Bab 3
Semua pria yang ada di dokumen itu berpenampilan jelek, usia mereka sekitar empat puluh tahun. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki pekerjaan yang layak!
Darius memelototi Wulan. "Bahkan ada yang usianya hampir menyamaiku! Wulan, bagaimana bisa kamu mengenalkan pria-pria tua seperti itu pada Pamela!"
Wulan terlihat canggung, jelas-jelas dia sudah menyuruh orang untuk mengedit foto dan riwayat pria-pria itu.
Tak disangka Pamela si gadis sialan ini memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi asli pria-pria itu!
Wulan langsung menunjukkan wajah sedih dan berkata, "Darius, aku nggak tahu kenapa bisa begini. Pria-pria yang aku pilihkan untuk Pamela adalah pria terbaik. Pihak agen kencan buta pasti sudah berbohong tentang informasi mereka!"
Pamela merasa lucu. "Tante Wulan, kamu bahkan nggak memverifikasi keaslian informasi pria itu, sudah bilang kalau mereka pria terbaik? Karena aku bukan putri kandungmu, jadi kamu nggak serius mengurus masalah pernikahanku? Ayah, kalau aku benar-benar menikah dengan pria tua seperti itu, apa ayah akan merasa bangga?"
Wulan segera menyusun kata-kata untuk menjelaskan, "Nggak, bukan begitu ...."
Namun, Darius tidak mau mendengarnya, dia melemparkan dokumen itu ke wajah Wulan dengan kecewa.
"Cukup! Mulai sekarang, pernikahan Pamela nggak perlu diurus kamu! Kartu kreditmu akan dihentikan dari bulan ini. Jangan sering keluar dan buang-buang uang. Tinggallah di rumah dan renungkan kesalahanmu!"
Wajah Wulan memucat. Dia segera berkata, "Darius, kamu benar-benar salah paham denganku ...."
Darius tidak lagi peduli padanya, dia menatap putri bungsunya dan berkata dengan rasa bersalah, "Pamela, akhir-akhir ini, kamu pasti sangat menderita karena bertemu banyak pria tua. Kelak , kamu nggak perlu pergi kencan buta."
Pamela tersenyum. "Terima kasih, ayah."
Setelah Darius naik ke lantai atas, Wulan memasang tampang galak dan menatap tajam ke arah Pamela!
Setelah Pamela merasakan tatapan marah Wulan, Pamela tetap berkata dengan tenang, "Oh ya, Tante Wulan, aku lupa bilang. Menurutku pria-pria terbaik yang tante pilih secara pribadi pasti akan jadi menantu yang tante sukai. Jadi, aku memberikan nomor pribadi Kak Jovita kepada pria-pria yang tante bilang terbaik itu. Semoga Kak Jovita bisa menjalin hubungan bahagia dengan mereka!"
Wulan mengertakkan gigi dan berkata dengan marah, "Apa? Ber ... beraninya kamu berbuat seperti itu?!"
Jovita adalah aktris populer. Mana mungkin pria rendahan itu pantas menghubungi Jovita!
Pamela tidak peduli lagi dengan Wulan. Dia menguap sambil naik ke lantai atas untuk tidur.
Wulan memaki Pamela dalam hati. Dia ingin kembali ke kamarnya untuk membujuk Darius agar tidak menghentikan kartu kreditnya, tetapi bel pintu malah berbunyi!
Siapa yang datang di waktu selarut ini?
Ketika membuka pintu, Wulan melihat seorang pria yang mengenakan jas, juga ada banyak pria berpakaian hitam di belakangnya. Mereka datang membawa banyak barang dengan berbondong-bondong.
Ketika ada banyak orang asing tiba-tiba datang di waktu selarut ini, Wulan menjadi waspada. Dia berkata, "Si ... siapa yang kalian cari?"
Ervin berkata, "Halo, Nyonya Alister. Kami kemari untuk mengantarkan mahar pada Nona Alister atas perintah tuan muda!"
"Mahar? Mahar apaan? Siapa tuan muda yang kalian maksud?"
"Tuan muda kami bernama Agam Dirgantara."
Mata Wulan terbelalak ketika pengunjung itu menyebutkan nama tuan mudanya dengan jelas.
"Agam ... Agam Dirgantara? Apa yang kalian maksud adalah Tuan Agam dari keluarga kelas satu Keluarga Dirgantara?"
Ervin menjawab, "Benar."
Wulan bertanya, "Maksud kalian, Tuan Agam tertarik dengan putriku?"
Ervin memasang raut wajah rumit. Setelah ragu-ragu sejenak, dia berkata, "Nggak masalah kalau nyonya ingin mengartikannya seperti itu."
Wulan berpikir bahwa putrinya, Jovita Alister adalah seorang aktris yang populer, cantik dan manis. Wajar saja jika seorang tuan muda dari keluarga yang berkuasa suka padanya.
Namun, identitas pelamar yang ingin melamar putrinya terlalu besar. Mereka bahkan datang dengan membawa mahar. Bukankah ini terlalu mendadak!
Melihat Wulan tidak memberikan jawaban dalam waktu yang lama, Ervin bertanya, "Apa Nyonya Alister nggak setuju dengan pernikahan ini?"
Wulan baru sadar dari lamunannya dan langsung menggelengkan kepalanya. Dia menjawab, "Bukan begitu. Hanya saja, sekarang putriku sedang nggak di rumah. Untuk hal sebesar ini, lebih baik menunggunya kembali sebelum ...."
Ervin menyela, "Nyonya Alister, putri nyonya sudah menerima cincin pertunangan dari tuan muda. Sekarang, nyonya hanya perlu menerima maharnya."
Apa?
Jovita sudah menerima cincin dari Tuan Agam? Kalau begitu, apa Wulan bisa mengartikan mereka berdua sudah menjalin hubungan yang lama?
Jovita ini benar-benar nakal, bisa-bisanya tidak memberi tahu mereka kalau dia mendapatkan pacar sebaik Tuan Agam!
Wulan tidak berani mengabaikan tamu terhormat ini, jadi dia buru-buru mempersilakan Ervin masuk.
Ervin tidak masuk, hanya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa masuk mahar ke dalam rumah.
"Tiga hari lagi, tuan muda akan datang untuk menikahi Nona Alister."
Wulan terkejut. "Hah? Tiga hari lagi? Bu ... bukankah itu terlalu terburu-buru?"
Ervin berkata, "Nyonya Alister, jangan khawatir. Tuan muda sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk pernikahan. Semuanya akan diadakan secara mewah. Nona Alister nggak akan dirugikan."
Semuanya serba mewah?
Tuan Agam benar-benar sangat royal kepada Jovita!
Ketika Jovita menikah dengan Agam, dia akan menjadi ibu mertua Tuan Agam. Dia tidak perlu khawatir tentang kekayaan dan kehormatannya.
Siapa pun yang bertemu dengannya akan bersikap hormat kepadanya.
Memikirkan hal ini sudah membuat hati Wulan sangat gembira.
"Baik! Tiga hari lagi, keluarga kami akan siap untuk mengantarkan putri kami untuk menikah!"
Ervin menganggukkan kepala, lalu pamit, "Kalau begitu aku pamit dulu. Sampai jumpa."
Darius keluar ketika mendengar keributan di luar. Dia bertanya, "Siapa? Apa ... apa-apaan ini?"
Hati Wulan berdebar-debar ketika dia menyentuh mahar mahal ini dan sangat menghargai semua mahar ini.
"Darius, ada kabar gembira. Tuan Agam dari Keluarga Dirgantara menyukai Jovita. Ini semua mahar dari Keluarga Dirgantara yang diberikan kepada Jovita. Semuanya sangat mahal!"
Darius menatap kosong ke arahnya, lalu bertanya, "Apa? Agam? Maksudmu Agam Dirgantara yang baru kembali dari luar negeri? Agam pimpinan Perusahaan Dirgantara?"
Wulan mengangguk berkali-kali, lalu menjawab, "Ya! Dia!"
Darius menutupi dadanya karena takut terkena serangan jantung akibat kaget.
"Astaga! Nggak disangka Jovita bisa disukai Tuan Agam!"
Wulan menjawab dan tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya, "Lihat dulu Jovita anak siapa!"
"Wulan, kamu melahirkan anak yang punya masa depan cerah!"
"Cih, sekarang kamu memujiku? Barusan kamu bilang mau membekukan kartu kreditku!"
"Hei, itu karena barusan aku marah padamu. Pamela memang bukan putri kandungmu, tapi kamu nggak bisa minta dia pergi kencan buta dengan pria tua seperti itu!"
"Aku nggak sengaja. Pamela dibesarkan di pedesaan, jadi punya sifat liar dan temperamen yang buruk. Aku cuma mencarikan pasangan yang lebih tua darinya biar bisa mentolerirnya. Tapi, orang agen kencan buta malah membohongiku tentang informasi itu!"
"Wulan, aku yang salah. Aku yang salah karena sudah salah paham padamu!"
Setelah berhasil membujuk Darius dengan beberapa kalimat, Wulan menjadi sangat gembira.
Pamela si gadis tengik itu ingin bertarung dengannya?
Dia masih terlalu muda untuk bisa menang darinya!
Namun, Jovita akan segera menikah dengan Agam Dirgantara. Masa-masa indah mereka berdua akan segera tiba!
Siapa yang punya waktu untuk meladeni Pamela!
Keesokan paginya, Wulan menelepon putri kesayangannya, Jovita dan menyuruhnya untuk segera pulang.
Jovita menggerutu dengan tidak senang begitu memasuki rumah, "Bu, kenapa minta aku pulang cepat-cepat? Nanti sore, aku masih harus syuting!"
"Tentu saja ini tentang pernikahanmu dengan tuan muda Keluarga Dirgantara!"
"Pernikahan? Pernikahan apa? Aku nggak kenal tuan muda Keluarga Dirgantara!"
Melihat putrinya yang terlihat seperti tidak tahu tentang hal itu, hati Wulan menjadi dingin. Dia langsung menceritakan semua kejadian tentang ada banyak orang datang ke rumah dan ingin melamar putrinya.
"Jovita, bagaimana mungkin kamu nggak kenal tuan muda Keluarga Dirgantara? Bukankah kamu sudah menerima cincin pertunangan yang diberikan oleh tuan muda Keluarga Dirgantara?"
Bab 4
Selesai ibunya bicara, Jovita masih bingung.
"Cincin? Kapan aku pernah menerima ... oh, oh ya! Bu, aku ingat. Kemarin ada penggemar tanpa nama kasih cincin berlian yang dikirimkan melalui kurir! Aku takut media akan membesar-besarkannya kalau mereka melihatnya, jadi aku menyimpannya dan nggak bawa pulang cincinnya!"
Wulan sangat senang ketika mendengarnya.
"Kalau begitu, Tuan Agam pasti sudah menyukaimu sejak lama dan mengejarmu dengan mengatasnamakan penggemarmu! Ibu sudah mencari tahu dan orang yang kemarin datang untuk memberi mahar memang asisten pribadi Tuan Agam!"
"Jovita, Keluarga Dirgantara adalah keluarga hebat. Tuan Agam juga sangat tulus. Nggak salah kamu menikah dengannya!"
Tuan Agam ....
Jovita hanya tersipu malu hanya dengan memikirkannya.
Dia belum pernah bertemu dengan Tuan Agam, tapi dia pernah mendengar Agam Dirgantara yang berasal dari Keluarga Dirgantara yang hebat itu. Dia merupakan raja di dunia bisnis!
Dia tidak pernah menyangka kalau Tuan Agam adalah penggemar beratnya, juga ingin menjadi suaminya. Dia cukup gila karena sampai datang langsung ke rumah dan melamarnya. Ini semua karena pesonanya terlalu besar.
...
Sorenya.
Pamela kembali dari luar sambil memegang bingkai foto di tangannya. Dia masuk ke dalam rumah, mengganti sandalnya dan langsung naik ke atas.
Kebetulan Jovita sedang turun dan sengaja menghalanginya.
"Apa yang ada di tanganmu? Apa kamu mencuri perhiasan dari mahar milikku?"
Pamela menghentikan langkah kakinya dan berkata lirih, "Ini barang pribadiku."
"Cih, ngomong doang. Lepaskan dan biarkan aku melihatnya!" Jovita selalu tidak suka pada adiknya yang dibesarkan di desa. Dia merasa kalau keberadaan Pamela telah menjatuhkan Keluarga Alister, jadi dia tidak pernah menghormatinya.
Setelah itu, dia mengulurkan tangan dan merebut benda yang Pamela lindungi dalam pelukannya.
"Wah! Aku pikir harta karun macam apa. Ternyata foto ibumu yang wanita simpanan!"
Ibunya bukanlah seorang wanita simpanan!
Pamela mengulurkan tangan untuk mengambil bingkai itu, tapi Jovita sengaja menjatuhkan bingkai itu ke lantai.
"Ups! Maaf, tanganku licin!"
Melihat bingkai foto yang terinjak Jovita, mata Pamela memerah.
Itu adalah foto lama ibunya yang berhasil dia temukan di album foto lama Keluarga Alister. Hari ini, dia mengambilnya untuk memperbaiki dan memperbesar fotonya. Dia akan menaruhnya di kamar sebagai hiasan meja.
Pamela yang marah mencengkeram baju Jovita dan berkata dengan nada dingin, "Ambil foto itu!"
Jovita melawan tanpa takut, "Beraninya kamu menyentuhku? Biar kuberitahu! Aku akan segera menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara. Kalau kamu macam-macam denganku, Keluarga Dirgantara akan membuatmu menderita!"
Pamela terkejut. Tunggu, Keluarga Dirgantara?
Kemarin, pria yang telah menyeretnya secara paksa ke pesta pertunangan juga memiliki marga yang sama. Sekarang, dia bergidik ngeri saat mendengar marga Dirgantara.
"Maksudmu Keluarga Dirgantara selaku keluarga hebat itu?"
Jovita menjawab dengan bangga, "Benar sekali! Kenapa? Kamu takut? Tuan Agam dari Keluarga Dirgantara adalah penggemarku dan ingin melamarku. Barang-barang di sana itu adalah mahar yang diberikan Keluarga Dirgantara untukku. Lebih baik kamu nggak menyentuhnya. Kalau kamu membuatnya rusak, kamu pasti nggak mampu ganti rugi."
Pamela menoleh dan melihat mahar yang ditunjuk oleh Jovita. Dia tertegun, seakan-akan telah menduga sesuatu.
Apa dia gila?
Pria itu datang ke rumahnya untuk memberikan mahar!
Setelah memikirkannya, Pamela berkata pada Jovita dengan mata berbinar, "Kalau begitu, aku harus mengucapkan selamat padamu. Tapi, apa kamu pikir keluarga besar seperti Keluarga Dirgantara bisa menerima menantu seorang aktris yang memiliki banyak skandal? Apa kamu pikir mereka akan menjadikanmu sebagai nyonya muda mereka?"
Jovita yang tersindir langsung berteriak marah, "Kamu nggak perlu khawatir! Tuan Agam sangat mencintaiku, jadi dia akan melindungiku dengan baik!"
"Benarkah?"
Pamela tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
Kemudian, Pamela mengambil foto ibunya dan menepuk-nepuk debu yang menempel di foto tersebut, dia berbalik dan naik ke atas.
Dia masih khawatir bagaimana caranya keluar dari masalah setelah terjebak dengan pria yang diciumnya kemarin. Karena Jovita sangat ingin menikah dengannya, masalah itu akan teratasi.
Jovita berdecak ketus mulai mengkhawatirkan sesuatu.
Kata-kata Pamela si gadis desa itu bukannya tidak masuk akal. Keluarga Dirgantara adalah keluarga hebat dan dia hanyalah seorang aktris yang tidak terlalu populer. Akan buruk jika anggota Keluarga Dirgantara mengetahui skandalnya, lalu memiliki kesan buruk terhadapnya.
Dengan pemikiran ini, Jovita memutuskan untuk segera keluar dari dunia hiburan ini!
Dibandingkan dengan menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara, hasil yang didapatkan dengan menjadi aktris tidak seberapa.
Jovita baru mau menelepon perusahaan untuk memberitahukan tentang pengunduran dirinya, tetapi tiba-tiba ponselnya berdering dulu.
Entah mengapa akhir-akhir ini dia mendapat begitu banyak telepon yang mengganggu. Awalnya dia tidak berniat mengangkatnya.
Namun, ketika melihat nama "pria pemberi uang" yang baru berhasil dia dekati, Jovita pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya, jadi Jovita mengangkat teleponnya.
"Sayang, kamu di mana? Aku kangen sekali padamu. Malam ini datang ke hotel, ya! Temani aku!"
Jovita berkata dengan jijik, "Jangan panggil aku sayang. Tua bangka yang nggak tahu jijik, bikin jijik saja!"
"Apa katamu? Aku menjijikkan? Kamu lupa seperti apa kamu memohon padaku agar kamu bisa menang Penghargaan Lotus untuk pemeran utama wanita berikutnya!"
Jovita tidak peduli. "Aku sudah keluar dari dunia hiburan! Aku nggak peduli lagi dengan pemeran utama Penghargaan Lotus atau apa pun itu. Kamu bisa kasih sama siapa pun yang kamu mau! Jangan menghubungiku lagi!"
Di ujung telepon, pria tua itu sangat marah hingga wajahnya berubah menjadi masam.
Dia sudah membelikan wanita ini cincin berlian dan mengirimnya melalui pengiriman kilat. Akan tetapi, wanita sialan ini malah memakinya setelah menerima cincin yang dia berikan!
Wanita tidak tahu diri! Jangan harap dia bisa berkecimpung di dunia hiburan lagi! Tunggu saja, dia akan diboikot!
...
Tiga hari kemudian.
Keluarga Alister mengadakan pesta pernikahan untuk putrinya. Teman-teman serta keluarga datang untuk memberi selamat.
Wulan sengaja meminta Darius untuk membuat pesta yang besar. Dia ingin menikahkan Jovita dengan mengadakan pesta yang meriah.
"Lihat, itu iring-iringan pengantin dari Keluarga Dirgantara! Megah sekali. Pantas mereka jadi keluarga hebat. Semua mobil yang datang sangat mewah dan edisi terbatas!"
"Aku cuma pernah melihat mobil itu di majalah. Harganya bisa beli sepuluh mobil Toyota!"
"Aku iri banget sama Kak Jovita. Dia bisa menikah sama orang hebat seperti Tuan Agam!"
Mendengar seruan dan sanjungan dari kerabat, serta teman-temannya, Jovita yang sudah mengenakan gaun pengantin merasa sangat puas. Dia bangga sekali.
Omong-omong, tidak ada yang melihat Pamela keluar. Mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat karena iri padanya.
Cih, biarkan dia iri saja! Iri pun tidak akan membuat dia mendapatkan apa yang dia inginkan!
Jovita sudah tidak sabar untuk bertemu dengan calon suaminya. Kira-kira pria seperti apa Tuan Agam ini?
Dia pasti sangat tampan. Nanti, pria itu akan berlutut di hadapannya dan menyatakan cintanya di bawah tatapan iri semua tamu yang datang.
Iring-iringan mobil pengantin berhenti di depan kediaman Keluarga Alister.
Tubuh Agam yang tinggi dan tegap melangkah keluar dari mobil pengantin utama. Dia memancarkan kesan megah dan elegan.
Ervin memberi isyarat kepada para pengiring pengantin pria yang sudah mengenakan setelan jas untuk keluar dari mobil yang lain, lalu mengikuti tuan muda menuju gerbang kediaman Keluarga Alister.
Tiba-tiba, Agam sang mempelai pria menghentikan langkah kakinya dan mendongak ke atas. Matanya yang tajam memindai atap rumah Keluarga Alister!
Di balkon kecil tidak jauh di sana, seorang wanita yang mengenakan piama tengah berdiri di sisi pagar dan melihat iring-iringan yang datang.
Hanya menatap Agam sebentar saja, wanita itu lekas berbalik dan menghilang.
Pamela merasakan bahaya. Saat dia melihat iring-iringan dari balkon, dia melihat kalau Tuan Agam menemukan keberadaannya!
Namun, hari itu dia mengenakan riasan sangat tebal. Saat ini, dia sudah menghapus riasannya. Seharusnya Tuan Agam tidak bisa mengenalinya, 'kan?
Untuk berjaga-jaga, bukan ide yang baik untuk tinggal di rumah. Jadi, dia harus pergi.
Di lantai bawah, melihat Agam tiba-tiba berhenti, Ervin dibuat bingung. Dia menghampiri Agam, lalu berkata, "Tuan muda, rumah Keluarga Alister ada di depan. Kalau Tuan nggak masuk, tuan mungkin akan melewatkan waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan."
Bab 5
Agam mendongakkan kepalanya. Dia menyipitkan matanya untuk menatap tajam balkon kecil yang saat ini sudah kosong.
Setelah diam beberapa saat, dia memberi perintah dengan suara lirih, "Bawa mereka masuk dulu!"
Ah, ini ....
Ervin tercengang, tetapi dia tidak berani mempertanyakan perintah Agam. Jadi, dia melambaikan tangan kepada pengiring pengantin di belakangnya.
"Kalian ikut aku masuk dulu!"
Suasana berubah ramai saat rombongan pengiring pengantin dari Keluarga Dirgantara dihalangi oleh pengiring pengantin Keluarga Alister di pintu masuk untuk saling bertukar pantun.
Tidak ada yang menyadari kalau pengantin pria yang sebenarnya malah pergi ke pintu belakang kediaman Keluarga Alister.
Pintu belakang kediaman Keluarga Alister.
Seorang wanita menyelinap keluar dengan langkah santai tanpa memperhatikan sekitarnya, sambil menyenandungkan lagu pernikahan.
Baru melangkah beberapa langkah, bagian belakang kerah lehernya ditarik oleh sesuatu dan tubuhnya terangkat. Kakinya menjuntai di udara, seperti ayam yang mau disembelih.
"Mau lari?"
Suara pria itu sangat rendah dan magnetis, tetapi menyalurkan bahaya yang kuat saat terdengar di telinga.
Punggung Pamela tepat menghadap orang yang mengendap-endap ke arahnya. Dia langsung mengenali siapa pemilik suara itu. Dia adalah Agam!
Dengan pandangan sekilas dari jauh, Agam benar-benar telah mengenalinya!
Akan tetapi, semua itu tidak masalah. Pamela sudah menyiapkan rencana keduanya.
Pamela menoleh ke arah Agam yang berada di belakangnya dan berkata terbata-bata, "Pa ... Paman. Kamu ... siapa? Ke ... kenapa ... kamu menarikku?"
Melihat wanita itu menoleh kepadanya, Agam tertegun. Dia melihat wajah yang sangat jelek. Sontak, cengkeraman tangannya terlepas.
Wanita di depannya memiliki tahi lalat yang sangat besar di wajahnya. Alisnya dan bibirnya sangat tebal, bahkan matanya dirias dengan perona mata warna-warni.
Penampilan jeleknya sangat khas, bahkan jauh lebih jelek dan unik dari pemeran terjelek yang pernah muncul di film.
Pamela melihat bahwa ekspresi Agam berubah ketika melihat wajah jeleknya. Dalam hati, dia merasa senang!
Dia berpura-pura bodoh dan berkata, "Paman datang kemari untuk menjemput pengantin? Paman salah masuk. Paman harus lewat pintu depan. Pengantin paman sudah menunggu di dalam!"
Agam menyipitkan matanya dan menatap dingin pada wanita buruk rupa di depannya, hampir percaya dengan kebohongannya.
Sudut bibir tipis pria itu terangkat membentuk seringai, lalu berkata dengan pelan, "Benarkah? Tapi kenapa kamu pakai cincin tunangan milik Keluarga Dirgantara?"
Setelah mengatakan itu, Agam menarik tangan Pamela dan mengangkatnya. Dia mengamati cincin berlian di jari manisnya dengan tatapan dingin!
Pamela terdiam tidak tahu harus menjawab apa, "..."
Gawat! Semuanya benar-benar berakhir!
Bukannya dia ceroboh atau lupa melepasnya, tetapi cincin ini memang sudah melekat erat di tangannya. Dia tidak bisa melepaskannya bahkan setelah menggunakan sabun!
Mata tampan Agam menatapnya dengan dalam. Dia bisa melihat apa yang Pamela pikirkan dan kembali berbicara untuk menjawab keraguan di dalam benak Pamela.
"Nggak usah menyia-nyiakan tenagamu. Cincin itu terbuat dari platina yang dicampur dengan bahan khusus. Membutuhkan minyak esensial khusus untuk melumasinya biar bisa dilepas."
Pamela menggertakkan giginya karena marah. Benar-benar menyesatkan!
Baiklah! Karena tidak bisa mengelak, dia akan mengakuinya!
"Paman, terus terang saja. Aku tahu paman nggak benar-benar ingin menikah denganku. Paman cuma butuh istri di atas kertas untuk beberapa alasan, 'kan?"
Agam tidak menjawab, merasa kalau wanita ini cukup cerdas.
Pamela mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Begini saja, kakakku yang bernama Jovita sangat bersedia menikah denganmu. Dia lebih cantik dariku, memiliki tubuh langsing. Paman nggak bakal rugi kalau menikah dengannya!"
Agam menyipitkan matanya. Gadis ini sepertinya benar-benar tidak ingin menikah dengannya.
Dia bahkan menghindarinya?
Gadis ini memberinya kesan menarik.
Selama ini, ketika para wanita melihat Agam, mereka akan melakukan semua yang mereka bisa untuk mendapatkan perhatian Agam dan menjadi wanitanya!
Namun, yang Agam inginkan adalah wanita yang tidak akan mengganggu dan merepotkannya.
Bibir tipis Agam terangkat membentuk seringai. Lalu, dia berkata, "Wanita yang akan aku nikahi adalah wanita yang di tangannya ada cincin ini."
Pamela mengerutkan kening, lalu menjawab, "Gampang kalau begitu. Ambilkan minyak esensial khusus yang kamu bilang itu. Aku akan mengeluarkannya dan mengembalikannya padamu. Kamu tinggal memakaikannya ke tangan Jovita!"
Agam menjawab, "Aku nggak punya."
"Kalau begitu pergi dan belilah!"
"Produknya sudah nggak dijual lagi. Nggak akan bisa kebeli!"
"Oh, begitu ...." Pamela menggertakkan giginya, lalu tersenyum. Dia menyentakkan tangannya ke atas untuk menunjuk ke belakang pria itu, "Paman, lihat! Ada sapi terbang!"
Wajah serius Agam tertarik sambil tersenyum.
Kekanak-kanakan.
Detik berikutnya, Pamela yang berniat melarikan diri tiba-tiba ditarik dari belakang oleh pria itu. Tubuhnya terangkat dan Agam membawanya pergi tanpa memedulikan posisi Pamela.
Pamela masih mengentakkan kakinya untuk melawan.
...
Di sisi lain, Ervin baru saja masuk ke ruang tamu Keluarga Alister dengan rombongan pengiring pengantin pria. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Agam.
Dia menghentikan langkah kakinya, menjawab telepon dengan hormat. Ekspresi Ervin terlihat serius. Setelah itu, dia berbalik diikuti oleh pengiring pengantin lainnya.
Melihat hal ini, Wulan yang sedang merasa bangga terkejut. Dia buru-buru mengejarnya dan bertanya padanya, "Permisi, Tuan Ervin. Pengantin wanita sedang menunggu di dalam. Kalian mau ke mana?"
Ervin menatap Wulan dan berkata, "Tuan muda sudah bertemu dengan pengantin wanita secara langsung."
Wulan bingung, "Sudah bertemu? Nggak mungkin! Jovita masih di dalam rumah!"
Ervin menjawab sambil mengerutkan kening, "Jovita? Nyonya, sepertinya nyonya salah paham. Nona Alister yang akan dinikahi tuan muda bukan bernama Jovita!"
Setelah mengatakan itu, Ervin dengan dinginnya melewati Wulan dan pergi bersama pengiring pengantin pria lainnya tanpa menoleh ke belakang.
Wulan tertegun di tempat, wajahnya pucat pasi.
Apa?
Pengantinnya salah?
Keluarga dan teman-teman yang hadir mulai mengatai mereka ....
Darius yang baru saja dikelilingi oleh sanak saudaranya dan disanjung oleh mereka, kini menjadi bahan olok-olok!
Darius kehilangan harga dirinya. Raut wajahnya benar-benar terlihat sangat masam. Begitu menoleh, dia melampiaskan kemarahannya pada Wulan yang telah memintanya untuk merayakan pernikahan ini secara besar-besaran.
"Wulan! Apa yang terjadi?! Bukankah kamu bilang kalau orang yang akan dinikahi Tuan Agam adalah Jovita?"
Wulan menjawab dengan polos, "Aku ... aku nggak tahu kenapa bisa seperti ini! Hari itu, ketika orang dari Keluarga Dirgantara datang untuk mengantarkan mahar, dia bilang mau menikahi putri kita. Dia bahkan mengirimkan maharnya ke rumah. Darius, bukankah kamu juga lihat sendiri?"
Darius langsung menampar Wulan dengan keras.
"Kamu mempersiapkan segalanya tanpa memastikan dulu. Harga diri Keluarga Alister sudah dipermalukan olehmu!"
Sementara Jovita yang tidak kunjung bertemu dengan mempelai prianya juga mendengar keributan di luar. Dia keluar dari kamarnya sambil menyeret gaun pengantinnya untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Ayah ... Ibu! Apa yang kalian lakukan?! Di mana mempelai prianya? Mana Tuan Agam?"
"Jovita, orang-orang Tuan Agam mengatakan kalau ada kesalahan. Mereka sudah bertemu dengan pengantin wanita dan pergi begitu saja!"
Jovita terkejut. "Apa? Ibu, bagaimana bisa ada kesalahan untuk hal seperti ini? Bukankah Tuan Agam akan menikahiku?"
Wulan menutupi wajahnya yang terluka akibat tamparan Darius, lalu menjawab, "Jovita, jangan salahkan aku. Pikiran aku juga sedang kacau ...."
Mereka yang sejak awal tidak menyukai kelakuan jahat Wulan dan Jovian dari Keluarga Alister ini pun mulai mencibir.
"Jovita, masalahnya sudah begini. Jangan terlalu percaya diri. Kalau dipikir-pikir, kamu juga pasti tahu, bagaimana mungkin orang sehebat Tuan Agam bisa menikahi aktris yang banyak gosip sepertimu!"
"Aku juga penasaran, bagaimana mungkin kamu bisa menjalin hubungan dengan Keluarga Dirgantara yang merupakan keluarga terbaik itu. Ternyata itu hanya khayalanmu saja!"
"Jovita, sebaiknya kamu kembali syuting saja! Lagi pula, hanya di drama kamu bisa menikah dengan pria kaya yang kamu inginkan! Hahaha ...."
Jovita tidak tahan dengan cibiran memalukan dari kerabatnya. Dia memelototi Wulan dengan sinis, lalu menyembunyikan diri di kamarnya.
Dia sangat kesal! Dia sudah tidak punya keberanian untuk bertemu orang lain setelah ini!
Akan tetapi, kenapa bisa terjadi kesalahan seperti ini?
Bukankah Tuan Agam sudah memberinya cincin?
Tidak.
Dia tidak percaya, dia tidak percaya! Wanita mana yang dibawa pergi oleh Tuan Adam?
Siapa dia?
Apa dia juga bermarga Alister dan tinggal di sekitar sini?