Bab 1

Ayahku menderita gangguan bipolar parah.

Ketika aku berumur delapan tahun, rumahku dirampok dan ibuku dibunuh. Aku kehilangan satu mata ketika melindungi ayahku dari serangan pisau.

Setelah itu, aku menjadi harta paling berharga dan paling dilindungi ayahku.

Menjadi titik paling sensitif yang tidak boleh diusik.

Seorang teman sekelas menertawakan mataku yang buta. Beberapa hari kemudian, termosnya tiba-tiba meledak dan membutakan matanya.

Anak nakal di sekolah mencoba merundungku. Keesokan harinya, dia mengalami patah tulang tangan dan kaki karena kejatuhan benda berat, lalu ditinggalkan di gang terpencil.

Bisnis ayahku berkembang pesat dan metode bisnisnya semakin agresif.

Tapi aku tetap menjadi kesayangannya.

Siapa pun yang berani mengganggu putri Ditya Danaraja akan menghadapi konsekuensi yang tidak terbayangkan.

Dan aku sangat beruntung. Lembaga penelitian medis terkemuka di luar negeri menawarkan cara untuk membantuku melihat kembali.

Pada hari ketika aku melihat kembali, aku menerima undangan pernikahan ayahku.

"Kiara, Ayah punya ibu baru untukmu."

"Saat kamu pulang, akan ada satu orang lagi yang bisa selalu mencintaimu!"

Ayah berkata bahwa ibu baruku itu lembut dan baik hati. Siang malam menanti-nanti ingin bertemu denganku.

Hatiku sangat tersentuh dan aku menyiapkan hadiah untuknya dengan penuh perhatian.

Tapi, dia menyuruh pengawalnya untuk mengikatku di sebuah pabrik kosong.

"Masih muda bukannya belajar, malah ingin merebut suami orang. Dasar murahan!"

"Beraninya kamu mencuri perhiasan milik istri pertama suamiku?"

"Tunggu saja, aku akan mengulitimu!"

Hari ini adalah resepsi pernikahan ayahku.

Saat aku berjalan turun dari pesawat mengenakan gaun tuan putri, aku segera melihat seorang wanita yang memancarkan wibawa luar biasa.

Sandra Kusuma, calon ibu tiriku.

Selama bertahun-tahun, untuk menjaga perasaanku, Ayah tidak pernah mencari istri baru.

Sekarang, dia akhirnya jatuh cinta kepada seseorang lagi. Aku turut berbahagia.

Kudengar, wanita itu adalah seorang pematung terkemuka.

Karya-karyanya sangat indah, sama seperti penampilannya.

Dan kebetulan, dia agak mirip dengan ibuku. Inilah yang membuatmu merasa lebih dekat dengannya sejak pandangan pertama.

Aku tersenyum dan ingin memberikan hadiah yang ada di tanganku kepadanya.

Tapi dia justru menampar wajahku dengan keras. "Pelacur, ternyata kamu memang cantik!"

"Pantas saja kamu berani terang-terangan merayu suami orang!"

Apa yang dia bicarakan?

Kotak hadiah itu hancur diinjak. Aku tertegun dan tubuhku terhuyung-huyung, terjerembap di tanah.

Segera setelah itu, sebuah kaki menendang perutku tanpa ampun.

"Ah! Sandra, apa yang sedang kamu lakukan!"

Aku menjerit kesakitan dan spontan meneriakkan namanya.

Dia tertawa dingin, dengan tangan terlipat di depan dada dan suara menghina. "Lancang sekali kamu sebut-sebut namaku setelah berani menggoda suamiku?"

"Pelakor sekarang punya nyali!"

"Nyalimu lumayan juga hah, pelacur!"

Dia mengangkat kakinya dan menginjakkannya di wajahku seperti ingin meremukkannya.

"Asal kamu tahu, aku akan menikah dengan Ditya beberapa jam lagi!"

"Nggak peduli kamu dandan secantik apa, kamu nggak mungkin bisa merebutnya dariku!"

"Ah! Kamu ...."

Aku berhasil mencakar betisnya dan akhirnya bisa bangkit duduk dan berteriak marah padanya, "Bicara sembarangan!"

"Mana mungkin aku menggoda ayahku sendiri!"

Bab 2

Wanita ini pasti sudah gila.

Sandra menyuruh pengawalnya untuk mendorongku ke tanah dan tak henti-hentinya menendangku dengan wajah kesal. "Dasar perempuan busuk, siapa yang kamu panggil Ayah!"

"Jadi dengan cara ini kamu naik ke ranjangnya!"

Dia lalu mengeluarkan ponselnya.

Suara manjaku terdengar dari ponsel itu. "Nggak, aku ingin memberikan kejutan besar buat Ayah!"

Ayahku tertawa kecil penuh kasih sayang. "Oke, Sayang. Aku tunggu kejutan darimu."

Ini adalah potongan panggilan telepon antara aku dengan ayahku tadi malam.

Aku awalnya berencana untuk muncul tiba-tiba di pesta pernikahan. Aku ingin menunjukkan kesembuhan mataku sebagai kejutan untuknya. Karena itulah aku melarangnya untuk menjemputku di bandara.

Itu saja.

Tak disangka, Sandra salah paham.

Aku ingin menjelaskan. Tapi, seorang sahabat Sandra yang bernama Liliana sudah berkata dulu dengan masam, "Pak Ditya sepertinya terlalu sayang dengan yang satu ini, ya?"

"Aku belum pernah dengar dia panggil "Sayang" ke Kak Sandra!"

Seketika itu juga, wajah Sandra semakin kelam.

Memancarkan keganasan.

"Alah, pasti karena mukanya lebih muda!"

Dia menjambak rambutku dan kukunya menancap di pipiku. "Tapi, memangnya Ditya peduli!"

"Benar sekali!"

"Siapa yang nggak tahu kalau di hati Pak Ditya, selain istri pertamanya dan anak perempuannya, orang yang terpenting baginya adalah Kak Sandra, tunangannya!"

"Kalau mau jadi pelakor ngaca dulu!"

Liliana menimpali.

Mulutku sudah penuh darah, tapi aku tidak bisa membebaskan diri dari tekanan pengawal itu. Aku hanya bisa memalingkan muka sekeras mungkin untuk menghindari tendangannya.

Kalung safir yang ada di balik kerah bajuku terjulur keluar.

"Ini batu permata milik istri pertama suamiku!"

Mata Sandra langsung membelalak.

Kemudian, dia merenggut kalung itu dari leherku dan lanjut menendangku. "Bagus, berani sekali kamu mencuri perhiasan berharga milik istri pertama suamiku!"

"Dasar bodoh!"

"Apa kamu nggak takut mati duluan sebelum bisa menikmati harta curianmu!"

Darah menyembur dari mulutku saat aku terbatuk. "Ini ... peninggalan dari ibuku! Kamu nggak boleh merebutnya!"

Tapi Sandra tidak percaya sama sekali.

Dia mencibir sambil mengagumi batu permata itu dengan tatapan rakus, "Kalau kamu bisa punya harta peninggalan seberharga ini, buat apa kamu jadi simpanan suamiku?"

"Kamu bahkan berani mengutuk mati ibumu sendiri."

"Bisa kubayangkan, ibu dari anak yang nggak punya malu sepertimu pasti selangkangannya juga kotor!"

"Jangan hina ibuku!"

Aku adalah hal paling sensitif bagi ayahku.

Tapi, hal yang paling sensitif bagiku adalah ibuku yang meninggal untuk melindungiku.

Jadi, aku tiba-tiba mengamuk dan melepaskan diri dari cengkeraman pengawal itu, mengulurkan tangan untuk mencekik leher Sandra.

Tapi aku menerima pukulan di bagian belakang kepala.

Rasa sakit yang luar biasa membuat pandanganku menghitam dan aku langsung jatuh ke tanah.

Liliana menyilangkan tangannya dan memarahi pengawal itu. "Lawan gadis kecil saja kalah. Dasar nggak becus!"

"Untung aku sigap, jadi Kak Sandra nggak terluka."

"Kalau terjadi sesuatu padanya, tunggu saja sampai kalian menderita di tangan Pak Ditya!"

Pengawal itu buru-buru mengucapkan terima kasih dan meminta maaf kepada Sandra.

"Sudahlah, aku nggak menyalahkanmu."

Sandra masih agak syok. Setelah memulihkan diri, matanya semakin menyeramkan saat menatapku.

sama sekali

Aku akan menelepon Ayah dan mengatakan padanya, dia tidak boleh menikah dengan wanita ini!

Bab 3

Tapi sesaat berikutnya, tanganku diinjak keras dengan hak sepatu stiletto.

"Masih ingin mengadu ke suamiku?"

Aku menjerit kesakitan. "Aku Kiara Danaraja! Ayahku nggak akan mengampunimu!"

Sandra terdiam sejenak, memicingkan matanya melihatku.

Kukira dia akhirnya menyadari bahwa mataku mirip dengan mata ayahku. "Kalau kamu nggak percaya, telepon ayahku sekarang juga!"

Tak kusangka, dia tertawa seperti sedang melihat orang bodoh.

"Payah sekali. Kalau kamu mau bohong, mikir yang realistis sedikit."

Sambi terus mengerahkan kekuatan pada kakinya, mata Sandra menatapku penuh rasa jijik. "Siapa yang nggak tahu kalau anak perempuan Ditya buta untuk menyelamatkannya!"

"Apa nggak lucu kamu mengaku-ngaku sebagai anaknya dengan dua mata besarmu ini?"

Hatiku tersentak sampai aku tidak bisa bicara.

Tidak pernah kubayangkan bahwa kejutan yang ingin kuberikan kepada ayahku malah membuatku terjebak dalam bahaya.

Tiba-tiba, sebuah kantong hitam menutupi kepalaku.

"Lepaskan aku!"

"Kalian nggak boleh melakukan ini padaku. Aku Kiara Danaraja!"

Aku meronta-ronta sekuat tenaga.

Tapi tidak ada gunanya. Aku tetap dibawa ke bagasi mobil oleh pengawal itu dengan kasar.

Sandra mendesak, "Jalan yang cepat! Aku nggak mau terlambat ke pernikahan."

Mobil itu pun melaju lebih kencang lagi. Tubuhku semakin terhempas ke sana kemari hingga aku benar-benar pingsan.

Aku terbangun kembali disambut ejekan dan tertawaan.

"Sedang apa kalian! Jangan sentuh aku!"

Aku sangat ketakutan, mencoba bangkit dan melarikan diri.

Tawa itu bercampur dengan jeritan-jeritanku.

Liliana masih lanjut mengarahkan mata kameranya padaku.

"Tunggu sebentar, aku mau cari posisi dulu!"

"Ide Kak Sandra bagus sekali. Selain membuat pelacur ini jera, kita juga harus tunjukkan ke Pak Ditya betapa murahnya simpanan kesayangannya ini."

"Biar jangan jajan di luar lagi setelah menikah dengan Kak Sandra!"

"Aku 'kan mau jadi istrinya, tentu saja aku harus menguruskan hal ini untuknya."

Aku bahkan tidak ingat lagi berapa lama aku dilecehkan. Aku bahkan tidak bisa membedakan wajah-wajah mereka lagi.

Aku terbaring tak bergerak di lantai seperti boneka yang rusak.

"Dia ... nggak akan mati karena ini, 'kan?"

Seorang pengawal menatapku dengan khawatir. "Kak Sandra, ini hari pernikahanmu, jangan sampai ada kejadian yang membawa sial. Pak Ditya suka memperhatikan hal-hal seperti ini ...."

Sandra tidak senang mendengarnya dan menatap pengawal itu dengan tajam. "Jangan percaya takhayul!"

Tapi dia lalu tersenyum tipis.

"Tapi kalau dipikir-pikir ... warna merah membawa keberuntungan di hari pernikahan, 'kan?"

Ibu Tiri yang Buta Hati

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya