Bab 2

Tidak peduli dengan malam yang semakin gelap, Adam keluar dari kamar meninggalkan Renata yang terlelap.

Suasana sudah sunyi dan hening, sesekali dentingan jam yang berbunyi. Kaki Adam melangkah pasti menuju kamar Kinanti.

Adam terbiasa dibesarkan dengan rasa tanggung jawab. Kali ini pun sama, walaupun terasa begitu sulit. Tetapi paling tidak ia ingin bertemu langsung dengan Kinanti untuk bertanya apakah benar wanita yang memasuki kamarnya malam itu Kinanti bukan Renata.

"Kinanti!"

Adam langsung masuk tanpa mengetuk pintu, matanya menyapu ruangan dengan ukuran tidak terlalu luas. Tidak ada orang, kamar itu tampaknya kosong.

"Cari Kinanti Tuan?"

Adam tersentak karena suara Mbok Sum yang menghampiri tiba-tiba, namun wajah Adam masih terlihat tenang.

"Di mana Kinanti Mbok?"

"Lho, tadi ada."

Mbok Sum langsung masuk, memanggil nama orang yang dicari Adam. Namun nihil, Kinanti tidak terlihat sama sekali.

"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?"

Mbok Sum keluar dari kamar Kinanti untuk menemui majikannya yang sebelumnya menunggu di luar. Tetapi, saat ini Adam sudah tidak berada di sana.

"Tadi?" Mbok Sum menggaruk kepalanya dengan kebingungan.

Tidak ingin diam saja, Adam memutuskan untuk mencari keberadaan Kinanti. Dengan setengah berlari, Adam menuju garasi dan menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru.

Ia melajukan mobilnya di tengah hujan deras yang terus turun bersama dengan gemuruh yang bersahutan-sahutan.

"Kinanti!"

Adam mendadak menghentikan laju mobilnya, matanya tertuju pada wanita yang tengah berdiri di tengah jalanan. Tubuhnya basah, kedua tangannya membentang di sampingnya.

Apa yang tengah di lakukan wanita Itu?

Mengambil jalan pintas?

Lama Kinanti menutup mata, menantikan mobil yang melaju untuk menabraknya. Akan tetapi mobil itu malah berhenti, Kinanti membuka mata, raut wajahnya kecewa.

"Apa yang kau lakukan?"

Adam menghampiri Kinanti, keduanya basah di bawah guyuran air hujan yang semakin deras.

Dunia seperti berputar semakin kencang, tatapan mata keduanya bertemu namun tidak ada yang berucap, larut dalam gejolak pikiran masing-masing.

Ingatan mengenai malam kemarin masih terasa perih untuk Kinanti. Tersadar dari lamunannya, Kinanti sudah berada di dalam mobil.

Lama keduanya terdiam, Adam akhirnya menyalakan mesin mobilnya karena merasa tidak tepat jika bertanya saat ini juga pada Kinanti. Akhirnya, Adam menatap Kinanti yang duduk di sampingnya.

Adam kembali menarik napas, membulatkan tekad untuk bertanya. Bagaimana pun semua harus jelas tanpa ada yang akhirnya merasa tersiksa karena keadaan.

"Saya ingin bertanya," Adam menepikan mobilnya, lalu menatap Kinanti yang duduk di sampingnya.

Adam terus menatap wajah Kinanti, tampaknya kali ini Adam dapat menyimpulkan sendiri.

Kinanti hanya diam, pandangannya terlihat kosong.

"Kinanti," Adam berusaha untuk berbicara pada wanita yang hanya diam dengan tubuhnya yang basah.

Perlahan Kinanti memutar leher, menatap manik mata Adam yang juga tengah menatap dirinya. Tetapi dada terasa sesak, bibir bergetar hebat dengan air mata yang kembali meluncur tanpa permisi.

Apa yang harus Adam tanyakan, tampaknya raut wajah pilu Kinanti sudah menjelaskan segalanya.

"Apa malam kemarin kita-" leher Adam bagaikan tercekik, terlalu sulit untuk mengutarakan pertanyaan yang membuat Kinanti kembali terluka. Tetapi, Adam juga butuh jawaban pasti dari bibir Kinanti.

Kinanti menggigit kuku-kuku jari, menahan isak tangis kepiluan dengan sekuat tenaga.

Tidak perlu lagi bertanya, Adam sudah sangat yakin jika Kinanti adalah orangnya. Selain Kinanti tidak ada lagi wanita yang masuk ke kamarnya saat malam itu, bahkan Renata sekalipun.

"Maaf."

Andai satu kata itu bisa mengembalikan segalanya, tidak akan ada luka sedalam ini.

Kinanti terdiam, menatap keluar. Air matanya terus mengalir tanpa ada henti.

Kedua tangannya saling meremas meluapkan rasa sakit yang tidak terobati. Luka yang di torehkan Adam begitu dalam, berjuta kata maaf pun tidak akan mampu mengobati luka yang begitu perih.

"Tolong jangan mengakhiri hidup, saya bersalah. Kalau kau mengakhiri hidup mu, saya adalah orang yang paling bersalah," kata Adam penuh penyesalan.

Rasa bersalah Adam semakin terasa, tangisan pilu terdengar nyaring di telinga Adam.

"Saya tidak tahu, bagaimana harus bertanggungjawab. Saya sudah menikah, bahkan baru saja pagi tadi," tutur Adam dengan ragu.

Tidak mungkin menikahi Kinanti, saat ini Adam sudah memiliki seorang istri yang sangat di cintai. Tidak perduli apakah salah atau benar, akan tetapi cinta Adam pada Renata juga tidak mudah untuk digoyahkan.

"Saya sangat mencintai istri saya." imbuh Adam dengan pasti, bahkan selalu menekankan setiap kata. Karena, memang cintanya sangat besar pada Renata.

Kinanti mengangguk, tangannya menyekat sisa-sisa air mata yang tidak pernah bisa kering pada wajah. Mencoba menerima semua kepahitan dengan suka cita, berusaha merelakan apa yang sudah hilang.

"Kau ingin kembali ke rumah?" tanya Adam.

Kinanti mengangguk, walaupun Adam sudah menyakiti paling tidak saat ini Adam masih memiliki hati nurani mengakui segala kesalahannya.

Adam mengambil jas putih yang selalu tersedia di mobilnya, kemudian memakaikan pada Kinanti. Berharap sedikit mengurangi rasa dingin yang tengah di rasakan.

Tubuh Adam yang masih condong pada Kinanti tidak lantas menjauh, jemari tangan nya mengusap air mata wanita rapuh yang tengah menahan sesak di dada.

Menyisir beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya, menatap dengan jelas bertapa rapunya wanita yang bekerja sebagai pengasuh bagi dua keponakan nya dalam jarak yang cukup dekat.

Perlahan Adam menarik Kinanti kedalam pelukannya, berharap agar perasaan Kinanti sedikit bisa lebih baik.

Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Tangis Kinanti kembali pecah begitu saja, tidak terbendung walaupun dengan sejuta cara.

Tangan Adam mengusap punggung Kinanti, dengan perasaan bersalah yang semakin dalam. Sampai akhirnya Kinanti menjauh, Adam pun mulai duduk di kursinya dengan benar.

Menatap arah depan, jendela mobil yang di tetesi air hujan. Bayangan wajah Renata juga tiba-tiba melintas dengan begitu saja, Adam bukan hanya menyakiti satu wanita. Tetapi dua wanita dalam waktu yang sama, hanya saja bedanya Renata tidak tahu akan semua ini.

Adam membali melakukan mobilnya, tanpa satu patah kata pun. Melihat tubuh basah Kinanti, Adam juga takut jika nanti malah Kinanti kayu sakit.

Sampai di rumah Adam menepikan mobilnya, lalu menatap Kinanti yang hanya diam sambil menatap kedepan. Tanpaknya Kinanti belum tersadar jika mobil Adam sudah terparkir di depan rumah.

"Kinanti," panggil Adam.

Kinanti masih diam, tidak ada rasa dingin, rasa kantuk, yang ada hanya rasa sakit.

"Kinanti," Adam menepuk pundak Kinanti.

Seketika itu pula Kinanti tersadar dari lamunannya, ia mulai melihat sekelilingnya dan perlahan turun dari mobil Adam tanpa satu patah katapun.

Kaki Kinanti terus melangkah masuk, jas putih Adam masih melekat di tubuhnya. Tanpaknya Kinanti tidak menyadari hal itu.

Renata yang terbangun merasa bingung, karena tidak ada Adam di sampingnya. Lalu kakinya melangkah menuju balkon dan melihat Kinanti yang keluar dari mobil milik Adam.

Bab 3

Setelah Kinanti masuk, Adam juga ikut masuk. Dengan tubuh basah ia segera menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Saat turun dari mobil Adam sudah melihat Renata yang menatap dirinya dari balkon. Akan tetapi ia berpura-pura tidak tahu.

Jadi Adam pun sudah mempersiapkan jawaban saat nanti di suguhkan pertanyaan-pertanyaan oleh Renata. Walaupun Adam terlalu takut untuk berbohong.

Berdiri di depan pintu kamar, menghirup udara dengan sebanyak-banyaknya. Menghembuskan dengan perlahan, lalu tangan bergerak memegang gagang pintu. Memutarnya lalu mendorong dengan perlahan.

"Dari mana?"

Adam masih berada di ambang pintu, tetapi Renata sudah menyuguhkan pertanyaan padanya.

Mata Renata menatap baju Adam yang basah kuyup. Tetapi, Renata lebih penasaran mengapa Kinanti bisa bersama dengan Adam.

"Sudah pukul 02:30, kau dari mana? Lalu kenapa kau bisa bersama Kinanti?" tanya Renata dengan penuh intimidasi.

"Suami mu ini seorang dokter sayang, ada pasien yang membutuhkan pertolongan di rumah sakit. Tadinya aku mau membangunkan mu. Tapi kau sangat lelap," jelas Adam dengan memberi alibi, bahkan memasang wajah santai seolah tidak ada yang terjadi.

"Lalu Kinanti?"

"Saat aku pulang dari rumah sakit, aku melihatnya berada di tengah jalan kehujanan. Aku tidak bertanya kenapa, hanya saja aku punya rasa kemanusiaan dan mengajaknya pulang," jawab Adam, berbohong untuk kedua kalinya.

Renata terdiam sambil menatap Adam, mencoba mencari kebohongan di raut wajah Adam.

Akan tetapi, Renata yakin jika suaminya tidak berbohong. Seketika amarahnya menghilang lalu memberikan senyuman pada Adam.

"Ya udah, kamu ganti bajunya. Abis itu kita tidur, aku pengen di peluk."

Adam mengangguk. Lalu, segera mengganti pakaiannya. Setelah itu menemani Renata hingga kembali terlelap.

Satu jam sudah berlalu, Renata sudah kembali terlelap dalam dekapan Adam.

Sedangkan Adam masih belum bisa terlelap, entah mengapa ia masih sangat kasihan pada keadaan Kinanti yang begitu terpukul dengan kejadian malam itu.

Melepas pelukan Renata dengan perlahan, lalu turun dari ranjang dan menuju kamar Kinanti yang cukup berdekatan dengan dapur.

Adam langsung memutar gagang pintu, tanpa meminta izin dari Kinanti.

Matanya melihat Kinanti duduk di sudut kamar dengan pakaian basah yang masih belum di ganti. Bahkan tanpa tahu keberadaan Adam yang sudah masuk lalu menutup pintu kembali.

Tepukan pada pundaknya membuat Kinanti seketika tersadar, ternyata ada Adam yang berjongkok di sampingnya. Seketika Kinanti menatap pintu yang sudah tertutup kembali.

Kapan Adam masuk, apakah sudah lama? Kinanti cukup terkejut.

"Kenapa belum mengganti pakaian, kau bisa sakit," kata Adam.

"Sakit?" tanya Kinanti dengan senyum getir.

Kinanti ingin berteriak sekencang-kencangnya, Adam mengatakan sakit. Bukankah Kinanti memang sudah merasakan sakit.

Raut wajah Adam tampak bersedih, mengerti dengan pertanyaan Kinanti, "Aku mohon, ganti pakaian mu. Atau aku yang akan menggantikannya."

Tidak ada niatan untuk mengeluarkan kalimat ancaman, akan tetapi itu cara agar Kinanti mau mengganti pakaian basahnya. Jujur saja Adam tidak tega melihat Kinanti terus dalam keterpurukan.

Tetapi, Renata masih terlalu berkuasa dalam hatinya. Bahkan untuk menyakiti hati Renata sedikit saja Adam tidak memiliki keberanian.

Kinanti langsung berdiri, dan berjalan menuju almari. Memakai piama di dalam kamar mandi. Saat Kinanti kembali ia melihat sudah ada secangkir teh hangat yang di letakkan di atas meja.

Meneguk dengan perlahan dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

----

Pagi hari ini Kinanti merasa tidak baik-baik saja, tubuhnya menggigil dengan hebat. Sesekali terdengar suara bersin yang juga menimpali, suhu tubuhnya sangat panas. Sedangkan ia merasa kedinginan.

Dua anak kecil langsung berlari menuju kamar Kinanti, tidak biasanya Kinanti tidak membangunkan dan mengurus keperluan mereka setiap paginya.

"Mbak Kinan!!!!" seru Derren dan Davina yang langsung masuk ke kamar pengasuh mereka.

Kinanti berusaha membuka matanya, tetapi ia terlalu lelah dan juga lemah.

"Mbak Kinan sakit?" tanya Davina.

Kinanti hanya bisa mengangguk, sulit sekali bibirnya untuk berkata-kata.

"Davina, Derren!!!"

Seorang wanita juga menyusul kedua anaknya, Hanna Kakak sulung dari Adam. Tetapi ia juga melihat Kinanti yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh menggigil.

"Kamu sakit?" tanya Hanna sambil menyusul kedua anaknya masuk kedalam kamar Kinanti.

"Bu, Kinan-"

"Kamu istirahat saja, biar Davina sama Derren sama saya dulu," ujar Hanna dengan cepat.

Hanna mengajak kedua anaknya untuk membiarkan Kinanti beristirahat, lalu membawanya menuju meja makan dan Hanna sendiri yang akan menyuapi kedua anaknya di pagi ini.

"Ayah Adam!!!"

Davina langsung duduk di kursi meja makan, begitu pula dengan Derren.

"Selamat pagi anak Ayah," Adam tersenyum pada kedua keponakan nya. Begitu juga dengan Renata yang duduk di samping Adam.

"Ayo mau sarapan pakai lauk apa?" tanya Hanna sambil mengisi piring dengan nasi goreng.

"Telor Ma," jawab Davina, sedangkan Derren juga mengangguk setuju.

"Tumben Kakak yang menyuapi Derren dan Davina?" tanya Adam bingung. Sebab itu adalah tugas Kinanti.

Hanna mulai menyuapi anak-anak dengan bergantian, setelah itu ia menatap Adam yang duduk saling berhadapan dengan nya.

"Kinan sakit Dam."

"Sakit?"

Adam sudah menduganya, karena tubuh Kinanti semalam kehujanan.

"Kamu kenapa sih?"

Renata merasa Adam sangat berlebihan, Kinanti hanya seorang pembantu. Lalu kenapa Adam harus peduli.

"Sayang, aku ini seorang dokter. Tolong mengerti."

"Kalau gitu kamu periksa, wajahnya pucat sekali," pinta Hanna.

"Sayang, apa harus kamu?" Renata sangat tidak suka, tetapi lagi-lagi Adam mengingatkan akan profesi nya sebagai seorang dokter.

Adam langsung menuju kamar Kinanti, bersama dengan Renata yang tidak ingin Adam dan Kinanti hanya berdua saja di dalam kamar.

Adam mulai memeriksa keadaan Kinanti, lalu meminta Mbok Sum untuk membuatkan bubur beserta segelas teh hangat.

"Kinan, ayo sarapan dulu," Mbok Sum membantu Kinanti untuk duduk, walaupun cukup kesulitan.

Tangan Adam sangat gatal sekali, ingin rasanya membantu Kinanti untuk duduk. Akan tetapi Renata terus memeluk lengannya, tatapan Renata yang dingin juga membuat Adam tidak memiliki keberanian.

"Apa kau tidak memiliki orang tua yang bisa di hubungi, mengingat kau sedang sakit," ujar Adam.

"Kamu apasih sayang, udahlah ayo keluar!" Renata langsung menarik Adam untuk keluar, menurutnya Adam sangat berlebihan.

"Sayang, Kinanti sedang sakit. Kenapa kau begitu," tolak Adam secara halus, sebab Adam masih ingin berada di kamar Kinanti.

"Apasih, peduli amat. Dia bukan siapa-siapa! Cuman pembantu!" papar Renata menekankan kata pembantu.

Kinanti hanya memejamkan mata, berusaha menelan bubur yang di suapi oleh Mbok Sum. Sambil menguatkan hati mendengar kata-kata Renata.

Andai saja Renata tahu apa yang sudah di lakukan Adam padanya, mungkin Renata tidak akan pernah mengeluarkan kalimat tersebut. Tetapi Kinanti tidak setega itu, hati wanita itu begitu baik seperti wajahnya yang sangat cantik.

Bab 4

"Bagaimana keadaan mu?"

Kinanti tersentak tak kala suara berat dan tertahan seorang pria menyapa nya. Sejenak Kinanti menghentikan pekerjaannya yang tengah menggoreng telur untuk majikan kecil yang bernama Davina.

Lalu memutar tubuhnya untuk melihat siapa pria yang berada di belakang nya.

"Tuan berbicara dengan saya?"

"Bagaimana keadaan mu sekarang?"

Adam tidak ingin menjawab pertanyaan Kinanti. Sebab, Adam tidak suka bertanya dan di jawab dengan pertanyaan kembali.

"Saya baik Tuan," jawab Kinanti dengan menundukkan kepalanya.

Sejak berada di rumah sakit, Adam selalu memikirkan Kinanti. Hingga sore hari saat setelah sampai di rumah Adam langsung menuju dapur untuk mencari keberadaan Kinanti.

Adam berjalan satu langkah, hingga keduanya cukup berdekatan. Tangan Adam bergerak memegang dahi Kinanti, kemudian mengangguk.

Kinanti terkejut saat Adam memegang dahinya, dan menurutnya itu cukup berlebihan.

"Apa kau bisa menutupi apa yang sudah terjadi di antara kita?"

Adam tidak bisa tenang, takut jika Kinanti memberitahukan pada Renata ataupun anggota keluarga lainnya tentang apa yang sudah terjadi di antara mereka.

Saat ini mungkin Adam terlalu egois, tetapi bagaimana pun Renata baru kemarin menjadi istri nya dan Adam tidak tega menyakiti hati wanita yang sangat di cintai nya.

Kinanti mengangguk lemah, Adam memikirkan perasaan Renata tetapi tidak dengan perasaan nya.

"Saya sangat mencintai nya," lanjut Adam berusaha agar Kinanti setuju dengan permintaan nya, "Atau aku bisa memberi mu sejumlah uang, sesuai yang kau mau."

Kinanti mendadak gagu, "Uang?"

Adam mengangguk, meyakini jika Kinanti setuju dengan tawaran nya.

Kinanti mangguk-mangguk, malang sekali nasib wanita itu. Mungkin menurut Adam uang bisa membeli harga diri nya.

"Saya akan menutup mulut saya, tidak usah khawatir," jawab Kinanti dengan yakin.

Adam mengangguk, "Terima kasih."

Adam berlalu pergi, melangkahkan meninggalkan dapur.

"Uang?" Kinanti tersenyum getir, tampaknya menurut orang kaya seperti Adam harga diri adalah uang.

-----

Hari-hari terus berlalu, Kinanti tidak lagi larut dalam luka yang tidak berkesinambungan.

Semua telah direlakan tanpa ada sisa-sisa benci sedikit pun, dan hal yang paling membuat Kinanti semakin kuat adalah Ilham kekasihnya tetap mau menerima walaupun semua sudah Kinanti katakan tentang kemalangan nya.

Walaupun pada hakekatnya Kinanti tetap tidak menyebut nama orang yang sudah menodainya, dan hal menariknya kata maaf di iringi dengan tawaran rupiah.

"Mbak Kinan," Davina sudah sangat kesal pada Kinanti.

Sudah beberapa hari ini Kinanti terus saja muntah-muntah, dengan tubuh lelah dan juga merasa pusing.

"Maaf ya, Mbak Kinan masuk angin," jawab Kinanti tidak enak hati.

Davina mengangguk, walaupun cukup membuat kesal. Duduk di kursi meja makan dengan manis, sambil menunggu Kinanti menyuapinya kembali. Tapi, lagi-lagi Kinanti mendadak bangun dari duduknya berlari menuju wastafel.

Davina menopang kepalanya menggunakan tangan pada meja, perut yang sudah lapar membuatnya kesal pada Kinanti.

"Kamu kenapa?" tanya Adam yang baru saja ikut bergabung di meja makan.

Tangan Adam menarik kursi untuk Renata, setelah itu melakukan hal yang sama dan duduk manis berhadapan dengan Davina.

"Mbak Kinan bikin kesel, dari kemarin terus aja muntah-muntah Vina lapar Yah," kata Davina dengan raut wajah kesal.

"Dari kemarin?"

"Vina, pagi ini Mbok Sum saja yang suapin ya," Mbok Sum yang mendengar keluhan Davina segera mengambil alih pekerjaan Kinanti.

Davina mengangguk karena sudah sangat lapar.

"Mbok Sum," Adam sedikit ragu untuk bertanya, tetapi cukup penasaran juga dengan kata-kata Davina, "Apa Kinanti sakit?"

"Sayang!" Renata sangat tidak suka, bagai manapun Adam adalah suaminya. Tidak akan ada wanita yang rela melihat suaminya memberikan perhatian pada wanita lain.

Adam mengelus kepala Renata, "Sayang, aku ini seorang dokter dan siapapun yang sakit aku harus menolong," jelas Adam.

Renata mendesis berulangkali Adam meyakinkan dengan profesi nya tapi, sampai saat ini juga Renata tidak bisa terima akan perhatian Adam pada Kinanti yang cukup berlebihan.

Adam tidak lagi bertanya perihal Kinanti di hadapan Renata, tetapi apa yang di katakan oleh Davina masih mengganggu pikirannya.

Selesai sarapan pagi, Adam mengantarkan Renata ke rumah kedua orang tuanya kemudian berjanji akan menjemputnya nanti malam.

Adam tidak lantas menuju rumah sakit tempatnya bekerja, akan tetapi Adam memutar balik arah dan kembali ke rumah.

Melihat Mbok Sum yang tengah menyapu halaman, Adam seketika turun dari mobil dan mendekati Mbok Sum.

"Mbok Sum, apa Kinanti di dalam?"

Mbok Sum cukup terkejut, Adam datang lalu bertanya dengan tiba-tiba.

"Kenapa menanyakan Kinanti?" tanya Sarah.

Kali ini Adam yang terkejut melihat Sarah berdiri di hadapannya, apa yang akan Adam katakan untuk bisa lolos dari pertanyaan Sarah.

"Kinanti?" tanya Adam kembali seolah tidak mengerti.

Sarah malah bingung, merasa tidak salah mendengar.

"Adam nanya Davina Ma," kata Adam sambil melebarkan mata memberi kode pada Mbok Sum.

Mbok Sum hanya mengangguk dalam kebingungannya, dan berusaha membenarkan apa yang di katakan oleh Adam.

"Bukanya tadi kamu nanyak Kinanti? Kinanti sedang mengantar Derren dan Davina ke sekolah," Sarah benar-benar bingung.

"Mbok, tadi saya bertanya tentang Davina kan?" Adam terus menatap Mbok Sum, berharap bisa di ajak kerjasama.

"I-iya Bu Sarah, tadi Tuan Adam nanyak Davina," Mbok Sum sebenarnya tidak ingin berbohong, tetapi karena takut pada Adam terpaksa dilakukan.

Sarah mengangguk, lalu pergi karena merasa salah mendengar.

Tidak berselang lama, sebuah mobil Alphard berwarna putih terparkir. Seorang wanita turun dengan tergopoh-gopoh.

"Kinanti?" panggil Mbok Sum.

Kinanti tidak perduli, terus berlari masuk fokus hanya segera menuju kamar mandi.

"Mbok Sum apa dia sering muntah-muntah?" Adam ingin segera mendapatkan jawaban, karena sejak padi tadi belum ada jawaban yang pasti.

"Iya Tuan, dari kemarin juga. Seperti orang hamil saja," jawab Mbok Sum asal.

Blush!

Seketika wajah Adam memerah, jantung mulai berdetak kencang karena takut apa yang di katakan oleh Mbok Sum benar.

"Tuan!" Mbok Sum sudah memanggil Adam beberapa kali tapi malah diam seakan hanyut dalam pikiran.

Adam tersadar tetapi tidak perduli sama sekali, hingga tiba-tiba terdengar suara teriakan Sarah dari dalam sana.

"Aaaaaaa!"

Adam seketika berlari masuk, melihat Sarah yang berteriak dengan Kinanti yang tergeletak di dapur.

"Kinanti!" Sarah menepuk pipi Kinanti hingga berulangkali.

Terbaring di atas sofa, tubuh lemah dengan wajah pucat masih belum sadarkan diri.

"Adam Kinanti kenapa?" tanya Sarah panik.

"Em," Adam hanya diam, bahkan semakin aneh saat selesai memeriksa keadaan Kinanti.

"Adam," Sarah menggerakkan lengan Adam, telinganya sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan Adam.

"Tidak ada apa-apa, hanya masuk angin," jawab Adam dengan suara kecil, jari-jemarinya memijat dahi yang terasa mendadak pusing sambil menatap tubuh lemah Kinanti yang masih terbaring di atas sofa.

Istri Gelap Tuan Arrogant

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya