Bab 3
Dia meletakkan sumpitnya dan pergi terburu-buru di depan semua orang.
Dia meninggalkan meja penuh tamu yang kikuk, termasuk orang tuaku.
Aku tidak pernah lupa rasa sakit itu. Saat aku kesakitan karena komplikasi keguguran, aku menekan bel memanggil perawat.
Fandi justru ada di kamar lain, hati-hati menggendong bayi itu. Dia bersenandung lagu nina bobo yang sumbang, berusaha menidurkannya. Wajahnya penuh kelembutan yang belum pernah kulihat.
Dia memberi bayi itu nama, Nino Paton.
Nama itu sebenarnya kusiapkan untuk anakku. Nama penuh harapan dan cinta.
Sekarang nama itu diberikan pada anak haramnya.
Anakku bahkan tidak punya batu nisan. Dia hilang begitu saja, seakan tidak pernah ada di dunia ini.
Aku keluar dari rumah sakit dan Keluarga Paton diam-diam mengadakan pesta kecil di rumah besar mereka.
Mereka mengelilingi bayi itu. Mereka mengaguminya dan menatapnya penuh gembira.
Fandi sepanjang waktu berdiri di sisi Yessy dan anaknya. Dia menuangkan air, merapikan selimut, menatap penuh kelembutan.
Dia sesekali melirikku, tatapannya hanya berisi peringatan agar aku cepat menyesuaikan diri dengan suasana itu. Tidak ada yang lain.
Hatiku sebenarnya sudah mati rasa.
Tapi, melihat semua itu, aku tetap merasa sakit.
Aku berbalik, berniat masuk kamar untuk mengemasi barang-barangku.
Yessy menghadangku sambil menggendong anaknya.
Wajahnya tidak lagi lembut dan rapuh. Dia kini terlihat sinis, penuh kemenangan.
"Aku tahu kamu benci aku. Kamu juga benci anak ini. Tapi, kamu tahu nggak?"
"Nino itu sama sekali bukan hasil donor sperma Fandi."
Langkahku langsung terhenti. Darahku seakan membeku di seluruh tubuh.
Yessy mendekat satu langkah lalu merendahkan suara. "Malam itu hujan deras, kita berdua sama-sama mabuk."
"Kamu tahu, ada hal-hal yang berjalan alami. Kita benar-benar tidur bersama!"
"Mana ada bayi tabung. Itu cuma alasan Fandi buat menenangkan kamu. Dia takut kamu ribut dan merusak nama baik Keluarga Paton."
Jadi begitu.
Semua balas budi itu.
Semua teknologi tinggi itu.
Semuanya cuma kebohongan!
Rasa muak dan marah karena dibodohi langsung menelanku bulat-bulat.
Aku gemetar hebat karena amarah.
Tiba-tiba Yessy meraih tanganku lalu menampar wajahnya sendiri dengan keras.
"Plak!" Suara tamparan palsu terdengar nyaring.
Dia memeluk anaknya, lalu "bruk" terdengar suara dia jatuh berlutut di depanku.
Setelah itu dia menangis melengking. "Kakak! Maaf! Semua salahku! Aku mohon! Tolong ampuni aku dan anakku!"
"Kalau kamu mau marah, kamu pukul aku saja. Anak ini nggak salah apa-apa! Aku cuma punya dia. Kalau dia sampai kenapa-kenapa, aku juga nggak bisa hidup lagi…"
Aku menatap sandiwara murahan itu, belum sempat bereaksi, tapi suara teriakan Fandi sudah mendahuluinya.
"Yuli! Kamu lagi apa!"
Dia menarik Yessy ke belakangnya dan melindunginya. Tatapannya padaku penuh terkejut, kecewa, dan amarah yang tak bisa dipercaya.
Aku menatapnya tenang. "Aku nggak begitu, itu dia…"
"Plak!" sebuah tamparan keras menutupi suaraku.
Sebuah tamparan penuh tenaga mendarat di wajahku.
Dunia mendadak jadi hening.
Aku menatap pria yang dulu bersumpah mencintaiku. Wajah bengisnya membuatku merasa lelah.
Aku sama sekali tidak sedih.
Hal yang tersisa hanya benci yang begitu dalam dan tekad yang dingin.
"Fandi," suaraku terdengar datar dan tenang, terlalu tenang. "Kita cerai."
Fandi berteriak penuh amarah.
"Kamu pakai cerai buat ancam aku lagi! Kamu kira aku beneran nggak bisa hidup tanpa kamu, ya?"
Bab 4
Aku mengeluarkan surat cerai dari dalam tas dan menyerahkannya ke tangannya.
"Jangan buang waktu lagi, tanda tangan sekarang."
"Kalau nggak, aku nggak keberatan bikin seluruh Keluarga Paton masuk berita besok. Kamu juga pasti nggak mau semua orang tahu kalau Pak Fandi sama selingkuhannya mukulin istri asli yang baru keguguran, lalu maksa dia nerima anak haram, 'kan?"
Fandi bicara dingin. "Kamu bisa nggak jangan ribut. Hal sekecil ini perlu dibesar-besarkan?"
Aku diam. Aku hanya mendorong surat cerai itu lagi ke depannya.
Dia menatap bibirku yang berdarah dan mataku yang penuh tekad. Rasa jengkel langsung naik ke kepalanya.
"Bagus! Yuli! Kamu hebat sekali!"
Dia hampir meraung, meraih pena, menorehkan tanda tangannya tanpa membaca sepatah kata pun.
"Tanda tangan! Aku tanda tangan! Sesuai mau kamu! Sekarang pergi! Bawa semua barangmu keluar dari Keluarga Paton! Aku mau lihat, setelah ninggalin aku, kamu yang keguguran dan ditinggalkan ini bisa jadi apa!"
Setelah selesai, dia melemparkan surat cerai itu padaku seperti barang kotor. Lalu dia berbalik memeluk Yessy, suaranya lembut menenangkan.
"Yessy, jangan pedulikan perempuan gila ini. Kita bawa Nino pulang."
"Nanti kalau anak kita ulang tahun seratus hari, kita foto keluarga bareng."
Aku meraih surat cerai itu. Aku tidak menoleh sedikit pun. Aku langsung berbalik dan pergi.
Aku buru-buru mengemasi barang-barangku.
Hanya pakaian, dokumen, dan beberapa perhiasan peninggalan ibuku.
Semua milik Fandi tidak kusentuh.
Rumah ini, tempat lima tahun pernikahan yang akhirnya cuma menyisakan sakit dan pengkhianatan. Sedetik pun tak sudi aku tinggali.
Aku menarik koper keluar dari gerbang vila Keluarga Paton. Sinar matahari terasa menyilaukan.
Aku menelpon Lukas.
"Lukas," suaraku datar, "Fandi sudah tanda tangan. Barang-barangku juga sudah aku bereskan."
Lukas terdiam sebentar, lalu bersuara berat.
"Kirim alamatmu, aku jemput kamu."
Dia berhenti sejenak. Suaranya terdengar tegang tapi juga penuh harap. "Kapan aku, si cadangan ini, bisa naik jabatan?"
Tatapanku tetap tenang.
"Setelah aku dapat surat cerai dan benar-benar putus dengan Keluarga Paton."
"Kamu boleh naik, tapi aku mau lihat Keluarga Paton jatuh."
Satu bulan kemudian.
Aku resmi bercerai lewat jalur hukum.
Saat memilih gaun pengantin, aku dengar dari temanku. Fandi yakin aku cuma marah, suatu hari aku pasti balik memohon maaf.
Dia bahkan merasa aku sedang main tarik-ulur. Menurutnya perceraian ini cuma cara untuk kasih dia kejutan besar.
Aku menatap bayangan diriku di cermin dengan gaun putih. Aku pun tersenyum.
Ada kejutan memang, tapi untuk dia.
Dua hari kemudian, Fandi membawa Yessy dan anaknya ke lokasi yang sudah disiapkan untuk foto keluarga.
Dia baru saja turun dari mobil.
Suara petasan dan musik meriah datang dari jauh, makin lama makin dekat.
Dia spontan mengerutkan kening dan menoleh.
Di jalan utama, beberapa mobil pelan-pelan melintas.
Mobil paling depan adalah Rolls-Royce Phantom. Bodi mobil dihiasi mawar putih dan pita sutra. Di bagian depan terpasang jelas huruf besar "Pengantin Baru". Itu jelas mobil pengantin.
Fandi awalnya tidak peduli dan hendak mengalihkan pandangan.
Namun, kaca jendela mobil itu perlahan turun. Siluet wajah pengantin wanita terlihat jelas.
Wajah itu sangat ia kenal.
Senyum di wajah Fandi seketika membeku. Matanya mengecil tajam seakan disambar petir.
"Yuli!"