Bab 1

Begitu mulai makan, suamiku langsung tidak dapat mengendalikan mulutnya. Pengalaman tragisku saat masih sekolah pun menjadi “obrolan” dia dan teman-temannya.

“Dulu, dia ditelanjangi di kamar mandi. Habis itu, dia dipukul sampai merangkak di lantai, tapi tetap nggak berani bersuara. Kalau bukan karena aku baik hati ....”

Kesabaranku akhirnya sudah habis. Aku pun mengajukan cerai.

Namun, dia tidak peduli. “Ini cuma candaan kok. Lagian, kejadian itu sudah berlalu begitu lama. Kok kamu kecil hati banget! Kami cuma mau senang-senang kok!”

Mau senang-senang? Memangnya hanya aku sendiri yang punya masa lalu? Kenapa dia tidak mengungkit tentang skandal teman semasa kecilnya?

Baiklah. Hanya “mau senang-senang”, ‘kan? Aku harap teman semasa kecilnya itu juga berpikiran sama!

Jordan, suamiku itu sangat suka dan sering menyuruh teman-temannya datang berkumpul di rumah kami. Setiap kali melihat tatapan mereka terhadapku, aku selalu merasa tidak nyaman.

Kali ini, aku sudah terlebih dahulu berpesan pada suamiku, “Kalian keluar saja malam ini. Mau habiskan berapa banyak juga nggak masalah. Yang penting ....”

Namun, sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku, ekspresi Jordan sudah langsung berubah. “Kenapa? Kami kan cuma kumpul untuk ngobrol-ngobrol. Setiap kali, kamu selalu berdebat denganku tanpa peduli sama harga diriku. Kalau makan di luar, mereka akan kira aku nggak senang sama mereka ....”

Aku menatapnya dengan ekspresi lucu. “Memangnya yang kamu bilang itu cuma obrolan biasa? Kamu selalu ngomong soal aku yang ditindas dulu pakai nada merendahkan untuk menyenangkan mereka. Apa kamu pernah pikirkan perasaanku?”

Ibu mertuaku yang sedang mempersiapkan makanan langsung menimpali karena takut putranya sedih, “Duh, hatimu rapuh banget! Memangnya bercanda saja nggak boleh? Kami saja nggak keberatan kamu begitu pengecut ....”

Aku sontak murka dan dikejutkan oleh keluarga suamiku yang sangat suka bercanda. Melihat aku yang terpaku di tempat, Jordan membujukku kembali ke dapur, “Cepat masak sana. Teman-temanku sudah mau sampai. Kita bicarakan saja lagi sisanya nanti malam.”

Saat ini, aku merasa sangat tegang dan tidak berhenti mengawasi Jordan yang sedang bersenang-senang di luar. Berhubung tidak fokus, aku tidak sengaja mengiris jariku. “Aduh!”

Melihat darah yang menetes ke pisau dapur, aku pun mengerutkan kening karena kesakitan. Pada saat ini, aku baru menyadari bahwa orang-orang yang duduk di meja makan sedang memperhatikan aku.

Tiba-tiba, ada seorang pria bersuara nyaring mencibir, “Jordan, istrimu itu rapuh banget! Baru terluka dikit saja, dia sudah teriak. Selama ini, kamu pasti sering mengkhawatirkannya, ‘kan?”

Tak disangka, Jordan malah secara alami mengubah alur pembicaraan ke topik yang paling disukainya. “Haih! Kalian nggak tahu, dia memang sudah rapuh dari kecil. Kalau bukan begitu, mana mungkin ada orang yang anggap dia jadi kayak karung tinju. Tiap kali dipukul, dia akan rengek sama aku. Repotin banget pokoknya ....”

Orang lainnya juga segera menambahkan, “Benar. Istrimu memang terlalu penakut.”

Setelah mendapat respons dari orang lainnya, Jordan makin bersemangat. Dia makan sesuap, lalu lanjut berkata, “Entah karena dia terlalu jelek atau lemah, dia selalu dipukul tanpa bisa melawan. Berhubung kami tumbuh besar bersama, aku baru tahu semuanya tentang dia. Kalau nggak, aku ....”

Jordan tiba-tiba berhenti berbicara. Saat mendongak, dia baru menyadari bahwa aku sudah berdiri di sampingnya dengan memegang pisau dapur. Dia sempat menegang sesaat, lalu baru tersenyum dan berkata, “Ngapain kamu? Aku cuma bercanda kok, kamu nggak usah begitu berlebihan.”

Berlebihan? Dia sudah menganggap trauma masa kecilku sebagai lelucon, tetapi masih mengatakan aku berlebihan? Aku baru memahami bahwa orang terdekatmu adalah orang yang tahu cara terampuh untuk menyakitimu.

Aku menggenggam pisau dapur dengan erat hingga buku-buku jariku memutih. Tubuhku juga gemetar tak terkendali. Di bawah tatapan tegang semua orang, aku menenangkan diri sesaat, lalu berkata, “Mau cerai atau pisau ini? Pilih salah satu.”

Bab 2

Tak disangka, kata yang kulontarkan setelah berpikir sekian lama malah membuat semua orang tertawa.

“Kak Nadine, ini ... ini terlalu berlebihan deh? Kami itu teman yang bicarakan apa saja. Aku juga sering ngomong istriku gendut. Memangnya kenapa? Hahaha!”

Semua orang tertawa lagi, seolah-olah menggosipkan istri masing-masing adalah sesuatu yang patut dibanggakan.

Aku balik bertanya, “Memangnya pria yang menertawakan istrinya itu patut dibanggakan? Orang kayak gitu cuma bisa disebut pengecut!”

Begitu aku selesai berbicara, Jordan langsung menggebrak meja dan menunjukku dengan galak. “Jangan keterlaluan kamu! Memangnya kenapa kalau kami mau ngomong? Itu cuma masalah sepele, kenapa nggak boleh dibicarakan? Asal kamu tahu, semua temanku sudah tahu soal insiden itu!”

Seusai menegurku, dia buru-buru menghibur teman-temannya, “Kalian nggak usah pedulikan dia. Dia memang kekanak-kanakan ....”

Kemudian, dia melirikku lagi dan mengisyaratkan ibunya untuk membawaku ke kamar.

Ibu mertuaku menarikku sambil menegur, “Jangan menggila lagi! Cepat kembali ke kamar!”

Aku langsung mengangkat pisau dapur yang kupegang dan menyahut, “Aku nggak akan kembali kecuali Jordan minta maaf sama aku!”

Ibu mertuaku langsung ketakutan. Dia melepaskan lenganku, lalu buru-buru mundur beberapa langkah. Orang lainnya masih minum alkohol sambil melirik ke arah Jordan yang terdiam.

“Minta maaf saja. Kalau nggak, nanti kamu benar-benar ditikamnya!”

“Bukannya kamu bilang dia itu pengecut? Kali ini, dia sudah lawan kamu! Hahaha.”

“Jordan, minta maaflah ....”

...

Semua orang mengira aku sedang bercanda dan tidak menanggapi ucapanku dengan serius. Mereka bahkan juga menjadikanku bahan lelucon. Pada saat mereka masih tertawa terbahak-bahak, aku langsung menancapkan pisauku itu ke meja. Peralatan makan di meja pun jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.

Dalam sekejap, semua orang langsung tercengang dan buru-buru menghindari ke samping untuk menjauhiku.

Aku berkata dengan ekspresi yang sangat tegas, “Minta maaf.”

Melihat aku benar-benar sudah marah dan sedang berbicara dengan serius, Jordan langsung panik. “Oke, aku minta maaf. Sudah, ‘kan?”

Setelah mendengar Jordan minta maaf padaku, teman-temannya itu langsung lega. Kemudian, mereka mengambil jaket masing-masing dari kursi.

“Umm ... aku masih ada urusan. Kita akhiri saja pertemuan hari ini ....”

“Benar, kita kumpul lagi saja lain hari.”

“Ayo jalan!”

...

Setelah semua orang pergi, Jordan baru kembali bossy. “Apa-apaan kamu! Sekarang, semua orang sudah pergi. Kamu sudah senang? Memalukan banget!”

Jordan memelototiku, lalu berjalan ke arah kamar dan membanting pintu dengan kuat.

Ibu mertuaku masih takut padaku. Dia melirik keadaan rumah yang kacau, lalu berkata dengan hati-hati, “Ayo kita bereskan saja dulu semuanya.”

Aku tersenyum tipis padanya, lalu menyerahkan pisau dapur yang menancap di meja itu padanya sambil berkata, “Kamu bereskan saja sendiri. Aku nggak peduli lagi.”

Setelah itu, aku langsung mengambil jaket dan keluar dari rumah. Sejujurnya, sudah lama aku tidak merasa sesantai ini. Ini sudah lewat jam 1 dini hari, taksi yang lewat di jalanan cuma beberapa dan juga sedang ditumpangi. Aku pun berjalan kaki ke rumahku sendiri. Jaraknya hanya sekitar setengah jam dengan berjalan kaki.

Pada saat ini, aku baru menyadari bahwa meninggalkan keluarga ini sebenarnya tidak sesulit itu.

Bab 3

Di tengah jalan, ponselku tiba-tiba berbunyi. Itu adalah notifikasi pesan di grup teman sekolah kami dulu.

[ Cynthia sudah mau debut, lho! Nggak disangka, ada orang dari kelas kita yang jadi seleb! Aku bangga banget! @All ]

Begitu membaca ini, hatiku pun berdebar. Semua tragedi yang menimpaku selama masih SMA kembali muncul di ingatanku.

Benar, Cynthia adalah orang yang memimpin gengnya untuk menindasku saat masih SMA. Bahkan ada sekali, dia memukulku sampai sekarat. Cynthia adalah teman masa kecil Jordan, juga wanita yang diam-diam disukai Jordan dan termasuk cinta pertama Jordan.

Aku berjongkok dengan tubuh gemetar sambil membaca pesan dari teman-teman lain yang membalas dengan sepatah kata “selamat”. Sementara itu, Jordan malah mengirim sebuah pesan selamat yang panjang.

Aku tidak pernah melihat dia bersikap seantusias ini. Setiap katanya itu dipenuhi dengan kasih sayang. Sangat jelas bahwa dia masih menaruh perasaan pada Cynthia sampai sekarang.

Aku merasa hal ini sangat konyol. Setengah jam yang lalu, dia masih marah padaku. Sekarang, dia malah mulai mengenang kenangan indah semasa sekolah dengan cinta pertamanya itu di obrolan grup. Aku tidak berhenti mengusap luka di tanganku dan merasakan rasa sakit yang sama dengan hatiku.

Tepat pada saat aku membuka obrolanku dengan Jordan dan hendak membicarakan dengan jelas tentang perceraian kami, Cynthia tiba-tiba menambah kontakku. Aku mulai merasa panik dan menjadi agak sesak napas.

Setelah menenangkan diri, aku akhirnya menyetujui permintaan Cynthia itu dengan jari gemetar.

[ Nadien, lama nggak jumpa, ya! Gimana kabarmu akhir-akhir ini? ]

Sampai sekarang, aku masih tidak tahu harus bagaimana berinteraksi dengannya. Rasa takut itu bahkan masih membekas dalam benakku. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mengabaikan pesan itu, lalu berdiri dan lanjut berjalan ke rumah.

Namun, Cynthia malah mengirim pesan padaku lagi.

[ Sikapku terhadapmu saat masih SMA memang sangat keterlaluan. Waktu itu, aku masih muda. Maaf banget, ya. ]

[ Kamu bisa maafkan aku nggak? Aku sudah sadari kesalahanku. Hal itu sudah berlalu lama. Kamu jangan permasalahkan lagi, ya? ]

...

Cynthia mengirim belasan pesan berisi permintaan maaf. Dia bahkan mencoba untuk memanipulasiku. Seolah-olah jika aku tidak memaafkannya, itu berarti aku akan mengancamnya dengan kesalahannya itu.

Namun, hanya orang yang pernah mengalami penderitaan seperti itu yang tahu betapa menyakitkannya hal itu. Atas dasar apa dia memintaku memaafkannya dengan semudah ini sekarang?

Terlebih lagi, Jordan juga tidak berhenti mengungkit tentang insiden itu di hadapanku setiap hari. Aku sangat sulit untuk melupakannya. Pada saat ini, aku juga akhirnya paham. Jordan tidak berhenti mengungkit hal ini karena sedang menggantikan Cynthia untuk menindasku ....

Melihat dia sudah selesai mengatakan hal yang ingin diucapkannya, aku hanya membalas dengan singkat.

[ Hal yang sudah terjadi nggak akan bisa diubah lagi untuk selamanya. ]

Setelah itu, aku langsung memblokir kontaknya. Aku tentu saja tahu apa tujuannya meminta maaf padaku. Dia sudah akan debut, makanya dia baru minta maaf padaku. Dengan begitu, dia bisa menghindari risiko aku mengungkit hal ini kelak.

Sampai sekitar jam 5 dini hari, Jordan baru menyadari aku benar-benar melarikan diri dari rumah.

[ Bisa nggak kamu jangan begitu berhati sempit? ]

[ Baru ngomongin kamu dikit, kamu sudah kabur dari rumah, juga ancam aku pakai pisau! Kamu nggak takut ditertawakan orang? ]

Aku diam-diam berpikir. Berhubung Jordan begitu suka “bercanda”, aku juga akan bercanda dengan cinta pertamanya itu!

Gurauan yang Berakhir Tragis

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya