Bab 3

Sena menatap kosong ke salah satu sudut kamarnya malam itu. Rasanya hampa sekali, semuanya mendadak hilang dalam semalam. Kehormatannya dan juga rumahnya.

Sena pun tertawa sambil menangis dengan sangat frustasi di sana. Sena jijik pada dirinya. Bahkan, setelah Sena mandi dan menggosok tubuhnya sampai kulitnya memerah dan perih, ternyata rasa jijiknya belum juga mau pergi sampai Sena mendadak begitu membenci dirinya sendiri.

"Mengapa aku harus mengalami semua ini? Mengapa aku harus memakai gaun itu tadi? Aku bersumpah aku tidak akan melakukannya lagi, bisakah aku minta waktu diputar kembali, Tuhan? Aku mohon satu kali saja!"

"Aku janji aku tidak akan memakai barang milik orang lain tanpa ijin lagi! Aku janji," lirih Sena sambil menengadah seolah berbicara pada Tuhan.

"Mengapa juga Giana harus begitu tega padaku? Di mana aku harus tinggal kalau dia benar-benar menjual rumah ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Dengan air mata yang terus mengalir, Sena pun berpikir keras dengan otaknya yang sudah penuh dan buram. Dalam kekalutannya, Sena sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja dan menyusul kedua orang tuanya ke surga.

"Kalau aku mati, aku tidak perlu lagi menghadapi hari esok. Ya, aku tidak harus malu karena sudah tidak suci lagi dan aku juga tidak harus menjadi gelandangan karena tidak punya rumah. Aku tidak akan disuruh bertanggung jawab lagi atas semua yang tidak pernah aku lakukan."

Air mata Sena terus bercucuran walaupun ia tidak melakukan apa-apa selain diam saat ini. Tentu saja ia serius berharap mati saja, tapi Sena juga punya ketakutan dan kesadaran kalau bunuh diri itu adalah hal yang salah dan tidak boleh dilakukan.

Sena makin stres karena seolah tidak ada jalan keluar dari masalah ini selain menghadapinya.

Sena pun masih berkutat dengan pikiran dan kesedihannya sendiri saat ponselnya berbunyi dan Sena pun meraih ponselnya di dalam tas yang sejak tadi ia abaikan itu.

Air mata Sena pun makin deras saat melihat nama Hansel di sana, kekasihnya yang sangat ia cintai. Padahal mereka sudah berjanji untuk bertemu malam ini dan merayakan ulang tahun Hansel bersama, tapi Sena malah tidak bisa datang.

"Halo, Hansel?" Sena berusaha membuat suaranya terdengar baik-baik saja begitu ia mengangkat teleponnya.

"Sena, Sayang, akhirnya kau mengangkat teleponku juga. Aku meneleponmu sejak tadi. Apa yang kau lakukan? Mengapa kau tidak mengangkat teleponku dan kau juga tidak datang ke ulang tahunku? Padahal aku mau mengenalkanmu pada teman-temanku."

"Ah, maaf, Hansel. Aku tadi mendadak tidak enak badan, kepalaku pusing sampai aku hampir pingsan jadi aku tidak melihat ponselku," dusta Sena dengan susah payah.

"Eh, lalu sekarang kau sudah tidak apa?"

"Tidak apa. Aku ... baru bangun dari tidurku dan sekarang aku sudah lebih baik."

"Ah, syukurlah. Kalau begitu istirahatlah lagi, besok aku akan menemuimu."

"Hmm, terima kasih dan ... selamat ulang tahun, Hansel. Aku berharap kau selalu sehat dan bahagia," ucap Sena sambil menahan tangisannya.

"Terima kasih, Sena. Besok pulang kerja, aku akan menjemputmu."

Sena mengangguk. "Sampai besok, Hansel."

Mereka berpamitan dan setelah menutup teleponnya, Sena pun kembali menangis dengan begitu sedih sampai tanpa sadar, ia pun tertidur dalam kesedihannya.

Entah berapa lama Sena tertidur malam itu, tapi saat Sena membuka matanya, Sena merasakan tubuhnya sakit semua.

Sena pun masih meringis dan mencoba bergerak sampai tanpa sengaja ia melihat jamnya yang sudah menunjukkan jam sembilan pagi dan ia pun membelalak.

"Astaga, sudah jam sembilan pagi, aku harus sampai ke mall jam setengah sepuluh, aku tidak boleh terlambat lagi kali ini."

Memikirkan akan terlambat kerja pun mendadak membuat Sena mempunyai kekuatan untuk bangkit dan bersiap pergi bekerja, seolah tidak ada yang terjadi kemarin.

*

Sebuah mobil mewah baru saja berhenti di sebuah gedung bertingkat pagi itu.

Alexander Sagala, CEO perusahaan itu pun keluar dari mobil dan melangkah memasuki gedung Maxima Construction, sebuah perusahaan konstruksi yang cukup besar di negara ini.

Para karyawan yang melihat sang pimpinan pun langsung menunduk sopan dan tidak sedikit karyawan wanita yang tertegun menatap wajah rupawan sang CEO.

Tidak dapat dipungkiri, Xander memiliki kesempurnaan yang membuat kaum hawa selalu menoleh dua kali setiap berpapasan dengannya.Wajah tampan dengan garis wajah yang tegas, tubuh tegap dan gagah, pintar, kaya raya, dan sepak terjang yang luar biasa di dunia bisnis membuat Xander menjadi bujangan yang sangat diminati oleh para wanita.

Bahkan, dengan tatapan sinis dan sikap arogannya tidak membuat pesona itu berkurang sedikitpun. Namun, Xander selalu mengabaikan tatapan itu.

Xander pun langsung melangkah menuju ke ruang kerjanya sendiri diikuti oleh asistennya yang setia yang bernama Henry. Pria dengan wajah datar sama seperti bosnya itu langsung melaporkan banyak hal begitu mereka masuk ke ruang kerja Xander.

"Proyek baru dengan Pak Himawan sudah mulai dikerjakan, karena itu, akan ada rapat jam sepuluh nanti untuk membahasnya, Pak. Lalu setelah makan siang, ada pertemuan dengan pimpinan Diamond Group, dan malam harinya ada makan malam dengan CEO Rayya Group."

"Hmm, aku tahu, Henry. Lalu bagaimana dengan wanita bernama Sena itu?"

"Dia pulang dengan selamat tadi malam, Pak, tapi ...."

Henry terdiam sejenak sampai Xander yang melihatnya pun memicingkan matanya.

"Tapi apa, Henry?"

"Pagi ini, anak buah kita memeriksa ke sana dan informasi dari tetangga mengatakan bahwa Sena dan Giana bertengkar tadi malam."

Kedua mata Xander pun membelalak lebar mendengarnya. "Dasar wanita brengsek! Berani sekali dia membohongiku dan mengaku tidak tahu di mana Giana," geram Xander sambil mengepalkan tangannya.

Ya, Xander adalah pria yang menangkap dan menodai Sena kemarin. Xander juga mengancam Sena tanpa perasaan dan Xander paling tidak suka dibohongi.

"Batalkan semua agendaku hari ini, Henry! Cari di mana Sena berada sekarang, dia harus merasakan akibatnya karena sudah membohongiku!" titah Xander penuh amarah.

Sementara itu, Sena yang sudah tiba di tempat kerjanya pun masih menunduk saat supervisornya memarahinya karena ia terlambat masuk pagi ini.

Sena bekerja sebagai pramuniaga di sebuah supermarket besar yang ada di dalam mall dan ia sudah terlambat tiga kali bulan ini.

"Maafkan aku, sungguh aku tidak enak badan karena itu aku bangun terlambat."

"Aku tidak mau menerima alasan, Sena. Kau sudah terlambat tiga kali dalam bulan ini dan kalau kau terlambat satu kali lagi, terpaksa aku tidak akan memakaimu lagi."

"Astaga, Pak, tolong jangan begini, aku janji ini yang terakhir, Pak. Akhh!" Sena meringis saat rasa perih di tubuhnya kembali terasa, tapi ia memaksakan diri bersikap baik-baik saja.

Namun, sang supervisor malah menggeram kesal. "Kau selalu bilang ini yang terakhir setiap kali kau terlambat, Sena. Jadi aku sudah tidak percaya lagi. Lebih baik sekarang kau bekerja sana dan untuk hari ini kau akan lembur!"

"I-iya, Pak! Maafkan aku!" Sena terus menunduk sampai sang supervisor itu pergi, barulah ia merintih lagi sambil melangkah tertatih ke koridor yang lebih sepi.

Untuk sesaat, Sena mengedarkan pandangan ke sekeliling dan rasa trauma itu masih ada, seolah semua orang menatapnya dengan aneh, walaupun rasanya tidak separah kemarin.

Sena pun berusaha menenangkan dirinya dan fokus bekerja saja.

"Hidup harus terus berjalan, Sena! Ayo, kau bisa! Tidak ada yang bisa menolongmu selain dirimu sendiri jadi ayo bekerja! Kau harus menunjukkan hasil kerja yang baik agar supervisor itu tidak rela memecatmu. Tidak! Yang benar adalah jangan sampai terlambat lagi."

Sambil mengembuskan napas paniangnya, Sena pun memaksakan diri bergerak seperti biasa. Sena mulai merapikan barang-barang di rak sambil mencatat di bukunya barang apa yang stoknya menipis dan Sena pun bekerja dengan sangat serius sampai siang menjelang.

Bahkan saking seriusnya, Sena sampai tidak sadar kalau ada orang yang sudah mengamatinya sejak tadi. Sena pun masih tetap serius memperhatikan barangnya sambil melangkah mundur.

Namun, langkahnya mendadak terhenti saat tanpa sengaja ia menabrak tubuh keras seseorang di belakangnya.

Buk!

"Astaga, maafkan aku, aku tidak sengaja!"

Sena yang berbalik pun langsung menunduk meminta maaf tanpa ia tahu siapa yang ditabraknya.

Hingga saat Sena mengangkat kepalanya dan tatapannya bertemu dengan tatapan seorang pria yang ditabraknya, kedua mata Sena pun membelalak.

Jantung Sena seketika ikut memacu kencang mendengar suara berat pria itu menyapanya.

"Kita bertemu lagi, Sena Monela."

**

Bab 4

Xander menyeringai menatap wajah cantik Sena yang nampak lebih fresh pagi itu.

Walaupun masih ada bekas sembab di sana yang menandakan wanita itu baru saja menangis semalaman, tapi hal itu tidak mengurangi kecantikan Sena sama sekali. Bahkan, Xander sampai memicingkan mata menatap sekali lagi wajah yang tidak terlalu ia perhatikan kemarin malam itu.

Dengan make up seadanya dan seragam pramuniaga serta rambut yang digelung rapi membuat Sena terlihat jauh lebih cantik daripada kemarin saat Sena berdandan memakai gaun milik Giana.

Namun, wanita itu tetap saja sudah menipunya dan Xander tidak bisa menerimanya sama sekali.

Sena sendiri sudah membelalak lebar dengan jantung yang berdebar kencang menatap pria yang sama sekali tidak ingin ditemuinya lagi itu.

"Apa ... apa yang kau lakukan di sini?" seru Sena gemetar sambil mencengkeram erat-erat bukunya dan melangkah mundur.

"Mencarimu, Sena. Urusan kita belum selesai," jawab Xander dengan nada yang begitu mengintimidasi.

"Aku tidak punya urusan denganmu. Pergi! Jangan ganggu aku lagi!" sahut Sena dengan lantang walaupun napasnya mulai tersengal.

"Kau jelas-jelas punya urusan denganku, Sena. Dan kau sudah berbohong padaku, aku tidak suka dibohongi."

Sena menggeleng tidak mengerti. "Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak membohongimu dan aku tidak punya urusan apa pun denganmu."

"Ck, kau berani bilang kau tidak berbohong, hah? Asal kau tahu kalau aku sama sekali bukan pria yang sabar, Sena. Kau bilang padaku kalau kau tidak tahu di mana Giana, tapi ternyata kau bertemu dengannya tadi malam, benar kan? Apa kau mau mengelak lagi, Sena?"

Kedua mata Sena kembali membelalak mendengarnya.

"Itu ... itu ...."

"Jangan berani menyangkalnya, Sena! Dan jangan berani melindunginya! Bawa dia kepadaku atau kau akan menyesal, Sena!"

Sena pun kembali menggeleng dengan tubuh yang makin gemetar.

"Tidak! Kemarin aku tidak tahu dia pulang, tapi secepat itu dia pergi lagi dan aku tidak tahu lagi di mana dia berada. Bahkan, dia juga hanya datang untuk menambah kesedihanku, jadi berhenti mencariku. Pergi sana! Pergi!"

Xander yang mendengar teriakan Sena pun memicingkan mata sambil melirik ke sekelilingnya dan beberapa orang terlihat mulai menatap penasaran pada mereka.

"Baiklah, Sena. Kesabaranku sudah habis dan jangan pikir aku akan diam saja setelah kau membohongiku."

Perlahan Xander melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka sampai Sena menegang di sana.

"Tunggu saja kejutan dariku, Sena! Kau harus tahu dengan siapa kau sedang berhadapan sekarang," bisik Xander di depan wajah Sena yang lagi-lagi membuat Sena menahan napasnya.

Sebuah seringaian kembali terbit di wajah bengis pria itu sebelum akhirnya Xander pergi meninggalkan Sena.

Dan kaki Sena pun langsung lemas setelahnya. Bahkan, Sena harus berpegangan pada rak barang agar ia tidak jatuh.

Jantungnya masih berdebar tidak karuan dan tubuhnya juga gemetar hebat, tapi ia bisa bernapas lebih lega sekarang, seolah hawa iblis baru saja pergi darinya.

"Tenang, Sena! Tidak apa! Dia hanya asal bicara. Ya, kau harus tenang."

Cukup lama Sena menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya ia masuk ke ruangan khusus karyawan dan meneguk air banyak-banyak di sana.

"Hei, Sena, sudah jam segini, ayo makan dulu!" ajak seorang teman Sena yang memberikan nasi kotak yang biasa mereka beli bersama untuk para karyawan.

"Ah, iya, terima kasih." Sena berusaha tetap tenang dan memakan makan siangnya walaupun ia merasa begitu sulit menelan makanannya.

"Kau tidak apa, Sena? Sejak tadi kau nampak murung. Jangan dengarkan ucapan supervisor, dia memang suka mengomel kan? Sudah, makan saja dan bekerja dengan baik ya."

Sena kembali mengangguk dan mencoba tersenyum pada wanita itu.

"Iya, terima kasih," ucap Sena lagi sebelum ia menghabiskan makan siangnya.

Namun, setelah makan siang berlalu, hatinya makin gelisah, bukan karena ucapan supervisor, tapi karena ancaman pria bengis itu.

Sampai tidak lama kemudian, kegelisahannya menjadi nyata saat ia dipanggil ke ruangan supervisor.

"Mulai besok kau tidak perlu lagi bekerja di sini, Sena. Ini gajimu dan ada sedikit bonus di dalamnya."

Supervisor meletakkan sebuah amplop di meja dan mendorongnya ke arah Sena.

Tatapan Sena pun langsung goyah. "Apa? Maksudnya aku ... dipecat? Tapi mengapa? Aku janji aku tidak akan terlambat lagi, Pak. Aku janji!"

"Ini sudah keputusan pimpinan, Sena. Aku juga tidak tahu menahu tentang keputusan itu."

"Tapi pasti ada yang salah di sini. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Pak. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak."

Sena mulai menitikkan air matanya lagi karena ini begitu menyakitkan. Ia dipecat tanpa sebab yang jelas.

"Semua orang juga membutuhkan pekerjaan, Sena. Termasuk aku. Aku hanya menjalankan perintah pimpinan dan kalau aku tidak menurutinya, aku yang akan dipecat. Kau juga harus mengerti aku, Sena."

"Tapi Anda kan supervisor di sini, tidak bisakah kau membantu membelaku? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun, Pak."

"Apa yang mau dibela? Kau juga sering terlambat, bagaimana caraku membelamu, hah?"

"Tapi Anda tidak bisa melakukan ini padaku, Pak. Anda tidak bisa." Sena mulai memohon sambil menangis, tapi supervisor itu malah makin geram dan tidak mau lagi bicara dengan Sena.

Dan Sena pun ditinggalkan menangis sendiri di ruang supervisor.

Sungguh, Sena tidak tahu apa nasibnya yang begitu buruk atau ini yang dimaksud pria bengis itu dengan tunggu kejutan darinya? Tapi mungkinkah pria itu bisa membuat Sena dipecat?

Entahlah, tapi pada kenyataannya Sena sudah dipecat dan ia begitu sulit menerimanya.

Kehilangan pekerjaan utamanya sama saja dengan membuatnya kehilangan sumber penghasilan.

Bagaimana ia bisa hidup nanti? Bagaimana ia bisa membayar hutang Giana saat ditagih nanti?

Sena terus menitikkan air matanya saat ia berpamitan dengan teman-temannya dan ia pun berakhir dengan duduk sendirian di food court mall.

Tidak lama kemudian, ponsel Sena berbunyi dan nama Hansel tertera di sana. Sena pun segera menghapus air matanya dan menenangkan napasnya sebelum ia mengangkat teleponnya.

"Halo, Hansel?"

"Sena, bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?"

"Tentu saja sudah. Aku baik-baik saja."

"Ah, syukurlah. Oh iya, aku akan agak terlambat menjemputmu nanti, Sayang. Kau tidak apa kan?"

"Tidak apa, Hansel. Santai saja."

"Ah, baiklah, Sena. Bekerja yang rajin ya. Nanti kita bertemu."

"Iya, tapi Hansel ...." Sena terdiam sejenak dan mempertimbangkan untuk memberitahukan tentang ia yang dipecat atau tidak, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengatakannya.

"Iya, Sena? Ada apa?"

"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa."

"Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa!"

Sena hanya mengangguk lalu menutup teleponnya dan kembali merenung dengan air mata yang kembali menetes.

Tanpa Sena sadari, Xander sendiri sudah duduk di sebuah restoran yang tidak jauh dari food court. Dan dari posisinya, Xander pun bisa mengamati bagaimana Sena yang duduk sendirian di sana sejak tadi.

Xander pun menyeringai puas dan langsung meraih ponselnya untuk menelepon Sena yang nomornya sudah ia dapatkan dari Henry.

Sena sendiri yang baru saja menutup teleponnya pun langsung mengangkat teleponnya lagi tanpa melihat nama peneleponnya karena ia berpikir bahwa Hansel yang meneleponnya lagi.

"Halo, Hansel," sapa Sena begitu ia mengangkat teleponnya.

"Hansel? Aku bukan Hansel, Sena."

Sena langsung membelalak mendengar suara itu dan ia langsung memeriksa nomor di ponselnya yang ternyata nomor tidak dikenal.

"Kau! Mau apa kau meneleponku dan dari mana kau bisa tahu nomor ponselku?"

"Itu tidak penting dari mana aku tahu nomor ponselmu, Sena. Tapi apa kau menyukai kejutan dariku?"

"Apa? Kejutan?" Jantung Sena berdebar begitu kencang memikirkan sepertinya benar pria itu adalah dalang dari pemecatannya.

"Kau ... jangan bilang kau yang membuat aku dipecat," lirih Sena.

Xander pun hanya menyeringai. "Menurutmu, Sena? Tidak ada yang tidak bisa kulakukan, Sena."

Dan hati Sena pun langsung mencelos. Seketika ia tidak bisa menahan emosinya lagi dan bangkit berdiri dari kursinya.

"Brengsek kau! Brengsek! Sebenarnya apa yang kau mau, hah? Kalau kau memang ada masalah dengan Giana, mengapa kau harus melakukan ini padaku? Aku tidak ada hubungannya dengan Giana, bisakah kau tidak mengganggu hidupku lagi, hah?" pekik Sena frustasi.

Bahkan, Sena tidak peduli kalau ia menjadi pusat perhatian saat ini. Namun, Xander yang melihatnya dari kejauhan pun begitu menikmati ekspresi putus asa dari wanita itu.

"Sayangnya tidak bisa, Sena. Ini peringatan pertamaku dan aku tidak akan berhenti sebelum kau membawa Giana padaku!"

**

Bab 5

Sena masih menggeram begitu kesal dan frustasi setelah menutup telepon dari Xander. Sena ingin berteriak, mengumpat, dan menangis lagi, tapi mendadak ia teringat kalau Hansel akan menjemputnya dan ia harus terlihat bahagia.

Cukup lama Sena menenangkan dirinya sebelum akhirnya ia memutuskan ke toilet untuk merapikan penampilannya agar lebih segar.

Sena yang sudah mengganti seragam pramuniaganya dengan baju santai itu pun melepas gelungan rambutnya dan rambutnya langsung tergerai bergelombang dengan indah.

Tidak lupa Sena juga memoles lagi make up tipisnya agar wajahnya tidak terlihat sembab. Dan setelah puas dengan penampilannya, Sena pun pergi ke sebuah toko kue di dalam mall untuk membeli kue tart.

"Ini kuenya, Nona."

"Terima kasih."

Sena tersenyum menatap kue tart kecil yang baru saja ia beli untuk Hansel.

Sena pun membawa kue itu dan melangkah keluar dari toko, tapi ia nampak berhenti di sebuah kaca yang terletak di perbatasan antara toko itu dengan toko lain untuk merapikan penampilannya sekali lagi dan Sena pun tersenyum puas.

Seberapa buruk pun harinya, ia tidak mau mengacaukan perayaan ulang tahun malam ini. Sena ingin memberikan kuenya dan mengajak Hansel makan malam bersama lalu berkencan seperti biasanya.

Sena pun begitu antusias menunggu Hansel di depan mall. Bukan tepat di depan mall, tapi Sena harus melangkah keluar sampai ke trotoar agar Hansel bisa langsung melihatnya nanti.

Tidak lama kemudian, Hansel pun datang dengan sepeda motornya dan Sena pun memberikan senyum hangatnya untuk sang kekasih.

"Sena!" Hansel langsung membuka helm teropongnya dan tersenyum sambil mengarahkan sepeda motornya dan menghentikannya di depan Sena.

Sena sendiri langsung mengulum senyumnya begitu melihat kekasihnya itu.

"Apa kau sudah lama menunggu, Sena?"

"Tidak, aku baru saja keluar."

"Ah, baiklah, maaf aku terlambat ya, tapi mengapa wajahmu sedikit sembab?"

Hansel mengulurkan tangannya menangkup sebelah pipi Sena dan membelainya. Sena pun sempat memejamkan mata sekilas merasakan hangatnya tangan Hansel di wajahnya.

"Aku tidak apa. Mungkin karena kemarin aku sakit jadi wajahku tidak segar," jawab Sena lembut.

"Tapi sekarang kau sudah sembuh kan, Sena? Maaf kemarin aku tidak bisa ke rumahmu karena aku masih bersama teman-temanku."

"Hmm, aku sudah sembuh, Hansel. Dan santai saja. Aku yang tidak bisa datang, tapi jangan sampai acaramu dengan teman-temanmu ikut berantakan. Sudahlah, ayo kita pergi!" ajak Sena.

"Hmm, ayo, ini helm untukmu!"

Hansel mengangguk lalu memberikan helm untuk Sena dan Sena pun segera memakainya.

Namun, Sena sedikit kesulitan saat ia akan naik ke sepeda motor karena masih ada rasa perih yang ia rasakan di bagian bawah tubuhnya dan rasa itu sangat tidak nyaman.

"Eh, ada apa, Sena? Apa sandaran kakinya belum terbuka? Ini sudah. Naiklah!"

"Ah, iya, aku akan naik."

Sena pun berpegangan pada bahu Hansel dan ia naik ke atas motor sambil meringis. Ia pun sempat menyamankan posisi duduknya sebelum ia meminta Hansel untuk jalan saja.

"Baiklah, aku jalan sekarang ya."

"Hmm." Sena mengangguk dan langsung memeluk kekasihnya dari belakang sambil menyandarkan pipinya ke punggung pria itu.

Sena pun merasakan betapa nyaman punggung kekasihnya yang entah sampai kapan bisa ia rasakan.

Apa nanti Hansel masih bisa menerimanya kalau tahu ia sudah tidak suci lagi? Padahal ia tidak pernah mau kalau Hansel menciumnya di bibir dan selama berpacaran, Hansel hanya pernah menciumnya di tangan dan pipinya.

Mendadak Sena melow sampai ia memeluk Hansel makin kencang saat motor mereka melaju kencang.

Tanpa Sena sadari, sebuah mobil masih mengikutinya sejak tadi. Henry dan Xander ada di dalam mobil itu dan Xander pun terus memicingkan matanya menatap kemesraan Sena dengan kekasihnya itu.

"Jadi pria itu yang bernama Hansel?"

"Benar. Namanya Hansel Prawira dan dia bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan manufaktur. Dia sudah menjalin hubungan dengan Sena selama dua tahun terakhir ini."

Xander tersenyum sinis mendengarnya. "Huh, jadi pria itu selalu membawa Sena ke mana pun dengan sepeda motornya itu?"

"Ck, dia benar-benar berbeda dengan kakaknya. Apa dia tidak bisa sedikit menggunakan otaknya? Untuk apa wajah cantik dan tubuh yang indah kalau tidak dimanfaatkan? Cukup sedikit bersolek saja, dia pasti bisa mendapatkan pria yang lebih baik daripada kekasihnya itu," imbuh Xander sambil mengembuskan napas panjangnya.

"Tapi baiklah! Daripada dia menjadi brengsek seperti kakaknya, lebih baik dia menjadi bodoh seperti sekarang," seru Xander lagi.

Xander pun terdiam sejenak dan terus menatap bagaimana Sena memeluk kekasihnya itu dengan begitu hangat, benar-benar sikap yang berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh wanita itu pada Xander kemarin dan hari ini. Dan tanpa sadar, Xander pun mendengus kesal.

Hansel dan Sena sendiri akhirnya tiba di sebuah depot langganan mereka, depot yang menjual bubur dan mie rebus.Depot ini menjadi tempat makan wajib bagi mereka kalau ada salah satu dari mereka yang berulang tahun.

"Aku rindu sekali mie rebus di sini. Ayo kita pesan!" seru Hansel antusias.

"Jangan lupa pesan yang pakai telur. Kau harus makan telur karena kau sedang berulang tahun," sahut Sena sama antusiasnya.

"Haha, tapi kemarin aku sudah makan telur, Sena."

"Tidak apa, makan telur lagi sangat sehat untukmu. Ayo pesan lagi!"

"Baiklah!" Hansel pun mengangguk dan langsung memesan beberapa menu murah meriah di depot itu, sedangkan Sena langsung saja membuka kue tartnya.

"Ta-raaa, aku membelikan kue tart untukmu!"

"Astaga, Sena! Kukira apa yang kau bawa sejak tadi. Mengapa kau begitu repot, Sayang?"

"Aku sama sekali tidak repot, ayo kita pinjam korek dulu dan menyalakan lilinnya!"

Dengan cepat mereka pun menyalakan lilinnya dan berdoa bersama sebelum akhirnya Hansel meniup lilinnya.

"Selamat ulang tahun, Hansel! Maaf, perayaannya terlambat satu hari."

Sena pun berdiri dari kursinya lalu menghampiri Hansel yang sedang duduk di hadapannya dan mendaratkan bibirnya ke pipi Hansel. Cup!

"Terima kasih, Sena!" Mereka pun berpelukan sejenak sambil memejamkan mata sebelum tiba-tiba suara derap langkah sepatu terdengar mendekati mereka.

Sontak mereka sama-sama membuka matanya dan sontak menoleh. Sena pun langsung membelalak menatap siapa yang sedang berdiri di sana.

"Rupanya sedang ada pesta di sini? Mengapa kau tidak mengundangku, Sena Sayang?" sapa Xander provokatif.

Sebenarnya bukan niat Xander mengganggu dua orang yang sedang bermesraan, tapi ia tidak tahan lagi duduk di mobil dan hanya menjadi penonton, karena itu, ia pun akhirnya keluar untuk membuat kejutan lagi untuk Sena.

Sena sendiri yang menatap Xander sudah diam seribu bahasa, sedangkan Hansel yang belum tahu apa-apa malah masih mengernyit.

"Eh, kau siapa? Apa kau mengenal kami? Kau tadi memanggil Sena apa? Apa kau mengenalnya, Sena?" tanya Hansel dengan polosnya sambil mendongak menatap Sena yang masih berdiri di sampingnya.

Xander yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum sinis sambil memasukkan kedua tangan ke kantong celananya dan menatap Sena, menunggu wanita itu menjawabnya.

Namun alih-alih menjawab, Sena malah tetap diam dan menatap Xander dengan tidak percaya. Apa pria itu hantu? Atau apa pun itu, mengapa pria itu ada di mana-mana?

Seketika Sena kembali sesak napas, tapi ia sama sekali tidak menjawab apa pun. Sampai akhirnya Xander pun menyeringai dan mengalihkan tatapannya ke arah Hansel.

"Karena Sena diam saja, maka biarkan aku yang memperkenalkan diriku. Namaku adalah Alexander Sagala. Dan aku adalah selingkuhan dari Sena kekasihmu itu!"

**

Dinodai CEO Kejam

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya