Bab 2
"Kak Bradley, sekarang gimana? Di luar sudah banyak tamu yang datang!" Michelle mengedipkan matanya yang besar dan polos, seolah-olah dia adalah malaikat yang polos.
"Ini semua salahku! Kak Beatrice pasti marah sama aku, makanya dia menolak datang! Maaf, Kak Bradley!" Begitu melihat air mata mulai menggenang di mata Michelle, Bradley langsung meredam amarahnya.
Dengan lembut, dia menarik Michelle ke dalam pelukannya dan mengusap rambut panjangnya yang hitam. "Mana mungkin ini salahmu? Ini semua karena Beatrice nggak datang ke pernikahan, malah memilih berduaan sama pria lain! Semua ini kesalahannya!"
Michelle terisak di pelukannya, seolah-olah dia telah menerima penderitaan yang begitu besar.
"Sudahlah, jangan nangis! Aku tahu kamu sedih karena aku. Tapi wanita jahat seperti Beatrice nggak pantas jadi istriku!"
Bradley mengumpatiku dengan segala kata-kata paling kejam yang bisa dia temukan. Sedangkan Michelle, dia selalu menjadi sosok yang paling suci dan sempurna.
Namun, hanya aku yang tahu betapa licik dan kejamnya dia. Saat aku mencoba gaun pengantin beberapa hari lalu, Michelle merengek pada Bradley dan memaksa ikut denganku.
Aku tidak terlalu peduli. Namun, setiap kali aku memilih satu gaun, dia selalu bersikeras menginginkannya juga. Hingga untuk kelima kalinya dia mencoba merebut pilihanku, kesabaranku habis.
"Michelle, kamu ini sebenarnya mau apa?" tanyaku dengan nada yang tak bisa lagi menyembunyikan kejengkelan. Dia hanya menyeringai, menatapku lurus dengan sorot mata penuh niat buruk.
Kami saling berhadapan dalam diam cukup lama, hingga akhirnya dia melepas gaun yang diperebutkan dan berkata, "Beatrice, kamu pikir aku akan membiarkanmu menikahi Bradley begitu saja?"
Sebelum aku bisa memahami maksud ucapannya, tiba-tiba dia menjatuhkan cermin besar di sampingnya ke tubuhnya sendiri.
"Ahhh!"
Suara kaca pecah memenuhi ruangan. Pecahan cermin berserakan di lantai, sementara Michelle berteriak dengan tangannya yang berdarah. Seorang pegawai butik yang mendengar suara itu segera berlari menghampiri kami. Namun, dia langsung jatuh terduduk begitu melihat darah yang mengalir dari tangan Michelle.
"Darah! Banyak sekali darah!"
Aku mencoba mendekatinya dan ingin membantunya bangkit. Namun, sebelum aku bisa menyentuhnya, dia justru menangis dan berteriak padaku.
"Kak Beatrice, aku sudah mengalah dan memberikan gaun yang kupilih untukmu, tapi kenapa kamu masih mendorongku?"
Seketika, sebuah dorongan kuat menghantam tubuhku dan membuatku terjatuh ke lantai. Kepalaku terasa pusing. Saat kesadaranku kembali, yang pertama kali kulihat adalah tatapan dingin Bradley yang menusuk.
"Kak Bradley, sakit sekali! Tolong aku!" Michelle menangis dengan suaranya yang bergetar ketakutan.
"Jangan takut, aku segera bawa kamu ke rumah sakit! Kamu pasti akan baik-baik saja!"
Dengan penuh kepanikan, Bradley mengangkat tubuhnya dan pergi dengan tergesa-gesa. Dalam kekacauan, dia tanpa sengaja menginjak tanganku.
Aku menjerit kesakitan. Namun, dia bahkan tidak melirikku sedikit pun. Saat itu, aku akhirnya mengerti. Perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai sangatlah jelas. Dan aku harus mengakui ... selama ini aku hanya menipu diriku sendiri.
Karena Michelle mengalami keguguran dan lengannya patah, Bradley memilih melukai lenganku dengan pisau, mengurungku di ruang bawah tanah, dan menyiksaku. Dia tidak peduli dengan kebenaran.
Yang dia pedulikan hanyalah Michelle terluka, dan karena itu, dia harus membalaskan dendamnya. Di matanya, aku bukan siapa-siapa.
"Lalu ... bagaimana dengan pernikahannya? Aku ... aku nggak mau orang lain mentertawakanmu!" Michelle menatap Bradley dengan mata berkaca-kaca dan suaranya terisak.
"Pak Bradley, atau mungkin aku harus ...." Asisten Bradley mencoba berbicara dengan hati-hati, tetapi kalimatnya terputus oleh dering ponsel yang nyaring.
Asisten Bradley menjawab panggilan itu dengan ekspresi dingin. "Apa?!"
Wajah asistennya langsung berubah pucat. Setelah menutup telepon, dia ragu-ragu sebelum akhirnya berkata dengan suara gemetar, "Pak Bradley, Bu Beatrice sudah ditemukan. Tapi ...."
"Tapi apa? Cepat bilang! Jangan bertele-tele! Apa Beatrice benar-benar mati?" Bradley menatapnya dengan tidak sabar.
Asistennya menelan ludah, lalu akhirnya mengatakan dengan suara bergetar, "Bu Beatrice ... memang sudah mati. Orang-orang yang kami kirim menemukan tubuhnya."
Sesaat, ekspresi Bradley tampak ragu. Namun, keraguan itu segera hilang. Sebaliknya, dia malah tertawa dengan tidak acuh.
"Dia bahkan nggak bisa cari alasan yang lebih masuk akal! Michelle sendiri melihatnya jalan-jalan sama pria lain, sekarang kalian bilang dia sudah mati? Kalian pikir aku ini orang bodoh?"
"Bukan begitu, Pak Bradley! Bu Beatrice benar-benar sudah mati!"
Asistennya berusaha meyakinkannya dengan panik. Namun, tidak ada seorang pun yang memperhatikannya lagi.
Karena Bradley telah menggenggam tangan Michelle dan membawanya masuk ke dalam aula pernikahan.
Bab 3
Di bawah sorotan lampu yang berkilauan, Michelle menggandeng lengan Bradley, tampak seperti pasangan sempurna yang begitu serasi dan membuat iri. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pengantin wanita bukanlah aku. Tidak ada yang peduli ke mana perginya aku.
Semua tamu tampaknya telah menerima begitu saja bahwa Michelle adalah wanita yang akan dinikahi oleh Bradley. Namun, tidak lama kemudian, ibuku menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Di tengah keributan dan gumaman tamu undangan, dia bergegas maju dan dengan suara lantang menuntut penjelasan dari Bradley. "Di mana Beatrice?! Kenapa kamu bawa wanita ini?"
Semua mata di ruangan segera tertuju padanya.
Dengan ekspresi pura-pura polos, dia menggenggam tangan ibuku dan berkata, "Tante, ini bukan salah Kak Bradley .... Kak Beatrice sendiri yang nggak mau datang ke pernikahan ini. Jangan salahkan dia!"
Namun, ibuku tidak percaya dengan kata-kata manisnya. Dengan kasar, dia menepis tangan Michelle.
"Kamu! Kamu sudah berkali-kali menjebak Beatrice! Pasti kali ini juga kamu melakukan sesuatu padanya, makanya dia nggak bisa datang! Katakan! Apa yang kamu lakukan pada putriku?!"
Mata ibuku memerah, suaranya penuh dengan kepanikan saat dia menuntut jawaban.
Para tamu mulai saling berbisik. "Apa? Dia bukan tunangan Pak Bradley? Kalau begitu, untuk apa dia datang ke sini?"
"Jangan bilang dia ini perusak rumah tangga? Pelakor bukan?"
....
Mendengar semua ucapan itu, mata Michelle pun berkaca-kaca.
Dengan berhati-hati, dia menarik lengan Bradley dan berkata dengan nada manja, "Kak Bradley, ini semua salahku .... aku membuatmu dipermalukan di depan semua orang ...."
Sikap Michelle yang manja ini sepertinya sangat berpengaruh terhadap Bradley. Dia tersenyum pada wanita itu seolah sedang menenangkannya.
Lalu, dengan tatapan dingin, dia memandang ibuku dan berkata, "Putrimu sudah melakukan hal menjijikkan begini, kamu masih berani menyebut namanya di depanku?"
Ibuku terpaku di tempat karena tatapan penuh kebencian itu.
Bradley menggandeng Michelle melewati ibuku dan berjalan ke arah pembawa acara. Di depan semua tamu, dia mengambil mikrofon dan mengumumkan dengan suara dingin.
"Pengantin asli dari pernikahan ini, Beatrice, telah berselingkuh sebelum menikah. Dia nggak berani datang dan telah mengundurkan diri dari pertunangan! Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menikahi Nona Michelle!"
Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Bradley, suasana di ruangan langsung berubah. Para tamu yang awalnya bingung kini mulai berbalik menyerangku.
"Astaga! Ternyata Beatrice wanita murahan begitu! Jijik sekali!"
"Pantas saja dia kabur! Memalukan!"
Di antara semua suara hinaan itu, hanya ibuku yang masih berusaha membelaku. "Bukan begitu! Beatrice bukan orang seperti itu! Dia selalu mencintai Bradley! Justru Bradley yang mengkhianatinya!"
Dia mencoba menjelaskan dengan suara putus asa. Namun, tidak ada yang percaya. Sebaliknya, cemoohan semakin keras.
Tiba-tiba, ibuku menekan dadanya dengan ekspresi kesakitan. Tubuhnya goyah sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Melihat kejadian itu, aku merasa dunia seolah berhenti.
Aku berlari ke arahnya dan ingin memeluknya. Namun ... aku bahkan tidak bisa menyentuhnya.
"Ibu! Ibu, bangun! Ini aku, Beatrice!" Aku berteriak histeris dan air mataku jatuh tanpa henti. "Tolong! Seseorang tolong dia! Cepat panggil dokter!" Aku menangis tersedu-sedu untuk memohon bantuan.
Namun, tidak ada satu pun yang datang menolong.
Aku mengalihkan pandanganku ke Bradley, berharap dia akan melakukan sesuatu. Namun, dia bahkan tidak menoleh ke arah kami. Yang kulihat hanyalah punggungnya yang semakin menjauh dan masih memeluk Michelle dalam dekapannya.
Aku kembali berlutut di samping ibuku. Tanganku gemetar saat menyentuh wajahnya yang kini pucat pasi.
"Ibu, aku salah! Seharusnya aku mendengarkanmu .... Aku nggak seharusnya keras kepala dan tetap ingin menikah sama dia! Aku yang telah menyakitimu!"
"Tolong bangun! Lihat aku sekali saja!"
Namun, dia tidak akan pernah membuka matanya lagi. Aku hanya bisa menatap wajahnya yang tak lagi bernyawa, sementara semua orang di ruangan itu tetap tertawa, minum, dan menikmati perayaan mereka ....
Aku tidak bisa memahami ... bagaimana manusia bisa sedingin ini?
Akhirnya, seorang pelayan hotel membawa orang-orang untuk mengangkat tubuh ibuku dan membawanya pergi. Aku ingin mengikutinya. Aku ingin berada di sisinya. Namun, entah mengapa, aku tidak bisa bergerak dari tempatku.
Apakah ini hukuman dari langit karena aku telah menyia-nyiakan hidupku untuk seorang pria yang tidak pantas? Apakah karena itu ... bahkan setelah mati, aku masih harus terjebak di sisi Bradley?
Namun, bukankah hukumannya sudah cukup? Kenapa ibuku juga harus ikut menanggungnya?
Saat aku hampir tenggelam dalam keputusasaan, Bradley kembali ke kamar pengantin. Kamar yang seharusnya menjadi tempat kami memulai hidup baru. Semuanya di sini adalah hasil dari kerja kerasku.
Setiap sudut ruangan, setiap dekorasi, semua kuatur sendiri demi pernikahan ini.
Namun kini, semuanya seakan berubah menjadi lelucon kejam yang menertawakan betapa bodohnya aku.
Dengan wajah malu-malu, Michelle berjinjit dan mencium bibir Bradley. Bradley hanya tersenyum kecil dan mengusap pipinya dengan lembut. Mereka tenggelam dalam gairah, bersiap untuk naik ke lantai atas.
Namun tiba-tiba, suara keras memecah momen itu.
"Pak Bradley, Anda sebaiknya melihat sendiri bagaimana menangani jasad Bu Beatrice!"
Bradley terdiam sejenak. Namun kemudian, ekspresinya kembali berubah menjadi tidak sabar. "Apa lagi sekarang? Aku mau lihat sendiri apakah dia benar-benar mati atau cuma berpura-pura!"
Dengan enggan, dia mengikuti asistennya menuju ruang bawah tanah. Begitu pintu besi yang berat terbuka, bau busuk yang menyengat langsung menyebar memenuhi seluruh ruangan.