Bab 1
21+Seorang pemuda bernama Erfan, di tugaskan oleh keluarga nya untuk memimpin perusahaan yang terletak di sebuah desa. Erfan tidak pernah menduga bahwa desa tersebut, banyak sekali wanita cantik dan menggoda yang membuat Erfan tidak tahan.
Sampai di desa mawar
Seorang pemuda tampan, sedang mengemudikan mobil sport nya dengan wajah muram.
Pemuda tersebut bernama Erfan.
Erfan adalah seorang pemuda tampan berumur 25 tahun, yang berasal dari keluarga kaya nomor 1 di kota tersebut. Erfan seorang anak tunggal di keluarganya, hari ini Erfan diberi perintah oleh orang tuanya untuk mengurus perusahaan paling kecil milik orang tuanya yang berada di pedesaan, yang merupakan perusahaan pertanian. Walaupun Erfan sangat enggan tapi dia tidak bisa melawan orang tuanya, karena dia sadar pasti orang tuanya ingin dia lebih mandiri karena selama ini Erfan hanya tau bersenang senang.
====
Mobil Erfan sudah memasuki jalan pegunungan, yang keadaan jalannya tidak semulus di kota.
"Ohh sial, mengapa jalan nya begitu bergelombang, bisa bisa mobil ku lecet!" Umpat Erfan, dia sangat kesal.
"gruk gruk"
Perut Erfan berbunyi,
"Duh laper banget sih, gak bawa makanan lagi ." Erfan berkata sambil memegang perutnya.
Erfan melihat warung dekat sekolah SMA yang cukup ramai Siswa SMA, karena kebetulan ini jam dimana anak SMA pulang sekolah.
Mobil Erfan berhenti di warung tersebut,
Semua Siswa SMA tersebut menatap mobil sport lamborgini dengan mata bersinar, seketika mereka menjadi heboh.
"Lihat itu, mobil sport lamborghini, keren sekali ya? sumpah keren baget!" ucap pria muda, sambil menunjuk-nunjuk mobil itu.
"Baru pertama kali, ada mobil sport datang ke daerah sini!" ucap temannya, sambil menatap mobil itu dengan tatapan berbinar.
Erfan keluar dari dari mobil, lalu berjalan menuju ke warung dengan langkah santai.
"Sangat tampan! Para artis pria itu tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan!" ucap salah satu siswa wanita, dengan tatapan berbunga-bunga.
"Aku mau walau jadi simpanannya," ucap siswa wanita yang terlihat centil, matanya menatap Erfan dengan tatapan panas.
Semua murid wanita mendengus, setelah mendengar perkataan wanita genit itu.
Kedatangan Erfan ke warung tersebut, langsung di sapa hangat penjaga warung wanita dewasa, yang masih terlihat cantik.
"Tuan muda," sapa penjaga warung wanita, dengan ramah. Penjaga warung wanita menebak Erfan bukan lah pemuda sembarangan.
Erfan tersenyum sambil mengangguk sedikit, lalu dia berkata kepada penjaga warun.
"Bi Saya mau makan, apakah disini jual makan atau mie instan?" tanya Erfan sambil tersenyum hangat.
Erfan pemuda yang ramah tidak pernah memandang rendah orang lain, walau dia terkenal nakal di kota asalnya.
"Kalo mie instan ada tuan muda, ingin rasa apa?" tanya penjaga warung wanita itu.
"Rasa apa aja deh bi, 2 yah mie instan nya," ucap Erfan sambil memperlihatkan 2 jarinya.
"Silahkan duduk di dalam tuan muda, diluar banyak siswa SMA!" ucap penjaga warung wanita itu, sambil membukakan pintu masuk ke dalam warung.
"Baik bi," Erfan tidak sungkan, di langsung masuk kedalam warung.
Di dalam warung, Erfan duduk di kursi sederhana. Dia mengeluarkan sebatang rokis, lalu menyalakannya.
Penjaga warung wanita, memasak tidak jauh dari Erfan. Mata nakal Erfan menatap tubuh penjaga warung wanita itu, dengan tatapan tidak hati-hati.
"Tidak kusangka ada wanita yang menggoda di desa seperti ini," gumam Erfan dalam hati, sambil tersenyum nakal.
"Tuan muda, seperti anda bukan berasal dari sini yah?" tanya Penjaga Warung Wanita, sambil terus memasak mie.
"Iyah bi, aku baru sampai di sini," jawab Erfan.
"Ohh begitu, memang tujuan tuan muda mau kemana? " tanya Penjaga Warung Wanita tersebut.
"Ke Desa Mawar Bi," jawab Erfan santai, matanya sambil memperhatikan pantat wanita dewasa itu.
"Oh Desa Mawar," jawab Warung Wanita tersebut menjawab sambil mengangguk ngangguk.
"Apakah masih jauh bi?" tanya Erfan.
"Enggak kok, paling 2 kilometer lagi udah sampe!" jawab Penjaga Warung Tersebut.
"Bagus kalo gitu, aku sudah sangat lelah," erfan berkata dengan malas.
"Kalo boleh tau, ada tujuan apa tuan muda ke desa mawar?" tanya Penjaga Warung Wanita Tersebut, sambil memasukkan mie yang sudah matang kedalam mangkuk.
"Aku di suruh orang tua, mengurus perusahaan pertanian buah buahan yang ada di desa mawar," Erfan menjawab jujur.
Deg
Penjaga Warung Wanita tersebut terkejut,
"Ternyata tuan muda pemilik perusahaan pertanian di desa mawar?" ucap Penjaga Warung Tersebut, sambil meletakkan mangkuk mie di depan Erfan.
"Iyah bi, walau yah aku sedikit enggan!" ucap Erfan berkata tanpa daya .
"Bibi jamin deh kalo tuan muda sudah ke desa mawar pasti betah," ucap Penjaga Warung Wanita itu.
Erfan bingung dengan perkataan wanita dewasa itu,
"Eh nanti, jika tuan muda santai main kesini yah, sesekali makan mie atau ngopi!" ucap Penjaga Warung Wanita itu dengan suara menggoda.
"Oke bi, siapa nama bibi?" tanya Erfan santai.
"Nama Bibi Ayu." ucap Penjaga Warung Wanita itu .

"Oke Bi Ayu, aku mengingatnya!" Erfan menjawab sambil mengangguk ngangguk, mulutnya di penuhi makanan.
Wanita Dewasa Bernama Ayu itu menatap Erfan dengan tatapan aneh, sebuah pemikiran nakal muncul di kepalanya.
Beberapa menit, Erfan pun menyelesaikan makan mienya. Dia langsung bangkit berdiri, ingin segera melanjutkan perjalanannya.
"Bi Ayu ini aku membayar!" Erfan mengeluarkan uang 100 rb .
Bi Ayu yang sedang melayani pembeli pun, buru-buru menghampiri Erfan.
"Tunggu tuan muda, saya akan mengambil kembalian!" ucap Bi Ayu.
"Tidak perlu Bi, buat Bi Ayu saja," jawab Erfan sambil tersenyum.
"Beneran tuan muda?" tanya Bi Ayu senang.
Erfan mengangguk,
"Hehe, kalo tuan muda jajan di warung bibi setiap hari, bibi akan cepat kaya," ucap Bi Ayu, sambil terkekeh.
Erfan tertawa,
"Hahaha, nanti kalo santai aku main ke sini bi. warung ini tutup sampai jam berapa?" tanya Erfan
"Sampai jam 8 malam tuan muda," jawab Bi Ayu sambil menatap Erfan dengan tatapan genit.
"Oke, kalo gitu aku pamit dulu!" Erfan berkata, lalu keluar dari warung Bi Ayu.
Saat Erfan berjalan menuju mobil, dia melihat banyak siswa yang memfoto mobil ya. Erfan hanya tersenyum, dia tidak marah sama sekali.
"Hey awas! yang punya nya datang tuh," ucap Siswa pria, dia mengingatkan, para siswa lainnya yang sedang memfoto di depan mobil Erfan.
"Semua nya permisi yah, saya mau lanjut perjalanan lagi," Erfan berkata dengan ramah.
"Sialahkan Kak," ucap para siswa itu, sambil tersenyum sedikit malu.
Erfan mengangguk sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil Lamborghini melaju pelan pelan meninggalkan tempat tersebut, di bawah tatapan kagum para siswa SMA.
Beberapa menit kemudian, Erfan melihat tugu bertuliskan "Desa Mawar"
"Huh, akhirnya sampai," Erfan berkata dengan lega.
Mobil Erfan masuk kedalam jalan yang lumayan lebar tapi agak jelek. Mobil Erfan melaju dengan pelan.
Saat penduduk desa melihat kedatangan mobil Erfan mereka berbisik-bisik entah apa yang mereka bisikan.
Mata Erfan bersinar, saat melihat keadaan penduduk desa. Erfan melihat banyak sekali wanita cantik berlalu lalang di sana.
"Sial, apakah ini yang di maksud Bi Ayu?" Erfan berkata dengan penuh semangat.
"Kalo gini, aku bisa betah, hahaha," Erfan tertawa.
Erfan menghentikan mobilnya, saat melihat banyak ibu-ibu yang sedang berkumpul. Dia ingin menanyakan letak perusahaan milik keluarganya itu.
Para Wanita Dewasa itu melirik ke mobil Erfan dengan penasaran, Karena mereka baru pertama kali melihat mobil sebagus itu.
Erfan turun dari mobilnya, lalu menghampiri ibu-ibu itu.
"Bibi permisi saya mau tanya, Perusahaan Pertanian Nusantara dimana yah?" Tanya Erfan dengan sopan.
"Tuan muda lurus saja, nanti di sebelah kiri ada gedung yang sangat besar, di situlah tempatnya tuan muda," jawab Salah Satu Wanita Dewasa dengan cepat.
"Oh, baik terimakasih," Erfan berkata lalu kembali kedalam mobil.
Mobil Erfan kembali melaju, mengikutinya arah yang di tunjukkan ibu tadi. Tidak lama, Erfan pun sampai di depan Perusahaan Pertanian Nusantara.
Erfan menelepon seseorang,
Telepon tersambung,
"Halo, apakah ini tuan muda?" terdengar suara wanita di seberang telepon.
"Benar ini saya, saya sudah berada di depan perusahaan," ucap Erfan .
"Baik tuan muda, saya akan ke depan," ucap Wanita di seberang telepon, terdengar dia sangatlah terburu buru.
Tidak lama seorang wanita berumur 30 tahun, dengan wajah cantik, dan mempunyai tubuh tinggi yang menggoda, ukuran dada yang sangat besar, menghampiri mobil Erfan.
Erfan keluar dari mobil,
"Tuan muda," sapa Wanita tersebut, sambil sedikit membungkuk.
"Apakah anda pengurus perusahaan?" tanya Erfan, sambil menatap wanita itu.
"Benar tuan muda, nama saya Anne," jawab Wanita tersebut.

"Oke Nona Anne, antar saya ke tempat tinggal dulu! saya ingin istirahat dulu, cukup melelahkan di jalan!" ucap Erfan dengan nada lesu.
"Baik mari," ucap Anne.
Mereka pun masuk kedalam mobil Erfan,
Di sepanjang jalan, Anne mencuri curi pandang kepada Erfan yang sedang menyetir.
"Kalo aku belum punya suami, mungkin aku akan berusaha mendekati nya!" gumam Anne, di dalam hatinya.
"Nona Anne, untuk kedepannya anda akan menjadi sekretaris ku, apakah anda keberatan?" Tanya Erfan .
"Tentu saja tidak tuan muda," jawab Anne, dia tampak bersemangat, saat mendengar penawaran Erfan.
"Bagus, gaji mu akan aku naikkan 2 kali lipat," ucap Erfan santai.
Anne terkejut, perlahan ekspresi wajahnya berubah tampak bersemangat.
"Terimakasih tuan muda," ucap Anne, dengan nada bahagia.
Tidak lama, Mereka sampai di sebuah Vila. Vila tersebut, memiliki gaya arsitektur klasik yang membuat suasa di sana terasa nyaman dan tenang.
Erfan memandang vila tersebut, dengan tatapan penuh kepuasan.
"Hey cukup bagus juga," ucap Erfan, setelah turun dari mobil.
Anne dan Erfan pun masuk kedalam Vila. Di dalam vila, Erfan menengok ke kanan dan ke kiri, ekspresi wajahnya penuh kepuasan.
Erfan melirik Anne yang ada di sampingnya, lalu dia menanyakan sesuatu.
"Nona Anne, apakah tidak ada pengurus vila?" tanya Erfan.
"Belum ada tuan muda, tapi tenang saja saya sudah mencarikan pengurus vila, dia akan ke sini sebentar lagi," jawab Anne.
"Oke bagus," balas Erfan.
"Kalo gitu, saya pergi dulu ada yang harus saya kerjakan," ucap Anne, sambil tersenyum, dan tubuhnya sedikit membungkuk.
"Baik, apakah perlu di antar, cukup jauh ke perusahaan?" tanya Erfan.
"Tidak perlu tuan muda, saya mau mampir ke rumah pengurus vila sebentar, untuk memberi tahunya!" ucap Anne.
Erfan mengangguk sambil tersenyum.
Anne pun pergi dari vila.
Bab 2
Serina sang pengurus vila
Erfan pergi mandi, lalu berganti pakaian. setelah selesai, dia bersantai di halaman belakang di sisi kolam berenang.
Tiba tiba, suara langkah kaki terdengar, menuju ke arah nya.
Saat Erfan melirik, dia melihat seorang wanita berumur sekitar 30 thn, wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih,memiliki body yang sangat mengesankan, walaupun di balut daster longgar tapi tonjolan di dadanya tidak bisa di sembunyikan saking besarnya.
Mata Erfan melihat dari atas kebawah, tenggorokannya seketika kering.
"Tuan muda," wanita tersebut, menyapa sambil membungkuk.
Karena kerah dasternya cukup rendah, sehingga dalam posisi membungkuk belahan dada yang begitu dalam terlihat di hadapan mata Erfan, Membuat perut bagian bawah Erfan menjadi panas.
Erfan menarik nafas, mencoba menenangkan hasratnya. Setelah sedikit tenang, Erfan mulai berbicara.
"Apa Nona pengurus vila ini?" tanya Erfan, dengan tenang.
"Benar tuan muda, nama saya Serina," jawab Wanita itu.
"Oke Nona Serina, perkenalkan nama saya Erfan!" ucap Erfan santai.
"Baik tuan muda Erfan, tuan muda bisa memanggil saya, dengan sebutan nama saja!" ucap Serina, sambil menundukkan wajahnya.
"Baik Serina," balas Erfan, dia tidak sungkan. karena menurut Erfan, jika bisa memanggil nama, itu tidak terlalu canggung.
Erfan mengeluarkan salah satu karu Atm miliknya, lalu memberikannya kepada Serina.
"Di kartu itu ada sejumlah uang, untuk ke perluan vila, nomor pin nya 111111!" ucap Erfan sambil tersenyum.
"Baik tuan muda," jawab Serina.
"Serina, apakah kamu punya suami?" tanya Erfan, dia cukup penasaran, dengan status wanita itu.
"Saya sudah punya suami tuan muda!" jawab Serina, sambil menatap Erfan. Tatapan wanita itu sedikit Aneh, karena tiba-tiba Erfan menanyakan statusnya.
"Jadi anda tidak bisa tinggal disini yah?" Erfan bertanya sedikit lesu.
"Memang nya kenapa tuan muda?" Serina balik bertanya, sambil menatap Erfan, tidak sabar ingin mendengar jawaban pria itu.
"Yah, kalo kamu bisa tinggal disini, saya ada teman, vila sebesar ini jika di tinggali sendiri sangat sepi," ucap Erfan, terlihat ekspresinya sedikit lesu.
"Maaf sekali tuan muda, saya tidak bisa!" ucap Serina, dengan nada meminta maaf.
"Oke, tidak apa apa!" ucap Erfan sambil tersenyum, tapi hatinya terasa pahit.
"Apakah Tuan muda, mau minum sesuatu?" tanya Serina.
"Aku mau kopi hitam, tanpa gula!" jawab Erfan.
"Baik, saya akan membuatkan nya," Serina berkata lalu pergi.
Erfan melihat kepergian Serina.
"Sial, wanita yang sangat sempurna, ternyata sudah memiliki suami," umpat Erfan di dalam hati.
Tiba tiba senyum tersungging di bibirnya.
"Hidup ku, mulai ada tantangan." gumamnya, entah apa yang di pikirkan Erfan.
Tidak lama Serina kembali membawa secangkir kopi, lalu menyajikannya di meja dengan hati-hati.
"Terimakasih," ucap Erfan, sambil tersenyum.
"Sama-sama tuan muda," jawab Serina.
"Duduk dulu temani aku ngobrol sebentar!" ucap Erfan.
"Saya berdiri saja, tuan muda." ucap Serina, dengan canggung.
"Sudah duduk saja, santai saja!" ucap Erfan, dengan nada santai.
Serina tidak bisa melawan perintah dia hanya bisa menuruti permintaan Erfan. wanita itu duduk, dengan postur yang terlihat kaku.
"Serina, Mengapa kamu memilih pekerjaan sebagai pengurus vila? tidak di kebun atau di tempat pengemasan buah seperti wanita lainnya?" tanya Erfan, lalu menyeruput kopi.
"Pada awalnya saya bekerja disana, tapi kemarin saya di tawari pekerjaan ini oleh Nona Anne yang gajih nya lebih besar dari pada di kebun!" jawab Serina jujur.
"Berati kamu pandai masak, dan mengurus pekerjaan rumah? makannya Nona Anne merekrut mu," Erfan berkata, sambil menatap wanita itu.
"Benar, selain bisa masak, dan mengerjakan pekerjaan rumah, saya bisa memijat juga," ucap Serina .
"Ternyata Nona Anne, memang memilih yang mempunyai ke ahlian yang sangat penting," Erfan mengangguk puas, senyuman terlukis dibibirnya.
"Apakah suami kamu juga bekerja di perusahaan pertanian nusantara?" tanya Erfan, sambil menatap wanita itu, dengan tatapan penasaran.
"Benar tuan muda, dia bekerja sebagai sopir," jawab Serina .
Erfan mengangguk,
"Saya mengira, kamu belum memiliki suami," Erfan berkata dengan berani.
Serina bingung mau menjawab apa dia hanya bisa tersenyum.
"Apakah kamu sudah memiliki anak?" tanya Erfan santai.
"Belum tuan muda," jawab Serina dengan nada sedih .
"Apakah kamu baru saja menikah?" tanya Erfan penasaran.
"Saya menikah sudah hampir 3 tahun," balas Serina, dengan nada tenang.
Erfan mengangguk mengerti, tapi ada rasa tidak nyaman di dalam hati Erfan, tapi dia menghiraukannya.
"Serina, aku mau dipijat dong! tubuh ku sangat pegal karena menyetir terlalu lama," ucap Erfan.
"Oh silahkan tuan muda , mau dimana?" tanya Serina.
"Di sofa dalam saja!" jawab Erfan.
Mereka pun pergi kedalam , lalu Erfan melepas baju yang di pakainya.
Saat Serina melihat tubuh Erfan yang begitu kekar, dan ideal, matanya sedikit tersesat.
"Tubuh tuan muda begitu sempurna, hey hey Serina kamu memiliki suami jangan berpikir yang tidak tidak!" gumam Serina dalam hati.
Erfan berbaring dengan posisi punggung menghadap ke atas.
Serina mengambil minyak pijat, lalu mulai pemijat Erfan.
"Sial tangannya sangat lembut, jika di pakai memegang senjata ku itu pasti sangat nikmat." Erfan mulai berpikir kotor, Senjata milik nya mulai berdiri, karena rangsang yang di transfer oleh pijatan wanita itu.
Serina terus memijat, dengan terampil.
"emm"
Sesekali, Erfan mengeluarkan suara nikmat.
"Apakah enak tuan muda?" tanya Serina dengan suara lembut.
"Sangat...enak.. !" Erfan menjawab terbata bata.
Serina tersenyum indah.
Erfan di pijat, selama 30 menit oleh Serina. Karena Erfan sangat terangsang, dia memilih menghentikan sesi pijat itu.
"Sudah cukup, aku sudah merasa nyaman!" ucap Erfan sambil bangkit, lalu memakai kembali bajunya.
Saat Serina tidak sengaja mentap ke arah celana Erfan, matanya terbelalak, saat melihat celana dibagian senjata Erfan menonjol.
"Apa dia terangsang?" Serina bergumam dalam hati.
Erfan kembali bersantai, disisi kolam berenang.
===
Selama 3 Hari Erfan hanya diam di Vila dan hanya sekali mengunjungi perusahaan untuk berkenalan dengan para karyawan disana.
Erfan dan Serina juga sudah akrab tidak ada rasa kaku sama sekali diantara mereka.
"Tuan muda, apa hari ini kamu akan pergi ke perusahaan?" tanya Serina .
"Iyah ,aku sudah siap bekerja kembali," jawab Erfan.
"Kalo gitu, semangat!" ucap Serina.
"Tentu saja, Serina cantik!" ucap Erfan sambil menyeringai nakal.
"Hey, jangan ngegombalin istri orang, itu berbahaya loh!" Ucap Serina, sambil tersenyum menggoda.
"Oh, apakah begitu, tapi itu sedikit menantang sih," Ucap Erfan, dengan nada santai, sambil menyisir rambutnya.
Serina tersenyum, dia tidak menganggap serius perkataan Erfan.
"Aku pergi dulu!" Erfan berkata lalu pergi.
Erfan mengendarai mobil sport nya, ke perusahaan. Sampai di perusahaan, semua karyawan menyapa dengan hangat. Erfan menyapa mereka dengan penuh keramahan dan senyuman.
Sampai di dalam ruangan kerja, Erfan langsung membuka laptop nya.
Saat Erfan sedang mengecek laporan perusahaan, Ada yang mengetuk pintu ruangan.
Tok Tok Tok
"Masuk!" Ucap Erfan.
Sosok cantik, dan menggoda, yaitu Anne masuk ke dalam ruangan. Hari ini, Anne menggunakan kameja putih yang di balut balzer hitam, rok mini hitam menampakkan kaki mulus, yang bisa mengundang hasrat para pria.
"Tuan muda, ternyata anda sudah mulai bekerja," Anne berkata sambil tersenyum.
Erfan menatap Anne, dia mengangguk, lalu berkata sambil tersenyum.
"Aku sudah cukup beristirahat!" jawab Erfan.
"Tuan muda, ada beberapa hal tentang perusahaan, yang perlu saya sampaikan!" ucap Anne.
"Duduk, dan bicara!" ucap Erfan.
Anne duduk di dikusi yang tersedia, di depan Erfan.
"Tuan muda, perusahaan kekurangan kendaraan untuk pengiriman, dan kendaraan yang ada juga sudah terlalu tua sering rusak saat di perjalanan." ucap Anne.
"Memang, butuh berapa unit?" tanya Erfan santai.
"Minimal 10 unit!" jawab Anne setelah berpikir sejenak.
"Apakah 15 Unit Cukup?" tanya Erfan.
"Itu lebih baik tuan muda!" Anne berkata sambil tersenyum.
"Tipe apa yang di inginkan para sopir?" tanya Erfan, dia menanyakan hal tersebut, karena menurutnya, kenyamanan para sopir, adalah yang terpenting.
"Saya mendengar mereka, menyaran membeli mobil dari merek Hino, harga 1 unit 1,4 miliar," ucap Anne, dia sedikit ragu, karena harga mobil tersebut cukup mahal.
"Oke, kalo begitu aku akan memesannya sekarang," ucap Erfan, lalu menelepon seseorang.
Erfan mengobrol dengan seseorang sebentar di telepon.
Erfan menutup telepon,
"Aku sudah menyuruh orang, untuk membeli 15 unit mobil Hino, dan 2 hari kagi mobil tersebut akan datang!" ucap Erfan sambil tersenyum.
Anne terkejut, begitu mudahnya Erfan menyelesaikan masalah yang membutuhkan biaya besar. Wanita itu mulai penasaran, seberapa besar latar belakang Erfan.
"Apakah tuan muda, menggunakan uang pribadi?" tanya Anne.
Erfan mengangguk,
"Aku tau, keuangan perusahaan ini sangat sulit, jika harus memobilisasi uang sebanyak itu," ucap Erfan .
"Memang benar tuan muda!" jawab Anne dengan nada tidak berdaya.
"Nona Anne, aku berniat ingin memperluas lahan pertanian buah buahan!" ucap Erfan.
"Apakah tuan muda serius?" tanya Anne penuh semangat.
"Tentu saja, masalah harga aku tidak keberatan, jika bisa kamu harus mendapatkan seluas mungkin!" Ucap Erfan, dengan serius.
"Baik tuan muda, saya akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Anne, Dengan serius.
"Tenang saja, setelah kamu menyelesaikannya dengan baik, aku akan memberi bonus!" ucap Erfan sambil tersenyum.
"Terimakasih tuan muda," Anne tampak bersemangat, bahkan dia ingin segera menyelesaikan proyek tersebut, saat mendengar Erfan akan memberikan sebuah bonus.
Anne pun pamit, dia ingin segara memberi tahu para sopir, tentang armada baru, dan Anne ingin segera pergi ke pemerintah setempat, untuk bertanya terkait rencana memperluas lahan.
Erfan kembali fokus, dengan laptopnya .
Jam 5 sore, Erfan baru keluar kantor.
"Tuan muda, anda baru pulang?" tanya Seorang petugas keamanan .
"Iyah pak, ini bagi bagi sama yang lain buat beli kopi!" ucap Erfan sambil memberikan uang 200 rb .
"Terimakasih tuan muda," Petugas keamanan tersebut menerima dengan senang hati.
Erfan mengangguk, sambil tersenyum, lalu dia masuk kedalam mobil nya, lalu pergi dari perusahaan.
Bab 3
Bi Ayu Penjaga Warung
Erfan tidak mengemudikan mobil nya ke vila. Akan tetapi dia mengemudikan mobilnya ke arah keluar dari desa.
"Di vila, pasti Serina sudah pulang, aku mending main ke warung Bi Ayu. hehe, siapa tau saja mendapat sedikit kenikmatan!" Erfan berkata sambil terkekeh.
Erfan pun sampai, di warung Bi Ayu.
Warung Bi Ayu sedang sepi, tidak ada pembeli karena hari sudah sore.
Bi Ayu yang melihat kedatangan Erfan, langsung menyapanya dengan antusias.
"Tuan muda, ternyata anda!" ucap Bi Ayu, dengan nada menggoda.
"Bi, aku mau sebungkus rokis, dan juga masakin mie goreng yah!" ucap Erfan sambil tersenyum.
"Oke siap, silahkan masuk di dalam saja!" ucap Bi Ayu memberi kode.
Erfan tidak sungkan, dia langsung masuk.
Bi Ayu memberikan sebungkus rokis kepada Erfan.
Erfan langsung menyalakan rokis, karena dia sudah kehabisan rokis dari tadi siang, jadi dia sangat ingin menghisap rokis sekarang.
Bi Ayu langsung memasak mie untuk Erfan.
"Bagaimana? Apa tuan muda bertahan, tinggal di kampung mawar?" tanya Bi Ayu sambil memasak.
Erfan terkekeh, sambil menjawab pertanyaan itu.
"Tentu saja bi, sangat banyak wanita cantik hehe!" Erfan berkata terus terang.
Bi Ayu berkata, sambil terkikik genit,
"Hihihi, ternyata tuan muda, menyukai keindahan!" ucap Bi Ayu.
"Tentu saja Bi, saya masih normal!" balas Erfan, sambil terkekeh.
"Apa banyak wanita, yang menggoda tuan muda?" tanya Bi Ayu.
"Balum sih, aku baru hari ini masuk kantor, dan belum sempat berinteraksi dengan banyak orang," ucap Erfan.
"Lama lama juga, pasti banyak yang ngedeketin tuan muda, apa lagi tuan muda sangat tampan, dan kaya. pasti gak akan kesepian deh!" ucap Bi Ayu dengan berani.
"Yah, ini juga agak kesepian sih, disini gak seperti di kota jika kesepian tinggal pergi ke club untuk mencari wanita ." Erfan berkata, dengan berani.
Bi Ayu menyeringai nakal.
Mie pun jadi,
Bi ayu, meletakan semangkuk mie di depan Erfan, Lalu Bi Ayu, duduk di sisi Erfan.
"Kalo bibi masih muda, dan masih cantik, mungkin bibi mau menemani tuan muda!" Ucap Bi Ayu, sambil menatap Erfan penuh dengan godaan.
Erfan menyeringai nakal,
"Bibi masih cantik, bahkan lebih menggoda, gak kalah sama wanita muda kok!" ucap Erfan sambil mengaduk mie,
"Tapi bibi sudah memiliki suami, dan anak, pasti tidak senikmat wanita muda." balas Bi Ayu, tangan nya diletakkan di paha Erfan, dia mulai menggoda Erfan.
"Aku jadi penasaran, dengan rasanya!" Erfan berkata sambil menyeringai nakal.
Bi Ayu menatap Erfan, dengan tatapan genitnya itu. Tangan Bi Ayu, mulai berani menyentuh sedikit area senjata Erfan.
"Kalo tuan muda mau boleh aja sih, tapi bibi minta uang buat skin care aja! Boleh kan?" Bi Ayu berbicara dengan pelan, nadanya sangat genit. Tangan Bi Ayu terus menggosok celana di area senjata Erfan.
"Suami bibi gimana." Erfan sudah mulai terangsang, oleh godaan wanita dewasa itu.
"Tenang saja, aman kok. dia tidak pernah ke sini," jawab Bi Ayu.
"Apa bibi sering, melakukan dengan pria lain?" tanya Erfan, karena dia takut milik Bi Ayu tidak bersih.
"Tenang saja, bibi belum pernah melakukannya selain dengan suami bibi kok," ucap Bi Ayu.
Tangan Erfan, mulai berani menyentuh gunung besar Bi Ayu, yang tertutup daster longgar itu.
"Berapa? yang Bi Ayu inginkan," tanya Erfan sambil meremas pelan gunung besar Bi Ayu.
"shh emm 1 juta aja!" Bi Ayu bekata sambil mendesah, Bi Ayu sudah mulai terbakar api hasrat.
"Mau main dimana nih?" tanya Erfan suaranya sudah agak berat.
"Kita cari tempat sepi aja tuan muda, kalo main di sini, nanti ada orang yang curiga, apalagi mobil tuan muda berada di depan warung, tapi warung nya tutup," ucap Bi Ayu, dengan nafas yang mulai memburu.
"Mau sekarang, atau nanti?" tanya Erfan.
"Nanti saja, kalo hari sudah gelap!" ucap Bi Ayu sambil tersenyum penuh nafsu.
"Tapi aku udah gak tahan nih! bisa gak Bi Ayu pake mulut dulu gitu?" Erfan berkata, Hasratnya sudah tidak bisa di tahan lagi.
"Oke, tapi tolong lihat keadaan di luar! takut ada orang yang datang!" ucap Bi Ayu .
"Oke," jawab Erfan.
Bi Ayu berjongkok, lalu membuka resleting celana Erfan. Wanita dewasa itu, mengeluarkan senjata Erfan dengan terampil. Saat senjata besar, dan panjang, itu keluar dari dalam sangkarnya. Mata wanita dewasa itu, seketika membelalak.
"Ini ini sangat besar!" ucap Bi Ayu, sambil menatap senjata itu, dengan tatapan penuh hasrat.
Tanpa ragu, Bi Ayu langsung melahap senjata Erfan. Terdengar, suara spesial yang membuat hasrat semakin membara. Saat permainan Bi Ayu mulai liar di senjatanya, tiba tiba ada yang datang menggunakan motor.
Bi Ayu, dan Erfan buru buru merapihkan diri mereka. Erfan berpura-pura makan mie, tidak menunjukkan reaksi, yang bisa membuat orang lain curiga.
Pembeli yang datang, adalah seorang pria tua, dia ingin ngopi di warung.
Akhirnya Erfan harus menahan hasrat, yang hampir meledak. Wajah Erfan terlihat sangat pahit, saat masa-masa nikmatnya terganggu.
"Sial, lagi nikmat nikmatnya, malah oh sial," umpat Erfan dalam hati.
Bi Ayu tersenyum nakal ke Arah Erfan, sambil menyeduh kopi untuk pria tua itu.
Setelah selesai makan mie, Erfan memesan kopi, sambil menunggu pria tua itu pergi.
Hari pun mulai gelap, pria tua itu pulang.
Bi Ayu berbisik di telinga Erfan.
"Tuan muda, majukan dekit mobil ke arah kampung mawar, Nanti bibi akan pergi ke mobil tuan muda jika situasi aman." ucap Bi Ayu.
Erfan mengangguk, lalu keluar dari warung, lalu dia masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Ares melaju ke arah kampung mawar sejauh 30 meter dari warung Bi Ayu.
Jalan di pedesaan sangat sepi, hanya satu dua motor yang lewat.
Beberapa menit kemudian, Erfan melihat Bi Ayu berjalan ke Arah mobil nya dengan langkah santai. Tidak ada orang yang mencurigainya walau ada yang melihat.
Setelah dekat dengan mobil Erfan, Bi Ayu menengok kanan dan kiri, memastikan tak ada yang melihatnya, lalu dia buru-buru masuk ke dalam mobil.
Bi Ayu menghela nafas lega.
"Huh, Aman!"
Tanpa peringatan, Ares menarik Bi Ayu ke pelukan nya. Tanganya meremas gunung besar Bi Ayu dengan sedikit keras.
Bi Ayu mendesah,
"Ahhh... ahh... tuan muda udah gak sabar yah?" tanya Bi ayu sambil menatap Erfan dengan tatapan genit.
"Tentu saja, tadi sangat nanggung tahu," jawab Erfan dengan nada penuh hasrat.
"Ayo cari dulu tempat yang aman," ajak Bi Ayu. Tangan menahan pergerakan tangan Erfan.
Erfan menarik tangannya.
"Kita main di mana?" tanya Erfan buru-buru.
"Ayo lajukan mobilnya nanti di depan belok ke kiri kejalan kecil," jawab Bi Ayu dengan nada santai.
Erfan mengangguk lalu menjalankan mobil nya.
Tidak lama mereka sampai di tengah hutan yang sepi dan gelap.
Mereka keluar dari mobil.
"Kita main disini saja, aman ~ walau mau mendesah keras juga!" ucap Bi Ayu dengan nada menggoda.
Erfan Yang Sudak tidak tahan tidak berpikir lama, dia langsung memeluk Bi Ayu, pertempuran Yang sangat panas pun terjadi, Erfan seperti jenderal perang dengan berani terus menggempur dengan keras.