Logo
Finding A True Love
Finding A True Love

Finding A True Love

54 Bab
Tamat
Dalam Finding A True Love, Kanaya terjebak trauma masa lalu hingga Gavin hadir membawa harapan. Setelah delapan tahun, peristiwa tak terduga mengikat mereka kembali saat Gavin telah memiliki komitmen lain. Simak modern novel ini sebagai pilihan romance stories terbaik di web novel.
Bab 1 dari Finding A True Love

Mendung menguasai langit sejak pagi ini. Suasana di luar tidak begitu bagus, begitu gelap, suram, dan terasa dingin. Tidak ada bedanya dengan raut wajah seorang gadis yang sedang duduk sendirian di tepi kolam air mancur yang berada di tengah taman labirin.

Gadis itu ingat dulu sekali, ibunya pernah bercerita bahwa dirinya dinamai Kanaya Amelitta, dengan harapan agar dia bisa tumbuh cantik dan bahagia.

Kanaya memang tumbuh dengan cantik. Kulitnya putih dan bersih, wajahnya cantik dengan mata bulat jernih, hidung yang sempurna, dan bibir yang merah alami. Namun sepertinya Kanaya tidak tumbuh dengan bahagia.

Kurang dari setahun, Kanaya sudah empat kali menghadiri upacara pemakaman. Yang pertama adalah upacara pemakaman ayahnya. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil saat melakukan perjalan bisnis ke Jakarta. Menurut kesaksian yang diberikan oleh saksi mata, kecelakaan mobil itu adalah kecelakaan tunggal. Mobil hitam yang dikendarai ayahnya mendadak menabrak bahu jalan dan akhirnya teguling beberapa meter. Ayahnya meninggal ditempat. Kanaya masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah ibunya yang terlihat begitu hancur saat menerima kabar kematian ayahnya.

Lalu seminggu kemudian, kakak keduanya berteriak histeris saat menemukan mayat ibunya yang tergantung di dalam kamar yang hanya diterangi oleh cahaya dari lampu tidur. Ibunya tidak sanggup menghadapi kepergian ayahnya yang begitu tiba-tiba, akhirnya memutuskan untuk gantung diri dan pergi menyusul suami tercintanya, meninggalkan anak-anaknya.

Belum selesai duka yang dirasakan Kanaya karena kepergian orang tuanya, dia harus kembali berhadapan dengan luka lain. Kakak pertamanya meninggal dianiaya oleh suami yang sangat dia cintai. Mayat kakak petamanya penuh dengan luka lebam yang membiru dan wajahnya tampak membengkak, hampir tidak bisa dikenali. Benar-benar pemandangan yang menyayat hati.

Kanaya membiarkan kesedihan menggerogoti dirinya selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, dia mulai tidak peduli dengan sekelilingnya. Lalu pada suatu hari Kanaya mendengar teriakan histeris yang berasal dari kamar kakak keduanya. Saat sampai di dalam kamar kakaknya, Kanaya melihat kakaknya itu sedang menangis dan tertawa secara bersamaan. Benar-benar pemandangan mengerikan yang tidak akan pernah dilupakan Kanaya sampai kapanpun. Kakaknya itu sedang menangisi tunangan tercintannya yang lebih memilih wanita lain. Setelah hari itu keadaan kakaknya semakin parah dia bahkan sudah melakukan beberapa kali percobaan bunuh diri.

Kanaya yang merasa frustasi memutuskan untuk membawa kakaknya ke rumah sakit untuk konseling dengan harapan agar keadaan kakaknya bisa lebih baik, dokter menyarankan kakaknya lebih baik dirawat di rumah sakit. Namun setelah sebulan perawatan, yang Kanaya temukan bukan wajah kakaknya yang tersenyum cantik melainkan wajah pucat dengan mata membelalak mengerikan serta tubuh yang terbujur kaku di ruang mayat.

Pada saat itu Kanaya tidak tahu harus berekspresi seperti apa, menangis pun rasanya tidak bisa. Hatinya begitu sakit, dia bahkan tidak bisa bernapas dengan benar. Dia benar-benar sudah tidak punya lagi tempat untuk berbagi keluh kesah, tidak ada lagi orang-orang yang akan melindungi dan mendampinginya. Upacara pemakaman kakak keduanya adalah upacara pemakaman terakhir yang dihadiri Kanaya.

Kalau diingat-ingat, ini sudah memasuki bulan keenam sejak Kanaya memutuskan untuk meninggalkan rumah keluargannya di Bandung dan pindah ke Jakarta, tinggal bersama paman Evan—adik ibunya.

Suara petir yang menggelegar membuyarkan lamunan Kanaya. Langit terlihat begitu kelabu, sebentar lagi rintik hujan pasti akan turun membasahi bumi. Kanaya harus bergegas kembali ke rumah. Saat akan berdiri, dengan ceroboh Kanaya malah menjatuhkan ponselnya ke dalam kolam.

Kanaya menatap nanar poselnya yang perlahan tenggelam ke dasar kolam. Apa yang harus dia lakukan? Itu adalah ponsel pemberian pamannya. Dengan panik Kanaya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya mencoba menemukan sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menggambil ponselnya yang sudah tenggelam. Tidak mungkin dia menceburkan dirinya ke dalam kolam, karena kolam tersebut cukup dalam yang ada dia malah ikut tenggelam bersama ponselnya.

Setelah beberapa saat, Kanaya berhasil menemukan sebuah ranting yang cukup panjang. Dia menggunakan ranting itu untuk menggambil ponselnya. Tangan kirinya berpenganggan di tepian kolam, agar dia tidak ikut tercebur. Dengan susah payah Kanaya terus berusaha tanpa ada niat menyerah.

“Hei! apa yang kamu lakukan?” suara yang terdengar lantang itu berhasil mengagetkan Kanaya membuat peganggan tangannya terlepas dan berakhir tercebur ke dalam kolam. Apa dia juga akan mati seperti keluarganya? Sepertinya iya, hanya saja keluarganya mati dengan tragis karena cinta, sedangkan dia mati konyol karena tenggelam.

Kanaya memejamkan matanya, dengan tenang dia menunggu sampai paru-parunya kehabisan oksigen. Tidak ada usaha untuk menyelamatkan diri, lagi pula bagaimana caranya dia menyelamatkan diri? berenang saja dia tidak bisa.

Disisa-sisa kesadarannya, Kanaya merasa seperti ada yang meraih tubuhnya dan mengangkatnya ke permukaan. Kanaya langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya sekaligus memuntahkan air yang masuk ke dalam saluran pernapasan dan membuatnya terbatuk-batuk tanpa ampun.

Setelah selesai, Kanaya mendongak dan menatap orang yang sudah menyelamatkannya. Di depannya terdapat seorang laki-laki yang terlihat terlalu...tampan? dia memiliki sepasang mata berwarna biru yang sangat menarik, terbingkai sempuna oleh alis tebal yang berjejer rapi. Rambutnya kecokelatan dan rahangnya kokoh. Fitur wajahnya begitu sempurna, dia seperti bukan manusia.

“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya laki-laki tersebut seraya memandang Kanaya cemas.

Kanaya berusaha untuk menjawab, namun tenggorokannya sakit sehingga tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Kanaya!” Kanaya melihat Ethan, sedang berlari ke arahnya.

“Astaga! Gavin apa yang terjadi? kenapa Kanaya bisa seperti ini?” tanya Ethan panik.

Ah, ternyata namanya Gavin. Kanaya menatap laki-laki di depannya.

Gavin menatap Kanaya sekilas. “Dia terjatuh di kolam, lebih baik kita kembali dulu ke rumah sebentar lagi akan turun hujan,” usul Gavin. Tanpa menunggu persetujuan Kanaya, Gavin langsung mengangkat Kanaya, lalu menggendong gadis itu di punggungnya. Dia melakukannya dengan lembut dan perlahan.

Kanaya terkejut dan jantungnya berdebar kencang. “Kanaya, lingkarkan lenganmu di bahuku.” Suara Gavin terdengar begitu lembut di telingga Kanaya. Membuatnya tidak bisa membantah, dengan pelan Kanaya melingkarkan lengannya di bahu Gavin dan menyembunyikan wajahnya di leher jenjang Gavin. Samar-samar Kanaya bisa mencium wangi tubuh Gavin, hatinya terasa hangat.

**********

Setelah hari itu, Kanaya tidak pernah bertemu lagi dengan Gavin. Dari apa yang di ceritakan Ethan, Kanaya tahu bahwa Gavin adalah sahabat Ethan. Kanaya tidak berani bertanya lebih jauh lagi.

Hari ini Kanaya benar-benar merasa bosan, paman Evan dan istrinya—bibi Tasya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Bali selama dua minggu. Ethan sejak kemarin belum pulang ke rumah. Sebenarnya Kanaya masih punya sepupu lain—Kesya, dia adalah adik kandung Ethan. Sayangnya Kesya tidak begitu menyukainya. Kesya selalu mengganggunya di setiap kesempatan dan bersikap memusuhi, nada bicaranya pun tidak ada lembut-lembutnya. Jelas mendekati Kesya dengan alasan untuk menghilangkan rasa bosan bukanlah ide yang bagus.

Kanaya menghembuskan napas kasar, kalau hanya diam seperti ini tanpa melakukan apa-apa, dia akan teringat lagi dengan keluarganya. Kanaya kemuadian bangun dari ranjang, mengambil ikat rambut dan mencepol rambutnya tinggi-tinggi. Diliriknya jam dinding di atas televisi. Baru pukul lima sore. Lebih baik dia keluar dan menghirup udara segar.

Kanaya keluar dari kamarnya lalu berjalan menuruni tangga menuju ke halaman belakang rumah. Dia ingin berjalan-jalan di sekitar taman labirin. Pamannya memiliki taman labirin yang sangat luas dihiasi dengan berbagai jenis tanaman dan bungga.

Setelah berjalan beberapa menit, Kanaya akhirnya sampai. Angin berdesau pelan, membawa aroma manis dari bungga-bungga yang sedang bermekaran. Kanaya tersenyum senang, hatinya seketika dipenuhi rasa hangat.

“Kanaya?” Kanaya tertegun melihat orang yang barusan memanggilnya.

“Kita belum pernah berkenalan secara resmi, kan? aku Gavin Januartha. Kamu bisa memanggilku Gavin,” sapanya ramah sembari mengajak Kanaya bersalaman.

“Ah... aku Kanaya.” Kanaya terdiam, “Kanaya Amelitta,” lanjutnya salah tingkah.

Gavin tersenyum memandang Kanaya. “Sepertinya kamu baik-baik saja. Aku sedikit khawatir, waktu itu kamu terlihat kedinginan dan tubuhmu menggigil.”

“Aku baik-baik saja, itu bukan apa-apa,” jawab Kanaya.

“Syukurlah kalau begitu,” ujar Gavin, “Tapi apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanyanya kemudian.

“Tidak ada. Aku hanya sedang jalan-jalan,” jawab Kanaya seadanya.

“Apa aku boleh di sini sebentar? Aku sedang menunggu Ethan, tapi sepertinya dia akan datang terlambat,” jelas Gavin.

“Terserah kamu,” jawab Kanaya. Ugh! Jantungnya mulai berdebar dengan kencang.

Kanaya kemudian berjalan menjauh dari Gavin. Dia takut Gavin mendengar debaran jantungnya, walaupun itu tidak mungkin. Kanaya duduk di bangku taman dan membuka buku yang dari tadi dia bawa lalu mulai fokus membaca, berusaha mengabaikan keberadaan Gavin.

“Hei Kanaya, apa kamu mau makan gula kapas?” tanya Gavin, mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung.

Kanaya tercenung, lalu akhirnya mengangguk.

“Tunggu sebentar.” Gavin kemudian membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah gula kapas besar berwarna merah muda dan memberikannya pada Kanaya.

Wajah gadis itu terpana melihat gula kapas di tangannya. “Ini... sangat lembut dan manis,” gumamnya.

Gavin tersenyum.”Memangnya kamu belum pernah memakan gula kapas sebelumnya?”

Mata Kanaya menerawang. “Orang tuaku sangat protektif. Termasuk untuk jajanan seperti ini.”

Gavin mengangguk mengerti. Ethan pernah bercerita sekilas tentang keluarga Kanaya. Sanggat disayangkan Kanaya harus menggalami hal seperti itu di usianya yang sangat muda.

“Kanaya, coba lihat! cuaca hari ini begitu cerah, langitnya cantik,” ujar Gavin.

Kanaya lalu mengarahkan pandangannya ke langit. Tidak ada awan kelabu yang menghiasi langit. Langit dipenuhi dengan semburat kejinggaan yang indah.

“Kanaya, apa kamu suka gula kapasnya? Kalau kamu suka aku akan sering membawakannya untukmu.”

Kanaya melirik Gavin yang duduk di sampingnya. “Aku suka, rasanya manis.”

Gavin tesenyum lembut. “Baiklah, aku akan sering membawakannya untukmu.”

“Terima kasih,” ujar Kanaya pelan.

“Iya sama-sama. Sepertinya Ethan sudah kembali, apa kamu mau kembali ke rumah? Sebentar lagi akan gelap,” ajaknya diikuti anggukan Kanaya. Mereka pun berjalan beriringan kembali ke rumah. Sepanjang jalan, Gavin terus mengajak Kanaya berbicara, sesekali dia bercerita tentang hal-hal lucu yang membuat Kanaya tidak bisa membendung tawanya.

**********

Hari demi hari berlalu, hubungan Kanaya dan Gavin semakin dekat. Gavin selalu datang menemui Kanaya hanya untuk berbagi cerita. Tidak lupa setiap datang, dia selalu membawa gula kapas yang begitu digemari Kanaya. Gavin yang baik dan ramah selalu memperlakukan Kanaya dengan hangat. Tidak pernah sekali pun Kanaya mendapati Gavin menatapnya dengan tatapan iba. Hal itu membuat Kanaya nyaman. Saat ini pun Kanaya sedang menunggu kedatangan Gavin.

“Kanaya.” Kanaya menoleh ke sumber suara. Terlihat Gavin yang sedang berjalan ke arahnya. tampak kepayahan, napasnya tidak beraturan.

“Tersesat lagi?” tanya Kanaya dengan nada mengejek.

“Aku tidak pernah terbiasa dengan taman labirin yang rumit ini,” keluh Gavin. Dia kemuadian duduk di samping Kanaya dan merebahkan kepalanya di bahu Kanaya.

“Apa kamu sudah lama menunggu?” tangan Gavin terulur mengambil helaian rambut Kanaya dan membaui aroma yang menempel di rambut hitam Kanaya.

“Tidak juga.” Kanaya menjawab singkat.

Gavin melirik Kanaya. “Tadi aku bertemu Kesya,” ujarnya pelan.

“Oh ya? apa yang dia katakan?” tanya Kanaya, tampak tertarik.

“Tidak ada yang penting.”

“Ck!...” Kanaya berdecak kesal. Kalau tidak ada yang penting kenapa tiba-tiba membahas Kesya? “Apa kamu membawa gula kapasku?” tanya Kanaya pada akhirnya.

Gavin tertawa. “Tentu saja aku membawanya, itu adalah tiket agar bisa bertemu denganmu.” Gavin kemudian mengelurkan sebuah gula kapas besar dari dalam tasnya dan memberikannya pada Kanaya.

Kanaya menerimanya dengan senang hati dan mulai memakan gula kapas tersebut. Gavin tersenyum geli mempehatikan tingkah Kanaya.

“Apakah gula kapas itu begitu enak sampai kamu tidak mengacuhkanku?”

Kanaya tidak memedulikan sindiran Gavin, dia hanya fokus memakan gula kapas yang terasa begitu lembut dan manis.

“Aku juga ingin tahu bagaimana rasa gula kapas itu,” gumam Gavin.

“Kamu mau?” tanya Kanaya.

Gavin mencondongkan tubuhnya ke arah Kanaya. “Aku ingin mencoba rasanya dengan caraku sendiri,” bisiknya.

Sebelum Kanaya sempat bertanya apa maksud dari kata-kata Gavin berusan, Gavin sudah lebih dulu menempelkan bibirnya di bibir Kanaya. Memberikan ciuman lembut yang memabukan. Lidahnya menuntut Kanaya untuk membuka bibir,mencicipi manisnya mulut gadis itu.

Kanaya terengah, perutnya terasa campur aduk, seakan jutaan kupu-kupu beterbangan serentak di sana. Ia memejamkan mata, menikmati ciuman Gavin. Setelah beberapa saat, Gavin menghentikan ciumannya, memberikannya kesempatan untuk bernapas.

Gavin membelai pelan pipi mulus Kanaya. Kanaya membuka mata, melihat mata biru Gavin yang sedang memandangnya penuh arti. “Gav...,” bisik Kanaya, tetapi sebelum dia menyelesaikan kalimat itu, mulutnya kembali terkunci dengan ciuman Gavin yang lembut namun begitu mendominasi.

Gavin menghentikan ciumannya dan memberi jarak yang cukup diantara mereka. “Kanaya.” Gavin memanggil Kanaya dengan suara seraknya. Tangannya terulur mengelus lembut bibir Kanaya yang membengkak.

Bibir Kanaya terasa kelu, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya diam menunggu penjelasan Gavin.

Gavin menatap Kanaya. “Kanaya... ku rasa aku mencintaimu,” ucapnya serak.

Cinta? omong kosong macam apa ini? “Gavin...,” ujar Kanaya dengan suara bergetar matanya mulai berkaca-kaca. Dengan cepat Kanaya menepis tangan Gavin. Ia kemudian berlari sekuat tenaga menjauh dari tempat itu, mengabaikan Gavin yang memanggil namanya.

Kanaya sangat ketakutan. Dia merasa benci dan takut terhadap cinta yang dia yakini sebagai sumber dari semua masalah yang dia alami. Tidak ada akhir yang baik dari cinta, sekali berurusan dengan cinta hanya ada akhir tragis yang menunggu. Kanaya tidak mau berakhir tragis seperti ibu dan kakak-kakaknya.

********

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku
Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku
Dalam Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku, Vyora yang dikhianati memilih bangkit melalui bantuan pria misterius. Web novel bergenre romance modern ini mengisahkan ambisinya membalas rasa sakit kepada mantan suami. Temukan kisah billionaire romance novels penuh intrik ini.
Dia Tidak Tahu Identitas Istrinya Sampai Mereka Bercerai
Dia Tidak Tahu Identitas Istrinya Sampai Mereka Bercerai
Dalam novel modern Dia Tidak Tahu Identitas Istrinya Sampai Mereka Bercerai, Bettina Rowe berencana mengakhiri pernikahan saat Asher Lambert mencari ibu pengganti. Temukan konflik pengorbanan dan rahasia ini dalam billionaire romance novels pilihan bagi pembaca setia online novel.
Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari
Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari
Dalam novel Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari, Risa mengakhiri pernikahan delapan tahunnya setelah dikhianati Teguh. Ia memulai hidup baru di Swiss bersama adiknya. Namun, saat bisnis Teguh hancur, sang mantan suami mengejarnya. Sebuah romance novel modern penuh konsekuensi dan rahasia.
Ketika Karma Berbicara
Ketika Karma Berbicara
Dalam novel romantis modern Ketika Karma Berbicara, seorang pewaris miliarder yang baru lulus dari Jerman langsung diserang dan dituduh sebagai wanita penggoda di perusahaannya sendiri. Baca novel online gratis ini untuk melihat bagaimana dia membalas para perusak barang berharganya.
Keyakinan Cinta
Keyakinan Cinta
Dalam novel Keyakinan Cinta, Adelle Collin, pewaris billionaire, menghadapi dilema saat jatuh hati pada Farhan yang sederhana. Romance modern ini menguji batasan perbedaan keyakinan. Ikuti perjuangan mereka dalam web novel ini sebagai pilihan fiction books terbaik untuk dibaca.
Premanku Canduku (Digilir Tetangga)
Premanku Canduku (Digilir Tetangga)
Dalam Premanku Canduku (Digilir Tetangga), Siska terjebak situasi berbahaya saat melindungi suaminya dari Alex. Romance novel ini mengisahkan transformasi hidup Siska menghadapi dominasi preman kampung yang buas. Simak kisah modern novel dewasa ini selengkapnya di platform read novels online.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Putri Asli Membalas
Putri Asli Membalas
Polwan Gita meninggal saat bertugas, lalu terbangun sebagai putri asli Keluarga Mido. Masa lalunya penuh derita. Disiksa ibu angkat, diintimidasi saudara tiri, dan dibenci orang tua sendiri, hingga mati tragis di tangan penculik.Kini, Gita menuntut keadilan sekaligus mengungkap misteri kematiannya. Namun, rahasia masa lalu dan cinta masa kecilnya, Dion, kembali menguji hatinya.
Bangkit Kembali, Menata Keluarga yang Hancur
Bangkit Kembali, Menata Keluarga yang Hancur
Setelah hidup kembali, Tina terkejut mendapati suaminya, seorang aktor top, sangat merindukannya hingga sakit dan dikelilingi pengganti, sementara putra sulungnya terlibat masalah hukum dan putri bungsunya ditipu. Meskipun seluruh publik menganggap keluarganya kacau tak tertolong, Tina berhasil melatih mereka yang gila menjadi setia, bahkan membuat antagonis utama memohon ampun.
Benci dan Cinta Bercampur Aduk
Benci dan Cinta Bercampur Aduk
Setelah kematian suaminya, Siska dihina oleh keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Hampir dijual oleh pemilik rumah bordil, pikirannya hanya tertuju pada cara untuk menyusul sang suami. Namun, kakak iparnya datang menyelamatkan dan membawanya pulang. Tanpa disadari, seorang pria misterius terus mengamatinya dari jauh. Akankah Siska menemukan jawaban atas kematian suaminya, atau selamanya dicap sebagai pembawa sial?
Dibakar, Dikhianati, Aku Bangkit Kembali
Dibakar, Dikhianati, Aku Bangkit Kembali
Millie, putri gubernur, selamat dari pembantaian tapi hilang ingatan. Diselamatkan Weston, ia menjalani pernikahan dingin selama tiga tahun yang ia anggap penyelamat, hingga ingatannya kembali. Pernikahan itu bohong, demi menutupi kejahatan Weston dan cinta pertamanya pada keluarga Millie. Millie kabur dan bekerja sama dengan Julian, komandan hebat yang telah lama mencintainya, demi merebut kembali masa lalunya dan menuntut balas.
[Dijuluki] Setelah Cerai, Tuan CEO Memohon Aku Kembali
[Dijuluki] Setelah Cerai, Tuan CEO Memohon Aku Kembali
Setelah setahun pernikahan rahasia, dia menyadari bahwa dia hanya menjadi gantinya di hatinya, bukan cahaya bulan putih yang sejati. Dia memutuskan dengan tegas untuk mengakhiri, tetapi setelah menandatangani surat cerai, dia menyesal!
Kiamat Sudah Tiba
Kiamat Sudah Tiba
Yenny bermimpi melihat kejadian di masa depan. Saat terbangun, dia berusaha menolong semua penumpang di dalam kereta, tapi tidak ada yang mendengarkannya. Akhirnya dia turun dari kereta bersama satu orang pria yang memercayai ucapannya. Dalam perjalanannya pulang ke rumah, dia melihat sepanjang jalan penuh dengan zombie. Yang lebih mengejutkan lagi, setibanya di rumah, dia melihat ibu mertua, adik ipar dan keponakannya ada di dalam rumahnya. Tidak lama kemudian, suaminya juga pulang dalam keadaan selamat. Mereka berenam bersembunyi di dalam rumah menghindari para zombie dengan mengandalkan makanan yang diantarkan oleh Sena untuknya.