Bab 5

CIIIIIIT!

Mobil berhenti mendadak dengan jarak hanya beberapa sentimeter dari bodi bus yang gila itu. Guncangannya cukup keras karena pengereman darurat.

Tubuh Nona Claudia terlempar ke depan karena dia tidak memakai sabuk pengaman dengan benar, tapi untungnya airbag tidak meledak.

Namun, karena panik dan ketakutan setengah mati melihat bemper bus di depan matanya, Nona Claudia secara insting mencari pegangan.

Dan pegangan terdekat adalah aku.

"Mamaaa!!!" jeritnya sambil melemparkan tubuhnya ke arahku.

Kedua tangannya memeluk lengan kiriku erat-erat, wajahnya dibenamkan ke bahuku. Dan yang membuat napasku tercekat seketika bukan karena hampir tabrakan, melainkan sensasi bantalan empuk yang menghantam lengan atasku.

Dada Nona Claudia yang sintal dan padat di balik crop top ketat itu menekan telak otot bisepku. Rasanya begitu lembut, kenyal, dan hangat, apalagi guncangan mobil tadi membuat posisinya semakin menekan ke dalam, seolah dia berusaha menyatukan tubuhnya denganku saking takutnya mati muda.

"Non... Nona..." panggilku kaku, seluruh ototku menegang, termasuk otot di antara kedua pahaku yang langsung bereaksi keras terhadap stimulus dadakan ini.

"Sudah aman, Non. Nggak kena, kok, kita masih idup.”

Nona Claudia tidak melepaskan pelukannya. Dia justru semakin erat meremas lenganku, isak tangis ketakutan mulai terdengar.

Dari sudut pandangku yang menyamping, aku bisa melihat belahan dadanya yang tertekan di lenganku, kulitnya yang putih mulus terlihat begitu menggoda iman.

"Aduh, mati aku," batinku putus asa. "Kalau begini terus, bisa-bisa rem tangan mobil bukan satu-satunya batang yang menegang di mobil ini."

Detik demi detik berlalu, namun pelukan eratnya di lengan kiriku tak kunjung lepas.

Kalau saja situasi ini terjadi di kondisi normal, mungkin si Gatot sudah meledak kegirangan dan syukuran tujuh hari tujuh malam. Tapi masalahnya, nyawaku baru saja hampir melayang diseruduk bus kota.

"Non, Nona Claudia, Nona tidak apa-apa?" panggilku lagi, kali ini sedikit menggoyangkan lenganku pelan karena rasanya darah di tangan kiriku sudah mulai berhenti mengalir saking eratnya dia memeluk.

Perlahan, Nona Claudia mengangkat wajahnya dari bahuku.

Matanya yang sedari di rumah tadi menatap sinis dan penuh hinaan, kini terlihat bulat sempurna, basah oleh air mata, dan menyiratkan ketidakpercayaan.

Sadar akan posisinya yang terlalu intim dengan sopir kampung yang baru saja dia hina, Nona Claudia tersentak kaget. Dia langsung melepaskan pelukannya dan memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak pintu mobil.

"Lo... lo nggak apa-apaian gue kan?!" tuduhnya panik sambil menyilangkan tangan menutupi dadanya, mekanisme pertahanan diri tsundere-nya langsung aktif kembali.

Aku menghela napas panjang, berusaha menetralkan degup jantung dan rasa nyeri nikmat di bawah perut. "Ya ampun, Non. Tangan saya dari tadi di setir sama rem tangan. Nona sendiri yang loncat meluk saya kayak koala. Kalau saya lepas tangan buat apa-apain Nona, kita udah jadi rempeyek di kolong bus tadi. Mau Nona digeprek sama bemper bus?"

Nona Claudia terdiam, jelas sekali kalau dia ingin memakiku, tapi fakta bahwa aku baru saja menyelamatkan nyawanya dengan refleks tingkat dewa. Dia tahu betul, sopir amatir pasti akan panik dan membanting setir sembarangan atau malah telat ngerem.

Tapi aku, Rafli si anak desa, berhasil menghentikan mobil ini dengan presisi milimeter.

"Hmm... oke, thanks ya. Abis ini lo balik aja, awas aja kalau lo cerita-cerita soal gue teriak tadi ke Mama atau kakak gue. Sumpah, gue potong lidah lo!"

Sepanjang sisa perjalanan menuju kampus, Nona Claudia tak lagi banyak bicara atau main ponsel.

Sesekali aku menangkap basah dia sedang melirikku lewat ekor matanya, menatap lengan kiriku yang tadi jadi bantal daruratnya, lalu beralih menatap wajahku dengan tatapan menilai yang berbeda.

Setelah menurunkan Nona Claudia di lobi kampus, yang disambut tatapan heran teman-temannya karena dia turun dari mobil dengan wajah merah, aku langsung tancap gas pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, tubuhku sudah basah kuyup oleh keringat. Seragamku yang sudah terasa lengket di punggung, rasanya tidak nyaman sekali.

"Gila, kerja di sini ujiannya berat banget. Fisik diuji, batin disiksa, 'si Gatot' diajak rollercoaster," gerutuku sambil memarkirkan mobil di garasi.

Aku berjalan menuju area belakang dengan langkah gontai, berniat mandi secepatnya untuk mendinginkan kepala dan tubuh yang rasanya mau meledak ini.

Namun, sesampainya di area servis belakang, aku mendapati pemandangan yang bikin elus dada.

Kamar mandi khusus pelayan yang letaknya di pojok dekat tempat cuci baju itu pintunya terbuka lebar, dan di dalamnya penuh tumpukan ember berisi rendaman gorden-gorden tebal milik Nyonya Alika.

"Waduh, Mbak Inem lagi nyuci gorden besar-besaran rupanya," keluhku.

Mbak Inem, asisten rumah tangga yang pulang-pergi, ternyata bekerja setiap hari Rabu untuk mencuci dan menjemur seluruh pakaian.

Mau menunggu Mbak Inem selesai, bisa-bisa aku jamuran. Lagipula, badanku sudah gatal dan lengket bukan main.

Tiba-tiba, otak udangku teringat sesuatu. Ada satu kamar mandi lagi di lantai bawah, letaknya di dekat dapur bersih dan ruang keluarga.

Itu kamar mandi tamu yang jarang dipakai.

"Aman lah ya, Nona Sora pasti lagi sibuk zoom meeting di kamar atas. Numpang mandi bentar doang nggak bakal ketahuan," pikirku polos, merasa ide itu adalah ide paling brilian sedunia.

Tanpa pikir panjang dan tanpa mengetuk karena yakin rumah kosong. Aku kemudian mendorong pintu itu sambil bersenandung pelan.

"Ah, enaknya mandi pas badang leng–“ Namun, kalimatku terputus di tengah jalan saat kulihat seorang gadis berdiri di depan westafel kaca dengan tubuh hanya dililit handuk.

Bab 6

“Pu-putih, mulus, agak ramping, da-dan sedikit tepos! Ta-tapi, punggungnya bagus banget, sumpah, i-ini bidadari apa gimana? Tapi kok bidadari agak mungil kayak botol yakult?”

Nona Sora menunduk sedikit, satu kakinya dinaikkan ke atas kursi kecil berlapis beludru, sementara tangannya sibuk mengoleskan body lotion ke betisnya yang jenjang dan mulus bak pualam.

“Waduh Gusti… ini mata saya yang salah lihat atau memang bidadari lagi turun mandi? Kulitnya itu lho, merah-merah muda kayak bayi baru lahir, emang sih belahannya ga segede kakaknya, ta-tapi…”

Gerakan tangannya yang lambat dan sensual saat meratakan krim putih itu dari pergelangan kaki naik ke betis, lalu ke lutut, dan terus naik ke paha bagian belakang yang sedikit terekspos karena handuknya terangkat, benar-benar pemandangan yang sanggup meruntuhkan iman ustad sekalipun, apalagi iman sopir sepertiku.

Aku terpaku di ambang pintu, tangan masih memegang gagang pintu yang terbuka setengah.

Otakku memintaku untuk lari, tapi kakiku seolah dipaku ke lantai, dan mataku menolak berpaling dari pemandangan surga dunia di depan sana.

“Sumpah mati, iri kali aku sama krim putih yang lagi dia olesin itu. Krim itu beruntung banget bisa nempel, lumer, terus diratain tangan halusnya dari betis naik ke paha. Ah, sial, kenapa tangannya kenapa harus pelan banget sih geraknya?

Si Gatot yang tadi sempat tenang di perjalanan pulang, kini langsung bangun tegak, memberi hormat ala militer pada pemandangan indah di depannya.

Mungkin karena merasakan hembusan angin dingin dari pintu yang terbuka, atau mungkin insting wanitanya merasakan ada sepasang mata lapar yang sedang menelanjanginya, gerakan tangan Nona Sora tiba-tiba berhenti.

Dia menoleh perlahan ke arah cermin besar di depannya.

Dan di sana, di pantulan cermin yang sedikit berembun itu, mata kami bertemu. Mata bulat Nona Sora melebar kaget saat melihat sosok laki-laki berdiri di belakangnya dengan mulut ternganga.

"AAAA...!!!"

Mulut Nona Sora terbuka untuk menjerit.

Sadar kalau jeritan itu bisa memanggil Mbak Inem dan membuatku berakhir dipecat, refleksku kembali bekerja lebih cepat dari otakku.

Aku melompat masuk ke dalam kamar mandi, membanting pintu hingga tertutup kembali, lalu menerjang ke arah Nona Sora.

"Sssshhh!!! Jangan teriak, Nonaa, Ini saya, Ramli!" bisikku panik sambil membekap mulut mungilnya dengan telapak tanganku yang besar dan kasar.

Tubuh kami bertabrakan.

Nona Sora meronta kaget, membuat lilitan handuknya yang memang sudah longgar itu melorot sedikit di bagian dada, memperlihatkan belahan dadanya yang putih mulus dan lembab.

Kami terkunci di dalam kamar mandi sempit yang penuh uap mawar.

Aku membekapnya dari belakang, sementara tubuh bagian depanku menempel rapat di punggungnya. Dan sialnya, si Gatot yang sedang keras-kerasnya itu menusuk tepat di bokongnya yang hanya terbalut handuk tipis.

Nona Sora berhenti meronta.

Matanya menatapku lewat pantulan cermin dengan napas memburu. Dia bisa merasakan dengan jelas benda keras yang mengancam di bagian belakang tubuhnya.

Tubuhnya menggeliat liar dalam kungkunganku, membuat gesekan antara tubuh kami semakin intens. Kulit punggungnya yang terekspos di atas garis handuk bergesekan dengan kancing seragamku, sementara bokongnya bergoyang gelisah tepat di area berbahaya.

Aku memejamkan mata, menahan desahan nikmat yang nyaris lolos dari tenggorokan.

Perlahan, aku membuka mata dan melihat pantulan kami di cermin besar yang berembun di depan sana. Dia melirik sedikit ke bawah, ke arah perutku yang menempel di punggungnya, lalu kembali menatap mataku.

Dia pasti merasakannya.

Dia pasti tahu ada sesuatu yang keras sedang menusuknya dari belakang.

Nona Sora mengangkat tangannya perlahan, lalu menyentuh pergelangan tanganku yang masih membekap mulutnya. Jari-jarinya yang halus dan hangat menggenggam tanganku, memberi isyarat lembut agar aku melepaskannya.

"J-jangan teriak ya, Non? Sumpah mati saya nggak niat ngapa-ngapain. Saya kira kamar mandinya kosong, saya cuma mau numpang mandi karena di belakang penuh," bisikku memohon tepat di samping telinganya, suaraku terdengar serak dan parau karena tenggorokan yang kering kerontang.

Nona Sora mengangguk pelan.

Begitu tanganku terlepas, Nona Sora tidak langsung berbalik.

"Kamu ngapain masuk sini?" tanyanya lirih.

"Anu, Non, i-itu, saya gerah banget habis nyuci mobil sama jemput Nona Claudia. Mau mandi di belakang, eh Mbak Inem lagi nyuci gorden. Saya pikir Nona Sora lagi kuliah di kamar atas, jadi saya inisiatif ke sini," jelasku terbata-bata.

"Mas Rafli, kamu tahu kan, kalau ini kamar mandi tamu? Kalau Mama atau Kak Shella tahu kamu di sini sama aku, nanti Mas Ramli dipecat gimana?"

"Non, tolong, jangan diaduin ya, saya masih butuh kerjaan ini buat pengobatan Emak di kampung," ratapku dengan wajah memelas paling maksimal.

"Boleh aja, aku nggak aduin," ucapnya pelan, lalu dia melangkah maju satu langkah kecil. Gerakan itu membuat ujung handuknya yang terselip di dada semakin longgar.

Dan benar saja, di depan mataku yang melotot nyaris keluar, lilitan handuk itu melorot turun sekitar lima sentimeter.

Pemandangan dua bukit putih yang menyembul malu-malu, dengan belahan yang dalam dan padat, terpampang jelas di depan mataku. “Mati aku, mati sumpah. Itu apa, yak! Itu beneran nggak sih? Putih, mulus, punel, kayaknya pas digenggaman tanganku. Sialan! Jadi tegang lagi si Otongku yang pemalu!”

Aku menelan ludah kasar, jakunku naik turun tak terkendali. "Non, i-itu, handuknya…”

Nona Sora justru terkikik geli melihat kepanikanku, getaran tawanya membuat rambut basah Nona Sora turun, menutup bahunya yang mulus. "Kenapa? Kamu nggak suka lihat kayak gini? Atau kamu pura-pura polos aja, Mas?"

"Bukan nggak suka, Non! Suka banget… eh, maksudnya, nggak boleh lihat! Pamali kalau pelayan kayak saya lancang lihat punya majikan!" ralatku cepat, meski mata keranjangku sama sekali tidak mau berpaling dari pemandangan indah itu.

Si Gatot di bawah sana rasanya sudah mau meledak, berdenyut-denyut sakit karena dipaksa menahan hasrat di depan bidadari yang baru saja selesai mandi uap.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah ruang tengah, diikuti suara hak sepatu yang mengetuk lantai marmer.

Tak!

Tak!

Tak!

"Sora? Kamu di mana? Ini Kakak bawain buah yang kamu titip tadi," suara Nona Shella terdengar samar-samar, semakin lama semakin dekat ke arah kamar mandi tamu.

Wajah Nona Sora berubah panik seketika.

Kami berdua terjebak.

Kalau Nyonya Alika membuka pintu ini dan melihat kami berdua, tamatlah riwayatku sebagai manusia.

Nona Sora buru-buru menahan handuknya dengan satu tangan di dada, lalu matanya melirik ke sekeliling kamar mandi yang sempit itu. Tidak ada tempat sembunyi di kamar mandi ini, dan hanya ada shower box kaca transparan dan wastafel.

"Kunci pintunya!" perintah Nona Sora berbisik tajam.

Aku yang panik langsung memutar kunci slot pintu dengan tangan gemetar. Tepat sedetik kemudian, gagang pintu bergerak diputar dari luar.

Klik!

"Lho? Bentar? Siapa yang di kamar mandi tamu? Apa Sora ada di sana, yaa?” Nona Shella tampak kebingungan dan dia berdiri, tepat di depan pintu.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B83038" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B83038
Salin

Dimanja Tiga Majikan Cantik

Bab 5
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya