Bab 5

Agam mendongakkan kepalanya. Dia menyipitkan matanya untuk menatap tajam balkon kecil yang saat ini sudah kosong.

Setelah diam beberapa saat, dia memberi perintah dengan suara lirih, "Bawa mereka masuk dulu!"

Ah, ini ....

Ervin tercengang, tetapi dia tidak berani mempertanyakan perintah Agam. Jadi, dia melambaikan tangan kepada pengiring pengantin di belakangnya.

"Kalian ikut aku masuk dulu!"

Suasana berubah ramai saat rombongan pengiring pengantin dari Keluarga Dirgantara dihalangi oleh pengiring pengantin Keluarga Alister di pintu masuk untuk saling bertukar pantun.

Tidak ada yang menyadari kalau pengantin pria yang sebenarnya malah pergi ke pintu belakang kediaman Keluarga Alister.

Pintu belakang kediaman Keluarga Alister.

Seorang wanita menyelinap keluar dengan langkah santai tanpa memperhatikan sekitarnya, sambil menyenandungkan lagu pernikahan.

Baru melangkah beberapa langkah, bagian belakang kerah lehernya ditarik oleh sesuatu dan tubuhnya terangkat. Kakinya menjuntai di udara, seperti ayam yang mau disembelih.

"Mau lari?"

Suara pria itu sangat rendah dan magnetis, tetapi menyalurkan bahaya yang kuat saat terdengar di telinga.

Punggung Pamela tepat menghadap orang yang mengendap-endap ke arahnya. Dia langsung mengenali siapa pemilik suara itu. Dia adalah Agam!

Dengan pandangan sekilas dari jauh, Agam benar-benar telah mengenalinya!

Akan tetapi, semua itu tidak masalah. Pamela sudah menyiapkan rencana keduanya.

Pamela menoleh ke arah Agam yang berada di belakangnya dan berkata terbata-bata, "Pa ... Paman. Kamu ... siapa? Ke ... kenapa ... kamu menarikku?"

Melihat wanita itu menoleh kepadanya, Agam tertegun. Dia melihat wajah yang sangat jelek. Sontak, cengkeraman tangannya terlepas.

Wanita di depannya memiliki tahi lalat yang sangat besar di wajahnya. Alisnya dan bibirnya sangat tebal, bahkan matanya dirias dengan perona mata warna-warni.

Penampilan jeleknya sangat khas, bahkan jauh lebih jelek dan unik dari pemeran terjelek yang pernah muncul di film.

Pamela melihat bahwa ekspresi Agam berubah ketika melihat wajah jeleknya. Dalam hati, dia merasa senang!

Dia berpura-pura bodoh dan berkata, "Paman datang kemari untuk menjemput pengantin? Paman salah masuk. Paman harus lewat pintu depan. Pengantin paman sudah menunggu di dalam!"

Agam menyipitkan matanya dan menatap dingin pada wanita buruk rupa di depannya, hampir percaya dengan kebohongannya.

Sudut bibir tipis pria itu terangkat membentuk seringai, lalu berkata dengan pelan, "Benarkah? Tapi kenapa kamu pakai cincin tunangan milik Keluarga Dirgantara?"

Setelah mengatakan itu, Agam menarik tangan Pamela dan mengangkatnya. Dia mengamati cincin berlian di jari manisnya dengan tatapan dingin!

Pamela terdiam tidak tahu harus menjawab apa, "..."

Gawat! Semuanya benar-benar berakhir!

Bukannya dia ceroboh atau lupa melepasnya, tetapi cincin ini memang sudah melekat erat di tangannya. Dia tidak bisa melepaskannya bahkan setelah menggunakan sabun!

Mata tampan Agam menatapnya dengan dalam. Dia bisa melihat apa yang Pamela pikirkan dan kembali berbicara untuk menjawab keraguan di dalam benak Pamela.

"Nggak usah menyia-nyiakan tenagamu. Cincin itu terbuat dari platina yang dicampur dengan bahan khusus. Membutuhkan minyak esensial khusus untuk melumasinya biar bisa dilepas."

Pamela menggertakkan giginya karena marah. Benar-benar menyesatkan!

Baiklah! Karena tidak bisa mengelak, dia akan mengakuinya!

"Paman, terus terang saja. Aku tahu paman nggak benar-benar ingin menikah denganku. Paman cuma butuh istri di atas kertas untuk beberapa alasan, 'kan?"

Agam tidak menjawab, merasa kalau wanita ini cukup cerdas.

Pamela mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Begini saja, kakakku yang bernama Jovita sangat bersedia menikah denganmu. Dia lebih cantik dariku, memiliki tubuh langsing. Paman nggak bakal rugi kalau menikah dengannya!"

Agam menyipitkan matanya. Gadis ini sepertinya benar-benar tidak ingin menikah dengannya.

Dia bahkan menghindarinya?

Gadis ini memberinya kesan menarik.

Selama ini, ketika para wanita melihat Agam, mereka akan melakukan semua yang mereka bisa untuk mendapatkan perhatian Agam dan menjadi wanitanya!

Namun, yang Agam inginkan adalah wanita yang tidak akan mengganggu dan merepotkannya.

Bibir tipis Agam terangkat membentuk seringai. Lalu, dia berkata, "Wanita yang akan aku nikahi adalah wanita yang di tangannya ada cincin ini."

Pamela mengerutkan kening, lalu menjawab, "Gampang kalau begitu. Ambilkan minyak esensial khusus yang kamu bilang itu. Aku akan mengeluarkannya dan mengembalikannya padamu. Kamu tinggal memakaikannya ke tangan Jovita!"

Agam menjawab, "Aku nggak punya."

"Kalau begitu pergi dan belilah!"

"Produknya sudah nggak dijual lagi. Nggak akan bisa kebeli!"

"Oh, begitu ...." Pamela menggertakkan giginya, lalu tersenyum. Dia menyentakkan tangannya ke atas untuk menunjuk ke belakang pria itu, "Paman, lihat! Ada sapi terbang!"

Wajah serius Agam tertarik sambil tersenyum.

Kekanak-kanakan.

Detik berikutnya, Pamela yang berniat melarikan diri tiba-tiba ditarik dari belakang oleh pria itu. Tubuhnya terangkat dan Agam membawanya pergi tanpa memedulikan posisi Pamela.

Pamela masih mengentakkan kakinya untuk melawan.

...

Di sisi lain, Ervin baru saja masuk ke ruang tamu Keluarga Alister dengan rombongan pengiring pengantin pria. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Agam.

Dia menghentikan langkah kakinya, menjawab telepon dengan hormat. Ekspresi Ervin terlihat serius. Setelah itu, dia berbalik diikuti oleh pengiring pengantin lainnya.

Melihat hal ini, Wulan yang sedang merasa bangga terkejut. Dia buru-buru mengejarnya dan bertanya padanya, "Permisi, Tuan Ervin. Pengantin wanita sedang menunggu di dalam. Kalian mau ke mana?"

Ervin menatap Wulan dan berkata, "Tuan muda sudah bertemu dengan pengantin wanita secara langsung."

Wulan bingung, "Sudah bertemu? Nggak mungkin! Jovita masih di dalam rumah!"

Ervin menjawab sambil mengerutkan kening, "Jovita? Nyonya, sepertinya nyonya salah paham. Nona Alister yang akan dinikahi tuan muda bukan bernama Jovita!"

Setelah mengatakan itu, Ervin dengan dinginnya melewati Wulan dan pergi bersama pengiring pengantin pria lainnya tanpa menoleh ke belakang.

Wulan tertegun di tempat, wajahnya pucat pasi.

Apa?

Pengantinnya salah?

Keluarga dan teman-teman yang hadir mulai mengatai mereka ....

Darius yang baru saja dikelilingi oleh sanak saudaranya dan disanjung oleh mereka, kini menjadi bahan olok-olok!

Darius kehilangan harga dirinya. Raut wajahnya benar-benar terlihat sangat masam. Begitu menoleh, dia melampiaskan kemarahannya pada Wulan yang telah memintanya untuk merayakan pernikahan ini secara besar-besaran.

"Wulan! Apa yang terjadi?! Bukankah kamu bilang kalau orang yang akan dinikahi Tuan Agam adalah Jovita?"

Wulan menjawab dengan polos, "Aku ... aku nggak tahu kenapa bisa seperti ini! Hari itu, ketika orang dari Keluarga Dirgantara datang untuk mengantarkan mahar, dia bilang mau menikahi putri kita. Dia bahkan mengirimkan maharnya ke rumah. Darius, bukankah kamu juga lihat sendiri?"

Darius langsung menampar Wulan dengan keras.

"Kamu mempersiapkan segalanya tanpa memastikan dulu. Harga diri Keluarga Alister sudah dipermalukan olehmu!"

Sementara Jovita yang tidak kunjung bertemu dengan mempelai prianya juga mendengar keributan di luar. Dia keluar dari kamarnya sambil menyeret gaun pengantinnya untuk menanyakan apa yang terjadi.

"Ayah ... Ibu! Apa yang kalian lakukan?! Di mana mempelai prianya? Mana Tuan Agam?"

"Jovita, orang-orang Tuan Agam mengatakan kalau ada kesalahan. Mereka sudah bertemu dengan pengantin wanita dan pergi begitu saja!"

Jovita terkejut. "Apa? Ibu, bagaimana bisa ada kesalahan untuk hal seperti ini? Bukankah Tuan Agam akan menikahiku?"

Wulan menutupi wajahnya yang terluka akibat tamparan Darius, lalu menjawab, "Jovita, jangan salahkan aku. Pikiran aku juga sedang kacau ...."

Mereka yang sejak awal tidak menyukai kelakuan jahat Wulan dan Jovian dari Keluarga Alister ini pun mulai mencibir.

"Jovita, masalahnya sudah begini. Jangan terlalu percaya diri. Kalau dipikir-pikir, kamu juga pasti tahu, bagaimana mungkin orang sehebat Tuan Agam bisa menikahi aktris yang banyak gosip sepertimu!"

"Aku juga penasaran, bagaimana mungkin kamu bisa menjalin hubungan dengan Keluarga Dirgantara yang merupakan keluarga terbaik itu. Ternyata itu hanya khayalanmu saja!"

"Jovita, sebaiknya kamu kembali syuting saja! Lagi pula, hanya di drama kamu bisa menikah dengan pria kaya yang kamu inginkan! Hahaha ...."

Jovita tidak tahan dengan cibiran memalukan dari kerabatnya. Dia memelototi Wulan dengan sinis, lalu menyembunyikan diri di kamarnya.

Dia sangat kesal! Dia sudah tidak punya keberanian untuk bertemu orang lain setelah ini!

Akan tetapi, kenapa bisa terjadi kesalahan seperti ini?

Bukankah Tuan Agam sudah memberinya cincin?

Tidak.

Dia tidak percaya, dia tidak percaya! Wanita mana yang dibawa pergi oleh Tuan Adam?

Siapa dia?

Apa dia juga bermarga Alister dan tinggal di sekitar sini?

Bab 6

Sinar matahari terbit mulai turun di ujung barat dan malam mulai menyelimuti bumi.

Keluarga Dirgantara.

Ranjang baru yang besar sudah tertata rapi di kamar pengantin yang tak kalah besarnya.

Setelah Pamela dibawa ke kediaman Keluarga Dirgantara, Agam menyerahkannya kepada beberapa pelayan dan memerintah beberapa pelayan itu.

"Bawa dia pergi untuk didandani!"

Para pelayan mengerumuninya, mulai dari membasuh dan merias wajahnya, lalu memakaikannya gaun pengantin dan menutup kepalanya dengan tudung pengantin berwarna putih.

Setelah kepalanya ditutup dengan tudung pengantin, Pamela hanya bisa melihat warna putih di depan matanya. Saat menunduk, Pamela akan melihat sepatu kulit yang indah dan mahal milik pria di depannya.

Nada rendah pria itu terdengar di telinganya, "Bersikap patuhlah. Aku nggak akan melakukan apa pun padamu."

Katanya seperti sedang menenangkannya, tetapi penuh dengan tekanan yang tak terlihat.

Pada saat ini, Pamela sudah tahu dengan jelas bahwa, melarikan diri pun tidak akan membuatnya lepas dari jerat pria ini.

Karena pria ini bisa menemukan rumahnya dengan tepat, jadi mau Pamela pergi ke mana pun juga bisa di temukannya!

Pamela menggertakkan giginya. "Baiklah, aku akan patuh. Lagian aku duluan yang mencari masalah, jadi aku harus menanggung konsekuensinya! Tapi, kamu harus memberitahuku kalau aku harus berapa lama bekerja sama denganmu? Tiba waktunya, kita akan berpisah dan nggak mengganggu satu sama lain!"

Agam juga tidak tertarik padanya, jadi dia menjawab dengan nada dingin, "Tiga bulan."

Agam juga tidak ingin ada hubungan lama dengan wanita ini. Waktu tiga bulan sudah cukup untuk kakek memulihkan kesehatannya setelah operasi.

"Baik, aku setuju!"

Pamela masih bisa menerima waktu yang tak lama ini, jadi dia berinisiatif menggenggam tangan Agam.

"Ayo, Paman. Ayo, kita pergi menikah!"

Agam tercengang sejenak, lalu pupil matanya bergerak dan melihat tangannya yang digenggam Pamela.

Agam tidak suka ada kontak fisik, tapi kali ini dia tidak merasa jijik dengan genggaman Pamela.

Tangan Pamela sangat kecil dan lembut.

...

Pesta pernikahan yang diadakan Keluarga Dirgantara bergaya tradisional.

Pamela yang patuh pun mengikuti Agam datang ke ruang perjamuan, lalu mengadakan upacara pernikahan tradisional yang sederhana.

Kemudian, Pamela di antar ke kamar yang bernuansa pengantin baru.

Ketika Agam masuk ke kamar pengantin itu, Pamela masih duduk di tepi ranjang dengan tegak.

Tudung pengantin putih di kepala Pamela belum dilepaskan, jadi adegan saat ini seperti pengantin zaman dulu yang menunggu suaminya datang ke kamar pengantin untuk melakukan hubungan intim.

Mata Agam terlihat cibiran, bahkan berkata dengan nada dingin, "Berdirilah, nggak usah berpura-pura lagi."

Pamela tidak bergerak.

Agam merasa aneh, dia pun berjalan ke sana untuk membuka tudung pengantin putih itu.

Di bawah pendar hangat lampu kamar, wajah yang seperti peri pun terlihat. Bulu matanya panjang dan lentik, dia juga terlihat patuh dan tenang, hanya saja ada air liur di sudut mulutnya, dia juga mencecap bibirnya ....

Dia tertidur dalam posisi duduk?

Mungkin karena menarik tudung pengantin putih itu, jadi kepalanya ikut terangkat sehingga Pamela yang tidur kehilangan keseimbangan dan jatuh ke samping.

Setelah melihat itu, Agam mengulurkan tangannya untuk menariknya secara refleks agar Pamela tidak jatuh ke lantai.

Pamela mengerutkan kening, tapi dia tidak bangun.

Melihat wanita itu jatuh ke pelukannya, Agam pun terkejut.

Agam pertama kali melihat wajah asli Pamela tanpa riasan, jadi wajar saja tatapan Agam yang dingin ada rasa kaget.

Saat Pamela tidak berdandan menor, dia memang cantik.

Mungkin karena Pamela mencium aroma asing mendekat, jadi dia segera membuka matanya, lalu mendapati dirinya dipeluk oleh pria dengan posisi wajah mereka yang sangat dekat.

Pamela segera melepaskannya, lalu berkata dengan kaget, "Paman, apa yang kamu lakukan? Aku peringatimu, kalau kita itu lawan jenis, jadi harus jaga jarak dan kita ini hanya nikah kontrak!"

Baru bangun, gadis ini sudah membalas kebaikannya dengan fitnahan!

Kalau tadi dia tidak mengulurkan tangannya untuk memapahnya, Pamela pasti jatuh ke lantai dengan wajah tersungkur ke bawah!

Agam menyipitkan matanya karena tidak senang. "Siapa yang bilang kalau aku hanya kontrak nikah denganmu?"

Alis Pamela berkerut. Dia menjawab dengan nada khawatir, "Paman, apa kamu mau mengingkari kesepakatan kita? Kita berdua sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan ini setelah tiga bulan!"

Agam mengerutkan bibirnya, lalu berkata, "Aku memang berjanji padamu kalau hubungan ini akan berakhir setelah tiga bulan. Tapi, sepertinya aku nggak bilang kalau nggak akan terjadi apa-apa dalam waktu tiga bulan ini."

Selesai berbicara, Agam memegang erat dagu Pamela.

Jari-jari kasar Agam membuat Pamela merasa bahaya, bahkan ada aura yang mencekik ....

"Paman, kamu sebagai pria harus menepati janji, bagaimana kamu bisa mengingkari janji?!"

Pamela menatap wajah pria itu dengan tajam sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat. Meskipun begitu, dia tetap tidak bisa melepaskan cengkeraman pria itu.

Agam membungkuk dan mendekat perlahan untuk menatapnya dari jarak dekat.

Setelah melihat ekspresi wajah Pamela yang mengernyit, dia baru melepaskan cengkeraman tangannya, lalu berkata dengan nada meremehkan, "Jangan terlalu percaya diri. Aku nggak tertarik sama gadis yang kurus kering sepertimu!"

Pamela merasa lega, tetapi juga sangat kesal dengan ucapan Agam.

"Oh, kalau begitu aku bisa tenang! Paman tua dan perkasa sepertimu bukan tipeku!"

Agam terdiam, "..."

Tua dan perkasa?

Pamela mengangkat tangannya untuk menyentuh dada Agam. "Paman, tolong minggir. Aku sudah ngantuk, aku mau mandi dulu, baru tidur!"

Agam menatapnya dari atas kepalanya dan tidak beranjak.

Pamela tidak bersikeras menyuruhnya minggir, melainkan melewati tempat lain.

Dia berjalan ke kamar mandi dengan tegak. Tak lama kemudian, terdengar suara air yang mengalir.

Selesai mandi dan keluar dari bak mandi, Pamela baru menyadari kalau dia tidak membawa baju ganti. Rasanya benar-benar sangat canggung!

Gaun pengantin yang dia pakai barusan sangat berat dan tidak nyaman.

Setelah berpikir sejenak, Pamela mengulurkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat ke luar.

Agam masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Dia berbicara dengan tak berdaya, "Ehem. Paman, tolong kembalikan baju yang aku pakai ketika datang kemari hari ini!"

Agam menengadahkan kepalanya untuk melirik Pamela, lalu berkata, "Sudah dibuang."

Sudah dibuang?

Pamela mengertakkan gigi. "Kalau begitu, tolong pinjami pakaian bersih untuk aku dulu!"

Agam mengangkat alisnya, lalu menatapnya dengan mata yang menyipit. "Apa kamu meminta tolong dengan sikap seperti ini?"

"Memangnya sikap seperti apa yang harus aku tunjukkan?"

"Mohon padaku."

Pamela menutup pintu kamar mandi dengan keras.

Sudahlah, palingan dia pakai gaun pengantin tadi, tak nyaman ya tak nyaman!

Ketika Pamela bersiap memakai gaun pengantin sudah mendengar pintu kamar mandi diketuk.

Pamela membuka dikit pintu, lalu melihat Agam berdiri di sana, jadi dia bertanya dengan marah, "Ada apa?"

Melalui celah pintu itu bisa mencium aroma sabun dari kamar mandi.

Pamela di ambang pintu hanya mengenakan handuk. Bahu dan leher putihnya terlihat, beberapa helai rambut panjangnya yang basah terurai di tulang selangkanya. Sungguh memesona ....

Nafsu berahi Agam melonjak, pupil mata dan simpul di tenggorokan pun bergerak. Lalu, Agam memberi set piama pria pada Pamela.

Pamela terkejut. Ketika dia mau mengambil piama itu, pria itu malah mengangkat tinggi piama itu. "Kamu nggak mau bilang makasih, ya?"

"Paman, terima kasih ...."

Pamela tersenyum, lalu segera mengambil piama itu, juga melanjutkan perkataan yang belum selesai itu dengan kesal, selesai itu dengan kesal, "yang sebesar-besarnya!"

Selesai berbicara, Pamela membanting pintu lagi.

Ekspresi Agam menjadi masam. Kalau tadi dia terlambat menarik tangannya, lengannya pasti terjepit pintu.

Benar-benar gadis yang tak tahu terima kasih!

Piama pria itu terlalu besar di tubuh Pamela, jadi ketika pakai di tubuh seperti memakai karung besar.

Celana panjang yang besar itu juga terus melorot ketika dikenakan.

Bab 7

Agam sudah tidak berada di kamar ketika Pamela selesai memakai baju dan keluar dari kamar mandi.

Dia tidak terlalu peduli ke mana pria itu pergi. Toh, mereka berdua hanya hubungan kerja sama.

Ketika waktu tiga bulan habis, mereka akan berpisah dan tidak akan saling mengganggu satu sama lain.

Setelah mengunci pintu kamar, Pamela langsung tertidur.

Keesokan paginya.

Pamela dibangunkan oleh suara pelayan Keluarga Dirgantara yang mengetuk pintu kamarnya.

"Nona, tuan muda memintaku untuk membawakan pakaian untuk nona! Nona ...."

Suara itu sangat berisik.

Pamela belum tidur hingga puas. Namun, sebagai orang yang menumpang di rumah orang lain, dia tidak punya pilihan selain bangun.

Dia terpaksa harus bangun dan membuka pintu, lalu menerima baju yang dibawakan oleh pelayan itu.

Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Pamela keluar dari kamarnya untuk mencari makan. Tiba-tiba, sebuah baskom berisi air dingin dengan bau amis mengguyur tubuhnya!

Pada saat yang sama, suara ejekan dan cemoohan terdengar dari sekelilingnya.

Pandangannya kabur karena guyuran air kotor. Setelah air kotor itu menetes selesai dari kepalanya, dia baru melihat apa yang ada di depannya.

Di hadapannya ada seorang gadis asing seusianya yang berdandan cantik. Dia berjalan mondar-mandir dengan senyum menghina dan angkuh.

Beberapa pelayan Keluarga Dirgantara mengelilingi gadis itu seperti pengawal.

Salah satu pelayan memegang baskom kosong, tampaknya air kotor di dalam sudah disiram ke tubuh Pamela.

Pamela mengerutkan kening sambil menyeka bulu matanya yang basah. Dia menatap gadis asing itu dengan tenang, lalu bertanya, "Siapa kamu? Kenapa kamu menyiramku?"

Olivia memakai warna lipstik terbaru, lalu dia mendongak dengan sikap angkuh. "Aku adalah nona besar di keluarga ini, namaku Olivia Dirgantara. Agam adalah kakakku!"

Ternyata adiknya Agam!

Pamela mengerutkan alisnya sambil berkata, "Terus, kenapa kamu menyiramku?"

Olivia berdecak sinis, menatap Pamela dengan tatapan merendahkan.

"Air tadi memperingatkanmu untuk mengetahui posisimu sendiri! Jangan kira menikah dengan kakakku, kamu akan menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara. Kamu belum pantas!"

Pamela mengerutkan keningnya. "Bagaimanapun juga aku ini istri kakakmu, kakak iparmu! Nggak pantas kamu memperlakukanku seperti ini, 'kan?"

Olivia menjawab sambil tertawa, "Kakak ipar? Cih! Jangan merasa dirimu dihargai. Tadi malam, kakakku saja nggak tidur di kamarmu. Di malam pernikahan tidur sendirian, tapi masih berani menyebut dirimu sebagai istri kakakku!"

"Sekadar informasi, kakakku menikahimu cuma buat menghibur kakekku. Setelah kakekku sembuh, kamu harus segera keluar dari Keluarga Dirgantara!"

Pamela kehabisan kata-kata, "..."

Ternyata begitu. Pantas saja paman aneh itu buru-buru menikah.

Olivia memperingatkan lagi, "Jangan terobsesi untuk bergantung pada kakakku. Kakakku nggak akan pernah menyukai wanita sepertimu! Di sini statusmu bahkan lebih rendah dari pelayan, bisa di bilang panggilan 'nyonya muda' itu hanya panggilan saja, nggak ada artinya di Keluarga Dirgantara! Saat kakakku pergi, aku yang bertanggung jawab di rumah ini. Kamu harus mematuhi aturanku. Mengerti?"

Pamela mengangguk patuh. "Ya. Aku akan mengingatnya!"

Melihat Pamela terlihat seperti pengecut, hati Olivia sangat senang.

"Bagus kalau kamu sadar diri. Mulai sekarang, kamu jangan banyak tingkah. Ayo pergi. Aku ada janji manikur hari ini. Seharusnya orang manikurnya sudah mau sampai ...."

Saat mengatakan hal itu, Olivia siap untuk pergi dengan para pelayan di sekelilingnya.

"Tunggu dulu."

Namun, Pamela memanggilnya.

Olivia berhenti melangkah dan menoleh dengan tidak sabar, "Kenapa? Kamu mau protes?"

Pamela tersenyum. "Bukan. Hanya saja, Nona Olivia. Aku baru datang dan belum mengerti peraturan apa yang kamu bicarakan. Bisa jelaskan dulu? Aku ingin mengingatnya biar bisa mematuhi perintahmu dengan baik."

Olivia terdiam sejenak, lalu tertawa mengejek. "Wanita miskin sepertimu benar-benar cukup pandai mengamati kondisi saat ini! Baiklah, karena kamu yang minta, aku akan memberikan gambarannya! Dengar, selama kamu berada di sini, kamu jangan banyak bertingkah ...."

"Itu, tunggu sebentar ...."

Pamela terlihat bersungguh-sungguh meminta nasihat, "Nona Olivia, ingatanku nggak bagus. Tolong bicara perlahan denganku di kamar. Aku ingin mengambil pulpen dan kertas, biar bisa mencatatnya secara rinci."

"Sungguh merepotkan!"

Olivia memang merasa dia merepotkan, tetapi tidak melewatkan kesempatan ini untuk menetapkan aturan. Jadi, dia dengan enggan mengikuti Pamela ke dalam kamar.

Tak disangka, pintu kamar tiba-tiba tertutup rapat ketika Olivia masuk.

Pintu terkunci.

Beberapa pelayan yang tidak sempat mengikuti Olivia masuk ke dalam kamar pun mematung di depan pintu.

Mereka terdiam sejenak. Detik berikutnya, mereka mendengar jeritan Olivia yang menyedihkan dari dalam kamar dan buru-buru mengetuk pintu.

"Nona ... Nona ... Nona kenapa?!"

Begitu Olivia memasuki kamar, rambutnya ditarik oleh Pamela dan diseret ke kamar mandi.

Dia berteriak ngeri, "Ah! A ... apa yang kamu lakukan?! Lepaskan aku!"

Pamela menjambak rambut Olivia dengan satu tangan dan mengcengkeram pergelangan tangan Olivia yang lasak itu dengan tangan yang lain, lalu bertanya, "Katakan, air apa yang kamu siramkan padaku barusan?"

Pamela yang saat ini benar-benar sangat jahat, seolah-olah sikap patuh dan jujur yang baru saja dia tunjukkan hanyalah halusinasi.

Seketika, Olivia tidak bisa menahan rasa dingin di tulang punggungnya. "Itu ... itu air bekas cucian ikan di dapur!"

"Oh, begitu!"

Pamela mengatupkan bibirnya. Detik berikutnya, dia menekan kepala Olivia ke dalam kloset.

Olivia, "Ahhhh ... gluk ... gluk ... gluk ...."

Setelah 30 detik, Pamela menarik kepalanya, lalu dia bertanya dengan datar, "Bagaimana perasaan Nona Olivia?"

Wajah Olivia menjadi pucat. Dia berkata dengan marah, "Be ... beraninya kamu melakukan ini padaku?! Kamu ...."

Pamela masih berkata dengan wajah datar, "Kamu yang turun tangan dulu, aku hanya melawan. Kamu menyiramku dengan air kotor, aku membiarkanmu mencicipi air toilet. Ini cukup adil."

Wanita ini benar-benar gila!

Olivia berteriak dengan marah, "Ah! Aku adalah nona besar dari Keluarga Dirgantara! Kakakku sangat menyayangiku! Beraninya kamu melakukan ini padaku!"

Pamela tidak takut, hanya menjawab, "Aku nggak peduli apakah kamu nona besar Keluarga Dirgantara atau bukan. Kakakmu memintaku menikah dengannya untuk jadi nyonya muda, bukan untuk ditindas di Keluarga Dirgantara. Ingat, jangan pernah macam-macam denganku lagi!"

Setelah mengatakan itu, dia menekan kepala Olivia ke dalam kloset lagi.

Kemudian, Pamela melambaikan tangannya.

Olivia segera menengadahkan kepalanya dengan napasnya yang terengah-engah, Olivia juga menangis karena jijik.

Mana pernah dia mengalami penghinaan seperti ini? Dia berjongkok di depan kloset untuk muntah, lalu dia mengertakkan gigi sambil berkata, "Pamela, kamu ... tunggu saja! Aku akan membiarkan kakakku menceraikanmu!"

Pamela terkekeh. "Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku berterima kasih dulu pada Nona Olivia karena sudah membantu kami cerai!"

Melihat Pamela tidak khawatir atau takut sedikit pun, Olivia merasa seolah-olah ancamannya tidak berbobot. Bisa dibilang, dirinya terlihat lemah di depan Pamela.

Setelah menarik Olivia berdiri, Pamela juga menyeretnya keluar dari kamar.

Lalu Pamela segera melepaskan pakaiannya yang amis dan kotor, baru mandi.

Pamela tidak ada pakaian lagi, jadi dia hanya bisa keluar dengan berbalut handuk. Lalu, dia melihat ponsel yang berada di meja menyala.

Pamela berjalan ke sana untuk mengangkat telepon.

Suara rekan kerjanya, Vanda Waskita, terdengar sangat cemas, "Pamela, gawat! Cepat datang ke perusahaan. Sesuatu yang besar telah terjadi!"

Hari-hari Dimanjakan Paman

Bab 5
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya