Bab 3
Aku terduduk lemas di genangan darah. Seluruh tubuhku terasa seperti hancur berkeping-keping oleh rasa sakit yang luar biasa. Namun, yang lebih menyakitkan adalah perutku, tempat di mana kehidupan baru sedang tumbuh.
Rasa anyir yang pahit mengalir dari bibirku dan air mata yang terus mengalir memburamkan penglihatanku. Aku memeluk kotak abu ibuku erat-erat dan mencoba untuk berdiri. Namun, tubuhku tidak mau bergerak.
Tanganku yang gemetar meraba perutku, lalu tiba-tiba darah segar menyembur keluar dari mulutku.
Pemandangan itu membuat Naila ketakutan. Dia mencengkeram lengan Ezra erat-erat. Wajahnya yang biasanya tampak lembut berubah pucat.
"Farah! Jangan pura-pura! Aku cuma menyentuhmu sedikit. Jangan berlagak seperti hampir mati!" Ezra berdiri di kejauhan. Wajahnya gelap dan penuh amarah. Dengan santai, dia mengeluarkan tisu untuk membersihkan sepatunya yang terkena darahku.
Mata Naila memerah dan air matanya hampir tumpah. Dengan ekspresi polos, dia menatapku sambil berkata, "Ezra! Jangan-jangan dia hamil? Lihat, darahnya banyak sekali. Menjijikkan sekali. Ugh!"
Dia pura-pura menutup mulutnya dan membungkuk seolah-olah akan muntah.
Meski aktingnya begitu jelas, Ezra menepuk bahunya dengan lembut untuk menenangkannya. "Kalau menjijikkan, jangan lihat." Dia lalu menatapku dengan ekspresi penuh kebencian yang begitu jelas.
"Mana mungkin dia hamil? Kalau benar begitu ...."
"Hah! Dia pasti sudah mengumumkannya ke seluruh dunia dan menggunakan itu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik."
Ezra tertawa sinis dengan kebencian yang memenuhi seluruh ruangan. "Orang seperti dia sangat licik ...."
Belum sempat aku merespons, rasa sakit yang luar biasa menyerang perutku lagi. Rasa sakit itu seperti ribuan jarum yang menusuk kulitku, menghancurkan tulang, dan membakar jiwaku. Seolah-olah setiap saraf di tubuhku digenggam erat oleh dua tangan mungil yang mengekspresikan kemarahan mereka.
Rasanya seperti ususku hampir putus.
"Uhuk ... uhuk!"
Aku terbatuk dengan keras. Darah segar keluar dari mulutku. Namun, aku malah tertawa dengan sisa darah di bibirku. "Haha ...."
"Ezra! Lihat ... apa ini?"
Dengan tangan yang gemetaran, aku merogoh saku bajuku. Tanganku yang berlumuran darah dan kini bercampur dengan serpihan kehidupan yang telah hilang dari tubuhku, mencengkeram erat laporan pemeriksaan kehamilan itu.
Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar dan menyodorkannya kepada Ezra.
"Lihat ini. Setelah kamu melihatnya, aku akan pergi! Semoga kalian berdua langgeng!"
Dengan tangan yang gemetar, aku mengangkat laporan pemeriksaan kehamilan itu.
"Ezra! Bukankah kamu paling menginginkan anak? Kalau begitu, sebelum aku pergi, aku akan menggunakan laporan ini sebagai pisau yang menghujam langsung ke hatimu! Biarkan kamu tahu, sejak tendanganmu tadi, Keluarga Tanoto ini ditakdirkan untuk nggak punya keturunan selamanya!"
"Farah!! Aku nggak punya waktu untuk main-main denganmu!"
Ezra merebut laporan pemeriksaan dari tanganku. Namun, dia tidak melihatnya. Dengan ekspresi penuh kebencian, dia meremas laporan itu menjadi bola kertas dan melemparkannya ke dalam genangan darahku.
"Apa kamu nggak mengerti apa yang aku katakan? Aku bilang aku hampir kehilangan kesabaran! Sudah cukup!" Dia mencengkeram rambut panjangku, menariknya dengan kasar, dan memaksaku untuk menatap matanya yang penuh kemarahan.
"Aku bilang serahkan kotak abu itu padaku! Minta maaf sama Naila! Kamu masih bisa jadi Nyonya Keluarga Tanoto! Apa kamu dengar?!"
Rasa sakit di kulit kepalaku seperti tercabik-cabik. Aku menggigit bibirku erat-erat hingga darah mengalir dan memastikan diriku tidak mengeluarkan suara. Aku menatap Ezra dengan mata penuh darah dan kebencian.
Ezra melirik kotak abu yang kupeluk erat, urat-urat di lehernya menegang. "Kenapa masih meluk kotak itu?! Orangnya sudah mati! Sampai kapan kamu akan gunakan dia untuk memerasku?!"
"Berikan padaku!"
"Berikan sekarang!"
Aku dan Ezra berteriak bersamaan saat dia merebut kotak abu dari pelukanku.
Yang satu teriakan penuh kemarahan yang ekstrem, sedangkan satu lagi jeritan penuh kesedihan yang histeris. Tanganku yang mencakar Ezra telah merobek kulitnya dan membuat darah mengalir. Dia menatapku dengan tatapan penuh kebencian.
"Oke! Kalau itu yang kamu inginkan!"
Dia tiba-tiba berteriak, kemudian di depan mataku yang membelalak, dia membuka kotak abu itu dengan kasar dan melemparkannya ke udara hingga menyebarkan abu ibuku ke seluruh ruangan.
"Mama!!"
Aku berteriak histeris, berusaha meraih abu yang jatuh dengan tangan gemetar. Namun, sebelum aku bisa bergerak lebih jauh, kepalaku ditahan Ezra dan ditekan keras ke lantai. Dia menggesekkan wajahku ke permukaan yang dingin dan kasar.
"Lepaskan aku! Aku nggak bisa membiarkan ibuku ...."
Tamparan keras mendarat di wajahku, membuat kepalaku bergetar. Ezra berteriak dengan kemarahan yang membara.
"Diam! Jangan pura-pura lagi! Bukankah kamu cuma ingin gunakan kematian ibumu untuk mendapatkan lebih banyak belas kasihan dariku?! Oke! Aku akan memberimu apa yang kamu inginkan!"
Ezra menarik kepalaku ke depan tubuhnya. Dengan tangan lainnya, dia mengambil segenggam abu ibuku dan mencekokinya dengan paksa ke mulutku.
"Kamu cinta banget sama wanita tua itu, 'kan? Kalau begitu, biarkan dia beristirahat dalam tubuhmu selamanya! Buka mulutmu! Kenapa nggak buka mulut?!"
Ezra mendorong kepalaku ke lantai dengan kasar hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
"Kamu bahkan nggak bisa buka mulutmu! Lalu apa hakmu mengatakan kamu cinta sama dia?!"
"Buka! Biarkan aku lihat kesetiaanmu! Kalau nggak, kamu juga nggak layak jadi Nyonya Keluarga Tanoto!"
Bab 4
Aku menggigit erat gigi-gigiku dan menolak untuk membuka mulut, sementara Ezra terus menamparku dengan kasar dan memaksaku untuk menyerah. Akhirnya, dia mencengkeram rahangku dengan kedua tangannya, mencoba membuka mulutku dengan kasar.
Dada Ezra bergetar hebat. Napasnya memburu dan dia berteriak dengan marah, "Cepat! Kalau nggak mau makan, sekarang juga minta maaf sama Naila! Lalu mohon sama aku, bilang kamu nggak mau pergi dan kamu ingin tetap jadi Nyonya Keluarga Tanoto!"
Rasa sakit yang menusuk menjalar dari sudut bibirku. Kepalaku terasa seolah-olah akan terbelah menjadi dua oleh kekuatannya. Namun, aku tetap menatap Ezra dengan mata yang penuh dengan kemarahan dan kebencian.
Mungkin karena dia menyadari bahwa aku hampir mati, seberkas kesadaran muncul di matanya. Akhirnya, Ezra melepaskan tangannya.
Aku terengah-engah dan buru-buru merangkak di lantai, mencoba untuk mengumpulkan sisa abu ibuku. Namun tiba-tiba, Naila sengaja membuka semua jendela.
"Ezra, di sini terlalu pengap. Paru-parumu nggak terlalu baik, jadi aku buka jendela untuk sirkulasi udara." Sambil berbicara, dia juga menyalakan AC dengan kekuatan maksimal.
"Jangan!"
Aku mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhku dan berlari ke arah Naila.
Namun, dalam sekejap mata, angin kencang dari luar dan sirkulasi udara AC menyebarkan abu ibuku ke seluruh ruangan. Yang tersisa hanyalah beberapa pecahan tulang kecil di lantai yang bergoyang pelan terbawa angin.
"Ah! Maaf ya, Farah! Aku cuma khawatir sama kesehatan Ezra, jadi aku buka jendela. Aku nggak nyangka akan membuat abu ibumu ...."
Naila berjalan mendekat, lalu menginjak sisa pecahan tulang itu dengan sengaja. Wajahnya berpura-pura polos sambil berkedip seolah-olah tak bersalah.
"Maaf ya, aku telah membuat ibumu benar-benar hilang menjadi debu."
Mataku merah karena marah. Aku melompat ke arahnya dan mencengkeram lehernya erat-erat. "Kubunuh kau!" Aku mencengkeram leher Naila dengan kekuatan penuh, berniat untuk mati bersamanya.
Namun, Ezra yang begitu peduli pada Naila, tentu tidak membiarkanku melakukan itu. Aku kembali terlempar ke genangan darah di lantai dan tubuhku terasa remuk.
"Farah! Aku benar-benar muak sama kamu! Kamu benar-benar nggak mau lagi jadi Nyonya Keluarga Tanoto, ya?!" Ezra berteriak dengan bengis. "Kalau nggak mau, kenapa kamu nggak pergi?! Kenapa nggak pergi dari sini?!"
Aku tidak bisa menahan tawa sinisku. "Kamu nggak mengerti bahasa manusia, Ezra? Aku ingin pergi, tapi kamu yang nggak membiarkanku pergi."
Ezra ingin berlari ke arahku, tetapi Naila menahannya. Dia hanya bisa menunjukku dengan amarah yang meluap-luap dan berteriak keras, "Farah! Kenapa kamu mau pergi?! Apa hakmu untuk pergi?!"
"Kalau kamu ingin pergi, kenapa selama ini seperti anjing terus mengekor di sisiku? Apa kamu begitu rendah? Bukankah yang kamu inginkan hanyalah uang?!"
"Dulu ibumu menyelamatkanku, bukankah itu karena dia tahu aku adalah orang dari Keluarga Tanoto? Dia menggunakan nyawanya yang lebih rendah dari sampah untuk menukar rasa bersalahku!"
"Dia berhasil! Setelah itu, semua orang memaksaku untuk memperlakukanmu dengan baik. Kalau begitu, kenapa sekarang kamu malah ingin pergi?!" Ezra meraung dalam amarah yang tak terkendali.
Matanya penuh air mata dan ketidakpercayaan melingkupi dirinya. Dia tidak percaya bahwa aku benar-benar tidak menginginkan status sebagai Nyonya Keluarga Tanoto.
Bukankah dulu aku begitu mencintainya?
Wajah Ezra tampak begitu muram. Bahkan ketika Naila mencoba membujuknya untuk pergi, dia tetap terperangkap dalam amarahnya.
Akhirnya, setelah Naila mengeluh bahwa lehernya sakit dan sulit bernapas, Ezra mulai tenang dan mengatakan bahwa dia akan segera membawanya ke rumah sakit.
Sementara itu, aku terbaring di genangan darahku sendiri. Entah sudah berapa banyak tulang di tubuhku yang patah. Darah terus mengalir dari tubuhku tanpa henti. Ezra tidak peduli sedikit pun.
Sebelum pergi, dia menoleh ke arahku dan berkata dengan nada dingin, "Jangan coba-coba menemui nenekku. Awas saja kalau kamu melakukannya ...."
Pintu tertutup keras. Dia tidak menoleh lagi dan hanya meninggalkan kata-kata terakhir yang menusuk hati, "Jangan salahkan aku kalau aku nggak punya belas kasihan terakhir!"
Aku tidak lagi punya kekuatan untuk berdiri. Hanya bisa tertawa sinis sambil menyaksikan mereka pergi. Ketika suara langkah kaki mereka menjauh, aku memungut sisa-sisa pecahan tulang ibuku dengan tangan gemetaran, memeluknya erat, lalu menangis sejadi-jadinya.
Angin bertiup masuk melalui jendela yang terbuka. Laporan pemeriksaan kehamilan yang basah oleh darah itu terbang ke arah kakiku.
Dengan tangan gemetar, aku mengambilnya. Aku terdiam sesaat, merenungkan bagaimana angin itu bisa menerbangkannya.
Kesadaranku semakin memudar, kelopak mataku terasa sangat berat. Aku terkulai di genangan darah, merasakan detak jantungku semakin melemah.
Hidupku perlahan-lahan lenyap. Sebelum sepenuhnya kehilangan kesadaran, aku berhasil menekan sebuah nomor telepon.
Tak lama kemudian, suara pintu terbuka dengan sidik jari terdengar. Awalnya, aku mengira itu Ezra. Namun, mataku tak lagi mampu terbuka, kelopak mataku perlahan menutup.
Di saat-saat terakhir, aku mendengar ....
Suara dering telepon yang semakin mendekat. Dan aku melihatnya.
Nenek Ezra. Wanita yang selama ini hidup sederhana, tetapi memegang kendali penuh atas kehidupan dan kematian Keluarga Tanoto, muncul di hadapanku.
"Farah!"
Di saat itu, tasbih di tangan nenek Ezra retak.
Satu per satu butirannya jatuh, bergulir ke dalam genangan darah di bawahku. Darah yang mewakili semua harapan Keluarga Tanoto, yang kini berubah menjadi ketiadaan.
Kenapa, di saat-saat terakhir hidupku, aku masih harus melihatnya?