Bab 4

Xander menyeringai menatap wajah cantik Sena yang nampak lebih fresh pagi itu.

Walaupun masih ada bekas sembab di sana yang menandakan wanita itu baru saja menangis semalaman, tapi hal itu tidak mengurangi kecantikan Sena sama sekali. Bahkan, Xander sampai memicingkan mata menatap sekali lagi wajah yang tidak terlalu ia perhatikan kemarin malam itu.

Dengan make up seadanya dan seragam pramuniaga serta rambut yang digelung rapi membuat Sena terlihat jauh lebih cantik daripada kemarin saat Sena berdandan memakai gaun milik Giana.

Namun, wanita itu tetap saja sudah menipunya dan Xander tidak bisa menerimanya sama sekali.

Sena sendiri sudah membelalak lebar dengan jantung yang berdebar kencang menatap pria yang sama sekali tidak ingin ditemuinya lagi itu.

"Apa ... apa yang kau lakukan di sini?" seru Sena gemetar sambil mencengkeram erat-erat bukunya dan melangkah mundur.

"Mencarimu, Sena. Urusan kita belum selesai," jawab Xander dengan nada yang begitu mengintimidasi.

"Aku tidak punya urusan denganmu. Pergi! Jangan ganggu aku lagi!" sahut Sena dengan lantang walaupun napasnya mulai tersengal.

"Kau jelas-jelas punya urusan denganku, Sena. Dan kau sudah berbohong padaku, aku tidak suka dibohongi."

Sena menggeleng tidak mengerti. "Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak membohongimu dan aku tidak punya urusan apa pun denganmu."

"Ck, kau berani bilang kau tidak berbohong, hah? Asal kau tahu kalau aku sama sekali bukan pria yang sabar, Sena. Kau bilang padaku kalau kau tidak tahu di mana Giana, tapi ternyata kau bertemu dengannya tadi malam, benar kan? Apa kau mau mengelak lagi, Sena?"

Kedua mata Sena kembali membelalak mendengarnya.

"Itu ... itu ...."

"Jangan berani menyangkalnya, Sena! Dan jangan berani melindunginya! Bawa dia kepadaku atau kau akan menyesal, Sena!"

Sena pun kembali menggeleng dengan tubuh yang makin gemetar.

"Tidak! Kemarin aku tidak tahu dia pulang, tapi secepat itu dia pergi lagi dan aku tidak tahu lagi di mana dia berada. Bahkan, dia juga hanya datang untuk menambah kesedihanku, jadi berhenti mencariku. Pergi sana! Pergi!"

Xander yang mendengar teriakan Sena pun memicingkan mata sambil melirik ke sekelilingnya dan beberapa orang terlihat mulai menatap penasaran pada mereka.

"Baiklah, Sena. Kesabaranku sudah habis dan jangan pikir aku akan diam saja setelah kau membohongiku."

Perlahan Xander melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka sampai Sena menegang di sana.

"Tunggu saja kejutan dariku, Sena! Kau harus tahu dengan siapa kau sedang berhadapan sekarang," bisik Xander di depan wajah Sena yang lagi-lagi membuat Sena menahan napasnya.

Sebuah seringaian kembali terbit di wajah bengis pria itu sebelum akhirnya Xander pergi meninggalkan Sena.

Dan kaki Sena pun langsung lemas setelahnya. Bahkan, Sena harus berpegangan pada rak barang agar ia tidak jatuh.

Jantungnya masih berdebar tidak karuan dan tubuhnya juga gemetar hebat, tapi ia bisa bernapas lebih lega sekarang, seolah hawa iblis baru saja pergi darinya.

"Tenang, Sena! Tidak apa! Dia hanya asal bicara. Ya, kau harus tenang."

Cukup lama Sena menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya ia masuk ke ruangan khusus karyawan dan meneguk air banyak-banyak di sana.

"Hei, Sena, sudah jam segini, ayo makan dulu!" ajak seorang teman Sena yang memberikan nasi kotak yang biasa mereka beli bersama untuk para karyawan.

"Ah, iya, terima kasih." Sena berusaha tetap tenang dan memakan makan siangnya walaupun ia merasa begitu sulit menelan makanannya.

"Kau tidak apa, Sena? Sejak tadi kau nampak murung. Jangan dengarkan ucapan supervisor, dia memang suka mengomel kan? Sudah, makan saja dan bekerja dengan baik ya."

Sena kembali mengangguk dan mencoba tersenyum pada wanita itu.

"Iya, terima kasih," ucap Sena lagi sebelum ia menghabiskan makan siangnya.

Namun, setelah makan siang berlalu, hatinya makin gelisah, bukan karena ucapan supervisor, tapi karena ancaman pria bengis itu.

Sampai tidak lama kemudian, kegelisahannya menjadi nyata saat ia dipanggil ke ruangan supervisor.

"Mulai besok kau tidak perlu lagi bekerja di sini, Sena. Ini gajimu dan ada sedikit bonus di dalamnya."

Supervisor meletakkan sebuah amplop di meja dan mendorongnya ke arah Sena.

Tatapan Sena pun langsung goyah. "Apa? Maksudnya aku ... dipecat? Tapi mengapa? Aku janji aku tidak akan terlambat lagi, Pak. Aku janji!"

"Ini sudah keputusan pimpinan, Sena. Aku juga tidak tahu menahu tentang keputusan itu."

"Tapi pasti ada yang salah di sini. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Pak. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak."

Sena mulai menitikkan air matanya lagi karena ini begitu menyakitkan. Ia dipecat tanpa sebab yang jelas.

"Semua orang juga membutuhkan pekerjaan, Sena. Termasuk aku. Aku hanya menjalankan perintah pimpinan dan kalau aku tidak menurutinya, aku yang akan dipecat. Kau juga harus mengerti aku, Sena."

"Tapi Anda kan supervisor di sini, tidak bisakah kau membantu membelaku? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun, Pak."

"Apa yang mau dibela? Kau juga sering terlambat, bagaimana caraku membelamu, hah?"

"Tapi Anda tidak bisa melakukan ini padaku, Pak. Anda tidak bisa." Sena mulai memohon sambil menangis, tapi supervisor itu malah makin geram dan tidak mau lagi bicara dengan Sena.

Dan Sena pun ditinggalkan menangis sendiri di ruang supervisor.

Sungguh, Sena tidak tahu apa nasibnya yang begitu buruk atau ini yang dimaksud pria bengis itu dengan tunggu kejutan darinya? Tapi mungkinkah pria itu bisa membuat Sena dipecat?

Entahlah, tapi pada kenyataannya Sena sudah dipecat dan ia begitu sulit menerimanya.

Kehilangan pekerjaan utamanya sama saja dengan membuatnya kehilangan sumber penghasilan.

Bagaimana ia bisa hidup nanti? Bagaimana ia bisa membayar hutang Giana saat ditagih nanti?

Sena terus menitikkan air matanya saat ia berpamitan dengan teman-temannya dan ia pun berakhir dengan duduk sendirian di food court mall.

Tidak lama kemudian, ponsel Sena berbunyi dan nama Hansel tertera di sana. Sena pun segera menghapus air matanya dan menenangkan napasnya sebelum ia mengangkat teleponnya.

"Halo, Hansel?"

"Sena, bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?"

"Tentu saja sudah. Aku baik-baik saja."

"Ah, syukurlah. Oh iya, aku akan agak terlambat menjemputmu nanti, Sayang. Kau tidak apa kan?"

"Tidak apa, Hansel. Santai saja."

"Ah, baiklah, Sena. Bekerja yang rajin ya. Nanti kita bertemu."

"Iya, tapi Hansel ...." Sena terdiam sejenak dan mempertimbangkan untuk memberitahukan tentang ia yang dipecat atau tidak, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengatakannya.

"Iya, Sena? Ada apa?"

"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa."

"Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa!"

Sena hanya mengangguk lalu menutup teleponnya dan kembali merenung dengan air mata yang kembali menetes.

Tanpa Sena sadari, Xander sendiri sudah duduk di sebuah restoran yang tidak jauh dari food court. Dan dari posisinya, Xander pun bisa mengamati bagaimana Sena yang duduk sendirian di sana sejak tadi.

Xander pun menyeringai puas dan langsung meraih ponselnya untuk menelepon Sena yang nomornya sudah ia dapatkan dari Henry.

Sena sendiri yang baru saja menutup teleponnya pun langsung mengangkat teleponnya lagi tanpa melihat nama peneleponnya karena ia berpikir bahwa Hansel yang meneleponnya lagi.

"Halo, Hansel," sapa Sena begitu ia mengangkat teleponnya.

"Hansel? Aku bukan Hansel, Sena."

Sena langsung membelalak mendengar suara itu dan ia langsung memeriksa nomor di ponselnya yang ternyata nomor tidak dikenal.

"Kau! Mau apa kau meneleponku dan dari mana kau bisa tahu nomor ponselku?"

"Itu tidak penting dari mana aku tahu nomor ponselmu, Sena. Tapi apa kau menyukai kejutan dariku?"

"Apa? Kejutan?" Jantung Sena berdebar begitu kencang memikirkan sepertinya benar pria itu adalah dalang dari pemecatannya.

"Kau ... jangan bilang kau yang membuat aku dipecat," lirih Sena.

Xander pun hanya menyeringai. "Menurutmu, Sena? Tidak ada yang tidak bisa kulakukan, Sena."

Dan hati Sena pun langsung mencelos. Seketika ia tidak bisa menahan emosinya lagi dan bangkit berdiri dari kursinya.

"Brengsek kau! Brengsek! Sebenarnya apa yang kau mau, hah? Kalau kau memang ada masalah dengan Giana, mengapa kau harus melakukan ini padaku? Aku tidak ada hubungannya dengan Giana, bisakah kau tidak mengganggu hidupku lagi, hah?" pekik Sena frustasi.

Bahkan, Sena tidak peduli kalau ia menjadi pusat perhatian saat ini. Namun, Xander yang melihatnya dari kejauhan pun begitu menikmati ekspresi putus asa dari wanita itu.

"Sayangnya tidak bisa, Sena. Ini peringatan pertamaku dan aku tidak akan berhenti sebelum kau membawa Giana padaku!"

**

Bab 5

Sena masih menggeram begitu kesal dan frustasi setelah menutup telepon dari Xander. Sena ingin berteriak, mengumpat, dan menangis lagi, tapi mendadak ia teringat kalau Hansel akan menjemputnya dan ia harus terlihat bahagia.

Cukup lama Sena menenangkan dirinya sebelum akhirnya ia memutuskan ke toilet untuk merapikan penampilannya agar lebih segar.

Sena yang sudah mengganti seragam pramuniaganya dengan baju santai itu pun melepas gelungan rambutnya dan rambutnya langsung tergerai bergelombang dengan indah.

Tidak lupa Sena juga memoles lagi make up tipisnya agar wajahnya tidak terlihat sembab. Dan setelah puas dengan penampilannya, Sena pun pergi ke sebuah toko kue di dalam mall untuk membeli kue tart.

"Ini kuenya, Nona."

"Terima kasih."

Sena tersenyum menatap kue tart kecil yang baru saja ia beli untuk Hansel.

Sena pun membawa kue itu dan melangkah keluar dari toko, tapi ia nampak berhenti di sebuah kaca yang terletak di perbatasan antara toko itu dengan toko lain untuk merapikan penampilannya sekali lagi dan Sena pun tersenyum puas.

Seberapa buruk pun harinya, ia tidak mau mengacaukan perayaan ulang tahun malam ini. Sena ingin memberikan kuenya dan mengajak Hansel makan malam bersama lalu berkencan seperti biasanya.

Sena pun begitu antusias menunggu Hansel di depan mall. Bukan tepat di depan mall, tapi Sena harus melangkah keluar sampai ke trotoar agar Hansel bisa langsung melihatnya nanti.

Tidak lama kemudian, Hansel pun datang dengan sepeda motornya dan Sena pun memberikan senyum hangatnya untuk sang kekasih.

"Sena!" Hansel langsung membuka helm teropongnya dan tersenyum sambil mengarahkan sepeda motornya dan menghentikannya di depan Sena.

Sena sendiri langsung mengulum senyumnya begitu melihat kekasihnya itu.

"Apa kau sudah lama menunggu, Sena?"

"Tidak, aku baru saja keluar."

"Ah, baiklah, maaf aku terlambat ya, tapi mengapa wajahmu sedikit sembab?"

Hansel mengulurkan tangannya menangkup sebelah pipi Sena dan membelainya. Sena pun sempat memejamkan mata sekilas merasakan hangatnya tangan Hansel di wajahnya.

"Aku tidak apa. Mungkin karena kemarin aku sakit jadi wajahku tidak segar," jawab Sena lembut.

"Tapi sekarang kau sudah sembuh kan, Sena? Maaf kemarin aku tidak bisa ke rumahmu karena aku masih bersama teman-temanku."

"Hmm, aku sudah sembuh, Hansel. Dan santai saja. Aku yang tidak bisa datang, tapi jangan sampai acaramu dengan teman-temanmu ikut berantakan. Sudahlah, ayo kita pergi!" ajak Sena.

"Hmm, ayo, ini helm untukmu!"

Hansel mengangguk lalu memberikan helm untuk Sena dan Sena pun segera memakainya.

Namun, Sena sedikit kesulitan saat ia akan naik ke sepeda motor karena masih ada rasa perih yang ia rasakan di bagian bawah tubuhnya dan rasa itu sangat tidak nyaman.

"Eh, ada apa, Sena? Apa sandaran kakinya belum terbuka? Ini sudah. Naiklah!"

"Ah, iya, aku akan naik."

Sena pun berpegangan pada bahu Hansel dan ia naik ke atas motor sambil meringis. Ia pun sempat menyamankan posisi duduknya sebelum ia meminta Hansel untuk jalan saja.

"Baiklah, aku jalan sekarang ya."

"Hmm." Sena mengangguk dan langsung memeluk kekasihnya dari belakang sambil menyandarkan pipinya ke punggung pria itu.

Sena pun merasakan betapa nyaman punggung kekasihnya yang entah sampai kapan bisa ia rasakan.

Apa nanti Hansel masih bisa menerimanya kalau tahu ia sudah tidak suci lagi? Padahal ia tidak pernah mau kalau Hansel menciumnya di bibir dan selama berpacaran, Hansel hanya pernah menciumnya di tangan dan pipinya.

Mendadak Sena melow sampai ia memeluk Hansel makin kencang saat motor mereka melaju kencang.

Tanpa Sena sadari, sebuah mobil masih mengikutinya sejak tadi. Henry dan Xander ada di dalam mobil itu dan Xander pun terus memicingkan matanya menatap kemesraan Sena dengan kekasihnya itu.

"Jadi pria itu yang bernama Hansel?"

"Benar. Namanya Hansel Prawira dan dia bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan manufaktur. Dia sudah menjalin hubungan dengan Sena selama dua tahun terakhir ini."

Xander tersenyum sinis mendengarnya. "Huh, jadi pria itu selalu membawa Sena ke mana pun dengan sepeda motornya itu?"

"Ck, dia benar-benar berbeda dengan kakaknya. Apa dia tidak bisa sedikit menggunakan otaknya? Untuk apa wajah cantik dan tubuh yang indah kalau tidak dimanfaatkan? Cukup sedikit bersolek saja, dia pasti bisa mendapatkan pria yang lebih baik daripada kekasihnya itu," imbuh Xander sambil mengembuskan napas panjangnya.

"Tapi baiklah! Daripada dia menjadi brengsek seperti kakaknya, lebih baik dia menjadi bodoh seperti sekarang," seru Xander lagi.

Xander pun terdiam sejenak dan terus menatap bagaimana Sena memeluk kekasihnya itu dengan begitu hangat, benar-benar sikap yang berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh wanita itu pada Xander kemarin dan hari ini. Dan tanpa sadar, Xander pun mendengus kesal.

Hansel dan Sena sendiri akhirnya tiba di sebuah depot langganan mereka, depot yang menjual bubur dan mie rebus.Depot ini menjadi tempat makan wajib bagi mereka kalau ada salah satu dari mereka yang berulang tahun.

"Aku rindu sekali mie rebus di sini. Ayo kita pesan!" seru Hansel antusias.

"Jangan lupa pesan yang pakai telur. Kau harus makan telur karena kau sedang berulang tahun," sahut Sena sama antusiasnya.

"Haha, tapi kemarin aku sudah makan telur, Sena."

"Tidak apa, makan telur lagi sangat sehat untukmu. Ayo pesan lagi!"

"Baiklah!" Hansel pun mengangguk dan langsung memesan beberapa menu murah meriah di depot itu, sedangkan Sena langsung saja membuka kue tartnya.

"Ta-raaa, aku membelikan kue tart untukmu!"

"Astaga, Sena! Kukira apa yang kau bawa sejak tadi. Mengapa kau begitu repot, Sayang?"

"Aku sama sekali tidak repot, ayo kita pinjam korek dulu dan menyalakan lilinnya!"

Dengan cepat mereka pun menyalakan lilinnya dan berdoa bersama sebelum akhirnya Hansel meniup lilinnya.

"Selamat ulang tahun, Hansel! Maaf, perayaannya terlambat satu hari."

Sena pun berdiri dari kursinya lalu menghampiri Hansel yang sedang duduk di hadapannya dan mendaratkan bibirnya ke pipi Hansel. Cup!

"Terima kasih, Sena!" Mereka pun berpelukan sejenak sambil memejamkan mata sebelum tiba-tiba suara derap langkah sepatu terdengar mendekati mereka.

Sontak mereka sama-sama membuka matanya dan sontak menoleh. Sena pun langsung membelalak menatap siapa yang sedang berdiri di sana.

"Rupanya sedang ada pesta di sini? Mengapa kau tidak mengundangku, Sena Sayang?" sapa Xander provokatif.

Sebenarnya bukan niat Xander mengganggu dua orang yang sedang bermesraan, tapi ia tidak tahan lagi duduk di mobil dan hanya menjadi penonton, karena itu, ia pun akhirnya keluar untuk membuat kejutan lagi untuk Sena.

Sena sendiri yang menatap Xander sudah diam seribu bahasa, sedangkan Hansel yang belum tahu apa-apa malah masih mengernyit.

"Eh, kau siapa? Apa kau mengenal kami? Kau tadi memanggil Sena apa? Apa kau mengenalnya, Sena?" tanya Hansel dengan polosnya sambil mendongak menatap Sena yang masih berdiri di sampingnya.

Xander yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum sinis sambil memasukkan kedua tangan ke kantong celananya dan menatap Sena, menunggu wanita itu menjawabnya.

Namun alih-alih menjawab, Sena malah tetap diam dan menatap Xander dengan tidak percaya. Apa pria itu hantu? Atau apa pun itu, mengapa pria itu ada di mana-mana?

Seketika Sena kembali sesak napas, tapi ia sama sekali tidak menjawab apa pun. Sampai akhirnya Xander pun menyeringai dan mengalihkan tatapannya ke arah Hansel.

"Karena Sena diam saja, maka biarkan aku yang memperkenalkan diriku. Namaku adalah Alexander Sagala. Dan aku adalah selingkuhan dari Sena kekasihmu itu!"

**

Bab 6

Suara lantang Xander membuat Sena dan Hansel seketika membelalak bersamaan.

"Apa? Siapa yang kau maksud?" tanya Hansel terbata. Hansel yang masih duduk di kursinya pun mendongak menatap Sena. "Sebenarnya ada apa ini, Sena?"

Namun, Sena hanya menggeleng. "Jangan dengarkan dia, Hansel! Dia pria gila. Aku juga tidak mengenalnya. Ayo lebih baik kita pergi saja dari sini!"

"Eh, tapi mienya ...."

"Tunggu dulu!" Sena pun langsung mengeluarkan uang dari dompetnya yang ia tahu pasti lebih untuk membayar pesanan mienya. "Aku mau membayar, Bu! Akan kuletakkan di sini saja uangnya! Terima kasih!" teriak Sena.

"Ayo Hansel, kita pergi saja!" ajak Sena lagi sambil menggandeng tangan Hansel.

"Eh, tapi Sena ... sebenarnya ada apa ini?" tanya Hansel lagi sambil tetap mengikuti Sena.

Mereka pun melewati Xander begitu saja dan Xander hanya menyeringai sebelum ia pun mengekor di belakang Sena.

Hansel dan Sena pun akhirnya keluar dari depot dan Sena mengajak Hansel untuk pulang saja, tapi Hansel malah melepaskan gandengan tangan Sena.

"Tunggu, Sena!"

"Tunggu apa lagi, Hansel? Ayo kita pulang saja!"

"Tidak! Aku harus tahu apa maunya pria tadi," seru Hansel yang kukuh ingin kembali ke dalam depot, namun Xander yang dicari olehnya mendadak sudah keluar dan berdiri di hadapan Hansel sekarang.

"Kau mencariku, Hansel?" tanya Xander dengan santai.

Hansel pun mengembuskan napas kesalnya menatap Xander. Tentu saja kalau dilihat secara fisik, Hansel tidak ada apa-apanya.

Pria yang berdiri di hadapannya ini sangat tampan dan gagah, bahkan jas yang dipakainya menunjukkan betapa hebat pria itu. Sedangkan Hansel hanya memakai kemeja biasa yang sama sekali tidak sebanding, tapi tetap saja Hansel harus mempertahankan kekasihnya.

"Hansel, sudah, kita pulang saja!" Sena masih berusaha memeluk dan menarik lengan Hansel, namun Hansel menepisnya sambil tetap menatap Xander.

"Ya, aku mencarimu! Siapa kau dan apa yang kau mau? Mengapa kau mengaku-ngaku sebagai selingkuhan Sena?" tantang Hansel tiba-tiba.

Xander pun memicingkan mata menatap Hansel yang ternyata cukup punya keberanian juga menantangnya seperti ini.

"Aku mengaku-ngaku? Aku ini memang selingkuhannya Sena. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Sena sendiri."

"Tidak! Itu tidak benar! Aku tidak pernah selingkuh," sembur Sena begitu saja begitu mendengar ucapan Xander. "Dan kau pergilah dari hadapanku, Pria Gila!" Sena menunjuk ke arah Xander dengan penuh emosi.

Hansel sendiri yang mendengarnya pun memutuskan untuk percaya pada Sena. "Kau dengar kan? Sena bilang dia tidak pernah selingkuh dan aku percaya padanya. Sena tidak mungkin selingkuh dariku. Kami sudah bersama selama dua tahun dan dia tidak mungkin mengkhianatiku," tegas Hansel dengan gagah berani.

Namun, ekspresi wajah Xander nampak biasa saja, malahan ia menatap Sena sedikit lebih lama sebelum ia kembali menyeringai.

"Kau begitu percaya ya pada Sena?" tanya Xander lagi dengan tatapan bengisnya.

Jantung Sena pun mulai berdebar kencang saat ini. Jangan sampai pria itu mengatakan apa pun pada Hansel. Sena tidak akan sudi kalau pria itu sampai membongkar semuanya.

Dengan liar, Sena pun akhirnya menghambur ke arah Xander dan mendorongnya keras-keras sampai Xander yang tidak siap pun sedikit terhuyung. Sungguh, ini mengejutkan sekali saat Sena berani menyerangnya seperti ini.

"Apa yang kau lakukan, Sena?" bentak Xander yang begitu terkejut.

"Pergi kau dari sini! Aku tidak mengenalmu dan aku juga tidak punya hubungan apa pun denganmu, jadi jangan mengusik hubunganku dengan Hansel!" balas Sena sambil menatap Xander dengan kobaran api di matanya.

Xander kembali terkejut. Tentu saja ia sangat terkejut karena belum pernah ada yang berani melawannya seperti ini. Tapi Xander bukan orang yang bisa dilawan karena sekali orang itu melawan, maka Xander tidak akan memberinya ampun.

Xander pun tertawa kesal dan malah melirik Hansel. "Kau lihat sendiri kan, Hansel? Betapa Sena takut kebohongannya terbongkar?"

"Sekarang apa yang kau katakan lagi, Brengsek?" pekik Sena lagi sambil melotot marah.

Namun, Xander mengabaikan Sena dan melanjutkan ucapannya. "Sena takut kau mengetahui kalau aku adalah selingkuhannya, bahkan kami juga sudah tidur bersama dan aku merasa buruk untukmu, Hansel, karena aku sudah mengambil keperawanan kekasihmu," seloroh Xander dengan entengnya.

Seketika Sena langsung menahan napas mendengarnya, tubuhnya gemetar dan merinding sekaligus dan ia pun tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Sedangkan Hansel sendiri langsung mematung mendengarnya.

Untuk sesaat, Hansel hanya tetap mematung sebelum ia mendapatkan kesadarannya kembali dan ia pun menoleh menatap Sena.

"Apa? Kau tidur dengannya, Sena? Dan apa? Dia mengambil keperawanan apa? Kau ... apa itu benar, Sena?"

Sena sudah menggeleng dengan air mata yang sudah berucucuran. "Jangan dengarkan dia, Hansel! Jangan dengarkan dia!" lirih Sena.

Hansel yang masih syok pun terlihat makin syok melihat ekspresi Sena.

"Mengapa? Mengapa kau menangis, Sena? Kalau itu tidak benar, bukankah seharusnya kau tinggal membantahnya saja? Tapi mengapa kau malah menangis dan tidak membantahnya, Sena? Mengapa?"

Sena hanya terus menggeleng. "Kumohon percayalah padaku, Hansel! Ini tidak seperti yang kau pikir."

Sena berusaha mendekati Hansel dan menyentuh lengannya, namun Hansel mengangkat kedua tangannya menghindari Sena.

"Jangan, Sena! Jangan!" Hansel pun perlahan melangkah mundur. "Aku ... aku tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang, tapi ... biarkan aku sendiri dulu," seru Hansel yang perlahan mundur menjauhi Sena.

"Hansel ... tidak, Hansel!" seru Sena yang terus melangkah mendekat.

"Tidak! Kau ... kau bisa pulang sendiri kan, Sena? Aku ... aku tidak akan mengantarmu."

"Hansel, jangan tinggalkan aku! Aku mau ikut denganmu, Hansel!" Sena masih mengikuti Hansel sampai ke sepeda motornya, namun Hansel tidak mau Sena ikut dengannya.

"Biarkan aku pulang sendiri, Sena! Biarkan aku pulang sendiri dan terima kasih atas hadiah ulang tahunnya," seru Hansel dengan sakit hati yang terlihat jelas sebelum ia langsung melajukan motornya pergi meninggalkan Sena.

Dan Sena pun hanya bisa berteriak lirih dengan air mata yang kembali bercucuran. "Hansel, jangan tinggalkan aku, Hansel!"

Xander pun lagi-lagi menyeringai puas melihat betapa frustasinya ekspresi Sena saat ini.

"Jadi dia mendapatkan hadiah yang sangat pahit di hari ulang tahunnya ya? Kasihan sekali!" seru Xander tanpa perasaan.

Sena yang mendengar suara itu pun langsung menoleh dan menatap Xander dengan tajam. Sena pun kembali menyerang Xander dan mendorongnya keras sampai Xander kembali terkejut.

"Sial, apa yang kau lakukan?" pekik Xander tidak terima.

"Puas kau, Pria Brengsek, hah? Puas kau? Dasar brengsek! Dasar tidak punya hati!"

Mendadak Sena terus memukuli dada dan bahu Xander, apa pun yang bisa Sena raih akan ia pukuli dan Xander pun akhirnya murka.

Dengan cepat, Xander menangkap kedua tangan Sena dan menggenggamnya sekaligus sambil menatap wanita itu lekat-lekat.

"Jangan kelewatan, Sena!" geram Xander dengan nada yang mengintimidasi.

"Memangnya kenapa kalau aku kelewatan, hah? Apa lagi yang mau kau lakukan padaku? Kau sudah mengambil semua yang aku punya, kehormatanku, pekerjaanku, kekasihku, lalu apa? Sekalian saja kau membunuhku agar aku tidak perlu merasakan kehilangan lagi! Dasar pria brengsek!" teriak Sena begitu kesal.

"Mengapa kau berpikir aku mau membunuhmu, Sena? Aku tidak mau kau mati karena kau harus membawa kakakmu dulu kepadaku."

"Aku sudah bilang aku tidak tahu di mana dia berada! Kalau kau saja bisa terus menemukan aku dan melakukan semua ini padaku, mengapa kau tidak menyuruh anak buahmu mencarinya sampai ke ujung dunia, hah? Mengapa kau harus mengganggu hidupku? Aku sungguh tidak ada hubungannya dengan Giana!"

Xander terdiam sejenak dan terlihat berpikir keras sebelum ia menjawabnya.

"Benar juga, aku bisa meminta anak buahku mencarinya ke ujung dunia, Sena. Tapi setelah kupikirkan lagi, kalau aku bisa mendapatkan keduanya, mengapa aku harus memilih salah satunya, hah? Salahkan saja takdir yang membuatmu menjadi adiknya Giana!"

**

Dinodai CEO Kejam

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya