Bab 1

"Jangan bertingkah seperti perawan!"

"Tidak! Hentikan! Aku bukan Giana! Kau salah orang!"

Sena menangis begitu pilu saat seorang pria bengis terus menghentakkan tubuhnya di atas tubuh Sena.

Sena terus mendorong tubuh pria itu, tapi tenaganya sudah habis untuk melawan sampai kini ia hanya bisa meringis perih merasakan kehormatannya direnggut secara keji dan menyakitkan oleh pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu.

"Lepaskan aku! Kau pria biadab!" seru Sena sambil memukuli tubuh pria itu, tapi pria itu tetap melakukan perbuatan biadabnya, seolah perlawanan Sena tidak berarti apa-apa untuknya.

"Berhenti berakting, Giana! Bukankah kau menyukai ini? Menjajakan tubuhmu untuk dinikmati para pria dengan imbalan uang, hah?" seru pria itu sarkastik.

"Tidak! Sungguh aku bukan Giana, aku Sena," rintih Sena lagi.

Namun, pria bengis itu hanya menyeringai sambil mencemooh. "Simpan saja kebohonganmu itu, Wanita Jalang!"

Pria itu terus melakukan aksi bejatnya sampai Sena merasa dunianya benar-benar telah hancur. Kalau waktu bisa diulang, sungguh Sena tidak akan mengulangi perbuatannya. Hanya karena ingin tampil cantik di hari ulang tahun kekasihnya, Sena memakai gaun cantik milik Giana, kakaknya, tanpa ijin.

Kakaknya jarang pulang ke rumah, tapi semua gaun, alat make up, bahkan sepatu, dan parfum mahal masih tersimpan rapi di rumah, dan Sena memberanikan diri memakainya, sesuatu yang selama ini belum pernah ia lakukan sebelumnya.

Sena pun baru saja berjalan tidak jauh dari rumahnya saat mendadak kepalanya ditutup dengan kain hitam oleh beberapa pria dan ia pun ditarik paksa masuk ke dalam mobil.

Sena terus berteriak dan memberontak, tapi tidak ada yang menolongnya sampai akhirnya ia dibawa ke kamar ini, kamar dengan hawa dingin yang begitu menusuk sampai membuat Sena gemetar ketakutan.

Bahkan, sampai detik ini Sena masih belum bisa melihat di kamar seperti apa ia berada karena kain hitam itu masih menutupi kepalanya. Sena juga belum bisa melihat wajah pria keji yang terus memanggilnya Giana dan tanpa ampun memaksa menodainya. Sena hanya bisa mendengar suara berat pria itu yang terus menuduhnya dengan penuh kebencian dan aroma maskulin yang melingkupinya, yang justru membuat Sena makin merinding ketakutan.

"Kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah, Giana! Berakting menjadi sosialita dan mengencani para pria kaya lalu menipu uang mereka dan mendepak mereka begitu saja!"

"Aku tidak peduli pada uang. Bahkan uangku bisa membeli apa pun di dunia ini, tapi kau sudah menyia-nyiakan adikku yang tulus mencintaimu sampai hidupnya sekarang harus begitu menderita setelah kau tinggalkan. Dasar wanita murahan!" imbuh pria itu.

Sena langsung tercekat mendengarnya. Ternyata itu alasannya. Pria bengis ini melakukan semuanya karena ia merupakan salah satu korban dari Giana.

Giana, kakak Sena itu memang sangat cantik dan modis, sedangkan Sena terlihat seperti upik abu dibandingkan Giana. Bukan berarti Sena tidak cantik, karena walaupun Sena tidak semodis Giana, Sena mempunyai wajah cantik alami yang bahkan lebih cantik dibanding Giana yang gemar bersolek itu.

Tapi jangan salah, karena mereka sama sekali bukan orang kaya dan semua barang mewah serta baju-baju bagus itu bisa Giana dapatkan dengan cara yang tidak benar.

Sejak kecil, Giana memang terlihat menonjol dan orang tua mereka selalu membanggakan Giana. Mereka selalu berusaha memberikan semua yang Giana mau dan terus meminta Sena berkorban.

Hingga sampai mereka dewasa, Giana pun tetap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya, berhutang dan menipu sana sini demi memenuhi gaya hidupnya yang mewah, dan saat hutang itu ditagih, Giana akan selalu menyodorkan Sena untuk menyelesaikan masalahnya.

Sena sendiri selalu bekerja keras demi melunasi hutang kakaknya dan demi menopang hidupnya sendiri.

Namun, ia tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya ia juga harus mengorbankan kehormatannya karena ulah kakaknya juga, kakak yang seharusnya menjaga dan melindunginya malah membuat hidupnya hancur.

"Baiklah, pantas saja para pria itu tergila-gila padamu, Giana! Kau memang luar biasa, tapi kau juga luar biasa menjijikkan, Wanita Murahan!"

Suara pria bengis itu terdengar setelah ia menuntaskan hasratnya dengan menjijikkan. Dengan cepat, pria itu melepaskan dirinya dari Sena dan langsung menyambar celananya.

Namun, mendadak matanya menangkap bercak darah yang terlihat jelas di atas sprei putih yang kusut itu. Bercak darah itu juga terlihat di bagian lain yang membuat pria itu membelalak lebar karena ia tahu pasti bahwa itu adalah darah perawan, sedangkan Giana sama sekali bukan perawan.

"Sial, tidak mungkin kau masih perawan!" umpat pria itu sambil langsung meraih kain hitam yang sejak tadi masih menutup kepala Sena.

Seketika wajah cantik Sena yang berlinang air mata pun terlihat di sana dan membuat pria itu membeku sesaat.

"Sial, kau bukan Giana! Siapa kau?"

Sena makin hancur mendengar pertanyaan yang begitu terlambat dari pria berparas tampan tapi berhati iblis itu.

"Aku sudah bilang aku bukan Giana, mengapa kau tidak mau mendengarku? Dasar brengsek!" teriak Sena frustasi sambil menarik selimut besar itu menutupi seluruh tubuhnya.

"Sial! Jangan berteriak di hadapanku!"

Alih-alih menyesal karena salah orang, pria itu malah menghampiri Sena lalu mencengkeram rahang Sena begitu kuat dan menyakitkan.

"Akhh, lepas!"

"Siapa kau, Wanita Brengsek? Mengapa kau berdandan seperti Giana, hah?"

Pria itu yakin ia tidak mungkin salah. Ia melihat sendiri saat anak buahnya menangkap Giana. Namun, wanita di hadapannya ini sama sekali bukan Giana. Walaupun wajah cantik ini nampak sedikit mirip, tapi keseluruhannya sangat berbeda.

"Kau dengar aku bertanya padamu kan? Apa kau bisu? Kau tidak bisa menjawabku? Siapa kau? Mengapa kau keluar dari rumah Giana?" bentak pria itu lagi karena Sena sama sekali tidak menyahutinya.

"Aku Sena, aku bukan Giana!" teriak Sena lantang.

Pria itu langsung memicingkan mata mendengarnya. Ya, akhirnya ia mengingat nama itu karena ia memang sudah mencari tahu tentang keluarga Giana sebelumnya.

"Sena? Baiklah, aku mengingatnya. Kau pasti Sena Monela, adik kandung dari Giana, benar kan?"

Kedua mata Sena membelalak mendengarnya. Bahkan pria itu tahu nama lengkapnya padahal Sena sama sekali tidak tahu siapa pria itu.

"Kau? S-siapa kau sebenarnya? Mengapa kau tahu nama lengkapku?"

"Tidak penting siapa aku, yang penting katakan di mana Giana berada sekarang!" bentak pria itu.

Sena kembali ketakutan. Entah seharusnya ia melindungi kakaknya atau menyerahkan kakaknya saja karena Sena sudah lelah dengan semua ini.

Sebagai adik, Sena sudah begitu sabar menghadapi Giana. Sena selalu bekerja keras dan dikejar-kejar oleh semua orang yang mencari Giana dan walaupun kesal, Sena selalu berusaha melindungi kakaknya dengan mencicil hutang kakaknya sedikit demi sedikit.

Namun, hutang yang dicicil bukan malah berkurang malah makin bertambah dan Sena pun tidak pernah hidup dengan tenang.

Sungguh, Sena ingin bersikap egois dan menyuruh kakaknya menyelesaikan masalahnya sendiri tapi bagaimanapun Giana adalah kakaknya dan ia tidak tega.

Sena pun masih berharap Giana tetap selamat dan sehat di mana pun kakaknya itu berada, walaupun Sena hidup tertekan sendirian di sini. Tapi untuk kali ini Sena tidak sanggup menghadapi pria bengis ini.

"Aku tidak tahu di mana Giana, kau cari saja Giana sendiri, aku sudah lelah. Apa pun yang Giana lakukan tidak ada hubungannya denganku, mengapa aku yang harus menanggung akibatnya?" keluh Sena dengan hati yang teriris.

"Ck, aku benci wanita yang hanya bisa menangis, Sena. Dan siapa bilang kau tidak ada hubungannya dengan Giana? Kakakmu itu sudah menyakiti adikku dan kalau akhirnya aku menyakiti adiknya juga, itu namanya karma!"

Lagi-lagi Sena sakit hati mendengarnya. "Adikmu? Aku bahkan tidak mengenal siapa adikmu. Aku juga tidak tahu apa-apa tentang apa yang Giana lakukan di luar sana."

"Diam kau, Wanita Sialan! Dengarkan aku! Kalau kau masih mau hidup tenang, lebih baik bawa kakakmu padaku."

Sena menggeleng. "Aku bersumpah aku tidak tahu di mana dia."

"Jangan mencoba membohongiku atau melindunginya, Sena."

"Sungguh aku tidak berbohong."

"Brengsek! Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Sena," seru pria itu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sena.

Hembusan napas pria itu pun menerpa kulit wajah Sena sampai napas Sena pun tersengal dibuatnya.

"Bawa kakakmu itu kepadaku atau kau akan terus merasakan neraka buatanku, Sena! Aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu seperti kakakmu sudah menghancurkan hidup adikku!"

**

Bab 2

Sena tidak pernah benar-benar ingat bagaimana ia bisa tiba di rumahnya malam itu. Yang bisa Sena ingat hanyalah dirinya menangis sepanjang perjalanan dan ia mulai berhalusinasi seolah semua orang menatapnya jijik dan mencemooh dirinya yang kotor.

Sena pikir, malam kelamnya sudah berakhir begitu ia tiba di rumah, tapi ternyata ia salah. Sena malah disambut dengan kondisi rumahnya yang berbeda dengan saat ia tinggalkan tadi.

"Ya Tuhan, apa lagi ini? Mengapa lampu rumah menyala? Pintunya juga terbuka. Siapa di rumah? Apa ada pencuri?"

Sena begitu panik dan langsung saja berlari ke arah rumahnya walau langkahnya tertatih karena bagian sensitifnya masih terasa perih. Namun, ia tidak peduli dan segera masuk ke dalam rumah.

"Siapa di sana? Keluar dari rumahku!" pekik Sena dengan gagah berani sambil mengangkat tas selempangnya.

Sena tahu mungkin ia begitu bodoh kalau berpikir tas selempangnya bisa melumpuhkan pencuri, tapi sungguh ia tidak bisa berpikir lagi, ia hanya tahu ia harus menyelamatkan rumahnya, satu-satunya harta yang masih ia punya, peninggalan kedua orang tuanya.

Sena pun terus melangkah ke arah sumber suara di dalam kamarnya dan sambil mengumpulkan kekuatannya, Sena pun membuka pintu kamarnya, berniat menyerang pencurinya.

Namun, ketika melihat sosok yang ada di depannya, perasaan Sena langsung bergejolak tidak karuan. Marah dan benci bercampur menjadi satu.

"Giana! Akhirnya kau pulang juga, akhirnya kau pulang setelah kau menghancurkan segalanya! Kau masih ingat kau punya rumah, hah?

Perbedaan umur di antara mereka yang hanya dua tahun lebih membuat Sena tidak pernah memanggil Giana dengan sebutan kakak. Bahkan banyak yang mengira mereka kembar walaupun wajah mereka sebenarnya tidak begitu mirip.

Giana yang mendengar suara Sena itu pun menoleh dan baru saja akan menyahuti Sena, tapi ia malah menganga menatap penampilan Sena.

"Apa ini, Sena? Apa yang kau lakukan dengan memakai gaunku?" sembur Giana tajam. "Kau mau belajar menjadi pencuri, hah? Lepaskan gaunku dari tubuhmu! Lepas!" bentak Giana sambil menghambur ke arah Sena dan menarik gaun itu dari tubuh Sena.

"Akhh, apa yang kau lakukan, Giana? Aku hanya meminjamnya, aku akan mengembalikannya nanti!"

"Apa aku sudah mengijinkannya? Berani sekali kau menyentuh barangku, Sena! Asal kau tahu kalau gaun ini sangat mahal. Kau bekerja berbulan-bulan saja belum tentu bisa membeli gaun ini. Tapi sial! Apa itu? Gaunnya robek?" pekik Giana saat ia melihat ujung gaun yang sepanjang lutut itu nampak robek.

Seketika Sena pun menatap nanar ke ujung gaunnya yang pasti robek karena pria bengis itu memaksa menariknya tadi.

"Apa yang kau lakukan sampai gaunnya robek, Sena? Dan kau bahkan memakai sepatuku. Bau apa ini? Parfumku juga? Dasar pencuri! Berani sekali kau memakai semua barangku. Sekarang cepat lepaskan! Lepaskan gaunku, Sena!"

"Aku bisa melakukannya sendiri, Giana! Lepaskan tanganmu!" seru Sena sambil menahan tangan Giana yang terus menarik gaun itu sampai gaun itu sedikit melorot dan membuat kulit di atas dada Sena tersibak.

Giana pun sampai menganga sejenak melihat tanda merah di sana. "Tanda apa itu, Sena? Tanda apa di dadamu?"

Sena sendiri sontak menutupi tanda yang pasti dibuat oleh pria bengis itu saat menodainya tadi. Namun, Giana langsung tertawa kesal dan menatap jijik pada adiknya itu.

"Oh, ternyata kau mau belajar menjadi wanita murahan, hah? Apa kau baru saja menghabiskan malam bersama seorang pria, hah? Pasti pria itu yang membuat tanda di tubuhmu kan? Pantas saja aku bisa merasakan aroma parfum mahal seorang pria." Giana sedikit memajukan wajahnya dan ia memejamkan matanya sejenak merasakan aromanya.

"Dasar wanita sok suci! Kau terus menasihati aku setiap kali kita bertemu sampai aku muak mendengarnya, tapi ternyata kau tidak ada bedanya dengan aku. Murahan!" sembur Giana tanpa perasaan.

Hati Sena begitu tertusuk sekarang. Rasanya Sena ingin mengumpat dan berteriak di depan wajah Giana. Sena bisa tahan kalau hanya harus bekerja melunasi hutang, toh Sena sudah melakukannya begitu lama, tapi kalau harus kehilangan masa depannya seperti ini, bagaimana ia masih bisa menghormati kakaknya setelah semua ini?

Sena pun menatap kakaknya dengan tatapan kecewa yang tidak bisa dijelaskan lagi.

"Tahukah kau apa yang terjadi padaku karena kau, Giana? Aku kehilangan kehormatanku karena seorang pria yang mempunyai dendam padamu, apa kau tahu itu?"

Giana yang mendengarnya pun membelalak dan terdiam sesaat. "Apa? Apa maksudmu?"

"Aku dinodai, Giana. Dia bilang kau sudah meninggalkan adiknya dan dia mengira aku adalah kau!"

Giana pun membelalak makin lebar saat ini. Tentu saja ia sudah biasa tidur dengan banyak pria, jadi kehilangan kehormatan bukan hal yang luar biasa lagi bagi Giana. Tapi seseorang yang bisa melakukan hal itu, menangkap dan menodai Sena berarti orang itu pasti bukan orang yang baik dan Giana pun mulai merasa takut.

"Sial! Siapa adiknya saja aku tidak tahu. Tapi kalau dia salah menangkapmu berarti ada kemungkinan dia akan mencariku lagi kan? Aku tidak boleh tertangkap, aku tidak boleh tertangkap!"

Giana pun mulai panik dan kembali mencari sesuatu di dalam laci kamar Sena. Namun, Sena yang mendengar ucapan Giana malah makin sakit hati.

"Aku baru saja dinodai! Tubuhku bahkan masih sakit, tapi kau sama sekali tidak peduli?!" Sena mencoba menunjukkan betapa hancur dirinya di hadapan Giana.

Ia berharap, kakaknya itu mau sedikit berempati. Hanya saja, harapannya terlalu tinggi. Sebab, Giana justru memandang sang adik dengan rendah.

"Kehilangan kehormatan tidak membuatmu mati, Sena. Lain hal jika mereka yang menemukanku. Jadi, jangan manja! Terima saja nasibmu!" desis Giana sambil mulai melempar keluar semua isi laci milik Sena.

"Kau benar-benar tidak punya perasaan, Giana! Jangan bongkar lagi! Sebenarnya apa yang kau cari, Giana?"

Sena mencoba menghentikan Giana, tapi Giana mengempaskan tangan Sena. Terjadi saling menarik dan mendorong antara Sena dan Giana sampai akhirnya Giana mendorong Sena kasar sampai Sena jatuh terduduk di lantai.

"Akh!" Sena meringis dan menatap tak percaya pada kakaknya.

Dan tepat saat itu, akhirnya Giana pun menemukan apa yang ia cari yaitu sertifikat rumah. Giana mengangkat map sertifikat itu sambil tersenyum puas, sedangkan Sena langsung membelalak melihatnya.

"Apa yang mau kau lakukan dengan itu, Giana? Kembalikan padaku!"

Sena menahan rasa sakit di tubuhnya dan bangkit berdiri untuk merebut sertifikat itu dari Giana, tapi dengan cepat Giana mengamankan sertifikat rumah itu.

"Aku akan menjual rumah ini, Sena! Aku membutuhkan banyak sekali uang untuk investasi dan aku harus menjual rumah ini!"

"Jangan gila! Aku tinggal di mana kalau kau menjual rumah ini? Ini satu-satunya peninggalan Ayah dan Ibu, Giana!"

"Ayah dan Ibu sudah mati, mereka tidak akan peduli lagi pada rumah ini dan kau juga bisa mencari tempat tinggal lain, aku tidak peduli. Aku butuh uang, Sena, dan aku harus menjual rumah ini!" seru Giana lagi yang langsung mendorong Sena dan melarikan diri dari rumahnya.

"Berhenti, Giana! Kembalikan padaku! Giana!" Sena berteriak sambil mengejar Giana sampai keluar rumah, tapi terlambat.

Giana sudah masuk ke dalam mobil yang baru saja datang menjemputnya. Sena sempat memukul-mukul kaca mobil itu dan terus memanggil Giana, tapi mobil itu pun langsung tancap gas dan melaju kencang pergi dari sana sampai Sena pun langsung jatuh terjerembab di jalanan depan rumahnya.

"Akhh, Giana! Kembali, Giana! GIANAAA!!!" teriak Sena dengan tangisan yang begitu memilukan.

**

Bab 3

Sena menatap kosong ke salah satu sudut kamarnya malam itu. Rasanya hampa sekali, semuanya mendadak hilang dalam semalam. Kehormatannya dan juga rumahnya.

Sena pun tertawa sambil menangis dengan sangat frustasi di sana. Sena jijik pada dirinya. Bahkan, setelah Sena mandi dan menggosok tubuhnya sampai kulitnya memerah dan perih, ternyata rasa jijiknya belum juga mau pergi sampai Sena mendadak begitu membenci dirinya sendiri.

"Mengapa aku harus mengalami semua ini? Mengapa aku harus memakai gaun itu tadi? Aku bersumpah aku tidak akan melakukannya lagi, bisakah aku minta waktu diputar kembali, Tuhan? Aku mohon satu kali saja!"

"Aku janji aku tidak akan memakai barang milik orang lain tanpa ijin lagi! Aku janji," lirih Sena sambil menengadah seolah berbicara pada Tuhan.

"Mengapa juga Giana harus begitu tega padaku? Di mana aku harus tinggal kalau dia benar-benar menjual rumah ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Dengan air mata yang terus mengalir, Sena pun berpikir keras dengan otaknya yang sudah penuh dan buram. Dalam kekalutannya, Sena sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja dan menyusul kedua orang tuanya ke surga.

"Kalau aku mati, aku tidak perlu lagi menghadapi hari esok. Ya, aku tidak harus malu karena sudah tidak suci lagi dan aku juga tidak harus menjadi gelandangan karena tidak punya rumah. Aku tidak akan disuruh bertanggung jawab lagi atas semua yang tidak pernah aku lakukan."

Air mata Sena terus bercucuran walaupun ia tidak melakukan apa-apa selain diam saat ini. Tentu saja ia serius berharap mati saja, tapi Sena juga punya ketakutan dan kesadaran kalau bunuh diri itu adalah hal yang salah dan tidak boleh dilakukan.

Sena makin stres karena seolah tidak ada jalan keluar dari masalah ini selain menghadapinya.

Sena pun masih berkutat dengan pikiran dan kesedihannya sendiri saat ponselnya berbunyi dan Sena pun meraih ponselnya di dalam tas yang sejak tadi ia abaikan itu.

Air mata Sena pun makin deras saat melihat nama Hansel di sana, kekasihnya yang sangat ia cintai. Padahal mereka sudah berjanji untuk bertemu malam ini dan merayakan ulang tahun Hansel bersama, tapi Sena malah tidak bisa datang.

"Halo, Hansel?" Sena berusaha membuat suaranya terdengar baik-baik saja begitu ia mengangkat teleponnya.

"Sena, Sayang, akhirnya kau mengangkat teleponku juga. Aku meneleponmu sejak tadi. Apa yang kau lakukan? Mengapa kau tidak mengangkat teleponku dan kau juga tidak datang ke ulang tahunku? Padahal aku mau mengenalkanmu pada teman-temanku."

"Ah, maaf, Hansel. Aku tadi mendadak tidak enak badan, kepalaku pusing sampai aku hampir pingsan jadi aku tidak melihat ponselku," dusta Sena dengan susah payah.

"Eh, lalu sekarang kau sudah tidak apa?"

"Tidak apa. Aku ... baru bangun dari tidurku dan sekarang aku sudah lebih baik."

"Ah, syukurlah. Kalau begitu istirahatlah lagi, besok aku akan menemuimu."

"Hmm, terima kasih dan ... selamat ulang tahun, Hansel. Aku berharap kau selalu sehat dan bahagia," ucap Sena sambil menahan tangisannya.

"Terima kasih, Sena. Besok pulang kerja, aku akan menjemputmu."

Sena mengangguk. "Sampai besok, Hansel."

Mereka berpamitan dan setelah menutup teleponnya, Sena pun kembali menangis dengan begitu sedih sampai tanpa sadar, ia pun tertidur dalam kesedihannya.

Entah berapa lama Sena tertidur malam itu, tapi saat Sena membuka matanya, Sena merasakan tubuhnya sakit semua.

Sena pun masih meringis dan mencoba bergerak sampai tanpa sengaja ia melihat jamnya yang sudah menunjukkan jam sembilan pagi dan ia pun membelalak.

"Astaga, sudah jam sembilan pagi, aku harus sampai ke mall jam setengah sepuluh, aku tidak boleh terlambat lagi kali ini."

Memikirkan akan terlambat kerja pun mendadak membuat Sena mempunyai kekuatan untuk bangkit dan bersiap pergi bekerja, seolah tidak ada yang terjadi kemarin.

*

Sebuah mobil mewah baru saja berhenti di sebuah gedung bertingkat pagi itu.

Alexander Sagala, CEO perusahaan itu pun keluar dari mobil dan melangkah memasuki gedung Maxima Construction, sebuah perusahaan konstruksi yang cukup besar di negara ini.

Para karyawan yang melihat sang pimpinan pun langsung menunduk sopan dan tidak sedikit karyawan wanita yang tertegun menatap wajah rupawan sang CEO.

Tidak dapat dipungkiri, Xander memiliki kesempurnaan yang membuat kaum hawa selalu menoleh dua kali setiap berpapasan dengannya.Wajah tampan dengan garis wajah yang tegas, tubuh tegap dan gagah, pintar, kaya raya, dan sepak terjang yang luar biasa di dunia bisnis membuat Xander menjadi bujangan yang sangat diminati oleh para wanita.

Bahkan, dengan tatapan sinis dan sikap arogannya tidak membuat pesona itu berkurang sedikitpun. Namun, Xander selalu mengabaikan tatapan itu.

Xander pun langsung melangkah menuju ke ruang kerjanya sendiri diikuti oleh asistennya yang setia yang bernama Henry. Pria dengan wajah datar sama seperti bosnya itu langsung melaporkan banyak hal begitu mereka masuk ke ruang kerja Xander.

"Proyek baru dengan Pak Himawan sudah mulai dikerjakan, karena itu, akan ada rapat jam sepuluh nanti untuk membahasnya, Pak. Lalu setelah makan siang, ada pertemuan dengan pimpinan Diamond Group, dan malam harinya ada makan malam dengan CEO Rayya Group."

"Hmm, aku tahu, Henry. Lalu bagaimana dengan wanita bernama Sena itu?"

"Dia pulang dengan selamat tadi malam, Pak, tapi ...."

Henry terdiam sejenak sampai Xander yang melihatnya pun memicingkan matanya.

"Tapi apa, Henry?"

"Pagi ini, anak buah kita memeriksa ke sana dan informasi dari tetangga mengatakan bahwa Sena dan Giana bertengkar tadi malam."

Kedua mata Xander pun membelalak lebar mendengarnya. "Dasar wanita brengsek! Berani sekali dia membohongiku dan mengaku tidak tahu di mana Giana," geram Xander sambil mengepalkan tangannya.

Ya, Xander adalah pria yang menangkap dan menodai Sena kemarin. Xander juga mengancam Sena tanpa perasaan dan Xander paling tidak suka dibohongi.

"Batalkan semua agendaku hari ini, Henry! Cari di mana Sena berada sekarang, dia harus merasakan akibatnya karena sudah membohongiku!" titah Xander penuh amarah.

Sementara itu, Sena yang sudah tiba di tempat kerjanya pun masih menunduk saat supervisornya memarahinya karena ia terlambat masuk pagi ini.

Sena bekerja sebagai pramuniaga di sebuah supermarket besar yang ada di dalam mall dan ia sudah terlambat tiga kali bulan ini.

"Maafkan aku, sungguh aku tidak enak badan karena itu aku bangun terlambat."

"Aku tidak mau menerima alasan, Sena. Kau sudah terlambat tiga kali dalam bulan ini dan kalau kau terlambat satu kali lagi, terpaksa aku tidak akan memakaimu lagi."

"Astaga, Pak, tolong jangan begini, aku janji ini yang terakhir, Pak. Akhh!" Sena meringis saat rasa perih di tubuhnya kembali terasa, tapi ia memaksakan diri bersikap baik-baik saja.

Namun, sang supervisor malah menggeram kesal. "Kau selalu bilang ini yang terakhir setiap kali kau terlambat, Sena. Jadi aku sudah tidak percaya lagi. Lebih baik sekarang kau bekerja sana dan untuk hari ini kau akan lembur!"

"I-iya, Pak! Maafkan aku!" Sena terus menunduk sampai sang supervisor itu pergi, barulah ia merintih lagi sambil melangkah tertatih ke koridor yang lebih sepi.

Untuk sesaat, Sena mengedarkan pandangan ke sekeliling dan rasa trauma itu masih ada, seolah semua orang menatapnya dengan aneh, walaupun rasanya tidak separah kemarin.

Sena pun berusaha menenangkan dirinya dan fokus bekerja saja.

"Hidup harus terus berjalan, Sena! Ayo, kau bisa! Tidak ada yang bisa menolongmu selain dirimu sendiri jadi ayo bekerja! Kau harus menunjukkan hasil kerja yang baik agar supervisor itu tidak rela memecatmu. Tidak! Yang benar adalah jangan sampai terlambat lagi."

Sambil mengembuskan napas paniangnya, Sena pun memaksakan diri bergerak seperti biasa. Sena mulai merapikan barang-barang di rak sambil mencatat di bukunya barang apa yang stoknya menipis dan Sena pun bekerja dengan sangat serius sampai siang menjelang.

Bahkan saking seriusnya, Sena sampai tidak sadar kalau ada orang yang sudah mengamatinya sejak tadi. Sena pun masih tetap serius memperhatikan barangnya sambil melangkah mundur.

Namun, langkahnya mendadak terhenti saat tanpa sengaja ia menabrak tubuh keras seseorang di belakangnya.

Buk!

"Astaga, maafkan aku, aku tidak sengaja!"

Sena yang berbalik pun langsung menunduk meminta maaf tanpa ia tahu siapa yang ditabraknya.

Hingga saat Sena mengangkat kepalanya dan tatapannya bertemu dengan tatapan seorang pria yang ditabraknya, kedua mata Sena pun membelalak.

Jantung Sena seketika ikut memacu kencang mendengar suara berat pria itu menyapanya.

"Kita bertemu lagi, Sena Monela."

**

Dinodai CEO Kejam

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya