Bab 2

: Menawarkan Kesepakatan

Menikah minggu depan?!

Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’

Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.

Pun, Ryn juga merasa semua ucapan bosnya terdengar seperti dialog teater yang gila. Jauh dari bagaimana Kylar biasa bicara.

Jihan tertawa kecil, suara tawanya tipis dan tajam seperti gesekan kaca. “Terus mana cincinnya? Jangan ngawur kamu!”

Ryn merasakan udara berubah dingin.

Oh. Ini bukan sekadar drama perjodohan. Ini perang keluarga kelas premium.

Kylar mengangkat alis, seolah pertanyaan itu terlalu standar.

“Cincin itu aksesoris,” kata Kylar tanpa ekspresi. “Yang penting keputusan. Dan aku sudah ambil keputusan.”

Jihan mengerjap. “Kylar–”

Perempuan itu ingin melawan, tapi tidak bisa. Akhirnya, dia kembali menatap Ryn sekali lagi. “Kamu! Kamu ini siapa sebenarnya?”

Ryn hampir refleks memperkenalkan diri lengkap dengan NIK, jabatan, dan slip gaji terakhir. Namun Kylar lebih cepat.

“Sudah kubilang dia calon istriku.”

Ryn menelan ludah keras mendengar itu.

Jihan tampak seperti orang yang baru saja dipukul oleh kenyataan. “Kamu jangan bercanda, Kylar!”

Kylar memiringkan kepala, tatapannya setenang air. “Kalau aku sudah melamarnya, berarti aku serius. Kenapa masih diperdebatkan?”

Ryn ingin batuk. Ingin protes. Ingin menjelaskan bahwa dia tidak ikut audisi jadi calon istri CEO. Namun, dia memilih diam. Karena satu kata saja dari mulutnya bisa mengubah seluruh arah hidupnya, dan mungkin juga gajinya.

Jihan menatap Kylar lama. Lalu, pelan, bibirnya melengkung. Bukan senyum, lebih mirip peringatan.

“Kalau begitu,” ucap Jihan manis tapi berbahaya, “kita lihat saja seberapa lama perempuan ini bertahan. Dan jangan kamu pikir keluargaku akan diam melihat semua ini.”

Ryn merasakan punggungnya merinding. Nada bicara itu terlalu lembut untuk sebuah ancaman, dan justru karena itulah terasa lebih mengerikan.

“Silakan. Aku malah berharap kamu mencoba,” tantang Kylar tidak bergeming.

Dan kali ini, Ryn benar-benar sadar, bosnya tidak sedang main-main. Ini bukan akting. Ini keputusan yang akan menyeret namanya masuk ke tengah keluarga Ashwara.

Begitu Jihan melangkah menjauh, Ryn langsung menegakkan punggungnya.

“Pak, maaf, saya permisi,” pamit Ryn dengan senyum karyawan yang sudah dilatih bertahan hidup.

“Mau ke mana?” Kylar menoleh. “Kita belum selesai.”

“Kalau soal tadi, saya minta maaf. Saya minta maaf karena bolos di jam kerja. Dan saya juga minta maaf karena sudah menguping pembicaraan Bapak,” cicit Ryn.

Lebih baik minta maaf duluan daripada dipecat. Itu hukum tidak tertulis dunia kerja. Walaupun idealnya, Kylar juga seharusnya minta maaf karena dengan santainya mengakui Ryn sebagai tunangannya.

Namun, ada satu peraturan lain yang juga tidak tertulis di hampir semua perusahaan, yaitu bos selalu benar, dan karyawan selalu salah.

Kylar menatap Ryn dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk disebut ramah. “Saya maafkan. Tapi dengan satu syarat.”

Tentu saja ada syarat. Hidup tidak pernah gratis.

“Syarat apa, Pak?” tanya Ryn. Nadanya masih terjaga, meski bahunya menegang tipis.

Kylar tidak langsung menjawab. Dia hanya mengunci Ryn dalam tatapan hitam yang stabil. Tatapan orang yang sudah memutuskan hasil akhir sebelum rapat dimulai.

“Kita menikah.”

Ryn terdiam beberapa detik. Waktu yang cukup untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar, tidak sedang bermimpi, dan tidak berada di tempat lain selain kantor.

Lalu tawa kecil lolos dari bibir berlipstik nude itu. Refleks murni. Tidak profesional, tapi manusiawi.

Kylar menatapnya. “Memang lucu?”

“Maaf, Pak. Saya kira Bapak sedang bercanda,” jawab Ryn cepat. Tawanya menguap begitu saja saat dia melihat wajah Kylar. Tidak ada senyum. Tidak ada jeda malu.

Dan di titik itu, Ryn tahu, ini bukan lelucon, tapi keputusan. Dia langsung menundukkan kepalanya. Dari luar dia boleh tampak tenang. Tapi, dari dalam, kesabarannya sedang diuji oleh Tuhan, semesta, dan sistem korporasi.

“Saya serius,” ungkap Kylar tenang, tidak, lebih tepatnya tegas dan serius.

Ryn mendadak berkedip cepat melihat perubahan bosnya. Dia langsung mengangguk kecil. Refleks bawahan yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk tidak membantah duluan. “M–maaf, Pak.”

“Ikut ke ruangan saya. Sekarang,” tandas Kylar. Lalu dia berlalu begitu saja, tanpa menunggu persetujuan, seolah keputusan Ryn tidak termasuk variabel yang perlu dipertimbangkan.

__

“Kita menikah kontrak selama dua tahun. Saya pikir kita berdua membutuhkan pernikahan ini.”

Kylar menyandarkan punggungnya, lalu memulai seolah sedang membuka presentasi. Tidak ada nada main-main, tidak ada dramatisasi. Hanya nada orang yang terbiasa membuat keputusan dan menganggap semua orang cukup cerdas untuk mengikuti.

Kini mereka sudah duduk berhadapan di sofa ruang kerja CEO, di lantai yang sama dengan rooftop.

“Tidak, Pak. Saya tidak butuh,” jawab Ryn, berusaha tenang.

“Yakin?” Kylar bertanya ringan.

Tapi di telinga Ryn, itu terdengar mengintimidasi.

Ryn tahu betul maksudnya. Bosnya ini tidak sedang meragukan jawaban Ryn semata. Kylar sedang menyinggung hal yang sejak pagi sudah menempel di kepalanya, yaitu pernikahan calon mantan suami dan sahabatnya.

Beginilah nasib bekerja di Ashwara Culinary Group. Arus listrik saja kalah cepat dibanding gosip.

Andy memang bekerja di kantor pusat Ashwara Group. Secara teori, drama pribadinya seharusnya berhenti di sana. Namun teori jarang bertahan lama di perusahaan sebesar ini, apalagi jika melibatkan mantan calon pengantin, sahabat yang menikah, dan kisah gagal yang terlalu menarik untuk dibiarkan tenggelam.

Kylar tentu tahu. Bukan karena ikut nimbrung di pantry, melainkan karena hampir tidak ada kabar yang benar-benar lolos dari radar Bosszilla.

Apalagi Acha dan Ryn berada di gedung yang sama. Tentu saja gosip akan secepat kilat menyebar.

Ryn menelan ludah. “Yakin, Pak.”

Namun, keyakinan itu juga tipis. Ryn masih ingat wajah Acha tadi pagi saat menyerahkan undangan dengan senyum tipis yang terlalu puas untuk disebut tulus. Seolah Acha menang bukan hanya karena menikah, tapi karena menikah dengan pria yang seharusnya menjadi milik Ryn.

Bohong kalau Ryn tidak ingin membalas. Bohong juga kalau dia tidak sakit hati.

Empat tahun Ryn bersama Andy. Sementara Acha adalah sahabatnya sejak SMA. Orang yang dulu tahu semua kebiasaan Ryn, semua ketakutan Ryn, bahkan semua lelucon receh Ryn. Sekarang orang itu yang menikah dengan Andy.

Dan Ryn yang ditinggal, masih harus kerja seperti biasa, senyum seperti biasa, pura-pura baik-baik saja seperti biasa.

“Kalau yakin,” suara Kylar kembali masuk, memotong lamunan Ryn tanpa ampun, “kenapa kamu belum pergi?”

Bab 3

: Kita Menikah Hari Ini!

Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.

“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.

Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.

Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.

“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.

Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?

“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”

Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.

Ryn sedikit terkejut.

“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.

Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!

Kylar berdecak pelan, lalu berkata dengan malas, “Jadi, kamu minta waktu untuk berpikir atau cek ponselmu?”

Ryn menelan ludahnya, lalu menjawab, “Saya cek ponsel saja, Pak.”

Kalau dia memilih itu, artinya dia juga bisa punya sedikit waktu tambahan untuk menata pikirannya sendiri, kan?

Bagus, ide yang bagus, Ryn!

Kylar menatap jam tangan mahalnya. “Tiga menit.”

Ryn mengangguk cepat. Dia merogoh ponsel dari saku blazer dengan gerakan secepat kilat.

Namun, ternyata itu bukan panggilan atau pesan soal pekerjaan. Melainkan pesan haram yang bisa membuat nyawa Ryn berkurang satu bar.

Pesan pertama dari Acha, lengkap dengan foto.

[Gaun pengantin ini ternyata lebih cocok buat aku daripada kamu.]

Ryn menatap layar itu beberapa detik terlalu lama. Dia tahu gaun itu. Dia memilihnya untuk pernikahannya dengan Andy. Dan sekarang gaun itu dipakai Acha dengan bangga, lalu dijadikan bahan ejekan.

Ryn mengembuskan napas kasar lewat hidung. Kepalanya panas, tapi menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.

Pesan kedua dari Dini, ibu angkatnya.

[Ryn. Kamu itu gimana sih?! Cicilan pinjol telat. Kamu sengaja ya bikin Mama malu?! Tetangga pada ngelihatin debt collector datang ke rumah kita. Nggak tahu diri memang kamu!]

Napas Ryn tercekat.

Ini bukan sekadar marah. Ini ancaman yang dibungkus rasa malu, rasa bersalah, dan kebiasaan lama mereka. Melempar semua beban ke Ryn, lalu menyuruhnya bersyukur karena masih dianggap keluarga.

Selama ini, Ryn memang tinggal dengan keluarga angkat yang tidak pernah benar-benar menganggapnya keluarga. Dia tidak hanya diberi atap dan piring makan, tapi juga diberi beban, tuntutan, dan rasa bersalah tiap kali dia tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.

Ryn menatap pesan itu tanpa berkedip.

Kalau saja Ryn menikah dengan Andy, mungkin dia tidak perlu lagi tinggal di rumah itu. Cicilan memang tidak otomatis hilang, tapi setidaknya dia tidak harus menghadapi kemarahan keluarga angkatnya setiap hari.

Ryn menelan ludah. Tangannya mengencang menggenggam ponsel. Tahu begitu, dia tidak perlu cek ponselnya saja tadi.

“Selesai.” Suara Kylar dingin, tidak sabar. “Silakan keluar.”

Ryn mengangkat kepala. Ketika bertemu iris hitam Kylar yang stabil, Ryn tiba-tiba sadar, mungkin pernikahan kontrak ini bukan ide gila.

Mungkin ini satu-satunya jalan keluar yang masuk akal dari hidupnya yang belakangan terasa seperti kubangan.

Ryn menarik napas dalam.

Lalu, dengan sopan yang tetap terjaga walau hidupnya sudah hampir runtuh, Ryn berkata, “Boleh saya lihat kontraknya dulu, Pak?”

Kylar mengangguk. Tidak terkejut. Seolah dia sudah tahu Ryn akan sampai ke titik ini. Dia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu dengan kecepatan yang menyebalkan.

“Cek e-mail kamu,” suruhnya.

Ryn mengerjap, cepat sekali pria ini bertindak. Dia membuka ponsel, lalu membacanya pelan.

Pernikahan kontrak selama dua tahun. Kompensasinya bonus dan kenaikan gaji 20%. Ryn harus tampil sebagai istri Kylar di depan keluarga dan publik kalau dibutuhkan. Satu atap tanpa perasaan. Dan kalau ada yang melanggar, dendanya 200 juta rupiah.

Ryn menatap angka itu agak lama. Bukan karena terharu, tapi karena sadar ini bukan lagi kesepakatan main-main. Ini kontrak yang kalau dilanggar bisa mengubah hidupnya jadi cicilan tanpa ujung.

Secara garis besar, Ryn sebenarnya tidak dirugikan. Dia mendapat bonus dan kenaikan gaji. Dia punya alasan legal untuk keluar dari rumah keluarga angkatnya tanpa drama panjang.

Lalu, secara tidak langsung, dia juga bisa balas dendam pada Acha dan Andy. Secara, suaminya adalah bos mereka semua.

Soal perasaan? Itu tidak sulit.

Ryn tidak mungkin jatuh cinta pada bos yang menyebalkan, suka mengatur, dan bicaranya setajam silet.

Lagipula, bukankah memang ada kabar bahwa Kylar tidak tertarik pada perempuan?

Kalau rumor itu benar, kontrak ini justru aman.

Selesai membaca, Ryn mengangkat kepala.

Ryn menghela napas, lalu berkata dengan nada tenang yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, “Saya setuju.”

Kylar tidak terlihat lega. Dia hanya mengangguk kecil, seperti baru saja menyelesaikan rapat vendor.

“Tanda tangani sekarang,” perintah Kylar lugas.

Ryn menurut. Dia membubuhkan tanda tangan digital di dokumen itu dengan jemari yang sedikit gemetar, tapi dia memaksa tetap stabil.

Begitu selesai, Kylar berkata tiba-tiba, tanpa transisi, “Kita menikah hari ini.”

Ryn mendongak cepat. “Hari ini?! Saya kira minggu depan?”

“Kalau bisa diselesaikan hari ini, kenapa harus ditunda?” ucap Kylar tenang, tapi terdengar seperti menegur staf yang salah input angka.

Ryn menatap jam di dinding. “Pak, ini sudah sore. KUA rasanya sudah tutup.”

Kylar bersandar lagi. “Gampang.”

Tanpa menunggu reaksi Ryn, Kylar berdiri dan menekan tombol interkom di mejanya untuk memanggil asisten pribadinya.

Pintu terbuka. Naufal muncul dengan tablet di tangan dan wajah profesional yang selalu berhasil membuat ruangan terasa seperti ruang sidang.

“Ada apa, Pak?” tanya Naufal sopan.

Kylar duduk kembali dengan tenang, lalu berkata seolah sedang memesan makan malam. “Siapkan dokumen pernikahan saya. Hari ini.”

Naufal berkedip. Satu kali. Dua kali. Wajahnya tetap profesional, tapi matanya jelas baru saja mengalami benturan kenyataan.

“… Dokumen pernikahan? Untuk siapa, Pak?”

“Saya.”

Naufal menelan ludah. “Dengan siapa, Pak?”

Kylar melirik ke arah Ryn sebentar, lalu kembali ke Naufal. Suaranya tetap datar, seolah ini instruksi paling normal sedunia.

“Dengan wanita di depanmu itu.”

Bab 4

: Pernikahan Kilat

“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.

Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap di sana, padahal seharusnya kantor itu sudah tutup.

Di kepala Ryn, hanya ada satu kalimat, ‘bosnya benar-benar gila’.

Kylar berdiri di sampingnya, rapi, tenang, dan sama sekali tidak tampak seperti pria yang baru saja mengganti status hidup seseorang dalam waktu kurang dari dua jam.

Kylar menoleh sekilas. “Serius.”

Ryn menatap buku nikah itu lagi, seperti berharap tulisan di dalamnya mendadak berubah jadi struk belanja minimarket.

Perempuan itu mulai melirik halaman KUA yang mulai sepi. Motor lewat, orang-orang keluar masuk, semuanya tampak normal.

Tidak ada yang tahu Ryn baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya disiapkan enam bulan, bukan enam menit.

“Kalau nanti orang kantor tanya tentang suami saya bagaimana?” tanya Ryn. Dia tidak mungkin menyebut nama Kylar sebagai suaminya. Di Ashwara Culinary Group, menikah dengan orang sekantor jelas dilarang.

Kylar menoleh, tatapannya dingin tapi fokus. “Jawab saja dengan seseorang.”

Ryn melotot. “Pak, itu malah bikin penasaran.”

“Itu bagus,” kata Kylar datar dan langsung membuat Ryn semakin membelalakkan matanya.

“Bagus apanya, yang ada gosipnya malah makin lebar,” gerutu Ryn spontan, pelan nyaris seperti bisikan karena kesal dengan jawaban bosnya.

“Setidaknya, target gosipnya sudah berpindah,” balas Kylar santai, matanya fokus pada ponsel.

Mendengar itu, Ryn menatap Kylar tak percaya.

Dia mendengarnya?

Ryn memejamkan mata sebentar. Menyebalkan.

Tapi, setelah dipikir-pikir, ucapan Kylar ada benarnya juga. Akhirnya, gadis itu hanya bisa berdecak kesal. Makin merasa kesal karena ucapan bosnya yang menyebalkan itu terasa masuk akal.

“Sekarang ke rumah kamu dulu. Ambil barang, sekalian minta izin. Lalu ke rumah saya,” ucap Kylar tiba-tiba.

Dan saat kalimat itu jatuh, Ryn sadar satu hal, mental yang dia pikir sudah dia siapkan, ternyata sama sekali belum siap. Dia bukan hanya menikah. Dia juga akan tinggal satu atap dengan Kylar Ashwara Putra.

Kylar baru melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Kita beli cincin dan foto pernikahan dulu.”

Ryn mematung. “Foto?”

Untuk apa?

Ryn kira hanya dengan buku nikah dan tanda tangan saja selesai.

Kylar mengangguk singkat. “Kalau kita cuma punya status tanpa bukti visual, keluarga saya akan mencium kebohongan.”

Tanpa menunggu jawaban, Kylar sudah berjalan menuju mobil yang menunggu di parkiran.

Ryn berdiri di tempatnya beberapa detik, memegang buku nikah seperti memegang bukti bahwa hidupnya baru saja belok tajam tanpa sein.

Lalu, dengan napas berat, dia menyusul. Karena apa pun yang baru saja terjadi, dia sudah resmi terjebak.

__

“Okay! Masnya berdiri di kanan, Mbaknya di sampingnya. Nah, bagus. Senyum!” Fotografer memberi arahan.

Setelah membeli cincin, dan memilih gaun pengantin dengan proses secepat kilat, Kylar langsung menyeret Ryn ke studio foto. Kata ‘menyeret’ di sini bukan kiasan, karena Ryn benar-benar merasa hidupnya dibawa lari tanpa sempat negosiasi.

Ryn berdiri dengan gaun putih yang masih terasa asing di tubuhnya. Tangannya bingung mau ditaruh di mana. Di depan? Di samping? Di pinggang? Akhirnya dia pilih yang paling aman: di sisi gaun, pura-pura menahan kain.

Kylar berdiri di sebelahnya seperti orang yang datang ke rapat penting, bukan sesi foto pernikahan dadakan.

“Sekarang pose yang romantis ya. Mas rangkul pinggang Mbaknya.” Fotografer memberi arahan lagi.

Ryn refleks menahan napas.

Oke. Ini dia. Momen yang tidak ada di kontrak. Atau mungkin ada, tapi Ryn belum sempat membacanya dengan mental siap.

Ryn baru mau melangkah sepersekian sentimeter menjauh, ketika Kylar lebih cepat. Tangannya langsung mendarat di pinggang Ryn.

Ryn mencoba menggeser tubuh pelan. Sengaja pelan supaya tidak terlihat seperti menolak. Kylar mengikuti gerakannya, merapat lagi.

Ryn menggeser lagi. Kylar merapat lagi.

Fotografer malah makin semangat. “Wah, natural banget! Bagus! Terus gitu ya, dekat-dekat!”

Kylar menunduk sedikit, suaranya rendah. “Kamu itu kenapa? Kamu mau foto ini kelihatan seperti saya maksa kamu?”

Ryn membeku sepersekian detik, tapi tidak sempat protes karena fotografer langsung menembak kamera bertubi-tubi.

“YESSS! Bagus! Nah, senyum! One … two … three!”

Klik. Klik. Klik.

Ryn memaksa senyum, tapi rahangnya mulai pegal. Di sisi lain, Kylar justru terlihat nyaman. Sangat nyaman.

Saat fotografer sibuk mengecek hasil, Ryn melihat tangan Kylar masih berada di pinggangnya. “Pak Kylar, tangan Bapak bisa turun sekarang.”

Kylar menatapnya, datar. “Kenapa? Kamu takut?”

Ryn menahan senyum. “Saya takut dituduh melecehkan bos.”

Kylar mengangkat alis. “Sekarang saya suami kamu.”

Ryn hanya bisa menarik napas, karena dia tahu, tidak ada kalimat bantahan untuk itu.

Begitu sesi itu selesai, Ryn mundur setengah langkah, dan merapikan gaunnya.

“Saya ganti gaun dulu ya, Pak,” ujar Ryn sopan, yang dibalas mengangguk singkat.

Ryn berbalik menuju ruang ganti dengan langkah cepat, tapi ujung sepatu Kylar menginjak ekor gaunnya.

“Aaaa!”

Ryn tersentak. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tumitnya terpeleset sedikit, dan selama sepersekian detik, dia benar-benar yakin akan jatuh dengan cara paling memalukan di depan seluruh studio.

Namun, sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, tangan Kylar sudah menahan punggungnya.

Ryn berhenti tepat di ambang jatuh. Tubuhnya miring, terjebak di antara udara, dada Kylar, dan jarak di antara mereka mendadak terlalu dekat untuk ukuran hubungan kontrak.

Kylar menunduk sedikit. Ryn mendongak. Dan untuk sesaat, semuanya terasa sunyi, meski studio masih ramai.

Wajah Kylar terlihat jelas dari jarak itu.

Ryn baru sadar, bosnya bukan hanya menyebalkan. Bosnya juga tampan dengan cara yang tidak perlu, seolah Tuhan sengaja menambah fitur bonus supaya hidupnya makin sulit.

“Kamu itu kenapa?” tanya Kylar.

Ryn menelan ludah, lalu menggeleng pelan. “M–Maaf, Pak.”

Dia cepat-cepat berdiri tegak lagi, menjauh setengah langkah, lalu mengembalikan jarak aman sebelum otaknya mulai berkata macam-macam.

Kenapa Kylar Ashwara Putra terlihat sangat tampan dari jarak sedekat itu?

Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya