Bab 4

"Sikapku barusan nggak benar. Aku minta maaf."

"Istriku, kamu tega membiarkanku tidur di kamar tamu? Tolong biarkan aku masuk. Aku ingin memelukmu."

Memikirkan Yovan yang baru saja bermesraan dengan Rachel dan sekarang masih ingin menyentuhnya, Kiana mendadak merasa jijik.

"Aku capek. Besok baru dibicarakan lagi."

"Istriku, sudah seminggu aku nggak memelukmu. Apa kamu nggak menginginkanku?"

Kiana merasa sangat jijik sampai-sampai hampir muntah.

"Bukannya kamu ingin menuruti perkataan orang tuamu? Kalau begitu, tidur saja sama mereka!"

Suasana di luar hening sejenak, lalu terdengar suara langkah kaki menjauh.

Yovan punya sifat pemarah. Dulu, saat mereka berdua bertengkar, Kiana selalu berusaha sebaik mungkin untuk menuruti pria itu.

Kalau mereka bertengkar, kemungkinan besar Kiana-lah yang akan mengalah lebih dulu.

Dia sangat mencintai Yovan…

Cih. Sekarang malah terdengar konyol sekali…

Kiana bilang dia ingin beristirahat, jadi dia pun berbaring dan menutup matanya, seolah-olah dia benar-benar tertidur.

Namun, Rachel masih sangat berhati-hati. Sampai tengah malam, dia baru berjinjit keluar dari lemari.

Mungkin karena sudah terlalu lama meringkuk di dalam, kakinya terasa mati rasa dan dia hampir terjatuh ke bawah.

Dia menutup mulutnya dan tidak berani bersuara. Dia membungkuk, berjalan ke pintu, lalu membukanya dengan hati-hati.

Di saat pintu tertutup, Kiana juga membuka matanya.

Di ruang tamu di lantai dua, ibunya Yovan memapah Rachel duduk dan memijat kakinya dengan prihatin.

"Anak baik, kamu sudah menderita. Siapa sangka dia akan pulang tiba-tiba?" Sembari berbicara, ibunya Yovan juga mendengus.

"Bu, aku nggak apa-apa. Ibu nggak perlu khawatir."

Rachel memang bilang begitu, tetapi wanita itu mengusap perutnya dan tampak kesakitan.

Melihat hal itu, ibunya Yovan langsung panik.

"Tapi bagaimana dengan kondisi cucuku? Kita ke rumah sakit ya?"

"Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Aku akan baik-baik saja setelah beberapa saat," ucap Rachel dengan patuh.

"Kiana memang pantas dibenci. Kalau terjadi sesuatu pada cucuku, aku akan mengulitinya hidup-hidup!"

"Sudahlah, jangan ganggu dia di saat krusial seperti ini," kata ayahnya Yovan sambil duduk di sofa di seberangnya.

"Tapi Rachel baru menantu keluarga kita, apalagi sekarang dia lagi hamil. Nggak mungkin kita biarkan dia terus tinggal di luar. Sebaliknya, menantu palsu justru menguasai rumah kita!"

"Ini hanya sementara. Setelah kontrak dengan Grup Januar ditandatangani, kita akan mengusirnya."

Ibunya Yovan mendengus. "Kalau begitu, biarlah dia tinggal di rumah kita beberapa hari lagi."

Rachel melengkungkan sudut mulutnya, tetapi saat pandangannya tertuju pada Yovan, pria itu tampak mengerutkan kening. Sepertinya pria itu tidak setuju dengan apa yang dilakukan orang tuanya.

Rachel menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara rendah, "Kiana dan aku berteman baik. Meski harus menderita, aku nggak keberatan kok. Biarlah dia yang tinggal di rumah."

"Kamu memperlakukannya sebagai teman baik dan tulus padanya, tapi dia nggak begitu. Kalau nggak, dia nggak akan memperebutkan proyek ini denganmu."

Usai berbicara, ibunya Yovan melihat Rachel masih menundukkan kepala. Terakhir, dia baru menatap putranya. Dia menyadari putranya masih belum mengungkapkan pendapatnya.

"Yovan, bagaimana menurutmu?"

Yovan mengusap dahinya dan berkata, "Aku mencintai Kiana dan nggak ingin menyakitinya."

"Tapi istrimu yang sesungguhnya adalah Rachel!"

"Aku sudah mengecewakan Rachel, jadi aku nggak ingin mengecewakan Kiana lagi!"

"Nggak, ini bukan salahmu," kata Rachel sambil buru-buru berdiri.

Yovan menghampirinya dan memeluknya.

"Beri aku waktu lagi. Aku akan jelaskan semuanya kepada Kiana. Dia begitu mencintaiku. Aku yakin dia pasti akan menerimamu dan anak kita."

Rachel mengangguk. "Aku nggak akan menghancurkan hubunganmu dengannya. Aku tahu kamu mencintainya, tapi aku ingin kamu membagi sedikit cinta dan perhatian padaku dan anak kita."

"Terima kasih sudah memahamiku."

Orang tua Yovan menatap Rachel dengan penuh pengakuan dan penghargaan di mata mereka. Berbeda dengan sikap kasar mereka terhadap Kiana.

Kiana bersandar di koridor. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

Benarkah ini abad ke-21? Bisa-bisanya orang zaman sekarang punya pemikiran melayani satu pria dengan dua wanita?

Tidak, mereka bukan hanya memiliki pemikiran tersebut, tetapi mereka sudah mewujudkannya.

Astaga. Dia sudah 'menikah' dengan keluarga macam apa ini?

Otak mereka pasti bermasalah!

"Tapi perut Rachel makin hari makin membesar. Aku khawatir kita nggak bisa menyembunyikannya dari Kiana lagi," kata ibunya Yovan dengan cemas.

Ayahnya Yovan berpikir sejenak, lalu berkata, "Aku akan tugaskan dia ke tempat lain dulu."

Saking emosinya, Kiana tidak bisa tidur sama sekali malam itu.

Keesokan paginya, Kiana baru saja turun dari lantai atas dan melihat Yovan datang membawa buket besar mawar.

"Sayang, kamu yang baru bangun pagi sangatlah cantik."

Yovan meletakkan buket bunga mawar itu ke dalam pelukan Kiana, lalu melingkarkan lengannya di bahu wanita itu dan ingin menciumnya, tetapi Kiana langsung mengelak.

"Kamu nggak ganti baju tadi malam? Badanmu bau keringat."

Yovan mengantar Rachel pulang tadi malam dan mungkin baru kembali di pagi harinya. Pria itu kemudian membeli buket mawar ini untuk menebus sedikit rasa bersalah yang mungkin timbul.

"Benarkah?" Yovan mengendus pakaiannya. "Oh ya, aku pergi ke kebun bunga di pinggiran kota tadi malam dan menunggu sampai mereka buka. Aku beli beberapa mawar segar untukmu."

Kiana ingin memutar bola matanya.

Bunga ini jelas dibeli dari toko bunga di seberang jalan. Apalagi, nama toko bunga itu jelas tertera di kertas kadonya.

Kiana juga tidak mengeksposnya. Dia hanya tersenyum manis. "Terima kasih, Sayang."

"Tunggu sebentar. Aku naik ke atas dan mandi dulu. Setelah itu, aku akan bawa kamu ke suatu tempat," kata Yovan.

"Tapi aku masih harus ke kantor hari ini."

"Kantor masih bisa beroperasi meski kamu nggak datang. Sebaliknya, kita berdua sudah lama nggak berkencan."

"Tapi hari ini…"

"Tunggu aku."

Sebelum Kiana berbicara lebih lanjut, Yovan sudah naik ke atas.

Melihat punggung pria itu, sudut bibir Kiana terangkat sedikit. Pria itu sengaja menunda keberangkatannya ke kantor.

Oke. Kiana akan meladeni mereka. Dia mau lihat trik baru apa yang bisa mereka mainkan.

Satu jam kemudian, Yovan membawanya ke sebuah gang di kota tua.

Kalau mau dideskripsikan dengan kata-kata yang enak didengar, tempat ini penuh dengan kehidupan, tetapi kalau mau terus terang, terlalu banyak pembangunan ilegal di sana.

Sanitasi tidak sesuai standar, dan ketertiban lalu lintas nyaris tidak ada.

Namun tiga tahun lalu, mereka tinggal di sini.

Saat itu, Kiana tidak tahu identitas Yovan. Mereka berdua bekerja di departemen proyek Grup Thevas dan menerima gaji biasa. Untuk menghemat uang, mereka menyewa rumah di kota tua yang jauh dari perusahaan.

Satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Biaya sewanya 1,6 juta.

Di gang berantakan inilah mereka tinggal dulu. Mereka melewati pagi-pagi yang tak terhitung jumlahnya, menghadap cahaya pagi, bergandengan tangan, seolah-olah mereka bukan pergi melakukan pekerjaan berat, melainkan menuju masa depan yang cerah.

Itulah yang dirasakan Kiana saat itu.

Agar bisa menetap di kota ini bersama Yovan dan membeli rumah mereka sendiri, dia penuh energi setiap hari.

Mobil berhenti. Yovan menariknya ke sebuah gedung yang menghadap ke jalan.

Tidak ada lift, jadi mereka hanya bisa naik tangga. Pegangan tangga tertutup minyak dan kotoran yang menumpuk selama bertahun-tahun. Dindingnya berbintik-bintik dan cat-cat mengelupas.

Begitu sampai di lantai lima, Yovan mengeluarkan kunci dari sakunya, lalu tersenyum misterius pada Kiana dan membuka pintu.

Perabotan di ruangan itu masih tetap sama. Saat Kiana masuk, dia merasa seakan kembali ke tiga tahun lalu.

Saat itu, dia sangat suka mendekorasi rumah kecilnya. Hanya saja, rumah itu sudah tua. Tidak peduli bagaimana mendekorasinya, tetap saja terlihat lusuh, kecuali direnovasi secara besar-besaran.

Sebenarnya, Kiana tidak pernah menganggap tempat ini sebagai rumahnya. Dia percaya, berdasarkan kemampuannya, dia pasti bisa membeli rumah besar di lokasi strategis.

"Aku sudah beli tempat ini," kata Yovan sambil menatapnya.

"Uh?"

Beli tempat ini?

"Buat kamu."

Kiana sampai tidak tahu harus berkata apa.

Yovan masuk dan duduk di sofa kecil, yang mana dulunya adalah tempat favoritnya.

"Masih ingat, nggak? Waktu itu, kamu masak di dapur dan aku membaca buku di sini. Meski kita sibuk dengan urusan masing-masing, kita sesekali akan saling memandang dan tersenyum."

Wajah Yovan dipenuhi kebahagiaan saat mengenang masa lalu.

"Aku harap masa depan kita juga akan seperti ini."

Kiana mendengus dingin.

Dia bangun pagi-pagi untuk memasak, sementara Yovan masih tidur.

Dia menyiapkan makanan. Sebaliknya, Yovan duduk di meja makan sambil menunggu Kiana mengambilkan makanan untuknya.

Selesai makan, Yovan pergi berganti pakaian. Sedangkan, Kiana sibuk mencuci piring dan panci.

Kiana sibuk di perusahaan sepanjang hari. Karena status Yovan sebagai tuan muda, pria itu diberi pekerjaan ringan dan menghabiskan sepanjang hari minum kopi di kantor.

Malam harinya, Kiana masih harus memasak meski kelelahan. Sementara, Yovan akan membaca buku seperti yang barusan dikatakannya.

Baru saja Kiana bisa berbaring di tempat tidur, Yovan datang mengusiknya lagi. Pria itu mengeluhkan dirinya tidak cukup antusias...

Memikirkan hal ini, Kiana ingin menampar wajahnya sendiri beberapa kali.

Dia pasti sudah gila waktu itu. Bagaimana dia bisa menoleransi Yovan memperlakukannya seperti itu?

Yovan jelas-jelas bisa membelikannya apartemen besar atau vila sekarang, tetapi pria itu justru membelikannya rumah kumuh ini. Pria itu bahkan tersentuh dengan tindakannya sendiri.

"Aku nggak suka rumah ini. Kalau kamu suka, tinggal saja sendiri."

Usai melontarkan kata-kata itu, Kiana langsung berbalik dan pergi.

Begitu sampai di lantai bawah, Yola Winata, seorang rekan satu timnya, meneleponnya.

"Ketua, apa yang terjadi? Rachel dipindahkan ke tim kita. Katanya dia akan mengambil alih pekerjaanmu."

Bab 5

Yovan marah karena Kiana tidak mau menerima rumah itu.

Dalam perjalanan pulang, pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya.

Sesampainya di rumah, melihat putranya tidak senang, ibunya Yovan langsung memelototi Kiana.

Kiana tidak menggubris ibunya Yovan dan langsung naik ke atas untuk berganti pakaian.

Malam harinya, Kiana baru turun untuk makan. Ayahnya Yovan dan Yovan tidak makan di rumah. Ibunya Yovan sedang duduk sendirian di meja makan, tetapi tidak ada piring dan sendok untuk Kiana.

"Sepertinya kamu lagi emosi. Jadi, mungkin kamu nggak lapar. Itu sebabnya, aku nggak minta Bi Ida menyiapkan makanan untukmu."

"Benarkah?"

Melihat Bi Ida keluar dari dapur membawa sepiring makanan, Kiana langsung pergi mengambilnya.

Dulu, dia akan menyiapkan makan malam bersama Bi Ida, jadi Bi Ida mengira Kiana ingin membantu dan langsung memberikannya kepadanya.

Kiana pura-pura tidak mengambilnya, lalu menarik tangannya kembali. Piring berisi makanan itu pun terjatuh ke lantai.

Saat melihat hal itu, ibunya Yovan langsung membentak Kiana, "Apa yang terjadi denganmu?! Kamu bahkan nggak bisa melakukan hal-hal kecil seperti menyajikan hidangan. Keluarga Sumargo benar-benar rugi punya menantu sepertimu!"

"Aku nggak sengaja."

Kiana berpura-pura sedih. Dia bergegas ke dapur untuk mengambil piring baru. Setelah itu, dia memungut makanan yang terjatuh ke lantai, lalu menaruhnya kembali ke piring, dan meletakkannya di depan ibunya Yovan.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Makanlah. Jangan mubazir."

"Kamu suruh aku makan sampah yang jatuh di lantai?"

"Bukankah sampah paling pas dengan seleramu?"

"Kamu!"

'Karena kamu memang sampah!'

Melihat ibunya Yovan begitu marah hingga wajahnya membiru, Kiana mencuci tangannya dan naik ke atas dengan gembira.

Keesokan harinya. Begitu sampai di kantor, Yola sedang menunggunya di pintu lift.

"Ketua, apa yang terjadi sebenarnya? Aku khawatir sekali! Bukankah Rachel temanmu? Kenapa dia mau mencuri proyekmu? Apalagi, kontraknya sudah hampir ditandatangani dan kita akan segera menuai hasilnya. Bukankah ini termasuk intimidasi?"

Yola dipromosikan olehnya dan berpihak padanya.

Kiana menepuk bahunya dan berkata, "Jangan khawatir, aku punya persiapan."

"Persiapan apa?"

Kiana hanya memberinya senyum nakal, tetapi tidak menjelaskan.

Yola merangkul lengan Kiana sambil berkata, "Apa pun yang terjadi, kamu nggak boleh menelantarkanku!"

Usia Yola tiga tahun lebih muda darinya. Yola sudah seperti adiknya sendiri. Dia sering memeluk Kiana dan bertingkah manja di depannya.

Kiana menepuk dahi Yola dan berkata, "Aku tahu."

Begitu sampai di departemen proyek, semua rekannya menatapnya dengan cemas, seakan ingin tahu apa yang telah terjadi.

Kiana tersenyum pada mereka untuk meyakinkan mereka.

"Kiana, akhirnya kamu datang ke kantor juga. Ayo ikut aku pergi menemui CEO." Rachel mengenakan setelan jas, tetapi dia memakai sepatu datar. Jadi, dia terlihat jauh lebih pendek sewaktu berjalan ke depan Kiana.

Dia meraih tangan Kiana dan menuju ke ruangan CEO.

"CEO tiba-tiba memintaku untuk mengambil alih proyek ini. Bagaimana aku bisa mengambil hasil kerja kerasmu begitu saja? Aku ingin menolak, tapi sikap CEO sangat tegas. Aku terpaksa hanya bisa setuju. Aku pikir begitu kamu datang ke kantor, kita akan menemui CEO dan membahasnya bersama."

Rachel jelas sengaja mengucapkan kata-kata ini agar didengar oleh semua rekan kerja.

Dia bukan tipe orang yang akan mengkhianati teman. Dia lebih suka mengorbankan kepentingannya sendiri demi mendukung temannya.

Setelah mendengar apa yang dikatakannya, semua rekan lainnya menunjukkan ekspresi kagum.

Kiana menatap Rachel.

Sejak kapan sahabatnya menjadi begitu munafik?

Atau mungkin dia yang belum pernah melihat wajah Rachel yang sesungguhnya...

Jika dia mendengarkan perkataan Rachel dan pergi menemui ayahnya Yovan sekarang, alhasil ayahnya Yovan hanya akan mengusirnya dengan tegas dan memaksa Rachel untuk mengambil alih proyek tersebut.

Dengan begitu, semua rekan kerja tidak akan berpikir bahwa Rachel yang mencuri proyek teman baiknya. Sebaliknya, akan menduga ada yang salah dengan Kiana sendiri. Itu sebabnya, CEO bisa menendang Kiana keluar dari proyek tersebut.

Mereka sekeluarga benar-benar bekerja sama dengan baik.

"Hais, perusahaan ingin menyingkirkanku begitu selesai dimanfaatkan. Tentu saja aku nggak setuju, tapi kalau kamu yang mengambil alih, aku akan lebih tenang." Kiana menggenggam tangan Rachel. "Lagian, kita berteman baik. Kamu akan menuai hasil jerih payahku, jadi kamu tentu akan mengingat kebaikanku."

Kata 'perusahaan ingin menyingkirkanku begitu selesai dimanfaatkan' telah menjelaskan semuanya.

Kata 'kamu akan menuai hasil jerih payahku' juga membuktikan hasil kerja keras Kiana. Sebaliknya, Rachel hanyalah orang yang menuai hasil instan saja.

Bagaimana rekan kerja dalam satu tim bisa dengan tulus menerima seseorang yang hanya tahu cara menuai hasil?

Rachel tidak bisa tertawa. "A… aku nggak bisa mengambil alih proyek ini."

"Jadi, kamu mau mengundurkan diri?"

"Aku…"

"Tentu saja aku tahu kamu nggak tega."

Kiana tersenyum tipis. Dia tampak toleran dan murah hati. Hal ini seketika membuat Rachel kelihatan picik dan berpikiran sempit.

Dia tidak membiarkan Rachel mengikutinya, tetapi dia pergi ke kantor ayahnya Yovan sendirian.

Ayahnya Yovan tahu dia akan datang. Dia juga sudah memikirkan rencana untuk mengatasinya.

"Kiana, kamu harusnya tahu aku selalu menghargaimu. Waktu aku pensiun nanti, Yovan akan mengambil alih perusahaan. Saat itu, kamu pasti akan menjadi istri yang baik dan tangan kanannya. Selagi aku masih memimpin perusahaan, aku harap kamu bisa memperluas wilayah kekuasaan Keluarga Sumargo. Anak muda butuh lebih banyak pengalaman untuk memikul tanggung jawab besar."

Bentuk manipulasi psikologis seperti ini sangat cocok untuk mahasiswa yang baru saja bergabung di perusahaan, tetapi sayangnya Kiana kini sudah menjadi veteran.

"Apa maksud Bapak? Aku nggak mengerti."

"Ada proyek di Kota Hairos yang ingin aku serahkan padamu. Proyek ini juga sangat penting dan aku hanya percaya padamu."

Heh! Menugaskan dirinya ke tempat lain agar Rachel bisa kembali ke kediaman Keluarga Sumargo dan merawat kehamilannya dengan baik.

Mereka sekeluarga hidup berbahagia. Sebaliknya, Kiana bukan hanya hidup dalam kegelapan, tetapi juga harus bekerja seperti budak untuk Keluarga Sumargo.

Semua taktik ini patut untuk diberi acungan jempol.

"Aku nggak akan pergi ke Kota Hairos. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan mundur dari proyek Januar, tapi kalian harus memberiku acara pernikahan yang megah."

Ayahnya Yovan mengerutkan kening. "Aku bicara baik-baik padamu sekarang karena kamu menantuku. Kalau nggak, hmph!"

Kiana mengangkat alisnya. "Kalau nggak, kenapa?"

"Aku juga bisa pecat kamu langsung!"

Memecatnya?

"Oh, baiklah. Kalau begitu, pecat saja aku! Aku bisa minta acara pernikahan pada Yovan, tapi kamu harus memberiku bonus untuk proyek ini. Kalau nggak, aku nggak akan serah terima!"

Ayahnya Yovan menghela napas berat. "Kiana, kenapa kamu jadi egois sekali sekarang? Aku sangat kecewa."

Kiana berdiri dan berkata, "Aku percaya kerja keras akan membuahkan hasil. Ini bukan egois, tapi sudah sepantasnya aku dapatkan."

Agar serah terima proyek berjalan lancar, ayahnya Yovan meminta Departemen Keuangan untuk mentransfer bonus pada Kiana di saat itu juga.

Ini bukan jumlah yang sedikit. Wajah ayahnya Yovan tampak tidak senang.

Meski wajah ayahnya Yovan tidak senang, wajah Kiana tampak sangat senang.

Setelah keluar dari ruangan ayahnya Yovan, Kiana pergi ke atap dan menelepon manajer di Grup Januar yang bertanggung jawab atas proyek ini.

"Pak Ishan sudah memberitahumu, 'kan?"

"Ya, kamu akan menjadi penanggung jawab utama proyek ini ke depannya. Departemen kami akan menuruti perkataanmu."

"Orang dari Grup Thevas akan datang besok untuk menandatangani kontrak."

"Kontraknya sudah kami buat."

"Sobek saja."

"Hah?"

"Aku merasa ada beberapa masalah dengan desain mereka. Kamu tinggal tunjuk beberapa poin kecil dan minta mereka untuk mengubahnya."

"Baik, aku mengerti. Aku akan melakukannya sesuai perintahmu."

Setelah menutup telepon, Kiana tertawa sinis.

Benar saja, mengerjai orang lain memang sangat menyenangkan.

Bab 6

Saat kembali ke departemen proyek, semua rekan memandang Kiana dengan khawatir.

Kiana mengangkat bahu dan berkata, "Aku dipecat."

Rekan-rekan kerjanya menghela napas. Ada beberapa yang bingung dan ada beberapa yang marah. Yola bahkan berlari menghampiri dan berteriak, "Ketua sudah menyelesaikan begitu banyak proyek besar untuk perusahaan. Dia adalah penyumbang terbesar kesuksesan perusahaan saat ini. Bagaimana mungkin dia dipecat begitu saja? Ini jelas..."

Menyingkirkan orang begitu selesai dimanfaatkan.

Yola tidak mengatakannya, tetapi kata itu langsung muncul di pikiran setiap orang.

Semua orang setuju dengan perkataan Yola. Sebelum Kiana mengambil alih departemen proyek, perusahaan mengalami krisis keuangan karena kekurangan proyek. Setelah dia mengambil alih, dia mengupayakan perubahan. Dia menjauh dari ambisi yang tidak realistis. Dimulai dengan proyek-proyek kecil, dia secara bertahap membangun kembali kepercayaan pada Thevas. Hal ini terjadi hingga dia berhasil mendapatkan proyek Pusat Perbelanjaan Sagara, yang langsung mengubah Thevas sepenuhnya.

Namun, pahlawan yang pernah membalikkan situasi ini, hasil kerja kerasnya malah direbut dan disingkirkan begitu saja?

Kiana menepuk bahu Yola sambil berkata, "Kebetulan, aku juga capek. Aku mau istirahat baik-baik."

"Tapi aku marah untukmu!" Yola cemberut.

Kiana bertepuk tangan dan menyemangati semua orang. "Begini saja, aku akan traktir kalian semua makan malam nanti. Pertama, untuk merayakan pengunduran diriku. Kedua…"

Melihat Rachel keluar dari ruangannya, Kiana pun tersenyum padanya.

"Kedua, aku mau merayakan teman baikku, Nona Rachel, yang resmi mengambil alih departemen proyek dan menjadi ketua baru kalian!"

Selesai berbicara, Kiana terus bertepuk tangan, tetapi rekan-rekannya tidak begitu antusias.

Atasan mereka telah diganti. Apa kehidupan mereka akan nyaman seperti sebelumnya?

Tidak ada yang tahu.

Kiana mulai membereskan barang-barang di ruangannya.

Dia telah menggunakan ruangan itu selama lima tahun dan memiliki banyak barang. Tak lama kemudian, dia telah mengemasnya ke dalam kotak besar.

Kiana menatap Rachel dan berkata dengan nada ringan, "Aku tinggalkan mesin kopi ini untukmu. Jujur saja, kopi instan di pantri nggak senikmat kopi yang digiling mesin kopi ini."

Bibir Rachel sedikit melengkung ke atas. Dia mengira Kiana hanya memaksakan diri untuk tersenyum. Hati Kiana pasti tidak enak sekarang.

"Kiana, bagaimana kalau aku bicara dengan CEO dan minta dia mengizinkanmu tinggal di departemen proyek? Dengan begitu, aku juga bisa menjagamu."

Kiana menghela napas. "Benar saja, roda kehidupan terus berputar. Dulu aku yang menjagamu. Sekarang kamu yang harus menjagaku."

"Kiana!"

"Bercanda saja!" Kiana tersenyum. "Aku bilang aku ingin istirahat. Aku serius kok. Aku sudah terlalu sibuk beberapa tahun terakhir ini dan nggak punya waktu untuk menemani suamiku. Aku takut dia akan mencari wanita jalang di luar sana."

Mendengar itu, Rachel mendadak merasa tidak nyaman.

"Tentu saja, aku percaya dia nggak akan. Lagian, wanita jalang mana yang secantik diriku. Benar, nggak?"

Rachel tertawa datar. "Benar."

"Oh ya, besok kamu mau pergi ke Grup Januar untuk menandatangani kontrak Thevas. Biar aku serah terima proyek ini kepadamu dulu."

Rachel berpikir sejenak. "Kiana, kamu dipecat dan pasti marah. Kamu nggak akan dengan sengaja memberiku informasi yang salah dan membuatku nggak bisa menandatangani kontrak besok, 'kan?"

Kiana tersenyum nakal. "Kalau orang lain, mungkin aku akan melakukan hal itu, tapi kamu itu sahabatku. Kita sudah bersumpah nggak akan mengecewakan satu sama lain, jadi aku tentu saja nggak akan menyakitimu. Tapi apa kamu pernah melakukan hal yang mengecewakanku?"

Rachel mengerutkan bibirnya dan berkata, "Tentu saja nggak."

Kiana memeluk bahu Rachel. Matanya menjadi gelap. "Aku percaya padamu!"

Sore harinya, Kiana pergi berbelanja di mal. Dia membeli beberapa pakaian, menata rambutnya, dan memakai riasan cerah.

Saat Kiana yang mengenakan gaun merah, rambut panjang bergelombang, dan berkacamata hitam itu sampai di hotel, orang-orang yang lewat menatapnya dengan curiga. Bahkan, ada yang berbisik pada teman-temannya, apa orang yang lewat barusan seorang artis?

Begitu sampai di ruang VIP, semua rekannya sudah ada di sana, termasuk Rachel. Saat mereka melihat penampilan Kiana, mereka semua menunjukkan ekspresi terkejut.

"Ketua, ternyata kamu biasanya nggak memakai riasan dan hanya memakai setelan jas hitam putih, sebenarnya demi kami juga. Kamu takut kami akan terlalu fokus melihatmu sampai-sampai nggak bisa fokus pada pekerjaan kami."

"Ketua, aku rasa ada bagusnya kamu diberhentikan dari perusahaan. Dengan begitu, kamu bisa masuk ke industri hiburan. Aku mendukungmu."

"Ketua, aku penasaran sama suamimu. Kok dia bisa begitu beruntung dan menikahimu? Pas mimpi di malam hari, aku rasa dia juga bakal tersenyum, 'kan?"

Meski hubungan mereka biasanya mencakup atasan-bawahan, Kiana selalu akur dengan rekan-rekannya dan akrab dengan mereka. Itu sebabnya, mereka berani bercanda dengannya.

Kiana melepas kacamatanya dan menggoda semua orang. "Sayang sekali, kalian nggak akan bisa bertemu dengan wanita cantik ini lagi."

Rekan-rekannya langsung meratap dan meminta Kiana untuk membawa mereka bersamanya juga.

Namun terlepas dari candaannya, Kiana tetap mengingatkan mereka agar tidak memanggilnya 'ketua' lagi ke depannya.

Kiana memegang bahu Rachel dan berkata dengan murah hati pada semua orang, "Ini baru ketua baru kalian. Dia sahabatku. Perlakukan dia sebaik kalian memperlakukanku."

Rachel pada dasarnya sudah seperti orang luar. Tidak, dia lebih seperti penyusup.

Meski orang-orang ini tersenyum padanya, dia merasa tidak ada kehangatan dalam senyuman mereka, bahkan ada sedikit sarkasme.

Rachel berdiri, berusaha tenang, dan sesantai mungkin.

"Rekan-rekan semuanya, aku sangat senang bergabung dengan departemen proyek. Aku harap kita bisa bekerja sama dan menciptakan kejayaan yang lebih besar bersama di masa depan!" Dia mengangkat gelasnya dan bersulang untuk semua orang.

Semua orang juga berdiri, lalu mengangkat gelas mereka, dan minum.

Hanya Yola yang tidak begitu ingin melakukannya. Wajahnya tampak cemberut dan dia hanya menyesap sedikit minumannya.

Rachel bersulang. Sebagai seorang atasan, dia merasa dirinya sudah sangat perhatian. Saat dia hendak mengatakan sesuatu, Kiana meletakkan tas anyaman di atas meja.

"Ketua, senjata apa yang kamu taruh di tasmu ini?"

Seorang rekan kerja bercanda karena tas itu tampak sangat berat. Kiana juga kesulitan membawanya dan menimbulkan bunyi 'gedebuk' saat dia meletakkannya di atas meja.

Kiana tampak misterius. "Coba tebak?"

Semua orang mulai membuat tebakan dan suasana menjadi sangat riuh.

Saat Kiana membuka tas itu, mata semua orang terbelalak.

Di dalam tas itu ada gepokan uang seratus ribu yang bertumpuk-tumpuk…

Kiana memandangi rekan-rekan yang telah menemaninya selama ini. Rekan-rekan yang lembur dan begadang bersamanya, yang ikut khawatir bersamanya, yang telah menangis dan tertawa bersamanya. Sejak memutuskan untuk meninggalkan Thevas, hanya merekalah yang tidak rela dia tinggalkan.

"Apa pun hasil akhir proyek Januar, aku sudah menyelesaikannya dengan sempurna. Bonus dari proyek ini nggak boleh aku ambil sendiri, melainkan milik bersama."

Sambil berbicara, dia mendorong uang itu ke tengah meja, lalu bertepuk tangan, dan berkata sambil tersenyum, "Ini semua ada dua miliar. Dua ratus juta per orang. Ayo cepat diambil!"

Namun, tidak seorang pun mengambilnya. Mereka semua menatap Kiana.

Saat ini, yang ada hanya kesedihan dan keengganan.

"Kelak kita masih bisa ketemu, 'kan? Jadi, nggak perlu seperti ini. Cepat ambil uang kalian. Aku susah payah bawa karung seberat sembilan kilo bukan untuk bikin kalian nangis, tapi biar kalian senang terima bonus."

Yang tertua di antara rekan-rekan berdiri lebih dulu dan mengambil uang itu. "Ketua, nggak ada yang perlu dikatakan di antara kita."

Kiana mengangguk dan tersenyum. "Ya, nggak perlu."

Yang lainnya berdiri satu demi satu. Masing-masing menerima setumpuk uang. Setelah uang dibagikan, semua orang berdiri untuk bersulang pada Kiana. Mereka mendoakan agar karier Kiana makin sukses ke depannya.

Saat semua orang mengangkat gelas mereka, kecuali Rachel yang tidak memenuhi syarat, dia telah sepenuhnya menjadi latar belakang Kiana.

Inilah efek yang diinginkan Kiana. Dengan adanya dirinya sebagai panutan, jika Rachel tidak tampil sebaik dirinya, perusahaan dan rekan kerja akan memiliki opini negatif tentangnya.

Huh! Tidak semua orang bisa menggantikan posisinya!

Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya