Bab 2
Serina sang pengurus vila
Erfan pergi mandi, lalu berganti pakaian. setelah selesai, dia bersantai di halaman belakang di sisi kolam berenang.
Tiba tiba, suara langkah kaki terdengar, menuju ke arah nya.
Saat Erfan melirik, dia melihat seorang wanita berumur sekitar 30 thn, wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih,memiliki body yang sangat mengesankan, walaupun di balut daster longgar tapi tonjolan di dadanya tidak bisa di sembunyikan saking besarnya.
Mata Erfan melihat dari atas kebawah, tenggorokannya seketika kering.
"Tuan muda," wanita tersebut, menyapa sambil membungkuk.
Karena kerah dasternya cukup rendah, sehingga dalam posisi membungkuk belahan dada yang begitu dalam terlihat di hadapan mata Erfan, Membuat perut bagian bawah Erfan menjadi panas.
Erfan menarik nafas, mencoba menenangkan hasratnya. Setelah sedikit tenang, Erfan mulai berbicara.
"Apa Nona pengurus vila ini?" tanya Erfan, dengan tenang.
"Benar tuan muda, nama saya Serina," jawab Wanita itu.
"Oke Nona Serina, perkenalkan nama saya Erfan!" ucap Erfan santai.
"Baik tuan muda Erfan, tuan muda bisa memanggil saya, dengan sebutan nama saja!" ucap Serina, sambil menundukkan wajahnya.
"Baik Serina," balas Erfan, dia tidak sungkan. karena menurut Erfan, jika bisa memanggil nama, itu tidak terlalu canggung.
Erfan mengeluarkan salah satu karu Atm miliknya, lalu memberikannya kepada Serina.
"Di kartu itu ada sejumlah uang, untuk ke perluan vila, nomor pin nya 111111!" ucap Erfan sambil tersenyum.
"Baik tuan muda," jawab Serina.
"Serina, apakah kamu punya suami?" tanya Erfan, dia cukup penasaran, dengan status wanita itu.
"Saya sudah punya suami tuan muda!" jawab Serina, sambil menatap Erfan. Tatapan wanita itu sedikit Aneh, karena tiba-tiba Erfan menanyakan statusnya.
"Jadi anda tidak bisa tinggal disini yah?" Erfan bertanya sedikit lesu.
"Memang nya kenapa tuan muda?" Serina balik bertanya, sambil menatap Erfan, tidak sabar ingin mendengar jawaban pria itu.
"Yah, kalo kamu bisa tinggal disini, saya ada teman, vila sebesar ini jika di tinggali sendiri sangat sepi," ucap Erfan, terlihat ekspresinya sedikit lesu.
"Maaf sekali tuan muda, saya tidak bisa!" ucap Serina, dengan nada meminta maaf.
"Oke, tidak apa apa!" ucap Erfan sambil tersenyum, tapi hatinya terasa pahit.
"Apakah Tuan muda, mau minum sesuatu?" tanya Serina.
"Aku mau kopi hitam, tanpa gula!" jawab Erfan.
"Baik, saya akan membuatkan nya," Serina berkata lalu pergi.
Erfan melihat kepergian Serina.
"Sial, wanita yang sangat sempurna, ternyata sudah memiliki suami," umpat Erfan di dalam hati.
Tiba tiba senyum tersungging di bibirnya.
"Hidup ku, mulai ada tantangan." gumamnya, entah apa yang di pikirkan Erfan.
Tidak lama Serina kembali membawa secangkir kopi, lalu menyajikannya di meja dengan hati-hati.
"Terimakasih," ucap Erfan, sambil tersenyum.
"Sama-sama tuan muda," jawab Serina.
"Duduk dulu temani aku ngobrol sebentar!" ucap Erfan.
"Saya berdiri saja, tuan muda." ucap Serina, dengan canggung.
"Sudah duduk saja, santai saja!" ucap Erfan, dengan nada santai.
Serina tidak bisa melawan perintah dia hanya bisa menuruti permintaan Erfan. wanita itu duduk, dengan postur yang terlihat kaku.
"Serina, Mengapa kamu memilih pekerjaan sebagai pengurus vila? tidak di kebun atau di tempat pengemasan buah seperti wanita lainnya?" tanya Erfan, lalu menyeruput kopi.
"Pada awalnya saya bekerja disana, tapi kemarin saya di tawari pekerjaan ini oleh Nona Anne yang gajih nya lebih besar dari pada di kebun!" jawab Serina jujur.
"Berati kamu pandai masak, dan mengurus pekerjaan rumah? makannya Nona Anne merekrut mu," Erfan berkata, sambil menatap wanita itu.
"Benar, selain bisa masak, dan mengerjakan pekerjaan rumah, saya bisa memijat juga," ucap Serina .
"Ternyata Nona Anne, memang memilih yang mempunyai ke ahlian yang sangat penting," Erfan mengangguk puas, senyuman terlukis dibibirnya.
"Apakah suami kamu juga bekerja di perusahaan pertanian nusantara?" tanya Erfan, sambil menatap wanita itu, dengan tatapan penasaran.
"Benar tuan muda, dia bekerja sebagai sopir," jawab Serina .
Erfan mengangguk,
"Saya mengira, kamu belum memiliki suami," Erfan berkata dengan berani.
Serina bingung mau menjawab apa dia hanya bisa tersenyum.
"Apakah kamu sudah memiliki anak?" tanya Erfan santai.
"Belum tuan muda," jawab Serina dengan nada sedih .
"Apakah kamu baru saja menikah?" tanya Erfan penasaran.
"Saya menikah sudah hampir 3 tahun," balas Serina, dengan nada tenang.
Erfan mengangguk mengerti, tapi ada rasa tidak nyaman di dalam hati Erfan, tapi dia menghiraukannya.
"Serina, aku mau dipijat dong! tubuh ku sangat pegal karena menyetir terlalu lama," ucap Erfan.
"Oh silahkan tuan muda , mau dimana?" tanya Serina.
"Di sofa dalam saja!" jawab Erfan.
Mereka pun pergi kedalam , lalu Erfan melepas baju yang di pakainya.
Saat Serina melihat tubuh Erfan yang begitu kekar, dan ideal, matanya sedikit tersesat.
"Tubuh tuan muda begitu sempurna, hey hey Serina kamu memiliki suami jangan berpikir yang tidak tidak!" gumam Serina dalam hati.
Erfan berbaring dengan posisi punggung menghadap ke atas.
Serina mengambil minyak pijat, lalu mulai pemijat Erfan.
"Sial tangannya sangat lembut, jika di pakai memegang senjata ku itu pasti sangat nikmat." Erfan mulai berpikir kotor, Senjata milik nya mulai berdiri, karena rangsang yang di transfer oleh pijatan wanita itu.
Serina terus memijat, dengan terampil.
"emm"
Sesekali, Erfan mengeluarkan suara nikmat.
"Apakah enak tuan muda?" tanya Serina dengan suara lembut.
"Sangat...enak.. !" Erfan menjawab terbata bata.
Serina tersenyum indah.
Erfan di pijat, selama 30 menit oleh Serina. Karena Erfan sangat terangsang, dia memilih menghentikan sesi pijat itu.
"Sudah cukup, aku sudah merasa nyaman!" ucap Erfan sambil bangkit, lalu memakai kembali bajunya.
Saat Serina tidak sengaja mentap ke arah celana Erfan, matanya terbelalak, saat melihat celana dibagian senjata Erfan menonjol.
"Apa dia terangsang?" Serina bergumam dalam hati.
Erfan kembali bersantai, disisi kolam berenang.
===
Selama 3 Hari Erfan hanya diam di Vila dan hanya sekali mengunjungi perusahaan untuk berkenalan dengan para karyawan disana.
Erfan dan Serina juga sudah akrab tidak ada rasa kaku sama sekali diantara mereka.
"Tuan muda, apa hari ini kamu akan pergi ke perusahaan?" tanya Serina .
"Iyah ,aku sudah siap bekerja kembali," jawab Erfan.
"Kalo gitu, semangat!" ucap Serina.
"Tentu saja, Serina cantik!" ucap Erfan sambil menyeringai nakal.
"Hey, jangan ngegombalin istri orang, itu berbahaya loh!" Ucap Serina, sambil tersenyum menggoda.
"Oh, apakah begitu, tapi itu sedikit menantang sih," Ucap Erfan, dengan nada santai, sambil menyisir rambutnya.
Serina tersenyum, dia tidak menganggap serius perkataan Erfan.
"Aku pergi dulu!" Erfan berkata lalu pergi.
Erfan mengendarai mobil sport nya, ke perusahaan. Sampai di perusahaan, semua karyawan menyapa dengan hangat. Erfan menyapa mereka dengan penuh keramahan dan senyuman.
Sampai di dalam ruangan kerja, Erfan langsung membuka laptop nya.
Saat Erfan sedang mengecek laporan perusahaan, Ada yang mengetuk pintu ruangan.
Tok Tok Tok
"Masuk!" Ucap Erfan.
Sosok cantik, dan menggoda, yaitu Anne masuk ke dalam ruangan. Hari ini, Anne menggunakan kameja putih yang di balut balzer hitam, rok mini hitam menampakkan kaki mulus, yang bisa mengundang hasrat para pria.
"Tuan muda, ternyata anda sudah mulai bekerja," Anne berkata sambil tersenyum.
Erfan menatap Anne, dia mengangguk, lalu berkata sambil tersenyum.
"Aku sudah cukup beristirahat!" jawab Erfan.
"Tuan muda, ada beberapa hal tentang perusahaan, yang perlu saya sampaikan!" ucap Anne.
"Duduk, dan bicara!" ucap Erfan.
Anne duduk di dikusi yang tersedia, di depan Erfan.
"Tuan muda, perusahaan kekurangan kendaraan untuk pengiriman, dan kendaraan yang ada juga sudah terlalu tua sering rusak saat di perjalanan." ucap Anne.
"Memang, butuh berapa unit?" tanya Erfan santai.
"Minimal 10 unit!" jawab Anne setelah berpikir sejenak.
"Apakah 15 Unit Cukup?" tanya Erfan.
"Itu lebih baik tuan muda!" Anne berkata sambil tersenyum.
"Tipe apa yang di inginkan para sopir?" tanya Erfan, dia menanyakan hal tersebut, karena menurutnya, kenyamanan para sopir, adalah yang terpenting.
"Saya mendengar mereka, menyaran membeli mobil dari merek Hino, harga 1 unit 1,4 miliar," ucap Anne, dia sedikit ragu, karena harga mobil tersebut cukup mahal.
"Oke, kalo begitu aku akan memesannya sekarang," ucap Erfan, lalu menelepon seseorang.
Erfan mengobrol dengan seseorang sebentar di telepon.
Erfan menutup telepon,
"Aku sudah menyuruh orang, untuk membeli 15 unit mobil Hino, dan 2 hari kagi mobil tersebut akan datang!" ucap Erfan sambil tersenyum.
Anne terkejut, begitu mudahnya Erfan menyelesaikan masalah yang membutuhkan biaya besar. Wanita itu mulai penasaran, seberapa besar latar belakang Erfan.
"Apakah tuan muda, menggunakan uang pribadi?" tanya Anne.
Erfan mengangguk,
"Aku tau, keuangan perusahaan ini sangat sulit, jika harus memobilisasi uang sebanyak itu," ucap Erfan .
"Memang benar tuan muda!" jawab Anne dengan nada tidak berdaya.
"Nona Anne, aku berniat ingin memperluas lahan pertanian buah buahan!" ucap Erfan.
"Apakah tuan muda serius?" tanya Anne penuh semangat.
"Tentu saja, masalah harga aku tidak keberatan, jika bisa kamu harus mendapatkan seluas mungkin!" Ucap Erfan, dengan serius.
"Baik tuan muda, saya akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Anne, Dengan serius.
"Tenang saja, setelah kamu menyelesaikannya dengan baik, aku akan memberi bonus!" ucap Erfan sambil tersenyum.
"Terimakasih tuan muda," Anne tampak bersemangat, bahkan dia ingin segera menyelesaikan proyek tersebut, saat mendengar Erfan akan memberikan sebuah bonus.
Anne pun pamit, dia ingin segara memberi tahu para sopir, tentang armada baru, dan Anne ingin segera pergi ke pemerintah setempat, untuk bertanya terkait rencana memperluas lahan.
Erfan kembali fokus, dengan laptopnya .
Jam 5 sore, Erfan baru keluar kantor.
"Tuan muda, anda baru pulang?" tanya Seorang petugas keamanan .
"Iyah pak, ini bagi bagi sama yang lain buat beli kopi!" ucap Erfan sambil memberikan uang 200 rb .
"Terimakasih tuan muda," Petugas keamanan tersebut menerima dengan senang hati.
Erfan mengangguk, sambil tersenyum, lalu dia masuk kedalam mobil nya, lalu pergi dari perusahaan.
Bab 3
Bi Ayu Penjaga Warung
Erfan tidak mengemudikan mobil nya ke vila. Akan tetapi dia mengemudikan mobilnya ke arah keluar dari desa.
"Di vila, pasti Serina sudah pulang, aku mending main ke warung Bi Ayu. hehe, siapa tau saja mendapat sedikit kenikmatan!" Erfan berkata sambil terkekeh.
Erfan pun sampai, di warung Bi Ayu.
Warung Bi Ayu sedang sepi, tidak ada pembeli karena hari sudah sore.
Bi Ayu yang melihat kedatangan Erfan, langsung menyapanya dengan antusias.
"Tuan muda, ternyata anda!" ucap Bi Ayu, dengan nada menggoda.
"Bi, aku mau sebungkus rokis, dan juga masakin mie goreng yah!" ucap Erfan sambil tersenyum.
"Oke siap, silahkan masuk di dalam saja!" ucap Bi Ayu memberi kode.
Erfan tidak sungkan, dia langsung masuk.
Bi Ayu memberikan sebungkus rokis kepada Erfan.
Erfan langsung menyalakan rokis, karena dia sudah kehabisan rokis dari tadi siang, jadi dia sangat ingin menghisap rokis sekarang.
Bi Ayu langsung memasak mie untuk Erfan.
"Bagaimana? Apa tuan muda bertahan, tinggal di kampung mawar?" tanya Bi Ayu sambil memasak.
Erfan terkekeh, sambil menjawab pertanyaan itu.
"Tentu saja bi, sangat banyak wanita cantik hehe!" Erfan berkata terus terang.
Bi Ayu berkata, sambil terkikik genit,
"Hihihi, ternyata tuan muda, menyukai keindahan!" ucap Bi Ayu.
"Tentu saja Bi, saya masih normal!" balas Erfan, sambil terkekeh.
"Apa banyak wanita, yang menggoda tuan muda?" tanya Bi Ayu.
"Balum sih, aku baru hari ini masuk kantor, dan belum sempat berinteraksi dengan banyak orang," ucap Erfan.
"Lama lama juga, pasti banyak yang ngedeketin tuan muda, apa lagi tuan muda sangat tampan, dan kaya. pasti gak akan kesepian deh!" ucap Bi Ayu dengan berani.
"Yah, ini juga agak kesepian sih, disini gak seperti di kota jika kesepian tinggal pergi ke club untuk mencari wanita ." Erfan berkata, dengan berani.
Bi Ayu menyeringai nakal.
Mie pun jadi,
Bi ayu, meletakan semangkuk mie di depan Erfan, Lalu Bi Ayu, duduk di sisi Erfan.
"Kalo bibi masih muda, dan masih cantik, mungkin bibi mau menemani tuan muda!" Ucap Bi Ayu, sambil menatap Erfan penuh dengan godaan.
Erfan menyeringai nakal,
"Bibi masih cantik, bahkan lebih menggoda, gak kalah sama wanita muda kok!" ucap Erfan sambil mengaduk mie,
"Tapi bibi sudah memiliki suami, dan anak, pasti tidak senikmat wanita muda." balas Bi Ayu, tangan nya diletakkan di paha Erfan, dia mulai menggoda Erfan.
"Aku jadi penasaran, dengan rasanya!" Erfan berkata sambil menyeringai nakal.
Bi Ayu menatap Erfan, dengan tatapan genitnya itu. Tangan Bi Ayu, mulai berani menyentuh sedikit area senjata Erfan.
"Kalo tuan muda mau boleh aja sih, tapi bibi minta uang buat skin care aja! Boleh kan?" Bi Ayu berbicara dengan pelan, nadanya sangat genit. Tangan Bi Ayu terus menggosok celana di area senjata Erfan.
"Suami bibi gimana." Erfan sudah mulai terangsang, oleh godaan wanita dewasa itu.
"Tenang saja, aman kok. dia tidak pernah ke sini," jawab Bi Ayu.
"Apa bibi sering, melakukan dengan pria lain?" tanya Erfan, karena dia takut milik Bi Ayu tidak bersih.
"Tenang saja, bibi belum pernah melakukannya selain dengan suami bibi kok," ucap Bi Ayu.
Tangan Erfan, mulai berani menyentuh gunung besar Bi Ayu, yang tertutup daster longgar itu.
"Berapa? yang Bi Ayu inginkan," tanya Erfan sambil meremas pelan gunung besar Bi Ayu.
"shh emm 1 juta aja!" Bi Ayu bekata sambil mendesah, Bi Ayu sudah mulai terbakar api hasrat.
"Mau main dimana nih?" tanya Erfan suaranya sudah agak berat.
"Kita cari tempat sepi aja tuan muda, kalo main di sini, nanti ada orang yang curiga, apalagi mobil tuan muda berada di depan warung, tapi warung nya tutup," ucap Bi Ayu, dengan nafas yang mulai memburu.
"Mau sekarang, atau nanti?" tanya Erfan.
"Nanti saja, kalo hari sudah gelap!" ucap Bi Ayu sambil tersenyum penuh nafsu.
"Tapi aku udah gak tahan nih! bisa gak Bi Ayu pake mulut dulu gitu?" Erfan berkata, Hasratnya sudah tidak bisa di tahan lagi.
"Oke, tapi tolong lihat keadaan di luar! takut ada orang yang datang!" ucap Bi Ayu .
"Oke," jawab Erfan.
Bi Ayu berjongkok, lalu membuka resleting celana Erfan. Wanita dewasa itu, mengeluarkan senjata Erfan dengan terampil. Saat senjata besar, dan panjang, itu keluar dari dalam sangkarnya. Mata wanita dewasa itu, seketika membelalak.
"Ini ini sangat besar!" ucap Bi Ayu, sambil menatap senjata itu, dengan tatapan penuh hasrat.
Tanpa ragu, Bi Ayu langsung melahap senjata Erfan. Terdengar, suara spesial yang membuat hasrat semakin membara. Saat permainan Bi Ayu mulai liar di senjatanya, tiba tiba ada yang datang menggunakan motor.
Bi Ayu, dan Erfan buru buru merapihkan diri mereka. Erfan berpura-pura makan mie, tidak menunjukkan reaksi, yang bisa membuat orang lain curiga.
Pembeli yang datang, adalah seorang pria tua, dia ingin ngopi di warung.
Akhirnya Erfan harus menahan hasrat, yang hampir meledak. Wajah Erfan terlihat sangat pahit, saat masa-masa nikmatnya terganggu.
"Sial, lagi nikmat nikmatnya, malah oh sial," umpat Erfan dalam hati.
Bi Ayu tersenyum nakal ke Arah Erfan, sambil menyeduh kopi untuk pria tua itu.
Setelah selesai makan mie, Erfan memesan kopi, sambil menunggu pria tua itu pergi.
Hari pun mulai gelap, pria tua itu pulang.
Bi Ayu berbisik di telinga Erfan.
"Tuan muda, majukan dekit mobil ke arah kampung mawar, Nanti bibi akan pergi ke mobil tuan muda jika situasi aman." ucap Bi Ayu.
Erfan mengangguk, lalu keluar dari warung, lalu dia masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Ares melaju ke arah kampung mawar sejauh 30 meter dari warung Bi Ayu.
Jalan di pedesaan sangat sepi, hanya satu dua motor yang lewat.
Beberapa menit kemudian, Erfan melihat Bi Ayu berjalan ke Arah mobil nya dengan langkah santai. Tidak ada orang yang mencurigainya walau ada yang melihat.
Setelah dekat dengan mobil Erfan, Bi Ayu menengok kanan dan kiri, memastikan tak ada yang melihatnya, lalu dia buru-buru masuk ke dalam mobil.
Bi Ayu menghela nafas lega.
"Huh, Aman!"
Tanpa peringatan, Ares menarik Bi Ayu ke pelukan nya. Tanganya meremas gunung besar Bi Ayu dengan sedikit keras.
Bi Ayu mendesah,
"Ahhh... ahh... tuan muda udah gak sabar yah?" tanya Bi ayu sambil menatap Erfan dengan tatapan genit.
"Tentu saja, tadi sangat nanggung tahu," jawab Erfan dengan nada penuh hasrat.
"Ayo cari dulu tempat yang aman," ajak Bi Ayu. Tangan menahan pergerakan tangan Erfan.
Erfan menarik tangannya.
"Kita main di mana?" tanya Erfan buru-buru.
"Ayo lajukan mobilnya nanti di depan belok ke kiri kejalan kecil," jawab Bi Ayu dengan nada santai.
Erfan mengangguk lalu menjalankan mobil nya.
Tidak lama mereka sampai di tengah hutan yang sepi dan gelap.
Mereka keluar dari mobil.
"Kita main disini saja, aman ~ walau mau mendesah keras juga!" ucap Bi Ayu dengan nada menggoda.
Erfan Yang Sudak tidak tahan tidak berpikir lama, dia langsung memeluk Bi Ayu, pertempuran Yang sangat panas pun terjadi, Erfan seperti jenderal perang dengan berani terus menggempur dengan keras.
Bab 4
Masih Nikmat
1 jam berlalu, akhirnya mereka mencapai puncak bersama sama. Tubuh mereka mengejang hebat sambil berpelukan erat, suara kenikmatan keduanya bergema di tempat tersebut.
"Kamu sangat hebat tuan muda," puji Bi Ayu tangannya mengelus lembut wajah Erfan.
"Kamu juga, masih sangat nikmat," ucap Erfan, lalu mengecup bibir Bi Ayu.
Setelah beristirahat beberapa menit, sambil bermesraan, mereka kembali berpakaian. Erfan memberikan uang Cash sebanyak 2 juta, yang membuat Bi Ayu sangat senang.
Erfan melajukan mobil nya, dari tempat tersebut.
Rumah Bi Ayu, ternyata ada di kampung mawar.
Bi Ayu meminta turun, di pintu masuk ke kampung mawar, agar tidak ada yang mencurigainya.
Setelah Bi Ayu turun, mobil Erfan melaju pergi.
Sampai di vila, Erfan membersihkan diri, lalu bersantai di sisi kolam berenang.
"Huh. seperti kekuatan uang, berpengaruh banyak di sini!" ucap Erfan, sambil menyeringai nakal.
====
Pagi hari tiba,
Erfan keluar dari kamar, dengan pakaian yang sudah rapi, siap ke kantor.
"Sarapan sudah siap, tuan muda," Serina berkata, sambil menata makanan di meja makan.
"Ayo sarapan!" Erfan berkata sambil duduk.
Serina yang sudah biasa sarapan bersama Erfan, tentu tidak menolak.
Selama sarapan, Erfan terus menatap wanita cantik, yang sedang menyantap makanan itu.
Serina menyadari Ares yang terus menatapnya, tetapi dia tidak mempermasalahkannya. Dia hanya fokus dengan makanannya, berpura-pura tidak menyadari tatapan Erfan.
"Kenapa yah tuan muda terus menatap ku? apa dia menyukai ku? tapi itu tidak mungkin ah," gumam Serina dalam hati.
"Serina, jika kamu perawatan pasti semakin cantik," ucap Erfan, secara tiba-tiba.
Serina yang mendengar perkataan Erfan sedikit terkejut. Wanita itu berusaha berpikir positif, tidak terlalu menyangkut pautkan, dengan perasaan Erfan kepadanya.
"Aku tidak mampu perawatan tuan muda, jangan kan perawatan beli pakaian pun susah!" Serina berkata terus terang.
"Mau gak kalo perawatan?" tanya Erfan santai.
"Nanti kalo aku cantik, terus tuan muda menyukai ku bisa bahaya!" Serina berkata, dengan main-main.
"Iyah juga sih. penampilan kamu seperti ini juga aku sudah sering terpancing," ucap Erfan dengan berani.
Serina tidak menjawab, dia hanya menikmati makanan tenang. Tapi hatinya tidak setenang apa yang ada di permukaan.
Setelah selesai sarapan, Erfan berangkat ke perusahaan.
Semua pegawai, menyapanya dengan hangat, dan ada beberapa wanita cantik, yang mulai berusaha menarik perhatiannya.
Erfan masuk kedalam ruangannya,
Tok tok tok
"Masuk!"
Anne masuk kedalam ruangan Erfan. Anne datang bersama seorang pria paru baya, tapi masih terlihat gagah.
"Tuan muda, ini adalah pak RW Kampung Mawar," Anne memperkenalkan.
"Oh, halo pak RW, Saya Erfan," Erfan menyapa dengan sopan.
"Salam kenal,'tuan muda Erfan," ucap Pak RW sambil tersenyum.
"Salam kenal juga pak, Silahkan duduk!" ucap Erfan.
Mereka pun duduk dengan senyaman mungkin. Erfan mengambil inisiatif, untuk bertanya tujuan Pak RW menemuinya.
"Ada keperluan apa yah? Pak RW, datang kemari?" tanya Erfan, dengan ramah.
"Ini tuan muda, soal tanah untuk memperluas lahan pertanian tuan muda. sebenarnya ada beberapa lahan milik warga, jadi tidak semua lahan kosong itu milik pemerintah." jawab Pak RW menjelaskan.
"Oh jadi seperti itu," Erfan mengangguk mengerti.
"Apakah warga tidak mau menjualnya?" tanya Erfan.
"Saat saya menanyakan kepada mereka. jika anda dibeli dengan harga sedikit lebih tinggi, mereka setuju untuk menjualnya," jawab Pak RW.
"Tidak masalah, berapapun itu. yang penting mereka tidak merasa terpaksa," ucap Erfan dengan nada serius.
Pak RW sangat kagum, dengan sikap dan sifat Erfan.
"Tuan muda, jika keseluruhan luas tanah yang siap di beli, ada sekitar 2 kilometer persegi," ucap Anne.
"Berapa uang yang harus saya keluarkan?" tanya Erfan.
"5 miliar!" jawab Anne.
"Apa kamu serius, itu tidak terlalu rendahkan?" Erfan terkejut.
"Memang harga tanah di desa ini, masih tergolong murah tuan muda." Anne menjelaskan.
"Oke. untuk membayar, apa ingin uang Cash, atau transfer?" tanya Erfan.
"Jika tanah milik warga, mereka ingin Cash saja, dan jika tanah milik negara lebih baik di transfer saja tuan muda," jawab Anne.
Erfan mengangguk,
"Berapa? jumlah uang untuk membeli tanah milik Warga?" tanya Erfan.
"500 juta, tuan muda," balas Anne.
"Baiklah, aku tidak mempunyai uang cash sebanyak itu. sepulang kerja kamu antar aku ke bank terdekat!" ucap Erfan, kepada Anne.
"Baik tuan muda," balas Anne sambil mengangguk kepalanya.
Erfan mengeluarkan segepok uang dari bawah mejanya, lalu memberikan kepadan Pak RW.
Pak RW terkejut, saat diberi uang yang sangat banyak. Dia bertanya dengan nada kaku, kepada Erfan.
"Tuan muda ini?" tanya Pak RW bingung.
"Itu untuk bapak. terimakasih, telah membantu perusahaan saya." jawab Erfan sambil tersenyum.
"Ini, terlalu banyak, tuan muda," ucap Pak RW, dengan nada tidak enak.
"Sudah pak, pakai lah uang nya, untuk keluarga bapak," balas Erfan.
Akhirnya Pak RW menerima.
Pak RW dan Anne pergi dari ruangan Erfan.
===
Sore hari,
Ares dan Anne pergi dari perusahaan,
Mobil sport lamborghini, melaju pelan di jalanan desa.
"Tuan muda, kota cukup jauh membutuhkan waktu 1 jam," ucap Anne.
"Tidak masalah!" jawab Erfan.
Anne mengangguk sambil tersenyum,
"Jalan disini sangat bergelombang, sepertinya aku harus mengganti mobil!" ucap Erfan.
"Mobil tuan muda, cocok untuk di kota jika dipakai di kampung, bisa penyok penyol nanti," ucap Anne sambil terkekeh.
"Iyah, sangat disayangkan, jika mobil kesayangan ku rusak," ucap Erfan, dengan nada sedih.
1 jam kemudian, Mereka sampai di Bank.
Karena Erfan nasabah prioritas, bank tersebut memperlakukan nya dengan baik, mereka tidak berani berlama lama. Erfan mengambil uang cash 1 miliar. Erfan sengaja mangambil lebih, karena Erfan sudah ke habisan uang Cash juga.
Tidak lama, uang 1 miliar sudah tersedia.
Erfan pergi dari bank bersama Anne.
Di dalam mobil, Erfan memberikan uang 50 juta kepada Anne.
"Itu komisi untuk mu!" ucap Erfan, dengan santai.
"Tuan muda, ini terlalu banyak!" ucap Anne, dia sangat terkejut, dan ada rasa gembira, saat melihat uang sebanyak itu.
"Sudah terima saja," ucap Erfan.
Anne hanya bisa menerima dengan kebahagiaan, kali ini dia mendapat uang sebesar ini.
"Nona Anne apakah disini ada mall?" tanya Erfan Kepada Anne.
"Ada tuan muda, tapi tidak sebesar Mall di kota." jawab Anne.
"Tidak masalah, ayo kita kesana!" ucap Erfan.
Mereka pun pergi menuju ke mal.