Bab 1

Ayah mertuaku jatuh terpeleset dan terkena serangan stroke. Darah menggenang di lantai dari kepalanya.

Aku mengambil kain pel dengan tenang dan membersihkan darah di lantai.

Menit-menit ini adalah waktu penting untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi aku, menantu perempuannya, membiarkan waktu tersebut berlalu begitu saja.

Di kehidupan sebelumnya, aku adalah orang pertama yang mengetahui jatuhnya ayah mertuaku. Aku cepat-cepat memanggil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.

Tindakan operasi perlu tanda tangan persetujuan dari anggota keluarga terdekat. Tapi saat aku menelepon suamiku, dia mengira aku cemburu karena dia sedang bersama cinta pertamanya. Dia menolak datang ke rumah sakit dan menuduhku mengarang alasan agar membuatnya pulang.

Akhirnya, ayah mertuaku meninggal karena tidak mendapat perawatan tepat waktu. Karena tidak bisa menemui ayahnya untuk yang terakhir kali, suamiku menyalahkanku dan akhirnya membunuhku dengan pisau dapur.

"Ini semua salahmu! Ayahku sudah sangat tua, tapi kamu nggak merawatnya dengan baik! Kamu gagal berbakti padanya saat dia masih hidup, jadi matilah dan lanjutkan tugasmu sebagai menantu di alam kubur!"

Aku membuka mata dan menemukan bahwa aku kembali ke hari ketika ayah mertuaku jatuh.

....

Segera setelah membuka mata lagi, aku melihat ayah mertuaku terbaring di lantai.

Aku punya fobia darah sejak kecil dan spontan ingin menelepon suamiku.

Saat membuka kunci ponselku, aku teringat saat suamiku menusukku dengan pisau dapur sebelum aku mati.

Rasa sakit itu seperti masih melekat. Dengan jari-jari yang gemetar, aku menghentikan niat untuk menelepon suamiku dan beralih untuk menelepon Bayu, sepupu suamiku.

Telepon itu diangkat tanpa menunggu lama.

"Sayang, cepat pulang. Ayah jatuh berdarah-darah. Aku harus apa? Aku takut darah, cepat pulang!"

Aku pura-pura panik dan salah sambung. Suaraku terisak-isak cemas.

"Jangan panik. Aku ke sana sekarang."

Rumah sepupuku sangat dekat dari sini. Tidak sampai sepuluh menit jalan kaki.

Seperti yang kuharapkan, pintu depan di ketuk dalam waktu kurang dari lima menit.

Aku membuka pintu dengan tergesa-gesa dan pura-pura terkejut melihat orang yang datang.

"Kak Bayu? Bukannya aku telepon Brian?"

Dia tidak menjelaskan, tapi segera menggendong ayah mertuaku dan berlari ke bawah, menyuruhku mengikutinya.

Saat kami sampai di rumah sakit, pakaian Bayu sudah berlumuran darah.

"Siapa keluarga terdekat pasien? Kondisi pasien sangat mendesak dan perlu tanda tangan persetujuan dari keluarga terdekat!"

Seorang perawat bergegas keluar dari ruang IGD, memegang surat persetujuan tindakan medis.

"Saya. Saya menantu perempuannya."

"Nggak bisa, harus keluarga terdekat."

Dia kemudian menoleh kepada Bayu.

"Saya keponakannya."

Perawat itu pun mengerutkan kening.

"Ada anggota keluarga yang lain?"

"Suster, tolong lanjutkan dulu operasinya. Saya telepon suami saya dulu."

Perawat itu membawa kembali suratnya ke ruang IGD.

Aku mengeluarkan ponsel dan menelepon suamiku di depan Bayu.

Panggilan pertama, ditolak.

Panggilan kedua, ditolak.

Panggilan ketiga akhirnya tersambung. Aku mengaktifkan speaker sehingga suara tak sabar Brian memenuhi lorong.

"Telepon terus! Apa maumu?!"

"Sayang, Ayah tadi jatuh dan pendarahan hebat. Tapi dokter butuh tanda tangan dari keluarga terdekat sebelum melakukan tindakan. Cepat pergi ke Rumah Sakit Harapan!"

Acuh tak acuh seperti biasanya, masih sama seperti terakhir kali.

Memikirkan saat dia menikamku dengan pisau dapur, tatapanku seketika mendingin. Tapi aku tetap harus pura-pura.

Begitu mendengar penjelasanku, Brian membentak marah.

"Ayah jatuh ya bawa ke rumah sakit. Kenapa telepon aku? Aku bukan dokter! Kamu pasti cemburu dan sengaja membuat-buat alasan karena kamu tahu aku sedang di rumah Laudya, ya 'kan? Sudah kubilang, percuma! Kamu nggak bisa hidup tanpa aku?"

Setelah mengatakan itu, suara wanita yang lembut dengan nada terisak terdengar dari sana.

"Brian, aku takut ...."

Tanpa menungguku menjawab, dia menutup telepon.

Orang-orang di sekelilingku memandang ke arahku penuh simpati.

Sambil mengepalkan tinjuku begitu keras sampai ujung jariku memutih, aku tersenyum pahit.

Bayu sangat marah dan berjalan mondar-mandir di depan bangsal.

Dan segera ambil keputusan.

"Telepon lagi! Aku nggak percaya dia lebih mementingkan perempuan dibanding ayahnya sendiri!"

Hal yang sama juga terjadi di kehidupanku sebelumnya. Hanya saja, aku waktu itu menelepon diam-diam sambil bersembunyi di tangga.

Kali ini, semua orang yang ada di sini menjadi saksiku.

Mendengar perkataan Bayu, aku menelepon lagi di depan semua orang.

Tapi teleponnya langsung ditolak hanya setelah berdering dua kali.

Saat aku menelepon lagi, aku menyadari ternyata nomorku telah diblokir.

Aku memasang wajah cemas. Air mata mengalir dalam keputusasaan.

Pada kenyataannya, aku menghela napas lega.

Menjatuhkan diri di kursi tunggu.

Bab 2

Bayu memegangi kepalanya dan berteriak, "Sialan."

Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Brian dengan jari gemetar.

Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan rasa terima kasih.

Panggilan itu segera tersambung. Bayu langsung bicara dengan tajam.

"Brian, aku nggak peduli kamu sedang apa! Sekarang! Jangan tunggu lama! Pergi ke Rumah Sakit Harapan sekarang juga!"

Suara di ujung sana sedikit berisik, seperti berada di tempat ramai.

"Kak Bayu? Hebat sekali perempuan itu. Sampai menyeretmu ikut pura-pura! Aku masih bisa mengerti kalau cuma perempuan bodoh itu saja, tapi kenapa kamu ikut-ikutan, Kak? Aku beneran masih ada urusan di sini, nggak ada waktu meladeni sandiwara kalian! Dia selalu ribut-ribut setiap aku pergi ke tempat Laudya! Bahkan sekarang sampai melibatkanmu. Nggak bisakah dia lebih mandiri? Aku tutup dulu, masih ada urusan!"

Bayu baru membuka mulut dan belum sempat bersuara, tapi Brian sudah menutup telepon.

Bayu menatap telepon yang telah ditutup dan menelepon nomor Brian lagi berkali-kali.

Tapi, yang terdengar hanya suara tanpa emosi operator.

Kemarahan Bayu saat awal menelepon tadi kini berubah menjadi rasa tidak berdaya dan kecewa.

Pada akhirnya, Brian bahkan langsung memblokir nomor Bayu.

Bayu tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi dan memaki-maki saat operator bersuara.

Aku menitikkan air mata dan memegangi wajahku, menangis tanpa suara.

Sebenarnya, aku takut tidak bisa mengendalikan senyuman di sudut mulutku.

Perawat yang ada di meja informasi mendesah dan memberikan ponselnya kepadaku.

"Coba pakai punya saya. Ini soal nyawa."

Aku menerima ponsel itu dan menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.

Panggilan itu tersambung tidak lama setelah mulai berdering. Tapi Brian langsung mengumpat ketika mendengar suaraku.

"Apa sih maumu? Kalau mau mati, mati saja sendiri! Nggak bisa hidup tanpa aku? Aku jadi mual setiap mendengar suaramu sekarang! Saat aku pulang nanti, kita cerai saja. Aku sudah nggak tahan. Dasar bodoh!"

Setelah mengatakan itu, telepon langsung ditutup.

Orang-orang yang tadi kasihan padaku kini menjadi sangat marah.

"Apa gunanya membesarkan anak laki-laki? Ayah sendiri sedang kritis, malah pergi dengan selingkuhan!"

"Sampah, bikin malu laki-laki lain!"

Tidak peduli seberapa besar aku menderita, selama tidak ada orang lain yang tahu, aku hanya bisa menelannya dalam diam. Tapi setelah melihat kepedulian orang lain, meski hanya sedikit saja, aku benar-benar tidak dapat menahannya lagi.

Air mata meluap dari mataku dan sudut bibirku tanpa sadar meringkuk ke bawah. Aku mengangkat tangan ke wajah untuk menyeka air mata.

Seorang wanita yang menyaksikan sejak awal di sebelahku menawarkan selembar kartu nama kepadaku.

Di sana tertulis "Anett Damian, pengacara perceraian".

Aku mengusap air mataku dan menerima kertas itu, memasukkannya ke dalam saku bajuku dengan tenang.

Entah berapa lama aku menunggu, lampu di ruang operasi akhirnya padam.

Dokter yang keluar dari ruang operasi melepas maskernya dengan lelah dan menggelengkan kepalanya tanpa daya kepadaku dan Bayu.

"Umurnya sudah terlalu lanjut. Dengan pendarahan sehebat itu .... Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin."

Setelah mengatakan itu, dia berjalan melewati kami.

Harusnya Brian yang mengurus segala proses pemakaman, tapi Bayu tidak mengizinkan siapa pun menghubunginya.

"Dia anak durhaka, nggak pantas jadi anak pamanku. Sia-sia saja pamanku menyayanginya sejak kecil. Dasar anak nggak tahu diuntung!"

Kemarahan di mata Bayu berkobar.

Bayu dianggap sebagai anak yang paling terpelajar dan sukses di keluarga. Jadi, tidak ada yang membantah perkataannya.

Aku bersama Bayu mengurus segala proses pemakaman. Saat kupikir Brian tidak akan muncul, dia tiba-tiba muncul.

Saat itu adalah hari pemakaman ayah mertuaku. Kami baru saja akan pergi mengantarkan kepergiannya untuk yang terakhir kali. Raungan marah Brian bergemuruh dari luar pintu.

"Keluar kamu, Hilda! Siapa suruh kamu melakukan ini? Kamu punya nyali memanggil semua orang cuma untuk mengelabuiku? Oke, aku mengaku kalah!"

Saat melihat Brian, muncul lagi rasa takut yang menenggelamkanku di ambang kematian.

Aku menggigil tak terkendali memeluk foto ayah mertuaku.

Air mata mengalir tanpa sadar dari sudut mataku.

"Brian, sudah puas sekarang? Apa katamu waktu kami telepon kamu berkali-kali hari itu? Cuma demi perempuan sialan itu, kamu nggak mau mendengarkan sedikit pun! Apa gunanya kamu bertingkah sekarang? Pergi dari sini! Keluarga kami nggak butuh binatang sepertimu! Pergi!"

Baru kali ini aku melihat Bayu sangat marah.

"Kak, kalian kena pelet apa sampai mau bersekongkol dengan dia untuk menipuku! Di mana ayahku? Bisa-bisanya Ayah menuruti Hilda bersandiwara!"

Brian berteriak memanggil ayahnya sambil mencari-cari di sekeliling.

Bayu memejamkan mata dan menghela napas panjang. Dia meletakkan abu kremasi ayah mertuaku di ruang duka dan berjalan ke arah Brian, menariknya dengan paksa ke depan abu tersebut.

Bab 3

"Berlutut! Kamu cari-cari ayahmu, 'kan? Dia ada di sini! Kamu bodoh atau tolol? Buat apa kami menipumu? Dasar nggak tahu malu!"

Bayu terlalu emosional. Istrinya segera menepuk-nepuk lengannya untuk menenangkan.

Tapi entah karena terlalu kewalahan atau kenapa, istrinya berhenti berusaha menenangkan dan berjalan menjauh dengan kaku.

Brian terjatuh ke lantai memandangi abu itu, lalu foto di tanganku.

Dia menjambak rambutnya sendiri dan berteriak.

Tiba-tiba, dia mendongak dan menatapku dengan tatapan menyeramkan.

Seperti binatang buas, dia mengaum dan menerkamku.

"Ini semua salahmu! Ayahku sudah sangat tua, tapi kamu nggak merawatnya dengan baik! Kamu gagal berbakti padanya saat dia masih hidup, jadi matilah dan lanjutkan tugasmu sebagai menantu di alam kubur! Mati! Mati!"

Tangannya mencekik leherku. Aku tidak berdaya, tidak bisa mendorongnya meski telah mengeluarkan segenap tenagaku. Tepat saat kupikir aku akan mati lagi, tangan yang mencekik leherku mengendur.

Aku berjuang untuk bangun dan bernapas terengah-engah.

Baru saat itu aku menyadari bahwa Brian ditarik oleh Bayu dan seorang pemuda.

Aku menyeka air mata dari mataku dengan gemetar.

Bayu meninju wajah Brian.

"Bangun!"

Mata Brian merah kesetanan. Ketika dia bangkit untuk berkelahi dengan Bayu, telepon genggamnya berdering.

Nada dering itu adalah suara rekaman Laudya.

Itu adalah dering panggilan khusus nomor Laudya.

Brian sepertinya sangat mencintai Laudya. Bahkan dalam situasi marah seperti itu, dia bisa menjawab telepon dari Laudya dengan tenang.

"Halo, iya. Aku ke sana sekarang, jangan takut!"

Dia menutup telepon dan hendak keluar.

"Mau pergi ke mana kamu? Sebagai anak Paman, kamu nggak mau mengantar kepergiannya?"

Bayu menatap Brian dengan wajah tidak percaya.

"Sudah ada kalian semua di sini. Nggak ada pengaruhnya kalau aku nggak ada. Laudya sedang butuh aku sekarang, aku harus pergi!"

Brian hendak lanjut berjalan keluar.

"Apa kamu sudah gila?! Kamu nggak boleh pergi! Nggak masalah kalau kamu nggak pulang sama sekali, tapi kamu sudah pulang! Kamu nggak boleh pergi ke mana-mana!"

"Kalau kamu berani pergi, kami nggak akan menganggapmu keluarga lagi! Kamu rela putus hubungan dengan keluarga demi perempuan?"

"Buka matamu! Orang berusaha keras saat ayahmu sekarat itu istrimu!"

Entah kata apa yang menohok Brian, langkahnya lambat laun melambat.

Setelah melirik guci berisi abu ayahnya, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan kepada Laudya.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B30767" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B30767
Salin

Dituduh sebagai Menantu Durhaka

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya