Bab 1
Kiana Liman dan Yovan Sumargo telah menikah selama tiga tahun, tetapi saat merencanakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, Kiana baru menyadari bahwa akta nikah yang dimilikinya palsu...
Nyonya Sumargo yang asli ternyata adalah sahabatnya sendiri!
Sudah tiga tahun. Mereka dan semua anggota Keluarga Sumargo memperlakukannya seperti orang bodoh serta menipunya selama tiga tahun.
Penyebabnya karena rahim Kiana cedera akibat kecelakaan mobil dan tidak bisa memiliki anak.
Namun, alasan dia bisa terluka parah juga karena dia menyelamatkan Yovan!
Yovan: "Aku mencintaimu. Aku hanya menginginkan seorang anak!"
Rachel: "Aku nggak ingin menghancurkan hubungan kalian. Aku hanya ingin bergabung dengan kalian!"
Kiana: "Otak kalian bermasalah ya?"
…
Lantaran mereka menganggap ini menarik, Kiana akan bermain-main dengan mereka.
Merebut proyek dari tangannya?
Nggak masalah! Kiana langsung menikah dengan tuan muda dari keluarga kaya dan berubah menjadi pihak A dalam proyek tersebut.
Tidak memberinya acara penikahan?
Keluarga kaya memberikan ratusan triliun sebagai mas kawin dan acara pernikahannya menggemparkan seluruh kota.
Keberatan karena Kiana tidak bisa punya anak?
Kiana melahirkan anak kembar dan menertawakan kecemburuan mereka.
…
Berita pernikahan tuan muda dari keluarga kaya menyebar seperti api, tetapi semua orang merasa kasihan terhadap istrinya.
Semua orang di lingkaran tahu kalau tuan muda memiliki cinta sejati. Meski cinta sejatinya sudah menikah, dia masih tidak bisa melupakan wanita itu.
Konon di hari pernikahan cinta sejatinya, tuan muda begitu patah hati hingga mencoba bunuh diri.
Bahkan, ada orang yang melihat tuan muda menonton film yang dibintangi cinta sejatinya berulang kali, sambil menangis tak terkendali.
Setelah Kiana melahirkan anak dan berpikir sudah waktunya untuk menyatukan tuan muda dengan cinta sejatinya, tuan muda justru memeluknya dan mengatakan dia difitnah.
"Siapa yang menyebarkan rumor tentangku?! Sayang, kamu harus percaya padaku!"
"Nona Kiana, buku nikah Anda palsu."
Kiana Liman memperhatikan resepsionis mengembalikan buku nikahnya. Meski sikap resepsionis masih hormat, raut wajahnya sudah menunjukkan sarkasme.
Kiana menerimanya sambil tersenyum. "Untuk apa aku bawa buku nikah palsu untuk menipu kalian?"
"Mungkin karena promosi diskon untuk pasangan menikah yang diadakan oleh restoran kami?" kata resepsionis sambil cemberut.
Kiana terdiam. Dia sama sekali tidak tahu promosi apa yang dimaksud resepsionis itu. Alasan dia memilih merayakan ulang tahun ketiga pernikahannya dengan Yovan Sumargo di restoran ini semata-mata karena dia menyukai restoran konsep taman mereka.
"Kamu juga nggak boleh asal menyebut buku nikahku ini palsu, 'kan? Aku bisa menggugatmu." Sikap Kiana berubah sedikit dingin.
Saat mendengar perkataan itu, resepsionis merasa seakan mendengar lelucon. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan tidak berdaya.
Melihat sikap resepsionis itu, Kiana mengerutkan kening. "Kenapa kamu begitu yakin?"
Resepsionis menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jarinya di papan ketik, lalu mengarahkan layar komputer ke Kiana.
"Saat saya memasukkan nomor identitas suami Anda tadi, sistem sudah memiliki informasi identitas suami Anda."
"Jadi?"
"Dia juga buat reservasi untuk promosi ulang tahun pernikahan di restoran kami."
Mendengar itu, Kiana agak terkejut. "Dia juga buat reservasi?"
Resepsionis menatap Kiana seolah-olah dia orang bodoh. "Tuan Yovan memang sudah buat reservasi, tapi nggak ada hubungannya dengan Anda."
"Maksudnya?"
"Itu berarti istri Tuan Yovan adalah orang lain, bukan Anda."
Kiana terdiam sekaligus merasa geli. Dia membungkuk untuk memeriksa lagi, tetapi dia hanya melihat nama yang tertera di kolom Nyonya Sumargo adalah Rachel Winata.
Sahabat terbaiknya, Rachel?
Apa yang terjadi sebenarnya?!
"Selain itu, Tuan Yovan dan istrinya sedang merayakan ulang tahun pernikahan ketiga mereka di bagian atap restoran kami saat ini…"
Sebelum resepsionis selesai berbicara, Kiana sudah berlari ke atas.
Suaminya dan sahabat terbaiknya sedang merayakan ulang tahun pernikahan ketiga mereka?
Pasti ada kesalahpahaman di sini! Pasti!
Namun, begitu sampai di bagian atap dan melihat dua orang saling berpelukan, Kiana langsung terpaku.
Pria jangkung itu mengenakan setelan jas dan dasi kupu-kupu. Dia tampak tenang dan tampan. Sementara, si wanita mengenakan gaun malam merah. Dia juga tampak cantik dan menawan. Mereka saling memandang dengan penuh kasih sayang.
Ada layar besar di bagian belakang. Saat musik diputar, beberapa kata muncul di layar: [Kotak Musik Waktu.]
Diikuti dengan foto-foto yang mulai diputar. Foto pertama diambil dari sudut candid. Rachel sedang mengangkat ponselnya. Dia tampak malu-malu berdiri di bingkai yang sama dengan Yovan di kejauhan.
Lalu, keduanya saling mengenal dan foto bersama, tetapi masih tampak canggung.
Kemudian, mereka punya kesempatan untuk makan malam bersama. Keduanya sangat gembira.
Selain itu, di mobil Yovan, Rachel duduk di kursi di mana Kiana selalu menganggapnya sebagai tempat duduk khusus miliknya.
Kemudian, keduanya melakukan perjalanan bisnis dan jalan-jalan bersama. Keduanya bahkan pulang ke kampung halaman Rachel.
Sebagai istri Yovan dan sahabatnya Rachel, Kiana sama sekali tidak tahu semua hal ini.
Keduanya berciuman di bawah matahari terbenam. Keduanya saling tersenyum di tempat tidur. Bahkan, ada foto yang diambil setelah bercinta, di mana Rachel berbaring di pelukan Yovan dengan wajah kacau. Keduanya tidak mengenakan sehelai pakaian pun...
Sampai foto terakhir, di mana Yovan memasangkan cincin berlian di tangan Rachel.
Bersamaan dengan adegan itu, Yovan juga mengambil sebuket besar bunga mawar di atas meja dan berlutut di hadapan wanita itu.
"Nyonya Sumargo, kamu sangat cantik malam ini!"
Rachel menerima bunga mawar itu. Setelah Yovan berdiri, dia melemparkan dirinya ke dalam pelukan pria itu, lalu mendongakkan kepalanya dan mencium dagu pria itu.
Yovan membelai kepalanya dengan lembut. Matanya penuh cinta.
Kiana memperhatikan mereka berdua dengan saksama. Mungkin hanya mirip, mungkin juga bukan, tetapi...
Dia tidak buta!
Dua orang yang tidak jauh darinya adalah Yovan dan Rachel. Yang satu adalah suami tercintanya dan yang satunya lagi adalah sahabat yang paling dipercayainya!
Kiana memaksa dirinya untuk tenang, lalu pergi ke koridor untuk menelepon.
Tak lama kemudian, orang itu meneleponnya kembali.
"Nona Kiana, sudah diselidiki. Tuan Yovan memang menikah pada tanggal 6 Juni tiga tahun yang lalu."
Tanggal 6 Juni?
Namun, dia dan Yovan mendaftarkan penikahan mereka pada tanggal 16 Juni.
"Siapa nama pasangannya?"
"Rachel Winata."
Tenggorokan Kiana tercekat. "Kamu… salah lihat nggak?"
"Nggak mungkin salah."
Hati Kiana hancur.
Jadi, suaminya bukanlah suaminya, melainkan suami dari sahabat 'terbaiknya'…
Suara biola tiba-tiba terdengar. Kiana melihat ke luar dengan lesu.
Langit berbintang, bunga-bunga, dan alunan biola berpadu indah. Yovan menggenggam tangan Rachel. Keduanya menari anggun mengikuti alunan musik romantis.
Foto lain muncul lagi di layar besar. Foto itu diambil di kapal pesiar.
Kiana juga punya foto ini. Hanya saja, awalnya itu foto mereka bertiga, tetapi sekarang dirinya di dalam foto itu sudah dipotong.
Lucu sekali. Apalagi, Kiana sendiri yang mengatur acara jalan-jalan itu…
Astaga!
Kemarahan hampir menelan Kiana. Dia mengepalkan tangannya erat dan maju ke depan dengan langkah besar.
Dia ingin membongkar mereka dan ingin mereka menjelaskan padanya. Mengapa mereka tega memperlakukannya seperti ini?
Tepat di saat ini, Rachel tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan melambaikannya di depan Yovan.
Mata Yovan melebar. Pria itu buru-buru mengambilnya dan melihatnya dengan saksama, lalu memperlihatkan ekspresi gembira.
Langkah Kiana terhenti. Tangan Rachel sedang memegang alat tes kehamilan. Kiana telah menggunakannya beberapa kali, tetapi hasilnya selalu kecewa.
"Aku sudah mau jadi ayah! Aku sudah mau jadi ayah!"
Yovan yang biasanya selalu bersikap tenang dan teguh, kini berteriak kegirangan. Pria itu seakan berharap membagikan kabar baik ini ke seluruh dunia.
Sebaliknya, Kiana sepertinya sudah tahu alasannya…
Dua jam kemudian, Kiana naik mobil untuk mengikuti Yovan dan Rachel kembali kediaman Keluarga Sumargo.
Begitu Rachel keluar dari mobil, ibunya Yovan bergegas keluar untuk menyambutnya.
"Rachel, menantuku sayang. Yovan barusan meneleponku dan bilang kamu hamil. Astaga, ini kabar gembira! Dulu aku nggak mengizinkan Yovan menikah dengan Kiana karena dia mengalami kecelakaan mobil dan rahimnya terluka. Jadi, dia nggak bisa punya anak!"
Rachel memegang tangan ibunya Yovan sambil berkata, "Aku nggak merasa dirugikan, kok."
"Anak baik, inilah yang paling Ibu suka darimu. Kamu sangat bijaksana."
Kiana menatap ibu mertuanya yang selalu bersikap dingin padanya. Ibu mertuanya kini memegang tangan Rachel dengan tatapan penuh kasih sayang dan memanggilnya 'menantu sayang' serta membawanya masuk ke kediaman Keluarga Sumargo.
Benar saja. Lantaran rahim Kiana terluka dan sulit baginya untuk hamil, jadi Keluarga Sumargo tidak menyukainya.
Namun, dia bisa terluka parah sepenuhnya karena menyelamatkan Yovan!
Keluarga Sumargo tidak ingin disebut sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih, jadi mereka memberinya buku nikah palsu…
Tiga tahun. Mereka memperlakukannya seperti orang bodoh selama tiga tahun!
Tepat di saat itu, ponsel Kiana berdering. Dari orang yang dia anggap gila selama ini.
Kiana menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Apa kamu sudah lama tahu kalau pernikahanku dengan Yovan adalah palsu?"
Keluarga Januar adalah keluarga kaya paling bergengsi di Kota Yasel. Orang yang meneleponnya adalah kepala Keluarga Januar.
Berkat kerja sama dengan Grup Thevas, Kiana mendapat kehormatan bertemu dengan Pak Ishan Januar.
Kiana tidak tahu Pak Ishan menemuinya bukan untuk bekerja sama, tetapi karena ingin Kiana menikah dengan putranya.
"Asalkan Nona Kiana bersedia menikahi putraku dan melahirkan seorang cucu laki-laki atau cucu perempuan untuk Keluarga Januar, semua aset Keluarga Januar akan jadi milikmu kelak!"
Saat pertama kali mendengar hal itu, Kiana mengira Pak Ishan sudah pikun.
Bagaimana wanita yang sudah menikah seperti Kiana menikahi putra Pak Ishan? Bukankah ini konyol?
Namun setelah dipikir-pikir sekarang, sepertinya sebelum muncul ide seperti ini, Pak Ishan sudah menyelidikinya. Beliau tahu Kiana sudah ditipu.
"Nona Kiana, maaf karena kenyataan ini sudah menyakitimu. Tapi kalau harus memilih penipuan yang jahat atau kebenaran yang kejam, aku rasa kamu pasti akan memilih yang terakhir."
"Kamu sudah menyelidikiku, jadi seharusnya kamu tahu kalau aku pernah mengalami kecelakaan mobil dan sulit untuk hamil."
"Aku kenal seorang dokter pengobatan tradisional. Dia pernah memeriksa denyut nadimu dan bilang dia bisa membuatmu hamil. Aku percaya padanya."
Kiana tidak tahu siapa dokter pengobatan tradisional yang dibicarakan Pak Ishan atau kapan dokter itu memeriksa denyut nadinya, tetapi setelah kejadian ini, dia tidak lagi meragukan kemampuan Pak Ishan.
Kiana melirik kediaman Keluarga Sumargo lagi. Rumah itu terang benderang. Dulunya itu adalah rumahnya.
Namun, sekarang…
"Baik. Aku akan menikah dengan putramu!"
"Baguslah!"
"Tapi aku ingin acara pernikahan yang besar dan mewah, juga harus cepat!"
"Tentu saja. Acara pernikahan Keluarga Januar tentu harus membuat heboh seluruh kota!"
Pernikahan butuh waktu persiapan. Jadi, dijadwalkan sebulan kemudian.
Bab 2
Dalam sebulan ini, Kiana bisa bermain-main dengan anggota Keluarga Sumargo.
Kiana menyimpan ponselnya, lalu melangkah menuju kediaman Keluarga Sumargo.
Dia membunyikan bel pintu. Tak lama kemudian, pelayan, Bi Ida Marsya, datang membukakan pintu. Dia terkejut saat tahu siapa yang kembali.
"Kiana, bukankah kamu sedang perjalanan bisnis? Kenapa tiba-tiba kembali?"
Kiana tidak menggubrisnya. Dia berjalan mengitari Bi Ida dan masuk ke dalam.
Lantaran tidak bisa menghentikannya, Bi Ida langsung berteriak, "Nyonya, Nyonya! Nona Kiana sudah kembali dari perjalanan bisnis!"
Ketika Kiana berjalan sampai di tangga, ibunya Yovan bergegas keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup ayam untuk menghentikannya.
"Kenapa kamu…"
"Yovan ada di atas, 'kan?"
"Nggak, dia nggak di rumah…"
"Aku cari dia di atas."
Tanpa mendengarkan apa yang dikatakan ibunya Yovan, Kiana langsung naik ke atas.
"Kiana, Kiana, jangan naik ke atas." Ibunya Yovan bergegas menyusul dari belakang.
Kiana naik ke atas dan langsung menuju kamar mereka. Dia ingin tahu bagaimana keduanya akan menjelaskan begitu kepergok berada di kamar yang sama.
Kiana mendorong pintu hingga terbuka. Dia melihat Yovan yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Melihat Kiana masuk, jelas ada kepanikan yang muncul di matanya. Pria itu refleks mundur selangkah, seakan mencoba menutupi sesuatu.
"Kiana, kamu…"
"Kenapa aku tiba-tiba pulang dari perjalanan bisnis? Betul, nggak?" Kiana berjalan mendekati Yovan sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa kalian semua menanyakan hal yang sama padaku? Apa aku seharusnya nggak pulang?"
Yovan mengerutkan bibirnya dan berkata, "Seharusnya kamu meneleponku dulu."
Kiana tersenyum dan berkata, "Aku ingin memberimu kejutan."
Yovan terpaku.
"Tapi mengapa kamu terkejut dan nggak senang?"
Yovan menghela napas. "Mana mungkin? Aku sangat merindukanmu."
Selesai berbicara, Yovan ingin maju dan memeluknya.
Kiana langsung menghindar dan berjalan menuju ruang ganti.
"Kiana!"
Suara Yovan berubah karena panik. Pria itu mencoba menahannya.
Namun, Kiana sudah masuk. Meski tidak ada seorang pun di sana, dia bisa melihat ada ujung rok tersangkut di pintu lemari.
Rachel bersembunyi di dalam lemari!
Huh. Demi membohonginya, Rachel bahkan beradaptasi dalam berbagai situasi.
Kiana memang sudah dibutakan selama tiga tahun, tetapi sekarang dia sudah melihat semuanya dengan jelas.
Dia melangkah menuju lemari. Tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat.
"Kiana!" Yovan buru-buru meraih tangan Kiana. "Aku dengar dari Rachel, kamu sedang mempersiapkan ulang tahun pernikahan kita?"
Saat mendengar itu, Kiana menoleh.
Yovan dan Rachel bahkan membicarakan masalah ini.
Keduanya pasti sangat bangga karena berhasil mempermainkan ketulusannya dan menipunya.
Namun sekarang, Yovan benar-benar panik.
Pria itu menatap tangan Kiana yang mencengkeram gagang pintu lemari. Napasnya menjadi cepat dan ada lapisan tipis keringat muncul di dahinya.
Dia takut Kiana tahu. Keluarga Sumargo juga takut.
Kiana sengaja memegang gagang pintu dan berpura-pura ingin membuka pintu lemari. Hal itu membuat Yovan makin panik.
Ternyata, melihat reaksi orang yang tertipu sangatlah menarik.
Kiana pun melepaskan gagang pintu dan berpura-pura marah. "Ini rahasia. Kenapa dia malah memberitahumu?"
"Dia keceplosan, tapi aku nggak begitu suka Restoran Baroya."
Tentu saja Yovan tidak suka. Lantaran jika mereka pergi ke Restoran Baroya lagi, Kiana akan tahu bahwa buku nikah mereka palsu!
"Kalau begitu, ganti restoran lain saja. Tapi ini kejutan, jadi nggak boleh tanya-tanya lagi."
"Oke." Yovan menghela napas lega.
"Oh ya, mana baju luaranku yang warna cokelat muda? Aku ingat aku membawanya dalam perjalanan bisnis kali ini, tapi kenapa nggak ada di dalam koperku? Aku jadi penasaran. Apa aku meninggalkannya di rumah?"
Sembari berbicara, Kiana berpura-pura ingin membuka lemari lagi.
"Yang mana?" Yovan terkejut lagi dan buru-buru menariknya.
"Itu yang dibelikan Ibu. Aku sangat menyukainya. Jangan sampai hilang."
"Nggak ada di lemari. Mungkin di kantorku."
"Benarkah?"
"Iya, aku pernah lihat."
Yovan menarik Kiana keluar dari ruang ganti. Kebetulan berpapasan dengan ibunya yang bergegas masuk ke kamar.
"Kamu, kamu…"
"Bu, Kiana lagi cari baju luaran cokelat muda yang Ibu belikan untuknya. Ibu ada lihat nggak?"
Ibunya Yovan mengerjap beberapa kali. Setelah itu, dia baru menyadari apa yang terjadi. "Oh, cari baju ya? Baju luaran itu?"
"Ibu ada lihat nggak?" tanya Kiana dengan tenang.
"Nggak, nggak lihat. Bukankah hanya sepotong pakaian? Ibu akan belikan untukmu nanti."
Kiana tersenyum. "Ibu sangat baik padaku."
Wajah ibunya Yovan agak kaku. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Ini sup ayam yang Ibu masak untukku, 'kan? Terima kasih, Bu!"
Kiana berjalan maju sambil tersenyum, lalu merebut semangkuk sup ayam dari ibu mertuanya.
"Ini, ini…"
"Sup ayam ini bukan untukku?"
Ibunya Yovan membuka mulutnya beberapa kali. Terakhir, dia hanya bisa mengangguk datar.
Kiana mulai meneguk sup itu di depan mereka. Dia sesekali memuji keterampilan memasak ibu mertuanya. "Sup buatan Ibu enak sekali."
Selesai minum sup, Kiana tidak langsung pergi. Dia bilang dia lelah, lalu mengusir Yovan keluar kamar dan berbaring di atas kasur.
Kiana melirik ke lemari pakaian. Meringkuk di lemari sempit seperti itu pasti membuat Rachel tidak mampu meregangkan kakinya dan merasa pengap. Sahabatnya pasti sangat tersiksa.
Memikirkan hal ini, Kiana tidak kuasa menahan tawa.
Menarik sekali.
Dalam sebulan ini, Kiana berencana mengolok-olok dengan mereka.
Saat ayahnya Yovan pulang di malam hari, Kiana baru turun untuk makan malam bersama Keluarga Sumargo.
Grup Thevas didirikan oleh ayahnya Yovan. Dia telah bekerja keras untuk seluruh perusahaan selama bertahun-tahun. Usianya belum 60 tahun, tetapi rambutnya sudah memutih.
Kiana selalu menghormati ayah mertuanya. Pria itu bukan hanya seorang pengusaha yang cerdik, tetapi juga seorang tetua yang jujur dan murah hati.
Namun, ayah mertuanya jelas juga tahu tentang Yovan dan Rachel.
"Bagaimana perkembangan proyek pusat perbelanjaan Grup Januar?" tanya ayahnya Jovan sambil menatap Kiana.
Perjalanan bisnis Kiana kali ini adalah untuk membahas proyek tersebut. Itu juga sebuah kolaborasi yang krusial bagi Grup Thevas.
Melalui proyek inilah, Kiana bertemu dengan Pak Ishan, yang kemudian memicu berbagai kejadian berikutnya.
"Sudah hampir selesai. Langkah selanjutnya adalah membahas detail kerja sama dan kemudian menandatangani kontrak," jawab Kiana dengan nada datar.
Mendengar itu, ayah mertuanya mengangguk puas.
Namun, dia kemudian teringat sesuatu. Setelah terdiam sejenak, dia pun berkata, "Kamu sudah berusaha keras dalam proyek ini. Perusahaan akan memberimu bonus. Besok pergilah ke kantor untuk serah terima pekerjaan dan biarlah orang lain yang menangani proyek ini. Aku punya rencana lain untukmu."
Kiana mengerutkan keningnya.
Dia telah mempersiapkan proyek tersebut selama setengah tahun. Sekarang begitu tiba saat menuai hasil, dia diminta untuk menyerahkan tugas ini kepada orang lain?
"Serah terima sama siapa?" tanya Kiana.
"Rachel. Dia juga berkontribusi dalam proyek ini. Apalagi, dia juga teman baikmu. Seharusnya kamu nggak keberatan, 'kan?"
Kiana diam-diam tersenyum sinis.
Benar saja, hanya menantu sah yang dianggap sebagai keluarga. Wajar saja, mereka khawatir proyek sepenting itu dipegang olehnya.
Hanya saja, yang tidak mereka ketahui adalah seluruh Grup Januar akan segera menjadi milik Kiana.
Dia bisa memutuskan proyek ini berhasil atau tidak!
Bab 3
"Aku keberatan." Kiana mengangkat alisnya dan tersenyum.
Wajah ayahnya Yovan menjadi gelap. Dia tidak menyangka Kiana akan menolaknya secara langsung.
"Kiana, Ayah pasti punya alasan sendiri. Ikuti kata Ayah saja," bisik Yovan pada Kiana.
"Alasan apa?"
Yovan tercengang.
Kiana dulunya sangat menuruti perkataan Yovan dan tidak akan balik bertanya seperti sekarang ini.
"Bukannya kamu capek? Bagaimana kalau besok bahas di kantor…"
"Aku memang kecapekan. Lantaran aku harus berurusan dengan Grup Januar, menegoisasikan kerja sama, dan bergegas pulang untuk memberimu kejutan."
"Kalau begitu…"
"Tapi aku masih ingin tahu alasan Ayah melakukan hal ini."
Kiana tetap tersenyum. Nadanya masih lembut, tetapi dia tidak mundur.
"Hmph!" Ayah Yovan mendengus.
Kiana menatapnya dan berkata, "Ayah, aku sudah mempersiapkan proyek ini selama hampir enam bulan. Dalam sebulan, aku menghabiskan setengah waktuku untuk perjalanan bisnis, lembur sampai dini hari, bahkan tidur di kantor sudah jadi hal biasa. Sekarang proyek ini sudah hampir selesai. Kenapa Ayah ingin menggantikanku? Sudah seharusnya aku minta penjelasan, 'kan?"
"Kamu harus punya perspektif yang luas!"
"Perspektif luas seperti apa?"
"Kamu menantu Keluarga Sumargo. Cepat atau lambat, aset Keluarga Sumargo akan menjadi milikmu dan Yovan. Proyek seperti itu bukanlah apa-apa. Aku melakukan semua ini juga demi kebaikanmu."
Kiana tertawa.
Bisa-bisanya CEO Grup Thevas berbohong tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kamu masih berani tertawa!" Ibunya Jovan sudah menahan emosinya dari tadi. Namun, dia tidak bisa bersabar lagi sekarang. "Kalau bukan karena kamu menantu kami, ayahmu juga nggak perlu bernegosiasi denganmu! Dia bisa mengusirmu kapan saja. Emangnya kamu berani mengundurkan diri?"
"Bu!" Yovan memanggil ibunya dengan suara rendah tapi penuh amarah.
"Aku sudah lama bersabar padanya!" Ibunya Yovan menggebrak meja. "Menantu siapa yang tiap hari nggak di rumah? Bukan hanya nggak tahu cara melayani mertuanya, bahkan nggak bisa mengurus suaminya sendiri? Apa gunanya Keluarga Sumargo punya menantu seperti itu?"
"Aku nggak berguna?" Kiana mendengus dingin. "Tahun lalu, aku mendapatkan dua proyek untuk perusahaan dan menghasilkan laba bersih 200 miliar, 'kan?"
"Kamu kira perusahaan akan bangkrut tanpa proyek darimu?" Ibunya Jovan menunjuk hidung Kiana. "Kamu bisa mendapatkan proyek itu berkat bantuan ayah mertuamu dan juga Yovan. Terakhir, kamu malah mengambil begitu banyak bonus! Kamu sudah banyak mendapat keuntungan. Jangan nggak tahu berterima kasih!"
"Cukup!" teriak ayahnya Jovan dengan marah. "Apa satu keluarga perlu perhitungan sampai begitu jelas?"
"Ayah, Ibu, jangan marah. Aku akan membujuk Kiana nanti…"
"Nggak perlu membujukku!" Kiana menyela Yovan, "Aku akan mundur!"
Mendengar itu, Yovan menghela napas lega, lalu tersenyum dan memeluk Kiana. "Kiana, aku tahu kamu paling bijaksana."
Kiana melepaskan diri dari Jovan dan mencibir. "Aku paling bijaksana, jadi aku juga yang paling mudah ditipu."
Jovan mengerutkan kening. "Kiana, apa maksudmu?"
"Aku bilang kamu menipuku."
"Kapan aku menipumu?"
Kiana sengaja cemberut dan pura-pura marah. "Waktu kita pergi daftar nikah, kamu bilang mau kasih aku acara pernikahan yang megah, tapi kita sudah menikah tiga tahun dan kamu masih belum menepati janjimu!"
"Kamu mau acara pernikahan?"
"Permintaan ini nggak keterlaluan, 'kan?"
"Tentu saja keterlaluan!" Ibunya Jovan menyela lagi, "Kalian berdua sudah menikah, apalagi sudah tiga tahun. Buat apa mengadakan acara pernikahan sekarang? Sayang sekali!"
"Kalau aku nggak melangsungkan acara pernikahan, bagaimana orang luar bisa tahu kalau aku menantu Keluarga Sumargo, istrinya Yovan? Bagaimana kalau ada yang berpura-pura jadi aku? Apa aku harus diam saja?"
"Omong... omong kosong apa yang kamu bicarakan!"
"Kalian boleh minta aku mundur, tapi aku ingin acara pernikahan megah yang diketahui semua orang di Kota Yasel. Kalau nggak, jangan harap!"
"Sepertinya keluarga kami sudah terlalu memanjakanmu. Kamu…"
Tanpa menunggu ibunya Jovan selesai berbicara, Kiana langsung membanting piring dan sendoknya.
Dengan sekali sentakan, wajah tiga anggota Keluarga Sumargo itu langsung membiru.
Kiana dulu sudah terlalu baik pada mereka. Itu sebabnya, mereka berani menipu dan menghinanya seperti ini!
"Kamu…"
"Aku nggak selera makan. Aku mau ke atas dulu!"
Selesai berbicara, Kiana pun bangkit dan berjalan ke lantai atas.
Tidak seperti dulu. Sekalipun sudah selesai makan, dia akan menjadi orang terakhir yang bangkit dari meja makan. Dulu dia akan membantu Bi Ida mencuci piring, memotong buah untuk keluarga, dan mengobrol dengan mereka meskipun sudah mengantuk...
Sementara itu, di lantai atas. Bi Ida sedang memegang kunci dan mencoba membuka pintu kamar Kiana dengan Yovan.
Kiana menggerakkan sudut mulutnya dan melangkah maju.
"Bi Ida, apa yang kamu lakukan?"
Bi Ida terkejut. Dia langsung mendongakkan kepalanya dan buru-buru menyembunyikan kunci di tangannya ke belakang punggungnya.
"Aku… aku cuma mau membereskan kamarmu, tapi entah kenapa pintunya terkunci."
"Aku yang kunci."
"Hah?"
Kiana mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu di depan Bi Ida.
"Duduklah di ruang tamu sebentar. Aku akan segera membereskannya."
Bi Ida baru saja ingin melangkah masuk, tetapi Kiana masuk lebih dulu dan menghalangi pintu.
"Aku capek dan mau tidur lebih awal. Jadi, nggak perlu dibereskan lagi."
Selesai berbicara, tanpa menunggu respons dari Bi Ida, Kiana langsung membanting pintu hingga tertutup.
Dia membalikkan badannya. Dengan bantuan sedikit cahaya dari jendela, dia bisa melihat sesosok bayangan panik yang berlari ke ruang ganti.
Menarik sekali!
Siapa bilang hanya istri sah yang bisa muncul di depan umum? Bukankah di sini juga ada istri sah, tetapi masih harus bersembunyi seperti tikus?
Kiana sengaja tidak menyalakan lampu dan keluar masuk ruang ganti. Si 'tikus' hanya bisa meringkuk dan bersembunyi di dalam lemari, tanpa berani bersuara sedikit pun.
Bahkan di saat mandi, Kiana juga sengaja membiarkan pintu terbuka.
Setelah keluar dari kamar mandi, dia mendapati pintu lemarinya sedikit terbuka. Dia menduga udara di dalamnya cukup pengap dan si 'tikus' juga butuh udara segar.
Dia mengenakan piamanya dan berbaring di tempat tidur sambil menatap lemari dengan tenang.
Dia dan Rachel berkenalan sewaktu di SMA. Awalnya mereka hanya teman satu meja, lalu berkembang menjadi teman. Hubungan mereka makin lama makin baik. Mereka diterima di universitas yang sama dan menjadi sahabat.
Mereka selalu membicarakan segala hal, saling membantu, dan melewati masa kuliah bersama.
Kemudian, Kiana masuk ke Grup Thevas untuk magang. Salah satu teman magangnya adalah Yovan.
Saat itu, dia tidak tahu Yovan adalah putra Keluarga Sumargo. Dia mengira Yovan hanya anak dari keluarga biasa seperti dirinya.
Keduanya ditempatkan dalam tim yang sama. Mereka mengerjakan proyek bersama dan lembur bersama. Secara perlahan, perasaan keduanya berkembang dan kemudian mereka pun berpacaran.
Setelah tiga tahun menjalin hubungan, di saat kecelakaan mobil terjadi, dia baru tahu Yovan adalah putra Keluarga Sumargo.
Memikirkan hal ini, Kiana menyentuh perut bagian bawahnya.
Ada bekas luka yang dalam di sana.
Waktu itu, mereka berdua sedang duduk di kursi belakang taksi. Ketika pipa besi dari truk di depan menerobos jendela depan dan masuk dengan cepat, Kiana secara naluriah berdiri di depan Yovan. Kemudian, pipa besi itu menembus tubuhnya dan melukai rahimnya...
Selama masa pemulihannya, dia memperkenalkan Rachel untuk masuk ke Grup Thevas.
Jika dihitung-hitung, hanya dalam waktu setengah tahun, dia dan Yovan sudah mendaftarkan pernikahan mereka.
Sahabatnya memang pandai memainkan trik.
Tok, tok, tok…
Yovan mengetuk pintu dari luar kamar.
"Kiana, buka pintu. Aku mau masuk."