dan Zira datang ke Kota Langgara, bahkan di Departemen Perang, hal ini hanya diketahui oleh Komandan.
Dari mana dia mendengar tentang jenderal perang bintang sembilan ini?
Pada titik ini, Reno sudah mati di mata Aisa! Selama Zira memberi perintah, dia tidak akan ragu untuk membanting Reno ke lantai!
"Hehe, Keluarga Markus itu apaan? Kalian memenuhi syarat untuk diterima pendapatnya oleh Dewi Perang Angsa Putih?"
"Apa kamu tahu apa itu cari mati?"
Aisa melangkah maju, tubuh Reno dan yang lainnya tanpa sadar gemetaran!
Sial, bagaimana wanita ini bisa begitu mengintimidasi?
Pada saat ini, Zira berbicara.
"Reno, 'kan? Apa kamu yang menyuruh mereka untuk memukuli ibunya Pak Dirga?"
Pada saat ini, Zira seperti ratu berkuasa yang menatap semua makhluk hidup. Kata-katanya menyiratkan niat membunuh. Dia selalu sangat tenang dan tidak ingin orang-orang luar mengetahui hubungannya dengan Dirga!
Kalau tidak, ibunya akan segera tahu tentang Dirga, hal ini tentu akan berbahaya bagi Dirga dan ibunya!
Namun, dia sudah memutuskan untuk menikahi Dirga. Ibu Dirga adalah calon ibu mertuanya. Kalau ibu mertuanya dipukuli, apakah Zira bisa diam saja?
Sedangkan identitasnya akan segera ketahuan, dia sama sekali tidak peduli!
"Pak Dirga? Dirga? Apa hubunganmu dengan Dirga?"
"Kalian berdua bukan wanita yang dibungkus Dirga dari kelab malam, 'kan?"
Sejak awal, Melly kesal melihat Zira dan Aisa, terutama Zira. Karena baik temperamen ataupun kecantikannya, semuanya kalah dari Zira!
Ditambah cara Reno menatap Zira barusan, Reno terlihat begitu ingin memikat hati Zira. Melly sangat kesal melihatnya!
"Berani sekali menghina atasanku, kotor sekali mulutmu!"
"Plak!"
Aisa menampar wajah Melly seperti kilat hingga merontokkan satu giginya!
Melly langsung tercengang. Tepat ketika dia ingin menatap mata dingin Aisa, dia langsung ketakutan oleh aura pembunuh yang melintas dari matanya yang dingin!
Dengan sedih, dia meminta bantuan Reno.
"Kak Reno, dia, dia benar-benar berani memukulku. Cepat suruh pengawalmu lampiaskan emosiku!"
Reno juga benar-benar ketakutan dengan aura Zira dan Aisa, tapi dia langsung tenang dan merasa senang.
Karena sekarang dia punya alasan untuk memberikan tekanan pada Aisa dan Zira.
"Aku benar-benar ingin berteman dengan kalian berdua. Tapi kalian malah memukul tunaganku. Masalah ini tentu saja besar, kalian hanya punya satu pilihan sekarang!"
"Kalian berlutut meminta maaf pada tunanganku, lalu kalian temani aku minum!"
"Kalau nggak begitu, aku jamin kalian berdua nggak akan bisa keluar dari rumah sakit ini hari ini!"
Reno selesai bicara. Dia menoleh melemparkan tatapan ke pengawal di belakangnya. Tak lama kemudian beberapa pengawal mengelilingi Zira dan Aisa!
"Kamu mengancamku?"
Zira tidak marah, tetapi malah menatap Reno dengan konyol.
Reno berkata dengan kesal, "Nona, kalau kamu masih bersikeras, aku pun nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Begini saja, selama pamanku nggak ada, setengah Kota Langgara ini dikuasai oleh Keluarga Markus!"
"Sekarang pamanku menemani Dewi Perang Angsa Putih, seluruh Kota Langgara bisa dikuasai oleh Keluarga Markus!"
"Pamanmu Jenderal Bintang Sembilan? Dia sangat kuat?"
Zira meledeknya.
"Biasa saja, Keluarga Markus adalah keluarga konglomerat kelas tiga di Kota Langgara. Tapi kekuatan Keluarga Markus dalam bidang medis berada di tiga besar di Kota Langgara!"
"Obat-obatan dari Keluarga Markus dipasok langsung ke Departemen Perang, Dewi Perang Angsa Putih sudah berjanji akan menjadi saksi pertunanganku enam hari lagi."
"Apa kamu tahu apa artinya ini? Artinya, Keluarga Markus akan menjadi keluarga kelas dua atau bahkan nomor satu. Pamanku akan segera dipromosikan menjadi Raja Perang. Bukan nggak mungkin untuk dipromosikan menjadi Dewa Perang dalam waktu dua tahun."
Pfftt!
Aisa tidak bisa menahan tawa!
"Apa yang kamu tertawakan?"
Reno agak marah.
"Aku ingat hal-hal menyenangkan. Aku bebas tertawa kalau aku mau, bukan?"
Aisa menutup mulutnya dan tertawa!
Wajah Reno langsung muram.
"Hal menyenangkan apa? Aku sarankan kamu tahu diri dan meminta maaf kepada tunanganku sambil berlutut. Kalau nggak, jangan salahkan aku kalau main kasar!"
Siapa sangka, setelah Reno selesai bicara, Aisa tertawa lagi dan berkata, "Kucingku lahiran!"
Pfftt!
Kali ini giliran Zira yang tertawa. Tawa ini mengejutkan semua orang!
"Kenapa kamu tertawa lagi?"
Reno kagum dengan tawa Zira, dia ingin marah tapi tidak bisa!
"Kucingku lahiran juga!"
Zira ikut-ikutan Aisa.
Eh?
Kenapa kata-katanya mirip sekali?
Reno seketika sadar!
"Kalian sedang mentertawakanku? Bagus sekali, kalian berdua cari gara-gara, ya!"
"Habisi mereka, agak lembut sedikit!"
Reno memerintahkan pengawal, tetapi pada saat ini suara Dirga datang dari ruang rawat.
"Reno, kalau kamu berani mengusik Nona Zira, aku akan menghancurkan seluruh keluargamu!"
Saat suara itu terdengar, Dirga keluar dari kamar sakit dengan aura yang mematikan. Dia datang ke depan Zira dan meraih tangan wanita itu, lalu melindungi Zira di belakangnya.
Pada saat itu, Zira merasakan aliran hangat aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya di hatinya. Dia sepenuhnya mengabaikan aura membunuh dari diri Dirga.
Jadi, beginilah rasanya dilindungi oleh pasangan sendiri?
Namun, Aisa saat ini merasakan bahaya yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dari sosok Dirga!
Bahaya parah!
Bahaya ini membuatnya merasakan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya!
Aisa ketakutan sampai ke tulang-tulangnya!
Bab 6
Aku Berani Membunuhmu, Mau Coba?
Aisa ketakutan sampai ke tulang-tulangnya!
Ada apa ini?
Bagaimana Dirga si gelandangan ini membuatku sangat ketakutan?
Aisa tanpa sadar gemetaran.
Ilusi!
Pasti ilusi!
Niat membunuh yang terpancar dari Dirga berlalu begitu saja, sekarang Aisa tidak bisa merasakannya sama sekali.
Saat ini, Zira hanya merasa terharu, terharu karena dilindungi oleh pasangannya sendiri. Selain itu, dia sama sekali tidak merasakan apa-apa!
Pada saat ini, pengawal Reno mundur ke sisinya dan berbisik dengan suara gemetar, "Tuan, anak ini agak jahat. Takutnya dia seorang master!"
"Plak!"
Reno menampar wajah pengawal itu dan berkata dengan marah, "Apa kalian buta?"
Setelah itu, Reno mengarahkan pandangannya pada Dirga.
"Dirga, aku nggak menyangka kamu dan ibumu akan mengalami kehidupan yang sulit, senang sekali memukuli aku dan tunanganku tadi malam, 'kan?"
"Kamu bisa bertarung, ya? Jangan bilang aku menggertakmu, lihat pengawal di belakangku?"
"Salah satu dari mereka bisa satu lawan sepuluh. Kalau kamu paham, bersujudlah dan benturkan kepalamu tiga kali kepadaku dan Lilly. Bayar biaya perlindungan sebanyak 200 juta, biarkan mereka pergi dan minum denganku. Aku akan melepaskan kamu dan ibumu!"
"Kalau kamu nggak mau, pengawalku akan membuatmu menyesal datang ke dunia ini!"
Setelah selesai bicara, Reno mengarahkan pandangannya pada Zira dan Aisa lagi.
Hasratnya sangat membuncah pada mereka berdua.
Dirga berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarah di dalam hatinya, dia berkata dengan nada datar, "Ini adalah rumah sakit, kalau ada apa-apa kita bisa bicara di bawah. Jangan khawatir, aku akan memenuhi semua permintaanmu hari ini!"
Aisa mendengar dan mengutuk Dirga, "Dirga, kamu cari mati!"
Namun, dia langsung terdiam lagi setelah menerima tatapan suram dari Zira.
Zira menatap Dirga dan ekspresinya pun melunak.
"Aku bisa menanganinya!"
"Terima kasih, tapi nggak perlu. Aku, Dirga, nggak terbiasa membiarkan pasanganku sendiri untuk menggantikanku menghadapi masalah!"
"Kamu dan Nona Aisa tolong jaga ibuku di ruang rawat, aku akan segera kembali!"
Satu kalimat menghantam tali paling lembut di hati Zira, tanpa ragu dia berbalik dan menarik Aisa ke ruang rawat!
"Jen .... Nona, Dirga dia ...."
"Diam, aku percaya padanya!"
Untuk pertama kalinya, Zira mengalami perasaan dipedulikan dan dirawat. Rasa ingin tahunya tentang Dirga dan kepercayaan padanya sudah mencapai puncaknya!
Di luar ruang rawat.
Raut wajah Dirga berubah suram dan suhu di udara turun menjadi beku!
"Ayo, Tuan Reno, jangan khawatir. Keluarga Markus sangat kuat, dua wanita cantik itu nggak akan bisa kabur!"
Setelah itu, Dirga pun melangkah pergi.
Di sini adalah rumah sakit, tempat suci, dia tidak ingin membunuh di sini.
"Huh, anggap saja kamu cukup tahu diri."
Reno melihat Jager dan Dirga meninggalkan mereka di luar pintu ruang rawat. Kemudian, dia mengejar Dirga bersama Melly dan pengawal serta Jager dan yang lainnya!
Segera semua orang berada di garasi parkir bawah tanah rumah sakit.
"Dirga, aku nggak menyangka kamu cukup hebat. Diselingkuhi Lilly lalu secepat itu mendapatkan wanita cantik. Baiklah, silakan mulai penampilanmu!"
Reno tampak percaya diri akan mengalahkan Dirga.
"Reno, nggak seharusnya kamu membiarkan mereka menyakiti ibuku!"
Setelah itu, Dirga langsung menendang kaki Reno dengan keras, lalu membanting para pengawal dan kaki Jager bersama-sama!
Semua proses ini tidak sampai dua detik!
Melly yang berada di samping sudah ketakutan sedari tadi, dia terjatuh ke tanah dengan lembuht!
"Ah!"
Reno dan yang lainnya teriak kesakitan!
Pada saat ini, Dirga menginjak kaki Reno yang utuh dengan satu kaki.
"Dirga, berengsek, kamu, apa kamu gila?"
"Kamu berani mematahkan kakiku?! Tamat sudah kamu. Aku akan menghancurkan seluruh keluargamu!"
"Krek!"
Dirga menginjak keras dan suara patah tulang terdengar!
"Ah! Ah! Ah!"
Reno menyaksikan Dirga meremukkan lututnya kali ini!
"Dirga, kamu, kamu tamat riwayatmu. Pamanku akan membunuh seluruh keluargamu!"
"Tunggu saja aku!"
"Plak! Plak!"
Dirga menampar wajah Reno yang pucat beberapa kali dan mengucapkan kata demi kata, "Kalau kalian mematahkan satu kaki ibuku, aku akan mematahkan semua kakimu."
"Hanya aku yang bisa membuatmu bisa berdiri kembali. Aku akan memberimu kesempatan untuk berdiri kembali. Dalam dua hari, siapkan 10 miliar untuk meminta maaf kepada ibuku!"
"Kalau nggak, aku akan mengeluarkan Keluarga Markus dari Kota Langgara!"
Dalam sekejap, Reno dan yang lainnya merasakan udara di sekitar mereka merosot ke titik beku, terutama Melly. Dia tidak menyangka Dirga yang telah berada di penjara selama lima tahun, menjadi begitu hebat dalam bertarung.
"Dirga, kamu, kamu tamat sudah. Kamu tinggal tunggu mati saja! Beraninya kamu mematahkan kaki Kak Reno ...."
"Plak!"
Dirga menampar Melly hingga membuat tubuhnya terpental!
"Kamu ... kamu berani menamparku?"
"Plak!"
Dirga menghampiri Melly dalam sekejap dan menginjak wajahnya!
"Aku juga berani membunuhmu. Mau coba?"
"Kamu!"
Melly dibuat ketakutan oleh mata galak Dirga dan menelan kembali kata-kata itu.
"Ingat, kamu dan Reno hanya punya dua hari. Kalau aku nggak lihat uang 10 miliar sebagai permintaan maaf dari kalian dalam dua hari, keluarga Martino dan Keluarga Markus akan menghilang dari Kota Langgara!"
Dirga pun pergi.
Dia dengan cepat kembali ke ruang rawat. Ibunya belum bangun, tetapi kaki dan tubuhnya yang patah sudah tidak fatal lagi.
"Cepat sekali sudah kembali lagi? Mereka tidak mempersulitmu?"
Aisa terkejut melihat Dirga kembali tanpa cedera.
"Aku beralasan dengan mereka!"
"Apa kamu pikir aku ini anak tiga tahun? Dirga, nggak disangka, kamu pengecut sekali? Beraninya kamu membiarkanku dan Nona pergi minum dengan si bodoh itu?"
"Aku akan membunuhmu!"
Aisa bergegas menghantam Dirga, tetapi dia terkejut dengan tatapan galak Zira.
Begitu Zira ingin marah, dia dengan lembut meraih Dirga dan berkata, "Kenapa kamu nggak nurut lagi? Bukannya aku sudah bilang kamu jangan marah?"
"Jangan marah-marah lagi, ya!"
"Oke, aku akan mendengarkanmu, nggak akan marah, nggak akan!"
Zira mengangguk patuh. Dirga bisa kembali dalam keadaan utuh, Zira percaya bahwa Dirga sudah menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh.
Dirga menatap Aisa dan berkata, "Nona Aisa, aku nggak tahu apa yang salah denganmu yang membuatmu memusuhiku. Aku nggak cukup kompeten. Aku bahkan nggak bisa melindungi ibuku sendiri. Aku masuk penjara dan diselingkuhi istriku sendiri setelah keluar dari penjara!"
"Tapi, sekalipun aku nggak berguna, aku nggak akan mengandalkan Nona Zira dan kamu untuk bertahan hidup. Nona Zira terluka sekarang. Apa kamu tahu konsekuensi membuatnya marah?"
"Karena kamu memanggilnya Nona, kamu harus memikirkan keselamatannya. Kalau kamu nggak suka padaku, kamu bisa menemuiku sendiri setelah Nona Zira sembuh!"
Dirga tahu sejak awal, Aisa sangat memusuhinya. Dirga tidak pernah keberatan.
Namun, tidak bisa dibiarkan jika Aisa sampai memengaruhi Zira!
Saat ini, Aisa pun sadar dirinya sudah salah, dia pun buru-buru minta maaf kepada Zira.
"Aisa, kamu minta maaf bukan kepadaku, tapi kepada Dirga."
Aisa meminta maaf kepada Dirga meskipun dia enggan.
Pada saat ini, Dirga bertanya dengan rasa ingin tahu, "Nona Zira, kalian berdua tentara, 'kan?"
"Ya, Departemen Perang!"
Zira dengan jujur mengakuinya. Apa pun yang Dirga ingin ketahui, Zira akan menjawabnya dengan jujur.
Siapa sangka, Dirga justru berkata dengan wajah patah hati, "Nggak heran kamu terluka parah. Apa yang dilakukan bajingan-bajingan di Departemen Perang itu? Apa semua pria di Departemen Perang sudah mati?"
"Bagaimana bisa sampai membuatmu begitu terluka parah!"
"Nona Zira, terima kasih sudah datang menjenguk ibuku. Begini, kamu dan Nona Aisa pulang dulu. Kamu harus beristirahat dengan baik, makan dan minum obat sesuai dengan resep yang aku berikan padamu!"
"Aku harus membawa ibuku pulang. Cedera ibuku akan memakan waktu sekitar empat hari untuk sembuh. Aku akan merawatmu ketika cedera ibuku sembuh!"
"Beri tahu aku kalau selama beberapa hari ini kamu nggak enak badan."
"Mari kita bertukar nomor ponsel!"
Meskipun Dirga bukan dari Departemen Perang, dia tahu bahwa Departemen Perang memiliki aturan kerahasiaan yang ketat, jadi dia tidak bertanya lagi.
Setelah bertukar kontak dengan Dirga, Zira dan Aisa meninggalkan rumah sakit.