Bab 1

Saat usia kehamilannya memasuki 25 minggu, Elara memergoki suaminya berselingkuh saat pemeriksaan kehamilan.

Tubuhnya gemuk, penampilannya jelek. Dia dengan susah payah menopang perutnya. Dia bahkan dipanggil "tante" oleh selingkuhan muda dan cantik suaminya, serta ditolak dan dicampakkan suaminya di depan umum.

Namun, pertemuan pertamanya dengan Deon dulu juga pernah menjadi sesuatu yang begitu gemilang dan dipuja banyak orang.

Karena menganggap Elara naik posisi dengan cara merayu di ranjang, Deon mengambil inisiatif mengajukan perceraian kepadanya.

Saat itu juga, hati Elara benar-benar mati. Delapan tahun mencintai dan berkorban secara diam-diam, dari masa kuliah hingga masuk ke dunia kerja, semuanya tidak ada artinya.

Elara pun melahirkan anaknya, menandatangani surat perjanjian cerai, lalu pergi.

....

Lima tahun kemudian, dia telah menjadi wanita karier yang memukau dengan kekayaan bernilai ratusan miliar. Dia cantik memikat dan penuh percaya diri, berbakat luar biasa, serta dikelilingi banyak pengejar.

Namun, pria yang dulu mengajukan perceraian justru tak pernah benar-benar mengurus akta cerai dengannya.

Elara pun mengajukan gugatan ke pengadilan.

Deon yang dulu mencampakkan Elara malah terus menempel dengannya, menghadapi siapa pun yang mendekati Elara. Satu per satu pria itu mendapat pembalasan dendam dari Deon.

Hingga Elara menggandeng tangan pria lain dan secara terbuka mengumumkan pertunangannya, Deon menekan tubuh wanita itu ke sudut dinding dan kehilangan kendali. "Elara, kamu mau nikah dengan pria lain? Jangan mimpi."

Saat usia kehamilannya memasuki 25 minggu, Elara Wiratama memergoki suaminya berselingkuh di rumah sakit.

Seorang pria bertubuh tinggi dan tampan yang mengenakan mantel hitam melindungi seorang gadis yang lembut dan cantik dalam pelukannya. Gadis itu mengenakan mantel bulu rubah berwarna putih, pipinya merona, wajah mungilnya terbalut syal wol yang lembut, raut wajahnya halus bak boneka porselen.

Elara menggenggam erat hasil pemeriksaan kehamilannya hingga jari-jarinya memutih. Angin dingin menerpa pipinya, tetapi yang lebih dingin dari tubuhnya adalah rasa nyeri yang mencengkeram jantungnya.

Deon Atmadja melihatnya dari kejauhan. Ekspresinya datar, tanpa sedikit pun rasa malu karena ketahuan berselingkuh. Dia sendiri yang membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Sikapnya lembut dan penuh perhatian.

Seorang penguasa yang selalu dingin dan berada di puncak, ternyata juga memiliki sisi hangat dan penuh perlindungan seperti ini.

Gadis itu tampaknya menyadari keberadaan Elara. Gerakannya terhenti sejenak. Dia menatap Elara dengan bingung, lalu menoleh ke arah Deon dan bertanya, "Kenapa tante itu terus menatapmu? Kak Deon, kamu kenal dia?"

Angin dingin menderu di telinga. Elara tidak tahu apa lagi yang dikatakan gadis itu kepada Deon. Namun, dari gerakan bibirnya, Elara bisa memastikan satu kata, yaitu "tante".

Tante? Itu sebutan untuk dirinya. Elara tersenyum pahit di dalam hati. Usianya baru 24 tahun. Namun, tubuhnya memang sedikit berisi, penampilannya juga terlihat biasa saja. Dia terbungkus jaket bulu hitam dan topi rajut hitam. Tubuhnya membengkak menjelang akhir kehamilan, sementara wajahnya tampak letih.

Dia memang terlihat seperti perempuan berusia 30 atau 40 tahun. Jauh dari bandingan seorang gadis muda yang cantik dan berseri-seri.

Deon melindungi gadis itu masuk ke mobil. Elara berdiri kaku di tempat, menatap mobil yang menjauh.

Dia dan Deon menikah karena anak. Pernikahan yang dipaksakan ini, bagi pria seistimewa Deon, adalah noda dalam hidupnya. Anak di dalam perutnya pun adalah alat yang dia gunakan untuk menekan Deon. Dia sangat membencinya.

Elara telah diam-diam mencintainya selama delapan tahun. Namun, dia tahu betul bahwa dirinya sama sekali tidak pantas untuk Deon. Karena itu, dia terus belajar dengan keras, menjadikannya sebagai tujuan hidup, mengikuti jejak langkahnya.

Akhirnya, dia berhasil menjadi asisten Deon, bisa berdiri di sisinya dari jarak dekat.

Malam itu bukan hanya menghancurkan Deon, tetapi juga merobek seluruh harga diri Elara dan kebanggaannya di hadapan Deon dengan kejam.

Di tak akan pernah lupa tatapan jijik Deon setelah kejadian itu, seolah-olah dirinya telah menyentuh sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Karena itu, hanya gadis secantik dan seindah itu yang pantas berdiri di sisinya.

Setetes air mata hangat meluncur dari sudut matanya. Tak lama kemudian, perut bawahnya terasa nyeri berdenyut. Dia buru-buru menopang perutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar pada pilar batu di sampingnya.

Seorang perawat yang lewat melihat kondisinya dan segera menghampiri, membantu menopangnya dan membawanya ke ruang periksa.

Elara hanya mengalami gangguan janin akibat gejolak emosi. Setelah kondisinya membaik, dia meninggalkan rumah sakit dan mengemudi sendiri kembali ke Shallow Bay dengan tubuh dan hati yang kelelahan.

Di sanalah vila milik Deon berada. Nyonya Tua Keluarga Atmadja, Nami, telah mengatur agar seorang pengasuh berpengalaman dari rumah lama datang untuk merawatnya.

Saat ini, dua pengasuh yang ditugaskan merawatnya justru duduk di ruang tamu yang hangat seperti pemilik rumah, menikmati makanan sambil tertawa dan mengobrol.

Salah satu pengasuh mendengar suara di pintu dan menoleh. Melihat Elara kembali, salah satu dari mereka bangkit dan bertanya, "Bagaimana hasil pemeriksaan kehamilannya?"

Nada angkuh dan sikap meremehkan. Mengaku sebagai pengasuh yang merawatnya, tetapi lebih mirip pengawas yang menganggap diri sebagai tuan rumah.

Elara hanya melirik dingin ke arah pengasuh itu, tidak menjawab, dan langsung berjalan menuju tangga.

Pengasuh itu mengerutkan kening dengan tidak puas. "Aku bertanya padamu!"

Elara tetap tidak menggubris.

Menatap punggung Elara, pengasuh itu berdecak kesal. "Seperti babi gendut saja. Benar-benar mengira dirinya Nyonya Muda Keluarga Atmadja. Sok amat."

Elara kembali ke kamar tidur dan duduk di tepi ranjang. Hatinya hampa. Baik Deon maupun Keluarga Atmadja tidak pernah memandangnya sebagai menantu.

Nami yang memutuskan agar dia dan Deon mendaftarkan pernikahan mereka. Itu pun karena Tuan Tua Keluarga Atmadja, Malik, sedang sakit parah. Dia kebetulan hamil dan datang ke rumah mereka. Demi membawa keberuntungan bagi Malik, pernikahan mereka akhirnya diatur.

Entah kebetulan atau benar-benar membawa hoki, kondisi Malik perlahan membaik. Setelah itu, sikap Nami terhadapnya berubah sedikit.

Namun, anggota Keluarga Atmadja lainnya tetap memandangnya dengan penuh rasa tidak hormat.

Hari ini, dia ke rumah sakit juga untuk memastikan jenis kelamin bayi di dalam kandungannya. Seorang anak perempuan. Pihak Keluarga Atmadja seharusnya sudah menerima pemberitahuan dari rumah sakit.

Saat itu, ponselnya bergetar. Elara tersadar dari lamunannya. Dia mengambil ponsel dari dalam tas. Melihat nama penelepon, dia tertegun sejenak. Itu panggilan dari dosen pembimbingnya.

Dia mengangkat telepon. "Profesor Arizo."

"Ada satu kuota untuk melanjutkan studi doktoral di Universitas Stafurd. Kamu mau mencobanya?"

Mendengar kata-kata Arizo, Elara terdiam lama.

Menyadari dia tak merespons, Arizo melanjutkan, "Kalau nggak mau ...."

"Aku mau." Elara tersadar dan langsung menjawab dengan tegas.

Kali ini, Arizo justru terdiam. Seberapa keras usaha Elara agar pantas berdiri di sisi Deon, dia tahu betul. Kini dia sudah menikah dan hamil, bagaimana mungkin dia rela pergi begitu saja? Soal kuota yang tersisa ini, dia hanya mencoba menanyakannya.

"Profesor Arizo," panggil Elara.

Arizo berkata, "Besok pagi jam 10 datang ke kantorku."

"Baik."

Arizo tidak mengatakan apa-apa lagi dan menutup telepon.

Elara meletakkan ponselnya dan mengembuskan napas panjang. Tiba-tiba, dia merasa seperti awan gelap yang tersibak dan cahaya bulan kembali terlihat. Dia memang harus sadar.

Pria itu tidak mencintainya. Anak yang dia lahirkan pun tidak akan menjadi ikatan mereka, apalagi membuat Deon menoleh dan memandangnya lebih lama.

Tak lama kemudian, dia menerima telepon dari Nami yang memintanya kembali ke rumah lama. Elara menyetujuinya. Kemungkinan besar karena urusan anak dalam kandungannya.

Kini, dia merasa lebih bersemangat. Dia pun masuk ke kamar mandi dan mandi dengan tenang.

Duduk di depan meja rias, Elara menatap dirinya di cermin. Wajah bulat yang bengkak, lingkar hitam di bawah mata, kantong mata, mata yang cekung, serta noda yang memenuhi pipinya.

Siapa yang tidak akan merasa jijik melihat wajah seburuk ini? Dengan kondisi seperti ini, bagaimana dia pantas berdiri di sisi Deon yang begitu sempurna?

Dia berdandan, lalu mengganti jaketnya dengan jaket bulu warna pink dan mengenakan topi bulat putih. Penampilannya tampak jauh lebih segar. Awalnya, dia berniat menyetir sendiri ke rumah lama.

Namun, baru saja keluar, dia menerima telepon dari Deon. Suara pria itu terdengar datar. "Keluar."

Elara terkejut sejenak. Mungkin Nami yang meminta Deon pulang ke rumah lama. Dia menjawab, "Baik."

Begitu keluar dari vila, mobil Rolls-Royce Deon sudah terparkir di depan. Dua jam sebelumnya, mobil inilah yang menjemput dan mengantar perempuan lain.

Elara menarik napas dalam-dalam, melangkah maju, membuka pintu, dan masuk. Begitu duduk, dia mencium aroma parfum lembut, aroma manis khas gadis muda. Di dalam mobil juga terdapat boneka beruang kecil berwarna pink, jelas barang kesukaan perempuan.

Saat mengangkat pandangan, dia melihat sebuah ikat rambut di pergelangan tangan pria itu. Itu adalah cara seorang perempuan menandai kepemilikan.

Deon pasti sangat menyukai gadis itu. Elara menekan rasa perih di hatinya, duduk dengan tenang dan mengenakan sabuk pengaman.

Mobil melaju perlahan. Elara menatap keluar jendela, diam tanpa berbicara. Dulu, setiap ada kesempatan berdua dengannya, dia akan sangat menghargainya. Dia akan berusaha mendekatkan diri, bahkan jika dicemooh, dia tetap tak bosan mencari topik pembicaraan.

Karena dia dengan naif berkhayal bahwa mereka sudah menjadi suami istri, memiliki anak, dan masih punya waktu yang panjang di masa depan. Selama dia menjadi istri dan ibu yang baik, mungkin suatu hari Deon akan menoleh dan memandangnya.

Namun pada akhirnya, semua itu hanyalah kebohongan yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.

Pria itu sama sekali tidak peduli dengan suasana hatinya. Seperti biasa, dingin dan tidak acuh. Dia bertanya, "Anaknya laki-laki atau perempuan?"

Elara menjawab, "Perempuan."

Mendengarnya, tidak ada perubahan sedikit pun di wajah tampan Deon. Dia hanya berkata datar, "Setelah anak itu lahir, kita cerai."

Kata-kata itu terlontar, jari-jari Elara menegang. Jantungnya terasa seperti diremas erat, sementara napasnya menjadi sesak.

Pernikahan ini memang tidak mungkin bertahan lama. Meskipun sudah menduganya sejak awal, saat kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut Deon, hati Elara tetap terasa begitu sakit.

Dia menggigit bibirnya dan menjawab, "Baik."

Deon menoleh dan meliriknya sekilas, seakan-akan agak terkejut dengan persetujuannya yang begitu cepat.

Bab 2

Namun, Deon tidak menelusurinya lebih jauh.

Elara kemudian berkata lagi, "Senin sore besok kamu ada waktu? Gimana kalau kita pergi ke pengadilan negeri lebih awal saja untuk mengurusnya? Toh dimajukan dua bulan seharusnya nggak masalah, 'kan?"

Setelah tanda tangan, masih harus menunggu satu bulan masa tenang. Jaraknya dengan waktu dia melahirkan juga sudah tidak lama lagi.

Deon menatapnya. Sikap Elara yang tenang membuat tatapannya dipenuhi sorot menyelidik. Dia lantas menarik kembali pandangannya dan berkata, "Aku yang tentukan waktunya."

Elara menunduk, tidak berkata apa-apa lagi. Mobil tiba di rumah lama Keluarga Atmadja.

Nami memang memanggil mereka pulang karena urusan anak di dalam kandungan Elara. Di Keluarga Atmadja, jumlah laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan.

Nami memiliki dua orang putra. Putra sulung bernama Charles, putra kedua bernama Zayden.

Charles memiliki dua anak laki-laki. Anak sulungnya, Yeshua, sudah menikah beberapa tahun lalu dan memiliki sepasang anak kembar laki-laki yang kini berusia lima tahun. Anak keduanya, Reynard, tahun ini berusia 24 tahun dan belum menikah.

Zayden hanya memiliki satu anak, yaitu Deon. Karena itu, saat tahu Elara mengandung anak perempuan, baik Nami maupun Malik sama-sama sangat senang.

"Benar-benar kabar bahagia. Begitu si kecil ini datang, penyakit kakek kalian pun ikut membaik," ujar Nami dengan wajah berseri-seri.

Melihat mertuanya begitu mementingkan anak di dalam perut Elara, Irma pun ikut menimpali, lalu mengatakan beberapa kata baik kepada Elara.

Elara duduk di samping, menanggapi dengan patuh. Namun, melihat tubuhnya yang gemuk, juga sikapnya yang selalu tunduk dan penurut, Irma merasa tidak enak memandangnya. Hanya saja demi menjaga wibawa Nami, dia tidak menunjukkannya.

Nami sedang dalam suasana hati yang baik. Dia menghadiahkan sebuah gelang giok bernilai tinggi kepada Elara. Elara terkejut sekaligus tersanjung. Dia menolak dengan sopan dan tidak berani menerimanya.

Irma pun berkata, "Kalau Nenek kasih, ya terima saja."

Benar-benar kampungan dan memalukan.

Elara pun berhenti menolak dan menerima gelang itu. "Terima kasih, Nek."

"Jaga kandunganmu dengan baik. Lahirkan anak yang sehat dan montok."

Elara tersenyum sambil mengangguk. Dia tahu kebaikan Nami bukan karena dirinya. Awalnya, Elara dan Deon akan tinggal dan makan malam di rumah lama. Namun, Deon menerima sebuah panggilan telepon.

Di matanya tampak senyuman penuh kasih dan kelembutan. Sepertinya mereka memelihara seekor hewan peliharaan. Deon memanggil nama hewan itu dengan lembut. Namanya Sweetie.

Jika menikah dengan perempuan yang dia cintai, mungkin dia akan menjadi seorang ayah yang baik.

"Mm, aku segera ke sana," ucap Deon.

Setelah menutup telepon, Deon berbalik ke balkon, lalu melihat Elara yang berdiri di sana. Elara terkejut, sesaat tidak bereaksi. Saat dia mendongak menatap pria itu, yang terlihat hanyalah wajah dingin tanpa ekspresi.

Dadanya terasa sesak. Dia buru-buru berkata, "Nenek memintamu ke ruang kerja."

Deon tidak mengatakan apa-apa dan langsung melangkah pergi.

Elara berdiri di tempat. Jantungnya terasa ditusuk-tusuk oleh rasa sakit. Entah berapa lama berlalu, barulah dia tersadar kembali.

Deon tiba di ruang kerja. Di sana sudah ada Nami dan Malik.

"Deon, Nenek tahu kamu nggak menyukai Elara. Tapi anak itu sebentar lagi lahir. Secara pribadi, Elara juga sangat baik. Lulusan universitas ternama, berkepribadian lembut. Pernikahanmu membutuhkan kestabilan. Dia sangat cocok untuk mendukung suami dan membesarkan anak," ujar Nami.

Deon diam. Namun, kerutan di dahinya yang menunjukkan ketidaksenangan sudah cukup untuk mengungkapkan perasaannya.

Bagaimana mungkin Nami tidak menyadarinya? Penampilan Elara memang terlalu biasa. Berdiri di samping cucunya, sama sekali tidak serasi.

Malik pun berbicara, "Untuk saat ini, pernikahanmu harus dipertahankan. Kalau memang nggak suka, selama dia nggak melakukan hal yang berlebihan, tahan dulu satu atau dua tahun."

Nami menimpali, "Benar. Sekarang banyak mata yang mengawasi dan menunggu kesalahanmu. Lebih baik tunggu sampai dia merawat anak itu dengan baik. Setelah itu, kalau kamu mau cerai juga belum terlambat."

Deon terdiam sejenak. Wajah tampannya yang dalam membuat orang sulit menebak apa yang sedang dia pikirkan. Akhirnya, dia berkata, "Kakek, Nenek, aku ngerti."

Saat Elara bertemu lagi dengan Nami, Nami berkata kepadanya, "Deon mendadak ada urusan di perusahaan dan sudah pergi lebih dulu. Nanti aku suruh sopir antar kamu pulang."

Elara mengangguk. "Baik."

Sebelum pergi hari itu, Nami mengingatkannya, "Walaupun sedang hamil, kamu tetap harus banyak bergerak dan merawat diri. Dulu saat para menantuku hamil, mereka nggak hanya menemani suami menghadiri acara, tapi juga mengurus rumah tangga. Ada hal-hal yang mudah didapat, tapi untuk mempertahankannya itu nggak mudah."

Elara langsung memahami maksud di balik kata-kata Nami. Menjadi menantu Keluarga Atmadja bukan perkara mudah. Jika ingin mengukuhkan posisinya, dia harus mengubah dirinya sekarang.

Dengan kondisinya seperti ini, dia hanya akan mempermalukan Deon. Dia pernah ingin berubah, berolahraga, yoga, menurunkan berat badan. Namun, tekadnya kurang kuat, sulit bertahan. Tubuh dan pikirannya lelah, tubuhnya justru semakin gemuk.

Apa yang Nami katakan tidak salah. Dia memang tidak boleh terus terpuruk seperti ini. Dia harus bangkit, bukan demi mempertahankan posisinya, melainkan demi dirinya sendiri di masa depan.

"Nek, aku mengerti."

Saat malam tiba, Elara dibuat terkejut. Pria yang pagi harinya membicarakan perceraian dengannya justru pulang ke rumah.

"Kamu ...."

"Buatkan aku semangkuk sup penawar mabuk dan antarkan ke ruang kerja."

Setelah itu, Deon langsung naik ke lantai atas menuju ruang kerja. Elara tersadar dan pergi ke dapur, membuatkan semangkuk sup penawar mabuk, lalu mengantarkannya ke ruang kerja.

Pria itu sedang membaca dokumen di tangannya. Alis dan matanya tajam, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin dan sulit didekati.

Elara tidak mengganggunya dan berbalik meninggalkan ruang kerja. Meskipun dia pulang, mereka tetap tidur terpisah. Pria itu tidur di kamar utama lantai dua, sedangkan dia tidur di kamar tamu lantai satu.

Keesokan harinya, karena Deon ada di rumah, para pengasuh menyiapkan sarapan yang sangat mewah. Dia duduk di kursi utama, tetapi tidak melihat Elara.

Biasanya saat dia berada di rumah, Elara akan menyetrika dan menyiapkan pakaian yang akan dia kenakan keesokan hari, serta membuatkan sarapan sendiri. Benar-benar istri yang patuh dan bertanggung jawab.

Namun pagi ini, tidak ada pakaian yang sudah disetrika dan sarapan pun disiapkan oleh pengasuh.

"Dia di mana?" tanya Deon dengan tidak sabar.

Laksmi langsung mengeluh, "Pagi-pagi sudah kami panggil, tapi dia tetap malas bangun. Setiap hari harus diantar makan ke kamar, sikapnya juga dingin pada kami. Ditanya mau makan apa, dia diam saja."

"Kami bukan cenayang yang langsung tahu apa yang mau dia makan. Dia juga cuma hamil. Dulu saat Nyonya mengandung Tuan, Nyonya juga melayani suami dengan sepenuh hati. Giliran dia, malah cuma tahu menikmati hidup."

Deon mengerutkan kening. "Pergi panggil dia bangun."

"Baik."

Sebenarnya Elara sudah bangun sejak lama. Dia hanya menunggu Deon pergi.

Saat itu, Laksmi langsung mendorong pintu masuk. Melihat Elara duduk di sofa, dia berkata dengan nada jijik, "Benar-benar nyonya muda ya? Menunggu orang datang mengundangmu?"

Elara mengangkat kepala dan membalas dengan dingin, "Kalau bukan aku nyonya mudanya, masa kamu?"

Selama beberapa bulan ini, Elara selalu menunduk dan diam. Laksmi sama sekali tidak menyangka dia akan membalas.

"Kalau ke depannya kalian masih nggak tahu batas antara atasan dan bawahan, jangan salahkan aku melapor ke Nenek Nami tentang apa saja yang kalian lakukan selama ini."

Lagi pula, dia akan segera bercerai dengan Deon. Dia merasa tidak perlu menahan diri lagi. Dua bulan tersisa, untuk apa dia terus menelan amarah?

Mata Laksmi membelalak. "Kamu ...."

Kemarin Nyonya Atmadja, Irma, meneleponnya dan meminta mereka merawat Elara dengan baik. Meskipun yang dikandung adalah anak perempuan, ini tetap satu-satunya anak perempuan generasi ketiga Keluarga Atmadja.

Nasib Elara memang bagus. Anak perempuan yang dikandungnya bisa mendapat perhatian sebesar itu dari Nami.

Laksmi hanya bisa menahan amarahnya. "Tuan sudah menunggumu di ruang makan."

Elara agak terkejut. Dia pun pergi ke ruang makan.

Deon sedang makan. Dia mengangkat pandangan dan melirik Elara. Dia mengenakan baju rajut putih panjang, kainnya tertarik oleh tubuhnya yang membengkak hingga berubah bentuk. Langkah kakinya ringan dan tidak stabil, perutnya sangat besar seolah-olah mengandung beberapa anak.

Elara menyadari tatapan pria itu dan duduk di tempat yang jauh darinya dengan sadar diri. Dia mendengar suara Deon yang datar. "Bibi Laksmi dan yang lainnya adalah karyawan lama dari rumah lama. Kamu nggak bisa menuntut mereka selalu menyesuaikan diri denganmu. Kamu hanya hamil, bukan nggak bisa bergerak."

Hanya hamil? Benar. Anak yang datang tanpa rencana ini, baginya mungkin tidak berarti apa-apa.

Teguran yang tiba-tiba ini pasti karena Laksmi mengadu padanya. Ini pun bukan pertama kalinya.

"Kalau mereka keberatan menyesuaikan diri denganku, lebih baik biarkan mereka kembali ke rumah lama. Aku bisa merawat diriku sendiri kok," ujar Elara dengan nada sangat tenang sambil mengaduk bubur di mangkuknya.

Bagaimanapun, dia masak sendiri, mencuci sendiri, membersihkan kamar sendiri. Hanya saat Deon ada di rumah, mereka berpura-pura bekerja.

Deon mengernyit. Elara tahu itu tanda kekesalannya. Baik dalam pekerjaan maupun kehidupan, Deon adalah orang yang sangat dominan dan tidak suka dibantah.

"Aku mengingatkanmu, bukan meminta pendapatmu."

Elara menunduk dan tidak berkata apa-apa lagi. Melihat dirinya yang tampak lesu dan tidak bersemangat, wajah Deon semakin muram.

Kemudian, dia memerintahkan Laksmi dan yang lain untuk ke depannya membiarkan Elara mengurusi urusannya sendiri dan mereka tidak perlu melayaninya.

Tangan Elara yang memegang sendok tanpa sadar menegang.

Setelah sarapan, Deon pergi. Sementara itu, Elara pergi ke Universitas Arkham. Dia tiba di kantor Arizo.

Di balik meja kerja, seorang pria muda berhidung mancung duduk dengan mengenakan setelan jas rapi. Kacamata tanpa bingkai yang menghiasi wajahnya menambah kesan dewasa nan tenang.

Arizo baru berusia 29 tahun. Dia adalah profesor tetap termuda di Fakultas Keuangan Universitas Arkham, seorang tokoh genius yang namanya sangat disegani di dunia keuangan.

Elara mengangkat tangan dan mengetuk pintu.

Bab 3

Saat Arizo mengangkat kepala dan melihat perempuan yang berdiri di depan pintu, dia sempat tertegun sejenak, tidak langsung mengenalinya. Baru setelah Elara membuka mulut dan menyapa "Profesor Arizo", Arizo menahan ekspresinya, lalu berkata, "Kamu sudah datang."

Elara melepas masker dan masuk ke kantor. "Profesor Arizo, lama nggak bertemu."

Arizo tersenyum lembut. "Lama nggak bertemu. Hampir saja aku nggak mengenalimu."

Elara tersenyum getir dan berkata, "Dengan kondisiku sekarang ini, aku sendiri saja merasa malu menemuimu."

Arizo bangkit, berjalan mengitari meja kerjanya, lalu berkata, "Saat hamil, bentuk tubuh berubah itu wajar. Setelah melahirkan nanti akan membaik. Duduklah."

Elara duduk di sofa.

Arizo menuangkan segelas air hangat dan menyerahkannya kepadanya. "Hangatkan badan."

Elara menerimanya. "Terima kasih."

Arizo melirik perutnya yang membuncit dan bertanya, "Sudah berapa bulan?"

Elara menjawab, "Enam bulan satu minggu."

Arizo berkata, "Kalau begitu, saat mulai kuliah akhir Januari tahun depan, kamu baru sampai waktu perkiraan melahirkan."

Elara memohon, "Aku ingin minta bantuan Profesor. Apa aku bisa menunda waktu masuk kuliah?"

Melahirkan adalah hal yang tidak bisa dihindari, tetapi dia benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan ini.

Arizo bertanya dengan serius, "Kenapa ingin pergi?"

Elara menunduk dan berkata, "Setelah anak ini lahir, Deon berencana menceraikanku. Hubungan keliru ini juga nggak ingin kulanjutkan lagi. Aku ingin memulai kembali hidupku sendiri."

Enam bulan itu tidak bisa dibilang panjang, juga tidak pendek. Namun baginya, rasanya seperti menjalani seumur hidup.

Alis Arizo tak kuasa berkerut. Gadis yang dulu ceria dan manis itu telah berubah drastis dalam waktu singkat, cukup untuk membayangkan betapa berat penderitaan fisik dan batin yang telah dia alami.

"Aku sangat lega kamu akhirnya bisa berpikir jernih dan bangkit kembali. Kamu dan Deon memang nggak cocok. Ke depannya, kamu pasti bisa bertemu orang yang benar-benar mencintaimu."

Elara menunduk dan mengangguk pelan. Dulu, Arizo sebenarnya tidak setuju Elara bekerja di sisi Deon sebagai asisten, tetapi Elara bersikeras. Pada akhirnya, dia yang menderita sendiri.

Tiba-tiba, dia bertanya lagi, "Di mata Profesor Arizo, sebenarnya Deon itu orang seperti apa?"

Arizo terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, "Seseorang yang demi mencapai tujuan, nggak segan menggunakan cara apa pun, mengutamakan kepentingan di atas segalanya. Orang seperti itu kemungkinan besar nggak punya cinta."

"Begitu ya?"

Namun, kelembutan Deon pada gadis itu tidak mungkin palsu. Mungkin hanya jika mencintai setengah mati barulah dia mau merendahkan diri seperti itu. Memang hanya perempuan cantik yang pantas berdiri di sisinya.

Elara tidak bertanya lagi.

"Karena kamu sudah memutuskan, nanti aku akan membantumu mengajukan penundaan masuk kuliah."

"Terima kasih, Profesor."

Arizo memintanya mengisi satu formulir permohonan. Setelah Elara selesai mengisinya ....

"Setelah anak itu lahir, dia akan tinggal di rumah Keluarga Atmadja?" tanya Arizo tiba-tiba.

Elara tersenyum pahit. Sekalipun dia ingin membawa anak itu pergi, hal itu mustahil. Dia hanya bisa merasa bersalah pada anak tersebut. "Keluarga Atmadja seharusnya akan merawatnya dengan baik."

Arizo tidak bertanya lebih lanjut. "Kebetulan aku butuh satu asisten. Cukup satu bulan saja. Mau coba?"

Elara langsung menyetujuinya tanpa ragu. "Baik."

Sejak dia hamil, pihak Deon memindahkannya ke posisi yang nyaris tak berarti di bagian sekretariat. Dalam semalam, dia jatuh dari posisi asisten presdir menjadi figur tak terlihat. Semua usahanya seolah-olah lenyap menjadi gelembung.

Kini, dia memang membutuhkan pekerjaan baru untuk mengalihkan perhatian dan membuat hidupnya kembali berjalan. Kebetulan, ini bisa dijadikan persiapan sebelum berangkat studi lanjut.

Karena hari itu dia memang sudah mengambil cuti, Elara pun tinggal dan mulai bekerja sebagai asisten profesor. Dia sendiri adalah murid Arizo, ditambah sebelumnya pernah bekerja intens di sisi Deon. Meskipun sempat terpuruk, dia segera beradaptasi dan menangani pekerjaan dengan sangat lancar.

Saat itu, Elara seperti menemukan kembali dirinya yang dulu, menemukan kembali nilai keberadaan dirinya yang sesungguhnya.

Seperti kata Arizo, dia memang seharusnya bersinar di dunia kerja. Cinta tidak seharusnya menjadi satu-satunya pusat kehidupan.

Malam itu, Deon tidak pulang ke rumah, seperti biasanya. Dia memang hanya sesekali pulang. Kali ini, Elara sudah tidak peduli lagi.

Keesokan harinya, dia sudah menyiapkan surat pengunduran diri lebih awal.

Deon mengelola industri keuangan di bawah Grup Atmadja, termasuk bank dan perusahaan dana investasi. Di arena penuh intrik dan kepentingan seperti ini, dia mampu mewarisi industri inti Grup Atmadja dengan kekuatannya sendiri, bahkan terus melakukan ekspansi dan akuisisi.

Itu cukup membuktikan bahwa dia bukan hanya memiliki otak dan kemampuan luar biasa, tetapi juga hati yang dingin dan kejam.

Elara tiba di perusahaan dan kebetulan berpapasan dengan Deon yang baru turun dari mobil. Posturnya tegap, setelan jas rapi, tampan dan berwibawa. Kekayaan dan status membuatnya memancarkan pesona kedewasaan yang tak terbatas.

"Pak Deon." Para karyawan menunduk, memberi salam dengan hormat.

Elara tersadar dan buru-buru menunduk, lalu mundur dua langkah.

Pria itu seolah-olah tidak melihatnya sama sekali dan melangkah masuk ke dalam perusahaan.

Elara menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Shireen. Shireen adalah sekretaris Deon. Dulu, dia adalah bawahan Elara. Kini, roda nasib berputar. Elara justru menjadi bawahannya.

Saat Elara tiba-tiba diturunkan jabatannya dulu, seluruh departemen terkejut. Elara baru lulus kuliah dan langsung menjadi asisten presdir.

Posisi asisten tidak hanya menuntut kemampuan, tetapi juga penampilan. Sementara Elara, baik wajah maupun bentuk tubuhnya, sangat biasa saja. Namun, dia tetap terpilih, cukup untuk membuktikan bahwa kemampuannya mampu menutupi kekurangannya secara fisik. Presdir yang terkenal tegas bahkan pernah beberapa kali memujinya.

Namun, Shireen sangat paham. Di matanya, Elara ingin naik kelas lewat ranjang. Sehebat apa pun kemampuannya, tetap bukan orang baik. Karena itulah, Deon sangat membencinya.

Shireen melirik surat pengunduran diri itu, lalu pandangannya menyapu perut hamil Elara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek.

"Orang yang bermartabat itu tahu diri. Kalau nggak ada kerjaan, sering-seringlah bercermin. Jangan mengira dengan punya anak kamu bisa memanjat ke pohon yang tinggi. Lihat dulu Keluarga Atmadja itu tempat apa dan kamu sendiri itu siapa."

Soal dirinya dan Deon yang sudah mendaftarkan pernikahan, tidak ada satu pun orang di perusahaan yang mengetahuinya.

Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya