Bab 5

Sena masih menggeram begitu kesal dan frustasi setelah menutup telepon dari Xander. Sena ingin berteriak, mengumpat, dan menangis lagi, tapi mendadak ia teringat kalau Hansel akan menjemputnya dan ia harus terlihat bahagia.

Cukup lama Sena menenangkan dirinya sebelum akhirnya ia memutuskan ke toilet untuk merapikan penampilannya agar lebih segar.

Sena yang sudah mengganti seragam pramuniaganya dengan baju santai itu pun melepas gelungan rambutnya dan rambutnya langsung tergerai bergelombang dengan indah.

Tidak lupa Sena juga memoles lagi make up tipisnya agar wajahnya tidak terlihat sembab. Dan setelah puas dengan penampilannya, Sena pun pergi ke sebuah toko kue di dalam mall untuk membeli kue tart.

"Ini kuenya, Nona."

"Terima kasih."

Sena tersenyum menatap kue tart kecil yang baru saja ia beli untuk Hansel.

Sena pun membawa kue itu dan melangkah keluar dari toko, tapi ia nampak berhenti di sebuah kaca yang terletak di perbatasan antara toko itu dengan toko lain untuk merapikan penampilannya sekali lagi dan Sena pun tersenyum puas.

Seberapa buruk pun harinya, ia tidak mau mengacaukan perayaan ulang tahun malam ini. Sena ingin memberikan kuenya dan mengajak Hansel makan malam bersama lalu berkencan seperti biasanya.

Sena pun begitu antusias menunggu Hansel di depan mall. Bukan tepat di depan mall, tapi Sena harus melangkah keluar sampai ke trotoar agar Hansel bisa langsung melihatnya nanti.

Tidak lama kemudian, Hansel pun datang dengan sepeda motornya dan Sena pun memberikan senyum hangatnya untuk sang kekasih.

"Sena!" Hansel langsung membuka helm teropongnya dan tersenyum sambil mengarahkan sepeda motornya dan menghentikannya di depan Sena.

Sena sendiri langsung mengulum senyumnya begitu melihat kekasihnya itu.

"Apa kau sudah lama menunggu, Sena?"

"Tidak, aku baru saja keluar."

"Ah, baiklah, maaf aku terlambat ya, tapi mengapa wajahmu sedikit sembab?"

Hansel mengulurkan tangannya menangkup sebelah pipi Sena dan membelainya. Sena pun sempat memejamkan mata sekilas merasakan hangatnya tangan Hansel di wajahnya.

"Aku tidak apa. Mungkin karena kemarin aku sakit jadi wajahku tidak segar," jawab Sena lembut.

"Tapi sekarang kau sudah sembuh kan, Sena? Maaf kemarin aku tidak bisa ke rumahmu karena aku masih bersama teman-temanku."

"Hmm, aku sudah sembuh, Hansel. Dan santai saja. Aku yang tidak bisa datang, tapi jangan sampai acaramu dengan teman-temanmu ikut berantakan. Sudahlah, ayo kita pergi!" ajak Sena.

"Hmm, ayo, ini helm untukmu!"

Hansel mengangguk lalu memberikan helm untuk Sena dan Sena pun segera memakainya.

Namun, Sena sedikit kesulitan saat ia akan naik ke sepeda motor karena masih ada rasa perih yang ia rasakan di bagian bawah tubuhnya dan rasa itu sangat tidak nyaman.

"Eh, ada apa, Sena? Apa sandaran kakinya belum terbuka? Ini sudah. Naiklah!"

"Ah, iya, aku akan naik."

Sena pun berpegangan pada bahu Hansel dan ia naik ke atas motor sambil meringis. Ia pun sempat menyamankan posisi duduknya sebelum ia meminta Hansel untuk jalan saja.

"Baiklah, aku jalan sekarang ya."

"Hmm." Sena mengangguk dan langsung memeluk kekasihnya dari belakang sambil menyandarkan pipinya ke punggung pria itu.

Sena pun merasakan betapa nyaman punggung kekasihnya yang entah sampai kapan bisa ia rasakan.

Apa nanti Hansel masih bisa menerimanya kalau tahu ia sudah tidak suci lagi? Padahal ia tidak pernah mau kalau Hansel menciumnya di bibir dan selama berpacaran, Hansel hanya pernah menciumnya di tangan dan pipinya.

Mendadak Sena melow sampai ia memeluk Hansel makin kencang saat motor mereka melaju kencang.

Tanpa Sena sadari, sebuah mobil masih mengikutinya sejak tadi. Henry dan Xander ada di dalam mobil itu dan Xander pun terus memicingkan matanya menatap kemesraan Sena dengan kekasihnya itu.

"Jadi pria itu yang bernama Hansel?"

"Benar. Namanya Hansel Prawira dan dia bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan manufaktur. Dia sudah menjalin hubungan dengan Sena selama dua tahun terakhir ini."

Xander tersenyum sinis mendengarnya. "Huh, jadi pria itu selalu membawa Sena ke mana pun dengan sepeda motornya itu?"

"Ck, dia benar-benar berbeda dengan kakaknya. Apa dia tidak bisa sedikit menggunakan otaknya? Untuk apa wajah cantik dan tubuh yang indah kalau tidak dimanfaatkan? Cukup sedikit bersolek saja, dia pasti bisa mendapatkan pria yang lebih baik daripada kekasihnya itu," imbuh Xander sambil mengembuskan napas panjangnya.

"Tapi baiklah! Daripada dia menjadi brengsek seperti kakaknya, lebih baik dia menjadi bodoh seperti sekarang," seru Xander lagi.

Xander pun terdiam sejenak dan terus menatap bagaimana Sena memeluk kekasihnya itu dengan begitu hangat, benar-benar sikap yang berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh wanita itu pada Xander kemarin dan hari ini. Dan tanpa sadar, Xander pun mendengus kesal.

Hansel dan Sena sendiri akhirnya tiba di sebuah depot langganan mereka, depot yang menjual bubur dan mie rebus.Depot ini menjadi tempat makan wajib bagi mereka kalau ada salah satu dari mereka yang berulang tahun.

"Aku rindu sekali mie rebus di sini. Ayo kita pesan!" seru Hansel antusias.

"Jangan lupa pesan yang pakai telur. Kau harus makan telur karena kau sedang berulang tahun," sahut Sena sama antusiasnya.

"Haha, tapi kemarin aku sudah makan telur, Sena."

"Tidak apa, makan telur lagi sangat sehat untukmu. Ayo pesan lagi!"

"Baiklah!" Hansel pun mengangguk dan langsung memesan beberapa menu murah meriah di depot itu, sedangkan Sena langsung saja membuka kue tartnya.

"Ta-raaa, aku membelikan kue tart untukmu!"

"Astaga, Sena! Kukira apa yang kau bawa sejak tadi. Mengapa kau begitu repot, Sayang?"

"Aku sama sekali tidak repot, ayo kita pinjam korek dulu dan menyalakan lilinnya!"

Dengan cepat mereka pun menyalakan lilinnya dan berdoa bersama sebelum akhirnya Hansel meniup lilinnya.

"Selamat ulang tahun, Hansel! Maaf, perayaannya terlambat satu hari."

Sena pun berdiri dari kursinya lalu menghampiri Hansel yang sedang duduk di hadapannya dan mendaratkan bibirnya ke pipi Hansel. Cup!

"Terima kasih, Sena!" Mereka pun berpelukan sejenak sambil memejamkan mata sebelum tiba-tiba suara derap langkah sepatu terdengar mendekati mereka.

Sontak mereka sama-sama membuka matanya dan sontak menoleh. Sena pun langsung membelalak menatap siapa yang sedang berdiri di sana.

"Rupanya sedang ada pesta di sini? Mengapa kau tidak mengundangku, Sena Sayang?" sapa Xander provokatif.

Sebenarnya bukan niat Xander mengganggu dua orang yang sedang bermesraan, tapi ia tidak tahan lagi duduk di mobil dan hanya menjadi penonton, karena itu, ia pun akhirnya keluar untuk membuat kejutan lagi untuk Sena.

Sena sendiri yang menatap Xander sudah diam seribu bahasa, sedangkan Hansel yang belum tahu apa-apa malah masih mengernyit.

"Eh, kau siapa? Apa kau mengenal kami? Kau tadi memanggil Sena apa? Apa kau mengenalnya, Sena?" tanya Hansel dengan polosnya sambil mendongak menatap Sena yang masih berdiri di sampingnya.

Xander yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum sinis sambil memasukkan kedua tangan ke kantong celananya dan menatap Sena, menunggu wanita itu menjawabnya.

Namun alih-alih menjawab, Sena malah tetap diam dan menatap Xander dengan tidak percaya. Apa pria itu hantu? Atau apa pun itu, mengapa pria itu ada di mana-mana?

Seketika Sena kembali sesak napas, tapi ia sama sekali tidak menjawab apa pun. Sampai akhirnya Xander pun menyeringai dan mengalihkan tatapannya ke arah Hansel.

"Karena Sena diam saja, maka biarkan aku yang memperkenalkan diriku. Namaku adalah Alexander Sagala. Dan aku adalah selingkuhan dari Sena kekasihmu itu!"

**

Bab 6

Suara lantang Xander membuat Sena dan Hansel seketika membelalak bersamaan.

"Apa? Siapa yang kau maksud?" tanya Hansel terbata. Hansel yang masih duduk di kursinya pun mendongak menatap Sena. "Sebenarnya ada apa ini, Sena?"

Namun, Sena hanya menggeleng. "Jangan dengarkan dia, Hansel! Dia pria gila. Aku juga tidak mengenalnya. Ayo lebih baik kita pergi saja dari sini!"

"Eh, tapi mienya ...."

"Tunggu dulu!" Sena pun langsung mengeluarkan uang dari dompetnya yang ia tahu pasti lebih untuk membayar pesanan mienya. "Aku mau membayar, Bu! Akan kuletakkan di sini saja uangnya! Terima kasih!" teriak Sena.

"Ayo Hansel, kita pergi saja!" ajak Sena lagi sambil menggandeng tangan Hansel.

"Eh, tapi Sena ... sebenarnya ada apa ini?" tanya Hansel lagi sambil tetap mengikuti Sena.

Mereka pun melewati Xander begitu saja dan Xander hanya menyeringai sebelum ia pun mengekor di belakang Sena.

Hansel dan Sena pun akhirnya keluar dari depot dan Sena mengajak Hansel untuk pulang saja, tapi Hansel malah melepaskan gandengan tangan Sena.

"Tunggu, Sena!"

"Tunggu apa lagi, Hansel? Ayo kita pulang saja!"

"Tidak! Aku harus tahu apa maunya pria tadi," seru Hansel yang kukuh ingin kembali ke dalam depot, namun Xander yang dicari olehnya mendadak sudah keluar dan berdiri di hadapan Hansel sekarang.

"Kau mencariku, Hansel?" tanya Xander dengan santai.

Hansel pun mengembuskan napas kesalnya menatap Xander. Tentu saja kalau dilihat secara fisik, Hansel tidak ada apa-apanya.

Pria yang berdiri di hadapannya ini sangat tampan dan gagah, bahkan jas yang dipakainya menunjukkan betapa hebat pria itu. Sedangkan Hansel hanya memakai kemeja biasa yang sama sekali tidak sebanding, tapi tetap saja Hansel harus mempertahankan kekasihnya.

"Hansel, sudah, kita pulang saja!" Sena masih berusaha memeluk dan menarik lengan Hansel, namun Hansel menepisnya sambil tetap menatap Xander.

"Ya, aku mencarimu! Siapa kau dan apa yang kau mau? Mengapa kau mengaku-ngaku sebagai selingkuhan Sena?" tantang Hansel tiba-tiba.

Xander pun memicingkan mata menatap Hansel yang ternyata cukup punya keberanian juga menantangnya seperti ini.

"Aku mengaku-ngaku? Aku ini memang selingkuhannya Sena. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Sena sendiri."

"Tidak! Itu tidak benar! Aku tidak pernah selingkuh," sembur Sena begitu saja begitu mendengar ucapan Xander. "Dan kau pergilah dari hadapanku, Pria Gila!" Sena menunjuk ke arah Xander dengan penuh emosi.

Hansel sendiri yang mendengarnya pun memutuskan untuk percaya pada Sena. "Kau dengar kan? Sena bilang dia tidak pernah selingkuh dan aku percaya padanya. Sena tidak mungkin selingkuh dariku. Kami sudah bersama selama dua tahun dan dia tidak mungkin mengkhianatiku," tegas Hansel dengan gagah berani.

Namun, ekspresi wajah Xander nampak biasa saja, malahan ia menatap Sena sedikit lebih lama sebelum ia kembali menyeringai.

"Kau begitu percaya ya pada Sena?" tanya Xander lagi dengan tatapan bengisnya.

Jantung Sena pun mulai berdebar kencang saat ini. Jangan sampai pria itu mengatakan apa pun pada Hansel. Sena tidak akan sudi kalau pria itu sampai membongkar semuanya.

Dengan liar, Sena pun akhirnya menghambur ke arah Xander dan mendorongnya keras-keras sampai Xander yang tidak siap pun sedikit terhuyung. Sungguh, ini mengejutkan sekali saat Sena berani menyerangnya seperti ini.

"Apa yang kau lakukan, Sena?" bentak Xander yang begitu terkejut.

"Pergi kau dari sini! Aku tidak mengenalmu dan aku juga tidak punya hubungan apa pun denganmu, jadi jangan mengusik hubunganku dengan Hansel!" balas Sena sambil menatap Xander dengan kobaran api di matanya.

Xander kembali terkejut. Tentu saja ia sangat terkejut karena belum pernah ada yang berani melawannya seperti ini. Tapi Xander bukan orang yang bisa dilawan karena sekali orang itu melawan, maka Xander tidak akan memberinya ampun.

Xander pun tertawa kesal dan malah melirik Hansel. "Kau lihat sendiri kan, Hansel? Betapa Sena takut kebohongannya terbongkar?"

"Sekarang apa yang kau katakan lagi, Brengsek?" pekik Sena lagi sambil melotot marah.

Namun, Xander mengabaikan Sena dan melanjutkan ucapannya. "Sena takut kau mengetahui kalau aku adalah selingkuhannya, bahkan kami juga sudah tidur bersama dan aku merasa buruk untukmu, Hansel, karena aku sudah mengambil keperawanan kekasihmu," seloroh Xander dengan entengnya.

Seketika Sena langsung menahan napas mendengarnya, tubuhnya gemetar dan merinding sekaligus dan ia pun tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Sedangkan Hansel sendiri langsung mematung mendengarnya.

Untuk sesaat, Hansel hanya tetap mematung sebelum ia mendapatkan kesadarannya kembali dan ia pun menoleh menatap Sena.

"Apa? Kau tidur dengannya, Sena? Dan apa? Dia mengambil keperawanan apa? Kau ... apa itu benar, Sena?"

Sena sudah menggeleng dengan air mata yang sudah berucucuran. "Jangan dengarkan dia, Hansel! Jangan dengarkan dia!" lirih Sena.

Hansel yang masih syok pun terlihat makin syok melihat ekspresi Sena.

"Mengapa? Mengapa kau menangis, Sena? Kalau itu tidak benar, bukankah seharusnya kau tinggal membantahnya saja? Tapi mengapa kau malah menangis dan tidak membantahnya, Sena? Mengapa?"

Sena hanya terus menggeleng. "Kumohon percayalah padaku, Hansel! Ini tidak seperti yang kau pikir."

Sena berusaha mendekati Hansel dan menyentuh lengannya, namun Hansel mengangkat kedua tangannya menghindari Sena.

"Jangan, Sena! Jangan!" Hansel pun perlahan melangkah mundur. "Aku ... aku tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang, tapi ... biarkan aku sendiri dulu," seru Hansel yang perlahan mundur menjauhi Sena.

"Hansel ... tidak, Hansel!" seru Sena yang terus melangkah mendekat.

"Tidak! Kau ... kau bisa pulang sendiri kan, Sena? Aku ... aku tidak akan mengantarmu."

"Hansel, jangan tinggalkan aku! Aku mau ikut denganmu, Hansel!" Sena masih mengikuti Hansel sampai ke sepeda motornya, namun Hansel tidak mau Sena ikut dengannya.

"Biarkan aku pulang sendiri, Sena! Biarkan aku pulang sendiri dan terima kasih atas hadiah ulang tahunnya," seru Hansel dengan sakit hati yang terlihat jelas sebelum ia langsung melajukan motornya pergi meninggalkan Sena.

Dan Sena pun hanya bisa berteriak lirih dengan air mata yang kembali bercucuran. "Hansel, jangan tinggalkan aku, Hansel!"

Xander pun lagi-lagi menyeringai puas melihat betapa frustasinya ekspresi Sena saat ini.

"Jadi dia mendapatkan hadiah yang sangat pahit di hari ulang tahunnya ya? Kasihan sekali!" seru Xander tanpa perasaan.

Sena yang mendengar suara itu pun langsung menoleh dan menatap Xander dengan tajam. Sena pun kembali menyerang Xander dan mendorongnya keras sampai Xander kembali terkejut.

"Sial, apa yang kau lakukan?" pekik Xander tidak terima.

"Puas kau, Pria Brengsek, hah? Puas kau? Dasar brengsek! Dasar tidak punya hati!"

Mendadak Sena terus memukuli dada dan bahu Xander, apa pun yang bisa Sena raih akan ia pukuli dan Xander pun akhirnya murka.

Dengan cepat, Xander menangkap kedua tangan Sena dan menggenggamnya sekaligus sambil menatap wanita itu lekat-lekat.

"Jangan kelewatan, Sena!" geram Xander dengan nada yang mengintimidasi.

"Memangnya kenapa kalau aku kelewatan, hah? Apa lagi yang mau kau lakukan padaku? Kau sudah mengambil semua yang aku punya, kehormatanku, pekerjaanku, kekasihku, lalu apa? Sekalian saja kau membunuhku agar aku tidak perlu merasakan kehilangan lagi! Dasar pria brengsek!" teriak Sena begitu kesal.

"Mengapa kau berpikir aku mau membunuhmu, Sena? Aku tidak mau kau mati karena kau harus membawa kakakmu dulu kepadaku."

"Aku sudah bilang aku tidak tahu di mana dia berada! Kalau kau saja bisa terus menemukan aku dan melakukan semua ini padaku, mengapa kau tidak menyuruh anak buahmu mencarinya sampai ke ujung dunia, hah? Mengapa kau harus mengganggu hidupku? Aku sungguh tidak ada hubungannya dengan Giana!"

Xander terdiam sejenak dan terlihat berpikir keras sebelum ia menjawabnya.

"Benar juga, aku bisa meminta anak buahku mencarinya ke ujung dunia, Sena. Tapi setelah kupikirkan lagi, kalau aku bisa mendapatkan keduanya, mengapa aku harus memilih salah satunya, hah? Salahkan saja takdir yang membuatmu menjadi adiknya Giana!"

**

Bab 7

"Ah, dasar pria brengsek!"

Sena memekik kesal di kamarnya dan ia pun duduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Sena meninggalkan Xander tadi dan langsung pulang ke rumahnya tanpa mempedulikan pria itu lagi. Lagipula siapa yang mau berdekatan dengan iblis seperti itu?

"Sebenarnya apa salahku? Apa hanya karena aku adiknya Giana, lantas dia boleh melakukan ini padaku? Mengapa aku harus bertemu dengan pria berhati iblis sepertinya?" pekik Sena frustasi.

Sungguh, kemarin sampai tadi sore, Sena masih belum bisa menahan rasa sedihnya. Setiap detik, Sena hanya ingin menangis melow, tapi malam ini, setelah akhirnya Xander merusak hubungannya juga dengan Hansel, alih-alih melow, Sena malah merasa sangat kesal pada iblis bernama Xander itu.

Sena mengembuskan napas panjangnya dan dengan air mata yang masih berlinang, Sena pun mencoba menelepon Hansel, walaupun ponsel Hansel tidak pernah aktif.

"Hansel, bagaimana caranya aku menjelaskan semuanya padamu? Hanya kau yang aku punya, Hansel. Kau tahu itu kan? Orang tuaku sudah tidak ada dan Giana ...."

"Oh, bisakah kau mendengarkan aku dulu? Walaupun aku sudah tidak suci tapi ini juga bukan salahku, aku juga korban, Hansel," lirih Sena lagi.

Sena menyeka air matanya dan hatinya penuh dengan perasaan yang tidak karuan saat ini.

Sementara itu, Xander masih duduk di mobilnya tanpa ekspresi.

Walaupun apa yang ia lakukan jahat, tapi ia sama sekali tidak menyesal melakukannya.

Sena hanya kehilangan kehormatannya, kehilangan pekerjaan, kehilangan kekasihnya, tapi Andrew, adik Xander kehilangan dunianya.

Untuk sesaat, Xander hanya terdiam sambil berpikir keras sampai akhirnya ia pun tiba di sebuah rumah besar dengan gerbang yang tinggi, sebuah rumah mewah tempatnya tinggal.

Mobil yang dikendarai Henry pun masuk ke sana dan gerbang tinggi itu segera menutup lagi. Xander sendiri langsung keluar dari mobil dan Bik Arta, seorang wanita tua yang sudah bekerja lama untuk keluarga itu pun langsung menyambut Xander.

"Kau sudah pulang, Xander?" sapa Bik Arta yang sudah seperti Ibu bagi Xander.

Ayah Xander sendiri sudah lama meninggal, sedangkan ibunya sudah menikah lagi. Karena itu, hanya Andrew satu-satunya yang Xander miliki saat ini.

"Iya, Bik. Bagaimana dengan Andrew, Bik?" tanya Xander sambil melangkah ke kamar Andrew. Hal pertama yang selalu Xander lakukan setiap ia pulang ke rumah adalah menyapa adiknya itu.

Bik Arta sendiri yang mendengar pertanyaan Xander pun hanya mengembuskan napas panjangnya sebelum ia menjawab.

"Masih sama saja, tapi dia ... makin tenang dari hari ke hari," lirih Bik Arta.

Xander pun menatap wanita tua itu sejenak dan air matanya hampir saja menetes saat ia memahami maksudnya.

"Aku akan menemuinya, Bik. Terima kasih."

Bik Arta mengangguk dan segera meninggalkan Xander yang langsung masuk ke kamar Andrew.

Kamar mewah itu tampak begitu hening dan sama sekali tidak ada suara di sana. Namun, ada seorang pria tampan dengan tubuh gagah yang hampir sama seperti Xander, yang sedang tidur sambil memeluk sebuah boneka beruang besar yang ia beri nama Giana.

Tatapan Xander pun menghangat menatap Andrew, adik yang sangat ia sayangi. Xander pun melangkah perlahan agar ia tidak membangunkan Andrew dan Xander langsung duduk di samping boneka besar itu.

Dengan perlahan juga, Xander mengangkat tangan Andrew dan berniat mengganti boneka itu dengan guling saja karena Xander sama sekali tidak suka melihat Andrew seperti ini.

Namun, baru saja Xander menarik boneka itu, Andrew pun langsung terbangun.

"Tidak, Giana! Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau sendirian, Giana! Aku sangat mencintaimu! Jangan tinggalkan aku!"

Mendadak Andrew menarik lagi boneka itu kuat-kuat dan memeluknya. Andrew pun mendekap boneka itu dan membelai kepala boneka itu dengan kedua tangannya lalu menatapnya dengan penuh cinta.

Xander yang melihatnya pun seketika mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya. Xander tidak tahan lagi dan langsung membentak Andrew.

"Hadapilah kenyataan ini, Andrew! Kau seorang pria, Brengsek! Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Giana itu hanya wanita murahan penipu dan dia tidak pantas untukmu!" geram Xander yang sudah berkali-kali kehilangan kesabaran melihat kondisi Andrew.

Namun, Andrew seolah menulikan telinganya, Andrew mengabaikan ucapan Xander, dan ia malah terus menciumi bonekanya sampai Xander makin sakit hati melihatnya.

"Itu pasti kakakku! Jangan dengarkan dia, Giana! Selama ada aku, kau akan aman. Kakakku sangat menyayangiku, dia tidak akan mengusirmu. Kau tenang saja ya." Andrew terus menenangkan Giana-nya dan Xander pun hanya bisa menahan emosinya.

Andrew memang berbeda dengannya. Kalau Xander mempunyai sifat yang begitu keras, berbeda dengan Andrew yang lebih menutup diri dan minder.

Tentu saja hal ini juga disebabkan oleh kondisi keluarganya yang sejak dulu memang tidak harmonis. Tapi intinya Andrew berbeda dengannya. Perasaan Andrew begitu halus dan Giana adalah cinta pertama Andrew.

Xander yang sudah lama tinggal di luar negeri untuk mengembangkan bisnisnya pun sangat senang setiap mendengar Andrew menceritakan tentang Giana dengan tatapan yang berbinar-binar, seolah Giana adalah dunianya.

"Dia adalah wanita paling cantik yang pernah kutemui, Kak. Aku sangat mencintainya," seru Andrew waktu itu.

"Dia mengajarkan banyak hal padaku, termasuk ... haha, aku malu sekali menceritakannya padamu, tapi akhirnya aku merasakan yang namanya kenikmatan duniawi seperti yang biasa kau lakukan dengan para wanitamu. Kau tidak akan marah padaku kan, Kak? Dia benar-benar luar biasa, Kak," imbuh Andrew dengan tatapan penuh cinta.

Xander yang mendengarnya hanya tergelak. Ia bukan pria kolot dan bisa mendengar hal ini dari mulut Andrew saja sudah membuat Xander begitu senang.

Xander juga sempat meminta anak buahnya mengikuti Andrew dan Giana waktu itu dan Xander pun juga tertipu oleh semua yang ditunjukkan Giana dari luar. Sampai suatu hari Giana menghilang dan awal kehancuran Andrew pun dimulai.

Entah berapa lama mereka mencari Giana namun tidak membuahkan hasil dan Andrew pun mulai menjauh dari dunia nyata. Andrew mulai masuk ke dalam depresi dan halusinasinya sampai mentalnya begitu terganggu.

Segala upaya sudah Xander coba untuk mengembalikan adiknya namun setelah satu tahun berlalu, Andrew tetap sama.

Xander pikir, putus nyambung dalam hubungan percintaan adalah hal yang biasa, sampai Xander akhirnya mengetahui kenyataan tentang Giana yang sebenarnya hanya seorang wanita penipu yang sudah tidur dengan banyak pria dan menipu uang mereka lalu mencampakkannya begitu saja.

Xander tidak terima. Xander sangat tidak terima karena wanita jalang itu berani mempermainkan adiknya. Xander tidak peduli pada pria mana pun itu, asal bukan Andrew. Dan itulah tujuan Xander pulang ke negara asalnya kali ini, untuk membalaskan dendamnya pada wanita brengsek itu.

"Aku bersumpah akan membalaskan semuanya. Tapi tidak! Bukan untuk mengembalikan wanita penipu itu padamu karena dia sama sekali tidak pantas untukmu, Andrew."

"Aku hanya akan membuatnya merasakan apa yang kau rasakan, merasakan kehancuran dan rasa sakit yang luar biasa sampai dia pun berakhir di rumah sakit jiwa," geram Xander lagi dengan penuh dendam di hatinya.

**

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B45496" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B45496
Salin

Dinodai CEO Kejam

Bab 5
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya