Bab 6

Suara lantang Xander membuat Sena dan Hansel seketika membelalak bersamaan.

"Apa? Siapa yang kau maksud?" tanya Hansel terbata. Hansel yang masih duduk di kursinya pun mendongak menatap Sena. "Sebenarnya ada apa ini, Sena?"

Namun, Sena hanya menggeleng. "Jangan dengarkan dia, Hansel! Dia pria gila. Aku juga tidak mengenalnya. Ayo lebih baik kita pergi saja dari sini!"

"Eh, tapi mienya ...."

"Tunggu dulu!" Sena pun langsung mengeluarkan uang dari dompetnya yang ia tahu pasti lebih untuk membayar pesanan mienya. "Aku mau membayar, Bu! Akan kuletakkan di sini saja uangnya! Terima kasih!" teriak Sena.

"Ayo Hansel, kita pergi saja!" ajak Sena lagi sambil menggandeng tangan Hansel.

"Eh, tapi Sena ... sebenarnya ada apa ini?" tanya Hansel lagi sambil tetap mengikuti Sena.

Mereka pun melewati Xander begitu saja dan Xander hanya menyeringai sebelum ia pun mengekor di belakang Sena.

Hansel dan Sena pun akhirnya keluar dari depot dan Sena mengajak Hansel untuk pulang saja, tapi Hansel malah melepaskan gandengan tangan Sena.

"Tunggu, Sena!"

"Tunggu apa lagi, Hansel? Ayo kita pulang saja!"

"Tidak! Aku harus tahu apa maunya pria tadi," seru Hansel yang kukuh ingin kembali ke dalam depot, namun Xander yang dicari olehnya mendadak sudah keluar dan berdiri di hadapan Hansel sekarang.

"Kau mencariku, Hansel?" tanya Xander dengan santai.

Hansel pun mengembuskan napas kesalnya menatap Xander. Tentu saja kalau dilihat secara fisik, Hansel tidak ada apa-apanya.

Pria yang berdiri di hadapannya ini sangat tampan dan gagah, bahkan jas yang dipakainya menunjukkan betapa hebat pria itu. Sedangkan Hansel hanya memakai kemeja biasa yang sama sekali tidak sebanding, tapi tetap saja Hansel harus mempertahankan kekasihnya.

"Hansel, sudah, kita pulang saja!" Sena masih berusaha memeluk dan menarik lengan Hansel, namun Hansel menepisnya sambil tetap menatap Xander.

"Ya, aku mencarimu! Siapa kau dan apa yang kau mau? Mengapa kau mengaku-ngaku sebagai selingkuhan Sena?" tantang Hansel tiba-tiba.

Xander pun memicingkan mata menatap Hansel yang ternyata cukup punya keberanian juga menantangnya seperti ini.

"Aku mengaku-ngaku? Aku ini memang selingkuhannya Sena. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Sena sendiri."

"Tidak! Itu tidak benar! Aku tidak pernah selingkuh," sembur Sena begitu saja begitu mendengar ucapan Xander. "Dan kau pergilah dari hadapanku, Pria Gila!" Sena menunjuk ke arah Xander dengan penuh emosi.

Hansel sendiri yang mendengarnya pun memutuskan untuk percaya pada Sena. "Kau dengar kan? Sena bilang dia tidak pernah selingkuh dan aku percaya padanya. Sena tidak mungkin selingkuh dariku. Kami sudah bersama selama dua tahun dan dia tidak mungkin mengkhianatiku," tegas Hansel dengan gagah berani.

Namun, ekspresi wajah Xander nampak biasa saja, malahan ia menatap Sena sedikit lebih lama sebelum ia kembali menyeringai.

"Kau begitu percaya ya pada Sena?" tanya Xander lagi dengan tatapan bengisnya.

Jantung Sena pun mulai berdebar kencang saat ini. Jangan sampai pria itu mengatakan apa pun pada Hansel. Sena tidak akan sudi kalau pria itu sampai membongkar semuanya.

Dengan liar, Sena pun akhirnya menghambur ke arah Xander dan mendorongnya keras-keras sampai Xander yang tidak siap pun sedikit terhuyung. Sungguh, ini mengejutkan sekali saat Sena berani menyerangnya seperti ini.

"Apa yang kau lakukan, Sena?" bentak Xander yang begitu terkejut.

"Pergi kau dari sini! Aku tidak mengenalmu dan aku juga tidak punya hubungan apa pun denganmu, jadi jangan mengusik hubunganku dengan Hansel!" balas Sena sambil menatap Xander dengan kobaran api di matanya.

Xander kembali terkejut. Tentu saja ia sangat terkejut karena belum pernah ada yang berani melawannya seperti ini. Tapi Xander bukan orang yang bisa dilawan karena sekali orang itu melawan, maka Xander tidak akan memberinya ampun.

Xander pun tertawa kesal dan malah melirik Hansel. "Kau lihat sendiri kan, Hansel? Betapa Sena takut kebohongannya terbongkar?"

"Sekarang apa yang kau katakan lagi, Brengsek?" pekik Sena lagi sambil melotot marah.

Namun, Xander mengabaikan Sena dan melanjutkan ucapannya. "Sena takut kau mengetahui kalau aku adalah selingkuhannya, bahkan kami juga sudah tidur bersama dan aku merasa buruk untukmu, Hansel, karena aku sudah mengambil keperawanan kekasihmu," seloroh Xander dengan entengnya.

Seketika Sena langsung menahan napas mendengarnya, tubuhnya gemetar dan merinding sekaligus dan ia pun tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Sedangkan Hansel sendiri langsung mematung mendengarnya.

Untuk sesaat, Hansel hanya tetap mematung sebelum ia mendapatkan kesadarannya kembali dan ia pun menoleh menatap Sena.

"Apa? Kau tidur dengannya, Sena? Dan apa? Dia mengambil keperawanan apa? Kau ... apa itu benar, Sena?"

Sena sudah menggeleng dengan air mata yang sudah berucucuran. "Jangan dengarkan dia, Hansel! Jangan dengarkan dia!" lirih Sena.

Hansel yang masih syok pun terlihat makin syok melihat ekspresi Sena.

"Mengapa? Mengapa kau menangis, Sena? Kalau itu tidak benar, bukankah seharusnya kau tinggal membantahnya saja? Tapi mengapa kau malah menangis dan tidak membantahnya, Sena? Mengapa?"

Sena hanya terus menggeleng. "Kumohon percayalah padaku, Hansel! Ini tidak seperti yang kau pikir."

Sena berusaha mendekati Hansel dan menyentuh lengannya, namun Hansel mengangkat kedua tangannya menghindari Sena.

"Jangan, Sena! Jangan!" Hansel pun perlahan melangkah mundur. "Aku ... aku tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang, tapi ... biarkan aku sendiri dulu," seru Hansel yang perlahan mundur menjauhi Sena.

"Hansel ... tidak, Hansel!" seru Sena yang terus melangkah mendekat.

"Tidak! Kau ... kau bisa pulang sendiri kan, Sena? Aku ... aku tidak akan mengantarmu."

"Hansel, jangan tinggalkan aku! Aku mau ikut denganmu, Hansel!" Sena masih mengikuti Hansel sampai ke sepeda motornya, namun Hansel tidak mau Sena ikut dengannya.

"Biarkan aku pulang sendiri, Sena! Biarkan aku pulang sendiri dan terima kasih atas hadiah ulang tahunnya," seru Hansel dengan sakit hati yang terlihat jelas sebelum ia langsung melajukan motornya pergi meninggalkan Sena.

Dan Sena pun hanya bisa berteriak lirih dengan air mata yang kembali bercucuran. "Hansel, jangan tinggalkan aku, Hansel!"

Xander pun lagi-lagi menyeringai puas melihat betapa frustasinya ekspresi Sena saat ini.

"Jadi dia mendapatkan hadiah yang sangat pahit di hari ulang tahunnya ya? Kasihan sekali!" seru Xander tanpa perasaan.

Sena yang mendengar suara itu pun langsung menoleh dan menatap Xander dengan tajam. Sena pun kembali menyerang Xander dan mendorongnya keras sampai Xander kembali terkejut.

"Sial, apa yang kau lakukan?" pekik Xander tidak terima.

"Puas kau, Pria Brengsek, hah? Puas kau? Dasar brengsek! Dasar tidak punya hati!"

Mendadak Sena terus memukuli dada dan bahu Xander, apa pun yang bisa Sena raih akan ia pukuli dan Xander pun akhirnya murka.

Dengan cepat, Xander menangkap kedua tangan Sena dan menggenggamnya sekaligus sambil menatap wanita itu lekat-lekat.

"Jangan kelewatan, Sena!" geram Xander dengan nada yang mengintimidasi.

"Memangnya kenapa kalau aku kelewatan, hah? Apa lagi yang mau kau lakukan padaku? Kau sudah mengambil semua yang aku punya, kehormatanku, pekerjaanku, kekasihku, lalu apa? Sekalian saja kau membunuhku agar aku tidak perlu merasakan kehilangan lagi! Dasar pria brengsek!" teriak Sena begitu kesal.

"Mengapa kau berpikir aku mau membunuhmu, Sena? Aku tidak mau kau mati karena kau harus membawa kakakmu dulu kepadaku."

"Aku sudah bilang aku tidak tahu di mana dia berada! Kalau kau saja bisa terus menemukan aku dan melakukan semua ini padaku, mengapa kau tidak menyuruh anak buahmu mencarinya sampai ke ujung dunia, hah? Mengapa kau harus mengganggu hidupku? Aku sungguh tidak ada hubungannya dengan Giana!"

Xander terdiam sejenak dan terlihat berpikir keras sebelum ia menjawabnya.

"Benar juga, aku bisa meminta anak buahku mencarinya ke ujung dunia, Sena. Tapi setelah kupikirkan lagi, kalau aku bisa mendapatkan keduanya, mengapa aku harus memilih salah satunya, hah? Salahkan saja takdir yang membuatmu menjadi adiknya Giana!"

**

Bab 7

"Ah, dasar pria brengsek!"

Sena memekik kesal di kamarnya dan ia pun duduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Sena meninggalkan Xander tadi dan langsung pulang ke rumahnya tanpa mempedulikan pria itu lagi. Lagipula siapa yang mau berdekatan dengan iblis seperti itu?

"Sebenarnya apa salahku? Apa hanya karena aku adiknya Giana, lantas dia boleh melakukan ini padaku? Mengapa aku harus bertemu dengan pria berhati iblis sepertinya?" pekik Sena frustasi.

Sungguh, kemarin sampai tadi sore, Sena masih belum bisa menahan rasa sedihnya. Setiap detik, Sena hanya ingin menangis melow, tapi malam ini, setelah akhirnya Xander merusak hubungannya juga dengan Hansel, alih-alih melow, Sena malah merasa sangat kesal pada iblis bernama Xander itu.

Sena mengembuskan napas panjangnya dan dengan air mata yang masih berlinang, Sena pun mencoba menelepon Hansel, walaupun ponsel Hansel tidak pernah aktif.

"Hansel, bagaimana caranya aku menjelaskan semuanya padamu? Hanya kau yang aku punya, Hansel. Kau tahu itu kan? Orang tuaku sudah tidak ada dan Giana ...."

"Oh, bisakah kau mendengarkan aku dulu? Walaupun aku sudah tidak suci tapi ini juga bukan salahku, aku juga korban, Hansel," lirih Sena lagi.

Sena menyeka air matanya dan hatinya penuh dengan perasaan yang tidak karuan saat ini.

Sementara itu, Xander masih duduk di mobilnya tanpa ekspresi.

Walaupun apa yang ia lakukan jahat, tapi ia sama sekali tidak menyesal melakukannya.

Sena hanya kehilangan kehormatannya, kehilangan pekerjaan, kehilangan kekasihnya, tapi Andrew, adik Xander kehilangan dunianya.

Untuk sesaat, Xander hanya terdiam sambil berpikir keras sampai akhirnya ia pun tiba di sebuah rumah besar dengan gerbang yang tinggi, sebuah rumah mewah tempatnya tinggal.

Mobil yang dikendarai Henry pun masuk ke sana dan gerbang tinggi itu segera menutup lagi. Xander sendiri langsung keluar dari mobil dan Bik Arta, seorang wanita tua yang sudah bekerja lama untuk keluarga itu pun langsung menyambut Xander.

"Kau sudah pulang, Xander?" sapa Bik Arta yang sudah seperti Ibu bagi Xander.

Ayah Xander sendiri sudah lama meninggal, sedangkan ibunya sudah menikah lagi. Karena itu, hanya Andrew satu-satunya yang Xander miliki saat ini.

"Iya, Bik. Bagaimana dengan Andrew, Bik?" tanya Xander sambil melangkah ke kamar Andrew. Hal pertama yang selalu Xander lakukan setiap ia pulang ke rumah adalah menyapa adiknya itu.

Bik Arta sendiri yang mendengar pertanyaan Xander pun hanya mengembuskan napas panjangnya sebelum ia menjawab.

"Masih sama saja, tapi dia ... makin tenang dari hari ke hari," lirih Bik Arta.

Xander pun menatap wanita tua itu sejenak dan air matanya hampir saja menetes saat ia memahami maksudnya.

"Aku akan menemuinya, Bik. Terima kasih."

Bik Arta mengangguk dan segera meninggalkan Xander yang langsung masuk ke kamar Andrew.

Kamar mewah itu tampak begitu hening dan sama sekali tidak ada suara di sana. Namun, ada seorang pria tampan dengan tubuh gagah yang hampir sama seperti Xander, yang sedang tidur sambil memeluk sebuah boneka beruang besar yang ia beri nama Giana.

Tatapan Xander pun menghangat menatap Andrew, adik yang sangat ia sayangi. Xander pun melangkah perlahan agar ia tidak membangunkan Andrew dan Xander langsung duduk di samping boneka besar itu.

Dengan perlahan juga, Xander mengangkat tangan Andrew dan berniat mengganti boneka itu dengan guling saja karena Xander sama sekali tidak suka melihat Andrew seperti ini.

Namun, baru saja Xander menarik boneka itu, Andrew pun langsung terbangun.

"Tidak, Giana! Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau sendirian, Giana! Aku sangat mencintaimu! Jangan tinggalkan aku!"

Mendadak Andrew menarik lagi boneka itu kuat-kuat dan memeluknya. Andrew pun mendekap boneka itu dan membelai kepala boneka itu dengan kedua tangannya lalu menatapnya dengan penuh cinta.

Xander yang melihatnya pun seketika mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya. Xander tidak tahan lagi dan langsung membentak Andrew.

"Hadapilah kenyataan ini, Andrew! Kau seorang pria, Brengsek! Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Giana itu hanya wanita murahan penipu dan dia tidak pantas untukmu!" geram Xander yang sudah berkali-kali kehilangan kesabaran melihat kondisi Andrew.

Namun, Andrew seolah menulikan telinganya, Andrew mengabaikan ucapan Xander, dan ia malah terus menciumi bonekanya sampai Xander makin sakit hati melihatnya.

"Itu pasti kakakku! Jangan dengarkan dia, Giana! Selama ada aku, kau akan aman. Kakakku sangat menyayangiku, dia tidak akan mengusirmu. Kau tenang saja ya." Andrew terus menenangkan Giana-nya dan Xander pun hanya bisa menahan emosinya.

Andrew memang berbeda dengannya. Kalau Xander mempunyai sifat yang begitu keras, berbeda dengan Andrew yang lebih menutup diri dan minder.

Tentu saja hal ini juga disebabkan oleh kondisi keluarganya yang sejak dulu memang tidak harmonis. Tapi intinya Andrew berbeda dengannya. Perasaan Andrew begitu halus dan Giana adalah cinta pertama Andrew.

Xander yang sudah lama tinggal di luar negeri untuk mengembangkan bisnisnya pun sangat senang setiap mendengar Andrew menceritakan tentang Giana dengan tatapan yang berbinar-binar, seolah Giana adalah dunianya.

"Dia adalah wanita paling cantik yang pernah kutemui, Kak. Aku sangat mencintainya," seru Andrew waktu itu.

"Dia mengajarkan banyak hal padaku, termasuk ... haha, aku malu sekali menceritakannya padamu, tapi akhirnya aku merasakan yang namanya kenikmatan duniawi seperti yang biasa kau lakukan dengan para wanitamu. Kau tidak akan marah padaku kan, Kak? Dia benar-benar luar biasa, Kak," imbuh Andrew dengan tatapan penuh cinta.

Xander yang mendengarnya hanya tergelak. Ia bukan pria kolot dan bisa mendengar hal ini dari mulut Andrew saja sudah membuat Xander begitu senang.

Xander juga sempat meminta anak buahnya mengikuti Andrew dan Giana waktu itu dan Xander pun juga tertipu oleh semua yang ditunjukkan Giana dari luar. Sampai suatu hari Giana menghilang dan awal kehancuran Andrew pun dimulai.

Entah berapa lama mereka mencari Giana namun tidak membuahkan hasil dan Andrew pun mulai menjauh dari dunia nyata. Andrew mulai masuk ke dalam depresi dan halusinasinya sampai mentalnya begitu terganggu.

Segala upaya sudah Xander coba untuk mengembalikan adiknya namun setelah satu tahun berlalu, Andrew tetap sama.

Xander pikir, putus nyambung dalam hubungan percintaan adalah hal yang biasa, sampai Xander akhirnya mengetahui kenyataan tentang Giana yang sebenarnya hanya seorang wanita penipu yang sudah tidur dengan banyak pria dan menipu uang mereka lalu mencampakkannya begitu saja.

Xander tidak terima. Xander sangat tidak terima karena wanita jalang itu berani mempermainkan adiknya. Xander tidak peduli pada pria mana pun itu, asal bukan Andrew. Dan itulah tujuan Xander pulang ke negara asalnya kali ini, untuk membalaskan dendamnya pada wanita brengsek itu.

"Aku bersumpah akan membalaskan semuanya. Tapi tidak! Bukan untuk mengembalikan wanita penipu itu padamu karena dia sama sekali tidak pantas untukmu, Andrew."

"Aku hanya akan membuatnya merasakan apa yang kau rasakan, merasakan kehancuran dan rasa sakit yang luar biasa sampai dia pun berakhir di rumah sakit jiwa," geram Xander lagi dengan penuh dendam di hatinya.

**

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B45496" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B45496
Salin

Dinodai CEO Kejam

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya