Logo
I'm Not a Gangster
I'm Not a Gangster

I'm Not a Gangster

53 Bab
Tamat
Dalam I'm Not a Gangster, seorang pemuda desa mengejar cita-cita menjadi bodyguard di kota. Namun, ia justru terjebak dalam mafia novel yang penuh intrik dunia bawah. Ikuti adventure story yang memaksanya memilih antara prinsip atau bertahan hidup dalam balutan genre modern action ini.
Bab 1 dari I'm Not a Gangster

"Ma, kita tidak lebaran?" tanya Kamal.

Lebaran Idul Fitri tinggal dua hari lagi, tetapi Bu Senia belum mempersiapkan apa-apa.

Senia, wanita paruh baya, wanita yang dipanggil Mama oleh Kamal, tampak menyunggingkan senyumnya yang telaga. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, ada awan kelabu yang bergelantungan di wajah letihnya.

"Maafkan, Mama, Nak," ucap Bu Senia. "Kita mungkin terlambat lebaran. Mudah-mudahan Tuhan kasi kemudahan supaya kita bisa lebaran di hari lebaran Ketupat."

Terjawab sudah kenapa tidak ada kegiatan sama sekali di rumah ini. Sadar akan hal itu, Kamal merogoh sejumlah uang dari sakunya. Sebelum menyerahkannya, Kamal lebih dulu mencium hasil jerih payah yang sejatinya ia kumpulkan untuk biaya sekolah.

"Mudah-mudahan ini cukup," ucap Kamal sambil menyodorkan uang tersebut.

"Ya, Allah, Nak, ini dapat dari mana? Ini bukan dapat dari mencuri, 'kan?" Bu Senia kurang yakin.

"Ya, Allah, Ma ... !" Kamal mendesis sedih. "Itu saya punya hasil jualan daun pisang beberapa hari ini, kasian."

Bu Senia menatap Kamal, mencari kebenaran di sana. Sesaat setelah itu, barulah Bu Senia memeluk Kamal.

"Maafkan, Mama, Nak!" sesal Bu Senia.

"Iya, tidak apa-apa, Ma," balas Kamal dengan nada yang nyaris tidak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri.

Setelah itu, selain tangan yang bergetar-getar, mata berkaca-kaca, Bu Senia tak lagi berucap. Begitupula dengan Kamal.

***

Di suatu awal malam, beberapa hari sebelum hari penerimaan siswa baru SMP.

Usai mengusap wajah, mengembang kempiskan dada, dengan jantung berdebar-debar, perlahan Kamal melangkah, menghampiri lapak seorang penjual sepatu. 

Di sini, sekira dua puluhan menit menunggu, barulah Kamal mendapatkan kesempatan. Kamal memulainya dengan memepet, berlindung di belakang pengunjung lainnya. Begitu melihat adanya peluang, sigap Kamal menyambar sepasang sepatu, lalu menyembunyikannya dalam baju di bagian perut, kemudian beredar dengan tergesa-gesa.

"Maling ... ! Anak itu maling!"

"Mana malingnya, mana?"

"Itu, itu ...."

Suara gaduh antara penjual sepatu dan beberapa orang pengunjung, riuh rendah meneriaki Kamal. Akan tetapi, Kamal sudah terlanjur menjauh, dan menyelinap di antara para pengunjung lainnya. Kamal tak tersentuh. 

Ketika suara itu tak lagi terdengar dan yakin tak ada yang membuntuti, Kamal melambankan langkah, dan terus berlaku baik-baik saja. Kemudian, diam-diam ia menjauhi keramaian, dan langsung menuju pulang.

***

Hari pertama masuk sekolah.

Pagi-pagi sekali Kamal sudah bersiap-siap untuk memulai hari pertamanya di SMP Negeri terdekat dari rumahnya.

Kecuali sepasang sepatu yang ia curi di pasar malam berapa malam lalu, semua yang melekat di badannya adalah barang bekas. 

Selain barang bekas, kecuali baju putih yang di atas sakunya ia ganti dengan OSIS SMP, semuanya Kamal dapatkan dari pemberian seorang teman.

Dari celana, topi, dasi, atribut, hingga lokasi sekolah, semuanya Kamal dapatkan dari seseorang yang baru saja lulus SMP. 

Celananya sedikit kedodoran, tapi tidak masalah bagi Kamal. Ia bisa melipat ujungnya hingga sejajar dengan mata kaki. 

Satu yang belum ia punyai, yakni tas sekolah. Kamal tidak mengkhiraukan itu, sebab pagi ini Kamal merasa sangat beruntung, bisa melanjutkan sekolah meskipun dengan segala keterbatasan.

"Mal? Mau ke mana, Nak?" Bu Senia sambil menatap Kamal dari ujung kaki sampai ujung rambut. Raut heran terpampang jelas di wajah Bu Senia.

"Sekolah, Ma!" jawab Kamal dengan tenang. "Saya diterima di SMP X," tambahnya sambil meraih, lalu mengecup punggung tangan Bu Senia. Bu Senia diam saja.

Setelah itu, Kamal beredar mencari Pak Rajimin. Kamal mendapati Pak Rajimin tengah duduk di pintu belakang, membuang tatapan ke luar rumah.

Pagi-pagi Bapak sudah melamun? Ragu, tetapi pada akhirnya Kamal memberanikan diri menghampiri Pak Rajimin.

Pada Pak Rajimin, Kamal melakukan hal yang sama sebagaimana yang ia lakukan pada Bu Senia. Sayangnya, Pak Rajimin tidak menggubris salaman Kamal.

Setelah itu, barulah Kamal beredar menuju pohon pisang yang berada di samping rumah, mengambil sepatu yang ia sembunyikan di situ. Demi keamanan, Kamal tidak langsung memakainya, tetapi hanya menentengnya. Beberapa puluh meter sebelum gerbang sekolah, barulah Kamal mengenakan sepatu tersebut.

Saat sepatunya sudah ia kenakan, Kamal merasa ada yang janggal dengan sepatu ini. Salah satu dari sepatu ini terasa sempit, sangat sempit. 

"Astaga!" desis Kamal. Lalu, diam-diam Kamal melirik ke sekeliling. 

Beruntung hari masih sangat pagi. Belum ada seorang siswa pun yang berada di sekitar sini kecuali Kamal sendiri, sehingga tidak ada yang tahu kecuali Kamal sendiri bahwa sepatu yang ia kenakan ini size-nya selisih dua angka. Yang sebelah kiri size 35, sedangkan yang kanan size 37. 

Pun, selagi tak ada siapa-siapa yang melihat, segera saja ia pakai semula, lalu berjalan pelan-pelan menuju gerbang sekolah. 

Sekian puluh langkah melangkah, kaki Kamal mulai terasa perih. Akan tetapi, demi tekadnya agar tetap bersekolah, ia tahan-tahan. Kamal bisa sejauh ini, itu semua berkat tekadnya yang baja.

Karena ketidakadaan biaya, Pak Rajimin yang hanya seorang lelaki pincang tanpa pekerjaan yang jelas, sudah sejak lama mewanti-wanti agar Kamal tidak bermimpi yang aneh-aneh.

Menurut Pak Rajimin, keinginan Kamal untuk tetap bersekolah adalah keinginan yang tidak sesuai dengan kondisi perekonomian keluarga.

Sedangkan Bu Senia yang hanya seorang ibu rumah tangga, yang terkadang jadi kuli rumput di ladang orang, sebenarnya meminta Kamal untuk istirahat satu tahun. Setelah itu, barulah Kamal kembali melanjutkan sekolah.

Semuanya sudah berlangsung, Kamal tidak ingin lagi menoleh ke belakang.

****

Penyambutan siswa baru.

Bersama ratusan siswa baru lainnya, Kamal berhimpun di aula sekolah.

Adalah Pak Hanafi, Kepala Sekolah di SMP ini. Usai membuka pidato penyambutan, beliau memberi motivasi kepada siswa baru, juga menjabarkan visi misi sekolah.

Di akhir sambutannya, beliau memberi kesempatan kepada siswa-siswi untuk menyampaikan apa cita-cita mereka.

Kamal yang duduk paling depan tidak menyia-siakan kesempatan, gegas menegakkan telunjuk.

"Siapa namanya, Nak?" tanya Pak Hanafi, pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad.

"Kamal Hayat, Pak!" jawab Kamal.

"Baik!" sambut Pak Hanafi. "Kamal Hayat, apa cita-cita kamu?"

"Saya bercita-cita menjadi seorang Bodyguard, Pak!" jawab Kamal dengan begitu percaya diri.

Sontak seisi ruangan pada hening. Namun, itu tidak berlangsung lama. Sesaat setelahnya, riuh, dan tidak sedikit yang mengejek Kamal.

"Hu ... cita-cita apaan itu? Jadi maling saja, biar sesuai."

Kamal melirik si pembicara. O, sial! Dia Hartati Loa, anak seorang Juragan. Wajar jika dia mengejek Kamal. Buru-buru Kamal menarik pandang.

Bersamaan dengan itu, teman-teman Kamal masih riuh rendah, tetapi Pak Hanafi sigap menenangkan. 

"Tenang, tenang!" seru Pak Hanafi. "Tidak penting apa cita-cita kalian, asalkan kalian sanggup melakukannya dengan profesional. Jadi, jika kalian bercita-cita untuk menjadi seorang penjahat, jadilah seorang penjahat yang profesional."

"Siap, Pak!" sahut Kamal.

"Hu ... !" Kembali mereka menghura Kamal.

****

Belum genap dua minggu bersekolah, apa yang dilakukan oleh Kamal di pasar malam tempo hari, mulai tersebar luas. Namun, karena tidak ada saksi mata, mula-mula Kamal mengacuhkan berita tersebut.

Hinggalah di suatu siang sepulang sekolah, terlihat Pak Rajimin menunggui Kamal di halaman rumah.

Di sini, di siang bolong ini, Pak Rajimin sambil memegang daun kelapa kering. Saat Kamal tinggal beberapa langkah dari hadapan Pak Rajimin, Pak Rajimin mulai menyulut daun kelapanya.

"Mana sepatumu, Kamal?" sambut Pak Rajimin dengan nada tinggi.

Dibentak, Kamal tergugu.

"Mana!" ulang Pak Rajimin masih dengan nada yang sama.

Pada akhirnya, perlahan Kamal mengeluarkan sepatu yang senantiasa ia sembunyikan dalam bajunya tersebut. 

"Sini!" Pak Rajimin merebut sepatu Kamal dan langsung membakarnya.

"Pak! Itu?"

"Diam!" 

Pada saat yang bersamaan, sepatu itu sudah menyala.

"Ini kamu dapat di mana?" 

"Saya beli, Pak! Ya, Allah, Pak, kenapa dibakar?"

Plak! 

Pak Rajimin menampar Kamal dengan menggunakan sepatu yang mulai menyala tersebut.

"Ini kamu beli atau kamu curi?"

"Mati saya, Bapak sudah tahu," batin Kamal.

"Jawab, Kamal!"

"Iya, saya curi, Pak, tapi saya sudah izin sama Tuhan."

"Kamal ... ! Bapak sudah bilang! Kamu jangan aneh-aneh!" Pak Rajimin sambil menempelkan sepatu menyala itu ke perut Kamal.

Seketika itu juga lelehan karet panas melengket di baju Kamal. Perut Kamal mulai kepanasan.

"Ulang kali dibilangin ... !"

"Ampun, Pak ... !"

Kamal menjerit, Pak Rajimin tidak peduli, Pak Rajimin terus saja menghantamkan sepatu terbakar itu ke tubuh Kamal.

Plak plak plak!

Terakhir, Pak Rajimin menekan leher di bawah telinga Kamal dengan menggunakan sepatu terbakar tersebut.

Setelah bagian perut, kini leher Kamal juga yang sudah melepuh. Kamal sudah tidak tahan lagi. Sambil mencopot baju seragam sekolah yang ia kenakan, sesegera itu juga aku berlari menjauh.

"Tolong ... ! Ampun ... !"

"Jangan pernah lagi pulang ke rumah ini!"

Pak Rajimin terus saja mengumpat, sedangkan Kamal terus saja juga berlari menjauh.

"Awas kalau sampai kamu kembali ke rumah ini lagi!" ancam Pak Rajimin.

Sayup-sayup Kamal masih mendengar itu m Akan tetapi, jika tak kembali, Kamal hendak ke mana?

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
Dalam Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan, Raina sang pembalap liar legendaris harus memilih antara kebebasan di jalanan atau paksaan keluarga. Nikmati romance novel penuh aksi ini saat Raina menentang perjodohan demi hidupnya. Baca fiction books seru ini di platform web novel.
Gadis Nakal Sang Bidadari Surga
Gadis Nakal Sang Bidadari Surga
Ayana, ratu geng motor dalam Gadis Nakal Sang Bidadari Surga, dipaksa masuk pesantren dan menjalani perjodohan wasiat dengan Gus Farhan. Kisah romance modern ini membawa tantangan bagi sang pemberontak dalam menyeimbangkan kebebasan dan takdir. Baca romance novel ini sekarang.
Lawon Abang (Kafan Merah)
Lawon Abang (Kafan Merah)
Dalam Lawon Abang (Kafan Merah), Mbah Karso membangkitkan Nyai Larapati demi membalas dendam atas kematian cucunya. Horror novel penuh aksi ini mengikuti perjalanan mistis di Ledokombo untuk menuntaskan kesumat. Baca mystery story ini sebagai pilihan fiction books terbaik Anda.
Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
Dalam novel modern ini, Marcel yang tertindas di rumah istrinya bangkit setelah menelan formula rahasia orang tuanya. Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat membawa Anda dalam adventure penuh aksi dan kekuatan baru. Baca kisah lengkapnya di web novel ini sekarang!
Nona Hujan, Cobalah Diriku!
Nona Hujan, Cobalah Diriku!
Dalam Nona Hujan, Cobalah Diriku!, Putra Mahkota Li Yun Zhu harus mengakhiri kutukan kekeringan di Kerajaan Meng. Ia terpaksa mencari Su Yu Er dari Suku Chang'o meski sejarah kelam membayangi mereka. Simak kisah fantasy novel ini sebagai web novel pilihan dengan intrik dan pengorbanan.
Obsesi saya
Obsesi saya
Dalam novel Obsesi saya, seorang calon model ukuran plus harus menghadapi kenyataan pahit setelah diculik. Di tengah genre romance modern dan action ini, ia terjebak obsesi pria posesif yang menginginkannya menjadi istri. Temukan kisah perjuangan dan cinta dalam online novel ini sekarang.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Bupati Cilik Berusia 8 Tahun
Bupati Cilik Berusia 8 Tahun
Toni, mantan penyidik kriminal, melintas ke zaman kuno dan menjadi pejabat berusia 8 tahun. Saat hampir dikuasai elite desa, sistem Hakim Adil aktif. Dia memecahkan kasus, mengalahkan musuh, dan menumpas bandit. Dengan poin sistem, dia memperoleh kemampuan dan membela rakyat hingga namanya tercatat dalam sejarah.
Selamanya Tawananmu
Selamanya Tawananmu
Reporter Nina berhasil memenangkan kepercayaan bos mafia Leon Mann dan menjatuhkannya. Tiga bulan kemudian, Nina kembali bertemu Leon di gala stasiun TV, hanya untuk mendapati pria itu telah berubah menjadi Chase Kane, sosok dengan reputasi tanpa cela. Melalui penyelidikan, Nina memastikan Chase adalah Leon dan curiga pria itu ingin balas dendam. Saat berhadapan dengan tipu muslihat yang rumit ini, Nina merasa tak berdaya di hadapan Leon yang licik. Tanpa pilihan lain, ia harus mempertaruhkan segalanya untuk melancarkan serangan balasan.
Konspirasi sang Istri
Konspirasi sang Istri
Demi anak dalam kandungannya, Fera mengubah dirinya menjadi Nyonya Pratama yang kaya. Lima tahun kemudian, Yoga kembali dengan amnesia. Untuk memastikan keselamatan putranya di masa depan, Fera berpura-pura punya perasaan yang dalam dengan Yoga. Namun, ingatan Yoga perlahan kembali dan kebenaran mulai terungkap.
Malam Sebelum Kebenaran, Pacarku Putus
Malam Sebelum Kebenaran, Pacarku Putus
Aku mau lulus kuliah, tapi pacarku tiba-tiba minta putus. Malah dia ngasih aku satu vila, satu Bentley, dan dua puluh milyar, bilang makasih udah nemenin dia empat tahun. Padahal dia nggak tahu, aku pewaris keluarga terkaya di kota Jira, uang sama sekali bukan masalah buatku.
Pak, Ini Rujuk Keberapa Kali, ya?
Pak, Ini Rujuk Keberapa Kali, ya?
Cindy Samaya merupakan putri dari keluarga Samaya. Setelah dia melahirkan anak kembar, dia dibunuh oleh adiknya Selly. Untungnya, dia selamat dari kejadian tersebut. Anak kembar Cindy bernama Kevin dan Benny. Anak kembarnya berpisah karena Nelly mencelakai Benny sedangkan Kevin diculik oleh Nelly. Nelly sangat mencintai Jacky yang merupakan suami dari Cindy.Bagaimana nasib kedua anak kembar tersebut? Apakah Cindy akan berhasil balas dendam? Akankah Nelly menikah dengan Jacky? Bagaimana hubungan antar Jacky dan Cindy kelak?
Pedang di Balik Riasan
Pedang di Balik Riasan
Sepuluh tahun lalu, Mira Bara dibunuh secara kejam atas perintah Anya Larya karena hal sepele. Rani Bara kecil menyaksikan semuanya, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena Anya segera menjadi Permaisuri. Saat nyawanya terancam, Rani Bara diselamatkan oleh sosok misterius yang mengajarinya cara memikat pria agar bisa masuk istana, merebut perhatian, dan membalas dendam. Dengan keberanian dan kecantikan sebagai senjata, Rani Bara bertekad membuka topeng palsu Anya Larya dan menuntut keadilan bagi ibunya.