Bab 2
Dalam sebulan ini, Kiana bisa bermain-main dengan anggota Keluarga Sumargo.
Kiana menyimpan ponselnya, lalu melangkah menuju kediaman Keluarga Sumargo.
Dia membunyikan bel pintu. Tak lama kemudian, pelayan, Bi Ida Marsya, datang membukakan pintu. Dia terkejut saat tahu siapa yang kembali.
"Kiana, bukankah kamu sedang perjalanan bisnis? Kenapa tiba-tiba kembali?"
Kiana tidak menggubrisnya. Dia berjalan mengitari Bi Ida dan masuk ke dalam.
Lantaran tidak bisa menghentikannya, Bi Ida langsung berteriak, "Nyonya, Nyonya! Nona Kiana sudah kembali dari perjalanan bisnis!"
Ketika Kiana berjalan sampai di tangga, ibunya Yovan bergegas keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup ayam untuk menghentikannya.
"Kenapa kamu…"
"Yovan ada di atas, 'kan?"
"Nggak, dia nggak di rumah…"
"Aku cari dia di atas."
Tanpa mendengarkan apa yang dikatakan ibunya Yovan, Kiana langsung naik ke atas.
"Kiana, Kiana, jangan naik ke atas." Ibunya Yovan bergegas menyusul dari belakang.
Kiana naik ke atas dan langsung menuju kamar mereka. Dia ingin tahu bagaimana keduanya akan menjelaskan begitu kepergok berada di kamar yang sama.
Kiana mendorong pintu hingga terbuka. Dia melihat Yovan yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Melihat Kiana masuk, jelas ada kepanikan yang muncul di matanya. Pria itu refleks mundur selangkah, seakan mencoba menutupi sesuatu.
"Kiana, kamu…"
"Kenapa aku tiba-tiba pulang dari perjalanan bisnis? Betul, nggak?" Kiana berjalan mendekati Yovan sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa kalian semua menanyakan hal yang sama padaku? Apa aku seharusnya nggak pulang?"
Yovan mengerutkan bibirnya dan berkata, "Seharusnya kamu meneleponku dulu."
Kiana tersenyum dan berkata, "Aku ingin memberimu kejutan."
Yovan terpaku.
"Tapi mengapa kamu terkejut dan nggak senang?"
Yovan menghela napas. "Mana mungkin? Aku sangat merindukanmu."
Selesai berbicara, Yovan ingin maju dan memeluknya.
Kiana langsung menghindar dan berjalan menuju ruang ganti.
"Kiana!"
Suara Yovan berubah karena panik. Pria itu mencoba menahannya.
Namun, Kiana sudah masuk. Meski tidak ada seorang pun di sana, dia bisa melihat ada ujung rok tersangkut di pintu lemari.
Rachel bersembunyi di dalam lemari!
Huh. Demi membohonginya, Rachel bahkan beradaptasi dalam berbagai situasi.
Kiana memang sudah dibutakan selama tiga tahun, tetapi sekarang dia sudah melihat semuanya dengan jelas.
Dia melangkah menuju lemari. Tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat.
"Kiana!" Yovan buru-buru meraih tangan Kiana. "Aku dengar dari Rachel, kamu sedang mempersiapkan ulang tahun pernikahan kita?"
Saat mendengar itu, Kiana menoleh.
Yovan dan Rachel bahkan membicarakan masalah ini.
Keduanya pasti sangat bangga karena berhasil mempermainkan ketulusannya dan menipunya.
Namun sekarang, Yovan benar-benar panik.
Pria itu menatap tangan Kiana yang mencengkeram gagang pintu lemari. Napasnya menjadi cepat dan ada lapisan tipis keringat muncul di dahinya.
Dia takut Kiana tahu. Keluarga Sumargo juga takut.
Kiana sengaja memegang gagang pintu dan berpura-pura ingin membuka pintu lemari. Hal itu membuat Yovan makin panik.
Ternyata, melihat reaksi orang yang tertipu sangatlah menarik.
Kiana pun melepaskan gagang pintu dan berpura-pura marah. "Ini rahasia. Kenapa dia malah memberitahumu?"
"Dia keceplosan, tapi aku nggak begitu suka Restoran Baroya."
Tentu saja Yovan tidak suka. Lantaran jika mereka pergi ke Restoran Baroya lagi, Kiana akan tahu bahwa buku nikah mereka palsu!
"Kalau begitu, ganti restoran lain saja. Tapi ini kejutan, jadi nggak boleh tanya-tanya lagi."
"Oke." Yovan menghela napas lega.
"Oh ya, mana baju luaranku yang warna cokelat muda? Aku ingat aku membawanya dalam perjalanan bisnis kali ini, tapi kenapa nggak ada di dalam koperku? Aku jadi penasaran. Apa aku meninggalkannya di rumah?"
Sembari berbicara, Kiana berpura-pura ingin membuka lemari lagi.
"Yang mana?" Yovan terkejut lagi dan buru-buru menariknya.
"Itu yang dibelikan Ibu. Aku sangat menyukainya. Jangan sampai hilang."
"Nggak ada di lemari. Mungkin di kantorku."
"Benarkah?"
"Iya, aku pernah lihat."
Yovan menarik Kiana keluar dari ruang ganti. Kebetulan berpapasan dengan ibunya yang bergegas masuk ke kamar.
"Kamu, kamu…"
"Bu, Kiana lagi cari baju luaran cokelat muda yang Ibu belikan untuknya. Ibu ada lihat nggak?"
Ibunya Yovan mengerjap beberapa kali. Setelah itu, dia baru menyadari apa yang terjadi. "Oh, cari baju ya? Baju luaran itu?"
"Ibu ada lihat nggak?" tanya Kiana dengan tenang.
"Nggak, nggak lihat. Bukankah hanya sepotong pakaian? Ibu akan belikan untukmu nanti."
Kiana tersenyum. "Ibu sangat baik padaku."
Wajah ibunya Yovan agak kaku. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Ini sup ayam yang Ibu masak untukku, 'kan? Terima kasih, Bu!"
Kiana berjalan maju sambil tersenyum, lalu merebut semangkuk sup ayam dari ibu mertuanya.
"Ini, ini…"
"Sup ayam ini bukan untukku?"
Ibunya Yovan membuka mulutnya beberapa kali. Terakhir, dia hanya bisa mengangguk datar.
Kiana mulai meneguk sup itu di depan mereka. Dia sesekali memuji keterampilan memasak ibu mertuanya. "Sup buatan Ibu enak sekali."
Selesai minum sup, Kiana tidak langsung pergi. Dia bilang dia lelah, lalu mengusir Yovan keluar kamar dan berbaring di atas kasur.
Kiana melirik ke lemari pakaian. Meringkuk di lemari sempit seperti itu pasti membuat Rachel tidak mampu meregangkan kakinya dan merasa pengap. Sahabatnya pasti sangat tersiksa.
Memikirkan hal ini, Kiana tidak kuasa menahan tawa.
Menarik sekali.
Dalam sebulan ini, Kiana berencana mengolok-olok dengan mereka.
Saat ayahnya Yovan pulang di malam hari, Kiana baru turun untuk makan malam bersama Keluarga Sumargo.
Grup Thevas didirikan oleh ayahnya Yovan. Dia telah bekerja keras untuk seluruh perusahaan selama bertahun-tahun. Usianya belum 60 tahun, tetapi rambutnya sudah memutih.
Kiana selalu menghormati ayah mertuanya. Pria itu bukan hanya seorang pengusaha yang cerdik, tetapi juga seorang tetua yang jujur dan murah hati.
Namun, ayah mertuanya jelas juga tahu tentang Yovan dan Rachel.
"Bagaimana perkembangan proyek pusat perbelanjaan Grup Januar?" tanya ayahnya Jovan sambil menatap Kiana.
Perjalanan bisnis Kiana kali ini adalah untuk membahas proyek tersebut. Itu juga sebuah kolaborasi yang krusial bagi Grup Thevas.
Melalui proyek inilah, Kiana bertemu dengan Pak Ishan, yang kemudian memicu berbagai kejadian berikutnya.
"Sudah hampir selesai. Langkah selanjutnya adalah membahas detail kerja sama dan kemudian menandatangani kontrak," jawab Kiana dengan nada datar.
Mendengar itu, ayah mertuanya mengangguk puas.
Namun, dia kemudian teringat sesuatu. Setelah terdiam sejenak, dia pun berkata, "Kamu sudah berusaha keras dalam proyek ini. Perusahaan akan memberimu bonus. Besok pergilah ke kantor untuk serah terima pekerjaan dan biarlah orang lain yang menangani proyek ini. Aku punya rencana lain untukmu."
Kiana mengerutkan keningnya.
Dia telah mempersiapkan proyek tersebut selama setengah tahun. Sekarang begitu tiba saat menuai hasil, dia diminta untuk menyerahkan tugas ini kepada orang lain?
"Serah terima sama siapa?" tanya Kiana.
"Rachel. Dia juga berkontribusi dalam proyek ini. Apalagi, dia juga teman baikmu. Seharusnya kamu nggak keberatan, 'kan?"
Kiana diam-diam tersenyum sinis.
Benar saja, hanya menantu sah yang dianggap sebagai keluarga. Wajar saja, mereka khawatir proyek sepenting itu dipegang olehnya.
Hanya saja, yang tidak mereka ketahui adalah seluruh Grup Januar akan segera menjadi milik Kiana.
Dia bisa memutuskan proyek ini berhasil atau tidak!
Bab 3
"Aku keberatan." Kiana mengangkat alisnya dan tersenyum.
Wajah ayahnya Yovan menjadi gelap. Dia tidak menyangka Kiana akan menolaknya secara langsung.
"Kiana, Ayah pasti punya alasan sendiri. Ikuti kata Ayah saja," bisik Yovan pada Kiana.
"Alasan apa?"
Yovan tercengang.
Kiana dulunya sangat menuruti perkataan Yovan dan tidak akan balik bertanya seperti sekarang ini.
"Bukannya kamu capek? Bagaimana kalau besok bahas di kantor…"
"Aku memang kecapekan. Lantaran aku harus berurusan dengan Grup Januar, menegoisasikan kerja sama, dan bergegas pulang untuk memberimu kejutan."
"Kalau begitu…"
"Tapi aku masih ingin tahu alasan Ayah melakukan hal ini."
Kiana tetap tersenyum. Nadanya masih lembut, tetapi dia tidak mundur.
"Hmph!" Ayah Yovan mendengus.
Kiana menatapnya dan berkata, "Ayah, aku sudah mempersiapkan proyek ini selama hampir enam bulan. Dalam sebulan, aku menghabiskan setengah waktuku untuk perjalanan bisnis, lembur sampai dini hari, bahkan tidur di kantor sudah jadi hal biasa. Sekarang proyek ini sudah hampir selesai. Kenapa Ayah ingin menggantikanku? Sudah seharusnya aku minta penjelasan, 'kan?"
"Kamu harus punya perspektif yang luas!"
"Perspektif luas seperti apa?"
"Kamu menantu Keluarga Sumargo. Cepat atau lambat, aset Keluarga Sumargo akan menjadi milikmu dan Yovan. Proyek seperti itu bukanlah apa-apa. Aku melakukan semua ini juga demi kebaikanmu."
Kiana tertawa.
Bisa-bisanya CEO Grup Thevas berbohong tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kamu masih berani tertawa!" Ibunya Jovan sudah menahan emosinya dari tadi. Namun, dia tidak bisa bersabar lagi sekarang. "Kalau bukan karena kamu menantu kami, ayahmu juga nggak perlu bernegosiasi denganmu! Dia bisa mengusirmu kapan saja. Emangnya kamu berani mengundurkan diri?"
"Bu!" Yovan memanggil ibunya dengan suara rendah tapi penuh amarah.
"Aku sudah lama bersabar padanya!" Ibunya Yovan menggebrak meja. "Menantu siapa yang tiap hari nggak di rumah? Bukan hanya nggak tahu cara melayani mertuanya, bahkan nggak bisa mengurus suaminya sendiri? Apa gunanya Keluarga Sumargo punya menantu seperti itu?"
"Aku nggak berguna?" Kiana mendengus dingin. "Tahun lalu, aku mendapatkan dua proyek untuk perusahaan dan menghasilkan laba bersih 200 miliar, 'kan?"
"Kamu kira perusahaan akan bangkrut tanpa proyek darimu?" Ibunya Jovan menunjuk hidung Kiana. "Kamu bisa mendapatkan proyek itu berkat bantuan ayah mertuamu dan juga Yovan. Terakhir, kamu malah mengambil begitu banyak bonus! Kamu sudah banyak mendapat keuntungan. Jangan nggak tahu berterima kasih!"
"Cukup!" teriak ayahnya Jovan dengan marah. "Apa satu keluarga perlu perhitungan sampai begitu jelas?"
"Ayah, Ibu, jangan marah. Aku akan membujuk Kiana nanti…"
"Nggak perlu membujukku!" Kiana menyela Yovan, "Aku akan mundur!"
Mendengar itu, Yovan menghela napas lega, lalu tersenyum dan memeluk Kiana. "Kiana, aku tahu kamu paling bijaksana."
Kiana melepaskan diri dari Jovan dan mencibir. "Aku paling bijaksana, jadi aku juga yang paling mudah ditipu."
Jovan mengerutkan kening. "Kiana, apa maksudmu?"
"Aku bilang kamu menipuku."
"Kapan aku menipumu?"
Kiana sengaja cemberut dan pura-pura marah. "Waktu kita pergi daftar nikah, kamu bilang mau kasih aku acara pernikahan yang megah, tapi kita sudah menikah tiga tahun dan kamu masih belum menepati janjimu!"
"Kamu mau acara pernikahan?"
"Permintaan ini nggak keterlaluan, 'kan?"
"Tentu saja keterlaluan!" Ibunya Jovan menyela lagi, "Kalian berdua sudah menikah, apalagi sudah tiga tahun. Buat apa mengadakan acara pernikahan sekarang? Sayang sekali!"
"Kalau aku nggak melangsungkan acara pernikahan, bagaimana orang luar bisa tahu kalau aku menantu Keluarga Sumargo, istrinya Yovan? Bagaimana kalau ada yang berpura-pura jadi aku? Apa aku harus diam saja?"
"Omong... omong kosong apa yang kamu bicarakan!"
"Kalian boleh minta aku mundur, tapi aku ingin acara pernikahan megah yang diketahui semua orang di Kota Yasel. Kalau nggak, jangan harap!"
"Sepertinya keluarga kami sudah terlalu memanjakanmu. Kamu…"
Tanpa menunggu ibunya Jovan selesai berbicara, Kiana langsung membanting piring dan sendoknya.
Dengan sekali sentakan, wajah tiga anggota Keluarga Sumargo itu langsung membiru.
Kiana dulu sudah terlalu baik pada mereka. Itu sebabnya, mereka berani menipu dan menghinanya seperti ini!
"Kamu…"
"Aku nggak selera makan. Aku mau ke atas dulu!"
Selesai berbicara, Kiana pun bangkit dan berjalan ke lantai atas.
Tidak seperti dulu. Sekalipun sudah selesai makan, dia akan menjadi orang terakhir yang bangkit dari meja makan. Dulu dia akan membantu Bi Ida mencuci piring, memotong buah untuk keluarga, dan mengobrol dengan mereka meskipun sudah mengantuk...
Sementara itu, di lantai atas. Bi Ida sedang memegang kunci dan mencoba membuka pintu kamar Kiana dengan Yovan.
Kiana menggerakkan sudut mulutnya dan melangkah maju.
"Bi Ida, apa yang kamu lakukan?"
Bi Ida terkejut. Dia langsung mendongakkan kepalanya dan buru-buru menyembunyikan kunci di tangannya ke belakang punggungnya.
"Aku… aku cuma mau membereskan kamarmu, tapi entah kenapa pintunya terkunci."
"Aku yang kunci."
"Hah?"
Kiana mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu di depan Bi Ida.
"Duduklah di ruang tamu sebentar. Aku akan segera membereskannya."
Bi Ida baru saja ingin melangkah masuk, tetapi Kiana masuk lebih dulu dan menghalangi pintu.
"Aku capek dan mau tidur lebih awal. Jadi, nggak perlu dibereskan lagi."
Selesai berbicara, tanpa menunggu respons dari Bi Ida, Kiana langsung membanting pintu hingga tertutup.
Dia membalikkan badannya. Dengan bantuan sedikit cahaya dari jendela, dia bisa melihat sesosok bayangan panik yang berlari ke ruang ganti.
Menarik sekali!
Siapa bilang hanya istri sah yang bisa muncul di depan umum? Bukankah di sini juga ada istri sah, tetapi masih harus bersembunyi seperti tikus?
Kiana sengaja tidak menyalakan lampu dan keluar masuk ruang ganti. Si 'tikus' hanya bisa meringkuk dan bersembunyi di dalam lemari, tanpa berani bersuara sedikit pun.
Bahkan di saat mandi, Kiana juga sengaja membiarkan pintu terbuka.
Setelah keluar dari kamar mandi, dia mendapati pintu lemarinya sedikit terbuka. Dia menduga udara di dalamnya cukup pengap dan si 'tikus' juga butuh udara segar.
Dia mengenakan piamanya dan berbaring di tempat tidur sambil menatap lemari dengan tenang.
Dia dan Rachel berkenalan sewaktu di SMA. Awalnya mereka hanya teman satu meja, lalu berkembang menjadi teman. Hubungan mereka makin lama makin baik. Mereka diterima di universitas yang sama dan menjadi sahabat.
Mereka selalu membicarakan segala hal, saling membantu, dan melewati masa kuliah bersama.
Kemudian, Kiana masuk ke Grup Thevas untuk magang. Salah satu teman magangnya adalah Yovan.
Saat itu, dia tidak tahu Yovan adalah putra Keluarga Sumargo. Dia mengira Yovan hanya anak dari keluarga biasa seperti dirinya.
Keduanya ditempatkan dalam tim yang sama. Mereka mengerjakan proyek bersama dan lembur bersama. Secara perlahan, perasaan keduanya berkembang dan kemudian mereka pun berpacaran.
Setelah tiga tahun menjalin hubungan, di saat kecelakaan mobil terjadi, dia baru tahu Yovan adalah putra Keluarga Sumargo.
Memikirkan hal ini, Kiana menyentuh perut bagian bawahnya.
Ada bekas luka yang dalam di sana.
Waktu itu, mereka berdua sedang duduk di kursi belakang taksi. Ketika pipa besi dari truk di depan menerobos jendela depan dan masuk dengan cepat, Kiana secara naluriah berdiri di depan Yovan. Kemudian, pipa besi itu menembus tubuhnya dan melukai rahimnya...
Selama masa pemulihannya, dia memperkenalkan Rachel untuk masuk ke Grup Thevas.
Jika dihitung-hitung, hanya dalam waktu setengah tahun, dia dan Yovan sudah mendaftarkan pernikahan mereka.
Sahabatnya memang pandai memainkan trik.
Tok, tok, tok…
Yovan mengetuk pintu dari luar kamar.
"Kiana, buka pintu. Aku mau masuk."
Bab 4
"Sikapku barusan nggak benar. Aku minta maaf."
"Istriku, kamu tega membiarkanku tidur di kamar tamu? Tolong biarkan aku masuk. Aku ingin memelukmu."
Memikirkan Yovan yang baru saja bermesraan dengan Rachel dan sekarang masih ingin menyentuhnya, Kiana mendadak merasa jijik.
"Aku capek. Besok baru dibicarakan lagi."
"Istriku, sudah seminggu aku nggak memelukmu. Apa kamu nggak menginginkanku?"
Kiana merasa sangat jijik sampai-sampai hampir muntah.
"Bukannya kamu ingin menuruti perkataan orang tuamu? Kalau begitu, tidur saja sama mereka!"
Suasana di luar hening sejenak, lalu terdengar suara langkah kaki menjauh.
Yovan punya sifat pemarah. Dulu, saat mereka berdua bertengkar, Kiana selalu berusaha sebaik mungkin untuk menuruti pria itu.
Kalau mereka bertengkar, kemungkinan besar Kiana-lah yang akan mengalah lebih dulu.
Dia sangat mencintai Yovan…
Cih. Sekarang malah terdengar konyol sekali…
Kiana bilang dia ingin beristirahat, jadi dia pun berbaring dan menutup matanya, seolah-olah dia benar-benar tertidur.
Namun, Rachel masih sangat berhati-hati. Sampai tengah malam, dia baru berjinjit keluar dari lemari.
Mungkin karena sudah terlalu lama meringkuk di dalam, kakinya terasa mati rasa dan dia hampir terjatuh ke bawah.
Dia menutup mulutnya dan tidak berani bersuara. Dia membungkuk, berjalan ke pintu, lalu membukanya dengan hati-hati.
Di saat pintu tertutup, Kiana juga membuka matanya.
Di ruang tamu di lantai dua, ibunya Yovan memapah Rachel duduk dan memijat kakinya dengan prihatin.
"Anak baik, kamu sudah menderita. Siapa sangka dia akan pulang tiba-tiba?" Sembari berbicara, ibunya Yovan juga mendengus.
"Bu, aku nggak apa-apa. Ibu nggak perlu khawatir."
Rachel memang bilang begitu, tetapi wanita itu mengusap perutnya dan tampak kesakitan.
Melihat hal itu, ibunya Yovan langsung panik.
"Tapi bagaimana dengan kondisi cucuku? Kita ke rumah sakit ya?"
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Aku akan baik-baik saja setelah beberapa saat," ucap Rachel dengan patuh.
"Kiana memang pantas dibenci. Kalau terjadi sesuatu pada cucuku, aku akan mengulitinya hidup-hidup!"
"Sudahlah, jangan ganggu dia di saat krusial seperti ini," kata ayahnya Yovan sambil duduk di sofa di seberangnya.
"Tapi Rachel baru menantu keluarga kita, apalagi sekarang dia lagi hamil. Nggak mungkin kita biarkan dia terus tinggal di luar. Sebaliknya, menantu palsu justru menguasai rumah kita!"
"Ini hanya sementara. Setelah kontrak dengan Grup Januar ditandatangani, kita akan mengusirnya."
Ibunya Yovan mendengus. "Kalau begitu, biarlah dia tinggal di rumah kita beberapa hari lagi."
Rachel melengkungkan sudut mulutnya, tetapi saat pandangannya tertuju pada Yovan, pria itu tampak mengerutkan kening. Sepertinya pria itu tidak setuju dengan apa yang dilakukan orang tuanya.
Rachel menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara rendah, "Kiana dan aku berteman baik. Meski harus menderita, aku nggak keberatan kok. Biarlah dia yang tinggal di rumah."
"Kamu memperlakukannya sebagai teman baik dan tulus padanya, tapi dia nggak begitu. Kalau nggak, dia nggak akan memperebutkan proyek ini denganmu."
Usai berbicara, ibunya Yovan melihat Rachel masih menundukkan kepala. Terakhir, dia baru menatap putranya. Dia menyadari putranya masih belum mengungkapkan pendapatnya.
"Yovan, bagaimana menurutmu?"
Yovan mengusap dahinya dan berkata, "Aku mencintai Kiana dan nggak ingin menyakitinya."
"Tapi istrimu yang sesungguhnya adalah Rachel!"
"Aku sudah mengecewakan Rachel, jadi aku nggak ingin mengecewakan Kiana lagi!"
"Nggak, ini bukan salahmu," kata Rachel sambil buru-buru berdiri.
Yovan menghampirinya dan memeluknya.
"Beri aku waktu lagi. Aku akan jelaskan semuanya kepada Kiana. Dia begitu mencintaiku. Aku yakin dia pasti akan menerimamu dan anak kita."
Rachel mengangguk. "Aku nggak akan menghancurkan hubunganmu dengannya. Aku tahu kamu mencintainya, tapi aku ingin kamu membagi sedikit cinta dan perhatian padaku dan anak kita."
"Terima kasih sudah memahamiku."
Orang tua Yovan menatap Rachel dengan penuh pengakuan dan penghargaan di mata mereka. Berbeda dengan sikap kasar mereka terhadap Kiana.
Kiana bersandar di koridor. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
Benarkah ini abad ke-21? Bisa-bisanya orang zaman sekarang punya pemikiran melayani satu pria dengan dua wanita?
Tidak, mereka bukan hanya memiliki pemikiran tersebut, tetapi mereka sudah mewujudkannya.
Astaga. Dia sudah 'menikah' dengan keluarga macam apa ini?
Otak mereka pasti bermasalah!
"Tapi perut Rachel makin hari makin membesar. Aku khawatir kita nggak bisa menyembunyikannya dari Kiana lagi," kata ibunya Yovan dengan cemas.
Ayahnya Yovan berpikir sejenak, lalu berkata, "Aku akan tugaskan dia ke tempat lain dulu."
Saking emosinya, Kiana tidak bisa tidur sama sekali malam itu.
Keesokan paginya, Kiana baru saja turun dari lantai atas dan melihat Yovan datang membawa buket besar mawar.
"Sayang, kamu yang baru bangun pagi sangatlah cantik."
Yovan meletakkan buket bunga mawar itu ke dalam pelukan Kiana, lalu melingkarkan lengannya di bahu wanita itu dan ingin menciumnya, tetapi Kiana langsung mengelak.
"Kamu nggak ganti baju tadi malam? Badanmu bau keringat."
Yovan mengantar Rachel pulang tadi malam dan mungkin baru kembali di pagi harinya. Pria itu kemudian membeli buket mawar ini untuk menebus sedikit rasa bersalah yang mungkin timbul.
"Benarkah?" Yovan mengendus pakaiannya. "Oh ya, aku pergi ke kebun bunga di pinggiran kota tadi malam dan menunggu sampai mereka buka. Aku beli beberapa mawar segar untukmu."
Kiana ingin memutar bola matanya.
Bunga ini jelas dibeli dari toko bunga di seberang jalan. Apalagi, nama toko bunga itu jelas tertera di kertas kadonya.
Kiana juga tidak mengeksposnya. Dia hanya tersenyum manis. "Terima kasih, Sayang."
"Tunggu sebentar. Aku naik ke atas dan mandi dulu. Setelah itu, aku akan bawa kamu ke suatu tempat," kata Yovan.
"Tapi aku masih harus ke kantor hari ini."
"Kantor masih bisa beroperasi meski kamu nggak datang. Sebaliknya, kita berdua sudah lama nggak berkencan."
"Tapi hari ini…"
"Tunggu aku."
Sebelum Kiana berbicara lebih lanjut, Yovan sudah naik ke atas.
Melihat punggung pria itu, sudut bibir Kiana terangkat sedikit. Pria itu sengaja menunda keberangkatannya ke kantor.
Oke. Kiana akan meladeni mereka. Dia mau lihat trik baru apa yang bisa mereka mainkan.
Satu jam kemudian, Yovan membawanya ke sebuah gang di kota tua.
Kalau mau dideskripsikan dengan kata-kata yang enak didengar, tempat ini penuh dengan kehidupan, tetapi kalau mau terus terang, terlalu banyak pembangunan ilegal di sana.
Sanitasi tidak sesuai standar, dan ketertiban lalu lintas nyaris tidak ada.
Namun tiga tahun lalu, mereka tinggal di sini.
Saat itu, Kiana tidak tahu identitas Yovan. Mereka berdua bekerja di departemen proyek Grup Thevas dan menerima gaji biasa. Untuk menghemat uang, mereka menyewa rumah di kota tua yang jauh dari perusahaan.
Satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Biaya sewanya 1,6 juta.
Di gang berantakan inilah mereka tinggal dulu. Mereka melewati pagi-pagi yang tak terhitung jumlahnya, menghadap cahaya pagi, bergandengan tangan, seolah-olah mereka bukan pergi melakukan pekerjaan berat, melainkan menuju masa depan yang cerah.
Itulah yang dirasakan Kiana saat itu.
Agar bisa menetap di kota ini bersama Yovan dan membeli rumah mereka sendiri, dia penuh energi setiap hari.
Mobil berhenti. Yovan menariknya ke sebuah gedung yang menghadap ke jalan.
Tidak ada lift, jadi mereka hanya bisa naik tangga. Pegangan tangga tertutup minyak dan kotoran yang menumpuk selama bertahun-tahun. Dindingnya berbintik-bintik dan cat-cat mengelupas.
Begitu sampai di lantai lima, Yovan mengeluarkan kunci dari sakunya, lalu tersenyum misterius pada Kiana dan membuka pintu.
Perabotan di ruangan itu masih tetap sama. Saat Kiana masuk, dia merasa seakan kembali ke tiga tahun lalu.
Saat itu, dia sangat suka mendekorasi rumah kecilnya. Hanya saja, rumah itu sudah tua. Tidak peduli bagaimana mendekorasinya, tetap saja terlihat lusuh, kecuali direnovasi secara besar-besaran.
Sebenarnya, Kiana tidak pernah menganggap tempat ini sebagai rumahnya. Dia percaya, berdasarkan kemampuannya, dia pasti bisa membeli rumah besar di lokasi strategis.
"Aku sudah beli tempat ini," kata Yovan sambil menatapnya.
"Uh?"
Beli tempat ini?
"Buat kamu."
Kiana sampai tidak tahu harus berkata apa.
Yovan masuk dan duduk di sofa kecil, yang mana dulunya adalah tempat favoritnya.
"Masih ingat, nggak? Waktu itu, kamu masak di dapur dan aku membaca buku di sini. Meski kita sibuk dengan urusan masing-masing, kita sesekali akan saling memandang dan tersenyum."
Wajah Yovan dipenuhi kebahagiaan saat mengenang masa lalu.
"Aku harap masa depan kita juga akan seperti ini."
Kiana mendengus dingin.
Dia bangun pagi-pagi untuk memasak, sementara Yovan masih tidur.
Dia menyiapkan makanan. Sebaliknya, Yovan duduk di meja makan sambil menunggu Kiana mengambilkan makanan untuknya.
Selesai makan, Yovan pergi berganti pakaian. Sedangkan, Kiana sibuk mencuci piring dan panci.
Kiana sibuk di perusahaan sepanjang hari. Karena status Yovan sebagai tuan muda, pria itu diberi pekerjaan ringan dan menghabiskan sepanjang hari minum kopi di kantor.
Malam harinya, Kiana masih harus memasak meski kelelahan. Sementara, Yovan akan membaca buku seperti yang barusan dikatakannya.
Baru saja Kiana bisa berbaring di tempat tidur, Yovan datang mengusiknya lagi. Pria itu mengeluhkan dirinya tidak cukup antusias...
Memikirkan hal ini, Kiana ingin menampar wajahnya sendiri beberapa kali.
Dia pasti sudah gila waktu itu. Bagaimana dia bisa menoleransi Yovan memperlakukannya seperti itu?
Yovan jelas-jelas bisa membelikannya apartemen besar atau vila sekarang, tetapi pria itu justru membelikannya rumah kumuh ini. Pria itu bahkan tersentuh dengan tindakannya sendiri.
"Aku nggak suka rumah ini. Kalau kamu suka, tinggal saja sendiri."
Usai melontarkan kata-kata itu, Kiana langsung berbalik dan pergi.
Begitu sampai di lantai bawah, Yola Winata, seorang rekan satu timnya, meneleponnya.
"Ketua, apa yang terjadi? Rachel dipindahkan ke tim kita. Katanya dia akan mengambil alih pekerjaanmu."