Bab 2
Bayu memegangi kepalanya dan berteriak, "Sialan."
Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Brian dengan jari gemetar.
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan rasa terima kasih.
Panggilan itu segera tersambung. Bayu langsung bicara dengan tajam.
"Brian, aku nggak peduli kamu sedang apa! Sekarang! Jangan tunggu lama! Pergi ke Rumah Sakit Harapan sekarang juga!"
Suara di ujung sana sedikit berisik, seperti berada di tempat ramai.
"Kak Bayu? Hebat sekali perempuan itu. Sampai menyeretmu ikut pura-pura! Aku masih bisa mengerti kalau cuma perempuan bodoh itu saja, tapi kenapa kamu ikut-ikutan, Kak? Aku beneran masih ada urusan di sini, nggak ada waktu meladeni sandiwara kalian! Dia selalu ribut-ribut setiap aku pergi ke tempat Laudya! Bahkan sekarang sampai melibatkanmu. Nggak bisakah dia lebih mandiri? Aku tutup dulu, masih ada urusan!"
Bayu baru membuka mulut dan belum sempat bersuara, tapi Brian sudah menutup telepon.
Bayu menatap telepon yang telah ditutup dan menelepon nomor Brian lagi berkali-kali.
Tapi, yang terdengar hanya suara tanpa emosi operator.
Kemarahan Bayu saat awal menelepon tadi kini berubah menjadi rasa tidak berdaya dan kecewa.
Pada akhirnya, Brian bahkan langsung memblokir nomor Bayu.
Bayu tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi dan memaki-maki saat operator bersuara.
Aku menitikkan air mata dan memegangi wajahku, menangis tanpa suara.
Sebenarnya, aku takut tidak bisa mengendalikan senyuman di sudut mulutku.
Perawat yang ada di meja informasi mendesah dan memberikan ponselnya kepadaku.
"Coba pakai punya saya. Ini soal nyawa."
Aku menerima ponsel itu dan menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.
Panggilan itu tersambung tidak lama setelah mulai berdering. Tapi Brian langsung mengumpat ketika mendengar suaraku.
"Apa sih maumu? Kalau mau mati, mati saja sendiri! Nggak bisa hidup tanpa aku? Aku jadi mual setiap mendengar suaramu sekarang! Saat aku pulang nanti, kita cerai saja. Aku sudah nggak tahan. Dasar bodoh!"
Setelah mengatakan itu, telepon langsung ditutup.
Orang-orang yang tadi kasihan padaku kini menjadi sangat marah.
"Apa gunanya membesarkan anak laki-laki? Ayah sendiri sedang kritis, malah pergi dengan selingkuhan!"
"Sampah, bikin malu laki-laki lain!"
Tidak peduli seberapa besar aku menderita, selama tidak ada orang lain yang tahu, aku hanya bisa menelannya dalam diam. Tapi setelah melihat kepedulian orang lain, meski hanya sedikit saja, aku benar-benar tidak dapat menahannya lagi.
Air mata meluap dari mataku dan sudut bibirku tanpa sadar meringkuk ke bawah. Aku mengangkat tangan ke wajah untuk menyeka air mata.
Seorang wanita yang menyaksikan sejak awal di sebelahku menawarkan selembar kartu nama kepadaku.
Di sana tertulis "Anett Damian, pengacara perceraian".
Aku mengusap air mataku dan menerima kertas itu, memasukkannya ke dalam saku bajuku dengan tenang.
Entah berapa lama aku menunggu, lampu di ruang operasi akhirnya padam.
Dokter yang keluar dari ruang operasi melepas maskernya dengan lelah dan menggelengkan kepalanya tanpa daya kepadaku dan Bayu.
"Umurnya sudah terlalu lanjut. Dengan pendarahan sehebat itu .... Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin."
Setelah mengatakan itu, dia berjalan melewati kami.
Harusnya Brian yang mengurus segala proses pemakaman, tapi Bayu tidak mengizinkan siapa pun menghubunginya.
"Dia anak durhaka, nggak pantas jadi anak pamanku. Sia-sia saja pamanku menyayanginya sejak kecil. Dasar anak nggak tahu diuntung!"
Kemarahan di mata Bayu berkobar.
Bayu dianggap sebagai anak yang paling terpelajar dan sukses di keluarga. Jadi, tidak ada yang membantah perkataannya.
Aku bersama Bayu mengurus segala proses pemakaman. Saat kupikir Brian tidak akan muncul, dia tiba-tiba muncul.
Saat itu adalah hari pemakaman ayah mertuaku. Kami baru saja akan pergi mengantarkan kepergiannya untuk yang terakhir kali. Raungan marah Brian bergemuruh dari luar pintu.
"Keluar kamu, Hilda! Siapa suruh kamu melakukan ini? Kamu punya nyali memanggil semua orang cuma untuk mengelabuiku? Oke, aku mengaku kalah!"
Saat melihat Brian, muncul lagi rasa takut yang menenggelamkanku di ambang kematian.
Aku menggigil tak terkendali memeluk foto ayah mertuaku.
Air mata mengalir tanpa sadar dari sudut mataku.
"Brian, sudah puas sekarang? Apa katamu waktu kami telepon kamu berkali-kali hari itu? Cuma demi perempuan sialan itu, kamu nggak mau mendengarkan sedikit pun! Apa gunanya kamu bertingkah sekarang? Pergi dari sini! Keluarga kami nggak butuh binatang sepertimu! Pergi!"
Baru kali ini aku melihat Bayu sangat marah.
"Kak, kalian kena pelet apa sampai mau bersekongkol dengan dia untuk menipuku! Di mana ayahku? Bisa-bisanya Ayah menuruti Hilda bersandiwara!"
Brian berteriak memanggil ayahnya sambil mencari-cari di sekeliling.
Bayu memejamkan mata dan menghela napas panjang. Dia meletakkan abu kremasi ayah mertuaku di ruang duka dan berjalan ke arah Brian, menariknya dengan paksa ke depan abu tersebut.
Bab 3
"Berlutut! Kamu cari-cari ayahmu, 'kan? Dia ada di sini! Kamu bodoh atau tolol? Buat apa kami menipumu? Dasar nggak tahu malu!"
Bayu terlalu emosional. Istrinya segera menepuk-nepuk lengannya untuk menenangkan.
Tapi entah karena terlalu kewalahan atau kenapa, istrinya berhenti berusaha menenangkan dan berjalan menjauh dengan kaku.
Brian terjatuh ke lantai memandangi abu itu, lalu foto di tanganku.
Dia menjambak rambutnya sendiri dan berteriak.
Tiba-tiba, dia mendongak dan menatapku dengan tatapan menyeramkan.
Seperti binatang buas, dia mengaum dan menerkamku.
"Ini semua salahmu! Ayahku sudah sangat tua, tapi kamu nggak merawatnya dengan baik! Kamu gagal berbakti padanya saat dia masih hidup, jadi matilah dan lanjutkan tugasmu sebagai menantu di alam kubur! Mati! Mati!"
Tangannya mencekik leherku. Aku tidak berdaya, tidak bisa mendorongnya meski telah mengeluarkan segenap tenagaku. Tepat saat kupikir aku akan mati lagi, tangan yang mencekik leherku mengendur.
Aku berjuang untuk bangun dan bernapas terengah-engah.
Baru saat itu aku menyadari bahwa Brian ditarik oleh Bayu dan seorang pemuda.
Aku menyeka air mata dari mataku dengan gemetar.
Bayu meninju wajah Brian.
"Bangun!"
Mata Brian merah kesetanan. Ketika dia bangkit untuk berkelahi dengan Bayu, telepon genggamnya berdering.
Nada dering itu adalah suara rekaman Laudya.
Itu adalah dering panggilan khusus nomor Laudya.
Brian sepertinya sangat mencintai Laudya. Bahkan dalam situasi marah seperti itu, dia bisa menjawab telepon dari Laudya dengan tenang.
"Halo, iya. Aku ke sana sekarang, jangan takut!"
Dia menutup telepon dan hendak keluar.
"Mau pergi ke mana kamu? Sebagai anak Paman, kamu nggak mau mengantar kepergiannya?"
Bayu menatap Brian dengan wajah tidak percaya.
"Sudah ada kalian semua di sini. Nggak ada pengaruhnya kalau aku nggak ada. Laudya sedang butuh aku sekarang, aku harus pergi!"
Brian hendak lanjut berjalan keluar.
"Apa kamu sudah gila?! Kamu nggak boleh pergi! Nggak masalah kalau kamu nggak pulang sama sekali, tapi kamu sudah pulang! Kamu nggak boleh pergi ke mana-mana!"
"Kalau kamu berani pergi, kami nggak akan menganggapmu keluarga lagi! Kamu rela putus hubungan dengan keluarga demi perempuan?"
"Buka matamu! Orang berusaha keras saat ayahmu sekarat itu istrimu!"
Entah kata apa yang menohok Brian, langkahnya lambat laun melambat.
Setelah melirik guci berisi abu ayahnya, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan kepada Laudya.