Bab 1
“Kita menikah selama dua tahun.”
Ryn Laverna kehilangan calon suami setelah direbut sahabatnya sendiri. Lalu, di tengah kegundahan itu, dia justru terjebak dalam kontrak dengan bosnya sendiri. Namun, apakah keputusan ini kesalahan terbesar, atau penyelamat?
: Tiba-tiba Terjebak
“Aku nggak mau membatalkan perjodohan ini!”
Suara seorang perempuan terdengar memecah sunyi di rooftop. Ryn Laverna yang baru saja berniat keluar dari ruang makan yang berada di sana langsung membeku. Refleks dia merapat ke dinding, sementara jantungnya berdegup kencang.
“Aku nggak minta pendapatmu.”
Suara laki-laki menyusul, rendah dan tegas. Dan sialnya, Ryn sangat mengenal suara itu. Itu suara Kylar Ashwara Putra, CEO Ashwara Culinary Group tempat dia bekerja.
Mati sudah. Kalau ketahuan dia di sini, selesai riwayatnya.
Ryn menarik napas gemetar. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah ketika dia buru-buru melipir ke balik tumpukan pot tanaman.
“Ingat ya! Keluarga aku pasti nggak akan tinggal diam kalau tahu semua ini,” lanjut perempuan itu, nadanya meninggi. “Apalagi kamu nggak punya alasan jelas buat menolak!”
Kylar menjawab datar, tanpa ragu, “Alasannya jelas. Aku nggak suka kamu.”
Ryn menelan ludah.
Di kantor, gosip tentang Kylar memang sudah lama beredar. Kylar menolak semua perempuan yang dijodohkan karena katanya pria itu memang tidak tertarik pada perempuan.
Dan mendengar kalimatnya barusan, Ryn mendadak merasa rumor itu bukan sekadar omongan orang iseng.
Ryn akhirnya menunduk, mencoba mundur selangkah demi selangkah. Namun, langkahnya yang panik justru membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya merosot sedikit, lalu dia refleks berjongkok.
Dan sial. Sungguh sial.
Bokongnya menyenggol vas bunga kecil yang ditempatkan persis di belakangnya.
Prang!
Benda itu jatuh, pecah, dan membuat kedua kepala serempak menoleh. Hening satu detik. Lalu langkah kaki mendekat, berirama, tegas, membuat jantung Ryn seperti akan copot saat itu juga.
“Kamu ngapain di sini?”
Oh, tidak. Dari dua orang yang bisa bertanya, kenapa harus Bosszilla yang melontarkan pertanyaan?
Tidak mungkin kan kalau Ryn jawab dia sengaja melipir ke rooftop karena galau setelah menerima undangan pernikahan dari mantan calon suaminya, yang ironisnya menikahi sahabatnya sendiri.
“Kamu ngapain?” ulang Kylar lagi karena Ryn tak kunjung bersuara.
Tatapannya menilai Ryn dari ujung rambut ke ujung kaki, bukan dengan kemarahan, tapi dengan fokus seseorang yang sedang menimbang peluang. Seolah kemunculan gadis itu membuka kemungkinan baru di tengah jalan buntu perjodohan yang barusan diperdebatkannya.
Dengan pasrah, Ryn berdiri perlahan. Bahunya merosot, kepala menunduk serendah mungkin. Andai bisa berubah jadi semut dan menghilang di balik pot, dia pasti sudah melakukannya.
Tidak mungkin dia bilang dia lari ke rooftop untuk meltdown karena dikhianati pacar dan sahabatnya.
Ayo, Ryn. Berpikir.
Dia tahu reputasi bosnya. Kylar bukan tipe yang memberi toleransi. Terlambat dua menit, pulang mundur tiga puluh menit. Salah input invoice, bonus melayang. Kalau sudah mengomel, mulutnya tajam seperti bambu runcing.
Bolos saat jam kerja seperti Ryn seperti ini? Sama saja menandatangani surat resign.
Dan sekarang ketahuan menguping?
Celaka sudah.
Ryn mengangkat wajah sedikit, cukup untuk melihat ujung bahu setelan Kylar yang rapi. Lalu, dengan keputusasaan yang hanya terjadi di hari-hari terburuk hidupnya, dia memasang wajah paling memelas.
Mata membesar. Bibir mengerucut. Hidung memerah. Dan ketika Ryn memaksa air mata keluar, ajaibnya berhasil. Sesenggukan kecil pun muncul.
Perfect. Harusnya pria ini punya sedikit hati nurani, ‘kan?
“Maaf, Pak, saya–”
“Diam,” potong Kylar lebih dulu. Pandangannya terkunci ke tubuh Ryn, hingga satu senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Dan tiba-tiba, Kylar menggenggam tangan Ryn dengan kencang, membuat Ryn terkejut dan takut. Dia berusaha melepaskan diri, tapi tenaga Kylar jelas lebih besar darinya.
Tunggu. Apa dia akan diseret ke ruang HRD sekarang juga?
Tidak! Dia masih butuh pekerjaan. Dia hanya staff Accounting yang gajinya pas-pasan. Cari pekerjaan baru susah. Cari bos yang normal lebih susah lagi.
Bukannya makin tenang, Ryn malah makin histeris. Kali ini bukan pura-pura. Ini hari terburuk hidupnya.
“Pak, tolong jangan–”
“Sstt ….” Kylar menempelkan telunjuknya ke bibir Ryn yang memakai lipstik nude. Tubuhnya yang tinggi bergerak mendekat.
Ryn terpaku ketika Kylar mengusap punggungnya lembut. Apa-apaan ini?
“Maksudnya apa ini?!” pekik wanita berbaju hitam itu, wajahnya memerah bukan karena blush on.
“Pak, maaf. Saya tidak dengar apa-apa, sumpah,” isak Ryn memohon, wajah memelasnya sempurna.
“Diam sebentar.” Kylar tidak menatap perempuan yang dijodohkan dengannya itu. Sebaliknya, dia meraih bahu Ryn, mengusap lengannya perlahan. “Kamu dengar pun nggak masalah. Justru lebih mudah begini. Semua bisa selesai sekarang.”
Selesai? Maksudnya pekerjaan Ryn yang selesai? Atau hidupnya yang selesai?
“Pak, bisa tolong lepas?” Ryn melirik sekitar cemas. “Ini kantor. Nanti–”
“Aku nggak peduli ini kantor atau bukan,” potong Kylar. “Aku nggak mau backstreet lagi. Aku mau semua orang tahu kita itu pasangan.”
Ryn terbelalak. Seluruh isi otaknya mendadak kosong.
Pasangan? Siapa? Dia? Dengan bos yang nyaris tidak manusiawi ini?
Ryn tahu betapa menyebalkannya mulut bosnya itu. Tapi, mendengar kalimat seperti itu, jelas membuat Ryn lebih terkejut 10 kali lipat.
“Oke, stop. Kamu makin gila,” sergah wanita berbaju hitam itu. “Jadi selama ini kamu pacaran sama karyawan kamu? Ky, kamu–”
“Iya, jadi aku nggak bisa melanjutkan perjodohan itu.” Kylar kembali memotong perkataan Jihan dengan cepat. Tatapan Kylar lalu kembali ke Ryn, mengunci. “Karena aku lebih mencintai, Ryn.”
Ryn tercekat, tapi sebelum dia sempat panik atau mengeluarkan suara, Jihan mendengus sinis.
“Omong kosong! Kylar, kamu benar-benar mau mempertaruhkan reputasi keluarga kita untuk ini?” Tatapan Jihan meremehkan Ryn dari atas ke bawah. “Perempuan ini? Karyawan rendahan seperti dia?”
Kylar sama sekali tidak terpengaruh. “Jangan berani menyebut tunanganku seperti itu.”
Ryn menoleh cepat, nyaris tersedak udara.
Jihan terperanjat. “Apa maksud kamu?!”
“Aku sudah melamarnya dan kami akan menikah minggu depan,” ujar Kylar dengan ketenangan yang membuat suasana justru makin mencekam.
Bab 2
: Menawarkan Kesepakatan
Menikah minggu depan?!
Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’
Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.
Pun, Ryn juga merasa semua ucapan bosnya terdengar seperti dialog teater yang gila. Jauh dari bagaimana Kylar biasa bicara.
Jihan tertawa kecil, suara tawanya tipis dan tajam seperti gesekan kaca. “Terus mana cincinnya? Jangan ngawur kamu!”
Ryn merasakan udara berubah dingin.
Oh. Ini bukan sekadar drama perjodohan. Ini perang keluarga kelas premium.
Kylar mengangkat alis, seolah pertanyaan itu terlalu standar.
“Cincin itu aksesoris,” kata Kylar tanpa ekspresi. “Yang penting keputusan. Dan aku sudah ambil keputusan.”
Jihan mengerjap. “Kylar–”
Perempuan itu ingin melawan, tapi tidak bisa. Akhirnya, dia kembali menatap Ryn sekali lagi. “Kamu! Kamu ini siapa sebenarnya?”
Ryn hampir refleks memperkenalkan diri lengkap dengan NIK, jabatan, dan slip gaji terakhir. Namun Kylar lebih cepat.
“Sudah kubilang dia calon istriku.”
Ryn menelan ludah keras mendengar itu.
Jihan tampak seperti orang yang baru saja dipukul oleh kenyataan. “Kamu jangan bercanda, Kylar!”
Kylar memiringkan kepala, tatapannya setenang air. “Kalau aku sudah melamarnya, berarti aku serius. Kenapa masih diperdebatkan?”
Ryn ingin batuk. Ingin protes. Ingin menjelaskan bahwa dia tidak ikut audisi jadi calon istri CEO. Namun, dia memilih diam. Karena satu kata saja dari mulutnya bisa mengubah seluruh arah hidupnya, dan mungkin juga gajinya.
Jihan menatap Kylar lama. Lalu, pelan, bibirnya melengkung. Bukan senyum, lebih mirip peringatan.
“Kalau begitu,” ucap Jihan manis tapi berbahaya, “kita lihat saja seberapa lama perempuan ini bertahan. Dan jangan kamu pikir keluargaku akan diam melihat semua ini.”
Ryn merasakan punggungnya merinding. Nada bicara itu terlalu lembut untuk sebuah ancaman, dan justru karena itulah terasa lebih mengerikan.
“Silakan. Aku malah berharap kamu mencoba,” tantang Kylar tidak bergeming.
Dan kali ini, Ryn benar-benar sadar, bosnya tidak sedang main-main. Ini bukan akting. Ini keputusan yang akan menyeret namanya masuk ke tengah keluarga Ashwara.
Begitu Jihan melangkah menjauh, Ryn langsung menegakkan punggungnya.
“Pak, maaf, saya permisi,” pamit Ryn dengan senyum karyawan yang sudah dilatih bertahan hidup.
“Mau ke mana?” Kylar menoleh. “Kita belum selesai.”
“Kalau soal tadi, saya minta maaf. Saya minta maaf karena bolos di jam kerja. Dan saya juga minta maaf karena sudah menguping pembicaraan Bapak,” cicit Ryn.
Lebih baik minta maaf duluan daripada dipecat. Itu hukum tidak tertulis dunia kerja. Walaupun idealnya, Kylar juga seharusnya minta maaf karena dengan santainya mengakui Ryn sebagai tunangannya.
Namun, ada satu peraturan lain yang juga tidak tertulis di hampir semua perusahaan, yaitu bos selalu benar, dan karyawan selalu salah.
Kylar menatap Ryn dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk disebut ramah. “Saya maafkan. Tapi dengan satu syarat.”
Tentu saja ada syarat. Hidup tidak pernah gratis.
“Syarat apa, Pak?” tanya Ryn. Nadanya masih terjaga, meski bahunya menegang tipis.
Kylar tidak langsung menjawab. Dia hanya mengunci Ryn dalam tatapan hitam yang stabil. Tatapan orang yang sudah memutuskan hasil akhir sebelum rapat dimulai.
“Kita menikah.”
Ryn terdiam beberapa detik. Waktu yang cukup untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar, tidak sedang bermimpi, dan tidak berada di tempat lain selain kantor.
Lalu tawa kecil lolos dari bibir berlipstik nude itu. Refleks murni. Tidak profesional, tapi manusiawi.
Kylar menatapnya. “Memang lucu?”
“Maaf, Pak. Saya kira Bapak sedang bercanda,” jawab Ryn cepat. Tawanya menguap begitu saja saat dia melihat wajah Kylar. Tidak ada senyum. Tidak ada jeda malu.
Dan di titik itu, Ryn tahu, ini bukan lelucon, tapi keputusan. Dia langsung menundukkan kepalanya. Dari luar dia boleh tampak tenang. Tapi, dari dalam, kesabarannya sedang diuji oleh Tuhan, semesta, dan sistem korporasi.
“Saya serius,” ungkap Kylar tenang, tidak, lebih tepatnya tegas dan serius.
Ryn mendadak berkedip cepat melihat perubahan bosnya. Dia langsung mengangguk kecil. Refleks bawahan yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk tidak membantah duluan. “M–maaf, Pak.”
“Ikut ke ruangan saya. Sekarang,” tandas Kylar. Lalu dia berlalu begitu saja, tanpa menunggu persetujuan, seolah keputusan Ryn tidak termasuk variabel yang perlu dipertimbangkan.
__
“Kita menikah kontrak selama dua tahun. Saya pikir kita berdua membutuhkan pernikahan ini.”
Kylar menyandarkan punggungnya, lalu memulai seolah sedang membuka presentasi. Tidak ada nada main-main, tidak ada dramatisasi. Hanya nada orang yang terbiasa membuat keputusan dan menganggap semua orang cukup cerdas untuk mengikuti.
Kini mereka sudah duduk berhadapan di sofa ruang kerja CEO, di lantai yang sama dengan rooftop.
“Tidak, Pak. Saya tidak butuh,” jawab Ryn, berusaha tenang.
“Yakin?” Kylar bertanya ringan.
Tapi di telinga Ryn, itu terdengar mengintimidasi.
Ryn tahu betul maksudnya. Bosnya ini tidak sedang meragukan jawaban Ryn semata. Kylar sedang menyinggung hal yang sejak pagi sudah menempel di kepalanya, yaitu pernikahan calon mantan suami dan sahabatnya.
Beginilah nasib bekerja di Ashwara Culinary Group. Arus listrik saja kalah cepat dibanding gosip.
Andy memang bekerja di kantor pusat Ashwara Group. Secara teori, drama pribadinya seharusnya berhenti di sana. Namun teori jarang bertahan lama di perusahaan sebesar ini, apalagi jika melibatkan mantan calon pengantin, sahabat yang menikah, dan kisah gagal yang terlalu menarik untuk dibiarkan tenggelam.
Kylar tentu tahu. Bukan karena ikut nimbrung di pantry, melainkan karena hampir tidak ada kabar yang benar-benar lolos dari radar Bosszilla.
Apalagi Acha dan Ryn berada di gedung yang sama. Tentu saja gosip akan secepat kilat menyebar.
Ryn menelan ludah. “Yakin, Pak.”
Namun, keyakinan itu juga tipis. Ryn masih ingat wajah Acha tadi pagi saat menyerahkan undangan dengan senyum tipis yang terlalu puas untuk disebut tulus. Seolah Acha menang bukan hanya karena menikah, tapi karena menikah dengan pria yang seharusnya menjadi milik Ryn.
Bohong kalau Ryn tidak ingin membalas. Bohong juga kalau dia tidak sakit hati.
Empat tahun Ryn bersama Andy. Sementara Acha adalah sahabatnya sejak SMA. Orang yang dulu tahu semua kebiasaan Ryn, semua ketakutan Ryn, bahkan semua lelucon receh Ryn. Sekarang orang itu yang menikah dengan Andy.
Dan Ryn yang ditinggal, masih harus kerja seperti biasa, senyum seperti biasa, pura-pura baik-baik saja seperti biasa.
“Kalau yakin,” suara Kylar kembali masuk, memotong lamunan Ryn tanpa ampun, “kenapa kamu belum pergi?”
Bab 3
: Kita Menikah Hari Ini!
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.
“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.
Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.
Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.
“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.
Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?
“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”
Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.
Ryn sedikit terkejut.
“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.
Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!
Kylar berdecak pelan, lalu berkata dengan malas, “Jadi, kamu minta waktu untuk berpikir atau cek ponselmu?”
Ryn menelan ludahnya, lalu menjawab, “Saya cek ponsel saja, Pak.”
Kalau dia memilih itu, artinya dia juga bisa punya sedikit waktu tambahan untuk menata pikirannya sendiri, kan?
Bagus, ide yang bagus, Ryn!
Kylar menatap jam tangan mahalnya. “Tiga menit.”
Ryn mengangguk cepat. Dia merogoh ponsel dari saku blazer dengan gerakan secepat kilat.
Namun, ternyata itu bukan panggilan atau pesan soal pekerjaan. Melainkan pesan haram yang bisa membuat nyawa Ryn berkurang satu bar.
Pesan pertama dari Acha, lengkap dengan foto.
[Gaun pengantin ini ternyata lebih cocok buat aku daripada kamu.]
Ryn menatap layar itu beberapa detik terlalu lama. Dia tahu gaun itu. Dia memilihnya untuk pernikahannya dengan Andy. Dan sekarang gaun itu dipakai Acha dengan bangga, lalu dijadikan bahan ejekan.
Ryn mengembuskan napas kasar lewat hidung. Kepalanya panas, tapi menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.
Pesan kedua dari Dini, ibu angkatnya.
[Ryn. Kamu itu gimana sih?! Cicilan pinjol telat. Kamu sengaja ya bikin Mama malu?! Tetangga pada ngelihatin debt collector datang ke rumah kita. Nggak tahu diri memang kamu!]
Napas Ryn tercekat.
Ini bukan sekadar marah. Ini ancaman yang dibungkus rasa malu, rasa bersalah, dan kebiasaan lama mereka. Melempar semua beban ke Ryn, lalu menyuruhnya bersyukur karena masih dianggap keluarga.
Selama ini, Ryn memang tinggal dengan keluarga angkat yang tidak pernah benar-benar menganggapnya keluarga. Dia tidak hanya diberi atap dan piring makan, tapi juga diberi beban, tuntutan, dan rasa bersalah tiap kali dia tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.
Ryn menatap pesan itu tanpa berkedip.
Kalau saja Ryn menikah dengan Andy, mungkin dia tidak perlu lagi tinggal di rumah itu. Cicilan memang tidak otomatis hilang, tapi setidaknya dia tidak harus menghadapi kemarahan keluarga angkatnya setiap hari.
Ryn menelan ludah. Tangannya mengencang menggenggam ponsel. Tahu begitu, dia tidak perlu cek ponselnya saja tadi.
“Selesai.” Suara Kylar dingin, tidak sabar. “Silakan keluar.”
Ryn mengangkat kepala. Ketika bertemu iris hitam Kylar yang stabil, Ryn tiba-tiba sadar, mungkin pernikahan kontrak ini bukan ide gila.
Mungkin ini satu-satunya jalan keluar yang masuk akal dari hidupnya yang belakangan terasa seperti kubangan.
Ryn menarik napas dalam.
Lalu, dengan sopan yang tetap terjaga walau hidupnya sudah hampir runtuh, Ryn berkata, “Boleh saya lihat kontraknya dulu, Pak?”
Kylar mengangguk. Tidak terkejut. Seolah dia sudah tahu Ryn akan sampai ke titik ini. Dia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu dengan kecepatan yang menyebalkan.
“Cek e-mail kamu,” suruhnya.
Ryn mengerjap, cepat sekali pria ini bertindak. Dia membuka ponsel, lalu membacanya pelan.
Pernikahan kontrak selama dua tahun. Kompensasinya bonus dan kenaikan gaji 20%. Ryn harus tampil sebagai istri Kylar di depan keluarga dan publik kalau dibutuhkan. Satu atap tanpa perasaan. Dan kalau ada yang melanggar, dendanya 200 juta rupiah.
Ryn menatap angka itu agak lama. Bukan karena terharu, tapi karena sadar ini bukan lagi kesepakatan main-main. Ini kontrak yang kalau dilanggar bisa mengubah hidupnya jadi cicilan tanpa ujung.
Secara garis besar, Ryn sebenarnya tidak dirugikan. Dia mendapat bonus dan kenaikan gaji. Dia punya alasan legal untuk keluar dari rumah keluarga angkatnya tanpa drama panjang.
Lalu, secara tidak langsung, dia juga bisa balas dendam pada Acha dan Andy. Secara, suaminya adalah bos mereka semua.
Soal perasaan? Itu tidak sulit.
Ryn tidak mungkin jatuh cinta pada bos yang menyebalkan, suka mengatur, dan bicaranya setajam silet.
Lagipula, bukankah memang ada kabar bahwa Kylar tidak tertarik pada perempuan?
Kalau rumor itu benar, kontrak ini justru aman.
Selesai membaca, Ryn mengangkat kepala.
Ryn menghela napas, lalu berkata dengan nada tenang yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, “Saya setuju.”
Kylar tidak terlihat lega. Dia hanya mengangguk kecil, seperti baru saja menyelesaikan rapat vendor.
“Tanda tangani sekarang,” perintah Kylar lugas.
Ryn menurut. Dia membubuhkan tanda tangan digital di dokumen itu dengan jemari yang sedikit gemetar, tapi dia memaksa tetap stabil.
Begitu selesai, Kylar berkata tiba-tiba, tanpa transisi, “Kita menikah hari ini.”
Ryn mendongak cepat. “Hari ini?! Saya kira minggu depan?”
“Kalau bisa diselesaikan hari ini, kenapa harus ditunda?” ucap Kylar tenang, tapi terdengar seperti menegur staf yang salah input angka.
Ryn menatap jam di dinding. “Pak, ini sudah sore. KUA rasanya sudah tutup.”
Kylar bersandar lagi. “Gampang.”
Tanpa menunggu reaksi Ryn, Kylar berdiri dan menekan tombol interkom di mejanya untuk memanggil asisten pribadinya.
Pintu terbuka. Naufal muncul dengan tablet di tangan dan wajah profesional yang selalu berhasil membuat ruangan terasa seperti ruang sidang.
“Ada apa, Pak?” tanya Naufal sopan.
Kylar duduk kembali dengan tenang, lalu berkata seolah sedang memesan makan malam. “Siapkan dokumen pernikahan saya. Hari ini.”
Naufal berkedip. Satu kali. Dua kali. Wajahnya tetap profesional, tapi matanya jelas baru saja mengalami benturan kenyataan.
“… Dokumen pernikahan? Untuk siapa, Pak?”
“Saya.”
Naufal menelan ludah. “Dengan siapa, Pak?”
Kylar melirik ke arah Ryn sebentar, lalu kembali ke Naufal. Suaranya tetap datar, seolah ini instruksi paling normal sedunia.
“Dengan wanita di depanmu itu.”