Bab 7
Agam sudah tidak berada di kamar ketika Pamela selesai memakai baju dan keluar dari kamar mandi.
Dia tidak terlalu peduli ke mana pria itu pergi. Toh, mereka berdua hanya hubungan kerja sama.
Ketika waktu tiga bulan habis, mereka akan berpisah dan tidak akan saling mengganggu satu sama lain.
Setelah mengunci pintu kamar, Pamela langsung tertidur.
Keesokan paginya.
Pamela dibangunkan oleh suara pelayan Keluarga Dirgantara yang mengetuk pintu kamarnya.
"Nona, tuan muda memintaku untuk membawakan pakaian untuk nona! Nona ...."
Suara itu sangat berisik.
Pamela belum tidur hingga puas. Namun, sebagai orang yang menumpang di rumah orang lain, dia tidak punya pilihan selain bangun.
Dia terpaksa harus bangun dan membuka pintu, lalu menerima baju yang dibawakan oleh pelayan itu.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Pamela keluar dari kamarnya untuk mencari makan. Tiba-tiba, sebuah baskom berisi air dingin dengan bau amis mengguyur tubuhnya!
Pada saat yang sama, suara ejekan dan cemoohan terdengar dari sekelilingnya.
Pandangannya kabur karena guyuran air kotor. Setelah air kotor itu menetes selesai dari kepalanya, dia baru melihat apa yang ada di depannya.
Di hadapannya ada seorang gadis asing seusianya yang berdandan cantik. Dia berjalan mondar-mandir dengan senyum menghina dan angkuh.
Beberapa pelayan Keluarga Dirgantara mengelilingi gadis itu seperti pengawal.
Salah satu pelayan memegang baskom kosong, tampaknya air kotor di dalam sudah disiram ke tubuh Pamela.
Pamela mengerutkan kening sambil menyeka bulu matanya yang basah. Dia menatap gadis asing itu dengan tenang, lalu bertanya, "Siapa kamu? Kenapa kamu menyiramku?"
Olivia memakai warna lipstik terbaru, lalu dia mendongak dengan sikap angkuh. "Aku adalah nona besar di keluarga ini, namaku Olivia Dirgantara. Agam adalah kakakku!"
Ternyata adiknya Agam!
Pamela mengerutkan alisnya sambil berkata, "Terus, kenapa kamu menyiramku?"
Olivia berdecak sinis, menatap Pamela dengan tatapan merendahkan.
"Air tadi memperingatkanmu untuk mengetahui posisimu sendiri! Jangan kira menikah dengan kakakku, kamu akan menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara. Kamu belum pantas!"
Pamela mengerutkan keningnya. "Bagaimanapun juga aku ini istri kakakmu, kakak iparmu! Nggak pantas kamu memperlakukanku seperti ini, 'kan?"
Olivia menjawab sambil tertawa, "Kakak ipar? Cih! Jangan merasa dirimu dihargai. Tadi malam, kakakku saja nggak tidur di kamarmu. Di malam pernikahan tidur sendirian, tapi masih berani menyebut dirimu sebagai istri kakakku!"
"Sekadar informasi, kakakku menikahimu cuma buat menghibur kakekku. Setelah kakekku sembuh, kamu harus segera keluar dari Keluarga Dirgantara!"
Pamela kehabisan kata-kata, "..."
Ternyata begitu. Pantas saja paman aneh itu buru-buru menikah.
Olivia memperingatkan lagi, "Jangan terobsesi untuk bergantung pada kakakku. Kakakku nggak akan pernah menyukai wanita sepertimu! Di sini statusmu bahkan lebih rendah dari pelayan, bisa di bilang panggilan 'nyonya muda' itu hanya panggilan saja, nggak ada artinya di Keluarga Dirgantara! Saat kakakku pergi, aku yang bertanggung jawab di rumah ini. Kamu harus mematuhi aturanku. Mengerti?"
Pamela mengangguk patuh. "Ya. Aku akan mengingatnya!"
Melihat Pamela terlihat seperti pengecut, hati Olivia sangat senang.
"Bagus kalau kamu sadar diri. Mulai sekarang, kamu jangan banyak tingkah. Ayo pergi. Aku ada janji manikur hari ini. Seharusnya orang manikurnya sudah mau sampai ...."
Saat mengatakan hal itu, Olivia siap untuk pergi dengan para pelayan di sekelilingnya.
"Tunggu dulu."
Namun, Pamela memanggilnya.
Olivia berhenti melangkah dan menoleh dengan tidak sabar, "Kenapa? Kamu mau protes?"
Pamela tersenyum. "Bukan. Hanya saja, Nona Olivia. Aku baru datang dan belum mengerti peraturan apa yang kamu bicarakan. Bisa jelaskan dulu? Aku ingin mengingatnya biar bisa mematuhi perintahmu dengan baik."
Olivia terdiam sejenak, lalu tertawa mengejek. "Wanita miskin sepertimu benar-benar cukup pandai mengamati kondisi saat ini! Baiklah, karena kamu yang minta, aku akan memberikan gambarannya! Dengar, selama kamu berada di sini, kamu jangan banyak bertingkah ...."
"Itu, tunggu sebentar ...."
Pamela terlihat bersungguh-sungguh meminta nasihat, "Nona Olivia, ingatanku nggak bagus. Tolong bicara perlahan denganku di kamar. Aku ingin mengambil pulpen dan kertas, biar bisa mencatatnya secara rinci."
"Sungguh merepotkan!"
Olivia memang merasa dia merepotkan, tetapi tidak melewatkan kesempatan ini untuk menetapkan aturan. Jadi, dia dengan enggan mengikuti Pamela ke dalam kamar.
Tak disangka, pintu kamar tiba-tiba tertutup rapat ketika Olivia masuk.
Pintu terkunci.
Beberapa pelayan yang tidak sempat mengikuti Olivia masuk ke dalam kamar pun mematung di depan pintu.
Mereka terdiam sejenak. Detik berikutnya, mereka mendengar jeritan Olivia yang menyedihkan dari dalam kamar dan buru-buru mengetuk pintu.
"Nona ... Nona ... Nona kenapa?!"
Begitu Olivia memasuki kamar, rambutnya ditarik oleh Pamela dan diseret ke kamar mandi.
Dia berteriak ngeri, "Ah! A ... apa yang kamu lakukan?! Lepaskan aku!"
Pamela menjambak rambut Olivia dengan satu tangan dan mengcengkeram pergelangan tangan Olivia yang lasak itu dengan tangan yang lain, lalu bertanya, "Katakan, air apa yang kamu siramkan padaku barusan?"
Pamela yang saat ini benar-benar sangat jahat, seolah-olah sikap patuh dan jujur yang baru saja dia tunjukkan hanyalah halusinasi.
Seketika, Olivia tidak bisa menahan rasa dingin di tulang punggungnya. "Itu ... itu air bekas cucian ikan di dapur!"
"Oh, begitu!"
Pamela mengatupkan bibirnya. Detik berikutnya, dia menekan kepala Olivia ke dalam kloset.
Olivia, "Ahhhh ... gluk ... gluk ... gluk ...."
Setelah 30 detik, Pamela menarik kepalanya, lalu dia bertanya dengan datar, "Bagaimana perasaan Nona Olivia?"
Wajah Olivia menjadi pucat. Dia berkata dengan marah, "Be ... beraninya kamu melakukan ini padaku?! Kamu ...."
Pamela masih berkata dengan wajah datar, "Kamu yang turun tangan dulu, aku hanya melawan. Kamu menyiramku dengan air kotor, aku membiarkanmu mencicipi air toilet. Ini cukup adil."
Wanita ini benar-benar gila!
Olivia berteriak dengan marah, "Ah! Aku adalah nona besar dari Keluarga Dirgantara! Kakakku sangat menyayangiku! Beraninya kamu melakukan ini padaku!"
Pamela tidak takut, hanya menjawab, "Aku nggak peduli apakah kamu nona besar Keluarga Dirgantara atau bukan. Kakakmu memintaku menikah dengannya untuk jadi nyonya muda, bukan untuk ditindas di Keluarga Dirgantara. Ingat, jangan pernah macam-macam denganku lagi!"
Setelah mengatakan itu, dia menekan kepala Olivia ke dalam kloset lagi.
Kemudian, Pamela melambaikan tangannya.
Olivia segera menengadahkan kepalanya dengan napasnya yang terengah-engah, Olivia juga menangis karena jijik.
Mana pernah dia mengalami penghinaan seperti ini? Dia berjongkok di depan kloset untuk muntah, lalu dia mengertakkan gigi sambil berkata, "Pamela, kamu ... tunggu saja! Aku akan membiarkan kakakku menceraikanmu!"
Pamela terkekeh. "Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku berterima kasih dulu pada Nona Olivia karena sudah membantu kami cerai!"
Melihat Pamela tidak khawatir atau takut sedikit pun, Olivia merasa seolah-olah ancamannya tidak berbobot. Bisa dibilang, dirinya terlihat lemah di depan Pamela.
Setelah menarik Olivia berdiri, Pamela juga menyeretnya keluar dari kamar.
Lalu Pamela segera melepaskan pakaiannya yang amis dan kotor, baru mandi.
Pamela tidak ada pakaian lagi, jadi dia hanya bisa keluar dengan berbalut handuk. Lalu, dia melihat ponsel yang berada di meja menyala.
Pamela berjalan ke sana untuk mengangkat telepon.
Suara rekan kerjanya, Vanda Waskita, terdengar sangat cemas, "Pamela, gawat! Cepat datang ke perusahaan. Sesuatu yang besar telah terjadi!"
Bab 8
Telepon ditutup dengan tergesa-gesa. Pamela hanya mendengar suara panggilan berakhir bahkan sebelum dia sempat bertanya.
Dia tidak punya pakaian lain yang bisa dikenakan. Membuka lemari pakaian, dia melihat bahwa lemari pakaian di depannya penuh dengan pakaian paman aneh.
Setelah mengambil kaos putih milik pria itu secara acak dan memakainya, Pamela bergegas keluar dari rumah.
Kaos pria itu cukup besar untuknya. Ujung kaos menjuntai sampai ke lutut, sehingga tidak akan terlihat aneh jika dipakai sebagai pakaian kasual yang kebesaran.
...
Perusahaan Quentin.
Pamela sedang absen dengan menempelkan sidik jarinya pada pemindai. Tiba-tiba, Vanda yang wajahnya penuh tekanan berlari menghampirinya.
"Pamela, akhirnya kamu datang juga! Pak Dikra minta kamu datang ke ruangannya. Siapkan mentalmu ...."
"Pak Dikra mencariku?"
Pamela jarang sekali melihat Vanda setegang ini. Jadi, dia bertanya, "Apa yang terjadi?"
Vanda melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang di sekitar sebelum dia menghampiri Pamela dan berbisik pelan kepadanya, "Hari ini semua komputer di perusahaan terserang virus. Sistem lumpuh total dan semua dokumen penting internal perusahaan hilang."
Pamela mengerutkan kening, lalu menimpali, "Apa hubungannya denganku? Kalau komputer rusak, mereka harus mencari teknisi untuk memperbaikinya."
Vanda berkata dengan khawatir, "Teknisi sudah mengatasinya! Intinya, Bianca melaporkan kepada Pak Dikra kalau kamu mengunduh permainan di komputer perusahaan, jadi semua komputer perusahaan terkena virus!"
"Selain itu, hari ini Pak Patra mengundang pimpinan tertinggi untuk memeriksa proyek baru perusahaan. PowerPoint presentasi proyek sudah dikerjakan dengan susah payah oleh departemen kami, tapi dokumennya nggak bisa ditemukan. Karena itu Pak Dikra sangat marah dan pasti akan melampiaskannya padamu!"
Bianca Phalosa?
Dia adalah orang yang memiliki koneksi di perusahaan!
Seperti Pamela, dia masih dalam masa magang.
Perusahaan Quentin adalah perusahaan yang masuk dalam daftar 500 perusahaan besar di negara ini. Setiap tahun ada banyak orang berprestasi yang mencoba bergabung dengan perusahaan.
Karena memiliki nilai yang sangat baik, Pamela mendapatkan surat rekomendasi dari dekan Universitas Padalamang untuk magang di sini. Sementara Bianca, kabarnya dia adalah kerabat dari manajer di sini, yaitu Pak Dikra!
Hanya ada satu tempat yang tersedia bagi para pemagang untuk bisa menjadi pegawai tetap di perusahaan ini. Orang yang paling memungkinkan untuk posisi ini antara Pamela dan Bianca.
Pamela mungkin tahu persis apa yang sedang terjadi.
...
Sebelum Pamela mengetuk pintu ruang kerja Pak Dikra, dia mendengar suara Bianca di dalam ruangan yang meminta manajernya itu untuk tenang.
"Jangan khawatir, Paman. Komputernya akan segera diperbaiki! Ini semua salah Pamela. Dia malah main game nggak jelas saat kerja ...."
Pak Dikra menggerutu kesal, "Di mana si Pamela sialan itu? Kenapa dia belum datang juga!"
Pamela mengetuk pintu dan mendorongnya hingga terbuka.
"Pak Dikra ingin bertemu dengan saya?"
Pak Dikra mengumpat begitu melihatnya, "Pamela, kamu masih berani datang rupanya! Ini hari kerja dan kamu datang ke kantor di jam segini? Kemarin juga kamu nggak masuk tanpa alasan. Apakah ini sikap kerjamu!"
Pamela masuk dan menjelaskan dengan sikap yang baik, "Maaf, Pak Dikra. Kemarin saya menikah dan pagi ini saya ada masalah, sehingga datang terlambat."
Pak Dikra menganggap alasan yang diberikan Pamela sangat menggelikan. "Menikah? Anggap saja kamu memang menikah. Tapi apa kamu nggak bisa ambil cuti? Kamu pikir perusahaan ini rumahmu? Datang kapan pun kamu mau, pulang kapan pun kamu mau dan main game kapan pun kamu mau!"
Pamela masih bersikap lembut, "Ini pertama kalinya saya menikah. Saya akan mengambil cuti lain kali."
Pak Dikra kehabisan kata-kata, "..."
Bianca benar-benar tidak sanggup untuk mendengarkan perdebatan keduanya lagi.
"Pamela, kamu benar-benar nggak tahu malu. Kamu bolos kerja, tapi masih berani menggunakan alasan menikah? Bikin alasan pun nggak becus!"
Saat itu, pintu ruang kantor terbuka.
Bos Perusahaan Quentin, Patra Rafandra datang bersama dengan seorang pria bertubuh tegap yang sudah berdiri di ambang pintu. Kebetulan keduanya mendengar jawaban Pamela atas dua pertanyaan Pak Dikra.
Agam menyipitkan matanya.
Pak Dikra berniat melanjutkan memarahi Pamela. Namun, melihat kedua orang yang berada di depan pintu, dia sangat ketakutan hingga berdiri dengan tergesa-gesa dan mengangguk untuk menyapa mereka.
"Eh, Pak Patra! Kapan Bapak dan Pak Agam tiba. Masuklah ...."
Bianca menoleh sekilas. Dia melihat pria tampan dan pendiam yang berdiri di samping Pak Patra, sontak matanya langsung melotot.
Pamela yang kurang tertarik, menoleh samar-samar ke belakang dan terkesiap di tempatnya.
Paman aneh?
Kenapa dia ada di mana-mana?!
Pak Patra bertanya dengan wajah serius, "Dikra, apa yang barusan kalian perdebatkan? Aku dengar sistem perusahaan lumpuh total, ada apa ini?"
Dengan keringat bercucuran, Pak Dikra menunjuk ke arah Pamela dan berkata, "Pak Patra, anak magang baru perusahaan bermain game selama jam kerja, menyebabkan sistem perusahaan terserang virus. Sekarang, bagian teknis sedang memperbaikinya ...."
Patra menjadi marah, "Apa? Kenapa mempekerjakan anak magang seperti itu! Kamu berniat menjadikannya karyawan tetap?"
Pak Dikra langsung menggeleng dan menjawab, "Bukan begitu! Pak Patra, saya akan memecatnya sekarang juga!"
Bibir Bianca sedikit tertarik menyunggingkan senyum tipis tanda kemenangan.
Tatapan dingin Agam menyapu sosok Pamela sekilas, sangat acuh.
Seolah tidak pernah mengenal satu sama lain, dia berbicara dengan dingin, "Pak Patra, sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat untuk kedatangan saya. Kalau begitu, kita lakukan lain kali saja!"
"Pak Agam, maafkan saya karena sudah membuat Anda melihat lelucon semacam ini ...."
Patra menjadi sangat tidak berdaya. Entah berapa banyak usaha yang telah dia lakukan untuk mendatangkan orang penting seperti Agam kemari. Jadi, jika hari ini dia pergi begitu saja, akan lebih sulit lagi untuk membawanya ke sini di lain waktu!
Pada saat itu, Pamela melihat Vanda sedang menatap dengan gelisah ke arah pintu kantor.
Dia tiba-tiba teringat bahwa proyek baru ini adalah pertama kalinya Vanda memimpin tim sendirian. Jika proyek ini gagal, akan sulit baginya untuk mengambil peran besar di perusahaan.
Vanda selalu memperlakukan Pamela dengan baik selama masa magang.
"Pak Agam!" panggil Pamela tiba-tiba.
Agam yang sudah berbalik menghentikan langkah kakinya.
Pamela berjalan ke arahnya, "Pak Agam, saya tahu waktu Anda sangat berharga. Tapi, karena sudah datang kemari, akan sangat disayangkan kalau sampai melewatkan satu proyek yang bagus!"
Mata hitam Agam menatap dingin. Lalu, dia bertanya, "Sepertinya sekarang kalian nggak punya apa pun untuk diperlihatkan kepada saya."
Pamela meyakinkan, "Beri saya waktu sampai kopi Anda habis. Saya pasti akan menampilkan PowerPoint rencana proyek baru ini kepada Pak Agam untuk dipresentasikan!"
Patra dan Pak Dikra menatap Pamela dengan tatapan tidak percaya.
Bianca memutar bola matanya meremehkan. Teknisi profesional saja sampai kewalahan memperbaiki sistem yang rusak. Namun, Pamela bilang dia bisa memperbaikinya?
Membual bukanlah taktik yang bagus!
Sudah terpojok, dia masih mencoba untuk memperbaikinya?
Setelah hening selama beberapa detik, wajah tampan Agam ada gurat ketertarikan dalam tatapannya.
"Anak muda memang memiliki semangat yang menantang. Pak Patra, saya sudah datang dan kebetulan sedikit haus. Saya akan meminum secangkir kopi sebelum pergi!"
Patra kembali tersadar dari keterkejutannya dan segera memerintahkan, "Tunggu apa lagi? Cepat buatkan kopi untuk Pak Agam!"
"Baik!"
Bianca memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa dekat dengan Agam, dengan sigap pergi membuatkan kopi.
Pamela kembali ke meja kerjanya dan mencolokkan sebuah USB ke colokan komputer.
Vanda merasa penasaran, jadi dia mendekat dan bertanya, "Pamela, apa yang kamu lakukan? Apa kamu benar-benar bisa memperbaiki komputer?"
Dengan ekspresi fokus, Pamela menggerakkan mouse di tangannya sambil menjawab, "Aku mencoba menginstal perangkat lunak antivirus!"
Vanda menghela napas dengan kecewa. "Ini ... Pamela, sepertinya percuma saja! Teknisi bilang sistem perusahaan diserang oleh peretas dengan tujuan tertentu. Perangkat lunak antivirus nggak akan ada gunanya!"
Pamela mendongak sedikit, lalu berkata sambil memberikan senyum tipis pada Vanda, "Coba saja dulu. Siapa tahu ada keajaiban!"
Bab 9
Vanda hanya merasa bahwa Pamela terlalu optimis, sementara dia sendiri telah kehilangan semua harapan.
Rencana proyek yang telah dipersiapkan selama sebulan akan dibatalkan begitu saja. Meskipun sangat tidak rela, tidak ada lagi yang bisa Vanda lakukan!
Sambil menghela napas dalam, Vanda berbalik ke arah dapur.
"Pamela, lanjutkan saja. Aku buatkan kopi biar lebih segar!"
"Ya, terima kasih!"
Pamela menjawab dengan samar. Pada saat yang sama, sebuah laman progres berwarna merah muncul di layar hitam komputernya.
Setelah laman muncul sepenuhnya, Pamela dengan cepat memecahkan kata sandinya.
Dia mengklik sebuah kotak dialog tersembunyi, menekan papan ketik dan mengetik beberapa kata untuk dikirim.
"Ada dendam apaan sih?!"
Pihak peretas terkejut dan membalas, "Kamu! Dewa macam apa kamu, sampai bisa melakukan serangan balik ke dalam sistem enkripsi level tertinggi Aliansi Apollo kami!"
Ujung jari Pamela mengetik ringan, "Nggak penting siapa aku. Intinya, kenapa kamu menyerang Perusahaan Quentin. Kalau ada perihal dendam, ya langsung saja cari orang yang melakukannya. Siapa pun yang memprovokasimu, cari dia dan selesaikan dengannya. Jangan hancurkan hasil jerih payah banyak orang yang tidak bersalah!"
Peretas itu tidak luluh begitu saja dan segera membalas.
Namun, dia berhasil dicegat oleh sistem pertahanan yang dipasang Pamela, yang telah disiapkan sejak awal.
Peretas itu tidak bisa menahan kekagumannya pada lawan misterius yang teknologinya lebih unggul daripada miliknya.
...
Ketika Vanda kembali dan membawa segelas kopi, komputer berhasil diperbaiki Pamela. Dokumen di dalamnya pun kembali.
"Beneran sudah diperbaiki! Pamela, kamu luar biasa! Bagaimana kamu bisa melakukannya?"
Pamela mengeluarkan USB dan memutarnya di ujung jari telunjuknya. Dia bersandar di kursinya dan menjawab sambil tersenyum, "Aku membeli perangkat lunak antivirus ini seharga 19,99 ribu di sebuah toko yang mengklaim kebal terhadap semua virus. Sepertinya memang benar! Aku akan memberikan ulasan positif setelah ini!"
Alis Vanda bertaut dan dia mengatakan, "Hah? Apa? Apa kamu benar-benar memperbaikinya cuma dengan perangkat lunak antivirus? Hmm, teknisi bilang aplikasi antivisur itu tak berguna, menurutku mereka yang nggak berguna!"
Pamela mengulurkan tangan untuk mengambil secangkir kopi dari tangan Vanda dan mengangkat dagunya, "Sudah. Cepat ambil salinan PowerPoint-nya. Presentasikan kepada Pak Patra dan yang lainnya!"
"Ya! Aku akan melakukannya! Pamela, aku mencintaimu!"
Vanda memberikan ciuman terima kasih kepada Pamela sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Rekan-rekan kerja yang lainnya tiba-tiba mengerumuni Pamela dan meminta tautan antivirus yang dia miliki
Pamela meladeni mereka dengan malas, "Jangan khawatir. Nanti aku akan mengirimkannya ke grup!"
Dia menyesap kopi dari cangkirnya. Bulu matanya yang lentik terangkat saat dia melirik ke arah kantor Pak Patra.
Seharusnya paman aneh itu masih belum menghabiskan secangkir kopinya, 'kan?
...
Di dalam kantor.
Bianca membawakan Agam kopi, kemudian menggerakkan kakinya yang putih dalam berbagai posisi seksi.
Namun, dia tidak bisa menarik perhatian pria itu walaupun kakinya sudah terasa kram.
Vanda mengetuk pintu dengan lembut dan menjulurkan kepalanya untuk meminta instruksi, "Pak Patra, PowerPoint sudah siap. Rapat yang sudah dijadwalkan bisa dilanjutkan."
Patra yang menemani Agam minum kopi langsung berbinar. Dia menimpali sambil tersenyum, "Komputernya sudah diperbaiki?"
Vanda mengangguk mengiakan, "Ya, Pak Patra! Pamela sudah memperbaiki komputernya!"
"Wah, dia benar-benar hebat!"
Patra menjadi tenang. Dia berdiri dan memberi isyarat dengan sikap penuh hormat, "Pak Agam, materi rapat sudah siap. Mari ke ruang rapat dan penanggung jawab proyek akan memberikan penjelasan tentang proyek baru kita!"
Tangan Agam yang besar dan bertulang terlihat panjang dan ramping saat dia memegang cangkir kopinya.
Dia menyipitkan matanya dengan serius sebelum meletakkan cangkir kopinya dan berdiri dengan anggun. Sikapnya ini memberikan kesan seorang pria dewasa dengan pesona yang kuat dalam setiap gerakannya.
Bianca mengertakkan gigi dengan marah.
Pamela benaran berhasil memperbaikinya!
...
Lima belas menit kemudian, Agam keluar dari ruang rapat. Wajahnya yang tampan dan dalam tidak menunjukkan emosi apa pun.
Patra datang dan mengikutinya dengan sikap patuh.
Ketika melewati meja kerja Pamela, pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, menatapnya dengan tatapan dingin. Bibir tipisnya tertarik ke atas membentuk seringai.
"Pak Patra, karena kemampuan berbakat pegawaimu, kalian berhasil membuatku menghabiskan waktu satu jam di sini!"
Patra menjadi canggung, lalu menjawab, "Eh, Pak Agam, saya benar-benar minta maaf."
Agam menyipitkan matanya, tidak menatap Pamela lagi dan berjalan menuju lift.
Pamela terkejut ketika Bianca datang dengan ekspresi sombong di wajahnya. "Pamela, kenapa memangnya kalau kamu bisa memperbaiki komputer? Pak Agam masih nggak tertarik dengan proyek bodoh kalian itu!"
Mengabaikan Bianca, Pamela menoleh ke arah Vanda yang baru saja kembali dari ruang rapat, lalu bertanya, "Vanda, apa yang terjadi?"
Vanda menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara terisak, "Pamela, aku nggak tahu kenapa, tapi ada sejumlah kesalahan data utama di PowerPoint. Pak Agam mengatakan proposal kita sampah ...."
Alis Pamela berkerut tanda terkejut.
Pada saat itu, Patra yang telah mengantar Agam pergi, kembali dengan wajah tegas dan memberikan teguran keras, "Vanda, apa yang kamu lakukan? Kalau nggak mampu tanggung jawab sama proyek ini, lebih baik nggak usah kerjain!"
Vanda menunduk merasa bersalah. "Pak Patra, saya minta maaf! Saya ...."
Pamela melihat seringai kemenangan di wajah Bianca, tahu bahwa wanita itu telah berhasil melakukan ulah liciknya!
"Pak Patra, kesalahan PowerPoint tidak ada hubungannya dengan Vanda. Komputer sudah diperbaiki, tapi virus merusak sebagian dari data yang ada di dalamnya. Karena itulah data PowerPoint menjadi kacau. Saya membiarkan Vanda membawanya ke rapat tanpa memeriksanya. Ini salah saya dan saya akan mengundurkan diri!"
Patra mengerutkan kening pada Pamela.
Pak Dikra, yang berada di belakang Pak Patra tiba-tiba berkata, "Mengundurkan diri? Pamela, kamu dipecat. Kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini sebelum kamu membuat Pak Patra marah!"
Saat Pamela menunggu lift, Vanda keluar untuk mengejarnya. Dia merasa bersalah kepada Pamela.
"Pamela, akulah yang harus keluar ...."
Pamela menggeleng pelan, lalu menjawab, "Itu bukan salahmu. Pak Dikra memang mau memecatku. Kamu nggak perlu terlibat dalam masalah ini."
Vanda marah, "Tapi kalau kamu pergi seperti ini, Bianca bisa jadi pegawai tetap. Kemampuannya berada di bawahmu dalam segala hal. Dia akan diuntungkan kalau seperti itu!"
Pamela mengangkat bahu dengan acuh tak acuh, melambaikan tangan ke arah Vanda dan berbalik untuk masuk ke dalam lift.
Pamela keluar dari lift tepat saat pintu sebelah terbuka.
Bianca melangkah keluar dari pintu sebelah, menggenggam sekotak perlengkapan kantor dan melemparkannya ke depan Pamela.
"Kamu lupa membuang sampahmu. Pak Dikra bilang kalau ruang kerjamu akan dikosongkan untuk dijadikan ruanganku!"
Pamela bersikap tenang dan membungkuk untuk mengambil barang-barangnya. Lalu, dia mengatakan, "Bianca, sebagai rekan kerja, aku ingin memberikan saran untukmu!"
Bianca bersedekap, berbicara setelah menggerakkan bahunya penuh kemenangan, "Apa? Katakan saja!"
Bibir Pamela tertarik dalam lengkungan samar. Dia mendekat ke telinganya dan berkata, "Kalau nggak punya kemampuan, kamu hanya akan tersingkir!"
Bianca terkejut, lalu menjawab, "Cih!"
Pamela sedang menakut-nakutinya?
...
Pamela berjalan keluar dari gedung perusahaan dengan membawa barang-barangnya. Tiba-tiba, sebuah mobil Maserati edisi terbatas berwarna hitam berhenti di sampingnya.
Ervin turun dari kursi samping kemudi, lalu mengatakan, "Nona Alister, tuan muda meminta nona untuk masuk."
Pamela tidak menanggapi dan mengambil jalan memutar.
Ervin mengangkat tangannya untuk menghentikannya, lalu mengatakan, "Nona Alister, tolong masuk ke dalam mobil!"
Mau bagaimana Pamela menghindar, juga tidak berhasil, ini membuat wajah kecil Pamela berubah muram. Dia dengan terpaksa masuk ke dalam mobil.
Kejadian ini kebetulan saja dilihat oleh Bianca. Dia awalnya melihat di pintu masuk perusahaan kalau ada Maserati edisi terbatas yang lewat. Jadi, dia keluar untuk melihat-lihat. Namun, dia tidak menyangka Pamela benar-benar masuk ke dalam mobil itu.
Mata Bianca melotot. Apa yang terjadi!
Itu adalah Maserati edisi terbatas. Bagaimana Pamela bisa masuk ke dalam mobil mewah seperti itu?
Apakah dia pantas diperlakukan begitu?