Bab 1

Aku meninggal pada hari pernikahanku dengan Bradley.

Karena aku tak kunjung tiba, dia marah besar dan menikahi Michelle, sahabat masa kecilnya. Di depan semua orang, dia menyatakan dengan lantang, "Beatrice berselingkuh sebelum menikah dan telah mengundurkan diri dari pertunangan!"

Ibuku hancur oleh fitnah itu. Dia mengalami serangan jantung di tempat dan meninggal dunia.

Namun dia lupa bahwa demi membela Michelle, dialah yang melukai lenganku dengan pisau dan mengurungku di ruang bawah tanah selama sepuluh hari sepuluh malam. Aku memohon dengan segala cara, tetapi yang kudapat darinya hanyalah kata-kata dingin.

"Tetaplah di sini beberapa hari, rasakan sendiri penderitaan yang kamu timbulkan pada Michelle! Sekalian hancurkan niat jahatmu!"

Namun, ketika dia akhirnya menemukan jasadku yang telah membusuk dan dimakan belatung, dia menjadi gila.

"Mana Beatrice? Dia sudah mati di sana? Nggak bisa gerak lagi?"

Saat kesadaranku perlahan kembali, hal pertama yang kudengar adalah suara Bradley yang marah dan putus asa.

Asistennya yang tampak ragu-ragu, mencoba menjawab, "Pak Bradley, kami sudah cari ke mana-mana, tapi nggak lihat dia. Jangan-jangan, terjadi sesuatu sama Bu Beatrice?"

Namun, mendengar hal itu, Bradley langsung menghempaskan gelas anggur di atas meja hingga pecah berkeping-keping di lantai. "Apa yang bisa terjadi padanya? Dia sengaja mempermalukanku! Ini semua karena dia marah sama aku karena aku menghukum dia demi Michelle!"

Dadanya naik turun, napasnya memburu karena emosi yang meluap-luap. Tiba-tiba, terdengar suara lembut dari pintu yang perlahan mendekat. "Kak Bradley, barusan aku sepertinya melihat Kak Beatrice! Aku bahkan sempat mengambil fotonya!"

Michelle mengeluarkan ponselnya dengan semangat dan memperlihatkan layar di depan Bradley. Di dalam foto itu, sosokku terlihat jelas bersama sahabat masa kecilku, Marven.

Mata Bradley membelalak. Pandangannya menatap layar dengan tajam, giginya terkatup erat saat berkata dengan marah, "Beatrice berani mengkhianatiku? Bahkan di hari pernikahan, dia meninggalkanku demi berkeliaran sama pria lain! Bagus sekali!"

Melihat ekspresinya yang penuh kebencian, aku hanya merasa hampa. Dia selalu saja seperti ini. Apa pun yang dikatakan Michelle, dia percaya. Tapi aku? Dia tidak pernah percaya padaku.

Mungkin saat ini, dia ingin sekali aku mati. Yang tidak dia sadari adalah ... sebenarnya dia sudah mendapatkan keinginannya. Di ruang bawah tanah yang gelap dan sempit, aku diikat erat pada sebuah tiang.

Aku menggigil dan perasaan ketakutan merayapi tubuhku. Aku mengidap klaustrofobia. Ruangan sempit dan gelap ini adalah nerakaku. Dengan suara bergetar, aku memohon, "Bradley, aku mohon! Aku salah! Aku nggak seharusnya mencelakai Michelle! Semua salahku!"

Namun, yang kudapat darinya hanya tatapan dingin yang penuh cemoohan. "Beatrice, kamu hampir membunuh Michelle, sekarang kamu malah berpura-pura menjadi korban?"

Ketakutan membuat suaraku tercekat. Aku bahkan tak bisa mengucapkan satu kalimat pun dengan jelas. "Bukan ... itu ... bukan aku ... aku ...."

Namun, dia hanya menghela napas panjang, seolah sudah muak mendengar suaraku. Tanpa ragu, dia menempelkan selotip kuat di mulutku dan membungkam semua kata-kata yang ingin kuucapkan.

Tatapanku memohon padanya, berharap ada setitik belas kasihan. Namun, Bradley justru mengangkat pisau dan menggoreskan tiga luka yang dalam di lenganku.

"Kamu membuat tangan Michelle patah, jadi aku kasih kamu tiga bekas luka ini. Aku nggak akan membunuhmu, anggap saja ini ganjaran yang harus kamu bayar untuk semua kejahatanmu!"

Itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar darinya. Setelahnya, satu-satunya pintu di ruang bawah tanah ini tertutup rapat.

Aku tahu dia selalu dingin terhadapku. Namun, aku tak pernah tahu dia bisa sekejam ini. Rasa sakit yang tajam menjalar dari lenganku. Darah perlahan merembes keluar dari luka dan menetes ke lantai satu per satu.

Namun, Bradley salah. Sejak lahir, aku menderita gangguan pembekuan darah. Tiga goresan ini cukup untuk merenggut nyawaku. Dalam kegelapan ruang bawah tanah, aku ditelan oleh kesunyian perlahan-lahan.

Hatiku terasa seperti diiris oleh ribuan pisau, setiap helaan napas terasa seperti tusukan tajam yang menembus dadaku.

"Mmm ... mmm ...."

Tangisan yang tertahan bergema di dalam ruang bawah tanah yang pengap.

Aku tidak tahu sudah berapa lama berlalu, tapi akhirnya aku menutup mataku. Seakan ... aku akhirnya terbebas.

Bab 2

"Kak Bradley, sekarang gimana? Di luar sudah banyak tamu yang datang!" Michelle mengedipkan matanya yang besar dan polos, seolah-olah dia adalah malaikat yang polos.

"Ini semua salahku! Kak Beatrice pasti marah sama aku, makanya dia menolak datang! Maaf, Kak Bradley!" Begitu melihat air mata mulai menggenang di mata Michelle, Bradley langsung meredam amarahnya.

Dengan lembut, dia menarik Michelle ke dalam pelukannya dan mengusap rambut panjangnya yang hitam. "Mana mungkin ini salahmu? Ini semua karena Beatrice nggak datang ke pernikahan, malah memilih berduaan sama pria lain! Semua ini kesalahannya!"

Michelle terisak di pelukannya, seolah-olah dia telah menerima penderitaan yang begitu besar.

"Sudahlah, jangan nangis! Aku tahu kamu sedih karena aku. Tapi wanita jahat seperti Beatrice nggak pantas jadi istriku!"

Bradley mengumpatiku dengan segala kata-kata paling kejam yang bisa dia temukan. Sedangkan Michelle, dia selalu menjadi sosok yang paling suci dan sempurna.

Namun, hanya aku yang tahu betapa licik dan kejamnya dia. Saat aku mencoba gaun pengantin beberapa hari lalu, Michelle merengek pada Bradley dan memaksa ikut denganku.

Aku tidak terlalu peduli. Namun, setiap kali aku memilih satu gaun, dia selalu bersikeras menginginkannya juga. Hingga untuk kelima kalinya dia mencoba merebut pilihanku, kesabaranku habis.

"Michelle, kamu ini sebenarnya mau apa?" tanyaku dengan nada yang tak bisa lagi menyembunyikan kejengkelan. Dia hanya menyeringai, menatapku lurus dengan sorot mata penuh niat buruk.

Kami saling berhadapan dalam diam cukup lama, hingga akhirnya dia melepas gaun yang diperebutkan dan berkata, "Beatrice, kamu pikir aku akan membiarkanmu menikahi Bradley begitu saja?"

Sebelum aku bisa memahami maksud ucapannya, tiba-tiba dia menjatuhkan cermin besar di sampingnya ke tubuhnya sendiri.

"Ahhh!"

Suara kaca pecah memenuhi ruangan. Pecahan cermin berserakan di lantai, sementara Michelle berteriak dengan tangannya yang berdarah. Seorang pegawai butik yang mendengar suara itu segera berlari menghampiri kami. Namun, dia langsung jatuh terduduk begitu melihat darah yang mengalir dari tangan Michelle.

"Darah! Banyak sekali darah!"

Aku mencoba mendekatinya dan ingin membantunya bangkit. Namun, sebelum aku bisa menyentuhnya, dia justru menangis dan berteriak padaku.

"Kak Beatrice, aku sudah mengalah dan memberikan gaun yang kupilih untukmu, tapi kenapa kamu masih mendorongku?"

Seketika, sebuah dorongan kuat menghantam tubuhku dan membuatku terjatuh ke lantai. Kepalaku terasa pusing. Saat kesadaranku kembali, yang pertama kali kulihat adalah tatapan dingin Bradley yang menusuk.

"Kak Bradley, sakit sekali! Tolong aku!" Michelle menangis dengan suaranya yang bergetar ketakutan.

"Jangan takut, aku segera bawa kamu ke rumah sakit! Kamu pasti akan baik-baik saja!"

Dengan penuh kepanikan, Bradley mengangkat tubuhnya dan pergi dengan tergesa-gesa. Dalam kekacauan, dia tanpa sengaja menginjak tanganku.

Aku menjerit kesakitan. Namun, dia bahkan tidak melirikku sedikit pun. Saat itu, aku akhirnya mengerti. Perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai sangatlah jelas. Dan aku harus mengakui ... selama ini aku hanya menipu diriku sendiri.

Karena Michelle mengalami keguguran dan lengannya patah, Bradley memilih melukai lenganku dengan pisau, mengurungku di ruang bawah tanah, dan menyiksaku. Dia tidak peduli dengan kebenaran.

Yang dia pedulikan hanyalah Michelle terluka, dan karena itu, dia harus membalaskan dendamnya. Di matanya, aku bukan siapa-siapa.

"Lalu ... bagaimana dengan pernikahannya? Aku ... aku nggak mau orang lain mentertawakanmu!" Michelle menatap Bradley dengan mata berkaca-kaca dan suaranya terisak.

"Pak Bradley, atau mungkin aku harus ...." Asisten Bradley mencoba berbicara dengan hati-hati, tetapi kalimatnya terputus oleh dering ponsel yang nyaring.

Asisten Bradley menjawab panggilan itu dengan ekspresi dingin. "Apa?!"

Wajah asistennya langsung berubah pucat. Setelah menutup telepon, dia ragu-ragu sebelum akhirnya berkata dengan suara gemetar, "Pak Bradley, Bu Beatrice sudah ditemukan. Tapi ...."

"Tapi apa? Cepat bilang! Jangan bertele-tele! Apa Beatrice benar-benar mati?" Bradley menatapnya dengan tidak sabar.

Asistennya menelan ludah, lalu akhirnya mengatakan dengan suara bergetar, "Bu Beatrice ... memang sudah mati. Orang-orang yang kami kirim menemukan tubuhnya."

Sesaat, ekspresi Bradley tampak ragu. Namun, keraguan itu segera hilang. Sebaliknya, dia malah tertawa dengan tidak acuh.

"Dia bahkan nggak bisa cari alasan yang lebih masuk akal! Michelle sendiri melihatnya jalan-jalan sama pria lain, sekarang kalian bilang dia sudah mati? Kalian pikir aku ini orang bodoh?"

"Bukan begitu, Pak Bradley! Bu Beatrice benar-benar sudah mati!"

Asistennya berusaha meyakinkannya dengan panik. Namun, tidak ada seorang pun yang memperhatikannya lagi.

Karena Bradley telah menggenggam tangan Michelle dan membawanya masuk ke dalam aula pernikahan.

Bab 3

Di bawah sorotan lampu yang berkilauan, Michelle menggandeng lengan Bradley, tampak seperti pasangan sempurna yang begitu serasi dan membuat iri. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pengantin wanita bukanlah aku. Tidak ada yang peduli ke mana perginya aku.

Semua tamu tampaknya telah menerima begitu saja bahwa Michelle adalah wanita yang akan dinikahi oleh Bradley. Namun, tidak lama kemudian, ibuku menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Di tengah keributan dan gumaman tamu undangan, dia bergegas maju dan dengan suara lantang menuntut penjelasan dari Bradley. "Di mana Beatrice?! Kenapa kamu bawa wanita ini?"

Semua mata di ruangan segera tertuju padanya.

Dengan ekspresi pura-pura polos, dia menggenggam tangan ibuku dan berkata, "Tante, ini bukan salah Kak Bradley .... Kak Beatrice sendiri yang nggak mau datang ke pernikahan ini. Jangan salahkan dia!"

Namun, ibuku tidak percaya dengan kata-kata manisnya. Dengan kasar, dia menepis tangan Michelle.

"Kamu! Kamu sudah berkali-kali menjebak Beatrice! Pasti kali ini juga kamu melakukan sesuatu padanya, makanya dia nggak bisa datang! Katakan! Apa yang kamu lakukan pada putriku?!"

Mata ibuku memerah, suaranya penuh dengan kepanikan saat dia menuntut jawaban.

Para tamu mulai saling berbisik. "Apa? Dia bukan tunangan Pak Bradley? Kalau begitu, untuk apa dia datang ke sini?"

"Jangan bilang dia ini perusak rumah tangga? Pelakor bukan?"

....

Mendengar semua ucapan itu, mata Michelle pun berkaca-kaca.

Dengan berhati-hati, dia menarik lengan Bradley dan berkata dengan nada manja, "Kak Bradley, ini semua salahku .... aku membuatmu dipermalukan di depan semua orang ...."

Sikap Michelle yang manja ini sepertinya sangat berpengaruh terhadap Bradley. Dia tersenyum pada wanita itu seolah sedang menenangkannya.

Lalu, dengan tatapan dingin, dia memandang ibuku dan berkata, "Putrimu sudah melakukan hal menjijikkan begini, kamu masih berani menyebut namanya di depanku?"

Ibuku terpaku di tempat karena tatapan penuh kebencian itu.

Bradley menggandeng Michelle melewati ibuku dan berjalan ke arah pembawa acara. Di depan semua tamu, dia mengambil mikrofon dan mengumumkan dengan suara dingin.

"Pengantin asli dari pernikahan ini, Beatrice, telah berselingkuh sebelum menikah. Dia nggak berani datang dan telah mengundurkan diri dari pertunangan! Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menikahi Nona Michelle!"

Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Bradley, suasana di ruangan langsung berubah. Para tamu yang awalnya bingung kini mulai berbalik menyerangku.

"Astaga! Ternyata Beatrice wanita murahan begitu! Jijik sekali!"

"Pantas saja dia kabur! Memalukan!"

Di antara semua suara hinaan itu, hanya ibuku yang masih berusaha membelaku. "Bukan begitu! Beatrice bukan orang seperti itu! Dia selalu mencintai Bradley! Justru Bradley yang mengkhianatinya!"

Dia mencoba menjelaskan dengan suara putus asa. Namun, tidak ada yang percaya. Sebaliknya, cemoohan semakin keras.

Tiba-tiba, ibuku menekan dadanya dengan ekspresi kesakitan. Tubuhnya goyah sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Melihat kejadian itu, aku merasa dunia seolah berhenti.

Aku berlari ke arahnya dan ingin memeluknya. Namun ... aku bahkan tidak bisa menyentuhnya.

"Ibu! Ibu, bangun! Ini aku, Beatrice!" Aku berteriak histeris dan air mataku jatuh tanpa henti. "Tolong! Seseorang tolong dia! Cepat panggil dokter!" Aku menangis tersedu-sedu untuk memohon bantuan.

Namun, tidak ada satu pun yang datang menolong.

Aku mengalihkan pandanganku ke Bradley, berharap dia akan melakukan sesuatu. Namun, dia bahkan tidak menoleh ke arah kami. Yang kulihat hanyalah punggungnya yang semakin menjauh dan masih memeluk Michelle dalam dekapannya.

Aku kembali berlutut di samping ibuku. Tanganku gemetar saat menyentuh wajahnya yang kini pucat pasi.

"Ibu, aku salah! Seharusnya aku mendengarkanmu .... Aku nggak seharusnya keras kepala dan tetap ingin menikah sama dia! Aku yang telah menyakitimu!"

"Tolong bangun! Lihat aku sekali saja!"

Namun, dia tidak akan pernah membuka matanya lagi. Aku hanya bisa menatap wajahnya yang tak lagi bernyawa, sementara semua orang di ruangan itu tetap tertawa, minum, dan menikmati perayaan mereka ....

Aku tidak bisa memahami ... bagaimana manusia bisa sedingin ini?

Akhirnya, seorang pelayan hotel membawa orang-orang untuk mengangkat tubuh ibuku dan membawanya pergi. Aku ingin mengikutinya. Aku ingin berada di sisinya. Namun, entah mengapa, aku tidak bisa bergerak dari tempatku.

Apakah ini hukuman dari langit karena aku telah menyia-nyiakan hidupku untuk seorang pria yang tidak pantas? Apakah karena itu ... bahkan setelah mati, aku masih harus terjebak di sisi Bradley?

Namun, bukankah hukumannya sudah cukup? Kenapa ibuku juga harus ikut menanggungnya?

Saat aku hampir tenggelam dalam keputusasaan, Bradley kembali ke kamar pengantin. Kamar yang seharusnya menjadi tempat kami memulai hidup baru. Semuanya di sini adalah hasil dari kerja kerasku.

Setiap sudut ruangan, setiap dekorasi, semua kuatur sendiri demi pernikahan ini.

Namun kini, semuanya seakan berubah menjadi lelucon kejam yang menertawakan betapa bodohnya aku.

Dengan wajah malu-malu, Michelle berjinjit dan mencium bibir Bradley. Bradley hanya tersenyum kecil dan mengusap pipinya dengan lembut. Mereka tenggelam dalam gairah, bersiap untuk naik ke lantai atas.

Namun tiba-tiba, suara keras memecah momen itu.

"Pak Bradley, Anda sebaiknya melihat sendiri bagaimana menangani jasad Bu Beatrice!"

Bradley terdiam sejenak. Namun kemudian, ekspresinya kembali berubah menjadi tidak sabar. "Apa lagi sekarang? Aku mau lihat sendiri apakah dia benar-benar mati atau cuma berpura-pura!"

Dengan enggan, dia mengikuti asistennya menuju ruang bawah tanah. Begitu pintu besi yang berat terbuka, bau busuk yang menyengat langsung menyebar memenuhi seluruh ruangan.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B86859" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B86859
Salin

Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya