Bab 2

Wanita ini pasti sudah gila.

Sandra menyuruh pengawalnya untuk mendorongku ke tanah dan tak henti-hentinya menendangku dengan wajah kesal. "Dasar perempuan busuk, siapa yang kamu panggil Ayah!"

"Jadi dengan cara ini kamu naik ke ranjangnya!"

Dia lalu mengeluarkan ponselnya.

Suara manjaku terdengar dari ponsel itu. "Nggak, aku ingin memberikan kejutan besar buat Ayah!"

Ayahku tertawa kecil penuh kasih sayang. "Oke, Sayang. Aku tunggu kejutan darimu."

Ini adalah potongan panggilan telepon antara aku dengan ayahku tadi malam.

Aku awalnya berencana untuk muncul tiba-tiba di pesta pernikahan. Aku ingin menunjukkan kesembuhan mataku sebagai kejutan untuknya. Karena itulah aku melarangnya untuk menjemputku di bandara.

Itu saja.

Tak disangka, Sandra salah paham.

Aku ingin menjelaskan. Tapi, seorang sahabat Sandra yang bernama Liliana sudah berkata dulu dengan masam, "Pak Ditya sepertinya terlalu sayang dengan yang satu ini, ya?"

"Aku belum pernah dengar dia panggil "Sayang" ke Kak Sandra!"

Seketika itu juga, wajah Sandra semakin kelam.

Memancarkan keganasan.

"Alah, pasti karena mukanya lebih muda!"

Dia menjambak rambutku dan kukunya menancap di pipiku. "Tapi, memangnya Ditya peduli!"

"Benar sekali!"

"Siapa yang nggak tahu kalau di hati Pak Ditya, selain istri pertamanya dan anak perempuannya, orang yang terpenting baginya adalah Kak Sandra, tunangannya!"

"Kalau mau jadi pelakor ngaca dulu!"

Liliana menimpali.

Mulutku sudah penuh darah, tapi aku tidak bisa membebaskan diri dari tekanan pengawal itu. Aku hanya bisa memalingkan muka sekeras mungkin untuk menghindari tendangannya.

Kalung safir yang ada di balik kerah bajuku terjulur keluar.

"Ini batu permata milik istri pertama suamiku!"

Mata Sandra langsung membelalak.

Kemudian, dia merenggut kalung itu dari leherku dan lanjut menendangku. "Bagus, berani sekali kamu mencuri perhiasan berharga milik istri pertama suamiku!"

"Dasar bodoh!"

"Apa kamu nggak takut mati duluan sebelum bisa menikmati harta curianmu!"

Darah menyembur dari mulutku saat aku terbatuk. "Ini ... peninggalan dari ibuku! Kamu nggak boleh merebutnya!"

Tapi Sandra tidak percaya sama sekali.

Dia mencibir sambil mengagumi batu permata itu dengan tatapan rakus, "Kalau kamu bisa punya harta peninggalan seberharga ini, buat apa kamu jadi simpanan suamiku?"

"Kamu bahkan berani mengutuk mati ibumu sendiri."

"Bisa kubayangkan, ibu dari anak yang nggak punya malu sepertimu pasti selangkangannya juga kotor!"

"Jangan hina ibuku!"

Aku adalah hal paling sensitif bagi ayahku.

Tapi, hal yang paling sensitif bagiku adalah ibuku yang meninggal untuk melindungiku.

Jadi, aku tiba-tiba mengamuk dan melepaskan diri dari cengkeraman pengawal itu, mengulurkan tangan untuk mencekik leher Sandra.

Tapi aku menerima pukulan di bagian belakang kepala.

Rasa sakit yang luar biasa membuat pandanganku menghitam dan aku langsung jatuh ke tanah.

Liliana menyilangkan tangannya dan memarahi pengawal itu. "Lawan gadis kecil saja kalah. Dasar nggak becus!"

"Untung aku sigap, jadi Kak Sandra nggak terluka."

"Kalau terjadi sesuatu padanya, tunggu saja sampai kalian menderita di tangan Pak Ditya!"

Pengawal itu buru-buru mengucapkan terima kasih dan meminta maaf kepada Sandra.

"Sudahlah, aku nggak menyalahkanmu."

Sandra masih agak syok. Setelah memulihkan diri, matanya semakin menyeramkan saat menatapku.

sama sekali

Aku akan menelepon Ayah dan mengatakan padanya, dia tidak boleh menikah dengan wanita ini!

Bab 3

Tapi sesaat berikutnya, tanganku diinjak keras dengan hak sepatu stiletto.

"Masih ingin mengadu ke suamiku?"

Aku menjerit kesakitan. "Aku Kiara Danaraja! Ayahku nggak akan mengampunimu!"

Sandra terdiam sejenak, memicingkan matanya melihatku.

Kukira dia akhirnya menyadari bahwa mataku mirip dengan mata ayahku. "Kalau kamu nggak percaya, telepon ayahku sekarang juga!"

Tak kusangka, dia tertawa seperti sedang melihat orang bodoh.

"Payah sekali. Kalau kamu mau bohong, mikir yang realistis sedikit."

Sambi terus mengerahkan kekuatan pada kakinya, mata Sandra menatapku penuh rasa jijik. "Siapa yang nggak tahu kalau anak perempuan Ditya buta untuk menyelamatkannya!"

"Apa nggak lucu kamu mengaku-ngaku sebagai anaknya dengan dua mata besarmu ini?"

Hatiku tersentak sampai aku tidak bisa bicara.

Tidak pernah kubayangkan bahwa kejutan yang ingin kuberikan kepada ayahku malah membuatku terjebak dalam bahaya.

Tiba-tiba, sebuah kantong hitam menutupi kepalaku.

"Lepaskan aku!"

"Kalian nggak boleh melakukan ini padaku. Aku Kiara Danaraja!"

Aku meronta-ronta sekuat tenaga.

Tapi tidak ada gunanya. Aku tetap dibawa ke bagasi mobil oleh pengawal itu dengan kasar.

Sandra mendesak, "Jalan yang cepat! Aku nggak mau terlambat ke pernikahan."

Mobil itu pun melaju lebih kencang lagi. Tubuhku semakin terhempas ke sana kemari hingga aku benar-benar pingsan.

Aku terbangun kembali disambut ejekan dan tertawaan.

"Sedang apa kalian! Jangan sentuh aku!"

Aku sangat ketakutan, mencoba bangkit dan melarikan diri.

Tawa itu bercampur dengan jeritan-jeritanku.

Liliana masih lanjut mengarahkan mata kameranya padaku.

"Tunggu sebentar, aku mau cari posisi dulu!"

"Ide Kak Sandra bagus sekali. Selain membuat pelacur ini jera, kita juga harus tunjukkan ke Pak Ditya betapa murahnya simpanan kesayangannya ini."

"Biar jangan jajan di luar lagi setelah menikah dengan Kak Sandra!"

"Aku 'kan mau jadi istrinya, tentu saja aku harus menguruskan hal ini untuknya."

Aku bahkan tidak ingat lagi berapa lama aku dilecehkan. Aku bahkan tidak bisa membedakan wajah-wajah mereka lagi.

Aku terbaring tak bergerak di lantai seperti boneka yang rusak.

"Dia ... nggak akan mati karena ini, 'kan?"

Seorang pengawal menatapku dengan khawatir. "Kak Sandra, ini hari pernikahanmu, jangan sampai ada kejadian yang membawa sial. Pak Ditya suka memperhatikan hal-hal seperti ini ...."

Sandra tidak senang mendengarnya dan menatap pengawal itu dengan tajam. "Jangan percaya takhayul!"

Tapi dia lalu tersenyum tipis.

"Tapi kalau dipikir-pikir ... warna merah membawa keberuntungan di hari pernikahan, 'kan?"

Bab 4

Sandra menyuruh pengawalnya untuk menggantungku.

"Kamu ...."

Aku sudah di ambang kematian. Melihat pisau yang ada di tangannya, aku hanya bisa memohon dengan tubuh gemetar, "Kamu ... nggak boleh melakukan ini kepadaku ...."

"Kenapa nggak?"

Dia tertawa sinis. "Sudah berani jadi pelakor, harusnya berani juga menerima kemarahan istri sahnya."

Segera, darah mengalir ke lantai.

Aku meringis kesakitan, tersadar kembali, dan menjerit.

Sandra mengerutkan kening. "Berisik."

Jadi, Liliana cepat-cepat memotong selembar kain dari gaunku yang sudah robek dan menyumpal mulutku dengan tatapan jijik. "Seluruh tubuhnya bau laki-laki, menjijikkan sekali!"

"Makanya, aku harus membantunya."

"Ini hadiah yang ingin kuberikan untuk suamiku. Kulit kotor ini nggak pantas muncul di pesta pernikahan dan menodai pandangannya."

Aku mengejang kesakitan. Air mataku berderai bercucuran.

Dia menusukku dengan pisaunya. Bibirnya tersenyum puas. "Pernikahanku nanti pasti berjalan dengan baik."

Aku akhirnya berhenti gemetar, dan kepalaku terkulai lemas.

Karena aku mati dalam siksaan ini.

Tapi Sandra kembali meminta pengawal untuk memasang kawat di bahuku untuk dibentuk menjadi sayap.

Lalu, dia mengeluarkan campuran pasta berwarna abu-abu.

Sedikit demi sedikit, campuran itu menutupi daging dan darahku.

Agar cepat kering, semua pengawal memegang pengering rambut besar ke tubuhku. Sementara Sandra berkonsentrasi mengukir tubuhku dengan pisau, dan akhirnya mengubah tubuhku menjadi patung malaikat yang menderita.

"Kak Sandra memang hebat seperti biasa. Cantik sekali hasilnya!"

"Pak Ditya nggak akan menyangka kalau kesayangannya disembunyikan di sini!"

Liliana bertepuk tangan dan memuji, bahkan hampir memuja-muja.

"Memang biar dia nggak tahu!"

Sandra mengangkat dagunya dengan bangga. "Tunggu beberapa saat, baru beri tahu. Biar dia terkejut!"

Tepat pada saat itu, ponselnya berdering.

"Sandra, dari mana saja kamu? Kenapa kamu belum mulai rias?"

Ternyata Ayah yang menelepon.

Suara itu sangat lembut di telingaku. Rasa sakit merobek-robek hatiku yang telah berubah menjadi roh yang melayang.

Sandra tertawa misterius. "Aku sedang menyiapkan hadiah untukmu!"

"Oh ya? Kamu memang selalu perhatian."

Ayah sangat senang, dan suaranya menjadi semakin lembut. "Waktunya sudah mepet, cepat ke sini. Jangan sampai terlambat."

"Aku tahu. Tunggu aku!"

Sandra menutup telepon dengan wajah bahagia.

Aku dimasukkan ke dalam lemari kayu yang indah dan dibawa ke tempat pernikahan.

Ayah telah mengenakan setelan jas dan sepatu kulit. Dia tersenyum dan bertanya penasaran, "Apa isinya, kenapa besar sekali?"

Ini aku, Ayah ....

Aku berteriak sekeras yang aku bisa, tapi dia bahkan tidak bisa melihat aku.

Sandra memeluk lengannya dan bertingkah manja. "Buka sendiri, Sayang."

"Oke, oke."

Ayah membuka lemari kayu besar itu.

Patung malaikat seukuran manusia pun sontak menarik perhatian para tamu di sekitar.

"Detailnya indah sekali!"

"Hasil karya pematung terkenal memang nggak diragukan lagi!"

Pujian dari para tamu membuat ekspresi Sandra semakin bangga.

Mata Ayah juga tampak kagum. "Sandra, ini pasti karya bersejarah lagi. Aku yang nggak mengerti seni saja bisa merasakan kesedihan seorang gadis muda yang akhirnya terbebas setelah penderitaan besar!"

"Soalnya, memang ada seorang gadis di dalamnya."

Sandra terkekeh.

Wanita berusia empat puluhan itu mengedipkan mata sambil bercanda. "Dia pelacur yang kamu simpan di luar."

"Karena aku tahu kamu menyukainya, aku membuatnya jadi patung."

"Patung ini harus ditaruh di kamar, biar kamu bisa melihatnya setiap malam. Biar kamu nggak repot-repot menyelinap ke luar, oke?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B96926" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B96926
Salin

Ibu Tiri yang Buta Hati

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya