Bab 2

Tak disangka, kata yang kulontarkan setelah berpikir sekian lama malah membuat semua orang tertawa.

“Kak Nadine, ini ... ini terlalu berlebihan deh? Kami itu teman yang bicarakan apa saja. Aku juga sering ngomong istriku gendut. Memangnya kenapa? Hahaha!”

Semua orang tertawa lagi, seolah-olah menggosipkan istri masing-masing adalah sesuatu yang patut dibanggakan.

Aku balik bertanya, “Memangnya pria yang menertawakan istrinya itu patut dibanggakan? Orang kayak gitu cuma bisa disebut pengecut!”

Begitu aku selesai berbicara, Jordan langsung menggebrak meja dan menunjukku dengan galak. “Jangan keterlaluan kamu! Memangnya kenapa kalau kami mau ngomong? Itu cuma masalah sepele, kenapa nggak boleh dibicarakan? Asal kamu tahu, semua temanku sudah tahu soal insiden itu!”

Seusai menegurku, dia buru-buru menghibur teman-temannya, “Kalian nggak usah pedulikan dia. Dia memang kekanak-kanakan ....”

Kemudian, dia melirikku lagi dan mengisyaratkan ibunya untuk membawaku ke kamar.

Ibu mertuaku menarikku sambil menegur, “Jangan menggila lagi! Cepat kembali ke kamar!”

Aku langsung mengangkat pisau dapur yang kupegang dan menyahut, “Aku nggak akan kembali kecuali Jordan minta maaf sama aku!”

Ibu mertuaku langsung ketakutan. Dia melepaskan lenganku, lalu buru-buru mundur beberapa langkah. Orang lainnya masih minum alkohol sambil melirik ke arah Jordan yang terdiam.

“Minta maaf saja. Kalau nggak, nanti kamu benar-benar ditikamnya!”

“Bukannya kamu bilang dia itu pengecut? Kali ini, dia sudah lawan kamu! Hahaha.”

“Jordan, minta maaflah ....”

...

Semua orang mengira aku sedang bercanda dan tidak menanggapi ucapanku dengan serius. Mereka bahkan juga menjadikanku bahan lelucon. Pada saat mereka masih tertawa terbahak-bahak, aku langsung menancapkan pisauku itu ke meja. Peralatan makan di meja pun jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.

Dalam sekejap, semua orang langsung tercengang dan buru-buru menghindari ke samping untuk menjauhiku.

Aku berkata dengan ekspresi yang sangat tegas, “Minta maaf.”

Melihat aku benar-benar sudah marah dan sedang berbicara dengan serius, Jordan langsung panik. “Oke, aku minta maaf. Sudah, ‘kan?”

Setelah mendengar Jordan minta maaf padaku, teman-temannya itu langsung lega. Kemudian, mereka mengambil jaket masing-masing dari kursi.

“Umm ... aku masih ada urusan. Kita akhiri saja pertemuan hari ini ....”

“Benar, kita kumpul lagi saja lain hari.”

“Ayo jalan!”

...

Setelah semua orang pergi, Jordan baru kembali bossy. “Apa-apaan kamu! Sekarang, semua orang sudah pergi. Kamu sudah senang? Memalukan banget!”

Jordan memelototiku, lalu berjalan ke arah kamar dan membanting pintu dengan kuat.

Ibu mertuaku masih takut padaku. Dia melirik keadaan rumah yang kacau, lalu berkata dengan hati-hati, “Ayo kita bereskan saja dulu semuanya.”

Aku tersenyum tipis padanya, lalu menyerahkan pisau dapur yang menancap di meja itu padanya sambil berkata, “Kamu bereskan saja sendiri. Aku nggak peduli lagi.”

Setelah itu, aku langsung mengambil jaket dan keluar dari rumah. Sejujurnya, sudah lama aku tidak merasa sesantai ini. Ini sudah lewat jam 1 dini hari, taksi yang lewat di jalanan cuma beberapa dan juga sedang ditumpangi. Aku pun berjalan kaki ke rumahku sendiri. Jaraknya hanya sekitar setengah jam dengan berjalan kaki.

Pada saat ini, aku baru menyadari bahwa meninggalkan keluarga ini sebenarnya tidak sesulit itu.

Bab 3

Di tengah jalan, ponselku tiba-tiba berbunyi. Itu adalah notifikasi pesan di grup teman sekolah kami dulu.

[ Cynthia sudah mau debut, lho! Nggak disangka, ada orang dari kelas kita yang jadi seleb! Aku bangga banget! @All ]

Begitu membaca ini, hatiku pun berdebar. Semua tragedi yang menimpaku selama masih SMA kembali muncul di ingatanku.

Benar, Cynthia adalah orang yang memimpin gengnya untuk menindasku saat masih SMA. Bahkan ada sekali, dia memukulku sampai sekarat. Cynthia adalah teman masa kecil Jordan, juga wanita yang diam-diam disukai Jordan dan termasuk cinta pertama Jordan.

Aku berjongkok dengan tubuh gemetar sambil membaca pesan dari teman-teman lain yang membalas dengan sepatah kata “selamat”. Sementara itu, Jordan malah mengirim sebuah pesan selamat yang panjang.

Aku tidak pernah melihat dia bersikap seantusias ini. Setiap katanya itu dipenuhi dengan kasih sayang. Sangat jelas bahwa dia masih menaruh perasaan pada Cynthia sampai sekarang.

Aku merasa hal ini sangat konyol. Setengah jam yang lalu, dia masih marah padaku. Sekarang, dia malah mulai mengenang kenangan indah semasa sekolah dengan cinta pertamanya itu di obrolan grup. Aku tidak berhenti mengusap luka di tanganku dan merasakan rasa sakit yang sama dengan hatiku.

Tepat pada saat aku membuka obrolanku dengan Jordan dan hendak membicarakan dengan jelas tentang perceraian kami, Cynthia tiba-tiba menambah kontakku. Aku mulai merasa panik dan menjadi agak sesak napas.

Setelah menenangkan diri, aku akhirnya menyetujui permintaan Cynthia itu dengan jari gemetar.

[ Nadien, lama nggak jumpa, ya! Gimana kabarmu akhir-akhir ini? ]

Sampai sekarang, aku masih tidak tahu harus bagaimana berinteraksi dengannya. Rasa takut itu bahkan masih membekas dalam benakku. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mengabaikan pesan itu, lalu berdiri dan lanjut berjalan ke rumah.

Namun, Cynthia malah mengirim pesan padaku lagi.

[ Sikapku terhadapmu saat masih SMA memang sangat keterlaluan. Waktu itu, aku masih muda. Maaf banget, ya. ]

[ Kamu bisa maafkan aku nggak? Aku sudah sadari kesalahanku. Hal itu sudah berlalu lama. Kamu jangan permasalahkan lagi, ya? ]

...

Cynthia mengirim belasan pesan berisi permintaan maaf. Dia bahkan mencoba untuk memanipulasiku. Seolah-olah jika aku tidak memaafkannya, itu berarti aku akan mengancamnya dengan kesalahannya itu.

Namun, hanya orang yang pernah mengalami penderitaan seperti itu yang tahu betapa menyakitkannya hal itu. Atas dasar apa dia memintaku memaafkannya dengan semudah ini sekarang?

Terlebih lagi, Jordan juga tidak berhenti mengungkit tentang insiden itu di hadapanku setiap hari. Aku sangat sulit untuk melupakannya. Pada saat ini, aku juga akhirnya paham. Jordan tidak berhenti mengungkit hal ini karena sedang menggantikan Cynthia untuk menindasku ....

Melihat dia sudah selesai mengatakan hal yang ingin diucapkannya, aku hanya membalas dengan singkat.

[ Hal yang sudah terjadi nggak akan bisa diubah lagi untuk selamanya. ]

Setelah itu, aku langsung memblokir kontaknya. Aku tentu saja tahu apa tujuannya meminta maaf padaku. Dia sudah akan debut, makanya dia baru minta maaf padaku. Dengan begitu, dia bisa menghindari risiko aku mengungkit hal ini kelak.

Sampai sekitar jam 5 dini hari, Jordan baru menyadari aku benar-benar melarikan diri dari rumah.

[ Bisa nggak kamu jangan begitu berhati sempit? ]

[ Baru ngomongin kamu dikit, kamu sudah kabur dari rumah, juga ancam aku pakai pisau! Kamu nggak takut ditertawakan orang? ]

Aku diam-diam berpikir. Berhubung Jordan begitu suka “bercanda”, aku juga akan bercanda dengan cinta pertamanya itu!

Bab 4

Jordan tidak berhenti meneleponku, bahkan pura-pura mengaku salah.

“Nadine, jangan marah lagi. Aku ngomong begitu cuma karena panik sesaat. Kelak, aku nggak akan ungkit lagi. Oke?”

Aku langsung mengirim tangkapan layar pengakuan cinta yang dikirimnya ke grup kepadanya tanpa mengatakan apa pun.

Jordan sontak panik dan terdiam beberapa saat. Kemudian, dia baru berseru terkejut, “Ka ... kamu masih ada di dalam grup, ya .... Maaf, aku nggak tahu. Aku cuma kasih dia selamat. Nggak ada maksud lain kok.”

Aku mengerti maksudnya. Sebab, aku pernah ditendang keluar dari grup oleh Cynthia dan dijauhi semua teman sekelas. Hanya saja, setelah tamat, ketua kelas kami menambahkan aku kembali ke grup. Jordan mungkin tidak memperhatikan hal ini.

Aku menjawab dengan dingin, “Kamu nggak usah kasih aku penjelasan. Aku nggak nyangka ternyata kamu masih berhubungan dekat sama orang yang menindasku. Pantas saja kamu selalu bela dia, bahkan berulang kali mengorek lukaku!”

Jordan menghela napas panjang dan menjawab, “Kamu berpikir kejauhan. Aku dan dia itu teman sejak kecil. Bukannya wajar kami punya hubungan yang baik? Sekarang, dia sudah sukses. Memangnya salah aku kasih dia selamat?”

“Hari ini, ada pesta selamatan anak Kakak yang genap sebulan. Nanti, aku akan menjemputmu. Kalau kamu nggak pergi, orang lainnya akan tertawakan aku,” tambah Jordan. Setelah itu, dia langsung memutuskan sambungan telepon.

Aku tidak peduli apa dia akan malu atau tidak. Apalagi, dia juga begitu tebal muka. Namun, aku seharusnya cari kesempatan untuk mendiskusikan masalah perceraian dengannya. Hal yang terpenting adalah, aku harus mengumpulkan beberapa bukti. Ini adalah kesempatan terbaikku.

Setelah menjemputku, dia tidak berhenti mengeluh sepanjang perjalanan, juga menggunakan nada menyalahkan. “Ibu sudah nggak tahan. Dia bilang kamu itu menantu yang merepotkan.”

Begitu mendengar hal itu, aku langsung tertawa. Ibu mertuaku memang berwatak lembut, tetapi dia hanya baik terhadap orang luar. Setiap kali dia dibuat kesal oleh orang lain, dia akan melampiaskan kekesalannya padaku setelah pulang. Saat ini, aku sudah sepenuhnya mengerti kenapa orang lemah selalu tertindas.

Aku mencibir, “Aku nggak peduli gimana ibumu menilaiku. Hari ini, aku datang bukan untuk maafkan kamu, melainkan untuk ajukan cerai padamu. Kesabaranku terhadap kalian sekeluarga yang nggak punya etika sudah habis.”

Jordan pun tiba-tiba menginjak pedal rem dan menghentikan mobil di samping jalan. Dia menggenggam erat kemudi mobil sambil memelototiku. “Coba katakan dengan jelas, siapa yang nggak punya etika? Bukannya kamu sendiri yang terlalu rapuh? Cuma karena sebuah candaan, kamu mau ribut selama ini denganku!”

Aku pun tertawa. “Aku serius mau cerai. Aku nggak mau lagi dengar keluhanmu. Kamu cuma berani berlagak hebat di depanku!”

Begitu mendengar ucapanku, Jordan langsung murka dan sama sekali tidak bisa bersuara. Dia hanya bisa lanjut menjalankan mobil dengan kesal.

Berdasarkan pemahamanku terhadapnya, dia tidak mungkin bisa mengubah kebiasaan buruknya ini.

Pesta yang diadakan kakaknya Jordan ini hanyalah pesta kecil-kecilan untuk keluarga tanpa ada orang luar. Begitu melihatku, ibu mertuaku buru-buru menjelek-jelekkan menantunya yang “kekanak-kanakan”.

Ibu mertuaku pada dasarnya memang pintar menyindir orang. “Kalian tahu nggak? Hari itu, Jordan cuma bercanda sama dia, tapi dia langsung permalukan Jordan di hadapan begitu banyak orang. Sekarang, dia juga kabur dari rumah. Menantuku itu benar-benar suka timbulkan masalah!”

Di bawah tatapan semua orang, aku berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau nggak suka sama aku, aku nggak keberatan untuk cerai.”

Seusai berbicara, aku langsung duduk dengan santai dan mengabaikan ibu mertuaku. Sementara itu, Jordan adalah anak yang paling “berbakti”. Dia langsung menghampiriku, lalu berbisik untuk memperingatiku, “Jangan timbulkan masalah untukku! Kalau ada apa-apa, kita bicarakan saja di rumah!”

Namun, semuanya sudah terlambat. Semua orang yang hadir mulai mendiskusikan tentang “perceraian” yang kusebutkan tadi.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B48821" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B48821
Salin

Gurauan yang Berakhir Tragis

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya