Bab 2
Para tamu yang datang menunjukkan berbagai ekspresi, bahkan mengatai mereka ….
"Apa ini tunangan Tuan Agam? Kenapa pakaiannya terlihat seperti gadis menor di jalanan?!"
"Bukankah seharusnya tunangan Tuan Agam adalah seorang wanita yang lemah lembut dan cantik? Apa-apaan ini?"
"Ehem, selera Tuan Agam memang unik ...."
Pamela sengaja berdandan seperti gadis jalanan untuk menakuti pasangan kencannya.
Namun, Agam tampaknya tidak peduli kalau citra "tunangan" dia dicemooh oleh banyak orang.
Bisa dibilang, dia bahkan tidak peduli bahwa seleranya dipertanyakan orang-orang. Dia malah tampak seperti sedang menonton pertunjukan orang lain.
Di bawah tatapan para tamu, Pamela bertukar cincin pertunangan dengan Agam. Dia merasa seperti ada pisau tajam yang menusuk punggungnya.
Saat pembawa acara mengatakan pertunangan selesai.
Para tamu yang hadir merasa sulit untuk menghargai tunangan Tuan Agam, tetapi demi Tuan Agam, mereka tidak berani untuk tidak bertepuk tangan dan memberikan restu.
Seketika tepuk tangan pun terdengar keras.
Saat turun dari panggung pertunangan, Pamela hanya ingin pergi dan meninggalkan tempat yang penuh dengan masalah ini.
Namun, Pamela dikelilingi oleh tiga wanita berpakaian mewah, bahkan menghalangi jalannya.
"Kamu putri dari keluarga mana?"
"Kenapa kamu datang dengan pakaian murahan seperti ini?"
"Kamu pikir kamu pantas berdiri di samping Tuan Agam dengan penampilan seperti ini?"
Pamela langsung berbalik, tidak mau menghiraukan mereka.
Namun, para wanita itu menghentikannya lagi, tidak mau membiarkannya pergi.
Dia pun kehilangan kesabaran dan melirik sekilas ke arah gaun-gaun indah yang mereka pakai, lalu berkata, "Kalian yang berpakaian secantik ini memang pantas berdiri di samping Tuan Agam, tapi maukah Tuan Agam bersama dengan kalian?"
"Kamu ...."
Ketiga wanita itu adalah putri dari keluarga yang berkuasa di Kota Marila. Mana pernah mereka menerima makian seperti itu.
Mereka makin menghalangi Pamela, menuntutnya untuk meminta maaf.
Tidak jauh dari situ, Derry Kalingga selaku anak kedua dari Keluarga Kalingga menghampiri dan bersulang dengan Agam.
"Agam, dari mana kamu dapat wanita seperti itu? Kalau sampai membawanya menemui kakekmu, kakekmu akan marah besar."
Agam menjawab dengan santai, "Kakek hanya mau menantu wanita, jadi yang dipentingkan kakek adalah wanita."
Derry mencibir, "Di dunia ini ada banyak wanita, kenapa malah pilih wanita kayak dia?"
Agam melihat ke bawah, dia mengangkat gelasnya untuk meneguk anggur merah di dalamnya, tampaknya seperti menikmati sesuatu.
"Karena mulutnya cukup manis!"
Derry terdiam, lalu dia menatap temannya yang tak pernah mau mendekati wanita dengan kaget. Kemudian, Derry berkata, "Kenapa selama ini aku nggak sadar kalau seleramu nggak biasa!"
Huarz!
Segelas anggur disiramkan ke tubuh Pamela!
Derry melihat ke arah suara itu, lalu mengerutkan alis. "Tunanganmu sepertinya diganggu. Kamu nggak mau bantu?"
Agam menyipitkan matanya. "Nggak usah!"
Derry tidak mengerti maksud Agam. Tiba-tiba, dia melihat Pamela yang berada di sana menjambak rambut seorang wanita dengan satu tangan, lalu membenturkan kepalanyanya ke wanita lainnya dengan kuat. Benturan itu benar-benar sangat keras!
Kedua wanita itu jatuh karena pusing, sementara wanita satunya sudah ketakutan.
"Kamu ... kamu ... kamu ...."
Pamela tidak menunjukkan ekspresi apa pun, juga tidak mengatakan apa-apa, hanya melambaikan tangannya ke samping.
Wanita satu lagi segera mundur, juga tidak berani menghalangi jalan Pamela lagi.
Derry pun menyeringai.
"Sepertinya aku tahu kenapa kamu memilih wanita ini!"
Sorot mata Agam begitu dalam. Dia meminum anggurnya tanpa menimpali perkataan Derry.
Wanita itu bisa mendekatinya secepat kilat tanpa dia sadari, juga menariknya dengan satu tangan untuk menciumnya secara paksa.
Kekuatannya luar biasa dan nyalinya tidak kecil. Itu yang membuatnya berbeda.
"Ervin, bawa dia ganti pakaian."
"Baik, tuan muda!"
Pamela tidak ikut Ervin untuk mengganti pakaiannya, melainkan berjalan ke arah Agam sambil memelototinya dengan marah.
"Paman, kamu kolot sekali. Aku hanya menciummu sekali saja, tapi kamu malah meminta pertanggung jawab penuhku, konsekuensi ini sungguh besar. Bolehkah aku bertanggung jawab padamu dengan cara lain? Seperti kompensasi finansial?"
Mata indah Agam yang menatap Pamela tiba-tiba menyipit, membentuk senyuman yang tidak bisa dijelaskan. "Hmm? Menurutmu berapa harga yang pantas untuk sebuah ciuman?"
Pamela terlebih dahulu mengamati wajah pria itu, kemudian menatap serius bibir tipisnya yang begitu menawan, tampaknya sedang memperkirakan harganya.
"Aku nggak tahu. Lebih baik kamu katakan saja berapa harganya. Sepertinya kamu juga sudah nggak muda lagi, jadi seharusnya ini bukan ciuman pertamamu. Sebaiknya jangan minta kompensasi lebih dari empat ratus ribu, karena aku nggak punya uang lebih dari itu!"
"Kurang ajar!"
Empat ratus ribu?
Ervin merasa bahwa wanita ini benar-benar mencari mati.
Bertunangan dengan tuan muda adalah kehormatan dalam hidupnya. Beraninya dia meremehkan tuan muda?
Agam memberi isyarat pada anak buahnya untuk mundur dengan tangan, lalu jari-jari rampingnya menekan dagu Pamela.
Agam tidak memegang dengan kuat, tetapi pegangan ini penuh rasa bahaya.
"Gadis kecil, karena kamu sudah berani melecehkanku di depan umum, kamu harus menerima konsekuensinya dengan baik! Hmm?"
Pamela mengerutkan kening, otak pria ini memang sudah rusak.
Penampilannya hari ini sangat jelek, kenapa pria ini malah tidak mau melepaskannya?
Pamela menarik sudut mulutnya membentuk senyum tipis. Matanya berkilat, lalu berkata dengan nada ketus, "Baiklah! Kalau begitu, apa sekarang aku boleh ke toilet?"
Agam tidak berkata apa-apa, hanya melirik ke arah anak buahnya, lalu memberi isyarat untuk mengantarnya ke toilet.
Beberapa menit kemudian, Ervin menghampiri Agam dengan ekspresi serius.
"Tuan muda, Nona Alister melompat keluar dari jendela toilet dan melarikan diri. Aku sudah memerintahkan pengawal untuk mengejarnya."
Agam mengenakan setelan jas rapi, bersandar di sofa dengan malas dan santai. Dia bersikap seolah-olah sudah menebak hasil ini. Wajah tampannya yang dingin tidak menunjukkan perubahan apa pun. Dia mengguncang pelan gelas anggur merah di tangannya.
"Nggak perlu. Cari tahu alamat rumah wanita itu, lalu suruh orang untuk mengantar mahar padanya!"
"Baik!"
Derry sudah cukup melihat drama itu, jadi ingin menasihati temannya ini, "Agam, kamu benar-benar mau menikah dengan gadis kecil yang nggak bisa dikendalikan itu? Sebenarnya ...."
Agam menjawab dengan penuh makna, "Wanita seperti itulah yang cocok untuk posisi itu."
...
Hari sudah larut malam ketika Pamela pulang ke rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, ayahnya, Darius Alister, langsung menamparnya.
"Masih berani pulang?!"
Pamela melangkah mundur dengan gesit untuk menghindari tamparan itu.
Darius makin marah ketika tamparannya tidak menemui sasaran.
"Pamela, ibumu susah payah memilihkan pria baik-baik untukmu, kamu malah pergi kencan buta dengan pakaian seperti ini! Kamu juga menarik seorang pria dan menciumnya di depan umum. Harga diri Keluarga Alister hancur karena sikap liarmu! Kamu membuat ibumu disalahkan oleh agen kencan buta! Cepat berlutut dan minta maaf pada ibumu!"
Pamela memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, lalu menimpali dengan tatapan dingin, "Dia bukan ibuku!"
Dia hanya seorang ibu tiri, ibu tiri yang mencoba segala cara untuk menikahkan dia secepat mungkin agar dia tidak mendapatkan kekayaan Keluarga Alister!
Wulan berkata dengan kebaikan palsu, "Darius, aku baik-baik saja. Jangan marah sama Pamela. Dia masih muda dan nggak tahu apa-apa. Itu semua salahku karena nggak bisa melakukan tugas seorang ibu sambung dengan baik ...."
Darius malah tidak tega kepada Wulan karena Wulan masih membela Pamela yang sudah berbuat salah.
Dia menoleh dan lanjut memarahi Pamela, "Anak nggak tahu bersyukur! Selama ini Wulan memperlakukanmu dengan baik, tapi kamu nggak mau memanggilnya ibu!"
Wulan menyeka air mata palsunya dan membujuk dengan ekspresi pasrah, "Darius, sudah, sudah! Nggak masalah kalau dia memanggilku Tante Wulan. Aku nggak keberatan, kok!"
Melihat akting Wulan, Pamela tidak terkejut.
Wanita tua yang sok baik ini memang paling pandai berakting sedih. Dia bermuka dua. Baik di depan, buruk dibelakang.
Selama ini, Darius sudah tertipu oleh kecantikannya, jadi dia tidak mengetahui sifat aslinya!
Sambil menyerahkan setumpuk informasi kepada Darius, Pamela berkata, "Ayah, ini informasi asli dari semua pasangan kencan buta yang Tante Wulan atur untukku. Ayah bisa lihat dulu. Kalau ada yang membuat ayah tertarik, aku akan menikah dengannya!"
Darius terkejut. Dia mengambil dokumen itu dan membacanya. Setelah itu, ekspresi wajahnya berubah menjadi muram.
Bab 3
Semua pria yang ada di dokumen itu berpenampilan jelek, usia mereka sekitar empat puluh tahun. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki pekerjaan yang layak!
Darius memelototi Wulan. "Bahkan ada yang usianya hampir menyamaiku! Wulan, bagaimana bisa kamu mengenalkan pria-pria tua seperti itu pada Pamela!"
Wulan terlihat canggung, jelas-jelas dia sudah menyuruh orang untuk mengedit foto dan riwayat pria-pria itu.
Tak disangka Pamela si gadis sialan ini memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi asli pria-pria itu!
Wulan langsung menunjukkan wajah sedih dan berkata, "Darius, aku nggak tahu kenapa bisa begini. Pria-pria yang aku pilihkan untuk Pamela adalah pria terbaik. Pihak agen kencan buta pasti sudah berbohong tentang informasi mereka!"
Pamela merasa lucu. "Tante Wulan, kamu bahkan nggak memverifikasi keaslian informasi pria itu, sudah bilang kalau mereka pria terbaik? Karena aku bukan putri kandungmu, jadi kamu nggak serius mengurus masalah pernikahanku? Ayah, kalau aku benar-benar menikah dengan pria tua seperti itu, apa ayah akan merasa bangga?"
Wulan segera menyusun kata-kata untuk menjelaskan, "Nggak, bukan begitu ...."
Namun, Darius tidak mau mendengarnya, dia melemparkan dokumen itu ke wajah Wulan dengan kecewa.
"Cukup! Mulai sekarang, pernikahan Pamela nggak perlu diurus kamu! Kartu kreditmu akan dihentikan dari bulan ini. Jangan sering keluar dan buang-buang uang. Tinggallah di rumah dan renungkan kesalahanmu!"
Wajah Wulan memucat. Dia segera berkata, "Darius, kamu benar-benar salah paham denganku ...."
Darius tidak lagi peduli padanya, dia menatap putri bungsunya dan berkata dengan rasa bersalah, "Pamela, akhir-akhir ini, kamu pasti sangat menderita karena bertemu banyak pria tua. Kelak , kamu nggak perlu pergi kencan buta."
Pamela tersenyum. "Terima kasih, ayah."
Setelah Darius naik ke lantai atas, Wulan memasang tampang galak dan menatap tajam ke arah Pamela!
Setelah Pamela merasakan tatapan marah Wulan, Pamela tetap berkata dengan tenang, "Oh ya, Tante Wulan, aku lupa bilang. Menurutku pria-pria terbaik yang tante pilih secara pribadi pasti akan jadi menantu yang tante sukai. Jadi, aku memberikan nomor pribadi Kak Jovita kepada pria-pria yang tante bilang terbaik itu. Semoga Kak Jovita bisa menjalin hubungan bahagia dengan mereka!"
Wulan mengertakkan gigi dan berkata dengan marah, "Apa? Ber ... beraninya kamu berbuat seperti itu?!"
Jovita adalah aktris populer. Mana mungkin pria rendahan itu pantas menghubungi Jovita!
Pamela tidak peduli lagi dengan Wulan. Dia menguap sambil naik ke lantai atas untuk tidur.
Wulan memaki Pamela dalam hati. Dia ingin kembali ke kamarnya untuk membujuk Darius agar tidak menghentikan kartu kreditnya, tetapi bel pintu malah berbunyi!
Siapa yang datang di waktu selarut ini?
Ketika membuka pintu, Wulan melihat seorang pria yang mengenakan jas, juga ada banyak pria berpakaian hitam di belakangnya. Mereka datang membawa banyak barang dengan berbondong-bondong.
Ketika ada banyak orang asing tiba-tiba datang di waktu selarut ini, Wulan menjadi waspada. Dia berkata, "Si ... siapa yang kalian cari?"
Ervin berkata, "Halo, Nyonya Alister. Kami kemari untuk mengantarkan mahar pada Nona Alister atas perintah tuan muda!"
"Mahar? Mahar apaan? Siapa tuan muda yang kalian maksud?"
"Tuan muda kami bernama Agam Dirgantara."
Mata Wulan terbelalak ketika pengunjung itu menyebutkan nama tuan mudanya dengan jelas.
"Agam ... Agam Dirgantara? Apa yang kalian maksud adalah Tuan Agam dari keluarga kelas satu Keluarga Dirgantara?"
Ervin menjawab, "Benar."
Wulan bertanya, "Maksud kalian, Tuan Agam tertarik dengan putriku?"
Ervin memasang raut wajah rumit. Setelah ragu-ragu sejenak, dia berkata, "Nggak masalah kalau nyonya ingin mengartikannya seperti itu."
Wulan berpikir bahwa putrinya, Jovita Alister adalah seorang aktris yang populer, cantik dan manis. Wajar saja jika seorang tuan muda dari keluarga yang berkuasa suka padanya.
Namun, identitas pelamar yang ingin melamar putrinya terlalu besar. Mereka bahkan datang dengan membawa mahar. Bukankah ini terlalu mendadak!
Melihat Wulan tidak memberikan jawaban dalam waktu yang lama, Ervin bertanya, "Apa Nyonya Alister nggak setuju dengan pernikahan ini?"
Wulan baru sadar dari lamunannya dan langsung menggelengkan kepalanya. Dia menjawab, "Bukan begitu. Hanya saja, sekarang putriku sedang nggak di rumah. Untuk hal sebesar ini, lebih baik menunggunya kembali sebelum ...."
Ervin menyela, "Nyonya Alister, putri nyonya sudah menerima cincin pertunangan dari tuan muda. Sekarang, nyonya hanya perlu menerima maharnya."
Apa?
Jovita sudah menerima cincin dari Tuan Agam? Kalau begitu, apa Wulan bisa mengartikan mereka berdua sudah menjalin hubungan yang lama?
Jovita ini benar-benar nakal, bisa-bisanya tidak memberi tahu mereka kalau dia mendapatkan pacar sebaik Tuan Agam!
Wulan tidak berani mengabaikan tamu terhormat ini, jadi dia buru-buru mempersilakan Ervin masuk.
Ervin tidak masuk, hanya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa masuk mahar ke dalam rumah.
"Tiga hari lagi, tuan muda akan datang untuk menikahi Nona Alister."
Wulan terkejut. "Hah? Tiga hari lagi? Bu ... bukankah itu terlalu terburu-buru?"
Ervin berkata, "Nyonya Alister, jangan khawatir. Tuan muda sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk pernikahan. Semuanya akan diadakan secara mewah. Nona Alister nggak akan dirugikan."
Semuanya serba mewah?
Tuan Agam benar-benar sangat royal kepada Jovita!
Ketika Jovita menikah dengan Agam, dia akan menjadi ibu mertua Tuan Agam. Dia tidak perlu khawatir tentang kekayaan dan kehormatannya.
Siapa pun yang bertemu dengannya akan bersikap hormat kepadanya.
Memikirkan hal ini sudah membuat hati Wulan sangat gembira.
"Baik! Tiga hari lagi, keluarga kami akan siap untuk mengantarkan putri kami untuk menikah!"
Ervin menganggukkan kepala, lalu pamit, "Kalau begitu aku pamit dulu. Sampai jumpa."
Darius keluar ketika mendengar keributan di luar. Dia bertanya, "Siapa? Apa ... apa-apaan ini?"
Hati Wulan berdebar-debar ketika dia menyentuh mahar mahal ini dan sangat menghargai semua mahar ini.
"Darius, ada kabar gembira. Tuan Agam dari Keluarga Dirgantara menyukai Jovita. Ini semua mahar dari Keluarga Dirgantara yang diberikan kepada Jovita. Semuanya sangat mahal!"
Darius menatap kosong ke arahnya, lalu bertanya, "Apa? Agam? Maksudmu Agam Dirgantara yang baru kembali dari luar negeri? Agam pimpinan Perusahaan Dirgantara?"
Wulan mengangguk berkali-kali, lalu menjawab, "Ya! Dia!"
Darius menutupi dadanya karena takut terkena serangan jantung akibat kaget.
"Astaga! Nggak disangka Jovita bisa disukai Tuan Agam!"
Wulan menjawab dan tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya, "Lihat dulu Jovita anak siapa!"
"Wulan, kamu melahirkan anak yang punya masa depan cerah!"
"Cih, sekarang kamu memujiku? Barusan kamu bilang mau membekukan kartu kreditku!"
"Hei, itu karena barusan aku marah padamu. Pamela memang bukan putri kandungmu, tapi kamu nggak bisa minta dia pergi kencan buta dengan pria tua seperti itu!"
"Aku nggak sengaja. Pamela dibesarkan di pedesaan, jadi punya sifat liar dan temperamen yang buruk. Aku cuma mencarikan pasangan yang lebih tua darinya biar bisa mentolerirnya. Tapi, orang agen kencan buta malah membohongiku tentang informasi itu!"
"Wulan, aku yang salah. Aku yang salah karena sudah salah paham padamu!"
Setelah berhasil membujuk Darius dengan beberapa kalimat, Wulan menjadi sangat gembira.
Pamela si gadis tengik itu ingin bertarung dengannya?
Dia masih terlalu muda untuk bisa menang darinya!
Namun, Jovita akan segera menikah dengan Agam Dirgantara. Masa-masa indah mereka berdua akan segera tiba!
Siapa yang punya waktu untuk meladeni Pamela!
Keesokan paginya, Wulan menelepon putri kesayangannya, Jovita dan menyuruhnya untuk segera pulang.
Jovita menggerutu dengan tidak senang begitu memasuki rumah, "Bu, kenapa minta aku pulang cepat-cepat? Nanti sore, aku masih harus syuting!"
"Tentu saja ini tentang pernikahanmu dengan tuan muda Keluarga Dirgantara!"
"Pernikahan? Pernikahan apa? Aku nggak kenal tuan muda Keluarga Dirgantara!"
Melihat putrinya yang terlihat seperti tidak tahu tentang hal itu, hati Wulan menjadi dingin. Dia langsung menceritakan semua kejadian tentang ada banyak orang datang ke rumah dan ingin melamar putrinya.
"Jovita, bagaimana mungkin kamu nggak kenal tuan muda Keluarga Dirgantara? Bukankah kamu sudah menerima cincin pertunangan yang diberikan oleh tuan muda Keluarga Dirgantara?"
Bab 4
Selesai ibunya bicara, Jovita masih bingung.
"Cincin? Kapan aku pernah menerima ... oh, oh ya! Bu, aku ingat. Kemarin ada penggemar tanpa nama kasih cincin berlian yang dikirimkan melalui kurir! Aku takut media akan membesar-besarkannya kalau mereka melihatnya, jadi aku menyimpannya dan nggak bawa pulang cincinnya!"
Wulan sangat senang ketika mendengarnya.
"Kalau begitu, Tuan Agam pasti sudah menyukaimu sejak lama dan mengejarmu dengan mengatasnamakan penggemarmu! Ibu sudah mencari tahu dan orang yang kemarin datang untuk memberi mahar memang asisten pribadi Tuan Agam!"
"Jovita, Keluarga Dirgantara adalah keluarga hebat. Tuan Agam juga sangat tulus. Nggak salah kamu menikah dengannya!"
Tuan Agam ....
Jovita hanya tersipu malu hanya dengan memikirkannya.
Dia belum pernah bertemu dengan Tuan Agam, tapi dia pernah mendengar Agam Dirgantara yang berasal dari Keluarga Dirgantara yang hebat itu. Dia merupakan raja di dunia bisnis!
Dia tidak pernah menyangka kalau Tuan Agam adalah penggemar beratnya, juga ingin menjadi suaminya. Dia cukup gila karena sampai datang langsung ke rumah dan melamarnya. Ini semua karena pesonanya terlalu besar.
...
Sorenya.
Pamela kembali dari luar sambil memegang bingkai foto di tangannya. Dia masuk ke dalam rumah, mengganti sandalnya dan langsung naik ke atas.
Kebetulan Jovita sedang turun dan sengaja menghalanginya.
"Apa yang ada di tanganmu? Apa kamu mencuri perhiasan dari mahar milikku?"
Pamela menghentikan langkah kakinya dan berkata lirih, "Ini barang pribadiku."
"Cih, ngomong doang. Lepaskan dan biarkan aku melihatnya!" Jovita selalu tidak suka pada adiknya yang dibesarkan di desa. Dia merasa kalau keberadaan Pamela telah menjatuhkan Keluarga Alister, jadi dia tidak pernah menghormatinya.
Setelah itu, dia mengulurkan tangan dan merebut benda yang Pamela lindungi dalam pelukannya.
"Wah! Aku pikir harta karun macam apa. Ternyata foto ibumu yang wanita simpanan!"
Ibunya bukanlah seorang wanita simpanan!
Pamela mengulurkan tangan untuk mengambil bingkai itu, tapi Jovita sengaja menjatuhkan bingkai itu ke lantai.
"Ups! Maaf, tanganku licin!"
Melihat bingkai foto yang terinjak Jovita, mata Pamela memerah.
Itu adalah foto lama ibunya yang berhasil dia temukan di album foto lama Keluarga Alister. Hari ini, dia mengambilnya untuk memperbaiki dan memperbesar fotonya. Dia akan menaruhnya di kamar sebagai hiasan meja.
Pamela yang marah mencengkeram baju Jovita dan berkata dengan nada dingin, "Ambil foto itu!"
Jovita melawan tanpa takut, "Beraninya kamu menyentuhku? Biar kuberitahu! Aku akan segera menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara. Kalau kamu macam-macam denganku, Keluarga Dirgantara akan membuatmu menderita!"
Pamela terkejut. Tunggu, Keluarga Dirgantara?
Kemarin, pria yang telah menyeretnya secara paksa ke pesta pertunangan juga memiliki marga yang sama. Sekarang, dia bergidik ngeri saat mendengar marga Dirgantara.
"Maksudmu Keluarga Dirgantara selaku keluarga hebat itu?"
Jovita menjawab dengan bangga, "Benar sekali! Kenapa? Kamu takut? Tuan Agam dari Keluarga Dirgantara adalah penggemarku dan ingin melamarku. Barang-barang di sana itu adalah mahar yang diberikan Keluarga Dirgantara untukku. Lebih baik kamu nggak menyentuhnya. Kalau kamu membuatnya rusak, kamu pasti nggak mampu ganti rugi."
Pamela menoleh dan melihat mahar yang ditunjuk oleh Jovita. Dia tertegun, seakan-akan telah menduga sesuatu.
Apa dia gila?
Pria itu datang ke rumahnya untuk memberikan mahar!
Setelah memikirkannya, Pamela berkata pada Jovita dengan mata berbinar, "Kalau begitu, aku harus mengucapkan selamat padamu. Tapi, apa kamu pikir keluarga besar seperti Keluarga Dirgantara bisa menerima menantu seorang aktris yang memiliki banyak skandal? Apa kamu pikir mereka akan menjadikanmu sebagai nyonya muda mereka?"
Jovita yang tersindir langsung berteriak marah, "Kamu nggak perlu khawatir! Tuan Agam sangat mencintaiku, jadi dia akan melindungiku dengan baik!"
"Benarkah?"
Pamela tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
Kemudian, Pamela mengambil foto ibunya dan menepuk-nepuk debu yang menempel di foto tersebut, dia berbalik dan naik ke atas.
Dia masih khawatir bagaimana caranya keluar dari masalah setelah terjebak dengan pria yang diciumnya kemarin. Karena Jovita sangat ingin menikah dengannya, masalah itu akan teratasi.
Jovita berdecak ketus mulai mengkhawatirkan sesuatu.
Kata-kata Pamela si gadis desa itu bukannya tidak masuk akal. Keluarga Dirgantara adalah keluarga hebat dan dia hanyalah seorang aktris yang tidak terlalu populer. Akan buruk jika anggota Keluarga Dirgantara mengetahui skandalnya, lalu memiliki kesan buruk terhadapnya.
Dengan pemikiran ini, Jovita memutuskan untuk segera keluar dari dunia hiburan ini!
Dibandingkan dengan menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara, hasil yang didapatkan dengan menjadi aktris tidak seberapa.
Jovita baru mau menelepon perusahaan untuk memberitahukan tentang pengunduran dirinya, tetapi tiba-tiba ponselnya berdering dulu.
Entah mengapa akhir-akhir ini dia mendapat begitu banyak telepon yang mengganggu. Awalnya dia tidak berniat mengangkatnya.
Namun, ketika melihat nama "pria pemberi uang" yang baru berhasil dia dekati, Jovita pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya, jadi Jovita mengangkat teleponnya.
"Sayang, kamu di mana? Aku kangen sekali padamu. Malam ini datang ke hotel, ya! Temani aku!"
Jovita berkata dengan jijik, "Jangan panggil aku sayang. Tua bangka yang nggak tahu jijik, bikin jijik saja!"
"Apa katamu? Aku menjijikkan? Kamu lupa seperti apa kamu memohon padaku agar kamu bisa menang Penghargaan Lotus untuk pemeran utama wanita berikutnya!"
Jovita tidak peduli. "Aku sudah keluar dari dunia hiburan! Aku nggak peduli lagi dengan pemeran utama Penghargaan Lotus atau apa pun itu. Kamu bisa kasih sama siapa pun yang kamu mau! Jangan menghubungiku lagi!"
Di ujung telepon, pria tua itu sangat marah hingga wajahnya berubah menjadi masam.
Dia sudah membelikan wanita ini cincin berlian dan mengirimnya melalui pengiriman kilat. Akan tetapi, wanita sialan ini malah memakinya setelah menerima cincin yang dia berikan!
Wanita tidak tahu diri! Jangan harap dia bisa berkecimpung di dunia hiburan lagi! Tunggu saja, dia akan diboikot!
...
Tiga hari kemudian.
Keluarga Alister mengadakan pesta pernikahan untuk putrinya. Teman-teman serta keluarga datang untuk memberi selamat.
Wulan sengaja meminta Darius untuk membuat pesta yang besar. Dia ingin menikahkan Jovita dengan mengadakan pesta yang meriah.
"Lihat, itu iring-iringan pengantin dari Keluarga Dirgantara! Megah sekali. Pantas mereka jadi keluarga hebat. Semua mobil yang datang sangat mewah dan edisi terbatas!"
"Aku cuma pernah melihat mobil itu di majalah. Harganya bisa beli sepuluh mobil Toyota!"
"Aku iri banget sama Kak Jovita. Dia bisa menikah sama orang hebat seperti Tuan Agam!"
Mendengar seruan dan sanjungan dari kerabat, serta teman-temannya, Jovita yang sudah mengenakan gaun pengantin merasa sangat puas. Dia bangga sekali.
Omong-omong, tidak ada yang melihat Pamela keluar. Mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat karena iri padanya.
Cih, biarkan dia iri saja! Iri pun tidak akan membuat dia mendapatkan apa yang dia inginkan!
Jovita sudah tidak sabar untuk bertemu dengan calon suaminya. Kira-kira pria seperti apa Tuan Agam ini?
Dia pasti sangat tampan. Nanti, pria itu akan berlutut di hadapannya dan menyatakan cintanya di bawah tatapan iri semua tamu yang datang.
Iring-iringan mobil pengantin berhenti di depan kediaman Keluarga Alister.
Tubuh Agam yang tinggi dan tegap melangkah keluar dari mobil pengantin utama. Dia memancarkan kesan megah dan elegan.
Ervin memberi isyarat kepada para pengiring pengantin pria yang sudah mengenakan setelan jas untuk keluar dari mobil yang lain, lalu mengikuti tuan muda menuju gerbang kediaman Keluarga Alister.
Tiba-tiba, Agam sang mempelai pria menghentikan langkah kakinya dan mendongak ke atas. Matanya yang tajam memindai atap rumah Keluarga Alister!
Di balkon kecil tidak jauh di sana, seorang wanita yang mengenakan piama tengah berdiri di sisi pagar dan melihat iring-iringan yang datang.
Hanya menatap Agam sebentar saja, wanita itu lekas berbalik dan menghilang.
Pamela merasakan bahaya. Saat dia melihat iring-iringan dari balkon, dia melihat kalau Tuan Agam menemukan keberadaannya!
Namun, hari itu dia mengenakan riasan sangat tebal. Saat ini, dia sudah menghapus riasannya. Seharusnya Tuan Agam tidak bisa mengenalinya, 'kan?
Untuk berjaga-jaga, bukan ide yang baik untuk tinggal di rumah. Jadi, dia harus pergi.
Di lantai bawah, melihat Agam tiba-tiba berhenti, Ervin dibuat bingung. Dia menghampiri Agam, lalu berkata, "Tuan muda, rumah Keluarga Alister ada di depan. Kalau Tuan nggak masuk, tuan mungkin akan melewatkan waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan."