Bab 6

Sinar matahari terbit mulai turun di ujung barat dan malam mulai menyelimuti bumi.

Keluarga Dirgantara.

Ranjang baru yang besar sudah tertata rapi di kamar pengantin yang tak kalah besarnya.

Setelah Pamela dibawa ke kediaman Keluarga Dirgantara, Agam menyerahkannya kepada beberapa pelayan dan memerintah beberapa pelayan itu.

"Bawa dia pergi untuk didandani!"

Para pelayan mengerumuninya, mulai dari membasuh dan merias wajahnya, lalu memakaikannya gaun pengantin dan menutup kepalanya dengan tudung pengantin berwarna putih.

Setelah kepalanya ditutup dengan tudung pengantin, Pamela hanya bisa melihat warna putih di depan matanya. Saat menunduk, Pamela akan melihat sepatu kulit yang indah dan mahal milik pria di depannya.

Nada rendah pria itu terdengar di telinganya, "Bersikap patuhlah. Aku nggak akan melakukan apa pun padamu."

Katanya seperti sedang menenangkannya, tetapi penuh dengan tekanan yang tak terlihat.

Pada saat ini, Pamela sudah tahu dengan jelas bahwa, melarikan diri pun tidak akan membuatnya lepas dari jerat pria ini.

Karena pria ini bisa menemukan rumahnya dengan tepat, jadi mau Pamela pergi ke mana pun juga bisa di temukannya!

Pamela menggertakkan giginya. "Baiklah, aku akan patuh. Lagian aku duluan yang mencari masalah, jadi aku harus menanggung konsekuensinya! Tapi, kamu harus memberitahuku kalau aku harus berapa lama bekerja sama denganmu? Tiba waktunya, kita akan berpisah dan nggak mengganggu satu sama lain!"

Agam juga tidak tertarik padanya, jadi dia menjawab dengan nada dingin, "Tiga bulan."

Agam juga tidak ingin ada hubungan lama dengan wanita ini. Waktu tiga bulan sudah cukup untuk kakek memulihkan kesehatannya setelah operasi.

"Baik, aku setuju!"

Pamela masih bisa menerima waktu yang tak lama ini, jadi dia berinisiatif menggenggam tangan Agam.

"Ayo, Paman. Ayo, kita pergi menikah!"

Agam tercengang sejenak, lalu pupil matanya bergerak dan melihat tangannya yang digenggam Pamela.

Agam tidak suka ada kontak fisik, tapi kali ini dia tidak merasa jijik dengan genggaman Pamela.

Tangan Pamela sangat kecil dan lembut.

...

Pesta pernikahan yang diadakan Keluarga Dirgantara bergaya tradisional.

Pamela yang patuh pun mengikuti Agam datang ke ruang perjamuan, lalu mengadakan upacara pernikahan tradisional yang sederhana.

Kemudian, Pamela di antar ke kamar yang bernuansa pengantin baru.

Ketika Agam masuk ke kamar pengantin itu, Pamela masih duduk di tepi ranjang dengan tegak.

Tudung pengantin putih di kepala Pamela belum dilepaskan, jadi adegan saat ini seperti pengantin zaman dulu yang menunggu suaminya datang ke kamar pengantin untuk melakukan hubungan intim.

Mata Agam terlihat cibiran, bahkan berkata dengan nada dingin, "Berdirilah, nggak usah berpura-pura lagi."

Pamela tidak bergerak.

Agam merasa aneh, dia pun berjalan ke sana untuk membuka tudung pengantin putih itu.

Di bawah pendar hangat lampu kamar, wajah yang seperti peri pun terlihat. Bulu matanya panjang dan lentik, dia juga terlihat patuh dan tenang, hanya saja ada air liur di sudut mulutnya, dia juga mencecap bibirnya ....

Dia tertidur dalam posisi duduk?

Mungkin karena menarik tudung pengantin putih itu, jadi kepalanya ikut terangkat sehingga Pamela yang tidur kehilangan keseimbangan dan jatuh ke samping.

Setelah melihat itu, Agam mengulurkan tangannya untuk menariknya secara refleks agar Pamela tidak jatuh ke lantai.

Pamela mengerutkan kening, tapi dia tidak bangun.

Melihat wanita itu jatuh ke pelukannya, Agam pun terkejut.

Agam pertama kali melihat wajah asli Pamela tanpa riasan, jadi wajar saja tatapan Agam yang dingin ada rasa kaget.

Saat Pamela tidak berdandan menor, dia memang cantik.

Mungkin karena Pamela mencium aroma asing mendekat, jadi dia segera membuka matanya, lalu mendapati dirinya dipeluk oleh pria dengan posisi wajah mereka yang sangat dekat.

Pamela segera melepaskannya, lalu berkata dengan kaget, "Paman, apa yang kamu lakukan? Aku peringatimu, kalau kita itu lawan jenis, jadi harus jaga jarak dan kita ini hanya nikah kontrak!"

Baru bangun, gadis ini sudah membalas kebaikannya dengan fitnahan!

Kalau tadi dia tidak mengulurkan tangannya untuk memapahnya, Pamela pasti jatuh ke lantai dengan wajah tersungkur ke bawah!

Agam menyipitkan matanya karena tidak senang. "Siapa yang bilang kalau aku hanya kontrak nikah denganmu?"

Alis Pamela berkerut. Dia menjawab dengan nada khawatir, "Paman, apa kamu mau mengingkari kesepakatan kita? Kita berdua sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan ini setelah tiga bulan!"

Agam mengerutkan bibirnya, lalu berkata, "Aku memang berjanji padamu kalau hubungan ini akan berakhir setelah tiga bulan. Tapi, sepertinya aku nggak bilang kalau nggak akan terjadi apa-apa dalam waktu tiga bulan ini."

Selesai berbicara, Agam memegang erat dagu Pamela.

Jari-jari kasar Agam membuat Pamela merasa bahaya, bahkan ada aura yang mencekik ....

"Paman, kamu sebagai pria harus menepati janji, bagaimana kamu bisa mengingkari janji?!"

Pamela menatap wajah pria itu dengan tajam sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat. Meskipun begitu, dia tetap tidak bisa melepaskan cengkeraman pria itu.

Agam membungkuk dan mendekat perlahan untuk menatapnya dari jarak dekat.

Setelah melihat ekspresi wajah Pamela yang mengernyit, dia baru melepaskan cengkeraman tangannya, lalu berkata dengan nada meremehkan, "Jangan terlalu percaya diri. Aku nggak tertarik sama gadis yang kurus kering sepertimu!"

Pamela merasa lega, tetapi juga sangat kesal dengan ucapan Agam.

"Oh, kalau begitu aku bisa tenang! Paman tua dan perkasa sepertimu bukan tipeku!"

Agam terdiam, "..."

Tua dan perkasa?

Pamela mengangkat tangannya untuk menyentuh dada Agam. "Paman, tolong minggir. Aku sudah ngantuk, aku mau mandi dulu, baru tidur!"

Agam menatapnya dari atas kepalanya dan tidak beranjak.

Pamela tidak bersikeras menyuruhnya minggir, melainkan melewati tempat lain.

Dia berjalan ke kamar mandi dengan tegak. Tak lama kemudian, terdengar suara air yang mengalir.

Selesai mandi dan keluar dari bak mandi, Pamela baru menyadari kalau dia tidak membawa baju ganti. Rasanya benar-benar sangat canggung!

Gaun pengantin yang dia pakai barusan sangat berat dan tidak nyaman.

Setelah berpikir sejenak, Pamela mengulurkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat ke luar.

Agam masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Dia berbicara dengan tak berdaya, "Ehem. Paman, tolong kembalikan baju yang aku pakai ketika datang kemari hari ini!"

Agam menengadahkan kepalanya untuk melirik Pamela, lalu berkata, "Sudah dibuang."

Sudah dibuang?

Pamela mengertakkan gigi. "Kalau begitu, tolong pinjami pakaian bersih untuk aku dulu!"

Agam mengangkat alisnya, lalu menatapnya dengan mata yang menyipit. "Apa kamu meminta tolong dengan sikap seperti ini?"

"Memangnya sikap seperti apa yang harus aku tunjukkan?"

"Mohon padaku."

Pamela menutup pintu kamar mandi dengan keras.

Sudahlah, palingan dia pakai gaun pengantin tadi, tak nyaman ya tak nyaman!

Ketika Pamela bersiap memakai gaun pengantin sudah mendengar pintu kamar mandi diketuk.

Pamela membuka dikit pintu, lalu melihat Agam berdiri di sana, jadi dia bertanya dengan marah, "Ada apa?"

Melalui celah pintu itu bisa mencium aroma sabun dari kamar mandi.

Pamela di ambang pintu hanya mengenakan handuk. Bahu dan leher putihnya terlihat, beberapa helai rambut panjangnya yang basah terurai di tulang selangkanya. Sungguh memesona ....

Nafsu berahi Agam melonjak, pupil mata dan simpul di tenggorokan pun bergerak. Lalu, Agam memberi set piama pria pada Pamela.

Pamela terkejut. Ketika dia mau mengambil piama itu, pria itu malah mengangkat tinggi piama itu. "Kamu nggak mau bilang makasih, ya?"

"Paman, terima kasih ...."

Pamela tersenyum, lalu segera mengambil piama itu, juga melanjutkan perkataan yang belum selesai itu dengan kesal, selesai itu dengan kesal, "yang sebesar-besarnya!"

Selesai berbicara, Pamela membanting pintu lagi.

Ekspresi Agam menjadi masam. Kalau tadi dia terlambat menarik tangannya, lengannya pasti terjepit pintu.

Benar-benar gadis yang tak tahu terima kasih!

Piama pria itu terlalu besar di tubuh Pamela, jadi ketika pakai di tubuh seperti memakai karung besar.

Celana panjang yang besar itu juga terus melorot ketika dikenakan.

Bab 7

Agam sudah tidak berada di kamar ketika Pamela selesai memakai baju dan keluar dari kamar mandi.

Dia tidak terlalu peduli ke mana pria itu pergi. Toh, mereka berdua hanya hubungan kerja sama.

Ketika waktu tiga bulan habis, mereka akan berpisah dan tidak akan saling mengganggu satu sama lain.

Setelah mengunci pintu kamar, Pamela langsung tertidur.

Keesokan paginya.

Pamela dibangunkan oleh suara pelayan Keluarga Dirgantara yang mengetuk pintu kamarnya.

"Nona, tuan muda memintaku untuk membawakan pakaian untuk nona! Nona ...."

Suara itu sangat berisik.

Pamela belum tidur hingga puas. Namun, sebagai orang yang menumpang di rumah orang lain, dia tidak punya pilihan selain bangun.

Dia terpaksa harus bangun dan membuka pintu, lalu menerima baju yang dibawakan oleh pelayan itu.

Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Pamela keluar dari kamarnya untuk mencari makan. Tiba-tiba, sebuah baskom berisi air dingin dengan bau amis mengguyur tubuhnya!

Pada saat yang sama, suara ejekan dan cemoohan terdengar dari sekelilingnya.

Pandangannya kabur karena guyuran air kotor. Setelah air kotor itu menetes selesai dari kepalanya, dia baru melihat apa yang ada di depannya.

Di hadapannya ada seorang gadis asing seusianya yang berdandan cantik. Dia berjalan mondar-mandir dengan senyum menghina dan angkuh.

Beberapa pelayan Keluarga Dirgantara mengelilingi gadis itu seperti pengawal.

Salah satu pelayan memegang baskom kosong, tampaknya air kotor di dalam sudah disiram ke tubuh Pamela.

Pamela mengerutkan kening sambil menyeka bulu matanya yang basah. Dia menatap gadis asing itu dengan tenang, lalu bertanya, "Siapa kamu? Kenapa kamu menyiramku?"

Olivia memakai warna lipstik terbaru, lalu dia mendongak dengan sikap angkuh. "Aku adalah nona besar di keluarga ini, namaku Olivia Dirgantara. Agam adalah kakakku!"

Ternyata adiknya Agam!

Pamela mengerutkan alisnya sambil berkata, "Terus, kenapa kamu menyiramku?"

Olivia berdecak sinis, menatap Pamela dengan tatapan merendahkan.

"Air tadi memperingatkanmu untuk mengetahui posisimu sendiri! Jangan kira menikah dengan kakakku, kamu akan menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara. Kamu belum pantas!"

Pamela mengerutkan keningnya. "Bagaimanapun juga aku ini istri kakakmu, kakak iparmu! Nggak pantas kamu memperlakukanku seperti ini, 'kan?"

Olivia menjawab sambil tertawa, "Kakak ipar? Cih! Jangan merasa dirimu dihargai. Tadi malam, kakakku saja nggak tidur di kamarmu. Di malam pernikahan tidur sendirian, tapi masih berani menyebut dirimu sebagai istri kakakku!"

"Sekadar informasi, kakakku menikahimu cuma buat menghibur kakekku. Setelah kakekku sembuh, kamu harus segera keluar dari Keluarga Dirgantara!"

Pamela kehabisan kata-kata, "..."

Ternyata begitu. Pantas saja paman aneh itu buru-buru menikah.

Olivia memperingatkan lagi, "Jangan terobsesi untuk bergantung pada kakakku. Kakakku nggak akan pernah menyukai wanita sepertimu! Di sini statusmu bahkan lebih rendah dari pelayan, bisa di bilang panggilan 'nyonya muda' itu hanya panggilan saja, nggak ada artinya di Keluarga Dirgantara! Saat kakakku pergi, aku yang bertanggung jawab di rumah ini. Kamu harus mematuhi aturanku. Mengerti?"

Pamela mengangguk patuh. "Ya. Aku akan mengingatnya!"

Melihat Pamela terlihat seperti pengecut, hati Olivia sangat senang.

"Bagus kalau kamu sadar diri. Mulai sekarang, kamu jangan banyak tingkah. Ayo pergi. Aku ada janji manikur hari ini. Seharusnya orang manikurnya sudah mau sampai ...."

Saat mengatakan hal itu, Olivia siap untuk pergi dengan para pelayan di sekelilingnya.

"Tunggu dulu."

Namun, Pamela memanggilnya.

Olivia berhenti melangkah dan menoleh dengan tidak sabar, "Kenapa? Kamu mau protes?"

Pamela tersenyum. "Bukan. Hanya saja, Nona Olivia. Aku baru datang dan belum mengerti peraturan apa yang kamu bicarakan. Bisa jelaskan dulu? Aku ingin mengingatnya biar bisa mematuhi perintahmu dengan baik."

Olivia terdiam sejenak, lalu tertawa mengejek. "Wanita miskin sepertimu benar-benar cukup pandai mengamati kondisi saat ini! Baiklah, karena kamu yang minta, aku akan memberikan gambarannya! Dengar, selama kamu berada di sini, kamu jangan banyak bertingkah ...."

"Itu, tunggu sebentar ...."

Pamela terlihat bersungguh-sungguh meminta nasihat, "Nona Olivia, ingatanku nggak bagus. Tolong bicara perlahan denganku di kamar. Aku ingin mengambil pulpen dan kertas, biar bisa mencatatnya secara rinci."

"Sungguh merepotkan!"

Olivia memang merasa dia merepotkan, tetapi tidak melewatkan kesempatan ini untuk menetapkan aturan. Jadi, dia dengan enggan mengikuti Pamela ke dalam kamar.

Tak disangka, pintu kamar tiba-tiba tertutup rapat ketika Olivia masuk.

Pintu terkunci.

Beberapa pelayan yang tidak sempat mengikuti Olivia masuk ke dalam kamar pun mematung di depan pintu.

Mereka terdiam sejenak. Detik berikutnya, mereka mendengar jeritan Olivia yang menyedihkan dari dalam kamar dan buru-buru mengetuk pintu.

"Nona ... Nona ... Nona kenapa?!"

Begitu Olivia memasuki kamar, rambutnya ditarik oleh Pamela dan diseret ke kamar mandi.

Dia berteriak ngeri, "Ah! A ... apa yang kamu lakukan?! Lepaskan aku!"

Pamela menjambak rambut Olivia dengan satu tangan dan mengcengkeram pergelangan tangan Olivia yang lasak itu dengan tangan yang lain, lalu bertanya, "Katakan, air apa yang kamu siramkan padaku barusan?"

Pamela yang saat ini benar-benar sangat jahat, seolah-olah sikap patuh dan jujur yang baru saja dia tunjukkan hanyalah halusinasi.

Seketika, Olivia tidak bisa menahan rasa dingin di tulang punggungnya. "Itu ... itu air bekas cucian ikan di dapur!"

"Oh, begitu!"

Pamela mengatupkan bibirnya. Detik berikutnya, dia menekan kepala Olivia ke dalam kloset.

Olivia, "Ahhhh ... gluk ... gluk ... gluk ...."

Setelah 30 detik, Pamela menarik kepalanya, lalu dia bertanya dengan datar, "Bagaimana perasaan Nona Olivia?"

Wajah Olivia menjadi pucat. Dia berkata dengan marah, "Be ... beraninya kamu melakukan ini padaku?! Kamu ...."

Pamela masih berkata dengan wajah datar, "Kamu yang turun tangan dulu, aku hanya melawan. Kamu menyiramku dengan air kotor, aku membiarkanmu mencicipi air toilet. Ini cukup adil."

Wanita ini benar-benar gila!

Olivia berteriak dengan marah, "Ah! Aku adalah nona besar dari Keluarga Dirgantara! Kakakku sangat menyayangiku! Beraninya kamu melakukan ini padaku!"

Pamela tidak takut, hanya menjawab, "Aku nggak peduli apakah kamu nona besar Keluarga Dirgantara atau bukan. Kakakmu memintaku menikah dengannya untuk jadi nyonya muda, bukan untuk ditindas di Keluarga Dirgantara. Ingat, jangan pernah macam-macam denganku lagi!"

Setelah mengatakan itu, dia menekan kepala Olivia ke dalam kloset lagi.

Kemudian, Pamela melambaikan tangannya.

Olivia segera menengadahkan kepalanya dengan napasnya yang terengah-engah, Olivia juga menangis karena jijik.

Mana pernah dia mengalami penghinaan seperti ini? Dia berjongkok di depan kloset untuk muntah, lalu dia mengertakkan gigi sambil berkata, "Pamela, kamu ... tunggu saja! Aku akan membiarkan kakakku menceraikanmu!"

Pamela terkekeh. "Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku berterima kasih dulu pada Nona Olivia karena sudah membantu kami cerai!"

Melihat Pamela tidak khawatir atau takut sedikit pun, Olivia merasa seolah-olah ancamannya tidak berbobot. Bisa dibilang, dirinya terlihat lemah di depan Pamela.

Setelah menarik Olivia berdiri, Pamela juga menyeretnya keluar dari kamar.

Lalu Pamela segera melepaskan pakaiannya yang amis dan kotor, baru mandi.

Pamela tidak ada pakaian lagi, jadi dia hanya bisa keluar dengan berbalut handuk. Lalu, dia melihat ponsel yang berada di meja menyala.

Pamela berjalan ke sana untuk mengangkat telepon.

Suara rekan kerjanya, Vanda Waskita, terdengar sangat cemas, "Pamela, gawat! Cepat datang ke perusahaan. Sesuatu yang besar telah terjadi!"

Bab 8

Telepon ditutup dengan tergesa-gesa. Pamela hanya mendengar suara panggilan berakhir bahkan sebelum dia sempat bertanya.

Dia tidak punya pakaian lain yang bisa dikenakan. Membuka lemari pakaian, dia melihat bahwa lemari pakaian di depannya penuh dengan pakaian paman aneh.

Setelah mengambil kaos putih milik pria itu secara acak dan memakainya, Pamela bergegas keluar dari rumah.

Kaos pria itu cukup besar untuknya. Ujung kaos menjuntai sampai ke lutut, sehingga tidak akan terlihat aneh jika dipakai sebagai pakaian kasual yang kebesaran.

...

Perusahaan Quentin.

Pamela sedang absen dengan menempelkan sidik jarinya pada pemindai. Tiba-tiba, Vanda yang wajahnya penuh tekanan berlari menghampirinya.

"Pamela, akhirnya kamu datang juga! Pak Dikra minta kamu datang ke ruangannya. Siapkan mentalmu ...."

"Pak Dikra mencariku?"

Pamela jarang sekali melihat Vanda setegang ini. Jadi, dia bertanya, "Apa yang terjadi?"

Vanda melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang di sekitar sebelum dia menghampiri Pamela dan berbisik pelan kepadanya, "Hari ini semua komputer di perusahaan terserang virus. Sistem lumpuh total dan semua dokumen penting internal perusahaan hilang."

Pamela mengerutkan kening, lalu menimpali, "Apa hubungannya denganku? Kalau komputer rusak, mereka harus mencari teknisi untuk memperbaikinya."

Vanda berkata dengan khawatir, "Teknisi sudah mengatasinya! Intinya, Bianca melaporkan kepada Pak Dikra kalau kamu mengunduh permainan di komputer perusahaan, jadi semua komputer perusahaan terkena virus!"

"Selain itu, hari ini Pak Patra mengundang pimpinan tertinggi untuk memeriksa proyek baru perusahaan. PowerPoint presentasi proyek sudah dikerjakan dengan susah payah oleh departemen kami, tapi dokumennya nggak bisa ditemukan. Karena itu Pak Dikra sangat marah dan pasti akan melampiaskannya padamu!"

Bianca Phalosa?

Dia adalah orang yang memiliki koneksi di perusahaan!

Seperti Pamela, dia masih dalam masa magang.

Perusahaan Quentin adalah perusahaan yang masuk dalam daftar 500 perusahaan besar di negara ini. Setiap tahun ada banyak orang berprestasi yang mencoba bergabung dengan perusahaan.

Karena memiliki nilai yang sangat baik, Pamela mendapatkan surat rekomendasi dari dekan Universitas Padalamang untuk magang di sini. Sementara Bianca, kabarnya dia adalah kerabat dari manajer di sini, yaitu Pak Dikra!

Hanya ada satu tempat yang tersedia bagi para pemagang untuk bisa menjadi pegawai tetap di perusahaan ini. Orang yang paling memungkinkan untuk posisi ini antara Pamela dan Bianca.

Pamela mungkin tahu persis apa yang sedang terjadi.

...

Sebelum Pamela mengetuk pintu ruang kerja Pak Dikra, dia mendengar suara Bianca di dalam ruangan yang meminta manajernya itu untuk tenang.

"Jangan khawatir, Paman. Komputernya akan segera diperbaiki! Ini semua salah Pamela. Dia malah main game nggak jelas saat kerja ...."

Pak Dikra menggerutu kesal, "Di mana si Pamela sialan itu? Kenapa dia belum datang juga!"

Pamela mengetuk pintu dan mendorongnya hingga terbuka.

"Pak Dikra ingin bertemu dengan saya?"

Pak Dikra mengumpat begitu melihatnya, "Pamela, kamu masih berani datang rupanya! Ini hari kerja dan kamu datang ke kantor di jam segini? Kemarin juga kamu nggak masuk tanpa alasan. Apakah ini sikap kerjamu!"

Pamela masuk dan menjelaskan dengan sikap yang baik, "Maaf, Pak Dikra. Kemarin saya menikah dan pagi ini saya ada masalah, sehingga datang terlambat."

Pak Dikra menganggap alasan yang diberikan Pamela sangat menggelikan. "Menikah? Anggap saja kamu memang menikah. Tapi apa kamu nggak bisa ambil cuti? Kamu pikir perusahaan ini rumahmu? Datang kapan pun kamu mau, pulang kapan pun kamu mau dan main game kapan pun kamu mau!"

Pamela masih bersikap lembut, "Ini pertama kalinya saya menikah. Saya akan mengambil cuti lain kali."

Pak Dikra kehabisan kata-kata, "..."

Bianca benar-benar tidak sanggup untuk mendengarkan perdebatan keduanya lagi.

"Pamela, kamu benar-benar nggak tahu malu. Kamu bolos kerja, tapi masih berani menggunakan alasan menikah? Bikin alasan pun nggak becus!"

Saat itu, pintu ruang kantor terbuka.

Bos Perusahaan Quentin, Patra Rafandra datang bersama dengan seorang pria bertubuh tegap yang sudah berdiri di ambang pintu. Kebetulan keduanya mendengar jawaban Pamela atas dua pertanyaan Pak Dikra.

Agam menyipitkan matanya.

Pak Dikra berniat melanjutkan memarahi Pamela. Namun, melihat kedua orang yang berada di depan pintu, dia sangat ketakutan hingga berdiri dengan tergesa-gesa dan mengangguk untuk menyapa mereka.

"Eh, Pak Patra! Kapan Bapak dan Pak Agam tiba. Masuklah ...."

Bianca menoleh sekilas. Dia melihat pria tampan dan pendiam yang berdiri di samping Pak Patra, sontak matanya langsung melotot.

Pamela yang kurang tertarik, menoleh samar-samar ke belakang dan terkesiap di tempatnya.

Paman aneh?

Kenapa dia ada di mana-mana?!

Pak Patra bertanya dengan wajah serius, "Dikra, apa yang barusan kalian perdebatkan? Aku dengar sistem perusahaan lumpuh total, ada apa ini?"

Dengan keringat bercucuran, Pak Dikra menunjuk ke arah Pamela dan berkata, "Pak Patra, anak magang baru perusahaan bermain game selama jam kerja, menyebabkan sistem perusahaan terserang virus. Sekarang, bagian teknis sedang memperbaikinya ...."

Patra menjadi marah, "Apa? Kenapa mempekerjakan anak magang seperti itu! Kamu berniat menjadikannya karyawan tetap?"

Pak Dikra langsung menggeleng dan menjawab, "Bukan begitu! Pak Patra, saya akan memecatnya sekarang juga!"

Bibir Bianca sedikit tertarik menyunggingkan senyum tipis tanda kemenangan.

Tatapan dingin Agam menyapu sosok Pamela sekilas, sangat acuh.

Seolah tidak pernah mengenal satu sama lain, dia berbicara dengan dingin, "Pak Patra, sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat untuk kedatangan saya. Kalau begitu, kita lakukan lain kali saja!"

"Pak Agam, maafkan saya karena sudah membuat Anda melihat lelucon semacam ini ...."

Patra menjadi sangat tidak berdaya. Entah berapa banyak usaha yang telah dia lakukan untuk mendatangkan orang penting seperti Agam kemari. Jadi, jika hari ini dia pergi begitu saja, akan lebih sulit lagi untuk membawanya ke sini di lain waktu!

Pada saat itu, Pamela melihat Vanda sedang menatap dengan gelisah ke arah pintu kantor.

Dia tiba-tiba teringat bahwa proyek baru ini adalah pertama kalinya Vanda memimpin tim sendirian. Jika proyek ini gagal, akan sulit baginya untuk mengambil peran besar di perusahaan.

Vanda selalu memperlakukan Pamela dengan baik selama masa magang.

"Pak Agam!" panggil Pamela tiba-tiba.

Agam yang sudah berbalik menghentikan langkah kakinya.

Pamela berjalan ke arahnya, "Pak Agam, saya tahu waktu Anda sangat berharga. Tapi, karena sudah datang kemari, akan sangat disayangkan kalau sampai melewatkan satu proyek yang bagus!"

Mata hitam Agam menatap dingin. Lalu, dia bertanya, "Sepertinya sekarang kalian nggak punya apa pun untuk diperlihatkan kepada saya."

Pamela meyakinkan, "Beri saya waktu sampai kopi Anda habis. Saya pasti akan menampilkan PowerPoint rencana proyek baru ini kepada Pak Agam untuk dipresentasikan!"

Patra dan Pak Dikra menatap Pamela dengan tatapan tidak percaya.

Bianca memutar bola matanya meremehkan. Teknisi profesional saja sampai kewalahan memperbaiki sistem yang rusak. Namun, Pamela bilang dia bisa memperbaikinya?

Membual bukanlah taktik yang bagus!

Sudah terpojok, dia masih mencoba untuk memperbaikinya?

Setelah hening selama beberapa detik, wajah tampan Agam ada gurat ketertarikan dalam tatapannya.

"Anak muda memang memiliki semangat yang menantang. Pak Patra, saya sudah datang dan kebetulan sedikit haus. Saya akan meminum secangkir kopi sebelum pergi!"

Patra kembali tersadar dari keterkejutannya dan segera memerintahkan, "Tunggu apa lagi? Cepat buatkan kopi untuk Pak Agam!"

"Baik!"

Bianca memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa dekat dengan Agam, dengan sigap pergi membuatkan kopi.

Pamela kembali ke meja kerjanya dan mencolokkan sebuah USB ke colokan komputer.

Vanda merasa penasaran, jadi dia mendekat dan bertanya, "Pamela, apa yang kamu lakukan? Apa kamu benar-benar bisa memperbaiki komputer?"

Dengan ekspresi fokus, Pamela menggerakkan mouse di tangannya sambil menjawab, "Aku mencoba menginstal perangkat lunak antivirus!"

Vanda menghela napas dengan kecewa. "Ini ... Pamela, sepertinya percuma saja! Teknisi bilang sistem perusahaan diserang oleh peretas dengan tujuan tertentu. Perangkat lunak antivirus nggak akan ada gunanya!"

Pamela mendongak sedikit, lalu berkata sambil memberikan senyum tipis pada Vanda, "Coba saja dulu. Siapa tahu ada keajaiban!"

Hari-hari Dimanjakan Paman

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya