Bab 2

Namun, Deon tidak menelusurinya lebih jauh.

Elara kemudian berkata lagi, "Senin sore besok kamu ada waktu? Gimana kalau kita pergi ke pengadilan negeri lebih awal saja untuk mengurusnya? Toh dimajukan dua bulan seharusnya nggak masalah, 'kan?"

Setelah tanda tangan, masih harus menunggu satu bulan masa tenang. Jaraknya dengan waktu dia melahirkan juga sudah tidak lama lagi.

Deon menatapnya. Sikap Elara yang tenang membuat tatapannya dipenuhi sorot menyelidik. Dia lantas menarik kembali pandangannya dan berkata, "Aku yang tentukan waktunya."

Elara menunduk, tidak berkata apa-apa lagi. Mobil tiba di rumah lama Keluarga Atmadja.

Nami memang memanggil mereka pulang karena urusan anak di dalam kandungan Elara. Di Keluarga Atmadja, jumlah laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan.

Nami memiliki dua orang putra. Putra sulung bernama Charles, putra kedua bernama Zayden.

Charles memiliki dua anak laki-laki. Anak sulungnya, Yeshua, sudah menikah beberapa tahun lalu dan memiliki sepasang anak kembar laki-laki yang kini berusia lima tahun. Anak keduanya, Reynard, tahun ini berusia 24 tahun dan belum menikah.

Zayden hanya memiliki satu anak, yaitu Deon. Karena itu, saat tahu Elara mengandung anak perempuan, baik Nami maupun Malik sama-sama sangat senang.

"Benar-benar kabar bahagia. Begitu si kecil ini datang, penyakit kakek kalian pun ikut membaik," ujar Nami dengan wajah berseri-seri.

Melihat mertuanya begitu mementingkan anak di dalam perut Elara, Irma pun ikut menimpali, lalu mengatakan beberapa kata baik kepada Elara.

Elara duduk di samping, menanggapi dengan patuh. Namun, melihat tubuhnya yang gemuk, juga sikapnya yang selalu tunduk dan penurut, Irma merasa tidak enak memandangnya. Hanya saja demi menjaga wibawa Nami, dia tidak menunjukkannya.

Nami sedang dalam suasana hati yang baik. Dia menghadiahkan sebuah gelang giok bernilai tinggi kepada Elara. Elara terkejut sekaligus tersanjung. Dia menolak dengan sopan dan tidak berani menerimanya.

Irma pun berkata, "Kalau Nenek kasih, ya terima saja."

Benar-benar kampungan dan memalukan.

Elara pun berhenti menolak dan menerima gelang itu. "Terima kasih, Nek."

"Jaga kandunganmu dengan baik. Lahirkan anak yang sehat dan montok."

Elara tersenyum sambil mengangguk. Dia tahu kebaikan Nami bukan karena dirinya. Awalnya, Elara dan Deon akan tinggal dan makan malam di rumah lama. Namun, Deon menerima sebuah panggilan telepon.

Di matanya tampak senyuman penuh kasih dan kelembutan. Sepertinya mereka memelihara seekor hewan peliharaan. Deon memanggil nama hewan itu dengan lembut. Namanya Sweetie.

Jika menikah dengan perempuan yang dia cintai, mungkin dia akan menjadi seorang ayah yang baik.

"Mm, aku segera ke sana," ucap Deon.

Setelah menutup telepon, Deon berbalik ke balkon, lalu melihat Elara yang berdiri di sana. Elara terkejut, sesaat tidak bereaksi. Saat dia mendongak menatap pria itu, yang terlihat hanyalah wajah dingin tanpa ekspresi.

Dadanya terasa sesak. Dia buru-buru berkata, "Nenek memintamu ke ruang kerja."

Deon tidak mengatakan apa-apa dan langsung melangkah pergi.

Elara berdiri di tempat. Jantungnya terasa ditusuk-tusuk oleh rasa sakit. Entah berapa lama berlalu, barulah dia tersadar kembali.

Deon tiba di ruang kerja. Di sana sudah ada Nami dan Malik.

"Deon, Nenek tahu kamu nggak menyukai Elara. Tapi anak itu sebentar lagi lahir. Secara pribadi, Elara juga sangat baik. Lulusan universitas ternama, berkepribadian lembut. Pernikahanmu membutuhkan kestabilan. Dia sangat cocok untuk mendukung suami dan membesarkan anak," ujar Nami.

Deon diam. Namun, kerutan di dahinya yang menunjukkan ketidaksenangan sudah cukup untuk mengungkapkan perasaannya.

Bagaimana mungkin Nami tidak menyadarinya? Penampilan Elara memang terlalu biasa. Berdiri di samping cucunya, sama sekali tidak serasi.

Malik pun berbicara, "Untuk saat ini, pernikahanmu harus dipertahankan. Kalau memang nggak suka, selama dia nggak melakukan hal yang berlebihan, tahan dulu satu atau dua tahun."

Nami menimpali, "Benar. Sekarang banyak mata yang mengawasi dan menunggu kesalahanmu. Lebih baik tunggu sampai dia merawat anak itu dengan baik. Setelah itu, kalau kamu mau cerai juga belum terlambat."

Deon terdiam sejenak. Wajah tampannya yang dalam membuat orang sulit menebak apa yang sedang dia pikirkan. Akhirnya, dia berkata, "Kakek, Nenek, aku ngerti."

Saat Elara bertemu lagi dengan Nami, Nami berkata kepadanya, "Deon mendadak ada urusan di perusahaan dan sudah pergi lebih dulu. Nanti aku suruh sopir antar kamu pulang."

Elara mengangguk. "Baik."

Sebelum pergi hari itu, Nami mengingatkannya, "Walaupun sedang hamil, kamu tetap harus banyak bergerak dan merawat diri. Dulu saat para menantuku hamil, mereka nggak hanya menemani suami menghadiri acara, tapi juga mengurus rumah tangga. Ada hal-hal yang mudah didapat, tapi untuk mempertahankannya itu nggak mudah."

Elara langsung memahami maksud di balik kata-kata Nami. Menjadi menantu Keluarga Atmadja bukan perkara mudah. Jika ingin mengukuhkan posisinya, dia harus mengubah dirinya sekarang.

Dengan kondisinya seperti ini, dia hanya akan mempermalukan Deon. Dia pernah ingin berubah, berolahraga, yoga, menurunkan berat badan. Namun, tekadnya kurang kuat, sulit bertahan. Tubuh dan pikirannya lelah, tubuhnya justru semakin gemuk.

Apa yang Nami katakan tidak salah. Dia memang tidak boleh terus terpuruk seperti ini. Dia harus bangkit, bukan demi mempertahankan posisinya, melainkan demi dirinya sendiri di masa depan.

"Nek, aku mengerti."

Saat malam tiba, Elara dibuat terkejut. Pria yang pagi harinya membicarakan perceraian dengannya justru pulang ke rumah.

"Kamu ...."

"Buatkan aku semangkuk sup penawar mabuk dan antarkan ke ruang kerja."

Setelah itu, Deon langsung naik ke lantai atas menuju ruang kerja. Elara tersadar dan pergi ke dapur, membuatkan semangkuk sup penawar mabuk, lalu mengantarkannya ke ruang kerja.

Pria itu sedang membaca dokumen di tangannya. Alis dan matanya tajam, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin dan sulit didekati.

Elara tidak mengganggunya dan berbalik meninggalkan ruang kerja. Meskipun dia pulang, mereka tetap tidur terpisah. Pria itu tidur di kamar utama lantai dua, sedangkan dia tidur di kamar tamu lantai satu.

Keesokan harinya, karena Deon ada di rumah, para pengasuh menyiapkan sarapan yang sangat mewah. Dia duduk di kursi utama, tetapi tidak melihat Elara.

Biasanya saat dia berada di rumah, Elara akan menyetrika dan menyiapkan pakaian yang akan dia kenakan keesokan hari, serta membuatkan sarapan sendiri. Benar-benar istri yang patuh dan bertanggung jawab.

Namun pagi ini, tidak ada pakaian yang sudah disetrika dan sarapan pun disiapkan oleh pengasuh.

"Dia di mana?" tanya Deon dengan tidak sabar.

Laksmi langsung mengeluh, "Pagi-pagi sudah kami panggil, tapi dia tetap malas bangun. Setiap hari harus diantar makan ke kamar, sikapnya juga dingin pada kami. Ditanya mau makan apa, dia diam saja."

"Kami bukan cenayang yang langsung tahu apa yang mau dia makan. Dia juga cuma hamil. Dulu saat Nyonya mengandung Tuan, Nyonya juga melayani suami dengan sepenuh hati. Giliran dia, malah cuma tahu menikmati hidup."

Deon mengerutkan kening. "Pergi panggil dia bangun."

"Baik."

Sebenarnya Elara sudah bangun sejak lama. Dia hanya menunggu Deon pergi.

Saat itu, Laksmi langsung mendorong pintu masuk. Melihat Elara duduk di sofa, dia berkata dengan nada jijik, "Benar-benar nyonya muda ya? Menunggu orang datang mengundangmu?"

Elara mengangkat kepala dan membalas dengan dingin, "Kalau bukan aku nyonya mudanya, masa kamu?"

Selama beberapa bulan ini, Elara selalu menunduk dan diam. Laksmi sama sekali tidak menyangka dia akan membalas.

"Kalau ke depannya kalian masih nggak tahu batas antara atasan dan bawahan, jangan salahkan aku melapor ke Nenek Nami tentang apa saja yang kalian lakukan selama ini."

Lagi pula, dia akan segera bercerai dengan Deon. Dia merasa tidak perlu menahan diri lagi. Dua bulan tersisa, untuk apa dia terus menelan amarah?

Mata Laksmi membelalak. "Kamu ...."

Kemarin Nyonya Atmadja, Irma, meneleponnya dan meminta mereka merawat Elara dengan baik. Meskipun yang dikandung adalah anak perempuan, ini tetap satu-satunya anak perempuan generasi ketiga Keluarga Atmadja.

Nasib Elara memang bagus. Anak perempuan yang dikandungnya bisa mendapat perhatian sebesar itu dari Nami.

Laksmi hanya bisa menahan amarahnya. "Tuan sudah menunggumu di ruang makan."

Elara agak terkejut. Dia pun pergi ke ruang makan.

Deon sedang makan. Dia mengangkat pandangan dan melirik Elara. Dia mengenakan baju rajut putih panjang, kainnya tertarik oleh tubuhnya yang membengkak hingga berubah bentuk. Langkah kakinya ringan dan tidak stabil, perutnya sangat besar seolah-olah mengandung beberapa anak.

Elara menyadari tatapan pria itu dan duduk di tempat yang jauh darinya dengan sadar diri. Dia mendengar suara Deon yang datar. "Bibi Laksmi dan yang lainnya adalah karyawan lama dari rumah lama. Kamu nggak bisa menuntut mereka selalu menyesuaikan diri denganmu. Kamu hanya hamil, bukan nggak bisa bergerak."

Hanya hamil? Benar. Anak yang datang tanpa rencana ini, baginya mungkin tidak berarti apa-apa.

Teguran yang tiba-tiba ini pasti karena Laksmi mengadu padanya. Ini pun bukan pertama kalinya.

"Kalau mereka keberatan menyesuaikan diri denganku, lebih baik biarkan mereka kembali ke rumah lama. Aku bisa merawat diriku sendiri kok," ujar Elara dengan nada sangat tenang sambil mengaduk bubur di mangkuknya.

Bagaimanapun, dia masak sendiri, mencuci sendiri, membersihkan kamar sendiri. Hanya saat Deon ada di rumah, mereka berpura-pura bekerja.

Deon mengernyit. Elara tahu itu tanda kekesalannya. Baik dalam pekerjaan maupun kehidupan, Deon adalah orang yang sangat dominan dan tidak suka dibantah.

"Aku mengingatkanmu, bukan meminta pendapatmu."

Elara menunduk dan tidak berkata apa-apa lagi. Melihat dirinya yang tampak lesu dan tidak bersemangat, wajah Deon semakin muram.

Kemudian, dia memerintahkan Laksmi dan yang lain untuk ke depannya membiarkan Elara mengurusi urusannya sendiri dan mereka tidak perlu melayaninya.

Tangan Elara yang memegang sendok tanpa sadar menegang.

Setelah sarapan, Deon pergi. Sementara itu, Elara pergi ke Universitas Arkham. Dia tiba di kantor Arizo.

Di balik meja kerja, seorang pria muda berhidung mancung duduk dengan mengenakan setelan jas rapi. Kacamata tanpa bingkai yang menghiasi wajahnya menambah kesan dewasa nan tenang.

Arizo baru berusia 29 tahun. Dia adalah profesor tetap termuda di Fakultas Keuangan Universitas Arkham, seorang tokoh genius yang namanya sangat disegani di dunia keuangan.

Elara mengangkat tangan dan mengetuk pintu.

Bab 3

Saat Arizo mengangkat kepala dan melihat perempuan yang berdiri di depan pintu, dia sempat tertegun sejenak, tidak langsung mengenalinya. Baru setelah Elara membuka mulut dan menyapa "Profesor Arizo", Arizo menahan ekspresinya, lalu berkata, "Kamu sudah datang."

Elara melepas masker dan masuk ke kantor. "Profesor Arizo, lama nggak bertemu."

Arizo tersenyum lembut. "Lama nggak bertemu. Hampir saja aku nggak mengenalimu."

Elara tersenyum getir dan berkata, "Dengan kondisiku sekarang ini, aku sendiri saja merasa malu menemuimu."

Arizo bangkit, berjalan mengitari meja kerjanya, lalu berkata, "Saat hamil, bentuk tubuh berubah itu wajar. Setelah melahirkan nanti akan membaik. Duduklah."

Elara duduk di sofa.

Arizo menuangkan segelas air hangat dan menyerahkannya kepadanya. "Hangatkan badan."

Elara menerimanya. "Terima kasih."

Arizo melirik perutnya yang membuncit dan bertanya, "Sudah berapa bulan?"

Elara menjawab, "Enam bulan satu minggu."

Arizo berkata, "Kalau begitu, saat mulai kuliah akhir Januari tahun depan, kamu baru sampai waktu perkiraan melahirkan."

Elara memohon, "Aku ingin minta bantuan Profesor. Apa aku bisa menunda waktu masuk kuliah?"

Melahirkan adalah hal yang tidak bisa dihindari, tetapi dia benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan ini.

Arizo bertanya dengan serius, "Kenapa ingin pergi?"

Elara menunduk dan berkata, "Setelah anak ini lahir, Deon berencana menceraikanku. Hubungan keliru ini juga nggak ingin kulanjutkan lagi. Aku ingin memulai kembali hidupku sendiri."

Enam bulan itu tidak bisa dibilang panjang, juga tidak pendek. Namun baginya, rasanya seperti menjalani seumur hidup.

Alis Arizo tak kuasa berkerut. Gadis yang dulu ceria dan manis itu telah berubah drastis dalam waktu singkat, cukup untuk membayangkan betapa berat penderitaan fisik dan batin yang telah dia alami.

"Aku sangat lega kamu akhirnya bisa berpikir jernih dan bangkit kembali. Kamu dan Deon memang nggak cocok. Ke depannya, kamu pasti bisa bertemu orang yang benar-benar mencintaimu."

Elara menunduk dan mengangguk pelan. Dulu, Arizo sebenarnya tidak setuju Elara bekerja di sisi Deon sebagai asisten, tetapi Elara bersikeras. Pada akhirnya, dia yang menderita sendiri.

Tiba-tiba, dia bertanya lagi, "Di mata Profesor Arizo, sebenarnya Deon itu orang seperti apa?"

Arizo terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, "Seseorang yang demi mencapai tujuan, nggak segan menggunakan cara apa pun, mengutamakan kepentingan di atas segalanya. Orang seperti itu kemungkinan besar nggak punya cinta."

"Begitu ya?"

Namun, kelembutan Deon pada gadis itu tidak mungkin palsu. Mungkin hanya jika mencintai setengah mati barulah dia mau merendahkan diri seperti itu. Memang hanya perempuan cantik yang pantas berdiri di sisinya.

Elara tidak bertanya lagi.

"Karena kamu sudah memutuskan, nanti aku akan membantumu mengajukan penundaan masuk kuliah."

"Terima kasih, Profesor."

Arizo memintanya mengisi satu formulir permohonan. Setelah Elara selesai mengisinya ....

"Setelah anak itu lahir, dia akan tinggal di rumah Keluarga Atmadja?" tanya Arizo tiba-tiba.

Elara tersenyum pahit. Sekalipun dia ingin membawa anak itu pergi, hal itu mustahil. Dia hanya bisa merasa bersalah pada anak tersebut. "Keluarga Atmadja seharusnya akan merawatnya dengan baik."

Arizo tidak bertanya lebih lanjut. "Kebetulan aku butuh satu asisten. Cukup satu bulan saja. Mau coba?"

Elara langsung menyetujuinya tanpa ragu. "Baik."

Sejak dia hamil, pihak Deon memindahkannya ke posisi yang nyaris tak berarti di bagian sekretariat. Dalam semalam, dia jatuh dari posisi asisten presdir menjadi figur tak terlihat. Semua usahanya seolah-olah lenyap menjadi gelembung.

Kini, dia memang membutuhkan pekerjaan baru untuk mengalihkan perhatian dan membuat hidupnya kembali berjalan. Kebetulan, ini bisa dijadikan persiapan sebelum berangkat studi lanjut.

Karena hari itu dia memang sudah mengambil cuti, Elara pun tinggal dan mulai bekerja sebagai asisten profesor. Dia sendiri adalah murid Arizo, ditambah sebelumnya pernah bekerja intens di sisi Deon. Meskipun sempat terpuruk, dia segera beradaptasi dan menangani pekerjaan dengan sangat lancar.

Saat itu, Elara seperti menemukan kembali dirinya yang dulu, menemukan kembali nilai keberadaan dirinya yang sesungguhnya.

Seperti kata Arizo, dia memang seharusnya bersinar di dunia kerja. Cinta tidak seharusnya menjadi satu-satunya pusat kehidupan.

Malam itu, Deon tidak pulang ke rumah, seperti biasanya. Dia memang hanya sesekali pulang. Kali ini, Elara sudah tidak peduli lagi.

Keesokan harinya, dia sudah menyiapkan surat pengunduran diri lebih awal.

Deon mengelola industri keuangan di bawah Grup Atmadja, termasuk bank dan perusahaan dana investasi. Di arena penuh intrik dan kepentingan seperti ini, dia mampu mewarisi industri inti Grup Atmadja dengan kekuatannya sendiri, bahkan terus melakukan ekspansi dan akuisisi.

Itu cukup membuktikan bahwa dia bukan hanya memiliki otak dan kemampuan luar biasa, tetapi juga hati yang dingin dan kejam.

Elara tiba di perusahaan dan kebetulan berpapasan dengan Deon yang baru turun dari mobil. Posturnya tegap, setelan jas rapi, tampan dan berwibawa. Kekayaan dan status membuatnya memancarkan pesona kedewasaan yang tak terbatas.

"Pak Deon." Para karyawan menunduk, memberi salam dengan hormat.

Elara tersadar dan buru-buru menunduk, lalu mundur dua langkah.

Pria itu seolah-olah tidak melihatnya sama sekali dan melangkah masuk ke dalam perusahaan.

Elara menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Shireen. Shireen adalah sekretaris Deon. Dulu, dia adalah bawahan Elara. Kini, roda nasib berputar. Elara justru menjadi bawahannya.

Saat Elara tiba-tiba diturunkan jabatannya dulu, seluruh departemen terkejut. Elara baru lulus kuliah dan langsung menjadi asisten presdir.

Posisi asisten tidak hanya menuntut kemampuan, tetapi juga penampilan. Sementara Elara, baik wajah maupun bentuk tubuhnya, sangat biasa saja. Namun, dia tetap terpilih, cukup untuk membuktikan bahwa kemampuannya mampu menutupi kekurangannya secara fisik. Presdir yang terkenal tegas bahkan pernah beberapa kali memujinya.

Namun, Shireen sangat paham. Di matanya, Elara ingin naik kelas lewat ranjang. Sehebat apa pun kemampuannya, tetap bukan orang baik. Karena itulah, Deon sangat membencinya.

Shireen melirik surat pengunduran diri itu, lalu pandangannya menyapu perut hamil Elara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek.

"Orang yang bermartabat itu tahu diri. Kalau nggak ada kerjaan, sering-seringlah bercermin. Jangan mengira dengan punya anak kamu bisa memanjat ke pohon yang tinggi. Lihat dulu Keluarga Atmadja itu tempat apa dan kamu sendiri itu siapa."

Soal dirinya dan Deon yang sudah mendaftarkan pernikahan, tidak ada satu pun orang di perusahaan yang mengetahuinya.

Bab 4

"Analisis laporan keuangan harus selesai sebelum jam pulang siang."

Elara kembali ke meja kerjanya. Meskipun dia dipindahkan ke posisi pegawai kecil di departemen sekretaris, Shireen justru memberinya banyak tugas yang sebenarnya bukan bagian dari pekerjaannya. Semua itu pun dia terima satu per satu.

Dia terus bekerja tanpa mengeluh di perusahaan ini, sejatinya hanya bentuk penipuan diri sendiri. Deon sama sekali tidak akan meliriknya sedikit pun.

Setelah Elara menyelesaikan analisis laporan itu, dia menyerahkan versi digital beserta cetakan kertasnya kepada Shireen, lalu memesan makanan pesan antar.

Meskipun perusahaan memiliki kantin, selama ini dia selalu membawa bekal sendiri. Dia tidak ingin pergi ke tempat ramai, tidak ingin terus-menerus menjadi bahan tatapan orang lain, tidak ingin berurusan dengan siapa pun. Dia hanya ingin makan sendirian dengan tenang.

Karena pagi ini tidak sempat menyiapkan makan siang, dia pun terpaksa memesan makanan.

Saat menunggu pesanan datang, beberapa rekan kerja yang sudah makan siang masuk ke kantor sambil mengobrol dengan penuh semangat.

"Pacar Pak Deon masih sangat muda ya? Mahasiswi, 'kan?"

"Sepertinya begitu. Cantiknya luar biasa, seperti boneka."

"Tatapan Pak Deon ke dia benar-benar lembut. Tak disangka beliau yang selalu serius punya sisi selembut itu. Versi nyata presdir dominan dan istri muda!"

Kedua rekan itu terus mengobrol sambil masuk ke kantor, lalu menyadari keberadaan Elara di mejanya. Dia duduk di sana, kaku, tak bergerak, seperti patung penjaga gunung.

Sejak dipindahkan ke departemen sekretaris, selain urusan pekerjaan, dia nyaris tidak pernah berkomunikasi dengan siapa pun. Kini, dia bahkan semakin menyendiri, setiap hari memakai masker seolah-olah wajahnya tak pantas dilihat orang.

Sulit membayangkan bahwa setengah tahun lalu dia masih merupakan asisten presdir yang sangat disegani.

Setelah menerima telepon dari kurir makanan, Elara pun bangkit. Saat dia turun ke lantai bawah untuk mengambil pesanannya, dia kebetulan melihat dua staf hotel membawa hidangan dan bertanya ke meja resepsionis. Resepsionis menggesekkan kartu lift khusus presdir untuk mereka.

Elara melihat sebotol anggur merah di tangan salah satu staf. Harga satu botol itu sekitar 4 miliar. Bagi Deon, itu hanyalah uang yang bisa dia hasilkan dalam waktu kurang dari satu menit.

Elara membawa pesanannya dan kembali ke atas.

Pukul 2 siang, Shireen menghampirinya dan berkata, "Pak Deon mencarimu."

Jantung Elara berdegup kencang. Dalam hatinya, muncul firasat buruk yang tak bisa dijelaskan.

Firasat itu benar adanya. Begitu Elara tiba di kantor presdir, tekanan rendah langsung menyergapnya. Dia berjalan ke depan meja kerja dan menyapa pelan, "Pak Deon."

Saat Deon mengangkat pandangan ke arahnya, wajah tampannya tampak dingin dan muram. Dia mengayunkan tangan, melempar berkas di tangannya tepat ke arah wajah Elara. "Ini yang kamu sebut laporan analisis?"

Kertas A4 yang tajam itu menggesek pipi Elara. Dia merasakan perih sesaat. Berkas-berkas berserakan di kakinya. Itulah laporan yang dia kerjakan pagi tadi.

Dengan satu tangan menopang perutnya, Elara membungkuk dengan susah payah untuk memungut berkas-berkas itu.

Sepasang mata hitam pria itu menatap dingin gerakannya yang lambat saat dia berjongkok sambil menahan perut.

Elara meneliti laporan di tangannya dan langsung menyadari beberapa angka yang tidak sesuai. Dia membela diri. "Pak Deon, ini bukan laporan yang kubuat."

"Cukup. Aku nggak ingin mendengar pembelaanmu."

Elara menggenggam erat berkas itu.

Bukan Deon tidak tahu kemampuan Elara. Bukan pula dia tidak ingin mendengar penjelasan. Dia hanya memilih menganggap Elara memang pantas disalahkan.

Dibenci sampai sejauh ini oleh pria yang begitu dicintai, sungguh membuatnya merasa menyedihkan sekaligus konyol.

Elara menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dan mengumpulkan keberanian. "Aku menyimpan salinannya. Aku bisa langsung mengirimkannya untuk Pak Deon periksa. Setelah itu, Pak Deon boleh memarahiku sesuka hati."

Mata hitam Deon menyipit, kekesalan jelas terpancar.

Saraf Elara menegang. Di dalam hatinya, dia selalu menyimpan rasa takut terhadap Deon. Takut pada otoritasnya, terutama saat wajahnya sedingin ini. Biasanya, dia sama sekali tidak berani membantah.

Namun saat ini, dia memaksa dirinya untuk tenang. Lagi pula, mereka akan segera bercerai. Dia juga akan menuruti keinginan Deon, tak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat ini. Dia tak akan berharap apa pun dari Deon lagi. Lalu, apa lagi yang perlu ditakuti?

"Kamu merasa sangat terzalimi?" Suara pria itu dingin seperti serpihan es, sarat ejekan.

Elara menatap balik mata hitam yang tajam itu. Ujung jarinya menancap dalam ke telapak tangan. Suaranya terdengar lebih berat. "Pak Deon menuduhku tanpa bertanya sebabnya. Apakah aku nggak pantas membuktikan diriku sendiri?"

Wajah Deon sepenuhnya suram. "Itu memang pantas kamu terima."

Hati Elara terasa seperti diremas kuat. Rasa sakit menjalar hebat, wajahnya seketika pucat.

Saat itu juga, pintu ruang istirahat terbuka. Seorang gadis muda keluar dengan mengenakan gaun tidur sutra bertali tipis berwarna pink. Rambut panjangnya hitam berkilau, kulitnya putih bersinar, wajahnya begitu indah hingga sulit mengalihkan pandangan.

"Kak Deon!" Suara gadis itu lembut seperti angin musim semi, halus dan menenangkan.

Akhirnya, Elara melihat jelas wajah gadis itu. Memang secantik itu, sampai membuat orang merasa rendah diri.

Dia baru melirik sekilas ketika mendengar bentakan dingin pria itu. "Keluar!"

Elara menarik kembali pandangannya, menekan gejolak emosinya, lalu berbalik dan berjalan ke luar.

Begitu keluar dari kantor, dia mendengar suara lembut gadis itu menenangkan Deon dan pria itu pun segera menjadi tenang.

Elara mendongak, menahan air mata agar tidak jatuh. Dia pergi ke sudut tangga yang sepi. Dengan satu tangan berpegangan pada pagar, emosinya akhirnya runtuh. Air mata mengalir deras, dadanya terasa seperti diremas, perutnya pun bergejolak.

Menyingkirkan pria yang telah dia cintai selama delapan tahun dari lubuk hati terdalamnya tak ubahnya menguliti daging dan mengorek tulang. Namun, tak masalah. Semua akan membaik. Dia akan benar-benar melupakan Deon.

Entah berapa lama berlalu, akhirnya Elara menenangkan diri. Saat naik kembali menuju mejanya, dia berpapasan dengan gadis itu.

Gadis itu mengenakan busana bermerek yang dipesan khusus, tampak sempurna dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas saja sudah jelas, dia adalah gadis yang dibesarkan dengan kemewahan dan kasih sayang.

Mikie mengantarnya secara pribadi. Mikie adalah asisten khusus Deon.

Melihat Elara, gadis itu tersenyum dan melangkah mendekatinya, lalu berhenti. Dengan suara lembut, dia berkata, "Sudah nggak apa-apa. Kak Deon nggak akan menyalahkanmu lagi."

Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah mutiara dari tasnya, menggenggam tangan Elara, lalu meletakkan mutiara itu di telapak tangannya. "Ini untukmu. Jangan bersedih lagi. Luka di wajahmu jangan lupa diobati. Kalau wajah perempuan punya bekas luka, itu nggak bagus lho."

Betapa cantik dan baiknya gadis ini. Dibandingkan gadis yang memancarkan pesona ini, Elara merasa dirinya seperti badut yang hidup di dunia gelap.

Melihat Elara tidak bereaksi sama sekali, Mikie mengerutkan kening dan mengingatkan dengan dingin, "Nggak tahu berterima kasih pada Bu Doreen?"

Ternyata namanya Doreen.

Doreen Adhisti menarik kembali tangannya dan berkata, "Nggak apa-apa. Ayo kita pergi."

Keduanya pun pergi.

Elara berdiri di tempat, menatap mutiara putih berkilau biru perak di telapak tangannya. Teksturnya sempurna tanpa cela, sebersih gadis itu sendiri.

Hanya saja, dia tidak tahu apakah gadis itu mengetahui fakta bahwa Deon sudah menikah.

Setelah kembali ke mejanya, Elara mencetak ulang dokumen versi asli dan menyerahkannya ke hadapan Shireen. Saat melihatnya, tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah Shireen, yang ada justru kepuasan.

"Kamu sudah lihat jelas, 'kan? Seperti apa gadis yang pantas bersanding dengan Pak Deon."

Elara membanting berkas itu ke depan Shireen dengan keras. "Aku nggak pantas, kamu juga nggak pantas. Jadi, kamu hanya bisa memainkan cara-cara murahan seperti ini? Seumur hidupmu pun kamu nggak akan punya masa depan. Sudah kepala tiga, cepat cari orang untuk nikah. Berhentilah bermimpi di siang bolong."

Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya