Bab 1

"Kinanti, tolong antarkan jas ini ke kamar Adam," titah seorang wanita paruh baya.

Dengan langkah kaki yang pasti, Kinanti mengerjakan apa yang diperintahkan oleh majikannya: berjalan menuju kamar Adam, calon pengantin yang akan menikah esok hari.

Tangan Kinanti bergerak mengetuk pintu kamar.

Akan tetapi, tidak ada sambutan suara dari dalam sana. Pintu yang setengah terbuka membuat Kinanti yakin tidak ada orang di dalam kamar. Dengan perlahan, ia mendorong pintu kamar semakin terbuka lebar.

Kepalanya terlebih dahulu menelusup masuk. Setelah merasa aman, barulah kakinya melangkahkan kakinya dengan sangat berhati-hati.

Ia takut sang pemilik kamar tiba-tiba muncul dan melihat dirinya masuk tanpa izin sebelumnya. Setelah meletakkan jas pengantin yang dibawa ke sofa, tubuh tinggi semampai itu berbalik. Namun, Kinanti terkejut karena ternyata majikannya ada di belakangnya. Dari mana munculnya Adam? Dan, sejak kapan Adam ada di dalam kamar juga?

Bibir Kinanti ingin mengucapkan kalimat, tetapi dalam sekejap Adam membawanya menuju ranjang.

Kepalanya menggeleng dengan peluh yang semakin meluncur, tanpa ba-bi-bu tubuhnya seketika di tindih.

"Tuan jangan!!!" seru Kinanti dengan berderai air mata.

Adam bagaikan seorang pria tuli, bahkan sama sekali tidak peduli akan teriakan Kinanti yang begitu kencang.

Mahkota yang sudah di jaga oleh Kinanti selama 24 Tahun lamanya, lenyap seketika. Cakaran yang diciptakan kuku Kinanti pada punggung Adam sama sekali tidak berpengaruh, apa lagi membuat Adam tersadar atas apa yang kini tengah terjadi.

Kinanti meremas sprei dengan sekuat tenaga, rasa sakit pada tubuhnya seiring dengan sakit hati yang kini semakin terasa.

----

Pagi harinya seorang pria bertubuh kekar merasa terusik saat cahaya matahari menyentuh wajahnya.

Ia mengerjapkan mata perlahan lalu duduk dengan kepala yang terasa berat dan tidak nyaman.

Mata yang terbuka dengan perlahan menangkap ranjang yang berantakan, dengan rasa penasaran tangannya bergerak menyingkirkan selimut tebal menutupi pinggangnya.

Adam terbelalak melihat diri tanpa sehelai benangpun, pakaian miliknya berceceran di lantai. Otaknya berusaha mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi padanya.

Tetapi, ada hal yang semakin membuat Adam kebingungan. Netra nya menangkap secercah noda merah pada sprei.

"Darah?"

Sambil berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan yang menghilang.

Tadi malam saat keluar dari rumah Zidan, Adam terus memegang kepalanya yang terasa pusing. Semakin lama rasa pusing tersebut berubah menjadi rasa panas, bahkan konsentrasi saat mengemudikan mobil juga mulai menghilang.

Ia ingat melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, bahkan banyak pengguna jalanan lainnya yang marah padanya. Sampai akhirnya Adam memarkirkan mobil dengan asal, turun dan berjalan sambil berlenggok-lenggok merasakan tubuhnya semakin tidak terkendali.

Ia menaiki anak tangga dengan gelagat aneh yang semakin menjalar pada tubuh, kemudian langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.

Lampu yang redup tapi masih bisa melihat seorang wanita yang tengah berdiri sambil meletakan sesuatu.

"Renata."

Gelap mata dan tubuh yang tidak terkendali membuat Adam tidak melihat dengan baik siapa wanita yang kini tengah menunggunya. Bahkan sama sekali belum tersadar ada kehadiran dirinya.

Adam yakin, hanya Renata yang berani masuk ke dalam kamarnya malam hari begini. Mungkin juga Renata ingin memberikan sebuah kejutan sebelum malam pertama mereka esok hari pikir Adam.

Besok pagi mereka akan menikah. Perasaan aneh itu semakin menjalar dengan menguasai diri.

Adam merasa tidak ada salahnya melakukan hubungan malam ini juga sebab esok hari Renata sudah sepenuhnya menjadi miliknya.

"Sayang."

Adam langsung membawa wanita di hadapannya, mengangkatnya menuju ranjang lalu menindihnya dengan cepat.

Tok tok tok.

Belum selesai Adam mengingat semuanya, tiba-tiba terdengar Suara ketukan pintu membuat Adam tersadar dari lamunannya, dengan secepat mungkin Adam membereskan pakaian yang berantakan. Lalu melilitkan handuk pada pinggang.

"Ma?"

Adam melihat Sarah, ibunya, masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu jawaban Adam, mungkin karena dari tadi tidak mendengar jawaban darinya.

"Mama pikir kamu masih tidur karena tidak ada jawaban. Jadi, Mama langsung masuk saja," jelas Sarah.

Adam mengangguk mengerti, tetapi perhatiannya juga masih tertuju pada secercah noda merah pada sprei nya.

"Kamu baik-baik saja?" Sarah menepuk pundak putra nya. Sepertinya Sarah dapat melihat raut cemas pada wajah anak bungsunya.

Adam lagi-lagi hanya mengangguk lemah, seakan mengerti dengan apa yang di katakan oleh Sarah.

"Kamu mandi gih. 30 menit lagi acara akan di mulai."

Setelah Sarah keluar dari kamar, Adam langsung mengguyur tubuh di bawah shower. Merasakan ada sensasi perih pada punggungnya. Tetapi, Adam sama sekali tidak peduli.

Selesai memakai pakaian pengantin, Adam segera keluar dari kamar. Tetapi, tanpa sengaja Adam berpapasan dengan Kinanti.

Dengan mata sembab dan raut wajah pucat, Kinanti menatap Adam. Sedetik kemudian, Kinanti masuk ke dalam kamar Adam untuk mempersiapkan malam pertama Adam dan Renata sebagai pengantin baru.

Akad nikah diselenggarakan dengan sangat baik tanpa ada kendala sedikitpun. Adam dan Renata saling bertukar cincin dan juga saling tersenyum pada kamera digital yang siap mengabadikan momen kebahagiaan keduanya.

Adam dan Renata kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Mulai saat ini juga Renata akan tinggal di kediaman keluarga besar Adam Agatha Sanjaya, seorang dokter OGBYN dengan karir yang begitu cemerlang.

Namun, sampai akad nikah selesai, Adam masih memikirkan kejadian malam kemarin. Sampai akhirnya, Adam memutuskan untuk melihat rekaman CCTV yang terpasang di depan pintu kamar.

Rekaman mulai menyala, memperlihatkan seorang wanita masuk ke dalam kamar Adam membawa jas pengantin. Namun, sebelum wanita itu keluar. Adam juga masuk.

Cukup lama menunggu sampai akhirnya wanita yang sebelumnya masuk mulai keluar dengan wajah dan pakaian yang berantakan. Wanita itu menangis dengan terus meremas baju yang ia kenakan.

"Kinanti."

Adam mengusap wajahnya sampai beberapa kali, sambil berharap jika noda darah pada sprei bukan milik Kinanti.

"Kinanti atau Renata?"

Adam masih merasa semalam ia tidur bersama Renata, akan tetapi rekaman Cctv menunjukan sebaliknya. Renata tidak tampak sama sekali memasuki kamarnya dalam rekaman CCTV, yang ada hanya Kinanti, perawat yang mengasuh dua keponakannya.

Adam menyandarkan tubuh pada sofa kemudian menarik napas dengan berat sambil berdebat dengan pikirannya yang tengah kacau.

-----

Sedangkan di dalam kamar lainnya, seorang wanita berusaha membalut lukanya dengan sekuat tenaga. Tetap tenang dan sabar walaupun hatinya sangat terluka.

Hati terasa remuk, mengingat kejadian malam kejam yang tidak berbelas kasih. Air mata Kinanti tidak berhenti, terus menerus membasahi pipi.

Ia duduk di lantai sambil bersandar pada ranjang yang berada di belakangnya.

Bayang-bayang rasa perih bercampur luka masih sangat membekas di hati, ingatan kepiluan itu tidak bisa hilang. Walaupun sudah berusaha menghilangkan ingatan itu dengan susah payah.

Bab 2

Tidak peduli dengan malam yang semakin gelap, Adam keluar dari kamar meninggalkan Renata yang terlelap.

Suasana sudah sunyi dan hening, sesekali dentingan jam yang berbunyi. Kaki Adam melangkah pasti menuju kamar Kinanti.

Adam terbiasa dibesarkan dengan rasa tanggung jawab. Kali ini pun sama, walaupun terasa begitu sulit. Tetapi paling tidak ia ingin bertemu langsung dengan Kinanti untuk bertanya apakah benar wanita yang memasuki kamarnya malam itu Kinanti bukan Renata.

"Kinanti!"

Adam langsung masuk tanpa mengetuk pintu, matanya menyapu ruangan dengan ukuran tidak terlalu luas. Tidak ada orang, kamar itu tampaknya kosong.

"Cari Kinanti Tuan?"

Adam tersentak karena suara Mbok Sum yang menghampiri tiba-tiba, namun wajah Adam masih terlihat tenang.

"Di mana Kinanti Mbok?"

"Lho, tadi ada."

Mbok Sum langsung masuk, memanggil nama orang yang dicari Adam. Namun nihil, Kinanti tidak terlihat sama sekali.

"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?"

Mbok Sum keluar dari kamar Kinanti untuk menemui majikannya yang sebelumnya menunggu di luar. Tetapi, saat ini Adam sudah tidak berada di sana.

"Tadi?" Mbok Sum menggaruk kepalanya dengan kebingungan.

Tidak ingin diam saja, Adam memutuskan untuk mencari keberadaan Kinanti. Dengan setengah berlari, Adam menuju garasi dan menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru.

Ia melajukan mobilnya di tengah hujan deras yang terus turun bersama dengan gemuruh yang bersahutan-sahutan.

"Kinanti!"

Adam mendadak menghentikan laju mobilnya, matanya tertuju pada wanita yang tengah berdiri di tengah jalanan. Tubuhnya basah, kedua tangannya membentang di sampingnya.

Apa yang tengah di lakukan wanita Itu?

Mengambil jalan pintas?

Lama Kinanti menutup mata, menantikan mobil yang melaju untuk menabraknya. Akan tetapi mobil itu malah berhenti, Kinanti membuka mata, raut wajahnya kecewa.

"Apa yang kau lakukan?"

Adam menghampiri Kinanti, keduanya basah di bawah guyuran air hujan yang semakin deras.

Dunia seperti berputar semakin kencang, tatapan mata keduanya bertemu namun tidak ada yang berucap, larut dalam gejolak pikiran masing-masing.

Ingatan mengenai malam kemarin masih terasa perih untuk Kinanti. Tersadar dari lamunannya, Kinanti sudah berada di dalam mobil.

Lama keduanya terdiam, Adam akhirnya menyalakan mesin mobilnya karena merasa tidak tepat jika bertanya saat ini juga pada Kinanti. Akhirnya, Adam menatap Kinanti yang duduk di sampingnya.

Adam kembali menarik napas, membulatkan tekad untuk bertanya. Bagaimana pun semua harus jelas tanpa ada yang akhirnya merasa tersiksa karena keadaan.

"Saya ingin bertanya," Adam menepikan mobilnya, lalu menatap Kinanti yang duduk di sampingnya.

Adam terus menatap wajah Kinanti, tampaknya kali ini Adam dapat menyimpulkan sendiri.

Kinanti hanya diam, pandangannya terlihat kosong.

"Kinanti," Adam berusaha untuk berbicara pada wanita yang hanya diam dengan tubuhnya yang basah.

Perlahan Kinanti memutar leher, menatap manik mata Adam yang juga tengah menatap dirinya. Tetapi dada terasa sesak, bibir bergetar hebat dengan air mata yang kembali meluncur tanpa permisi.

Apa yang harus Adam tanyakan, tampaknya raut wajah pilu Kinanti sudah menjelaskan segalanya.

"Apa malam kemarin kita-" leher Adam bagaikan tercekik, terlalu sulit untuk mengutarakan pertanyaan yang membuat Kinanti kembali terluka. Tetapi, Adam juga butuh jawaban pasti dari bibir Kinanti.

Kinanti menggigit kuku-kuku jari, menahan isak tangis kepiluan dengan sekuat tenaga.

Tidak perlu lagi bertanya, Adam sudah sangat yakin jika Kinanti adalah orangnya. Selain Kinanti tidak ada lagi wanita yang masuk ke kamarnya saat malam itu, bahkan Renata sekalipun.

"Maaf."

Andai satu kata itu bisa mengembalikan segalanya, tidak akan ada luka sedalam ini.

Kinanti terdiam, menatap keluar. Air matanya terus mengalir tanpa ada henti.

Kedua tangannya saling meremas meluapkan rasa sakit yang tidak terobati. Luka yang di torehkan Adam begitu dalam, berjuta kata maaf pun tidak akan mampu mengobati luka yang begitu perih.

"Tolong jangan mengakhiri hidup, saya bersalah. Kalau kau mengakhiri hidup mu, saya adalah orang yang paling bersalah," kata Adam penuh penyesalan.

Rasa bersalah Adam semakin terasa, tangisan pilu terdengar nyaring di telinga Adam.

"Saya tidak tahu, bagaimana harus bertanggungjawab. Saya sudah menikah, bahkan baru saja pagi tadi," tutur Adam dengan ragu.

Tidak mungkin menikahi Kinanti, saat ini Adam sudah memiliki seorang istri yang sangat di cintai. Tidak perduli apakah salah atau benar, akan tetapi cinta Adam pada Renata juga tidak mudah untuk digoyahkan.

"Saya sangat mencintai istri saya." imbuh Adam dengan pasti, bahkan selalu menekankan setiap kata. Karena, memang cintanya sangat besar pada Renata.

Kinanti mengangguk, tangannya menyekat sisa-sisa air mata yang tidak pernah bisa kering pada wajah. Mencoba menerima semua kepahitan dengan suka cita, berusaha merelakan apa yang sudah hilang.

"Kau ingin kembali ke rumah?" tanya Adam.

Kinanti mengangguk, walaupun Adam sudah menyakiti paling tidak saat ini Adam masih memiliki hati nurani mengakui segala kesalahannya.

Adam mengambil jas putih yang selalu tersedia di mobilnya, kemudian memakaikan pada Kinanti. Berharap sedikit mengurangi rasa dingin yang tengah di rasakan.

Tubuh Adam yang masih condong pada Kinanti tidak lantas menjauh, jemari tangan nya mengusap air mata wanita rapuh yang tengah menahan sesak di dada.

Menyisir beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya, menatap dengan jelas bertapa rapunya wanita yang bekerja sebagai pengasuh bagi dua keponakan nya dalam jarak yang cukup dekat.

Perlahan Adam menarik Kinanti kedalam pelukannya, berharap agar perasaan Kinanti sedikit bisa lebih baik.

Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Tangis Kinanti kembali pecah begitu saja, tidak terbendung walaupun dengan sejuta cara.

Tangan Adam mengusap punggung Kinanti, dengan perasaan bersalah yang semakin dalam. Sampai akhirnya Kinanti menjauh, Adam pun mulai duduk di kursinya dengan benar.

Menatap arah depan, jendela mobil yang di tetesi air hujan. Bayangan wajah Renata juga tiba-tiba melintas dengan begitu saja, Adam bukan hanya menyakiti satu wanita. Tetapi dua wanita dalam waktu yang sama, hanya saja bedanya Renata tidak tahu akan semua ini.

Adam membali melakukan mobilnya, tanpa satu patah kata pun. Melihat tubuh basah Kinanti, Adam juga takut jika nanti malah Kinanti kayu sakit.

Sampai di rumah Adam menepikan mobilnya, lalu menatap Kinanti yang hanya diam sambil menatap kedepan. Tanpaknya Kinanti belum tersadar jika mobil Adam sudah terparkir di depan rumah.

"Kinanti," panggil Adam.

Kinanti masih diam, tidak ada rasa dingin, rasa kantuk, yang ada hanya rasa sakit.

"Kinanti," Adam menepuk pundak Kinanti.

Seketika itu pula Kinanti tersadar dari lamunannya, ia mulai melihat sekelilingnya dan perlahan turun dari mobil Adam tanpa satu patah katapun.

Kaki Kinanti terus melangkah masuk, jas putih Adam masih melekat di tubuhnya. Tanpaknya Kinanti tidak menyadari hal itu.

Renata yang terbangun merasa bingung, karena tidak ada Adam di sampingnya. Lalu kakinya melangkah menuju balkon dan melihat Kinanti yang keluar dari mobil milik Adam.

Bab 3

Setelah Kinanti masuk, Adam juga ikut masuk. Dengan tubuh basah ia segera menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Saat turun dari mobil Adam sudah melihat Renata yang menatap dirinya dari balkon. Akan tetapi ia berpura-pura tidak tahu.

Jadi Adam pun sudah mempersiapkan jawaban saat nanti di suguhkan pertanyaan-pertanyaan oleh Renata. Walaupun Adam terlalu takut untuk berbohong.

Berdiri di depan pintu kamar, menghirup udara dengan sebanyak-banyaknya. Menghembuskan dengan perlahan, lalu tangan bergerak memegang gagang pintu. Memutarnya lalu mendorong dengan perlahan.

"Dari mana?"

Adam masih berada di ambang pintu, tetapi Renata sudah menyuguhkan pertanyaan padanya.

Mata Renata menatap baju Adam yang basah kuyup. Tetapi, Renata lebih penasaran mengapa Kinanti bisa bersama dengan Adam.

"Sudah pukul 02:30, kau dari mana? Lalu kenapa kau bisa bersama Kinanti?" tanya Renata dengan penuh intimidasi.

"Suami mu ini seorang dokter sayang, ada pasien yang membutuhkan pertolongan di rumah sakit. Tadinya aku mau membangunkan mu. Tapi kau sangat lelap," jelas Adam dengan memberi alibi, bahkan memasang wajah santai seolah tidak ada yang terjadi.

"Lalu Kinanti?"

"Saat aku pulang dari rumah sakit, aku melihatnya berada di tengah jalan kehujanan. Aku tidak bertanya kenapa, hanya saja aku punya rasa kemanusiaan dan mengajaknya pulang," jawab Adam, berbohong untuk kedua kalinya.

Renata terdiam sambil menatap Adam, mencoba mencari kebohongan di raut wajah Adam.

Akan tetapi, Renata yakin jika suaminya tidak berbohong. Seketika amarahnya menghilang lalu memberikan senyuman pada Adam.

"Ya udah, kamu ganti bajunya. Abis itu kita tidur, aku pengen di peluk."

Adam mengangguk. Lalu, segera mengganti pakaiannya. Setelah itu menemani Renata hingga kembali terlelap.

Satu jam sudah berlalu, Renata sudah kembali terlelap dalam dekapan Adam.

Sedangkan Adam masih belum bisa terlelap, entah mengapa ia masih sangat kasihan pada keadaan Kinanti yang begitu terpukul dengan kejadian malam itu.

Melepas pelukan Renata dengan perlahan, lalu turun dari ranjang dan menuju kamar Kinanti yang cukup berdekatan dengan dapur.

Adam langsung memutar gagang pintu, tanpa meminta izin dari Kinanti.

Matanya melihat Kinanti duduk di sudut kamar dengan pakaian basah yang masih belum di ganti. Bahkan tanpa tahu keberadaan Adam yang sudah masuk lalu menutup pintu kembali.

Tepukan pada pundaknya membuat Kinanti seketika tersadar, ternyata ada Adam yang berjongkok di sampingnya. Seketika Kinanti menatap pintu yang sudah tertutup kembali.

Kapan Adam masuk, apakah sudah lama? Kinanti cukup terkejut.

"Kenapa belum mengganti pakaian, kau bisa sakit," kata Adam.

"Sakit?" tanya Kinanti dengan senyum getir.

Kinanti ingin berteriak sekencang-kencangnya, Adam mengatakan sakit. Bukankah Kinanti memang sudah merasakan sakit.

Raut wajah Adam tampak bersedih, mengerti dengan pertanyaan Kinanti, "Aku mohon, ganti pakaian mu. Atau aku yang akan menggantikannya."

Tidak ada niatan untuk mengeluarkan kalimat ancaman, akan tetapi itu cara agar Kinanti mau mengganti pakaian basahnya. Jujur saja Adam tidak tega melihat Kinanti terus dalam keterpurukan.

Tetapi, Renata masih terlalu berkuasa dalam hatinya. Bahkan untuk menyakiti hati Renata sedikit saja Adam tidak memiliki keberanian.

Kinanti langsung berdiri, dan berjalan menuju almari. Memakai piama di dalam kamar mandi. Saat Kinanti kembali ia melihat sudah ada secangkir teh hangat yang di letakkan di atas meja.

Meneguk dengan perlahan dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

----

Pagi hari ini Kinanti merasa tidak baik-baik saja, tubuhnya menggigil dengan hebat. Sesekali terdengar suara bersin yang juga menimpali, suhu tubuhnya sangat panas. Sedangkan ia merasa kedinginan.

Dua anak kecil langsung berlari menuju kamar Kinanti, tidak biasanya Kinanti tidak membangunkan dan mengurus keperluan mereka setiap paginya.

"Mbak Kinan!!!!" seru Derren dan Davina yang langsung masuk ke kamar pengasuh mereka.

Kinanti berusaha membuka matanya, tetapi ia terlalu lelah dan juga lemah.

"Mbak Kinan sakit?" tanya Davina.

Kinanti hanya bisa mengangguk, sulit sekali bibirnya untuk berkata-kata.

"Davina, Derren!!!"

Seorang wanita juga menyusul kedua anaknya, Hanna Kakak sulung dari Adam. Tetapi ia juga melihat Kinanti yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh menggigil.

"Kamu sakit?" tanya Hanna sambil menyusul kedua anaknya masuk kedalam kamar Kinanti.

"Bu, Kinan-"

"Kamu istirahat saja, biar Davina sama Derren sama saya dulu," ujar Hanna dengan cepat.

Hanna mengajak kedua anaknya untuk membiarkan Kinanti beristirahat, lalu membawanya menuju meja makan dan Hanna sendiri yang akan menyuapi kedua anaknya di pagi ini.

"Ayah Adam!!!"

Davina langsung duduk di kursi meja makan, begitu pula dengan Derren.

"Selamat pagi anak Ayah," Adam tersenyum pada kedua keponakan nya. Begitu juga dengan Renata yang duduk di samping Adam.

"Ayo mau sarapan pakai lauk apa?" tanya Hanna sambil mengisi piring dengan nasi goreng.

"Telor Ma," jawab Davina, sedangkan Derren juga mengangguk setuju.

"Tumben Kakak yang menyuapi Derren dan Davina?" tanya Adam bingung. Sebab itu adalah tugas Kinanti.

Hanna mulai menyuapi anak-anak dengan bergantian, setelah itu ia menatap Adam yang duduk saling berhadapan dengan nya.

"Kinan sakit Dam."

"Sakit?"

Adam sudah menduganya, karena tubuh Kinanti semalam kehujanan.

"Kamu kenapa sih?"

Renata merasa Adam sangat berlebihan, Kinanti hanya seorang pembantu. Lalu kenapa Adam harus peduli.

"Sayang, aku ini seorang dokter. Tolong mengerti."

"Kalau gitu kamu periksa, wajahnya pucat sekali," pinta Hanna.

"Sayang, apa harus kamu?" Renata sangat tidak suka, tetapi lagi-lagi Adam mengingatkan akan profesi nya sebagai seorang dokter.

Adam langsung menuju kamar Kinanti, bersama dengan Renata yang tidak ingin Adam dan Kinanti hanya berdua saja di dalam kamar.

Adam mulai memeriksa keadaan Kinanti, lalu meminta Mbok Sum untuk membuatkan bubur beserta segelas teh hangat.

"Kinan, ayo sarapan dulu," Mbok Sum membantu Kinanti untuk duduk, walaupun cukup kesulitan.

Tangan Adam sangat gatal sekali, ingin rasanya membantu Kinanti untuk duduk. Akan tetapi Renata terus memeluk lengannya, tatapan Renata yang dingin juga membuat Adam tidak memiliki keberanian.

"Apa kau tidak memiliki orang tua yang bisa di hubungi, mengingat kau sedang sakit," ujar Adam.

"Kamu apasih sayang, udahlah ayo keluar!" Renata langsung menarik Adam untuk keluar, menurutnya Adam sangat berlebihan.

"Sayang, Kinanti sedang sakit. Kenapa kau begitu," tolak Adam secara halus, sebab Adam masih ingin berada di kamar Kinanti.

"Apasih, peduli amat. Dia bukan siapa-siapa! Cuman pembantu!" papar Renata menekankan kata pembantu.

Kinanti hanya memejamkan mata, berusaha menelan bubur yang di suapi oleh Mbok Sum. Sambil menguatkan hati mendengar kata-kata Renata.

Andai saja Renata tahu apa yang sudah di lakukan Adam padanya, mungkin Renata tidak akan pernah mengeluarkan kalimat tersebut. Tetapi Kinanti tidak setega itu, hati wanita itu begitu baik seperti wajahnya yang sangat cantik.

Istri Gelap Tuan Arrogant

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya