Bab 3
: Kita Menikah Hari Ini!
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.
“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.
Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.
Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.
“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.
Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?
“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”
Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.
Ryn sedikit terkejut.
“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.
Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!
Kylar berdecak pelan, lalu berkata dengan malas, “Jadi, kamu minta waktu untuk berpikir atau cek ponselmu?”
Ryn menelan ludahnya, lalu menjawab, “Saya cek ponsel saja, Pak.”
Kalau dia memilih itu, artinya dia juga bisa punya sedikit waktu tambahan untuk menata pikirannya sendiri, kan?
Bagus, ide yang bagus, Ryn!
Kylar menatap jam tangan mahalnya. “Tiga menit.”
Ryn mengangguk cepat. Dia merogoh ponsel dari saku blazer dengan gerakan secepat kilat.
Namun, ternyata itu bukan panggilan atau pesan soal pekerjaan. Melainkan pesan haram yang bisa membuat nyawa Ryn berkurang satu bar.
Pesan pertama dari Acha, lengkap dengan foto.
[Gaun pengantin ini ternyata lebih cocok buat aku daripada kamu.]
Ryn menatap layar itu beberapa detik terlalu lama. Dia tahu gaun itu. Dia memilihnya untuk pernikahannya dengan Andy. Dan sekarang gaun itu dipakai Acha dengan bangga, lalu dijadikan bahan ejekan.
Ryn mengembuskan napas kasar lewat hidung. Kepalanya panas, tapi menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.
Pesan kedua dari Dini, ibu angkatnya.
[Ryn. Kamu itu gimana sih?! Cicilan pinjol telat. Kamu sengaja ya bikin Mama malu?! Tetangga pada ngelihatin debt collector datang ke rumah kita. Nggak tahu diri memang kamu!]
Napas Ryn tercekat.
Ini bukan sekadar marah. Ini ancaman yang dibungkus rasa malu, rasa bersalah, dan kebiasaan lama mereka. Melempar semua beban ke Ryn, lalu menyuruhnya bersyukur karena masih dianggap keluarga.
Selama ini, Ryn memang tinggal dengan keluarga angkat yang tidak pernah benar-benar menganggapnya keluarga. Dia tidak hanya diberi atap dan piring makan, tapi juga diberi beban, tuntutan, dan rasa bersalah tiap kali dia tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.
Ryn menatap pesan itu tanpa berkedip.
Kalau saja Ryn menikah dengan Andy, mungkin dia tidak perlu lagi tinggal di rumah itu. Cicilan memang tidak otomatis hilang, tapi setidaknya dia tidak harus menghadapi kemarahan keluarga angkatnya setiap hari.
Ryn menelan ludah. Tangannya mengencang menggenggam ponsel. Tahu begitu, dia tidak perlu cek ponselnya saja tadi.
“Selesai.” Suara Kylar dingin, tidak sabar. “Silakan keluar.”
Ryn mengangkat kepala. Ketika bertemu iris hitam Kylar yang stabil, Ryn tiba-tiba sadar, mungkin pernikahan kontrak ini bukan ide gila.
Mungkin ini satu-satunya jalan keluar yang masuk akal dari hidupnya yang belakangan terasa seperti kubangan.
Ryn menarik napas dalam.
Lalu, dengan sopan yang tetap terjaga walau hidupnya sudah hampir runtuh, Ryn berkata, “Boleh saya lihat kontraknya dulu, Pak?”
Kylar mengangguk. Tidak terkejut. Seolah dia sudah tahu Ryn akan sampai ke titik ini. Dia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu dengan kecepatan yang menyebalkan.
“Cek e-mail kamu,” suruhnya.
Ryn mengerjap, cepat sekali pria ini bertindak. Dia membuka ponsel, lalu membacanya pelan.
Pernikahan kontrak selama dua tahun. Kompensasinya bonus dan kenaikan gaji 20%. Ryn harus tampil sebagai istri Kylar di depan keluarga dan publik kalau dibutuhkan. Satu atap tanpa perasaan. Dan kalau ada yang melanggar, dendanya 200 juta rupiah.
Ryn menatap angka itu agak lama. Bukan karena terharu, tapi karena sadar ini bukan lagi kesepakatan main-main. Ini kontrak yang kalau dilanggar bisa mengubah hidupnya jadi cicilan tanpa ujung.
Secara garis besar, Ryn sebenarnya tidak dirugikan. Dia mendapat bonus dan kenaikan gaji. Dia punya alasan legal untuk keluar dari rumah keluarga angkatnya tanpa drama panjang.
Lalu, secara tidak langsung, dia juga bisa balas dendam pada Acha dan Andy. Secara, suaminya adalah bos mereka semua.
Soal perasaan? Itu tidak sulit.
Ryn tidak mungkin jatuh cinta pada bos yang menyebalkan, suka mengatur, dan bicaranya setajam silet.
Lagipula, bukankah memang ada kabar bahwa Kylar tidak tertarik pada perempuan?
Kalau rumor itu benar, kontrak ini justru aman.
Selesai membaca, Ryn mengangkat kepala.
Ryn menghela napas, lalu berkata dengan nada tenang yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, “Saya setuju.”
Kylar tidak terlihat lega. Dia hanya mengangguk kecil, seperti baru saja menyelesaikan rapat vendor.
“Tanda tangani sekarang,” perintah Kylar lugas.
Ryn menurut. Dia membubuhkan tanda tangan digital di dokumen itu dengan jemari yang sedikit gemetar, tapi dia memaksa tetap stabil.
Begitu selesai, Kylar berkata tiba-tiba, tanpa transisi, “Kita menikah hari ini.”
Ryn mendongak cepat. “Hari ini?! Saya kira minggu depan?”
“Kalau bisa diselesaikan hari ini, kenapa harus ditunda?” ucap Kylar tenang, tapi terdengar seperti menegur staf yang salah input angka.
Ryn menatap jam di dinding. “Pak, ini sudah sore. KUA rasanya sudah tutup.”
Kylar bersandar lagi. “Gampang.”
Tanpa menunggu reaksi Ryn, Kylar berdiri dan menekan tombol interkom di mejanya untuk memanggil asisten pribadinya.
Pintu terbuka. Naufal muncul dengan tablet di tangan dan wajah profesional yang selalu berhasil membuat ruangan terasa seperti ruang sidang.
“Ada apa, Pak?” tanya Naufal sopan.
Kylar duduk kembali dengan tenang, lalu berkata seolah sedang memesan makan malam. “Siapkan dokumen pernikahan saya. Hari ini.”
Naufal berkedip. Satu kali. Dua kali. Wajahnya tetap profesional, tapi matanya jelas baru saja mengalami benturan kenyataan.
“… Dokumen pernikahan? Untuk siapa, Pak?”
“Saya.”
Naufal menelan ludah. “Dengan siapa, Pak?”
Kylar melirik ke arah Ryn sebentar, lalu kembali ke Naufal. Suaranya tetap datar, seolah ini instruksi paling normal sedunia.
“Dengan wanita di depanmu itu.”
Bab 4
: Pernikahan Kilat
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.
Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap di sana, padahal seharusnya kantor itu sudah tutup.
Di kepala Ryn, hanya ada satu kalimat, ‘bosnya benar-benar gila’.
Kylar berdiri di sampingnya, rapi, tenang, dan sama sekali tidak tampak seperti pria yang baru saja mengganti status hidup seseorang dalam waktu kurang dari dua jam.
Kylar menoleh sekilas. “Serius.”
Ryn menatap buku nikah itu lagi, seperti berharap tulisan di dalamnya mendadak berubah jadi struk belanja minimarket.
Perempuan itu mulai melirik halaman KUA yang mulai sepi. Motor lewat, orang-orang keluar masuk, semuanya tampak normal.
Tidak ada yang tahu Ryn baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya disiapkan enam bulan, bukan enam menit.
“Kalau nanti orang kantor tanya tentang suami saya bagaimana?” tanya Ryn. Dia tidak mungkin menyebut nama Kylar sebagai suaminya. Di Ashwara Culinary Group, menikah dengan orang sekantor jelas dilarang.
Kylar menoleh, tatapannya dingin tapi fokus. “Jawab saja dengan seseorang.”
Ryn melotot. “Pak, itu malah bikin penasaran.”
“Itu bagus,” kata Kylar datar dan langsung membuat Ryn semakin membelalakkan matanya.
“Bagus apanya, yang ada gosipnya malah makin lebar,” gerutu Ryn spontan, pelan nyaris seperti bisikan karena kesal dengan jawaban bosnya.
“Setidaknya, target gosipnya sudah berpindah,” balas Kylar santai, matanya fokus pada ponsel.
Mendengar itu, Ryn menatap Kylar tak percaya.
Dia mendengarnya?
Ryn memejamkan mata sebentar. Menyebalkan.
Tapi, setelah dipikir-pikir, ucapan Kylar ada benarnya juga. Akhirnya, gadis itu hanya bisa berdecak kesal. Makin merasa kesal karena ucapan bosnya yang menyebalkan itu terasa masuk akal.
“Sekarang ke rumah kamu dulu. Ambil barang, sekalian minta izin. Lalu ke rumah saya,” ucap Kylar tiba-tiba.
Dan saat kalimat itu jatuh, Ryn sadar satu hal, mental yang dia pikir sudah dia siapkan, ternyata sama sekali belum siap. Dia bukan hanya menikah. Dia juga akan tinggal satu atap dengan Kylar Ashwara Putra.
Kylar baru melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Kita beli cincin dan foto pernikahan dulu.”
Ryn mematung. “Foto?”
Untuk apa?
Ryn kira hanya dengan buku nikah dan tanda tangan saja selesai.
Kylar mengangguk singkat. “Kalau kita cuma punya status tanpa bukti visual, keluarga saya akan mencium kebohongan.”
Tanpa menunggu jawaban, Kylar sudah berjalan menuju mobil yang menunggu di parkiran.
Ryn berdiri di tempatnya beberapa detik, memegang buku nikah seperti memegang bukti bahwa hidupnya baru saja belok tajam tanpa sein.
Lalu, dengan napas berat, dia menyusul. Karena apa pun yang baru saja terjadi, dia sudah resmi terjebak.
__
“Okay! Masnya berdiri di kanan, Mbaknya di sampingnya. Nah, bagus. Senyum!” Fotografer memberi arahan.
Setelah membeli cincin, dan memilih gaun pengantin dengan proses secepat kilat, Kylar langsung menyeret Ryn ke studio foto. Kata ‘menyeret’ di sini bukan kiasan, karena Ryn benar-benar merasa hidupnya dibawa lari tanpa sempat negosiasi.
Ryn berdiri dengan gaun putih yang masih terasa asing di tubuhnya. Tangannya bingung mau ditaruh di mana. Di depan? Di samping? Di pinggang? Akhirnya dia pilih yang paling aman: di sisi gaun, pura-pura menahan kain.
Kylar berdiri di sebelahnya seperti orang yang datang ke rapat penting, bukan sesi foto pernikahan dadakan.
“Sekarang pose yang romantis ya. Mas rangkul pinggang Mbaknya.” Fotografer memberi arahan lagi.
Ryn refleks menahan napas.
Oke. Ini dia. Momen yang tidak ada di kontrak. Atau mungkin ada, tapi Ryn belum sempat membacanya dengan mental siap.
Ryn baru mau melangkah sepersekian sentimeter menjauh, ketika Kylar lebih cepat. Tangannya langsung mendarat di pinggang Ryn.
Ryn mencoba menggeser tubuh pelan. Sengaja pelan supaya tidak terlihat seperti menolak. Kylar mengikuti gerakannya, merapat lagi.
Ryn menggeser lagi. Kylar merapat lagi.
Fotografer malah makin semangat. “Wah, natural banget! Bagus! Terus gitu ya, dekat-dekat!”
Kylar menunduk sedikit, suaranya rendah. “Kamu itu kenapa? Kamu mau foto ini kelihatan seperti saya maksa kamu?”
Ryn membeku sepersekian detik, tapi tidak sempat protes karena fotografer langsung menembak kamera bertubi-tubi.
“YESSS! Bagus! Nah, senyum! One … two … three!”
Klik. Klik. Klik.
Ryn memaksa senyum, tapi rahangnya mulai pegal. Di sisi lain, Kylar justru terlihat nyaman. Sangat nyaman.
Saat fotografer sibuk mengecek hasil, Ryn melihat tangan Kylar masih berada di pinggangnya. “Pak Kylar, tangan Bapak bisa turun sekarang.”
Kylar menatapnya, datar. “Kenapa? Kamu takut?”
Ryn menahan senyum. “Saya takut dituduh melecehkan bos.”
Kylar mengangkat alis. “Sekarang saya suami kamu.”
Ryn hanya bisa menarik napas, karena dia tahu, tidak ada kalimat bantahan untuk itu.
Begitu sesi itu selesai, Ryn mundur setengah langkah, dan merapikan gaunnya.
“Saya ganti gaun dulu ya, Pak,” ujar Ryn sopan, yang dibalas mengangguk singkat.
Ryn berbalik menuju ruang ganti dengan langkah cepat, tapi ujung sepatu Kylar menginjak ekor gaunnya.
“Aaaa!”
Ryn tersentak. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tumitnya terpeleset sedikit, dan selama sepersekian detik, dia benar-benar yakin akan jatuh dengan cara paling memalukan di depan seluruh studio.
Namun, sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, tangan Kylar sudah menahan punggungnya.
Ryn berhenti tepat di ambang jatuh. Tubuhnya miring, terjebak di antara udara, dada Kylar, dan jarak di antara mereka mendadak terlalu dekat untuk ukuran hubungan kontrak.
Kylar menunduk sedikit. Ryn mendongak. Dan untuk sesaat, semuanya terasa sunyi, meski studio masih ramai.
Wajah Kylar terlihat jelas dari jarak itu.
Ryn baru sadar, bosnya bukan hanya menyebalkan. Bosnya juga tampan dengan cara yang tidak perlu, seolah Tuhan sengaja menambah fitur bonus supaya hidupnya makin sulit.
“Kamu itu kenapa?” tanya Kylar.
Ryn menelan ludah, lalu menggeleng pelan. “M–Maaf, Pak.”
Dia cepat-cepat berdiri tegak lagi, menjauh setengah langkah, lalu mengembalikan jarak aman sebelum otaknya mulai berkata macam-macam.
Kenapa Kylar Ashwara Putra terlihat sangat tampan dari jarak sedekat itu?
Bab 5
: Bermuka Dua
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”
Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.
Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.
Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tadi, di perjalanan setelah mereka foto pernikahan, Kylar bilang dia yang akan bicara. Dan Ryn mencoba percaya pada pria ini.
“Maksudnya bagaimana?!” suara Dini meninggi, langsung memecah ruangan. “Bukannya kamu mau menikah sama Andy? Jangan macam-macam kamu, Ryn!”
Ryn menarik napas pelan, menahan refleks untuk menjawab dengan nada yang sama.
“Aku sama Andy sudah putus, Ma,” ujar Ryn singkat.
“Putus?” Dini mencibir, seolah kata itu penghinaan. “Putus atau diputusin?”
Ryn menelan kalimat yang ingin keluar. Dia menatap lantai, menahan diri agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.
Yanto yang duduk menyandar di kursi, dengan wajah lelah dan mata yang terlalu sering merah karena begadang bukan untuk bekerja, ikut menyahut.
“Papa sebetulnya nggak masalah,” kata Yanto, terdengar seperti orang yang ingin terlihat bijaksana. “Tapi kamu yakin menikah sama pria ini?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut yang sama yang biasanya hanya membuka suara kalau butuh uang.
Dini menatap Kylar dari atas ke bawah, lalu mendengus. “Lihat saja penampilannya.”
Kylar saat ini hanya memakai kemeja putih, lengannya digulung rapi sisa sesi foto tadi. Jam tangannya jelas mahal, tapi Dini tampaknya tidak punya kemampuan membedakan barang mewah dan barang palsu.
Dan Ryn bisa menebak satu hal, ibu angkatnya belum tahu mereka datang menggunakan mobil mewah. Mobil itu diparkir di luar gang, jauh dari jangkauan mata yang hobi menilai.
“Memang tampan,” Dini melanjutkan, seakan itu satu-satunya hal yang layak disebut, “tapi dia mapan nggak? Kayak Andy yang sudah jadi manajer keuangan?”
Ryn diam.
Kalau Dini tahu kalau Kylar sebenarnya adalah anak dari pemilik grup tempat Andy bekerja, Ryn yakin dia akan bersorak.
“Tenang saja, Om, Tante,” ucap Kylar tenang. Dia tidak tersinggung, tapi justru tersenyum kecil. “Pekerjaan saya cukup untuk menghidupi Ryn sebagai istri saya dan anak-anak kami nantinya.”
Anak-anak?
Mereka baru menikah dua jam. Namun, Kylar sudah bicara seperti mereka pasangan mapan yang tinggal menunggu nama bayi. Hebat sekali!
Ryn hampir ingin bertepuk tangan. Sungguh. Kalau Kylar bukan CEO, pria ini cocok jadi aktor.
“Yakin cukup?” desak Dini, masih keras kepala.
“Saya yakin cukup,” jawab Kylar tanpa ragu.
Ya, memang cukup. Bahkan cukup untuk membuat keluarganya bergelimangan harta tujuh turunan Kylar bisa, kalau mau.
Dini mencibir lagi. “Omong doang gampang.”
Kylar mengangguk kecil, seolah dia menghargai kekhawatiran itu meski jelas tidak setuju.
“Saya mengerti Tante khawatir,” ucap Kylar lembut. “Wajar. Ryn perempuan baik, saya juga tidak ingin dia hidup susah.”
Ryn hampir tertawa. Bukan karena lucu. Karena kalimat itu seperti dongeng. Selama ini, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang peduli Ryn hidup susah atau tidak. Yang penting Ryn bekerja dan tidak menyusahkan.
Kylar melanjutkan, masih dengan nada yang sama hangatnya, “Kalau Tante dan Om mengizinkan, saya ingin membawa Ryn tinggal bersama saya. Biar saya yang mengurus dia mulai sekarang. Saya yang bertanggung jawab.”
Dini terlihat seperti ingin menolak karena kehilangan ‘aset’. Yanto terlihat seperti ingin setuju karena mungkin ada peluang keuntungan.
Dan Ryn?
Perempuan itu hanya bisa menunduk.
Kylar menoleh sedikit ke arah Ryn. “Kamu nggak perlu takut,” katanya, cukup halus untuk terdengar seperti kalimat suami baik-baik.
Tidak perlu takut, katanya?
Melihat Kylar bisa berubah secepat ini saja sudah cukup membuat Ryn merinding setengah mati.
__
“Kenapa kamu tepuk tangan?” tanya Kylar begitu mereka sudah duduk di dalam mobil.
Ryn berada di kursi penumpang. Naufal menyetir di depan dengan wajah datar seorang asisten yang sudah lelah melihat hal-hal mustahil terjadi dalam satu hari kerja. Di bagasi, koper Ryn yang isinya tidak seberapa itu ikut meluncur.
“Soalnya, akting Pak Kylar hebat. Bisa bikin keluarga saya yakin secepat itu,” jawab Ryn.
Kylar melirik sekilas. “Itu sarkas?”
Ryn mengatupkan senyum. “Pujian, Pak.”
Kylar hanya mendelik tipis. Tidak puas, tapi juga tidak memperpanjang. Mobil melaju dalam keheningan malam.
Bagaimana tidak hening? Ini sudah hampir tengah malam. Kota mulai sepi, dan Ryn duduk di samping orang yang pagi tadi masih dia panggil bos, sekarang jadi suami.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan yang lebih tenang dan lebih mahal.
Tepat saat keluar mobil, Ryn menelan ludah. Rumah Kylar berdiri gagah, minimalis, dan elegan. Lalu matanya turun ke lantai bawah, ke area parkir yang terbuka seperti garasi kaca.
Ryn terpaku. Di sana berjejer mobil sport yang mengilap, motor besar seperti Harley dengan bodi kokoh, dan satu-dua kendaraan yang Ryn bahkan tidak tahu namanya.
Ini rumah atau showroom?
“Bapak tinggal sendiri di sini?” tanya Ryn akhirnya, bukan karena kepo, tapi karena membayangkan tinggal dengan mertua kaya raya itu biasanya penuh drama.
Kylar meliriknya sekilas. “Kenapa? Kamu takut tinggal sama mertua?”
Ryn tersedak kecil. Kenapa Kylar bisa membaca pikirannya?
“Bukan begitu, Pak. Saya cuma memastikan,” kilah Ryn kemudian.
“Tidak usah banyak tanya.” Kylar berjalan duluan, dan Ryn mengikutinya.
Begitu mereka masuk, pintu dibukakan oleh seorang perempuan paruh baya dengan seragam rapi. Dia adalah kepala ART di rumah Kylar, sosok senior yang banyak mengetahui soal keadaan keluarga Ashwara.
“Selamat malam, Tuan,” sambut wanita itu sopan.
Kylar mengangguk singkat. “Malam, Bu Ratna.”
Ryn langsung menangkap sesuatu dari cara Kylar menyebut namanya. Bukan hangat, tapi terhormat. Seperti Kylar memang terbiasa menjaga jarak bahkan pada orang yang mengurus rumahnya.
Ratna lalu melirik ke belakang Kylar, tepat ke arah Ryn. “Ini siapa?” tanyanya hati-hati.
“Istri saya,” jawab Kylar.
Ratna membelalakkan mata, tapi hanya sepersekian detik. Lalu kembali profesional, seakan matanya tidak barusan mengalami kejutan.
“Selamat malam, Nyonya,” ucap Ratna cepat, membungkuk sopan.
Ryn refleks membalas, “Malam …”
Kylar menoleh ke Naufal yang baru masuk membawa koper Ryn.
“Kopernya bawa ke atas,” perintah Kylar. Dan dibalas anggukan dari Naufal.
Kylar melangkah naik ke lantai atas, dan Ryn mengikutinya. Mereka melewati koridor yang luas, wangi rumah yang bersih, sunyi yang rapi, serta beberapa lampu dinding yang redup tapi jelas tidak murah.
Kylar berhenti di depan sebuah pintu. Dia membukanya tanpa ragu. “Kamu tidur di sini.”
Ryn melangkah masuk lalu berhenti di ambang. Kamar itu besar, rapi, maskulin.
Sisi kiri ada meja dengan laptop. Di sudut ada rak buku dan jam tangan yang ditata. Di dalam walk-in closet, Ryn bahkan bisa melihat kemeja-kemeja putih dan jas yang tersusun rapi.
Ryn menoleh pelan ke Kylar. “Ini kamar saya? Tapi, kok banyak barang-barang Bapak?”
“Karena ini kamar saya juga,” sahut Kylar tak acuh.
Ryn membeku. Bibirnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Dia butuh dua detik penuh untuk memastikan dia tidak salah paham.
“Maksudnya kita satu kamar?” tanya Ryn memastikan.
Kylar mengangkat alis tipis. Lalu menjawab tenang, “Mana ada suami istri yang kamarnya terpisah?”