Bab 1

Ibuku meninggal karena terlalu emosional. Pasalnya, hari yang seharusnya menjadi hari pernikahanku, kini pengantin wanitanya malah berubah menjadi mitra bisnis Ezra.

Pada saat ibuku mengembuskan napas terakhirnya, hari pernikahanku berubah menjadi hari pemakamannya.

Namun, Ezra memerintahkan agar pesta pernikahan tetap dilanjutkan seperti biasa dan bahkan memintaku untuk memasangkan cincin pernikahan ke jari Naila secara langsung.

"Cepat! Pasangkan cincin itu padanya. Malam ini, aku akan memberimu penjelasan," katanya sambil menggertakkan giginya.

Aku mengabaikan amarah Ezra dan menggendong jenazah ibuku meninggalkan hotel. Pukul delapan malam, pernikahan dengan pengantin yang diganti itu selesai dengan "sempurna".

Naila memposting di Instagram dan postingannya mendapat puluhan ribu suka.

[ Yay! Hari ini aku akhirnya menikahi pria idamanku. Terima kasih pada pihak ketiga yang sadar diri dan pergi. ]

Tak lama kemudian, Ezra juga memposting.

[ Orang yang nggak layak, nggak pantas dicintai. ]

Di kamar jenazah yang dingin, aku memberikan tanda suka pada postingan mereka berdua dan menulis komenta.

[ Semoga langgeng. ]

Kemudian, aku mengemas barang-barangku sambil memeluk kotak abu jenazah ibuku. Namun, ketika aku sampai di rumah baru yang kubeli, aku menemukan Ezra sedang berciuman penuh gairah dengan Naila di sofa baruku.

Ketika aku pulang ke rumah dengan memeluk kotak abu jenazah ibuku, waktu sudah larut malam. Cahaya bulan terasa dingin dan menusuk hingga ke tulang.

Baru saja tiba di depan pintu, aku melihat sepatu hak tinggi milik Naila diletakkan di posisi pemilik rumah. Ini bukan pertama kalinya Naila datang ke sini.

Sejak tiga tahun lalu, ketika Naila menjadi mitra senior Ezra di perusahaan, dia sering datang dengan alasan "urusan pekerjaan". Entah itu pagi-pagi sekali atau larut malam, bahkan saat hujan deras sekalipun, ambisi "karier"-nya tetap tidak terbendung.

Awalnya, aku masih sempat ribut soal ini, tapi Ezra hanya menyuruhku menempatkan diriku dengan benar. Dia berkata, "Perusahaan menghasilkan uang. Kamu yang nggak melakukan apa-apa yang menikmatinya."

Lama-kelamaan, jika aku protes lagi, Ezra akan mendiamkanku selama berhari-hari hingga aku meminta maaf terlebih dahulu. Saat itu, aku masih mencintai Ezra, jadi aku terus meyakinkan diriku sendiri.

Namun, yang kudapatkan sebagai balasannya hanyalah kotak abu yang ringan di tanganku ini.

Dengan tawa dingin, aku masuk ke rumah. Saat itulah aku melihat Ezra dan Naila berciuman penuh gairah di sofa yang kupersiapkan untuk pernikahan kami.

Di bawah cahaya lampu yang redup, wajah Naila yang pucat terlihat memerah, seolah-olah mabuk berat. Tubuhnya bersandar lemas pada Ezra.

Melihatku masuk, Ezra pertama kali melirik kotak abu di tanganku. Kemudian, dia mendorong Naila dengan hati-hati dan membaringkannya di sofa.

"Sepertinya dia benar-benar sudah mati, bukan pura-pura," ujar Ezra dengan nada dingin dan memandangku dengan sikap merendahkan.

Dia menambahkan dengan nada seolah ingin menghibur tetapi penuh kejengkelan, "Belum cukup buat keributan? Oke, aku akui. Aku merasa bersalah."

Aku tertawa karena marah.

Ketika ibuku pingsan karena emosi, Ezra berkata ibuku hanya berpura-pura, bahkan berkomentar bahwa akan lebih baik jika dia benar-benar mati. Kemudian, dia memerintahkan agar pernikahan tetap dilanjutkan.

Sekarang, ibuku benar-benar telah meninggal sesuai dengan keinginannya. Namun, dia malah mengatakan "aku merasa bersalah" dengan nada seperti itu.

Awalnya ....

Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Aku akhirnya akan menikahi teman masa kecil yang telah kucintai selama 20 tahun. Aku bahkan sudah mempersiapkan kejutan besar untuknya di hari ini.

Ezra menderita oligospermia. Kemungkinannya memiliki anak hampir nol. Mimpi terbesarnya adalah memiliki anak sendiri.

Demi mimpi itu, seluruh keluarga Ezra bahkan berdoa dan meminta berkah ke mana-mana. Neneknya sampai mengabdikan hidupnya di biara dan hidup sederhana.

Namun aku, mungkin karena karma baikku sebagai dokter selama bertahun-tahun, akhirnya hamil anak Ezra. Sebagai kejutan, hasil pemeriksaan kehamilan itu ada di sakuku.

Namun sekarang, melihat wajahnya saja membuatku merasa jijik.

Dengan tenang, aku berkata, "Ezra, kita putus."

Aku menatap matanya yang tiba-tiba terkejut dan berkata dengan perlahan, "Mulai sekarang, aku hanya berharap kita nggak akan pernah bertemu lagi seumur hidup."

Sejak ibuku meninggal, perasaanku terhadapnya benar-benar telah lenyap. Awalnya, karena kasih sayang nenek Ezra kepadaku, aku hanya ingin pergi secara diam-diam malam ini. Namun sekarang, dia telah melewati batas toleransi terakhirku.

"Apa merasa bersalah nggak cukup? Apa aku harus berlutut untuk minta maaf?"

Tanganku diremas oleh Ezra yang terlihat sangat marah. Dia menatapku dengan dingin, sama seperti saat dia menyuruhku memasangkan cincin pada Naila.

"Sadarlah akan posisimu sendiri, Farah."

Aku mengabaikannya dan menarik tanganku. Aku hanya ingin membereskan barang-barang ibuku untuk segera pergi dari pasangan hina ini. Namun, Naila tiba-tiba duduk dari sofa dan memandang kotak abu di pelukanku dengan penuh minat.

"Eh? Di dalam kotak itu ada tante?" tanyanya dengan nada terkejut.

"Kenapa bisa meninggal secepat itu? Maaf ya, Farah."

Setelah berkata demikian, dia memandang Ezra dan mulai merengek manja.

"Ezra! Aku suka sekali sama kotak abu ini. Anjing kampungku mati kemarin. Kamu bisa minta dia ngasih kotak itu samaku nggak? Anjingku kasihan sekali. Aku mau pakai kotak ini untuk anjingku. Boleh ya?"

Aku tidak percaya mendengar apa yang baru saja dia katakan. Namun, Ezra dengan entengnya mencoba meraih kotak abu ibuku dari pelukanku.

"Sini," katanya dingin.

"Kotak ini cocok sekali untuk mengubur anjing kampung!"

Bab 2

Saat Ezra hampir berhasil merebut kotak abu ibuku untuk digunakan mengubur anjing kampung yang disebutnya, aku bertindak spontan. Aku menggigit pergelangan tangannya dengan keras. Rasa anyir langsung memenuhi mulutku, membuatku merasa mual hingga ingin muntah.

"Wanita jalang!" Dengan wajah penuh amarah, Ezra menamparku dengan keras.

Aku terjatuh, tetapi tetap memeluk erat kotak abu ibuku. Kepalaku terbentur ujung meja hingga menghasilkan bunyi keras.

"Ezra!"

Naila segera mendekat dengan wajah panik memeriksa tangan Ezra yang terluka. Setelah memastikan keadaannya, dia menatapku dengan tatapan tidak senang.

"Farah, kenapa kamu menggigit Ezra? Dia sangat peduli padamu. Cuma kotak abu, apa kamu masih khawatir Ezra nggak akan mempersiapkan yang lebih baik untuk almarhum ibumu setelah ini?"

Aku memeluk kotak abu ibuku erat-erat dan mencoba berdiri dengan susah payah. Darah dari kepalaku menetes ke kotak abu, membentuk bercak-bercak kecil. Ibuku sangat menyayangiku semasa hidupnya, tetapi dia bahkan lebih menyayangi Ezra.

Pada saat itu, aku benar-benar kehilangan kendali.

"Peduli padaku? Apakah itu sebabnya dia mengganti pengantin di hari pernikahanku dan membuat ibuku mati karena marah?"

"Ezra! Jangan lupa, siapa yang dulu mempertaruhkan nyawanya, berlari ke dalam kobaran api, dan kehilangan wajahnya demi menyelamatkanmu yang saat itu baru berusia tujuh tahun! Sekarang, aku cuma mau pergi. Pergilah dari hadapanku!"

"Cukup!" Ezra melangkah besar ke arahku, meraih leherku, dan mendorongku ke dinding.

Rasa sesak yang hebat membuatku sulit bernapas. Namun, yang membuatku lebih sulit menerima adalah jawaban Ezra yang keluar dengan nada geram.

"Farah!"

Cengkeramannya semakin kuat. Wajahnya berubah menjadi begitu menakutkan dan penuh kebencian.

"Berapa lama lagi kamu akan terus mengungkit jasa itu? Kamu sudah mendapatkan kehidupan seperti sekarang dan itu masih belum cukup?!" Ezra mengucapkan kata-kata terakhirnya dengan gigi yang terkatup.

"Berani-beraninya kamu bilang mau pergi! Aku sudah merasa bersalah. Jangan nggak tahu diri!"

Aku merasa wajahku mulai membiru karena kekurangan oksigen, air mataku bercampur darah terus mengalir tanpa henti. Aku tidak berani melepaskan kotak abu ibuku untuk melawan. Sebab, aku tahu jika aku melepaskannya, ibuku akan jatuh ke lantai.

Semasa hidup, ibuku sudah cukup menderita. Setelah meninggal, aku tidak ingin dia terus terluka. Saat Ezra hampir mencekikku hingga mati, Naila berjalan mendekat.

Dia tidak menghentikan Ezra, hanya berkata dengan nada memelas, "Farah, Ezra tetap mencintaimu. Ezra menikah sama aku karena semua orang merasa aku lebih cocok sama dia. Kalau kami menikah, harga saham perusahaan akan meningkat."

"Tapi Ezra sudah bilang sama aku secara pribadi, kamu akan selalu menjadi Nyonya Keluarga Tanoto. Ezra sudah melakukan sejauh ini. Kenapa kamu dan ibumu nggak bisa mengerti dan memakluminya, malah mempermasalahkan hal-hal yang tampak dari luar?"

Begitu Naila selesai berbicara, aku bisa merasakan kemarahan Ezra yang semakin memuncak.

"Farah! Kenapa kamu nggak bisa seperti Naila yang pengertian? Kenapa nggak bisa!"

Cengkeraman tangannya semakin kuat hingga buku jarinya memutih.

"Minta maaf sama Naila. Aku berjanji, selain di depan umum, kamu akan selalu menjadi Nyonya Keluarga Tanoto secara pribadi."

Saat aku hampir kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen, Ezra akhirnya melepaskan tangannya. Dia memandangku dari atas dengan tatapan yang tampak seperti belas kasih, tetapi lebih mirip ejekan dan perintah.

Amarahku tiba-tiba memuncak, menghapus semua akal sehatku. Rasa marah itu meluap dari setiap inci tubuhku.

"Ezra! Aku sudah bilang! Aku nggak peduli mau jadi Nyonya Keluarga Tanoto atau nggak!"

Aku berlari ke dapur, meraih pisau dapur, dan berbalik ke arah mereka dengan niat menghabisi mereka. "Awalnya, aku cuma mau pergi. Sekarang, aku mau kau mati!"

Saat pisau hampir mengenai mereka, emosi Ezra akhirnya meledak. Dia melindungi Naila dengan satu tangan, lalu menendang perutku dengan marah.

Di perutku ... ada anak yang sangat diidamkannya. Tendangannya yang tiba-tiba membuatku terlempar ke rak buku.

Rasa sakit yang menusuk dari perutku langsung menjalar ke seluruh tubuh. Darah yang merah pekat mengalir di antara kedua kakiku, menciptakan genangan merah di bawahku.

Dalam sekejap, lantai di sekitarku berubah menjadi lautan darah.

Bab 3

Aku terduduk lemas di genangan darah. Seluruh tubuhku terasa seperti hancur berkeping-keping oleh rasa sakit yang luar biasa. Namun, yang lebih menyakitkan adalah perutku, tempat di mana kehidupan baru sedang tumbuh.

Rasa anyir yang pahit mengalir dari bibirku dan air mata yang terus mengalir memburamkan penglihatanku. Aku memeluk kotak abu ibuku erat-erat dan mencoba untuk berdiri. Namun, tubuhku tidak mau bergerak.

Tanganku yang gemetar meraba perutku, lalu tiba-tiba darah segar menyembur keluar dari mulutku.

Pemandangan itu membuat Naila ketakutan. Dia mencengkeram lengan Ezra erat-erat. Wajahnya yang biasanya tampak lembut berubah pucat.

"Farah! Jangan pura-pura! Aku cuma menyentuhmu sedikit. Jangan berlagak seperti hampir mati!" Ezra berdiri di kejauhan. Wajahnya gelap dan penuh amarah. Dengan santai, dia mengeluarkan tisu untuk membersihkan sepatunya yang terkena darahku.

Mata Naila memerah dan air matanya hampir tumpah. Dengan ekspresi polos, dia menatapku sambil berkata, "Ezra! Jangan-jangan dia hamil? Lihat, darahnya banyak sekali. Menjijikkan sekali. Ugh!"

Dia pura-pura menutup mulutnya dan membungkuk seolah-olah akan muntah.

Meski aktingnya begitu jelas, Ezra menepuk bahunya dengan lembut untuk menenangkannya. "Kalau menjijikkan, jangan lihat." Dia lalu menatapku dengan ekspresi penuh kebencian yang begitu jelas.

"Mana mungkin dia hamil? Kalau benar begitu ...."

"Hah! Dia pasti sudah mengumumkannya ke seluruh dunia dan menggunakan itu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik."

Ezra tertawa sinis dengan kebencian yang memenuhi seluruh ruangan. "Orang seperti dia sangat licik ...."

Belum sempat aku merespons, rasa sakit yang luar biasa menyerang perutku lagi. Rasa sakit itu seperti ribuan jarum yang menusuk kulitku, menghancurkan tulang, dan membakar jiwaku. Seolah-olah setiap saraf di tubuhku digenggam erat oleh dua tangan mungil yang mengekspresikan kemarahan mereka.

Rasanya seperti ususku hampir putus.

"Uhuk ... uhuk!"

Aku terbatuk dengan keras. Darah segar keluar dari mulutku. Namun, aku malah tertawa dengan sisa darah di bibirku. "Haha ...."

"Ezra! Lihat ... apa ini?"

Dengan tangan yang gemetaran, aku merogoh saku bajuku. Tanganku yang berlumuran darah dan kini bercampur dengan serpihan kehidupan yang telah hilang dari tubuhku, mencengkeram erat laporan pemeriksaan kehamilan itu.

Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar dan menyodorkannya kepada Ezra.

"Lihat ini. Setelah kamu melihatnya, aku akan pergi! Semoga kalian berdua langgeng!"

Dengan tangan yang gemetar, aku mengangkat laporan pemeriksaan kehamilan itu.

"Ezra! Bukankah kamu paling menginginkan anak? Kalau begitu, sebelum aku pergi, aku akan menggunakan laporan ini sebagai pisau yang menghujam langsung ke hatimu! Biarkan kamu tahu, sejak tendanganmu tadi, Keluarga Tanoto ini ditakdirkan untuk nggak punya keturunan selamanya!"

"Farah!! Aku nggak punya waktu untuk main-main denganmu!"

Ezra merebut laporan pemeriksaan dari tanganku. Namun, dia tidak melihatnya. Dengan ekspresi penuh kebencian, dia meremas laporan itu menjadi bola kertas dan melemparkannya ke dalam genangan darahku.

"Apa kamu nggak mengerti apa yang aku katakan? Aku bilang aku hampir kehilangan kesabaran! Sudah cukup!" Dia mencengkeram rambut panjangku, menariknya dengan kasar, dan memaksaku untuk menatap matanya yang penuh kemarahan.

"Aku bilang serahkan kotak abu itu padaku! Minta maaf sama Naila! Kamu masih bisa jadi Nyonya Keluarga Tanoto! Apa kamu dengar?!"

Rasa sakit di kulit kepalaku seperti tercabik-cabik. Aku menggigit bibirku erat-erat hingga darah mengalir dan memastikan diriku tidak mengeluarkan suara. Aku menatap Ezra dengan mata penuh darah dan kebencian.

Ezra melirik kotak abu yang kupeluk erat, urat-urat di lehernya menegang. "Kenapa masih meluk kotak itu?! Orangnya sudah mati! Sampai kapan kamu akan gunakan dia untuk memerasku?!"

"Berikan padaku!"

"Berikan sekarang!"

Aku dan Ezra berteriak bersamaan saat dia merebut kotak abu dari pelukanku.

Yang satu teriakan penuh kemarahan yang ekstrem, sedangkan satu lagi jeritan penuh kesedihan yang histeris. Tanganku yang mencakar Ezra telah merobek kulitnya dan membuat darah mengalir. Dia menatapku dengan tatapan penuh kebencian.

"Oke! Kalau itu yang kamu inginkan!"

Dia tiba-tiba berteriak, kemudian di depan mataku yang membelalak, dia membuka kotak abu itu dengan kasar dan melemparkannya ke udara hingga menyebarkan abu ibuku ke seluruh ruangan.

"Mama!!"

Aku berteriak histeris, berusaha meraih abu yang jatuh dengan tangan gemetar. Namun, sebelum aku bisa bergerak lebih jauh, kepalaku ditahan Ezra dan ditekan keras ke lantai. Dia menggesekkan wajahku ke permukaan yang dingin dan kasar.

"Lepaskan aku! Aku nggak bisa membiarkan ibuku ...."

Tamparan keras mendarat di wajahku, membuat kepalaku bergetar. Ezra berteriak dengan kemarahan yang membara.

"Diam! Jangan pura-pura lagi! Bukankah kamu cuma ingin gunakan kematian ibumu untuk mendapatkan lebih banyak belas kasihan dariku?! Oke! Aku akan memberimu apa yang kamu inginkan!"

Ezra menarik kepalaku ke depan tubuhnya. Dengan tangan lainnya, dia mengambil segenggam abu ibuku dan mencekokinya dengan paksa ke mulutku.

"Kamu cinta banget sama wanita tua itu, 'kan? Kalau begitu, biarkan dia beristirahat dalam tubuhmu selamanya! Buka mulutmu! Kenapa nggak buka mulut?!"

Ezra mendorong kepalaku ke lantai dengan kasar hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

"Kamu bahkan nggak bisa buka mulutmu! Lalu apa hakmu mengatakan kamu cinta sama dia?!"

"Buka! Biarkan aku lihat kesetiaanmu! Kalau nggak, kamu juga nggak layak jadi Nyonya Keluarga Tanoto!"

Hari Pernikahanku Menjadi Kematian Ibuku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya