Logo
Hello, My Secret Boyfriend
Hello, My Secret Boyfriend

Hello, My Secret Boyfriend

40 Bab
Tamat
Dalam Hello, My Secret Boyfriend, Daniar bangkit dari pengkhianatan melalui hubungan rahasia dengan @heroisme34. Di tengah ambisi Sabda di kampus, ia harus memilih arah hidupnya. Simak romance novel ini sebagai pilihan fiction books terbaik tentang keberanian dan cinta masa muda.
Bab 1 dari Hello, My Secret Boyfriend

Mahasiswa, dengan segala keistimewaannya, didamba oleh masyarakat untuk berbuat ‘sesuatu’. Mereka terpilih lewat beberapa seleksi. Mereka telah direkrut untuk beberapa fungsi, salah satunya adalah agent of change yang berarti agen perubahan.

Seorang anak laki-laki yang tengah termenung di pelataran perpustakaan kampus juga sedang memikirkan, apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa sepertinya?

“Udah, nggak usah dipikir!” seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

Anak tersebut menoleh ke belakang. “Aku benci rapat sampai dini hari seperti ini.”

“Aku tahu,” jawabnya kemudian mengambil kartu identitasnya yang jatuh.

“Aku ngantuk banget, Am. Sedangkan nanti ada acara kementrian pas daftar ulang.”

Liam mengangguk paham. “Ayo ke kedaiku dulu. Aku bikinin kopi. Barusan dapet dari Flores.” Ia menunjukkan sebuah kantong yang bisa dipastikan berisi biji kopi.

“Itu yang Bajawa atau Manggarai?” tanyanya lagi sambil membolak-balikkan kantung tersebut yang tidak memuat keterangan apapun.

“Bajawa. Ini kan pesenanmu, Sab. Kamu nggak ingat?” tanya Liam kembali.

Sabda yang daritadi hanya melamun karena merasa capek dan kesal karena rapat semalaman menggali ingatan yang belum juga ia temukan. “Aku nggak inget.”

“Pekan lalu kamu protes kenapa latte-mu pakai kopi Java Raung. Nggak inget juga?”

Sabda menyerah. Ia benar-benar lelah. Ia tidak ingin melakukan sesuatu yang membuatnya mengeluarkan tenaga, termasuk mengingat-ingat apa yang pernah ia keluhkan. Padahal, ia sering melakukan protes terhadap banyak hal.

“Udah, ayo kamu tidur di kedaiku aja, daripada di sini. Kamu juga nggak sanggup buat pulang ke kosan kan?”

Sabda setuju. Ia mengikuti Liam dari belakang dengan mata yang berusaha untuk terbuka. Ibarat baterai ponsel, ia sudah berada di sisa lima persen untuk bertahan.

Liam membuka pintu kedainya, mengganti tulisan yang ada di pintu dari ‘Closed’ ke ‘Open’. Kedainya tidak besar, hanya seluas tiga puluh meter pesegi, dan berada di dalam gedung kantin milik kampus yang menjadi tempat studi bagi Sabda. Liam mengamati kedai-kedai di sekitarnya, beberap sudah siap beroperasi. Sebelum menyiapkan peralatan kopi untuk digunakan, Liam mampir ke kedai sebelah untuk membeli dua porsi bubur ayam.

“Bubur ayam dua ya, Ning.”

Ningning, penjual itu, menggangguk dan segera membuatkan pesanan Liam. “Satu buat Bang Sabda ta, Mas Am?” tanya Ningning yang seringkali memanggil Liam dengan Mas Am.

“Iya.”

“Kayaknya tadi malam rame banget di sekre BEM,” Kata Ningning.

“Loh, ngapain ke sana kamu, Ning?”

“Nganter cireng ke sana, Mas. Kayaknya Bang Sabda gontok-gontokan sama orang-orang di sana.”

Liam mengangguk. Seakan-akan telah memahami bagaimana situasi ketika Sabda ‘gontok-gontokan’ dengan orang- orang di sana.

“Ini mas. Udah lunas ya mas,” kata Ningning memberikan dua bungkus bubur ayam kepada Liam.

“Lunas apaan, Ning?”

“Kan kemarin saya pinjem uang ke Mas Am. Nggak inget?”

Liam masih mencari ingatan itu. “Aku lupa, Ning. Tapi makasih, ya.”

Ningning mengangguk dan tersenyum.

Liam kembali dan mendapati Sabda tertidur di balik meja kasir. Bubur ayam yang baru saja dibelinya disimpan di sebuah lemari yang tak jauh dari sana.

“Kamu habis dari mana, Am?” tanya Sabda yang masih dengan mata tertutup.

“Tidur aja kenapa sih? Bukannya nanti jam sembilan pembukaan pendaftaran maba?”

“Aku nggak sanggup. Aku ngantuk banget.”

Liam pun membuka lemarinya dan memberikan sebungkus bubur ayam kepada Sabda. “Makan dulu aja deh. Siapa tahu setelah itu nggak ngantuk.”

“Kenapa kamu buka sepagi ini, Am?”

“Kan ada acara daftar ulang? Lagian, nanti jam delapan aku harus ngirim kopi ke divisi keuangan.”

“Owalah,” kata Sabda kemudian membuka bungkusan dari Liam.

“Kata Ningning kamu debat lagi sama anak-anak?”

Sabda mengangguk.

“Aku mau nanya kenapa, tapi pasti setelah ini kamu bakalan cerita.”

Sabda tersenyum sinis. “Mereka tetap mau adakan ospek malam lagi.”

“Lagi?”

“Bukannya beberapa jurusan udah nggak mau adakan ospek malam lagi?” Liam penasaran, sampai-sampai ia menghentikan pekerjaannya.

“Sini lah, makan sama aku. Aku ceritain kronologinya.”

Liam menurut. Ia pun membuka bungkusan satu lagi dan mengambil di sebelah Sabda.

“Karena pak presbem yang memutuskan, mau gimana lagi?”

“Tapi, presbem nggak dengerin pendapat ormaju yang lain? Bukannya arsitek dan kimia udah nggak mau ngadain lagi?” Liam pun merasa kesal dengan pemimpin BEM yang biasa disebut presbem itu.

“Yap. Kamu tahu kan di belakang presbem ada siapa?”

“Apa sih gunanya ospek malam kayak gitu?” Liam semakin kesal, karena hal ini sudah terjadi berulang kali.

“Nggak penting pakai maksimal. Nggak penting banget. Mereka bilang supaya besok ketika jadi alumni bisa saling membantu, ikatan menjadi kuat, blabla. Seperti itu,” kata Sabda sembari memberikan suapan terakhir bubur ayamnya.

“Tapi kan sudah ada korban,” kata Liam menyesali apa yang telah diputuskan walaupun ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena bukan mahasiswa di sana lagi.

“Tapi ormaju bahkan BEM tutup mata. Mereka cari aman.”

“Haruskah orang rektorat mengetahuinya?”

“Entahlah.” Sabda telah selesai makan dan berjalan menuju meja kasir yang berbaris macam-macam alat untuk menyeduh kopi. “Aku minta kopi.”

“Bayar pakai apa?” tanya Liam menatap garang kepada Sabda. Sedangkan Sabda mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.

Liam tertawa melihat apa yang dilakukan Sabda. “Aku Cuma minta satu shot espresso aja,” kata Sabda sambil memanaskan mesin espresso yang ada di kedai Liam.

“Terserah kamu lah.” Liam menyelesaikan makanannya.

Kedai milik Liam yang diberi nama ‘Kedai Kale’ itu dipenuhi oleh aroma dan suara kopi yang sedang digiling. Bagi Liam dan Sabda, aroma biji kopi yang baru saja dipecah adalah surga. Di sela-sela tangan Sabda yang sibuk membuat espresso untuk dirinya, suara notifikasi ponsel milik Liam tidak berhenti berdering.

“Itu suara apaan sih, Am?” tanya Sabda yang mulai jengkel karena dirasa berisik.

“Ini?” Liam menunjukkan ponselnya yang menyala. “Aku lagi ngedate.”

“Ha?” mulut Sabda menganga cukup lebar. “Kupikir kamu nggak suka cewek.”

“Sialan,” Kata Liam.

“Kamu beneran pacaran, Am?” tanya Sabda masih tidak percaya.

“Ya, nggak lah. Aku Cuma chatting aja sama cewek di grup pecinta kopi ini,” kata Liam menegaskan.

“Kamu nggak mau nyoba? Nyari pacar lewat daring kayak gini mungkin nggak butuh ketemu dan nggak berat di ongkos.”

“Hmm. Aku nggak pingin dulu.”

“Tapi kamu masuk dulu di grup ini. Bahasannya tentang kopi lumayan banyak. Bisa bikin kamu refresh dari kejenuhan politik kampus,” saran Liam yang ternyata menggoyahkan hati Sabda.

“Apa nama grupnya?”

“Love at The First Cup,” kata Liam. “Beberapa orang ada yang jadian di sini. Grup Diskusi berubah jadi grup cari jodoh. Hahaha.”

Sabda mengambil ponselnya dan memeriksa grup yang diceritakan oleh Liam. Setelah masuk, ia membaca postingan-postingan yang ada di sana.

“Espressomu keburu dingin kalau ngga segera diminum,” ujar Liam kemudian menyiapkan pesanan kopi untuk para karyawan di divisi keuangan.

**

Sabda baru saja menyelesaikan gilirannya untuk menjaga stan kementrian di acara pendaftaran mahasiswa baru. Dia segera menuju Kedai Kale untuk menemui Liam, lebih tepatnya mencari acara untuk menghabiskan waktu karena di tempat kosnya dia kesepian.

“Kamu mau kopi juga nggak?” tanya Liam.

“Mau lah. Latte dua shot tanpa gula.”

Belum sempat Liam membuat kopi untuk Sabda, seorang gadis dengan rambut sebahu datang ke Kedai Kale. “Halo, apakah Caramel Latte ada?” tanyanya.

“Ada, kak.”

“Saya pesan satu.”

“Atas nama siapa?”

“Daniar.”

Liam menuliskan nama ‘Sabda’ dan ‘Daniar’ pada dua gelas kopi yang berbeda. Namun, Sabda yang berada di sebelah gadis itu tersenyum sinis. Dasar, cewek-cewek suka kopi dengan gula apa gunanya? pikirnya.

“Baik, ini kak kopinya. Terima kasih.”

Gadis itu keluar dari Kedai Kale dan Sabda menerima kopinya. “Sepertinya aku mau ambil rencana selanjutnya. Tapi, aku benar-benar harus kuat,” kata Sabda.

“Yang-- kamu jadi presbem?” tanya Liam memastikan.

Sabda mengangguk. “Sebelum ada korban lagi di kemudian.”

“Raya gimana?”

“Raya yang nyaranin, bahkan,” kata Sabda sembari meneguk kopi susu hangatnya. Belum sampai tiga detik, Sabda memuntahkan apa yang baru saja ia minum. “Ini manis banget!” Sabda mengeluarkan lidahnya seakan-akan tak sanggup menahan rasa manis yang ia terima.

Liam mengernyitkan dahinya. Ia memeriksa gelas kopi milik Sabda. Namun, yang tertulis di gelas Sabda adalah 'Daniar'.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Antara Kau, Aku & Papimu
Antara Kau, Aku & Papimu
Dalam novel Antara Kau, Aku & Papimu, Elena terjebak rencana licik Tiara yang justru membuatnya mengandung anak Herlambang, ayah sambung kekasihnya. Romance novel ini menyajikan konflik harga diri dan rahasia kelam di balik hubungan modern novel yang mengancam masa depan Erlangga.
Bos, Jangan! Nanti Ketahuan
Bos, Jangan! Nanti Ketahuan
Dalam novel romantis miliarder Bos, Jangan! Nanti Ketahuan, Selena yang terkekang oleh suaminya mendapat tawaran kerja dari sang bos besar, Haris. Baca novel online gratis ini yang mengisahkan jebakan hubungan terlarang demi ambisi dan gairah yang mengancam rumah tangga mereka.
Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku
Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku
Dalam Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku, Kinan terjebak ketertarikan berbahaya dengan Liam, suami kakaknya sendiri. Romance novel ini menguji loyalitas keluarga saat godaan muncul di Jakarta. Simak kisah modern novel penuh risiko ini hanya di platform read novels online terbaik.
Little Wife
Little Wife
Dalam novel Little Wife, Elsa Putri harus menghadapi realitas pernikahan di usia 18 tahun dengan pria yang lebih tua. Konflik batin memuncak saat ia hamil dan menyadari suaminya dimiliki orang lain. Baca romance novel ini untuk melihat perjuangan Elsa di kategori modern novel yang emosional.
Manis di Bibir, Pahit di Takdir
Manis di Bibir, Pahit di Takdir
Dalam novel romantis Manis di Bibir, Pahit di Takdir, Viona menghadapi pengkhianatan berulang dari suaminya, Devan, yang bersekutu dengan keluarga mafia demi membalas dendam. Menolak terus mengalah atas nama cinta, Viona memilih pergi. Baca novel online ini untuk mengikuti perjuangannya.
My Rental Woman
My Rental Woman
Dalam My Rental Woman, Alana terpaksa menjadi istri sewaan Bernando demi biaya pengobatan ibunya. Dokter duda ini menyembunyikan misteri kematian istrinya yang berwajah mirip Alana. Simak kisah romance novel ini di webnovel, sebuah modern novel penuh rahasia dan pilihan hidup sulit.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Istri CEO Bekerja Sebagai Pembersih
Istri CEO Bekerja Sebagai Pembersih
Dia secara keliru menikahi seorang pria asing karena mengira pria itu adalah kencan butanya. Tanpa dia sadari, pemulung yang ditemuinya sebelumnya sebenarnya adalah neneknya.
Cinta Tanpa Balasan
Cinta Tanpa Balasan
Orang tua dulu manjain aku seperti permata, tapi gara-gara nurunin pendingin ruangan satu derajat buat jaga adik, aku yang baru lima tahun dikunci di kulkas super kuat. Mereka cuma perhatian ke adik, sampai lupa sama aku, sampai tetangga nekat buka pintu dan selamatin aku yang sekarat. Mereka sujud nangis minta ampun, aku cuma dingin lihat kalian, lebih menusuk dari kulkas itu.
Si Miskin yang Kini Dimanja Sang Bos
Si Miskin yang Kini Dimanja Sang Bos
Vivi menyelamatkan CEO kaya, tapi justru hamil dan kakinya patah. Setelah melahirkan prematur, ia berjuang sendirian membesarkan anaknya—tanpa tahu, pria itu sedang mencarinya untuk memberikan seluruh cinta.
OMG, Tunangan Tiriku adalah Ayah Anakku
OMG, Tunangan Tiriku adalah Ayah Anakku
Tujuh tahun lalu, wanita pewaris yang asli dijebak oleh ibu tiri dan saudara tirinya untuk tidur dengan seorang pria. Setelah itu, mengusir wanita itu karena telah membuat reputasi keluarga buruk. Tujuh tahun kemudian, dia kembali dengan membawa tiga anak pintarnya untuk balas dendam. Hanya saja sang wanita merasa tunangan saudara tirinya itu sangat familier, bahkan ketiga anaknya merasa pria itu adalah ayah mereka. Jadi, siapa ayah mereka?
Isi Hati Istriku Terbuka untukku!
Isi Hati Istriku Terbuka untukku!
Tasya, jenius dari Institut Masa Depan, meninggal dan terbangun sebagai tunangan Ardian, sang antagonis di era republik. Ia berniat hidup damai dan mundur saat selir kesembilan naik. Tapi di malam pertama, Ardian malah bisa dengar suara hatinya… tentang selir kesembilan yang tak pernah ada!
Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita
Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita
Saat mengantar putrinya ke rumah sakit, Emma sama sekali tak menyangka akan bertemu Nate, mantan pacarnya. Hubungan mereka dulu berawal dari paksaan keponakan Nate. Meski mengandung anak kembar, Emma terpaksa pergi dan hanya mampu menyelamatkan putri mereka. Tujuh tahun kemudian, takdir telah mempertemukan mereka kembali. Nate yang segera mengenalinya, bersumpah menebus semua kesalahan serta memperjuangkan Emma kembali ke pelukannya. Kini, akankah percikan cinta itu kembali berkobar?