Bab 2
Selain kesulitan karena mengenakan terusan bertali, tangga ini juga terlalu tipis dan sempit. Aku yang tidak berpengalaman pun tidak tahu harus bagaimana naik.
"Ini pertama kalinya kamu tidur di atas ya? Mau kubantu nggak? Nggak usah takut." Ketika aku kebingungan, Om Theo menyadarinya dan menawarkan bantuan.
Aku mengangguk dengan malu. Saat berikutnya, dia merangkul pinggangku dari belakang dan memegang pahaku untuk mengangkatku.
Tenaganya yang besar dan sentuhannya yang panas membuat otakku hampa untuk sesaat. Aku tak kuasa memelotot, merasakan reaksi dahsyat pada tubuhku.
"Ha ... hati-hati." Sentuhan mendadak ini membuatku panik untuk sesaat. Aku lemas sampai tidak punya tenaga. Pada akhirnya, aku hanya bisa membiarkan tubuh bagian bawahku menempel di pelukan Om Theo.
Beberapa saat kemudian, Om Theo mengerahkan tenaga dengan kedua tangannya. Kepalanya mengenai pahaku. Dia mendorongku ke depan dengan kikuk.
"Ah, terima kasih, Om. Maaf sudah merepotkan." Aku berterima kasih dengan malu. Dia hanya tersenyum kepadaku, lalu kembali ke ranjangnya. Dia tidak akan tahu bahwa tindakannya itu telah membuat hatiku kacau ....
Kereta api melaju. Aku sama sekali tidak kantuk. Yang ada di pikiranku adalah interaksiku dengan Om Theo. Aku membutuhkan pelampiasan hasrat.
Aku membalikkan badanku. Dari pagar pembatas, aku mengamati Om Theo dengan hati-hati. Suhu di gerbong ini mulai panas. Om Theo sudah melepaskan jaketnya. Kulitnya yang kecokelatan ditambah bulir keringat membuatnya terlihat makin gagah.
Aku sungguh tidak tahan lagi! Aku bisa gila kalau seperti ini! Tubuhku seolah-olah akan meledak! Kakiku mengapit selimut, tetapi aku tidak berani mengambil tindakan apa pun.
Aku mendongak memandang langit. Untungnya sudah mau malam. Aku berusaha keras menahan hasratku, ingin sekali melakukan hal lain untuk mengalihkan pikiranku.
Saat ini, aku tiba-tiba ingin pipis. Aku rasa aku harus segera memuaskan diri supaya situasi tidak menjadi gawat. Dengan perasaan campur aduk, aku berniat untuk turun.
Om Theo melihatku. Ketika melihatku terburu-buru, dia bangun untuk membantuku. Sebelum dia mendekat, kakiku malah terpeleset. Tubuhku akan terjatuh.
"Ah ...." Ketika aku mengira tubuhku akan menghantam lantai, aku malah jatuh ke sebuah pelukan kekar.
Aku menoleh, melihat seorang pria tampan berusia 20-an tahun. Meskipun tampan, Om Theo jauh lebih kekar darinya. Jadi, aku kurang tertarik.
Pikiranku melayang ke mana-mana. Aku tidak menyadari ujung terusanku naik hingga ke pahaku, sampai membuat para pria di sekitar melongo. Sementara itu, pinggangku dirangkul oleh pria itu. Napasku tak kuasa memburu.
"Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Om Theo. Suaranya menyadarkanku dari lamunanku.
Pria yang membantuku bernama Frederick. Dia tidur di atas Om Theo. Setelah berterima kasih, aku buru-buru ke toilet.
Namun, ternyata yang mengantre sangat ramai. Aku terpaksa menunggu dengan sabar. Tiba-tiba, seseorang menempel di punggungku.
Ketika aku hendak menoleh, terdengar tawa nakal seorang pria. "Jangan gerak. Kamu suka, 'kan? Waktu aku menangkapmu tadi, aku bisa merasakan reaksi tubuhmu. Bahkan, celana dalammu ...."
Bab 3
Frederick? Aku terperangah. Apa yang ingin dia lakukan?
Aku sontak panik karena kebenaran terungkap. Aku takut kecanduanku terbongkar. Pada saat yang sama, aku merasa senang dengan tindakan Frederick ini. Aku juga ingin dia membongkar semuanya supaya aku tidak perlu berpura-pura lagi!
Perasaanku dilema. Tubuh dan kakiku bergetar tanpa kendali. Di belakang, Frederick terkekeh-kekeh merasakan reaksi tubuhku. Sambil mendorongku ke depan, dia diam-diam menyibakkan terusanku dan menjulurkan tangannya ke dalam.
"Gimana? Enak nggak?" Suara Frederick terdengar lirih. Gerakan tangannya lembut dan pelan.
Sejak awal, aku sudah berahi. Ditambah lagi sekarang aku sesak pipis. Situasi ini sangat mematikan! Apalagi, aku dan Frederick baru kenal kurang dari 20 menit!
Namun, aku tidak berani mendorongnya karena takut ada yang menyadari sesuatu. Aku hanya bisa merendahkan suaraku dan memohon, "Jangan ... kumohon. Aku sudah nggak tahan ...."
"Kamu menolak? Dasar munafik." Ucapan Frederick ini sontak membuat wajah dan telingaku merah. Aku sampai tidak berani mendongak karena takut melihat reaksi orang-orang di sekitar.
Harus diakui bahwa teknik tangan Frederick sangat luar biasa. Hanya dalam beberapa menit, aku merasakan sensasi baru.
Namun, ini sungguh memalukan. Di tengah kereta api, aku digoda oleh seorang pria asing di depan publik. Berbagai adegan panas di otakku membuat tubuhku makin terangsang.
Namun, Frederick tiba-tiba menarik tangannya dan pergi. Mataku berkaca-kaca. Seketika, hatiku diliputi kekecewaan dan kehampaan.
Jika aku tidak segera memegang dinding, mungkin orang-orang di sekitar sudah menyadari sesuatu dan mentertawakanku.
Setelah membersihkan kemaluanku, aku kembali dengan gelisah. Untungnya, langit sudah gelap dan Frederick sudah tidur.
Aku menghela napas lega dan kembali ke ranjangku. Pikiranku dipenuhi adegan di depan toilet tadi. Saat ini, aku tidak tertarik pada tubuh kekar Om Theo lagi.
Aku tidak tahu apa tujuan Frederick. Kami juga baru kenal dan dia tidak mengambil tindakan selanjutnya. Jadi, anggap saja masalah itu tidak pernah terjadi.
Setelah berpikir demikian, aku merasa jauh lebih lega. Ketika aku hendak tidur, tiba-tiba ada pesan masuk. Aku membuka ponselku.
Ternyata itu adalah videoku? Bahkan, terdengar jelas suaraku saat memohon tadi. Aku terperangah. Apa Frederick yang mengirimnya? Namun, bagaimana dia bisa tahu nomorku? Apa tujuannya?
Seketika, ketakutan melanda hatiku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mendongak memandang Frederick, tetapi dia hanya tidur.
Saat berikutnya, masuk lagi pesan. Aku membukanya dan membaca pesan yang mengerikan itu.
[ Kamu nggak ingin ada yang tahu betapa liarnya kamu, 'kan? Kuberi kamu waktu tiga menit. Kalau nggak mulai ... tanggung sendiri konsekuensinya! ]