Bab 1
Aku akan pulang pada hari libur nasional. Aku membeli tiket kereta api dan berhasil mendapat ranjang standar.
Malam hari saat berbaring di ranjang, aku bisa melihat bahu dan tubuh kekar .... Seketika, tubuhku bereaksi lagi.
Di balik selimut, aku mengangkat pakaianku dan memainkan tubuhku sendiri. Kedua kakiku sampai bergetar. Aku menggigit bibirku, tetapi tetap tidak bisa menahan diri untuk mengembuskan napas berat.
Di luar dugaanku, ternyata ada sepasang mata tajam yang mengawasiku di tengah kegelapan ....
Namaku Joanna. Sejak awal, aku sudah tahu aku menderita kecanduan. Di mata orang luar, aku hanya gadis berkacamata yang pendiam, pemalu, dan kaku. Namun, mereka tidak tahu aku suka dikelilingi berbagai pria di tempat umum. Kemudian, otakku akan mulai berfantasi.
Ketika tidak ada yang menyadari, aku pun akan diam-diam menyibakkan rokku atau menunjukkan bagian tubuhku untuk melepaskan hasrat yang tidak bisa disembunyikan lagi.
Contoh saja saat ini, aku mengangkat koper yang berat sambil berjalan di koridor kereta api yang sempit untuk mencari ranjangku. Ketika melewati para pria, napas dan bau badan mereka akan melekat di otakku ....
"Permisi, aku mau lewat. Terima kasih." Aku berpura-pura melirihkan suaraku dan bersikap lembut saat menyapa mereka.
Sebenarnya koridor ini tidak terlalu sempit, masih cukup untuk dilewati gadis kurus sepertiku. Akan tetapi, aku sengaja menempelkan tubuhku dengan para pria kekar itu.
Sentuhan ini membuat hatiku bergetar dan tubuhku melemas! Rasanya panas! Aku ingin sekali melepaskan semua penghalang yang ada dan menjatuhkan diri ke pelukan para pria itu!
Namun, akal sehat memberitahuku untuk tetap tenang. Aku harus menyamar sebagai gadis polos. Andai saja ada yang berinisiatif merayuku sekarang ....
Pada akhirnya, aku menemukan ranjangku. Karena panas, aku perlahan-lahan membuka jaketku. Ketika menoleh, aku melihat seorang pria paruh baya sedang duduk di ranjang bagian bawah di seberang.
Tatapannya tertuju padaku secara terang-terangan. Dia mengamatiku dengan tenang, tetapi juga seperti orang yang sudah tidak sabar untuk menunjukkan taringnya.
"Om, bisa bantu aku taruh koper ini nggak? Tinggi sekali. Aku nggak sampai." Aku lantas sengaja mencondongkan badanku ke hadapannya saat meminta bantuan.
Pria itu sepertinya terkejut melihatku mengambil inisiatif. Namun, dia langsung mengambil koperku untuk ditaruh di rak.
Aku pun mengikuti di belakang, berjaga-jaga dia butuh bantuan. Namun, tiba-tiba kakiku terpeleset. Aku terjatuh ke punggung pria itu.
"Ah ...," teriakku kaget. Wajahku sontak membentur punggung pria itu. Rasa sakit yang terasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa maluku.
Punggung pria ini benar-benar kekar. Aroma tubuhnya yang menyegarkan membuatku hatiku geli. Selanjutnya, terjadi sesuatu yang membuatku semakin terangsang.
Sesudah bereaksi, pria itu meraih lenganku dan mendekapkanku ke pelukan. Dia bertanya apa aku baik-baik saja?
Hari ini aku mengenakan terusan bertali yang tipis. Kulitku yang mulus dan putih terpampang jelas, begitu juga tulang selangkaku yang indah.
Entah mengapa, hanya sentuhan ringan darinya langsung membuat tubuhku seperti terbakar. Arus listrik seolah-olah merangsang tubuhku.
Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Ini benar-benar menakjubkan! Aku bisa merasakan suhu tubuhku terus naik, bahkan kedua kakiku bergetar. Aku ingin sekali pria ini langsung menerkamku tanpa peduli pada orang-orang di sekitar.
"A ... aku nggak apa-apa. Terima kasih, Om." Setelah mengucapkan terima kasih dengan tenang, aku kembali ke ranjangku dan mulai mengobrol.
Aku baru tahu nama pria itu adalah Theo. Aku memanggilnya Om Theo.
Tidak berselang lama, semakin banyak orang yang datang hingga akhirnya penuh. Aku pun berniat untuk istirahat.
Setelah melepaskan sepatu, aku mulai kesulitan. Banyak orang yang membeli tiket kereta api di hari liburan. Aku tidak mendapat ranjang bawah, jadi harus memanjat tangga untuk sampai ke ranjang tengah.
Bab 2
Selain kesulitan karena mengenakan terusan bertali, tangga ini juga terlalu tipis dan sempit. Aku yang tidak berpengalaman pun tidak tahu harus bagaimana naik.
"Ini pertama kalinya kamu tidur di atas ya? Mau kubantu nggak? Nggak usah takut." Ketika aku kebingungan, Om Theo menyadarinya dan menawarkan bantuan.
Aku mengangguk dengan malu. Saat berikutnya, dia merangkul pinggangku dari belakang dan memegang pahaku untuk mengangkatku.
Tenaganya yang besar dan sentuhannya yang panas membuat otakku hampa untuk sesaat. Aku tak kuasa memelotot, merasakan reaksi dahsyat pada tubuhku.
"Ha ... hati-hati." Sentuhan mendadak ini membuatku panik untuk sesaat. Aku lemas sampai tidak punya tenaga. Pada akhirnya, aku hanya bisa membiarkan tubuh bagian bawahku menempel di pelukan Om Theo.
Beberapa saat kemudian, Om Theo mengerahkan tenaga dengan kedua tangannya. Kepalanya mengenai pahaku. Dia mendorongku ke depan dengan kikuk.
"Ah, terima kasih, Om. Maaf sudah merepotkan." Aku berterima kasih dengan malu. Dia hanya tersenyum kepadaku, lalu kembali ke ranjangnya. Dia tidak akan tahu bahwa tindakannya itu telah membuat hatiku kacau ....
Kereta api melaju. Aku sama sekali tidak kantuk. Yang ada di pikiranku adalah interaksiku dengan Om Theo. Aku membutuhkan pelampiasan hasrat.
Aku membalikkan badanku. Dari pagar pembatas, aku mengamati Om Theo dengan hati-hati. Suhu di gerbong ini mulai panas. Om Theo sudah melepaskan jaketnya. Kulitnya yang kecokelatan ditambah bulir keringat membuatnya terlihat makin gagah.
Aku sungguh tidak tahan lagi! Aku bisa gila kalau seperti ini! Tubuhku seolah-olah akan meledak! Kakiku mengapit selimut, tetapi aku tidak berani mengambil tindakan apa pun.
Aku mendongak memandang langit. Untungnya sudah mau malam. Aku berusaha keras menahan hasratku, ingin sekali melakukan hal lain untuk mengalihkan pikiranku.
Saat ini, aku tiba-tiba ingin pipis. Aku rasa aku harus segera memuaskan diri supaya situasi tidak menjadi gawat. Dengan perasaan campur aduk, aku berniat untuk turun.
Om Theo melihatku. Ketika melihatku terburu-buru, dia bangun untuk membantuku. Sebelum dia mendekat, kakiku malah terpeleset. Tubuhku akan terjatuh.
"Ah ...." Ketika aku mengira tubuhku akan menghantam lantai, aku malah jatuh ke sebuah pelukan kekar.
Aku menoleh, melihat seorang pria tampan berusia 20-an tahun. Meskipun tampan, Om Theo jauh lebih kekar darinya. Jadi, aku kurang tertarik.
Pikiranku melayang ke mana-mana. Aku tidak menyadari ujung terusanku naik hingga ke pahaku, sampai membuat para pria di sekitar melongo. Sementara itu, pinggangku dirangkul oleh pria itu. Napasku tak kuasa memburu.
"Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Om Theo. Suaranya menyadarkanku dari lamunanku.
Pria yang membantuku bernama Frederick. Dia tidur di atas Om Theo. Setelah berterima kasih, aku buru-buru ke toilet.
Namun, ternyata yang mengantre sangat ramai. Aku terpaksa menunggu dengan sabar. Tiba-tiba, seseorang menempel di punggungku.
Ketika aku hendak menoleh, terdengar tawa nakal seorang pria. "Jangan gerak. Kamu suka, 'kan? Waktu aku menangkapmu tadi, aku bisa merasakan reaksi tubuhmu. Bahkan, celana dalammu ...."
Bab 3
Frederick? Aku terperangah. Apa yang ingin dia lakukan?
Aku sontak panik karena kebenaran terungkap. Aku takut kecanduanku terbongkar. Pada saat yang sama, aku merasa senang dengan tindakan Frederick ini. Aku juga ingin dia membongkar semuanya supaya aku tidak perlu berpura-pura lagi!
Perasaanku dilema. Tubuh dan kakiku bergetar tanpa kendali. Di belakang, Frederick terkekeh-kekeh merasakan reaksi tubuhku. Sambil mendorongku ke depan, dia diam-diam menyibakkan terusanku dan menjulurkan tangannya ke dalam.
"Gimana? Enak nggak?" Suara Frederick terdengar lirih. Gerakan tangannya lembut dan pelan.
Sejak awal, aku sudah berahi. Ditambah lagi sekarang aku sesak pipis. Situasi ini sangat mematikan! Apalagi, aku dan Frederick baru kenal kurang dari 20 menit!
Namun, aku tidak berani mendorongnya karena takut ada yang menyadari sesuatu. Aku hanya bisa merendahkan suaraku dan memohon, "Jangan ... kumohon. Aku sudah nggak tahan ...."
"Kamu menolak? Dasar munafik." Ucapan Frederick ini sontak membuat wajah dan telingaku merah. Aku sampai tidak berani mendongak karena takut melihat reaksi orang-orang di sekitar.
Harus diakui bahwa teknik tangan Frederick sangat luar biasa. Hanya dalam beberapa menit, aku merasakan sensasi baru.
Namun, ini sungguh memalukan. Di tengah kereta api, aku digoda oleh seorang pria asing di depan publik. Berbagai adegan panas di otakku membuat tubuhku makin terangsang.
Namun, Frederick tiba-tiba menarik tangannya dan pergi. Mataku berkaca-kaca. Seketika, hatiku diliputi kekecewaan dan kehampaan.
Jika aku tidak segera memegang dinding, mungkin orang-orang di sekitar sudah menyadari sesuatu dan mentertawakanku.
Setelah membersihkan kemaluanku, aku kembali dengan gelisah. Untungnya, langit sudah gelap dan Frederick sudah tidur.
Aku menghela napas lega dan kembali ke ranjangku. Pikiranku dipenuhi adegan di depan toilet tadi. Saat ini, aku tidak tertarik pada tubuh kekar Om Theo lagi.
Aku tidak tahu apa tujuan Frederick. Kami juga baru kenal dan dia tidak mengambil tindakan selanjutnya. Jadi, anggap saja masalah itu tidak pernah terjadi.
Setelah berpikir demikian, aku merasa jauh lebih lega. Ketika aku hendak tidur, tiba-tiba ada pesan masuk. Aku membuka ponselku.
Ternyata itu adalah videoku? Bahkan, terdengar jelas suaraku saat memohon tadi. Aku terperangah. Apa Frederick yang mengirimnya? Namun, bagaimana dia bisa tahu nomorku? Apa tujuannya?
Seketika, ketakutan melanda hatiku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mendongak memandang Frederick, tetapi dia hanya tidur.
Saat berikutnya, masuk lagi pesan. Aku membukanya dan membaca pesan yang mengerikan itu.
[ Kamu nggak ingin ada yang tahu betapa liarnya kamu, 'kan? Kuberi kamu waktu tiga menit. Kalau nggak mulai ... tanggung sendiri konsekuensinya! ]