Bab 2
Sena tidak pernah benar-benar ingat bagaimana ia bisa tiba di rumahnya malam itu. Yang bisa Sena ingat hanyalah dirinya menangis sepanjang perjalanan dan ia mulai berhalusinasi seolah semua orang menatapnya jijik dan mencemooh dirinya yang kotor.
Sena pikir, malam kelamnya sudah berakhir begitu ia tiba di rumah, tapi ternyata ia salah. Sena malah disambut dengan kondisi rumahnya yang berbeda dengan saat ia tinggalkan tadi.
"Ya Tuhan, apa lagi ini? Mengapa lampu rumah menyala? Pintunya juga terbuka. Siapa di rumah? Apa ada pencuri?"
Sena begitu panik dan langsung saja berlari ke arah rumahnya walau langkahnya tertatih karena bagian sensitifnya masih terasa perih. Namun, ia tidak peduli dan segera masuk ke dalam rumah.
"Siapa di sana? Keluar dari rumahku!" pekik Sena dengan gagah berani sambil mengangkat tas selempangnya.
Sena tahu mungkin ia begitu bodoh kalau berpikir tas selempangnya bisa melumpuhkan pencuri, tapi sungguh ia tidak bisa berpikir lagi, ia hanya tahu ia harus menyelamatkan rumahnya, satu-satunya harta yang masih ia punya, peninggalan kedua orang tuanya.
Sena pun terus melangkah ke arah sumber suara di dalam kamarnya dan sambil mengumpulkan kekuatannya, Sena pun membuka pintu kamarnya, berniat menyerang pencurinya.
Namun, ketika melihat sosok yang ada di depannya, perasaan Sena langsung bergejolak tidak karuan. Marah dan benci bercampur menjadi satu.
"Giana! Akhirnya kau pulang juga, akhirnya kau pulang setelah kau menghancurkan segalanya! Kau masih ingat kau punya rumah, hah?
Perbedaan umur di antara mereka yang hanya dua tahun lebih membuat Sena tidak pernah memanggil Giana dengan sebutan kakak. Bahkan banyak yang mengira mereka kembar walaupun wajah mereka sebenarnya tidak begitu mirip.
Giana yang mendengar suara Sena itu pun menoleh dan baru saja akan menyahuti Sena, tapi ia malah menganga menatap penampilan Sena.
"Apa ini, Sena? Apa yang kau lakukan dengan memakai gaunku?" sembur Giana tajam. "Kau mau belajar menjadi pencuri, hah? Lepaskan gaunku dari tubuhmu! Lepas!" bentak Giana sambil menghambur ke arah Sena dan menarik gaun itu dari tubuh Sena.
"Akhh, apa yang kau lakukan, Giana? Aku hanya meminjamnya, aku akan mengembalikannya nanti!"
"Apa aku sudah mengijinkannya? Berani sekali kau menyentuh barangku, Sena! Asal kau tahu kalau gaun ini sangat mahal. Kau bekerja berbulan-bulan saja belum tentu bisa membeli gaun ini. Tapi sial! Apa itu? Gaunnya robek?" pekik Giana saat ia melihat ujung gaun yang sepanjang lutut itu nampak robek.
Seketika Sena pun menatap nanar ke ujung gaunnya yang pasti robek karena pria bengis itu memaksa menariknya tadi.
"Apa yang kau lakukan sampai gaunnya robek, Sena? Dan kau bahkan memakai sepatuku. Bau apa ini? Parfumku juga? Dasar pencuri! Berani sekali kau memakai semua barangku. Sekarang cepat lepaskan! Lepaskan gaunku, Sena!"
"Aku bisa melakukannya sendiri, Giana! Lepaskan tanganmu!" seru Sena sambil menahan tangan Giana yang terus menarik gaun itu sampai gaun itu sedikit melorot dan membuat kulit di atas dada Sena tersibak.
Giana pun sampai menganga sejenak melihat tanda merah di sana. "Tanda apa itu, Sena? Tanda apa di dadamu?"
Sena sendiri sontak menutupi tanda yang pasti dibuat oleh pria bengis itu saat menodainya tadi. Namun, Giana langsung tertawa kesal dan menatap jijik pada adiknya itu.
"Oh, ternyata kau mau belajar menjadi wanita murahan, hah? Apa kau baru saja menghabiskan malam bersama seorang pria, hah? Pasti pria itu yang membuat tanda di tubuhmu kan? Pantas saja aku bisa merasakan aroma parfum mahal seorang pria." Giana sedikit memajukan wajahnya dan ia memejamkan matanya sejenak merasakan aromanya.
"Dasar wanita sok suci! Kau terus menasihati aku setiap kali kita bertemu sampai aku muak mendengarnya, tapi ternyata kau tidak ada bedanya dengan aku. Murahan!" sembur Giana tanpa perasaan.
Hati Sena begitu tertusuk sekarang. Rasanya Sena ingin mengumpat dan berteriak di depan wajah Giana. Sena bisa tahan kalau hanya harus bekerja melunasi hutang, toh Sena sudah melakukannya begitu lama, tapi kalau harus kehilangan masa depannya seperti ini, bagaimana ia masih bisa menghormati kakaknya setelah semua ini?
Sena pun menatap kakaknya dengan tatapan kecewa yang tidak bisa dijelaskan lagi.
"Tahukah kau apa yang terjadi padaku karena kau, Giana? Aku kehilangan kehormatanku karena seorang pria yang mempunyai dendam padamu, apa kau tahu itu?"
Giana yang mendengarnya pun membelalak dan terdiam sesaat. "Apa? Apa maksudmu?"
"Aku dinodai, Giana. Dia bilang kau sudah meninggalkan adiknya dan dia mengira aku adalah kau!"
Giana pun membelalak makin lebar saat ini. Tentu saja ia sudah biasa tidur dengan banyak pria, jadi kehilangan kehormatan bukan hal yang luar biasa lagi bagi Giana. Tapi seseorang yang bisa melakukan hal itu, menangkap dan menodai Sena berarti orang itu pasti bukan orang yang baik dan Giana pun mulai merasa takut.
"Sial! Siapa adiknya saja aku tidak tahu. Tapi kalau dia salah menangkapmu berarti ada kemungkinan dia akan mencariku lagi kan? Aku tidak boleh tertangkap, aku tidak boleh tertangkap!"
Giana pun mulai panik dan kembali mencari sesuatu di dalam laci kamar Sena. Namun, Sena yang mendengar ucapan Giana malah makin sakit hati.
"Aku baru saja dinodai! Tubuhku bahkan masih sakit, tapi kau sama sekali tidak peduli?!" Sena mencoba menunjukkan betapa hancur dirinya di hadapan Giana.
Ia berharap, kakaknya itu mau sedikit berempati. Hanya saja, harapannya terlalu tinggi. Sebab, Giana justru memandang sang adik dengan rendah.
"Kehilangan kehormatan tidak membuatmu mati, Sena. Lain hal jika mereka yang menemukanku. Jadi, jangan manja! Terima saja nasibmu!" desis Giana sambil mulai melempar keluar semua isi laci milik Sena.
"Kau benar-benar tidak punya perasaan, Giana! Jangan bongkar lagi! Sebenarnya apa yang kau cari, Giana?"
Sena mencoba menghentikan Giana, tapi Giana mengempaskan tangan Sena. Terjadi saling menarik dan mendorong antara Sena dan Giana sampai akhirnya Giana mendorong Sena kasar sampai Sena jatuh terduduk di lantai.
"Akh!" Sena meringis dan menatap tak percaya pada kakaknya.
Dan tepat saat itu, akhirnya Giana pun menemukan apa yang ia cari yaitu sertifikat rumah. Giana mengangkat map sertifikat itu sambil tersenyum puas, sedangkan Sena langsung membelalak melihatnya.
"Apa yang mau kau lakukan dengan itu, Giana? Kembalikan padaku!"
Sena menahan rasa sakit di tubuhnya dan bangkit berdiri untuk merebut sertifikat itu dari Giana, tapi dengan cepat Giana mengamankan sertifikat rumah itu.
"Aku akan menjual rumah ini, Sena! Aku membutuhkan banyak sekali uang untuk investasi dan aku harus menjual rumah ini!"
"Jangan gila! Aku tinggal di mana kalau kau menjual rumah ini? Ini satu-satunya peninggalan Ayah dan Ibu, Giana!"
"Ayah dan Ibu sudah mati, mereka tidak akan peduli lagi pada rumah ini dan kau juga bisa mencari tempat tinggal lain, aku tidak peduli. Aku butuh uang, Sena, dan aku harus menjual rumah ini!" seru Giana lagi yang langsung mendorong Sena dan melarikan diri dari rumahnya.
"Berhenti, Giana! Kembalikan padaku! Giana!" Sena berteriak sambil mengejar Giana sampai keluar rumah, tapi terlambat.
Giana sudah masuk ke dalam mobil yang baru saja datang menjemputnya. Sena sempat memukul-mukul kaca mobil itu dan terus memanggil Giana, tapi mobil itu pun langsung tancap gas dan melaju kencang pergi dari sana sampai Sena pun langsung jatuh terjerembab di jalanan depan rumahnya.
"Akhh, Giana! Kembali, Giana! GIANAAA!!!" teriak Sena dengan tangisan yang begitu memilukan.
**
Bab 3
Sena menatap kosong ke salah satu sudut kamarnya malam itu. Rasanya hampa sekali, semuanya mendadak hilang dalam semalam. Kehormatannya dan juga rumahnya.
Sena pun tertawa sambil menangis dengan sangat frustasi di sana. Sena jijik pada dirinya. Bahkan, setelah Sena mandi dan menggosok tubuhnya sampai kulitnya memerah dan perih, ternyata rasa jijiknya belum juga mau pergi sampai Sena mendadak begitu membenci dirinya sendiri.
"Mengapa aku harus mengalami semua ini? Mengapa aku harus memakai gaun itu tadi? Aku bersumpah aku tidak akan melakukannya lagi, bisakah aku minta waktu diputar kembali, Tuhan? Aku mohon satu kali saja!"
"Aku janji aku tidak akan memakai barang milik orang lain tanpa ijin lagi! Aku janji," lirih Sena sambil menengadah seolah berbicara pada Tuhan.
"Mengapa juga Giana harus begitu tega padaku? Di mana aku harus tinggal kalau dia benar-benar menjual rumah ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Dengan air mata yang terus mengalir, Sena pun berpikir keras dengan otaknya yang sudah penuh dan buram. Dalam kekalutannya, Sena sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja dan menyusul kedua orang tuanya ke surga.
"Kalau aku mati, aku tidak perlu lagi menghadapi hari esok. Ya, aku tidak harus malu karena sudah tidak suci lagi dan aku juga tidak harus menjadi gelandangan karena tidak punya rumah. Aku tidak akan disuruh bertanggung jawab lagi atas semua yang tidak pernah aku lakukan."
Air mata Sena terus bercucuran walaupun ia tidak melakukan apa-apa selain diam saat ini. Tentu saja ia serius berharap mati saja, tapi Sena juga punya ketakutan dan kesadaran kalau bunuh diri itu adalah hal yang salah dan tidak boleh dilakukan.
Sena makin stres karena seolah tidak ada jalan keluar dari masalah ini selain menghadapinya.
Sena pun masih berkutat dengan pikiran dan kesedihannya sendiri saat ponselnya berbunyi dan Sena pun meraih ponselnya di dalam tas yang sejak tadi ia abaikan itu.
Air mata Sena pun makin deras saat melihat nama Hansel di sana, kekasihnya yang sangat ia cintai. Padahal mereka sudah berjanji untuk bertemu malam ini dan merayakan ulang tahun Hansel bersama, tapi Sena malah tidak bisa datang.
"Halo, Hansel?" Sena berusaha membuat suaranya terdengar baik-baik saja begitu ia mengangkat teleponnya.
"Sena, Sayang, akhirnya kau mengangkat teleponku juga. Aku meneleponmu sejak tadi. Apa yang kau lakukan? Mengapa kau tidak mengangkat teleponku dan kau juga tidak datang ke ulang tahunku? Padahal aku mau mengenalkanmu pada teman-temanku."
"Ah, maaf, Hansel. Aku tadi mendadak tidak enak badan, kepalaku pusing sampai aku hampir pingsan jadi aku tidak melihat ponselku," dusta Sena dengan susah payah.
"Eh, lalu sekarang kau sudah tidak apa?"
"Tidak apa. Aku ... baru bangun dari tidurku dan sekarang aku sudah lebih baik."
"Ah, syukurlah. Kalau begitu istirahatlah lagi, besok aku akan menemuimu."
"Hmm, terima kasih dan ... selamat ulang tahun, Hansel. Aku berharap kau selalu sehat dan bahagia," ucap Sena sambil menahan tangisannya.
"Terima kasih, Sena. Besok pulang kerja, aku akan menjemputmu."
Sena mengangguk. "Sampai besok, Hansel."
Mereka berpamitan dan setelah menutup teleponnya, Sena pun kembali menangis dengan begitu sedih sampai tanpa sadar, ia pun tertidur dalam kesedihannya.
Entah berapa lama Sena tertidur malam itu, tapi saat Sena membuka matanya, Sena merasakan tubuhnya sakit semua.
Sena pun masih meringis dan mencoba bergerak sampai tanpa sengaja ia melihat jamnya yang sudah menunjukkan jam sembilan pagi dan ia pun membelalak.
"Astaga, sudah jam sembilan pagi, aku harus sampai ke mall jam setengah sepuluh, aku tidak boleh terlambat lagi kali ini."
Memikirkan akan terlambat kerja pun mendadak membuat Sena mempunyai kekuatan untuk bangkit dan bersiap pergi bekerja, seolah tidak ada yang terjadi kemarin.
*
Sebuah mobil mewah baru saja berhenti di sebuah gedung bertingkat pagi itu.
Alexander Sagala, CEO perusahaan itu pun keluar dari mobil dan melangkah memasuki gedung Maxima Construction, sebuah perusahaan konstruksi yang cukup besar di negara ini.
Para karyawan yang melihat sang pimpinan pun langsung menunduk sopan dan tidak sedikit karyawan wanita yang tertegun menatap wajah rupawan sang CEO.
Tidak dapat dipungkiri, Xander memiliki kesempurnaan yang membuat kaum hawa selalu menoleh dua kali setiap berpapasan dengannya.Wajah tampan dengan garis wajah yang tegas, tubuh tegap dan gagah, pintar, kaya raya, dan sepak terjang yang luar biasa di dunia bisnis membuat Xander menjadi bujangan yang sangat diminati oleh para wanita.
Bahkan, dengan tatapan sinis dan sikap arogannya tidak membuat pesona itu berkurang sedikitpun. Namun, Xander selalu mengabaikan tatapan itu.
Xander pun langsung melangkah menuju ke ruang kerjanya sendiri diikuti oleh asistennya yang setia yang bernama Henry. Pria dengan wajah datar sama seperti bosnya itu langsung melaporkan banyak hal begitu mereka masuk ke ruang kerja Xander.
"Proyek baru dengan Pak Himawan sudah mulai dikerjakan, karena itu, akan ada rapat jam sepuluh nanti untuk membahasnya, Pak. Lalu setelah makan siang, ada pertemuan dengan pimpinan Diamond Group, dan malam harinya ada makan malam dengan CEO Rayya Group."
"Hmm, aku tahu, Henry. Lalu bagaimana dengan wanita bernama Sena itu?"
"Dia pulang dengan selamat tadi malam, Pak, tapi ...."
Henry terdiam sejenak sampai Xander yang melihatnya pun memicingkan matanya.
"Tapi apa, Henry?"
"Pagi ini, anak buah kita memeriksa ke sana dan informasi dari tetangga mengatakan bahwa Sena dan Giana bertengkar tadi malam."
Kedua mata Xander pun membelalak lebar mendengarnya. "Dasar wanita brengsek! Berani sekali dia membohongiku dan mengaku tidak tahu di mana Giana," geram Xander sambil mengepalkan tangannya.
Ya, Xander adalah pria yang menangkap dan menodai Sena kemarin. Xander juga mengancam Sena tanpa perasaan dan Xander paling tidak suka dibohongi.
"Batalkan semua agendaku hari ini, Henry! Cari di mana Sena berada sekarang, dia harus merasakan akibatnya karena sudah membohongiku!" titah Xander penuh amarah.
Sementara itu, Sena yang sudah tiba di tempat kerjanya pun masih menunduk saat supervisornya memarahinya karena ia terlambat masuk pagi ini.
Sena bekerja sebagai pramuniaga di sebuah supermarket besar yang ada di dalam mall dan ia sudah terlambat tiga kali bulan ini.
"Maafkan aku, sungguh aku tidak enak badan karena itu aku bangun terlambat."
"Aku tidak mau menerima alasan, Sena. Kau sudah terlambat tiga kali dalam bulan ini dan kalau kau terlambat satu kali lagi, terpaksa aku tidak akan memakaimu lagi."
"Astaga, Pak, tolong jangan begini, aku janji ini yang terakhir, Pak. Akhh!" Sena meringis saat rasa perih di tubuhnya kembali terasa, tapi ia memaksakan diri bersikap baik-baik saja.
Namun, sang supervisor malah menggeram kesal. "Kau selalu bilang ini yang terakhir setiap kali kau terlambat, Sena. Jadi aku sudah tidak percaya lagi. Lebih baik sekarang kau bekerja sana dan untuk hari ini kau akan lembur!"
"I-iya, Pak! Maafkan aku!" Sena terus menunduk sampai sang supervisor itu pergi, barulah ia merintih lagi sambil melangkah tertatih ke koridor yang lebih sepi.
Untuk sesaat, Sena mengedarkan pandangan ke sekeliling dan rasa trauma itu masih ada, seolah semua orang menatapnya dengan aneh, walaupun rasanya tidak separah kemarin.
Sena pun berusaha menenangkan dirinya dan fokus bekerja saja.
"Hidup harus terus berjalan, Sena! Ayo, kau bisa! Tidak ada yang bisa menolongmu selain dirimu sendiri jadi ayo bekerja! Kau harus menunjukkan hasil kerja yang baik agar supervisor itu tidak rela memecatmu. Tidak! Yang benar adalah jangan sampai terlambat lagi."
Sambil mengembuskan napas paniangnya, Sena pun memaksakan diri bergerak seperti biasa. Sena mulai merapikan barang-barang di rak sambil mencatat di bukunya barang apa yang stoknya menipis dan Sena pun bekerja dengan sangat serius sampai siang menjelang.
Bahkan saking seriusnya, Sena sampai tidak sadar kalau ada orang yang sudah mengamatinya sejak tadi. Sena pun masih tetap serius memperhatikan barangnya sambil melangkah mundur.
Namun, langkahnya mendadak terhenti saat tanpa sengaja ia menabrak tubuh keras seseorang di belakangnya.
Buk!
"Astaga, maafkan aku, aku tidak sengaja!"
Sena yang berbalik pun langsung menunduk meminta maaf tanpa ia tahu siapa yang ditabraknya.
Hingga saat Sena mengangkat kepalanya dan tatapannya bertemu dengan tatapan seorang pria yang ditabraknya, kedua mata Sena pun membelalak.
Jantung Sena seketika ikut memacu kencang mendengar suara berat pria itu menyapanya.
"Kita bertemu lagi, Sena Monela."
**
Bab 4
Xander menyeringai menatap wajah cantik Sena yang nampak lebih fresh pagi itu.
Walaupun masih ada bekas sembab di sana yang menandakan wanita itu baru saja menangis semalaman, tapi hal itu tidak mengurangi kecantikan Sena sama sekali. Bahkan, Xander sampai memicingkan mata menatap sekali lagi wajah yang tidak terlalu ia perhatikan kemarin malam itu.
Dengan make up seadanya dan seragam pramuniaga serta rambut yang digelung rapi membuat Sena terlihat jauh lebih cantik daripada kemarin saat Sena berdandan memakai gaun milik Giana.
Namun, wanita itu tetap saja sudah menipunya dan Xander tidak bisa menerimanya sama sekali.
Sena sendiri sudah membelalak lebar dengan jantung yang berdebar kencang menatap pria yang sama sekali tidak ingin ditemuinya lagi itu.
"Apa ... apa yang kau lakukan di sini?" seru Sena gemetar sambil mencengkeram erat-erat bukunya dan melangkah mundur.
"Mencarimu, Sena. Urusan kita belum selesai," jawab Xander dengan nada yang begitu mengintimidasi.
"Aku tidak punya urusan denganmu. Pergi! Jangan ganggu aku lagi!" sahut Sena dengan lantang walaupun napasnya mulai tersengal.
"Kau jelas-jelas punya urusan denganku, Sena. Dan kau sudah berbohong padaku, aku tidak suka dibohongi."
Sena menggeleng tidak mengerti. "Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak membohongimu dan aku tidak punya urusan apa pun denganmu."
"Ck, kau berani bilang kau tidak berbohong, hah? Asal kau tahu kalau aku sama sekali bukan pria yang sabar, Sena. Kau bilang padaku kalau kau tidak tahu di mana Giana, tapi ternyata kau bertemu dengannya tadi malam, benar kan? Apa kau mau mengelak lagi, Sena?"
Kedua mata Sena kembali membelalak mendengarnya.
"Itu ... itu ...."
"Jangan berani menyangkalnya, Sena! Dan jangan berani melindunginya! Bawa dia kepadaku atau kau akan menyesal, Sena!"
Sena pun kembali menggeleng dengan tubuh yang makin gemetar.
"Tidak! Kemarin aku tidak tahu dia pulang, tapi secepat itu dia pergi lagi dan aku tidak tahu lagi di mana dia berada. Bahkan, dia juga hanya datang untuk menambah kesedihanku, jadi berhenti mencariku. Pergi sana! Pergi!"
Xander yang mendengar teriakan Sena pun memicingkan mata sambil melirik ke sekelilingnya dan beberapa orang terlihat mulai menatap penasaran pada mereka.
"Baiklah, Sena. Kesabaranku sudah habis dan jangan pikir aku akan diam saja setelah kau membohongiku."
Perlahan Xander melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka sampai Sena menegang di sana.
"Tunggu saja kejutan dariku, Sena! Kau harus tahu dengan siapa kau sedang berhadapan sekarang," bisik Xander di depan wajah Sena yang lagi-lagi membuat Sena menahan napasnya.
Sebuah seringaian kembali terbit di wajah bengis pria itu sebelum akhirnya Xander pergi meninggalkan Sena.
Dan kaki Sena pun langsung lemas setelahnya. Bahkan, Sena harus berpegangan pada rak barang agar ia tidak jatuh.
Jantungnya masih berdebar tidak karuan dan tubuhnya juga gemetar hebat, tapi ia bisa bernapas lebih lega sekarang, seolah hawa iblis baru saja pergi darinya.
"Tenang, Sena! Tidak apa! Dia hanya asal bicara. Ya, kau harus tenang."
Cukup lama Sena menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya ia masuk ke ruangan khusus karyawan dan meneguk air banyak-banyak di sana.
"Hei, Sena, sudah jam segini, ayo makan dulu!" ajak seorang teman Sena yang memberikan nasi kotak yang biasa mereka beli bersama untuk para karyawan.
"Ah, iya, terima kasih." Sena berusaha tetap tenang dan memakan makan siangnya walaupun ia merasa begitu sulit menelan makanannya.
"Kau tidak apa, Sena? Sejak tadi kau nampak murung. Jangan dengarkan ucapan supervisor, dia memang suka mengomel kan? Sudah, makan saja dan bekerja dengan baik ya."
Sena kembali mengangguk dan mencoba tersenyum pada wanita itu.
"Iya, terima kasih," ucap Sena lagi sebelum ia menghabiskan makan siangnya.
Namun, setelah makan siang berlalu, hatinya makin gelisah, bukan karena ucapan supervisor, tapi karena ancaman pria bengis itu.
Sampai tidak lama kemudian, kegelisahannya menjadi nyata saat ia dipanggil ke ruangan supervisor.
"Mulai besok kau tidak perlu lagi bekerja di sini, Sena. Ini gajimu dan ada sedikit bonus di dalamnya."
Supervisor meletakkan sebuah amplop di meja dan mendorongnya ke arah Sena.
Tatapan Sena pun langsung goyah. "Apa? Maksudnya aku ... dipecat? Tapi mengapa? Aku janji aku tidak akan terlambat lagi, Pak. Aku janji!"
"Ini sudah keputusan pimpinan, Sena. Aku juga tidak tahu menahu tentang keputusan itu."
"Tapi pasti ada yang salah di sini. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Pak. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak."
Sena mulai menitikkan air matanya lagi karena ini begitu menyakitkan. Ia dipecat tanpa sebab yang jelas.
"Semua orang juga membutuhkan pekerjaan, Sena. Termasuk aku. Aku hanya menjalankan perintah pimpinan dan kalau aku tidak menurutinya, aku yang akan dipecat. Kau juga harus mengerti aku, Sena."
"Tapi Anda kan supervisor di sini, tidak bisakah kau membantu membelaku? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun, Pak."
"Apa yang mau dibela? Kau juga sering terlambat, bagaimana caraku membelamu, hah?"
"Tapi Anda tidak bisa melakukan ini padaku, Pak. Anda tidak bisa." Sena mulai memohon sambil menangis, tapi supervisor itu malah makin geram dan tidak mau lagi bicara dengan Sena.
Dan Sena pun ditinggalkan menangis sendiri di ruang supervisor.
Sungguh, Sena tidak tahu apa nasibnya yang begitu buruk atau ini yang dimaksud pria bengis itu dengan tunggu kejutan darinya? Tapi mungkinkah pria itu bisa membuat Sena dipecat?
Entahlah, tapi pada kenyataannya Sena sudah dipecat dan ia begitu sulit menerimanya.
Kehilangan pekerjaan utamanya sama saja dengan membuatnya kehilangan sumber penghasilan.
Bagaimana ia bisa hidup nanti? Bagaimana ia bisa membayar hutang Giana saat ditagih nanti?
Sena terus menitikkan air matanya saat ia berpamitan dengan teman-temannya dan ia pun berakhir dengan duduk sendirian di food court mall.
Tidak lama kemudian, ponsel Sena berbunyi dan nama Hansel tertera di sana. Sena pun segera menghapus air matanya dan menenangkan napasnya sebelum ia mengangkat teleponnya.
"Halo, Hansel?"
"Sena, bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?"
"Tentu saja sudah. Aku baik-baik saja."
"Ah, syukurlah. Oh iya, aku akan agak terlambat menjemputmu nanti, Sayang. Kau tidak apa kan?"
"Tidak apa, Hansel. Santai saja."
"Ah, baiklah, Sena. Bekerja yang rajin ya. Nanti kita bertemu."
"Iya, tapi Hansel ...." Sena terdiam sejenak dan mempertimbangkan untuk memberitahukan tentang ia yang dipecat atau tidak, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengatakannya.
"Iya, Sena? Ada apa?"
"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa."
"Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa!"
Sena hanya mengangguk lalu menutup teleponnya dan kembali merenung dengan air mata yang kembali menetes.
Tanpa Sena sadari, Xander sendiri sudah duduk di sebuah restoran yang tidak jauh dari food court. Dan dari posisinya, Xander pun bisa mengamati bagaimana Sena yang duduk sendirian di sana sejak tadi.
Xander pun menyeringai puas dan langsung meraih ponselnya untuk menelepon Sena yang nomornya sudah ia dapatkan dari Henry.
Sena sendiri yang baru saja menutup teleponnya pun langsung mengangkat teleponnya lagi tanpa melihat nama peneleponnya karena ia berpikir bahwa Hansel yang meneleponnya lagi.
"Halo, Hansel," sapa Sena begitu ia mengangkat teleponnya.
"Hansel? Aku bukan Hansel, Sena."
Sena langsung membelalak mendengar suara itu dan ia langsung memeriksa nomor di ponselnya yang ternyata nomor tidak dikenal.
"Kau! Mau apa kau meneleponku dan dari mana kau bisa tahu nomor ponselku?"
"Itu tidak penting dari mana aku tahu nomor ponselmu, Sena. Tapi apa kau menyukai kejutan dariku?"
"Apa? Kejutan?" Jantung Sena berdebar begitu kencang memikirkan sepertinya benar pria itu adalah dalang dari pemecatannya.
"Kau ... jangan bilang kau yang membuat aku dipecat," lirih Sena.
Xander pun hanya menyeringai. "Menurutmu, Sena? Tidak ada yang tidak bisa kulakukan, Sena."
Dan hati Sena pun langsung mencelos. Seketika ia tidak bisa menahan emosinya lagi dan bangkit berdiri dari kursinya.
"Brengsek kau! Brengsek! Sebenarnya apa yang kau mau, hah? Kalau kau memang ada masalah dengan Giana, mengapa kau harus melakukan ini padaku? Aku tidak ada hubungannya dengan Giana, bisakah kau tidak mengganggu hidupku lagi, hah?" pekik Sena frustasi.
Bahkan, Sena tidak peduli kalau ia menjadi pusat perhatian saat ini. Namun, Xander yang melihatnya dari kejauhan pun begitu menikmati ekspresi putus asa dari wanita itu.
"Sayangnya tidak bisa, Sena. Ini peringatan pertamaku dan aku tidak akan berhenti sebelum kau membawa Giana padaku!"
**