Bab 3

Bi Ayu Penjaga Warung

Erfan tidak mengemudikan mobil nya ke vila. Akan tetapi dia mengemudikan mobilnya ke arah keluar dari desa.

"Di vila, pasti Serina sudah pulang, aku mending main ke warung Bi Ayu. hehe, siapa tau saja mendapat sedikit kenikmatan!" Erfan berkata sambil terkekeh.

Erfan pun sampai, di warung Bi Ayu.

Warung Bi Ayu sedang sepi, tidak ada pembeli karena hari sudah sore.

Bi Ayu yang melihat kedatangan Erfan, langsung menyapanya dengan antusias.

"Tuan muda, ternyata anda!" ucap Bi Ayu, dengan nada menggoda.

"Bi, aku mau sebungkus rokis, dan juga masakin mie goreng yah!" ucap Erfan sambil tersenyum.

"Oke siap, silahkan masuk di dalam saja!" ucap Bi Ayu memberi kode.

Erfan tidak sungkan, dia langsung masuk.

Bi Ayu memberikan sebungkus rokis kepada Erfan.

Erfan langsung menyalakan rokis, karena dia sudah kehabisan rokis dari tadi siang, jadi dia sangat ingin menghisap rokis sekarang.

Bi Ayu langsung memasak mie untuk Erfan.

"Bagaimana? Apa tuan muda bertahan, tinggal di kampung mawar?" tanya Bi Ayu sambil memasak.

Erfan terkekeh, sambil menjawab pertanyaan itu.

"Tentu saja bi, sangat banyak wanita cantik hehe!" Erfan berkata terus terang.

Bi Ayu berkata, sambil terkikik genit,

"Hihihi, ternyata tuan muda, menyukai keindahan!" ucap Bi Ayu.

"Tentu saja Bi, saya masih normal!" balas Erfan, sambil terkekeh.

"Apa banyak wanita, yang menggoda tuan muda?" tanya Bi Ayu.

"Balum sih, aku baru hari ini masuk kantor, dan belum sempat berinteraksi dengan banyak orang," ucap Erfan.

"Lama lama juga, pasti banyak yang ngedeketin tuan muda, apa lagi tuan muda sangat tampan, dan kaya. pasti gak akan kesepian deh!" ucap Bi Ayu dengan berani.

"Yah, ini juga agak kesepian sih, disini gak seperti di kota jika kesepian tinggal pergi ke club untuk mencari wanita ." Erfan berkata, dengan berani.

Bi Ayu menyeringai nakal.

Mie pun jadi,

Bi ayu, meletakan semangkuk mie di depan Erfan, Lalu Bi Ayu, duduk di sisi Erfan.

"Kalo bibi masih muda, dan masih cantik, mungkin bibi mau menemani tuan muda!" Ucap Bi Ayu, sambil menatap Erfan penuh dengan godaan.

Erfan menyeringai nakal,

"Bibi masih cantik, bahkan lebih menggoda, gak kalah sama wanita muda kok!" ucap Erfan sambil mengaduk mie,

"Tapi bibi sudah memiliki suami, dan anak, pasti tidak senikmat wanita muda." balas Bi Ayu, tangan nya diletakkan di paha Erfan, dia mulai menggoda Erfan.

"Aku jadi penasaran, dengan rasanya!" Erfan berkata sambil menyeringai nakal.

Bi Ayu menatap Erfan, dengan tatapan genitnya itu. Tangan Bi Ayu, mulai berani menyentuh sedikit area senjata Erfan.

"Kalo tuan muda mau boleh aja sih, tapi bibi minta uang buat skin care aja! Boleh kan?" Bi Ayu berbicara dengan pelan, nadanya sangat genit. Tangan Bi Ayu terus menggosok celana di area senjata Erfan.

"Suami bibi gimana." Erfan sudah mulai terangsang, oleh godaan wanita dewasa itu.

"Tenang saja, aman kok. dia tidak pernah ke sini," jawab Bi Ayu.

"Apa bibi sering, melakukan dengan pria lain?" tanya Erfan, karena dia takut milik Bi Ayu tidak bersih.

"Tenang saja, bibi belum pernah melakukannya selain dengan suami bibi kok," ucap Bi Ayu.

Tangan Erfan, mulai berani menyentuh gunung besar Bi Ayu, yang tertutup daster longgar itu.

"Berapa? yang Bi Ayu inginkan," tanya Erfan sambil meremas pelan gunung besar Bi Ayu.

"shh emm 1 juta aja!" Bi Ayu bekata sambil mendesah, Bi Ayu sudah mulai terbakar api hasrat.

"Mau main dimana nih?" tanya Erfan suaranya sudah agak berat.

"Kita cari tempat sepi aja tuan muda, kalo main di sini, nanti ada orang yang curiga, apalagi mobil tuan muda berada di depan warung, tapi warung nya tutup," ucap Bi Ayu, dengan nafas yang mulai memburu.

"Mau sekarang, atau nanti?" tanya Erfan.

"Nanti saja, kalo hari sudah gelap!" ucap Bi Ayu sambil tersenyum penuh nafsu.

"Tapi aku udah gak tahan nih! bisa gak Bi Ayu pake mulut dulu gitu?" Erfan berkata, Hasratnya sudah tidak bisa di tahan lagi.

"Oke, tapi tolong lihat keadaan di luar! takut ada orang yang datang!" ucap Bi Ayu .

"Oke," jawab Erfan.

Bi Ayu berjongkok, lalu membuka resleting celana Erfan. Wanita dewasa itu, mengeluarkan senjata Erfan dengan terampil. Saat senjata besar, dan panjang, itu keluar dari dalam sangkarnya. Mata wanita dewasa itu, seketika membelalak.

"Ini ini sangat besar!" ucap Bi Ayu, sambil menatap senjata itu, dengan tatapan penuh hasrat.

Tanpa ragu, Bi Ayu langsung melahap senjata Erfan. Terdengar, suara spesial yang membuat hasrat semakin membara. Saat permainan Bi Ayu mulai liar di senjatanya, tiba tiba ada yang datang menggunakan motor.

Bi Ayu, dan Erfan buru buru merapihkan diri mereka. Erfan berpura-pura makan mie, tidak menunjukkan reaksi, yang bisa membuat orang lain curiga.

Pembeli yang datang, adalah seorang pria tua, dia ingin ngopi di warung.

Akhirnya Erfan harus menahan hasrat, yang hampir meledak. Wajah Erfan terlihat sangat pahit, saat masa-masa nikmatnya terganggu.

"Sial, lagi nikmat nikmatnya, malah oh sial," umpat Erfan dalam hati.

Bi Ayu tersenyum nakal ke Arah Erfan, sambil menyeduh kopi untuk pria tua itu.

Setelah selesai makan mie, Erfan memesan kopi, sambil menunggu pria tua itu pergi.

Hari pun mulai gelap, pria tua itu pulang.

Bi Ayu berbisik di telinga Erfan.

"Tuan muda, majukan dekit mobil ke arah kampung mawar, Nanti bibi akan pergi ke mobil tuan muda jika situasi aman." ucap Bi Ayu.

Erfan mengangguk, lalu keluar dari warung, lalu dia masuk ke dalam mobilnya.

Mobil Ares melaju ke arah kampung mawar sejauh 30 meter dari warung Bi Ayu.

Jalan di pedesaan sangat sepi, hanya satu dua motor yang lewat.

Beberapa menit kemudian, Erfan melihat Bi Ayu berjalan ke Arah mobil nya dengan langkah santai. Tidak ada orang yang mencurigainya walau ada yang melihat.

Setelah dekat dengan mobil Erfan, Bi Ayu menengok kanan dan kiri, memastikan tak ada yang melihatnya, lalu dia buru-buru masuk ke dalam mobil.

Bi Ayu menghela nafas lega.

"Huh, Aman!"

Tanpa peringatan, Ares menarik Bi Ayu ke pelukan nya. Tanganya meremas gunung besar Bi Ayu dengan sedikit keras.

Bi Ayu mendesah,

"Ahhh... ahh... tuan muda udah gak sabar yah?" tanya Bi ayu sambil menatap Erfan dengan tatapan genit.

"Tentu saja, tadi sangat nanggung tahu," jawab Erfan dengan nada penuh hasrat.

"Ayo cari dulu tempat yang aman," ajak Bi Ayu. Tangan menahan pergerakan tangan Erfan.

Erfan menarik tangannya.

"Kita main di mana?" tanya Erfan buru-buru.

"Ayo lajukan mobilnya nanti di depan belok ke kiri kejalan kecil," jawab Bi Ayu dengan nada santai.

Erfan mengangguk lalu menjalankan mobil nya.

Tidak lama mereka sampai di tengah hutan yang sepi dan gelap.

Mereka keluar dari mobil.

"Kita main disini saja, aman ~ walau mau mendesah keras juga!" ucap Bi Ayu dengan nada menggoda.

Erfan Yang Sudak tidak tahan tidak berpikir lama, dia langsung memeluk Bi Ayu, pertempuran Yang sangat panas pun terjadi, Erfan seperti jenderal perang dengan berani terus menggempur dengan keras.

Bab 4

Masih Nikmat

1 jam berlalu, akhirnya mereka mencapai puncak bersama sama. Tubuh mereka mengejang hebat sambil berpelukan erat, suara kenikmatan keduanya bergema di tempat tersebut.

"Kamu sangat hebat tuan muda," puji Bi Ayu tangannya mengelus lembut wajah Erfan.

"Kamu juga, masih sangat nikmat," ucap Erfan, lalu mengecup bibir Bi Ayu.

Setelah beristirahat beberapa menit, sambil bermesraan, mereka kembali berpakaian. Erfan memberikan uang Cash sebanyak 2 juta, yang membuat Bi Ayu sangat senang.

Erfan melajukan mobil nya, dari tempat tersebut.

Rumah Bi Ayu, ternyata ada di kampung mawar.

Bi Ayu meminta turun, di pintu masuk ke kampung mawar, agar tidak ada yang mencurigainya.

Setelah Bi Ayu turun, mobil Erfan melaju pergi.

Sampai di vila, Erfan membersihkan diri, lalu bersantai di sisi kolam berenang.

"Huh. seperti kekuatan uang, berpengaruh banyak di sini!" ucap Erfan, sambil menyeringai nakal.

====

Pagi hari tiba,

Erfan keluar dari kamar, dengan pakaian yang sudah rapi, siap ke kantor.

"Sarapan sudah siap, tuan muda," Serina berkata, sambil menata makanan di meja makan.

"Ayo sarapan!" Erfan berkata sambil duduk.

Serina yang sudah biasa sarapan bersama Erfan, tentu tidak menolak.

Selama sarapan, Erfan terus menatap wanita cantik, yang sedang menyantap makanan itu.

Serina menyadari Ares yang terus menatapnya, tetapi dia tidak mempermasalahkannya. Dia hanya fokus dengan makanannya, berpura-pura tidak menyadari tatapan Erfan.

"Kenapa yah tuan muda terus menatap ku? apa dia menyukai ku? tapi itu tidak mungkin ah," gumam Serina dalam hati.

"Serina, jika kamu perawatan pasti semakin cantik," ucap Erfan, secara tiba-tiba.

Serina yang mendengar perkataan Erfan sedikit terkejut. Wanita itu berusaha berpikir positif, tidak terlalu menyangkut pautkan, dengan perasaan Erfan kepadanya.

"Aku tidak mampu perawatan tuan muda, jangan kan perawatan beli pakaian pun susah!" Serina berkata terus terang.

"Mau gak kalo perawatan?" tanya Erfan santai.

"Nanti kalo aku cantik, terus tuan muda menyukai ku bisa bahaya!" Serina berkata, dengan main-main.

"Iyah juga sih. penampilan kamu seperti ini juga aku sudah sering terpancing," ucap Erfan dengan berani.

Serina tidak menjawab, dia hanya menikmati makanan tenang. Tapi hatinya tidak setenang apa yang ada di permukaan.

Setelah selesai sarapan, Erfan berangkat ke perusahaan.

Semua pegawai, menyapanya dengan hangat, dan ada beberapa wanita cantik, yang mulai berusaha menarik perhatiannya.

Erfan masuk kedalam ruangannya,

Tok tok tok

"Masuk!"

Anne masuk kedalam ruangan Erfan. Anne datang bersama seorang pria paru baya, tapi masih terlihat gagah.

"Tuan muda, ini adalah pak RW Kampung Mawar," Anne memperkenalkan.

"Oh, halo pak RW, Saya Erfan," Erfan menyapa dengan sopan.

"Salam kenal,'tuan muda Erfan," ucap Pak RW sambil tersenyum.

"Salam kenal juga pak, Silahkan duduk!" ucap Erfan.

Mereka pun duduk dengan senyaman mungkin. Erfan mengambil inisiatif, untuk bertanya tujuan Pak RW menemuinya.

"Ada keperluan apa yah? Pak RW, datang kemari?" tanya Erfan, dengan ramah.

"Ini tuan muda, soal tanah untuk memperluas lahan pertanian tuan muda. sebenarnya ada beberapa lahan milik warga, jadi tidak semua lahan kosong itu milik pemerintah." jawab Pak RW menjelaskan.

"Oh jadi seperti itu," Erfan mengangguk mengerti.

"Apakah warga tidak mau menjualnya?" tanya Erfan.

"Saat saya menanyakan kepada mereka. jika anda dibeli dengan harga sedikit lebih tinggi, mereka setuju untuk menjualnya," jawab Pak RW.

"Tidak masalah, berapapun itu. yang penting mereka tidak merasa terpaksa," ucap Erfan dengan nada serius.

Pak RW sangat kagum, dengan sikap dan sifat Erfan.

"Tuan muda, jika keseluruhan luas tanah yang siap di beli, ada sekitar 2 kilometer persegi," ucap Anne.

"Berapa uang yang harus saya keluarkan?" tanya Erfan.

"5 miliar!" jawab Anne.

"Apa kamu serius, itu tidak terlalu rendahkan?" Erfan terkejut.

"Memang harga tanah di desa ini, masih tergolong murah tuan muda." Anne menjelaskan.

"Oke. untuk membayar, apa ingin uang Cash, atau transfer?" tanya Erfan.

"Jika tanah milik warga, mereka ingin Cash saja, dan jika tanah milik negara lebih baik di transfer saja tuan muda," jawab Anne.

Erfan mengangguk,

"Berapa? jumlah uang untuk membeli tanah milik Warga?" tanya Erfan.

"500 juta, tuan muda," balas Anne.

"Baiklah, aku tidak mempunyai uang cash sebanyak itu. sepulang kerja kamu antar aku ke bank terdekat!" ucap Erfan, kepada Anne.

"Baik tuan muda," balas Anne sambil mengangguk kepalanya.

Erfan mengeluarkan segepok uang dari bawah mejanya, lalu memberikan kepadan Pak RW.

Pak RW terkejut, saat diberi uang yang sangat banyak. Dia bertanya dengan nada kaku, kepada Erfan.

"Tuan muda ini?" tanya Pak RW bingung.

"Itu untuk bapak. terimakasih, telah membantu perusahaan saya." jawab Erfan sambil tersenyum.

"Ini, terlalu banyak, tuan muda," ucap Pak RW, dengan nada tidak enak.

"Sudah pak, pakai lah uang nya, untuk keluarga bapak," balas Erfan.

Akhirnya Pak RW menerima.

Pak RW dan Anne pergi dari ruangan Erfan.

===

Sore hari,

Ares dan Anne pergi dari perusahaan,

Mobil sport lamborghini, melaju pelan di jalanan desa.

"Tuan muda, kota cukup jauh membutuhkan waktu 1 jam," ucap Anne.

"Tidak masalah!" jawab Erfan.

Anne mengangguk sambil tersenyum,

"Jalan disini sangat bergelombang, sepertinya aku harus mengganti mobil!" ucap Erfan.

"Mobil tuan muda, cocok untuk di kota jika dipakai di kampung, bisa penyok penyol nanti," ucap Anne sambil terkekeh.

"Iyah, sangat disayangkan, jika mobil kesayangan ku rusak," ucap Erfan, dengan nada sedih.

1 jam kemudian, Mereka sampai di Bank.

Karena Erfan nasabah prioritas, bank tersebut memperlakukan nya dengan baik, mereka tidak berani berlama lama. Erfan mengambil uang cash 1 miliar. Erfan sengaja mangambil lebih, karena Erfan sudah ke habisan uang Cash juga.

Tidak lama, uang 1 miliar sudah tersedia.

Erfan pergi dari bank bersama Anne.

Di dalam mobil, Erfan memberikan uang 50 juta kepada Anne.

"Itu komisi untuk mu!" ucap Erfan, dengan santai.

"Tuan muda, ini terlalu banyak!" ucap Anne, dia sangat terkejut, dan ada rasa gembira, saat melihat uang sebanyak itu.

"Sudah terima saja," ucap Erfan.

Anne hanya bisa menerima dengan kebahagiaan, kali ini dia mendapat uang sebesar ini.

"Nona Anne apakah disini ada mall?" tanya Erfan Kepada Anne.

"Ada tuan muda, tapi tidak sebesar Mall di kota." jawab Anne.

"Tidak masalah, ayo kita kesana!" ucap Erfan.

Mereka pun pergi menuju ke mal.

Bab 5

Belanja Untuk Wanita

Erfan dan Anne pun sampai di mal.

Mal tersebut hanya mal biasa, bahkan merek ternama, hanya ada beberapa.

"Apa tuan muda ingin membeli pakaian?" tanya Anne.

Erfan mengangguk,

Erfan mengajak Anne, pergi ke toko pakaian mewah, Anne hanya bisa mengikuti Erfan. Baru kali ini, Anne masuk ke tempat pakaian mewah, walau pun dia sering ke mal ini.

Saat anne melihat harga satu pakaian disana, dia sangat terkejut. Pakaian paling murah di sana berharga beberapa juta.

Erfan memilih beberapa pakaian yang di sukai, tanpa menyadari, keterkejutan sekretaris nya itu.

"Nona Anne kalo ada yang kamu suka ambil saja!" ucap Erfan, dengan nada santai.

"Tidak tidak tuan, harganya sangat mahal." ucap Nona Anne, buru-buru menolak.

"Udah, gak papa, ambil saja!" ucap Erfan, dia tidak peduli sama sekali, dengan harga beberapa juta itu.

Anne tetap menggelengkan kepalanya.

Karena Anne terus menolak, Erfan memilih 2 pakaian yang sangat bagus untuk Anne, dan Ares juga membeli 2 untuk Serina dan 2 untuk Bi Ayu.

"Tuan muda, anda membeli pakaian wanita sangat banyak," Anne berkata, sedikit bingung.

Erfan tidak menjawab, dia langsung membayar semua pakaian yang di beli dan juga Erfan membeli skin care wanita untuk Anne, Serina, dan Bi Ayu. Erfan mengeluarkan uang 120 jut untuk membeli semua hal yang dia inginkan.

"Nih untuk mu," Erfan memberikan 2 kantung belanja.

Saat Anne mau menolak, Erfan memelototi nya.

"Jangan menolak atau aku akan marah!" ucap Erfan, dengan nada serius, dan tatapannya mengandung kemarahan. tapi sebenarnya dia hanya berpura-pura marah.

"Baik baik tuan muda," Anne ketakutan, akhirnya menerima pemberian Erfan.

Anne mantap wajah Erfan, harinya menjadi kacau.

"Anne Anne, jangan berpikir yang tidak tidak, ingat kamu punya suami," gumam Anne dalam hati.

Setelah berbelanja, mereka meninggalkan mal.

Diperjalankan pulang, Anne terus mencuri curi pandang, tanpa sepengetahuan Erfan.

Erfan mengantarkan Anne, sampai ke depan gang untuk ke rumahnya, karena rumah Anne berada di tengah kampung.

Erfan pun melajukan mobilnya ke vila,

====

Keesokan hari,

Erfan keluar dari kamar, dia menuju keruangan makan. Ditangan nya, Erfan membawa 2 kantung belanja.

"Pagi Serina," sapa Erfan, dengan ceria.

"Pagi, tuan muda," sapa Serina, sambil tersenyum indah.

"Nih, untuk kamu," ucap Erfan, sambil memberikan 2 kantung belanja.

"Apa ini, tuan muda?" tanya Serina penasaran.

"Itu pakaian dan Skin care, kebetulan kemarin aku pergi ke kota, dan mampir ke mall untuk membeli pakaian. Aku melihat pakaian dan skin care itu, aku berpikir itu cocok untukmu," ucap Erfan santai.

"Tapi tuan muda, ini seperti nya sangat mahal," ucap Serina, dengan nada tidak enak.

"Enggak kok, udah terima saja oke!" ucap Erfan dengan tegas.

"Tapi suami ku pasti curiga, karena aku tidak pernah memakai pakaian bagus, dan skin care." ucap Serina, dengan nada tidak berdaya.

Erfan sangat kasihan kepada wanita ini. Serina sangat cantik, tetapi kehidupannya begitu kurang beruntung.

"Kalo kamu gak mau membawanya ke rumah, kamu bisa menyimpannya disini. kamu bisa memakainya saat berada di vila," ucap Erfan, memberi saran.

Wajah Serina sedikit memerah, dia menebak-nebak pikiran Erfan.

"Berati hanya tuan muda, yang bisa melihat ku memakai make up, dan makai baju bagus ini," ucap Serina wajahnya sedikit memerah.

Erfan terkekeh,

"Hehehe, begitulah," Erfan berkata, tanpa malu sama sekali.

Serina tidak menjawab lagi, dia hanya diam, entah apa yang di pikirkan.

Setelah mereka sarapan seperti biasa, Erfan pergi ke kantor.

Hari ini Erfan sangat sibuk, karena mengurus dokumen pembelian tanah, dan juga 15 truck yang dibelinya, datang pada siang hari.

Saking sibuknya, Erfan sampai tidak sempat pulang ke vila untuk makan siang. akhirnya, Serina mengantarkan makan siang ke kantor.

===

Jam 6 sore, Erfan baru menyelesaikan pekerjaannya.

Dia pergi dari kantor,

"Sangat melelahkan, aku butuh belaian," Erfan berkata sambil melajukan mobil nya keluar dari desa.

Erfan ingin pergi ke warung Bi Ayu, wanita dewasa ber anak satu itu.

Saat Erfan sampai di warung Bi Ayu, warung tersebut sedang ramai pengunjung.

Erfan menunggu, sampai semua orang selesai berbelanja di warung, barulah Erfan menghampiri Bi Ayu.

"Ehh, tuan muda kamu datang, ayo masuk!" sapa Bi Ayu dengan nada menggoda.

"Seperti biasa Bi, Kopi, sama Mie," ucap Erfan, sambil tersenyum nakal.

"Apa enggak memesan pelayanan bibi?" tanya Bi Ayu, dengan nada menggoda.

"Itu nanti saja. sekarang ngopi dulu," Erfan berkata, sambil menyeringai nakal.

"Oke deh," jawab bi ayu, sambil bertingkah genit.

Sambil menunggu, Erfan menyalakan rokis nya.

"Tuan muda, hampir saja aku ketahuan, pada malam itu," ucap Bi Ayu sambil memasak.

"Emangnya kenapa bi?" tanya Erfan sedikit terkejut.

"Bibi pulang telat, tidak seperti biasanya. Tentu saja suami bibi bertanya untung saja bibi pintar membuat alasan," ucap Bi Ayu sambil terkekeh.

"Bagus lah bi," ucap Erfan, dia pun sedikit gugup, saat mendengar perkataan Bi Ayu tadi. Jika sampai ketahuan, itu akan sangat memalukan.

Mie dan kopi pun selesai, Bi Ayu meletakkan mie dan kopi di depan Erfan.

Bi Ayu duduk di sebelah Erfan.

"Bi nih aku ada hadiah buat bibi," ucap Erfan sambil memberikan 2 tas belanja.

"Apa ini tuan muda?" tanya Bi Ayu penasaran.

"Pakaian." jawab Erfan sambil tersenyum main main.

"Ini pasti masahal kan?" tanya Bi Ayu.

"Enggak kok. Aku berpikir, pakaian itu sangat cocok untuk Bi Ayu, jadi aku membelinya," ucap Erfan.

"Apa yang tuan muda ingin kan? sebagai gantinya," Bi Ayu berkata, dengan menggoda sambil mengelus paha Erfan.

"Apakah bibi mau? aku lagi pengen nih," ucap Erfan, dengan nada nakal.

"Boleh aja sih, tapi gak boleh lama lama, nanti kaya kemarin," ucap Bi Ayu, sambil tersenyum menggoda.

"Mau main di mana," tanya Erfan, dengan tidak sabar, senjata miliknya itu, sudah sangat tegang sekarang.

"Tempat biasa aja!" ucap Bi Ayu sambil menatap dengan penuh godaan.

"Oke," Erfan menjawab, lalu buru buru menghabiskan mienya.

Seperti biasa, Erfan melajukan mobil nya sedikit ke depan ke tempat yang sepi. Tidak lama Bi Ayu datang langsung masuk kedalam mobil.

"Ayo tuan muda," ucap Bi Ayu, dengan nada genit.

Erfan langsung melajukan mobilnya.

Sampai di tempat biasa, mereka keluar dari mobil.

Erfan langsung memeluk Bi Ayu, lalu mendaratkan kecupan di leher Bi Ayu.

"Ahhh sayang," Bi Ayu mengerang nikmat.

Tangan Erfan, meremas gunung besar Bi Ayu dengan keras.

Mereka melakukan pemanasan, yang cukup lama. setelah dirasa cukup, permain inti pun dimulai. Erfan bermain dengan keras membuat Bi Ayu kewalahan.

Area tersebut dipenuhi suara ambigu yang membuat hati panas.

Hasrat Wanita Desa

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya