Bab 2
Dewi Perang Angsa Putih
Di dalam apartemen.
Reno terus marah-marah.
"Berengsek Dirga, mati saja kamu!"
"Seharusnya aku membunuhmu lima tahun yang lalu!"
"Sialan, kamu masih mau uang? Tunggu aku!"
Sebagai tuan muda dari keluarga konglomerat kelas tiga, mana pernah Reno mengalami penghinaan seperti itu? Dia tidak bisa menahan emosi ini!
"Kak Reno, kamu harus membunuh Dirga. Beraninya dia memukulmu! Cepat suruh anak buahmu bunuh dia!"
Melly menggertakkan giginya, wajahnya sudah berdarah karena tamparan tadi.
Keluarga Martino hanyalah keluarga kecil kelas sembilan di Kota Langgara, tetapi sejak dia menemani Reno, Keluarga Martino mendapatkan peluang luar biasa dan berkembang pesat dalam lima tahun terakhir.
Sekarang Keluarga Martino hanya selangkah lagi dari menjadi keluarga konglomerat kelas tiga!
Melly tidak akan pernah membiarkan dirinya dipermalukan, dia tidak akan memberi Dirga sepeser pun!
"Sayang, kamu tenang saja. Mudah sekali untuk membunuh Dirga. Sekalipun dia nggak bisa dibunuh, antarkan saja dia ke gerbang kematian!"
"Bukannya kamu tinggal di pinggiran kota? Waktu itu yang bertanggung jawab adalah Jager dan anak-anak buahnya. Sekarang aku telepon Jager, aku suruh dia lumpuhkan Dirga!"
Tepat setelah Reno menelepon, telepon berdering lagi dan telepon itu dari ayahnya.
Setelah selesai telepon, Reno bersemangat berkata kepada Melly, "Ayahku telepon. Pamanku sedang dalam perjalanan pulang. Paman bilang, Dewi Perang bintang tujuh, si Angsa Putih yang baru diangkat dari Departemen Perang tiga bulan yang lalu sudah dalam perjalanan ke Kota Langgara!"
"Ayahku menyuruhku pulang besok pagi dan pergi bersama pamanku untuk menemui Dewi Perang Angsa Putih itu!"
"Paman adalah seorang jenderal bintang sembilan, ini adalah kesempatanku untuk menaikkan derajat Keluarga Markus. Kalau aku bisa mendapatkan kesan baik dari Dewi Perang itu, mungkin Keluarga Markus bisa melompat ke keluarga kelas dua, bahkan menjadi keluarga kelas atas!"
"Selain itu, pamanku sudah berjanji kepada ayahku bahwa dia secara pribadi akan meminta Dewi Perang Angsa Putih untuk menjadi saksi pernikahan kita!"
Begitu mendengarnya, Melly langsung mencium Reno dengan penuh semangat.
"Benarkah Kak Reno? Kakak baik sekali padaku. Ngomong-ngomong, Kak Reno, apa status Dewi Perang bintang tujuh yang bernama Angsa Putih itu lebih tinggi dari pamanmu?"
"Tentu saja. Pamanku hanya seorang jenderal perang, tapi si Angsa Putih adalah dewa perang, bintang tujuh pula. Statusnya jelas jauh lebih tinggi dari pamanku!"
Sshh!
Melly langsung terkejut dengan kata-kata Reno. Pada saat yang sama, dia sangat antusias. Dia sangat senang karena dirinya sudah memilih Reno lima tahun yang lalu.
"Kak Reno, huhuhu .... Kamu baik sekali padaku, aku akan melahirkan banyak anak untukmu!"
Melly dengan antusias menangis dan memeluk Reno!
...
Di bar.
Dirga memesan sebuah ruang pribadi dan memesan semeja anggur. Setelah mabuk dalam alunan musik, dia pun tertidur di sofa.
Dia baru saja tertidur kemudian dua wanita cantik membuka pintu.
"Pria ini akhirnya ketemu, Jenderal. Apa Jenderal yakin dia tunangan yang belum pernah Jenderal temui itu?"
"Kenapa dia seorang pecandu alkohol?"
"Aisa, diam!"
Wanita yang dipanggil sebagai jenderal itu memiringkan kucirannya lalu berdiri tegak. Seluruh tubuhnya memancarkan wibawa yang dingin dan tajam. Sepasang mata besar hitamnya bersinar dan dalam. Wajah cantiknya yang tanpa darah membuatnya terlihat seolah akan mati kapan saja.
Namanya Zira Manggala, Dewi Perang bintang tujuh baru di Departemen Perang tiga bulan lalu, nama kodenya Angsa Putih!
Zira terbatuk pelan dan menatap Dirga yang mabuk di sofa dan tidak bangun. Kemudian, Zira berkata dengan sungguh-sungguh, "Empat tahun yang lalu, aku pulang dan ayahku datang menjemputku di bandara. Dalam perjalanan, ayahku dan aku disergap lebih dari belasan kepala keluarga dari keluarga musuh. Kami terluka parah dan hidup kami dalam bahaya."
"Kalau penyelamatku nggak kebetulan lewat untuk membantu, ayahku dan aku pasti sudah mati sejak lama."
"Kemudian, penyelamatku itu juga membantuku dan Keluarga Manggala. Dia sudah begitu banyak membantu kami, tapi dia malah nggak pernah dapat imbalan apa pun. Sebagai imbalan atas kebaikannya, ayahku awalnya ingin menjodohkanku dengan anak buahnya, tapi ayahku justru mengatakan bahwa penyelamatku itu punya satu-satunya murid yang baik."
"Jadi, ayahku setuju untuk memberikanku kepada satu-satunya muridnya, orang itu adalah Dirga!"
"Cincin di tangan Dirga dan cincin di tanganku ini sepasang, nggak mungkin salah!"
Zira mengambil cincin kuno dari sakunya dan meletakkannya di tangannya. Setelah mengucapkan begitu banyak kata dalam satu tarikan napas, wajahnya menjadi sedikit pucat hingga kesulitan bernapas.
Namun, Aisa malah meragukan Dirga.
"Jenderal, sudah zaman apa sekarang ini? Kenapa Paman masih percaya takhayul? Bukankah ini sama saja dengan menjadikan hidup Jenderal sebagai lelucon?"
"Ya, aku akui bahwa gurunya Dirga memang menjadi penyelamat Keluarga Manggala. Tapi bukan berarti Jenderal harus menikah dengan Dirga, 'kan? Lihatlah Dirga ini, tukang mabuk, manusia biasa, tanpa kekuatan apa pun."
"Dia benar-benar nggak pantas untuk Jenderal. Dia pernah masuk penjara dan diselingkuhi istrinya. Aku yakin sekali, gurunya pasti akan langsung menampar dan membunuh muridnya ini kalau dia melihatnya yang sekarang. Dia pasti akan menyesal menjadikan Dirga sebagai muridnya!"
"Jenderal, kamu adalah Dewi Perang bintang tujuh yang terkenal. Pertempuran tiga bulan yang lalu, Jenderal bertarung sendirian melawan tiga dewa musuh di Negara Sutara, memenggal dua dari mereka dan melukai satu dengan serius!"
"Tapi Jenderal juga membayar mahal dan menderita luka serius. Para dokter terkenal yang dipimpin oleh Dokter Ajaib Sean dari Ikatan Dokter Nasional berkumpul di Departemen Perang dan mengeluarkan perintah militer. Nggak peduli berapa pun harganya, mereka harus bisa menyembuhkan luka Jenderal!"
"Tapi kenapa Jenderal nggak mematuhi pengaturan Departemen Perang, malah ke sini mencari Dirga?"
"Jenderal, aku memohon padamu jangan marah. Ikuti aku pulang ke Departemen Perang untuk diobati oleh para Dokter Ajaib itu!"
"Aku mohon Jenderal!"
Aisa berlutut tepat di depan Zira dengan air mata mengalir.
Uhuk!
Zira terbatuk pelan lalu menyunggingkan bibirnya. Dia menepuk bahu Aisa dan berkata, "Aisa, itu nggak ada gunanya. Dokter Ajaib Sean memang sangat pintar. Tapi mereka nggak bisa menyembuhkan lukaku. Hanya penyelamatku yang bisa menyembuhkannya!"
"Tapi aku harus pergi ke mana untuk mencari penyelamatku itu? Aku belum membalas budi apa pun kepadanya. Mana mungkin aku masih punya muka untuk mengecewakannya lagi? Hidupku singkat dan aku, Zira harus berguna untuk negara dan Keluarga Manggala. Sekarang aku sudah berjanji pada penyelamatku untuk menjadi istri Dirga, apa aku bisa mengingkarinya?"
"Selama sisa hidupku, aku hanya ingin menjadi wanita biasa di sisi Dirga!"
"Sekalipun dia adalah manusia biasa nggak berharga, aku akan menemaninya sampai dia bisa sukses dan mandiri. Ketika hari itu tiba, aku akan diam-diam meninggalkannya!"
"Aisa, bawa dia pergi!"
Setelah selesai bicara, wajah pucat Zira menunjukkan senyum yang belum pernah terlihat sebelumnya, kelembutannya sungguh luar biasa!
...
Keesokan paginya, Dirga terbangun dalam keadaan kepala sakit seperti akan meledak. Hal pertama yang dia katakan ketika dia membuka matanya adalah mau minum air.
Namun, dia tiba-tiba menyadari ada yang tidak beres.
Karena dirinya bukan di bar!
"Di mana ini?"
Dirga mengusap kepalanya, melihat sekeliling dengan hampa dan segera mendapati dirinya terbaring di tempat tidur besar!
Ini adalah kamar wanita!
Pada saat ini.
Pintu terbuka dengan mencicit.
Zira datang dengan segelas air.
"Sudah bangun, minum air nih!"
Dirga langsung tertegun.
"Ah, kamu, kamu, siapa kamu? Di mana aku?"
"Jam berapa sekarang? Aku ingat aku minum tadi malam ...."
Suara Dirga tiba-tiba berhenti, karena saat ini dia memperhatikan bahwa Zira hanya mengenakan piama tipis yang hampir transparan. Bentuk tubuhnya terlihat dan sangat menggoda!
Eh?
Luka wanita ini parah sekali, dia seorang petarung pula!
Siapa dia sebenarnya?
Bab 3
Tunangan
Siapa dia sebenarnya?
Meskipun pada saat itu Dirga terpaku oleh tubuh dan wajah Zira, Dirga langsung dapat mendiagnosis cedera Zira dan bisa melihat bahwa dia adalah seorang petarung!
Tanpa menghiraukan tatapan Dirga, Zira mendekati tepi tempat tidur dan menyerahkan cangkir itu.
Dirga mengambil gelas air dan meminumnya dengan cepat. Barulah Zira berkata dengan tenang, "Hai Dirga, aku Zira Manggala, tunanganmu!"
"Apa? Tunanganku?"
Dirga bingung, dia sama sekali tidak punya pikiran untuk mengagumi tubuh indah Zira.
Tunanganku dari mana?
Tepat ketika Dirga bingung harus apa, Zira tiba-tiba bersandar ke pelukannya dan berkata, "Aku ingin memberikan diriku kepadamu tadi malam, tapi kamu mabuk sekali. Sekarang kamu sudah bangun. Cuaca di luar cerah sekali, kita jangan lewatkan pagi yang indah ini!"
Setelah itu, Zira mencium bibir Dirga.
Dirga terkejut, tetapi sebagai Panglima Perang Neraka, kemampuannya untuk menahan nafsu tentu saja tidak buruk. Jadi, dia dengan cepat mengulurkan tangan dan meletakkan tangannya di bahu Zira untuk mendorongnya.
"Nona Zira, apa yang kamu lakukan? Jangan gegabah, jangan asal ciuman!"
"Apa kamu nggak merasa kalau kita perlu ngobrol baik-baik?"
"Kamu bilang kamu tunanganku, tapi kenapa aku nggak ingat kalau kita sudah tunangan?"
"Aku bukan orang sembarangan. Kalau begini, bukannya nggak adil juga buat kamu?"
Zira sangat marah ketika mendengar kata-kata Dirga.
"Apa maksudmu? Maksudmu aku wanita sembarangan?"
"Oke, kalau begitu hari ini aku tunjukkan kesembaranganku padamu!"
Zira langsung melangkah ke depan Dirga, meletakkan tangan di wajah Dirga dan menciumnya!
Dia benar-benar marah.
Zira seorang Dewi Perang Bintang Tujuh ditolak meskipun sudah mengambil inisiatif. Meski begitu, penilaian Dirga adalah Zira seorang wanita sembarangan!
Wanita mana pun akan marah jika dikatai seperti itu!
Dirga merasa mulutnya dipaksa buka dan arus listrik menyebar ke seluruh tubuhnya dalam sekejap.
Ada saat ketika dia ingin berbalik dan menekan Zira di bawahnya, tetapi ketika dia memikirkan cedera Zira, dia langsung tenang dan mendorong wanita itu menjauh. Kemudian, Dirga berkata dengan cepat, "Nona Zira, jangan marah, kamu salah mengerti kata-kataku. Aku nggak bermaksud begitu!"
"Selain itu, kamu terluka parah. Kalau kamu ingin sekali melakukan itu denganku, apa kamu nggak takut mati?"
Zira sangat terkejut.
"Kamu bisa melihat lukaku?"
"Kamu asal ngomong, ya? Wajahmu pucat sekali, siapa pun bisa melihatnya."
"Aku nggak percaya. Kalau begitu katakan padaku cedera macam apa yang aku derita!"
Zira tiba-tiba penasaran dengan Dirga, tapi dia tidak memercayainya. Karena dirinya menderita luka dalam. Jangankan orang biasa, bahkan para dokter terkenal dari Ikatan Dokter Nasional saja dari awal tidak bisa melihatnya!
Mungkinkah Dirga adalah makhluk asing?
Sebelum datang ke sini, Zira sudah menyelidiki Dirga dan tahu bahwa Dirga sebelumnya berada di penjara. Saat tahu Dirga baru saja diselingkuhi istrinya, hal ini menunjukkan bahwa Dirga adalah pria gagal tak berguna!
Bagaimanapun juga, Dirga adalah murid dari penyelamatnya, jadi Zira tetap menaruh sedikit harapan dari Dirga.
Pada saat ini, Dirga berkata, "Cedera dalam, sistem meridian tubuhmu terputus dan ada gumpalan darah di paru-paru."
"Pengobatan tradisional berfokus pada pemeriksaan melihat, memeriksa denyut nadi, mendengar, mengendus dan bertanya. Aku punya sedikit pengalaman selama itu berhubungan dengan pengobatan tradisional. Bakat medisku lumayan. Hanya dengan mengamati tubuh, wajah dan kontak fisik denganmu tadi, mudah sekali untuk mendiagnosis cedera dalammu!"
Kata-kata Dirga sangat mengejutkan Zira!
Zira bukan seorang dokter, dia tidak paham tentang ilmu medis. Namun, mana mungkin hal ini tidak mengejutkannya, Dirga membuat diagnosis yang akurat tentang luka dalamnya dalam waktu singkat, hanya berdasarkan mata telanjang dan kontak fisik pertama dengannya.
Murid penyelamatnya itu benar-benar bukan orang sembarangan!
Zira sangat penasaran pada Dirga dan ingin tahu apa lagi yang bisa dia lakukan!
"Nona Zira, kita tenang dulu, oke? Pertama-tama, aku seorang dokter. Aku bisa menyembuhkan lukamu, hanya saja sedikit rumit."
"Kalau kamu memercayaiku, aku bisa melakukan pengobatan akupunktur untukmu. Tentu saja, ini adalah proses yang panjang. Sebenarnya, aku rasa kita harus membahas pertanyaan pertamaku!"
"Menurutmu?"
Dirga mengatakan hal yang sama, Zira tidak lagi bersikeras melakukan itu dengannya. Zira bangkit dan meninggalkan Dirga, lalu duduk di samping dan berkata, "Ya, kalau kamu ada pertanyaan, kamu boleh tanya sekarang!"
"Oke, kalau begitu aku akan langsung ke intinya. Nona Zira, kamu bilang kamu tunanganku. Apa kamu punya suratnya?"
"Nggak, tapi aku punya cincin ini dan kamu punya juga. Cincin ini sepasang. Ini buktinya!"
"Selain itu, kalau aku menyebut nama seseorang, kamu akan mengetahuinya!"
"Rafan Shafik!"
"Rafan Shafik? Kamu kenal guruku?"
Dirga sudah lebih percaya begitu dia melihat cincin di tangan Zira dan mendengarnya menyebut nama gurunya juga. Pada saat ini, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Ketika dia bertemu Guru di penjara lima tahun yang lalu, Guru mengatakan akan mencarikannya tujuh istri!
Selain itu, ketika Guru meninggalkan Penjara Neraka, dia juga menyebutkan bahwa dia sudah menyiapkan tujuh pernikahan untuknya. Dia juga diberi cincin, yang dia kenakan di jari-jarinya.
Dia juga mengatakan bahwa masing-masing dari tujuh tunangannya memiliki satu dan masing-masing adalah sepasang dengan dia!
Hanya saja, di dalam hatinya hanya ada Melly. Dia tidak menganggap ucapan gurunya serius sama sekali!
Namun, sekarang semuanya ternyata sungguhan!
Kemudian, Zira menceritakan tentang bagaimana Rafan menyelamatkannya dan ayahnya empat tahun lalu, juga bagaimana ayahnya menjodohkannya dengan Dirga. Akhirnya, Dirga pun percaya sepenuhnya.
"Oh ternyata begitu, aku nggak menyangka bisa begitu!"
"Nona Zira, apa Nona bisa menghubungi guruku? Jangan salah paham, kamu itu wanita cantik, asalkan normal, pria mana pun nggak akan menolakmu. Kalau aku benar-benar menikahimu, aku akan memperlakukanmu dengan baik selama hidupku!"
"Tapi ini terlalu mendadak, kamu sedang terluka parah. Lukamu pasti bisa sembuh lebih cepat kalau guruku yang mengobatimu!"
Ucapan Dirga memang ada benarnya, dia sudah lama sekali tidak menghubungi gurunya itu. Dia juga sangat ingin bertemu gurunya, akan sangat bagus jika Zira bisa menghubunginya.
"Nggak perlu menghubunginya lagi. Kamu adalah murid penyelamatku. Aku percaya keterampilan medismu! Aku sudah sangat berutang budi kepada penyelamatku. Bagaimana aku masih punya malu untuk mengecewakannya lagi!"
"Selain itu, penyelamatku itu sudah lama meninggalkan Negara Naga. Kamu saja bahkan nggak bisa menghubunginya, kamu pikir aku bisa menghubunginya?"
"Kamu nggak perlu khawatir. Pelan-pelan lukaku bisa sembuh. Bahkan untuk seumur hidup, aku bersedia memercayaimu!"
"Eh ...."
Dirga ragu-ragu, Zira terlalu sempurna dan cantik. Kebahagiaan ini datang terlalu tiba-tiba, Dirga merasa seperti sedang bermimpi.
Dia takut tiba-tiba terbangun dari mimpi ini!
"Aku nggak suka pria plin-plan. Mau berapa lama penyembuhannya, aku percaya kamu. Sekalipun kamu nggak bisa menyembuhkanku, aku nggak akan menyalahkan kamu dan nggak akan pergi meninggalkan kamu juga!" ujar Zira.
Zira tentu berharap Dirga bisa menyembuhkan lukanya, tetapi dia berharap proses ini akan berlangsung seumur hidup. Dengan begitu, dia bisa tinggal bersama Dirga selamanya tanpa terpengaruh oleh masalah di rumah.
"Oke, Nona Zira berbaring dulu. Aku harus membersihkan memar di paru-parumu dengan akupunktur dulu. Kamu harus melepas semua pakaianmu!"
Dirga tidak ragu-ragu. Bahaya jika dia ragu-ragu, mungkin tak akan bisa mengontrol diri lagi.
Wush.
Zira sudah melepaskan baju tidurnya, tubuh indahnya yang menggemaskan tersaji di depan mata Dirga. Tiba-tiba, Dirga merasa pusing!
Jangan sembarangan!
Jangan sembarangan!
Lagi pula, tadi peluk-peluk sudah, sentuh-sentuh juga sudah!
Dirga berkata dalam hati untuk membuang pikiran-pikiran lain yang mengganggu di benaknya. Setelah itu, dia menusuk dada Zira dengan jarum perak di tangannya.
Bab 4
Ibu Dipukuli
"Mungkin sakit sedikit. Kamu tahan sebentar!"
Jarum kedua ditusukkan.
"Kemarilah, letakkan bantal di belakang dadamu di posisi ini. Dengan satu tusukan ini, gumpalan darah di paru-parumu akan dibersihkan sepenuhnya dalam waktu setengah jam!"
Dirga berkata demikian sambil meraih bantal dan menyerahkannya kepada Zira.
Setelah setengah jam, memar di paru-paru Zira benar-benar hilang. Ekspresi wajahnya langsung membaik, sosoknya pun makin cantik dan bergairah.
"Sekarang aku perlu menusukkan jarum lagi dan melindungi sistem meridian tubuhmu terlebih dahulu. Ini adalah luka fatal. Selanjutnya, kamu harus membentuk kembali sistem meridian tubuhmu dan itu membutuhkan 16 jenis herbal langka. Selain itu, perlu direbus menjadi pil obat. Aku belum punya bahan-bahan itu sekarang, tapi aku jamin akan bisa membelinya dalam dua hari!"
"Apa kamu benar-benar bisa membentuk kembali sistem meridian tubuhku?"
Zira makin penasaran dengan Dirga sekarang, dia belum pernah mendengar tentang teknik pengobatan ini!
"Tentu saja, hanya agak rumit saja."
Tindakan pengobatan Dirga masih belum berhenti, tubuh Zira hampir penuh dengan jarum perak saat ini!
Sepanjang proses ini, Zira berbaring dengan tenang sambil sesekali melirik Dirga. Jantungnya tiba-tiba menjadi sangat tenang. Sedikit demi sedikit memori perang dan membunuh itu hilang dari benaknya!
Setelah beberapa tahun ini, dia tidak pernah merasa senyaman saat ini!
Dia perlahan menutup matanya dan menikmati ketenangan yang langka ini!
Tanpa sadar, satu jam berlalu.
"Nona Zira, aku sudah melindungi sistem meridian tubuhmu dengan akupunktur. Sekarang kita mulai mencabut jarumnya, bagaimana perasaanmu sekarang?"
Raut wajah Zira terlihat lebih baik dari sebelumnya, dia sudah merasa sangat beruntung. Namun, dalam hatinya justru tidak senang. Semua itu karena dia sudah sepenuhnya yakin bahwa Dirga dapat menyembuhkan luka dalamnya dalam waktu singkat. Saat itu terjadi, dia harus menghadapi rasa tersiksa di rumah!
Dirga melihat ada yang salah dengan ekspresi Zira dan buru-buru berkata, "Nona Zira, kamu kenapa? Kenapa kelihatannya nggak senang sama sekali?"
"Nggak apa-apa, aku merasa jauh lebih baik sekarang. Dirga, terima kasih banyak!"
"Bicara apa kamu ini? Kamu 'kan tunanganku. Kenapa kamu mengatakan ini? Cederamu sangat serius, meskipun aku sudah membersihkan memar dari paru-parumu dan melindungi sistem meridian tubuhmu dengan akupunktur!"
"Kamu nggak boleh melakukan olahraga berat, kamu harus lebih banyak beristirahat dan jangan terpancing emosi. Hari ini cukup sampai di sini dulu. Aku harus pulang untuk menemui ibuku dulu. Aku akan kembali besok untuk perawatanmu selanjutnya!"
"Juga, aku sudah menyusun daftar resep untukmu. Aku pergi nanti, aku akan membelinya dan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya kemari!"
"Sebelum lukamu benar-benar sembuh, kamu harus makan dan minum obat sesuai dengan resep yang aku berikan!"
Kata-kata Dirga menyentuh Zira dan menghangatkan hatinya.
Ternyata seperti ini rasanya dipedulikan seseorang!
Zira menatap Dirga dengan sedikit kelembutan di wajahnya dan berkata dengan lembut, "Terima kasih Dirga, tulis saja resep dan obatnya, aku akan menyuruh Aisa membelinya nanti!"
"Ketika kondisi tubuhku lebih baik, aku akan pulang bersamamu untuk mengunjungi ibumu!"
"Oke, kalau begitu ingat apa aku katakan tadi, istirahatlah dengan baik dan jaga suasana hatimu tetap bahagia!"
Dirga dengan cepat menuliskan resep dan menyerahkannya kepada Zira. Saat hendak pergi, sebuah telepon dari nomor tidak dikenal pun datang.
Dirga menjawab tanpa terlalu banyak berpikir.
"Apa kamu anggota keluarga Tika Gabean?"
Terdengar suara seorang wanita.
"Ya, aku anaknya, Dirga. Ada apa dengan ibuku?"
"Dia sekarat, cepat datang ke Rumah Sakit Rakyat Daerah!"
Duar!
Seperti petir di siang bolong, Dirga belum sempat menanyakan apa yang terjadi dan telepon itu sudah dimatikan.
"Nona Zira, aku harus pergi dulu. Ibuku masuk rumah sakit. Aku harus pergi menemuinya!"
Dirga segera pergi. Begitu dia pergi, Aisa datang ke kamar Zira.
"Jenderal terlihat jauh lebih baik. Apa Jenderal tidur dengan Dirga tadi malam?"
"Kenapa Jenderal nggak mau mendengar ucapanku, sekarang semuanya sudah terlambat!"
Aisa mulai menangis tersedu-sedu. Sebenarnya, dia selalu ada di luar, tetapi tanpa izin Zira, dia tidak berani masuk. Dia juga tidak tahu bahwa Dirga sedang menyembuhkan Zira.
"Jangan menangis. Ambil resep ini, ke depannya kamu harus memberiku obat dan makanan sesuai dengan resep-resep ini!"
"Sekarang siapkan mobilnya. Ibu Dirga ada di rumah sakit. Aku harus memeriksanya!"
"Cepat sedikit!"
Zira khawatir, terdengar jelas dari nada bicaranya.
Aisa langsung merasakan suhu di udara mendingin. Dia pun segera mengambil resep lalu lari keluar untuk menyiapkan mobil.
...
Rumah Sakit Rakyat Daerah.
Pada saat ini, Dirga sudah tiba di rumah sakit dan menanyakan lokasi ruang rawat ibunya di resepsionis. Setelah itu, dia segera pergi menuju ruang rawat tersebut.
Namun, sekelompok orang berjaga di luar bangsal dan mengelilingi Dirga saat melihat kedatangannya!
"Kamu anak Tika Gabean? Kamu datang tepat waktu, cepat berikan uangnya, 200 juta!"
"Uang apa? Kalian siapa? Apa yang sudah kalian lakukan pada ibuku?"
"Uang apa? Tentu saja, uang biaya perlindungan. Ibumu keras kepala sekali nggak mau bayar biaya perlindungan, jadi kami harus mematahkan kakinya."
Duar!
Kaki ibunya dipatahkan?
"Plak! Plak!" "Plak!"
Dirga menampar dengan beberapa tamparan berturut-turut, menampar semua orang sampai tersungkur lalu masuk ke ruang rawat. Dia melihat ibunya terbaring di tempat tidur berlumuran darah dan dalam keadaan pingsan!
Dalam sekejap, Dirga merasa bersalah. Hatinya sangat tidak karuan!
'Sialan, aku seharusnya pulang tadi malam!'
"Bu, maafkan Dirga!"
Dirga menangis tersedu-sedu, tetapi dia segera tenang kembali. Dia memeriksa luka-luka ibunya dengan cermat, lalu menemukan bahwa selain kaki kirinya yang patah, bagian tubuh lainnya juga terluka!
Dia segera menusukkan jarum ke tubuh ibunya, saat itu orang yang dibantingnya ke lantai di luar bergegas masuk!
"Sialan, ibumu nggak mau bayar, kamu berani memukul kami juga?"
"Apa kalian tahu siapa aku?"
"Namaku Jager, orang di belakangku adalah Tuan Reno. Ibumu, seorang wanita tua bodoh berani-beraninya nggak bayar biaya perlindungan. Hanya patahkan satu kaki saja sudah bagus!"
"Anaknya saja nggak mau gantikan ibunya bayar biaya perlindungan, kamu masih berani mukul kami?"
"Kamu cari mati, ya?"
"Kamu cari mati!"
Dirga berteriak marah. DIa mengangkat kakinya dan menendang dengan keras beberapa kali. Semua orang seketika terpental ke lantai dan terluka parah!
Dia sudah sangat baik, karena ini adalah rumah sakit, dia tidak ingin mulai membunuh dan tidak ingin membuat situasi terlalu berdarah.
Jika bukan karena itu, satu tatapannya saja bisa memenggal kepala orang-orang ini.
"Reno!"
"Lagi-lagi kamu. Bagus sekali, ya. Aku akan mengambil nyawamu!"
Sejak kecil, ayah tidak pernah pulang selama bertahun-tahun, Dirga dan ibunya hidup bergantung satu sama lain.
Ibunya adalah orang paling penting di hidupnya. Siapa pun yang menyakitinya akan mati!
Reno tidak akan pernah melepaskan orang-orang itu, dia akan menyiksanya sampai mati secara perlahan.
"Sialan, anak ini cukup pandai berkelahi. Panggil Tuan Reno dan bawa seseorang untuk membunuhnya!"
Jager dan yang lainnya terkulai lemas di lantai sambil meratap dan berteriak!
Pada saat ini, Zira dan Aisa bergegas mendekat lalu segera menemukan ruang rawat ibu Dirga.
"Kenapa kamu datang kemari?"
Dirga terkejut melihat Zira.
"Bagaimana luka Bibi?"
Wajah Zira penuh kekhawatiran.
"Kakinya patah, tapi aku akan menyembuhkannya. Nona Zira, kamu masih terluka dan sulit bergerak. Nona pulang saja untuk istirahat!"
"Perawatanmu mungkin harus ditunda selama beberapa hari. Aku harus merawat ibuku dulu!"
"Terima kasih sudah menjenguk ibuku!"
Raut wajah Zira tampak tidak senang begitu mendengarnya!
"Bicara apa kamu ini? Kamu adalah tunanganku, ibumu adalah calon ibu mertuaku. Sekalipun ibumu nggak terluka seperti ini, apa aku tetap nggak boleh datang menemuinya?"
"Lakukan apa yang harus kamu lakukan dan serahkan sisanya padaku!"
"Oh, ya. Orang-orang di luar kenapa?"
Dirga tersentuh mendengar ucapan Zira.
"Mereka memukuli ibuku, Nona Zira. Aku bisa mengatasinya sendiri, kenapa kamu nggak pulang saja dulu?"
"Jangan basa-basi lagi, fokuslah menyembuhkan Bibi. Aisa dan aku menjaga bagian luar. Kalau ada apa-apa, kamu beri kode saja!"
Nada bicara Zira jelas tegas sekali, dia pun segera keluar dari ruang rawat.
Tepat di luar, Reno dan Melly muncul dengan beberapa pengawal.