Bab 1

"Setelah menikah denganku, kamu nggak perlu kerja lagi. Kamu cuma perlu melayaniku dengan baik di rumah. Kamu harus melahirkan anak laki-laki yang lucu dalam waktu satu tahun! Ingat, aku nggak mau anak perempuan, karena anak perempuan hanya buang-buang uang saja!"

Pria itu berkata dengan nada meremehkan.

Pasangan kencan buta Pamela kali ini adalah seorang pria paruh baya berambut tipis dan perut buncit. Usianya hampir empat puluh tahun.

Ibu tirinya, Wulan Puspita, takut Pamela menikah dengan pria baik, jadi memaksanya untuk bertemu dengan pria yang sudah tua.

Heh!

Awalnya pria paruh baya itu sangat tidak senang karena dandanan Pamela yang sangat menor. Namun, ketika melihat Pamela memiliki tubuh langsing dan temperamen yang baik, dia pun merasa Pamela sangat menggoda dan nikmat ketika ditelanjangi.

Jadi, dia bertanya lagi, "Berapa tinggi badanmu?"

Pamela mengaduk kopi di cangkirnya dengan bosan, lalu menjawab lirih, "168 senti."

Setelah mendengarnya, pria itu sangat senang. "Ya, tinggi badanmu sangat cocok denganku yang tingginya hampir 180. Ini bisa dikatakan sebagai perbedaan tinggi badan yang paling menggemaskan! Kelak, kalau kita mau berciuman, kamu harus jinjit dulu. Tapi nggak masalah. Aku bisa membungkuk untuk memudahkanmu!"

Harus diketahui bahwa, 180 senti yang terlontar dari mulut pria jelek di depannya ini paling hanya sekitar 172 senti.

Mata Pamela yang dirias tebal berkedip beberapa kali. Dia memberikan jawaban menohok, "Pak, mungkin kamu nggak tahu berapa tinggi badan seorang pria agar wanitanya harus berjinjit saat berciuman."

Pria itu mengerutkan kening dengan tidak senang. "Apa maksudmu?"

Pada saat itu, seorang pria cuek yang tingginya begitu mendominasi berjalan masuk ke dalam kafe.

Begitu Pamela mengangkat kepala, dia melihat pria yang baru masuk ke kafe itu. Kedua matanya menyiratkan keceriaan. Dia berjalan mendekati pria itu.

"Hai, ganteng. Maaf ganggu sebentar. Bisa bantu aku menunjukkan kepadanya, apa yang disebut dengan perbedaan tinggi badan yang sesungguhnya?"

Kedua alis pria itu berkerut tajam.

Sebelum pria itu menolak, Pamela meraih dasinya dan menariknya ke bawah. Sementara dia sendiri berjinjit untuk mengecup bibir pria itu dengan akurasi yang mantap ....

"Sudah kamu lihat belum? Setidaknya kamu harus setinggi dia, baru pasanganmu perlu berjinjit ketika menciummu!"

"Kamu ...."

Pria itu merasa kesal sampai marah, lalu dia berdiri menujuk Pamela dengan marah.

"Wanita nggak tahu malu! Bisa-bisanya kamu asal menarik pria untuk berciuman! Tunggu saja, nanti aku pasti akan memberi tahu agen kencan buta tentang perilaku liarmu agar nama baikmu hancur di dunia kencan buta, dengan begitu kamu nggak bisa mendapat pasangan kencan lagi! Cieh!"

Pamela malah berharap seperti itu!

Setelah kejadian hari ini tersebar, lihat saja bagaimana ibu tirinya masih bisa mencarikan pasangan kencan aneh untuknya!

Pamela berdecak jengah. Setelah berhasil mengusir pria jelek itu, dia melambaikan tangan sebagai tanda terima kasih kepada pria yang sudah membantunya.

"Paman, terima kasih sudah membantuku. Kita akan bertemu lagi kapan-kapan, sampai jumpa!"

Setelah mengatakan itu, Pamela berbalik dan berjalan pergi dengan penuh gaya. Namun, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik oleh sebuah tangan besar yang dingin!

Suara rendah dan dingin pria itu terdengar di telinga Pamela.

"Menciumku secara paksa, lalu ingin pergi begitu saja?"

Pamela merasakan aura dingin yang mencekam, serta rasa tertekan yang kuat. Dia mendongakkan kepalanya, wajah tampan sedingin es pun muncul di depannya.

Sungguh wajah tampan yang sempurna!

Gaya rambut pria itu terlihat dewasa karena ditata rapi. Wajah gantengnya memiliki proporsi yang sangat pas, tapi dari alisnya terlihat rasa bahaya dan kejam.

Bahaya!

Tadi Pamela hanya ingin mengusir pasangan kencan butanya. Jadi, dia memilih pria tinggi yang dia lihat, bahkan tidak memperhatikan penampilan pria itu dengan rinci.

Sekarang, setelah melihat lebih dekat, Pamela merasa kalau pria ini benar-benar sangat tampan. Kesan pertama Pamela adalah pria ini bukan pria biasa.

Pamela mengernyit.

"Jadi, apa yang kamu inginkan?"

Pria itu menatap Pamela dengan tatapan muram, bibir tipisnya bergerak pelan, seperti akan mengatakan sesuatu.

Saat ini, orang berpakaian hitam yang menunggu di sisi pria itu baru selesai mengangkat telepon. Dia berjalan dengan ekspresi muram, lalu melaporkan, "Tuan, ada perubahan situasi! Penerbangan Nona Sophia terpaksa putar balik karena cuaca buruk. Jadi, Nona Sophia nggak bisa sampai hari ini, tapi pesta pertunangan tuan diadakan di hari ini, waktu juga sangat mepet. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Alis pria itu makin berkerut saat mendengar ini.

Pesta pertunangan ini berkaitan dengan hidup kakeknya!

Kakek mendesaknya menikah karena marah dia masih sendirian di usia tiga puluh tahunan, ditambah beberapa saat ini penyakit jantung kakeknya kambuh dan perlu transplantasi, baru bisa menyelamatkan hidupnya.

Namun, kakeknya berkata dia tidak akan melakukan operasi kalau Agam tidak bertunangan di hari ini dan menikah dalam tiga hari!

Sophia merupakan wanita yang dicari Agam untuk memenuhi keinginan kakeknya, tapi Sophia malah tidak bisa tiba hari ini.

Saat ini, tangan Pamela masih ditarik erat oleh pria itu sehingga Pamela merasa tidak senang. "Hei, Paman, apa kamu masih ada hal lain? Kalau nggak ada, lepaskan tanganku!"

Agam menatap Pamela dengan lekat. Gurat kebingungan melintas di bagian bawah matanya yang sipit.

Tiba-tiba, Agam berbicara dengan seringai dingin, "Karena nona ini menawarkan diri, jadi dia akan menggantikan Sophia!"

Ervin Pradipta yang merupakan asisten khusus Agam terkejut. Dia melemparkan tatapan menyepelekan ke arah Pamela, lalu menatapnya dari atas ke bawah.

Riasan wajah yang sangat tebal, rambut yang berantakan, dandanannya seperti wanita murahan. Bagaimana mungkin wanita seperti ini layak berdiri di samping tuan mudanya?!

"Tuan muda, nona ini ...."

"Dia saja!"

Ervin tidak berani memiliki pendapat lain dan langsung menjawab, "Ya!"

Pamela berfirasat buruk. Dia bertanya dengan waspada, "Apa maksud dari aku saja? Paman, apa yang akan kamu lakukan padaku?!"

Pria itu meliriknya, lalu berkata dengan nada dingin.

"Aku ingin kamu ... bertanggung jawab!"

Bertanggung jawab?

Pamela memasang ekspresi jengah.

"Paman, kamu sudah gila, ya? Aku harus bertanggung jawab karena satu ciuman? Tadi adalah ciuman pertamaku, aku saja nggak minta paman buat bertanggung jawab!"

Alis tajam pria itu terangkat dengan penuh makna. "Ciuman pertama?"

Pamela menghela napas dengan sedih. "Ya! Ciuman pertama yang sudah aku jaga selama 20 tahun, hari ini aku malah memberikannya padamu secara cuma-cuma!"

Nyali wanita ini sungguh besar!

Raut wajah Agam kembali menjadi dingin. Dia berkata dengan suara lirih, "Kemarilah. Bawa dia pergi!"

Setelah itu, Pamela dibawa oleh beberapa pria berpakaian hitam dan dimasukkan ke dalam mobil mewah berwarna hitam ....

Kota Marila.

Manor Sinar Rembukan adalah sebuah manor kelas atas di negara ini.

Hari ini, Agam Dirgantara selaku tuan muda Keluarga Dirgantara yang merupakan keluarga kelas satu, mengadakan pesta pertunangan megah di manor ini. Pesta pertunangan ini dihadiri oleh orang terkenal yang tengah berbincang sambil memegang gelas anggur di tangan.

"Nggak tahu putri keluarga mana yang sangat beruntung karena bisa menjadi wanita Tuan Agam!"

"Dia pasti putri yang sempurna dari keluarga kaya! Mana ada wanita biasa yang bisa membuat Tuan Agam tertarik!"

"Lihat, Tuan Agam sudah datang! Gila, ganteng banget ...."

"Eh, apa wanita di samping Tuan Agam adalah tunangannya yang dibicarakan banyak orang? Kenapa dia terlihat agak ...."

Tidak sama seperti apa yang dibayangkan oleh orang-orang.

Di bawah perhatian banyak orang, Agam terlihat tengah menuntun seorang gadis yang ditarik secara paksa ke tengah perjamuan.

Pembawa acara dalam pertunangan ini melangkah maju, lalu memegang mikrofon dan mulai berbicara.

"Selamat malam, para hadirin sekalian. Selamat datang di acara pertunangan Tuan Agam Dirgantara!"

Pamela dipaksa untuk berdiri di atas panggung, tapi dalam hatinya penuh rasa tidak berdaya.

Ya. Pamela memang sudah memanfaatkan pria ini tanpa izin, Pamela juga mengakui ini kesalahannya, tapi pria ini bisa melapor polisi kalau Pamela sudah melecehkannya, Pamela juga bersedia menerima hukuman apa saja.

Namun, tak disangka pria ini begitu berengsek.

Dia membawanya kemari dengan paksa untuk diajak ... bertunangan!

Bab 2

Para tamu yang datang menunjukkan berbagai ekspresi, bahkan mengatai mereka ….

"Apa ini tunangan Tuan Agam? Kenapa pakaiannya terlihat seperti gadis menor di jalanan?!"

"Bukankah seharusnya tunangan Tuan Agam adalah seorang wanita yang lemah lembut dan cantik? Apa-apaan ini?"

"Ehem, selera Tuan Agam memang unik ...."

Pamela sengaja berdandan seperti gadis jalanan untuk menakuti pasangan kencannya.

Namun, Agam tampaknya tidak peduli kalau citra "tunangan" dia dicemooh oleh banyak orang.

Bisa dibilang, dia bahkan tidak peduli bahwa seleranya dipertanyakan orang-orang. Dia malah tampak seperti sedang menonton pertunjukan orang lain.

Di bawah tatapan para tamu, Pamela bertukar cincin pertunangan dengan Agam. Dia merasa seperti ada pisau tajam yang menusuk punggungnya.

Saat pembawa acara mengatakan pertunangan selesai.

Para tamu yang hadir merasa sulit untuk menghargai tunangan Tuan Agam, tetapi demi Tuan Agam, mereka tidak berani untuk tidak bertepuk tangan dan memberikan restu.

Seketika tepuk tangan pun terdengar keras.

Saat turun dari panggung pertunangan, Pamela hanya ingin pergi dan meninggalkan tempat yang penuh dengan masalah ini.

Namun, Pamela dikelilingi oleh tiga wanita berpakaian mewah, bahkan menghalangi jalannya.

"Kamu putri dari keluarga mana?"

"Kenapa kamu datang dengan pakaian murahan seperti ini?"

"Kamu pikir kamu pantas berdiri di samping Tuan Agam dengan penampilan seperti ini?"

Pamela langsung berbalik, tidak mau menghiraukan mereka.

Namun, para wanita itu menghentikannya lagi, tidak mau membiarkannya pergi.

Dia pun kehilangan kesabaran dan melirik sekilas ke arah gaun-gaun indah yang mereka pakai, lalu berkata, "Kalian yang berpakaian secantik ini memang pantas berdiri di samping Tuan Agam, tapi maukah Tuan Agam bersama dengan kalian?"

"Kamu ...."

Ketiga wanita itu adalah putri dari keluarga yang berkuasa di Kota Marila. Mana pernah mereka menerima makian seperti itu.

Mereka makin menghalangi Pamela, menuntutnya untuk meminta maaf.

Tidak jauh dari situ, Derry Kalingga selaku anak kedua dari Keluarga Kalingga menghampiri dan bersulang dengan Agam.

"Agam, dari mana kamu dapat wanita seperti itu? Kalau sampai membawanya menemui kakekmu, kakekmu akan marah besar."

Agam menjawab dengan santai, "Kakek hanya mau menantu wanita, jadi yang dipentingkan kakek adalah wanita."

Derry mencibir, "Di dunia ini ada banyak wanita, kenapa malah pilih wanita kayak dia?"

Agam melihat ke bawah, dia mengangkat gelasnya untuk meneguk anggur merah di dalamnya, tampaknya seperti menikmati sesuatu.

"Karena mulutnya cukup manis!"

Derry terdiam, lalu dia menatap temannya yang tak pernah mau mendekati wanita dengan kaget. Kemudian, Derry berkata, "Kenapa selama ini aku nggak sadar kalau seleramu nggak biasa!"

Huarz!

Segelas anggur disiramkan ke tubuh Pamela!

Derry melihat ke arah suara itu, lalu mengerutkan alis. "Tunanganmu sepertinya diganggu. Kamu nggak mau bantu?"

Agam menyipitkan matanya. "Nggak usah!"

Derry tidak mengerti maksud Agam. Tiba-tiba, dia melihat Pamela yang berada di sana menjambak rambut seorang wanita dengan satu tangan, lalu membenturkan kepalanyanya ke wanita lainnya dengan kuat. Benturan itu benar-benar sangat keras!

Kedua wanita itu jatuh karena pusing, sementara wanita satunya sudah ketakutan.

"Kamu ... kamu ... kamu ...."

Pamela tidak menunjukkan ekspresi apa pun, juga tidak mengatakan apa-apa, hanya melambaikan tangannya ke samping.

Wanita satu lagi segera mundur, juga tidak berani menghalangi jalan Pamela lagi.

Derry pun menyeringai.

"Sepertinya aku tahu kenapa kamu memilih wanita ini!"

Sorot mata Agam begitu dalam. Dia meminum anggurnya tanpa menimpali perkataan Derry.

Wanita itu bisa mendekatinya secepat kilat tanpa dia sadari, juga menariknya dengan satu tangan untuk menciumnya secara paksa.

Kekuatannya luar biasa dan nyalinya tidak kecil. Itu yang membuatnya berbeda.

"Ervin, bawa dia ganti pakaian."

"Baik, tuan muda!"

Pamela tidak ikut Ervin untuk mengganti pakaiannya, melainkan berjalan ke arah Agam sambil memelototinya dengan marah.

"Paman, kamu kolot sekali. Aku hanya menciummu sekali saja, tapi kamu malah meminta pertanggung jawab penuhku, konsekuensi ini sungguh besar. Bolehkah aku bertanggung jawab padamu dengan cara lain? Seperti kompensasi finansial?"

Mata indah Agam yang menatap Pamela tiba-tiba menyipit, membentuk senyuman yang tidak bisa dijelaskan. "Hmm? Menurutmu berapa harga yang pantas untuk sebuah ciuman?"

Pamela terlebih dahulu mengamati wajah pria itu, kemudian menatap serius bibir tipisnya yang begitu menawan, tampaknya sedang memperkirakan harganya.

"Aku nggak tahu. Lebih baik kamu katakan saja berapa harganya. Sepertinya kamu juga sudah nggak muda lagi, jadi seharusnya ini bukan ciuman pertamamu. Sebaiknya jangan minta kompensasi lebih dari empat ratus ribu, karena aku nggak punya uang lebih dari itu!"

"Kurang ajar!"

Empat ratus ribu?

Ervin merasa bahwa wanita ini benar-benar mencari mati.

Bertunangan dengan tuan muda adalah kehormatan dalam hidupnya. Beraninya dia meremehkan tuan muda?

Agam memberi isyarat pada anak buahnya untuk mundur dengan tangan, lalu jari-jari rampingnya menekan dagu Pamela.

Agam tidak memegang dengan kuat, tetapi pegangan ini penuh rasa bahaya.

"Gadis kecil, karena kamu sudah berani melecehkanku di depan umum, kamu harus menerima konsekuensinya dengan baik! Hmm?"

Pamela mengerutkan kening, otak pria ini memang sudah rusak.

Penampilannya hari ini sangat jelek, kenapa pria ini malah tidak mau melepaskannya?

Pamela menarik sudut mulutnya membentuk senyum tipis. Matanya berkilat, lalu berkata dengan nada ketus, "Baiklah! Kalau begitu, apa sekarang aku boleh ke toilet?"

Agam tidak berkata apa-apa, hanya melirik ke arah anak buahnya, lalu memberi isyarat untuk mengantarnya ke toilet.

Beberapa menit kemudian, Ervin menghampiri Agam dengan ekspresi serius.

"Tuan muda, Nona Alister melompat keluar dari jendela toilet dan melarikan diri. Aku sudah memerintahkan pengawal untuk mengejarnya."

Agam mengenakan setelan jas rapi, bersandar di sofa dengan malas dan santai. Dia bersikap seolah-olah sudah menebak hasil ini. Wajah tampannya yang dingin tidak menunjukkan perubahan apa pun. Dia mengguncang pelan gelas anggur merah di tangannya.

"Nggak perlu. Cari tahu alamat rumah wanita itu, lalu suruh orang untuk mengantar mahar padanya!"

"Baik!"

Derry sudah cukup melihat drama itu, jadi ingin menasihati temannya ini, "Agam, kamu benar-benar mau menikah dengan gadis kecil yang nggak bisa dikendalikan itu? Sebenarnya ...."

Agam menjawab dengan penuh makna, "Wanita seperti itulah yang cocok untuk posisi itu."

...

Hari sudah larut malam ketika Pamela pulang ke rumah.

Begitu masuk ke dalam rumah, ayahnya, Darius Alister, langsung menamparnya.

"Masih berani pulang?!"

Pamela melangkah mundur dengan gesit untuk menghindari tamparan itu.

Darius makin marah ketika tamparannya tidak menemui sasaran.

"Pamela, ibumu susah payah memilihkan pria baik-baik untukmu, kamu malah pergi kencan buta dengan pakaian seperti ini! Kamu juga menarik seorang pria dan menciumnya di depan umum. Harga diri Keluarga Alister hancur karena sikap liarmu! Kamu membuat ibumu disalahkan oleh agen kencan buta! Cepat berlutut dan minta maaf pada ibumu!"

Pamela memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, lalu menimpali dengan tatapan dingin, "Dia bukan ibuku!"

Dia hanya seorang ibu tiri, ibu tiri yang mencoba segala cara untuk menikahkan dia secepat mungkin agar dia tidak mendapatkan kekayaan Keluarga Alister!

Wulan berkata dengan kebaikan palsu, "Darius, aku baik-baik saja. Jangan marah sama Pamela. Dia masih muda dan nggak tahu apa-apa. Itu semua salahku karena nggak bisa melakukan tugas seorang ibu sambung dengan baik ...."

Darius malah tidak tega kepada Wulan karena Wulan masih membela Pamela yang sudah berbuat salah.

Dia menoleh dan lanjut memarahi Pamela, "Anak nggak tahu bersyukur! Selama ini Wulan memperlakukanmu dengan baik, tapi kamu nggak mau memanggilnya ibu!"

Wulan menyeka air mata palsunya dan membujuk dengan ekspresi pasrah, "Darius, sudah, sudah! Nggak masalah kalau dia memanggilku Tante Wulan. Aku nggak keberatan, kok!"

Melihat akting Wulan, Pamela tidak terkejut.

Wanita tua yang sok baik ini memang paling pandai berakting sedih. Dia bermuka dua. Baik di depan, buruk dibelakang.

Selama ini, Darius sudah tertipu oleh kecantikannya, jadi dia tidak mengetahui sifat aslinya!

Sambil menyerahkan setumpuk informasi kepada Darius, Pamela berkata, "Ayah, ini informasi asli dari semua pasangan kencan buta yang Tante Wulan atur untukku. Ayah bisa lihat dulu. Kalau ada yang membuat ayah tertarik, aku akan menikah dengannya!"

Darius terkejut. Dia mengambil dokumen itu dan membacanya. Setelah itu, ekspresi wajahnya berubah menjadi muram.

Bab 3

Semua pria yang ada di dokumen itu berpenampilan jelek, usia mereka sekitar empat puluh tahun. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki pekerjaan yang layak!

Darius memelototi Wulan. "Bahkan ada yang usianya hampir menyamaiku! Wulan, bagaimana bisa kamu mengenalkan pria-pria tua seperti itu pada Pamela!"

Wulan terlihat canggung, jelas-jelas dia sudah menyuruh orang untuk mengedit foto dan riwayat pria-pria itu.

Tak disangka Pamela si gadis sialan ini memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi asli pria-pria itu!

Wulan langsung menunjukkan wajah sedih dan berkata, "Darius, aku nggak tahu kenapa bisa begini. Pria-pria yang aku pilihkan untuk Pamela adalah pria terbaik. Pihak agen kencan buta pasti sudah berbohong tentang informasi mereka!"

Pamela merasa lucu. "Tante Wulan, kamu bahkan nggak memverifikasi keaslian informasi pria itu, sudah bilang kalau mereka pria terbaik? Karena aku bukan putri kandungmu, jadi kamu nggak serius mengurus masalah pernikahanku? Ayah, kalau aku benar-benar menikah dengan pria tua seperti itu, apa ayah akan merasa bangga?"

Wulan segera menyusun kata-kata untuk menjelaskan, "Nggak, bukan begitu ...."

Namun, Darius tidak mau mendengarnya, dia melemparkan dokumen itu ke wajah Wulan dengan kecewa.

"Cukup! Mulai sekarang, pernikahan Pamela nggak perlu diurus kamu! Kartu kreditmu akan dihentikan dari bulan ini. Jangan sering keluar dan buang-buang uang. Tinggallah di rumah dan renungkan kesalahanmu!"

Wajah Wulan memucat. Dia segera berkata, "Darius, kamu benar-benar salah paham denganku ...."

Darius tidak lagi peduli padanya, dia menatap putri bungsunya dan berkata dengan rasa bersalah, "Pamela, akhir-akhir ini, kamu pasti sangat menderita karena bertemu banyak pria tua. Kelak , kamu nggak perlu pergi kencan buta."

Pamela tersenyum. "Terima kasih, ayah."

Setelah Darius naik ke lantai atas, Wulan memasang tampang galak dan menatap tajam ke arah Pamela!

Setelah Pamela merasakan tatapan marah Wulan, Pamela tetap berkata dengan tenang, "Oh ya, Tante Wulan, aku lupa bilang. Menurutku pria-pria terbaik yang tante pilih secara pribadi pasti akan jadi menantu yang tante sukai. Jadi, aku memberikan nomor pribadi Kak Jovita kepada pria-pria yang tante bilang terbaik itu. Semoga Kak Jovita bisa menjalin hubungan bahagia dengan mereka!"

Wulan mengertakkan gigi dan berkata dengan marah, "Apa? Ber ... beraninya kamu berbuat seperti itu?!"

Jovita adalah aktris populer. Mana mungkin pria rendahan itu pantas menghubungi Jovita!

Pamela tidak peduli lagi dengan Wulan. Dia menguap sambil naik ke lantai atas untuk tidur.

Wulan memaki Pamela dalam hati. Dia ingin kembali ke kamarnya untuk membujuk Darius agar tidak menghentikan kartu kreditnya, tetapi bel pintu malah berbunyi!

Siapa yang datang di waktu selarut ini?

Ketika membuka pintu, Wulan melihat seorang pria yang mengenakan jas, juga ada banyak pria berpakaian hitam di belakangnya. Mereka datang membawa banyak barang dengan berbondong-bondong.

Ketika ada banyak orang asing tiba-tiba datang di waktu selarut ini, Wulan menjadi waspada. Dia berkata, "Si ... siapa yang kalian cari?"

Ervin berkata, "Halo, Nyonya Alister. Kami kemari untuk mengantarkan mahar pada Nona Alister atas perintah tuan muda!"

"Mahar? Mahar apaan? Siapa tuan muda yang kalian maksud?"

"Tuan muda kami bernama Agam Dirgantara."

Mata Wulan terbelalak ketika pengunjung itu menyebutkan nama tuan mudanya dengan jelas.

"Agam ... Agam Dirgantara? Apa yang kalian maksud adalah Tuan Agam dari keluarga kelas satu Keluarga Dirgantara?"

Ervin menjawab, "Benar."

Wulan bertanya, "Maksud kalian, Tuan Agam tertarik dengan putriku?"

Ervin memasang raut wajah rumit. Setelah ragu-ragu sejenak, dia berkata, "Nggak masalah kalau nyonya ingin mengartikannya seperti itu."

Wulan berpikir bahwa putrinya, Jovita Alister adalah seorang aktris yang populer, cantik dan manis. Wajar saja jika seorang tuan muda dari keluarga yang berkuasa suka padanya.

Namun, identitas pelamar yang ingin melamar putrinya terlalu besar. Mereka bahkan datang dengan membawa mahar. Bukankah ini terlalu mendadak!

Melihat Wulan tidak memberikan jawaban dalam waktu yang lama, Ervin bertanya, "Apa Nyonya Alister nggak setuju dengan pernikahan ini?"

Wulan baru sadar dari lamunannya dan langsung menggelengkan kepalanya. Dia menjawab, "Bukan begitu. Hanya saja, sekarang putriku sedang nggak di rumah. Untuk hal sebesar ini, lebih baik menunggunya kembali sebelum ...."

Ervin menyela, "Nyonya Alister, putri nyonya sudah menerima cincin pertunangan dari tuan muda. Sekarang, nyonya hanya perlu menerima maharnya."

Apa?

Jovita sudah menerima cincin dari Tuan Agam? Kalau begitu, apa Wulan bisa mengartikan mereka berdua sudah menjalin hubungan yang lama?

Jovita ini benar-benar nakal, bisa-bisanya tidak memberi tahu mereka kalau dia mendapatkan pacar sebaik Tuan Agam!

Wulan tidak berani mengabaikan tamu terhormat ini, jadi dia buru-buru mempersilakan Ervin masuk.

Ervin tidak masuk, hanya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa masuk mahar ke dalam rumah.

"Tiga hari lagi, tuan muda akan datang untuk menikahi Nona Alister."

Wulan terkejut. "Hah? Tiga hari lagi? Bu ... bukankah itu terlalu terburu-buru?"

Ervin berkata, "Nyonya Alister, jangan khawatir. Tuan muda sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk pernikahan. Semuanya akan diadakan secara mewah. Nona Alister nggak akan dirugikan."

Semuanya serba mewah?

Tuan Agam benar-benar sangat royal kepada Jovita!

Ketika Jovita menikah dengan Agam, dia akan menjadi ibu mertua Tuan Agam. Dia tidak perlu khawatir tentang kekayaan dan kehormatannya.

Siapa pun yang bertemu dengannya akan bersikap hormat kepadanya.

Memikirkan hal ini sudah membuat hati Wulan sangat gembira.

"Baik! Tiga hari lagi, keluarga kami akan siap untuk mengantarkan putri kami untuk menikah!"

Ervin menganggukkan kepala, lalu pamit, "Kalau begitu aku pamit dulu. Sampai jumpa."

Darius keluar ketika mendengar keributan di luar. Dia bertanya, "Siapa? Apa ... apa-apaan ini?"

Hati Wulan berdebar-debar ketika dia menyentuh mahar mahal ini dan sangat menghargai semua mahar ini.

"Darius, ada kabar gembira. Tuan Agam dari Keluarga Dirgantara menyukai Jovita. Ini semua mahar dari Keluarga Dirgantara yang diberikan kepada Jovita. Semuanya sangat mahal!"

Darius menatap kosong ke arahnya, lalu bertanya, "Apa? Agam? Maksudmu Agam Dirgantara yang baru kembali dari luar negeri? Agam pimpinan Perusahaan Dirgantara?"

Wulan mengangguk berkali-kali, lalu menjawab, "Ya! Dia!"

Darius menutupi dadanya karena takut terkena serangan jantung akibat kaget.

"Astaga! Nggak disangka Jovita bisa disukai Tuan Agam!"

Wulan menjawab dan tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya, "Lihat dulu Jovita anak siapa!"

"Wulan, kamu melahirkan anak yang punya masa depan cerah!"

"Cih, sekarang kamu memujiku? Barusan kamu bilang mau membekukan kartu kreditku!"

"Hei, itu karena barusan aku marah padamu. Pamela memang bukan putri kandungmu, tapi kamu nggak bisa minta dia pergi kencan buta dengan pria tua seperti itu!"

"Aku nggak sengaja. Pamela dibesarkan di pedesaan, jadi punya sifat liar dan temperamen yang buruk. Aku cuma mencarikan pasangan yang lebih tua darinya biar bisa mentolerirnya. Tapi, orang agen kencan buta malah membohongiku tentang informasi itu!"

"Wulan, aku yang salah. Aku yang salah karena sudah salah paham padamu!"

Setelah berhasil membujuk Darius dengan beberapa kalimat, Wulan menjadi sangat gembira.

Pamela si gadis tengik itu ingin bertarung dengannya?

Dia masih terlalu muda untuk bisa menang darinya!

Namun, Jovita akan segera menikah dengan Agam Dirgantara. Masa-masa indah mereka berdua akan segera tiba!

Siapa yang punya waktu untuk meladeni Pamela!

Keesokan paginya, Wulan menelepon putri kesayangannya, Jovita dan menyuruhnya untuk segera pulang.

Jovita menggerutu dengan tidak senang begitu memasuki rumah, "Bu, kenapa minta aku pulang cepat-cepat? Nanti sore, aku masih harus syuting!"

"Tentu saja ini tentang pernikahanmu dengan tuan muda Keluarga Dirgantara!"

"Pernikahan? Pernikahan apa? Aku nggak kenal tuan muda Keluarga Dirgantara!"

Melihat putrinya yang terlihat seperti tidak tahu tentang hal itu, hati Wulan menjadi dingin. Dia langsung menceritakan semua kejadian tentang ada banyak orang datang ke rumah dan ingin melamar putrinya.

"Jovita, bagaimana mungkin kamu nggak kenal tuan muda Keluarga Dirgantara? Bukankah kamu sudah menerima cincin pertunangan yang diberikan oleh tuan muda Keluarga Dirgantara?"

Hari-hari Dimanjakan Paman

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya