Bab 5
: Bermuka Dua
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”
Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.
Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.
Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tadi, di perjalanan setelah mereka foto pernikahan, Kylar bilang dia yang akan bicara. Dan Ryn mencoba percaya pada pria ini.
“Maksudnya bagaimana?!” suara Dini meninggi, langsung memecah ruangan. “Bukannya kamu mau menikah sama Andy? Jangan macam-macam kamu, Ryn!”
Ryn menarik napas pelan, menahan refleks untuk menjawab dengan nada yang sama.
“Aku sama Andy sudah putus, Ma,” ujar Ryn singkat.
“Putus?” Dini mencibir, seolah kata itu penghinaan. “Putus atau diputusin?”
Ryn menelan kalimat yang ingin keluar. Dia menatap lantai, menahan diri agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.
Yanto yang duduk menyandar di kursi, dengan wajah lelah dan mata yang terlalu sering merah karena begadang bukan untuk bekerja, ikut menyahut.
“Papa sebetulnya nggak masalah,” kata Yanto, terdengar seperti orang yang ingin terlihat bijaksana. “Tapi kamu yakin menikah sama pria ini?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut yang sama yang biasanya hanya membuka suara kalau butuh uang.
Dini menatap Kylar dari atas ke bawah, lalu mendengus. “Lihat saja penampilannya.”
Kylar saat ini hanya memakai kemeja putih, lengannya digulung rapi sisa sesi foto tadi. Jam tangannya jelas mahal, tapi Dini tampaknya tidak punya kemampuan membedakan barang mewah dan barang palsu.
Dan Ryn bisa menebak satu hal, ibu angkatnya belum tahu mereka datang menggunakan mobil mewah. Mobil itu diparkir di luar gang, jauh dari jangkauan mata yang hobi menilai.
“Memang tampan,” Dini melanjutkan, seakan itu satu-satunya hal yang layak disebut, “tapi dia mapan nggak? Kayak Andy yang sudah jadi manajer keuangan?”
Ryn diam.
Kalau Dini tahu kalau Kylar sebenarnya adalah anak dari pemilik grup tempat Andy bekerja, Ryn yakin dia akan bersorak.
“Tenang saja, Om, Tante,” ucap Kylar tenang. Dia tidak tersinggung, tapi justru tersenyum kecil. “Pekerjaan saya cukup untuk menghidupi Ryn sebagai istri saya dan anak-anak kami nantinya.”
Anak-anak?
Mereka baru menikah dua jam. Namun, Kylar sudah bicara seperti mereka pasangan mapan yang tinggal menunggu nama bayi. Hebat sekali!
Ryn hampir ingin bertepuk tangan. Sungguh. Kalau Kylar bukan CEO, pria ini cocok jadi aktor.
“Yakin cukup?” desak Dini, masih keras kepala.
“Saya yakin cukup,” jawab Kylar tanpa ragu.
Ya, memang cukup. Bahkan cukup untuk membuat keluarganya bergelimangan harta tujuh turunan Kylar bisa, kalau mau.
Dini mencibir lagi. “Omong doang gampang.”
Kylar mengangguk kecil, seolah dia menghargai kekhawatiran itu meski jelas tidak setuju.
“Saya mengerti Tante khawatir,” ucap Kylar lembut. “Wajar. Ryn perempuan baik, saya juga tidak ingin dia hidup susah.”
Ryn hampir tertawa. Bukan karena lucu. Karena kalimat itu seperti dongeng. Selama ini, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang peduli Ryn hidup susah atau tidak. Yang penting Ryn bekerja dan tidak menyusahkan.
Kylar melanjutkan, masih dengan nada yang sama hangatnya, “Kalau Tante dan Om mengizinkan, saya ingin membawa Ryn tinggal bersama saya. Biar saya yang mengurus dia mulai sekarang. Saya yang bertanggung jawab.”
Dini terlihat seperti ingin menolak karena kehilangan ‘aset’. Yanto terlihat seperti ingin setuju karena mungkin ada peluang keuntungan.
Dan Ryn?
Perempuan itu hanya bisa menunduk.
Kylar menoleh sedikit ke arah Ryn. “Kamu nggak perlu takut,” katanya, cukup halus untuk terdengar seperti kalimat suami baik-baik.
Tidak perlu takut, katanya?
Melihat Kylar bisa berubah secepat ini saja sudah cukup membuat Ryn merinding setengah mati.
__
“Kenapa kamu tepuk tangan?” tanya Kylar begitu mereka sudah duduk di dalam mobil.
Ryn berada di kursi penumpang. Naufal menyetir di depan dengan wajah datar seorang asisten yang sudah lelah melihat hal-hal mustahil terjadi dalam satu hari kerja. Di bagasi, koper Ryn yang isinya tidak seberapa itu ikut meluncur.
“Soalnya, akting Pak Kylar hebat. Bisa bikin keluarga saya yakin secepat itu,” jawab Ryn.
Kylar melirik sekilas. “Itu sarkas?”
Ryn mengatupkan senyum. “Pujian, Pak.”
Kylar hanya mendelik tipis. Tidak puas, tapi juga tidak memperpanjang. Mobil melaju dalam keheningan malam.
Bagaimana tidak hening? Ini sudah hampir tengah malam. Kota mulai sepi, dan Ryn duduk di samping orang yang pagi tadi masih dia panggil bos, sekarang jadi suami.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan yang lebih tenang dan lebih mahal.
Tepat saat keluar mobil, Ryn menelan ludah. Rumah Kylar berdiri gagah, minimalis, dan elegan. Lalu matanya turun ke lantai bawah, ke area parkir yang terbuka seperti garasi kaca.
Ryn terpaku. Di sana berjejer mobil sport yang mengilap, motor besar seperti Harley dengan bodi kokoh, dan satu-dua kendaraan yang Ryn bahkan tidak tahu namanya.
Ini rumah atau showroom?
“Bapak tinggal sendiri di sini?” tanya Ryn akhirnya, bukan karena kepo, tapi karena membayangkan tinggal dengan mertua kaya raya itu biasanya penuh drama.
Kylar meliriknya sekilas. “Kenapa? Kamu takut tinggal sama mertua?”
Ryn tersedak kecil. Kenapa Kylar bisa membaca pikirannya?
“Bukan begitu, Pak. Saya cuma memastikan,” kilah Ryn kemudian.
“Tidak usah banyak tanya.” Kylar berjalan duluan, dan Ryn mengikutinya.
Begitu mereka masuk, pintu dibukakan oleh seorang perempuan paruh baya dengan seragam rapi. Dia adalah kepala ART di rumah Kylar, sosok senior yang banyak mengetahui soal keadaan keluarga Ashwara.
“Selamat malam, Tuan,” sambut wanita itu sopan.
Kylar mengangguk singkat. “Malam, Bu Ratna.”
Ryn langsung menangkap sesuatu dari cara Kylar menyebut namanya. Bukan hangat, tapi terhormat. Seperti Kylar memang terbiasa menjaga jarak bahkan pada orang yang mengurus rumahnya.
Ratna lalu melirik ke belakang Kylar, tepat ke arah Ryn. “Ini siapa?” tanyanya hati-hati.
“Istri saya,” jawab Kylar.
Ratna membelalakkan mata, tapi hanya sepersekian detik. Lalu kembali profesional, seakan matanya tidak barusan mengalami kejutan.
“Selamat malam, Nyonya,” ucap Ratna cepat, membungkuk sopan.
Ryn refleks membalas, “Malam …”
Kylar menoleh ke Naufal yang baru masuk membawa koper Ryn.
“Kopernya bawa ke atas,” perintah Kylar. Dan dibalas anggukan dari Naufal.
Kylar melangkah naik ke lantai atas, dan Ryn mengikutinya. Mereka melewati koridor yang luas, wangi rumah yang bersih, sunyi yang rapi, serta beberapa lampu dinding yang redup tapi jelas tidak murah.
Kylar berhenti di depan sebuah pintu. Dia membukanya tanpa ragu. “Kamu tidur di sini.”
Ryn melangkah masuk lalu berhenti di ambang. Kamar itu besar, rapi, maskulin.
Sisi kiri ada meja dengan laptop. Di sudut ada rak buku dan jam tangan yang ditata. Di dalam walk-in closet, Ryn bahkan bisa melihat kemeja-kemeja putih dan jas yang tersusun rapi.
Ryn menoleh pelan ke Kylar. “Ini kamar saya? Tapi, kok banyak barang-barang Bapak?”
“Karena ini kamar saya juga,” sahut Kylar tak acuh.
Ryn membeku. Bibirnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Dia butuh dua detik penuh untuk memastikan dia tidak salah paham.
“Maksudnya kita satu kamar?” tanya Ryn memastikan.
Kylar mengangkat alis tipis. Lalu menjawab tenang, “Mana ada suami istri yang kamarnya terpisah?”
Bab 6
: Malam Pertama
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.
Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.
Hanya perempuan yang tidak normal yang tidak akan menelan ludah melihat pemandangan itu.
Kylar melirik ke arah Ryn yang masih duduk kaku di kursi dekat meja sudut kamar. “Terserah kamu. Mau di sofa, oke. Mau di karpet, oke.”
Serius? Tidak ada opsi kasur?
Pria ini bisa beli rumah seperti beli kopi, tapi tidak bisa menawarkan satu tempat tidur untuk istrinya, meski hanya istri kontrak?
Namun, meminta tidur di kasur sementara Kylar di sofa rasanya juga keterlaluan.
“Baik, Pak. Saya–”
“Ryn.” Kylar memotong, suaranya datar, tapi tidak kasar. Dia berjalan ke tepi ranjang, duduk santai. “Stop panggil ‘Pak’. Kamu kayak lagi presentasi, bukan tinggal bareng suami.”
Ryn menelan ludah. Lagi-lagi, dia dikomentari. “Terus saya harus panggil apa?”
“Nama aja.”
Ryn ragu sebentar, lalu mencoba. “Kylar?”
“Hm.” Kylar mengangguk tipis.
“Oke, P–” Ryn nyaris kebiasaan, lalu buru-buru membenahi, “Kylar.”
Kylar tidak menatapnya, tapi ada sesuatu seperti senyum kecil di sudut bibirnya. Tipis, nyaris tak terlihat, tapi cukup membuat Ryn makin kesal karena rasanya seperti dia baru saja kalah satu poin.
Ryn bangkit, berjalan menuju walk-in closet untuk membuka kopernya.
Lima belas menit kemudian, Ryn keluar dari kamar mandi. Rambutnya setengah kering, wajahnya bersih tanpa riasan.
Saat dia kembali ke kamar, Kylar sudah berbaring di ranjang. Satu tangan memegang tablet. Satu kaki sedikit tertekuk santai. Lampu tidur menyala hangat, membuat sudut wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya.
Ryn menelan ludah lagi, kali ini karena bingung harus bersikap seperti apa.
“Serius kamu pakai baju begitu?” tanya Kylar sambil melirik sekilas.
Ryn menunduk, menatap outfit-nya sendiri. Sweater tebal kebesaran yang menutupi setengah pahanya, dipasangkan dengan celana piyama panjang. Kombinasi yang membuatnya terlihat seperti orang yang siap tidur hibernasi sampai gajian berikutnya.
“Memang ada yang salah?” jawab Ryn.
“Maksudku, kamu kelihatan kayak mau ke kutub,” komentar Kylar sarkas.
“Dingin, Ky. Aku nggak biasa pakai AC di rumah,” kilah Ryn sambil mendengus kecil. Dia berjalan ke sofa. Di sana sudah ada bantal dan selimut baru yang ditata rapi. Dia duduk di ujung sofa, lalu menarik selimut sampai dada.
Kylar menatap Ryn sebentar. Seperti sedang menilai kenapa istri kontraknya tidur dengan mode darurat bencana.
“Kamu takut aku apa-apain?” tebak Kylar, suaranya datar, tapi menyebalkan.
Ryn langsung menoleh. “Bukan begitu.”
Kylar meletakkan tablet di atas dadanya sebentar, menatap Ryn lurus. “Tenang. Aku nggak ada niat nidurin kamu. Nggak usah kepedean.”
Kalimat itu seharusnya menenangkan, tapi entah kenapa justru membuat Ryn semakin yakin pada rumor tentang Kylar yang tidak menyukai perempuan itu mungkin tidak sepenuhnya salah.
Ryn memilih untuk mengabaikan, lalu berbaring. Dia memunggungi Kylar, menarik selimut sampai dagu, dan memejamkan mata.
Namun, kantuk tidak datang. Mungkin karena dia tidak terbiasa tidur di tempat baru.
Ryn menggeliat, mengubah posisi. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Dia tetap terjaga.
Di ranjang, Kylar sudah diam. Entah masih sibuk atau sudah tidur, Ryn tidak berani menoleh. Karena kalau dia menoleh, dia takut malah makin sulit tidur.
Tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh bahunya. Ryn tersentak. Napasnya tercekat. Tubuhnya kaku seketika. Dia menoleh cepat.
Kylar berdiri di samping sofa. Rambutnya sedikit berantakan, matanya redup. “Kamu nggak bisa tidur?” tanyanya pelan.
Ryn menelan ludah, masih tegang. “A-aku …”
Kylar menghela napas pendek, lalu mengusap wajahnya sebentar seperti orang yang kesal pada sesuatu.
“Tidur di kasur,” titah Kylar.
Ryn membeku. “Hah?”
Ini ajakan tidur satu ranjang atau bagaimana?
“Aku yang tidur di sofa,” lanjut Kylar datar.
Ryn langsung mengembuskan napas lega. “Nggak usah, Ky. Aku bisa–”
“Ryn,” potong Kylar. Nadanya tidak keras, tapi tidak memberi pilihan. “Kalau besok kamu telat masuk kerja, aku potong gaji kamu.”
Nah, ‘kan? Selalu itu ancamannya.
“Oke,” jawab Ryn pasrah. Dia bangkit pelan dan berjalan ke ranjang dengan langkah hati-hati, lalu merangkak masuk ke bawah selimut.
__
Ketika jam menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit ketika Ryn sudah siap dengan pakaian kerja. Blouse putih, blazer warna abu, dan celana bahan senada.
Ryn keluar dari walk-in closet dengan tas kerja di tangan, lalu berhenti karena melihat Kylar masih tidur di sofa.
Ryn mengernyit. Ini pemandangan aneh. Kylar biasanya seperti jam dinding: tepat waktu, tegang, tidak pernah terlihat lengah.
Namun, membangunkan juga bukan ide bagus. Mengingat hubungan mereka masih sangat canggung.
Akhirnya Ryn memilih untuk turun lebih dulu.
Di ruang makan sudah ada Ratna. Begitu melihat Ryn, Ratna menatap rambutnya yang masih sedikit lembap, lalu berdecak pelan.
“Aduh, Nyonya. Kalau habis keramas, dikeringkan dulu rambutnya. Nanti pusing,” ujar Ratna, ambigu tapi terdengar seperti perhatian.
Ryn berhenti sepersekian detik. Lalu membenarkan rambutnya, berusaha terlihat biasa saja. “Oh. Iya, Bu.”
“Duduk dulu, Nyonya. Sarapan,” sambung Ratna.
Ryn yang tadinya berniat langsung berangkat kerja, akhirnya duduk. Di depannya sudah ada segelas air dan semangkuk salad.
Sarapan orang kaya memang begini, ya?
Lima belas menit kemudian, Kylar turun dengan langkah tergesa. Rambutnya masih setengah basah, jas abunya masih belum sempurna, tapi wajahnya tetap punya aura CEO yang siap memotong anggaran.
Kylar baru menarik kursi ketika Ratna datang membawa piring tambahan. Dia meletakkannya di meja, lalu menatap Kylar dengan senyum yang terlalu paham.
“Wah. Tuan Kylar tumben baru turun jam segini,” komentar Ratna ringan.
Kylar hanya melirik sebentar. “Saya sedikit terlambat bangun.”
Ratna mengangguk paham, dia menaruh sendok, merapikan posisi piring, lalu menambahkan dengan nada yang terlalu santai untuk dampaknya, “Malam pertamanya sukses ya, Tuan? Pantas tidurnya nyenyak.”
Bab 7
: Bermain Peran
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.
“Uhuk–uhuk!”
Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!
“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke arah Ryn.
Ketika mata mereka bertemu, Ryn langsung paham.
Ini mode akting.
Dan mendengar panggilan itu, bukannya tersentuh, Ryn malah merasa geli sekaligus ngeri. Kylar terlalu mulus, terlalu meyakinkan. Dia tidak menyangka jika bosnya yang seperti Godzilla ini ternyata bisa berakting dengan sangat sempurna.
“Saya senang dengarnya.” Ratna menatap mereka bergantian, lalu pandangannya turun sebentar ke blazer abu yang dikenakan Ryn, lalu ke jas Kylar. “Pengantin baru memang begitu, ya? Baju saja harus serasi.”
Ryn menunduk refleks. Dan baru di situ dia sadar. Warna baju mereka senada!
Ratna tersenyum kecil, masih sopan, tapi jelas puas. “Saya jadi makin yakin, Tuan bukan cuma bawa ‘istri’ untuk formalitas.”
Kylar hanya mengangkat alis tipis, seperti tidak peduli.
Sedangkan Ryn, hanya bisa berdoa dalam hati, semoga couple outfit ini tidak jadi bahan ledekan di kantor.
Setelah sarapan yang hampir membuat Ryn tersedak salad, Kylar tetap memaksa Ryn berangkat ke kantor menggunakan sopir keluarga.
Bukan karena perhatian. Lebih karena Kylar tidak suka ada detail yang bisa jadi celah. Kalau sampai Ratna melihat Ryn naik ojek online atau naik bus, laporan ke keluarga besar bisa langsung terdengar pagi itu juga.
Kini Ryn berada di ruang rapat bersama divisi finance. Bukannya disambut agenda, dia justru disambut kemarahan suami kontraknya.
“Saya kasih kalian satu jam untuk kumpulkan data lengkap. Kalau setelah itu saya masih dengar kata ‘sebagian’, saya potong semua budget yang membuat kalian nyaman,” tutup Kylar dingin.
Kylar berdiri mendadak. Dia merapikan jasnya seperti orang yang sudah selesai dengan kesabaran.
Lalu tanpa menunggu siapa pun mengangguk lebih keras, Kylar keluar begitu saja diikuti Naufal.
Begitu pintu menutup, barulah ruangan seperti ingat cara bernapas lagi.
“Cie! Bajunya couplean sama si bos,” ledek Agis, sambil menyenggol Ryn yang duduk di sebelahnya.
Nah, kan.
Ryn sudah menduga ini akan terjadi. Dari dulu, siapa pun yang bajunya kebetulan senada dengan Kylar pasti langsung dijadikan bahan ledekan.
“Diem deh, Bang,” desis Ryn, mencoba terdengar galak kepada seniornya, tapi malah terdengar seperti orang yang sedang menahan malu.
Agis nyengir. “Tapi serius, Bosszilla harus punya istri sih. Biar nggak emosian. Tadi serem banget. Sumpah!”
Lala, staf pajak yang hobinya bergosip, langsung nyambar, “Gimana mau punya istri? Cewek yang dijodohin sama dia aja ditolak mentah-mentah. Jangan-jangan, gosip si bos gay itu beneran?”
“Hush! Jangan sembarangan ngomong. Kalau kedengaran, selesai kita semua.” Leon, Accounting Supervisor, mencoba jadi penengah.
“Tapi, ‘kan, ini fakta lapangan, Mas Leon,” bantah Lala.
Agis mencondongkan badan ke Ryn. “Kalau menurut kamu gimana, Ryn? Bosszilla itu gay apa nggak?”
“Aku nggak tahu. Tapi kalau dia nolak semua perempuan yang ngedeketin, ya bisa jadi,” jawab Ryn, senyumnya tipis dan aman.
“Nah, ‘kan!” Lala langsung bersorak.
Ryn menunduk, pura-pura mengetik sesuatu. Padahal dalam hati, dia juga mengangguk setuju.
Semalam saja, Kylar sama sekali tidak terlihat tertarik padanya. Bahkan ketika mereka satu kamar, pria itu lebih sibuk membaca tablet daripada sekadar melirik seperti pria normal.
“Oh ya, Ryn. Kamu yang tabah ya. Kita udah nerima undangan dari Acha.” Agis tiba-tiba mengubah topik.
Ryn mengangkat dagu sedikit, memasang wajah datar yang sok kuat. “Santai, Bang. Aku udah ada pengganti kok.”
“Siapa?!” tanya Agis dan Lala hampir serempak.
Ryn baru akan membuka mulut untuk berkilah, ketika pintu rapat mendadak terbuka.
Refleks, semua kepala menoleh ketika Naufal masuk dengan langkah cepat.
“Eh, Mas Naufal,” sapa Ryn refleks, suaranya mendadak terlalu ceria untuk ukuran situasi. “Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?”
“Ponsel kantor ketinggalan,” kata Naufal singkat sambil mengangkat gawai itu dari atas meja.
Dan detik itu juga, semua orang tahu, ponsel itu adalah ponsel yang selalu Naufal gunakan untuk merekam rapat.
Artinya, kalimat ‘Bosszilla gay’ kemungkinan besar ikut terekam juga.
Sontak, mereka saling melempar tatapan terkejut. Mampus, habis sudah nasib mereka.
__
“Kayaknya kamu lebih sibuk dari CEO. Jam segini baru pulang,” sindir Kylar dari arah ruang keluarga, begitu Ryn muncul. Tablet di tangannya dia turunkan pelan ke sofa.
Ryn yang tadinya berniat langsung kabur ke kamar, refleks berhenti. Bahunya menegang tipis, tapi wajahnya tetap berusaha normal.
“Maaf, Pa–” Ryn buru-buru mengganti, “Ky.”
“Tadi habis jalan dulu sama temen-temen kantor,” kilah Ryn, suaranya dibuat seringan mungkin. Dia tidak mungkin bilang pulang dari kerja part time. Bisa-bisa langsung dipecat dia.
“Temen-temen yang tadi gosipin aku gay itu?” Kylar menyandarkan punggungnya santai sekali, tapi suaranya jelas tidak santai.
Oh, sudah pasti Naufal melaporkan semuanya pada Kylar.
“Itu bukan aku yang mulai, Ky,” sahut Ryn defensif. Tidak ada jawaban yang aman. Yang ada hanya jawaban yang lebih sedikit tidak berbahaya daripada pilihan lain.
Kylar menatapnya beberapa detik, lalu mendengus pelan. “Tapi kamu ada di dalam obrolan, dan mengiyakan gosip itu.”
Ryn menelan ludah. Tatapan Kylar terasa lebih mengerikan saat ini.
Selama ini, gosip itu memang sudah lama beredar dan Ryn yakin, telinga Kylar tidak mungkin melewatkannya. Tapi, dia tidak menyangka jika sekarang Kylar bisa bereaksi seperti ini.
“Maaf ….” lirih Ryn sambil menundukkan kepalanya, tubuhnya kaku.
Kylar menatap Ryn yang masih mematung. “Memang sopan ngobrol sama suami sambil berdiri begitu?”
Ryn sedikit tersentak. Kata suami itu selalu terdengar salah di telinga Ryn, meski secara hukum ya, memang begitu.
“Oh, iya. Maaf,” jawab Ryn akhirnya. Dia melangkah mendekat lalu duduk di ujung sofa ujung, bagian yang paling aman menurutnya. Jaraknya cukup untuk menjaga kewarasan dan harga diri sekaligus.
“Katanya aku gay, tapi kenapa kamu masih takut duduk dekat-dekat?” Kylar melirik jarak itu sebentar, seperti sedang menilai keputusan Ryn yang jelas-jelas terlalu berhati-hati.
Tiba-tiba saja Kylar berdiri. Dia berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Ryn. Tatapannya lebih dingin, tapi Ryn bisa menangkap ada rasa kesal dan tidak suka di sana.
Ryn otomatis menegakkan punggung, refleks tubuh yang tahu kapan harus siaga.
Kylar menunduk sedikit, satu tangannya menekan sandaran sofa di sisi Ryn, membuat ruang gerak istri kontraknya menyempit.
Demi Tuhan, Ryn bisa merasakan napas Kylar di wajahnya.
“Perlu aku buktikan, kalau aku nggak gay?” gertak Kylar, satu alisnya terangkat. Nada suara yang dingin dan tatapannya yang menusuk membuat Ryn merasa semakin tercekat.