Bab 1
"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Menemani tiga anak gadis majikanku yang cantik dan masih bujang, siapa yang menolak. Tapi, statusku yang hanya pelayan biasa, membuatku direndahkan. Sampai akhirnya mereka tahu diriku yang sebenarnya, mereka memohon-mohon untuk jadi wanitaku.
"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui.
Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore.
Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya.
Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah.
Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap.
Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat.
Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… Iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan.
Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika.
Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
Bab 2
Jantungku rasanya mau copot dan melompat keluar lewat tenggorokan saking kagetnya.
“Jangkriikkk! Kok bisa aku nginjek ranting gini. Sumpah, aku kalau ketahuan, pasti aku dipecat. Asem, gimana ini, pliss otakku ayo mikir, jangan dulu pindah dari kepala ke bawah perut!”
Namun, di tengah kepanikan itu, otak udangku tiba-tiba bekerja dengan cara yang ajaib.
Aha!
Aku menemukan ide.
Alih-alih lari terbirit-birit yang justru bakal bikin curiga, aku justru memutuskan untuk melakukan hal paling bodoh yang bisa terpikirkan oleh manusia normal.
Aku menguap lebar-lebar, "Hoooaaahhhmm...".
Lalu aku juga pura-pura menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali, tapi tujuan utamaku adalah biar rambutku kelihatan berantakan, seperti natural aja bangun tidur.
Dengan gerakan lambat yang dibuat-buat, aku berjalan menyeret kaki mendekati area mobil, seolah-olah aku tidak melihat apa pun yang terjadi di dalam sedan mewah itu.
Ekor mataku yang nakal sempat menangkap pergerakan panik dari dalam mobil.
Bayangan pria yang tadi memangku Nona Shella terlihat meluncur turun ke bawah dashboard secepat kilat, bersembunyi di balik setir kemudi seperti maling ayam yang kepergok warga. Sementara itu, pintu mobil terbuka dengan kasar.
Nona Shella keluar dengan napas yang masih memburu hebat.
"Ka-kamu! Ngapain kamu di sini?!" bentaknya dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha terdengar galak meski wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
Aku menghentikan langkah, lalu menatapnya dengan tampang paling polos sedunia. "Eh, Nona Shella? Anu, Non, saya mau cuci mobil Nyonya. Katanya tadi habis nerobos banjir, takut karatan kalau didiamkan sampai besok.”
Nona Shella tampak berusaha keras mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Namun, mata jelalatan milikku ini justru gagal fokus dan malah tertuju pada penampilannya yang sangat berantakan, tapi sangat-sangat menawan. Rambut panjangnya yang tadi rapi kini acak-acakan seperti habis dijambak-jambak manja, beberapa helai rambut basah menempel di pipi dan lehernya.
Yang paling membuatku susah menelan ludah adalah kemeja kerjanya.
Satu kancing di bagian dada atasnya terlepas, entah copot atau memang sengaja ditarik paksa saat pergulatan panas tadi, sehingga belahannya terekspos jauh lebih lebar dari biasanya.
Kulit putih mulus di area sensitif itu terlihat basah oleh keringat yang mengilap tertimpa cahaya lampu garasi, sedangkan squishynya yang padat itu masih naik-turun dengan tempo cepat.
"Cuci mobil tengah malam begini? Kamu gila apa, ya?!" sembur Nona Shella lagi, tangannya sibuk merapikan rok span-nya yang miring ke kiri.
"Lho, ini kan tugas saya, Non. Lagian saya tadi dengar suara ribut-ribut di sini, saya kira ada tikus kejepit atau kucing berantem," jawabku asal bunyi, tapi mataku masih terpaku pada titik keringat yang mengalir turun membelah lembah dadanya.
“Eh, tapi Nona kok keringetan banget? Sampai basah begitu lehernya? Nona abis jogging di garasi malam-malam kayak gini?"
Nona Shella tersentak kaget, wajahnya yang tadi merah kini semakin merah padam menahan malu. “Jogging ndiasmu, Rafli, mana ada orang jogging malam-malam begini. Udah sana pergi, jangan ganggu aku!”
Namun, dasar aku yang memang kurang peka dan sok tahu, aku malah melangkah maju mendekatinya dengan wajah khawatir yang dibuat-buat.
"Waduh, Nona, jangan-jangan AC mobilnya rusak ya? Pantesan Nona sampai buka kancing baju begitu, pasti kepanasan banget di dalam sana, ya?"
Mata Nona Shella melotot sempurna mendengar ucapanku. "Apa kamu bilang? Kepanasan?"
"Iya, Non. Kalau AC-nya mati, besok biar saya bawa ke bengkel. Bahaya lho Non, kalau kepanasan di dalam mobil tertutup, bisa kehabisan oksigen. Apalagi tadi saya lihat Nona sampai napasnya ngos-ngosan gitu kayak habis lari maraton," cerocosku panjang lebar tanpa dosa.
Padahal dalam hati, aku menahan tawa membayangkan betapa malunya Nona Shella.
"Rafli!" Teriakan Nona Shella melengking.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kananku.
"Dasar sopir bodoh, kamu itu mesum juga ternyata. Pergi, cepat! Nggak usah cuci-cuci mobil malam ini atau aku laporin Mama biar kamu dipecat!?"
Aku memegangi pipiku yang berdenyut, pura-pura kesakitan dan ketakutan. "Aduh, ampun Non! Iya, iya, saya pergi. Jangan dipecat, Non, saya cuma mau bantu benerin AC kok ditampar," keluhku sambil mundur teratur.
Nona Shella mendengus kasar, lalu buru-buru membalikkan badan dan kembali masuk ke dalam mobil, mungkin untuk memberitahu pacarnya kalau situasi sudah aman karena yang memergoki mereka cuma sopir bloon yang mengira mereka kepanasan.
Sambil berjalan kembali ke arah dapur dengan ember kosong, aku menyeringai kecil sambil mengusap pipi bekas tamparannya.
Sakit sih, tapi bayangan belahan dadanya yang basah keringat dan ekspresi pasrahnya saat mendesah tadi benar-benar tercetak permanen di otakku.
"Galak-galak begitu tapi kalau lagi main ternyata liar juga.”
Rasanya si Gatot di bawah sana masih belum mau tenang, justru semakin menegang sakit karena tidak mendapat penyaluran.
Berjalan dengan celana yang menyempit di bagian depan sungguh siksaan tersendiri.
Aku mencoba membayangkan hal-hal yang tidak jorok biar si Gatot cepat tidur lagi, seperti tagihan listrik atau muka garang penagih utang di kampung, tapi tetap saja bayangan paha putih Nona Shella yang menjepit pinggang pacarnya terus menari-nari di pelupuk mata.
Aku melewati garasi samping tempat Nona Sora tadi duduk dan dia masih ada di sana.
Setelah dirasa tidak ada lagi yang bisa kukerjakan, aku meletakkan ember di dekat pintu dapur belakang, berniat mengambil air minum dingin dari kulkas untuk mendinginkan otak dan tubuhku yang rasanya mau meledak ini.
Suasana di dapur cukup gelap, hanya diterangi lampu kecil di atas kitchen set, sedangkan hujan di luar semakin deras, disertai angin kencang yang membuat jendela kaca bergetar ngeri.
Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu kulkas, tiba-tiba...
LHAP!
Seluruh lampu di rumah besar itu padam seketika. Suara guntur menggelegar dahsyat tepat di atas atap rumah dan membuat lantai yang kupijak terasa bergetar.
DHUAR!
DHUAR!
"Waduh, mati lampu," gumamku sambil meraba-raba dinding, berusaha mencari letak lilin atau senter yang biasanya disimpan di laci dapur.
Saat lilin sudah kunyalakan, aku ingin melangkah ke arah Sora. Namun, belum sempat aku melangkah, telingaku menangkap suara jeritan tertahan dari arah ruang tengah.
Suara perempuan, terdengar panik dan ketakutan setengah mati. "Mamaaa! Tolooong, Sora takut gelap, Mamaaa!"
Tanpa aba-aba, gadis itu melompat bangkit dari sofa secepat kilat, melingkarkan tangannya ke pinggangku seperti koala.
"Mas Rafli, jangan tinggalin Sora, Sora takuutt! Mas Rafliii!” Gadis itu terus-menerus menangis, tapi sial bagiku, dia tadi loncat dan dadanya tepat menjepit si Gatot.
Bab 3
Nona Sora, si bungsu yang katanya manja itu, kini kakinya melilit kakiku dengan simpul mati, membuat area paling sensitif di kedua dadanya menekan telak ke perut bawahku.
Setiap kali dia terisak pelan karena sisa ketakutan, tubuhnya bergetar, menciptakan gesekan-gesekan kecil yang mahadahsyat di area terlarang.
"Mas Rafli, jangan dilepas, nggak mauuu! Sora takut gelap, Sora nggak mau lepas sama Mas Rafli, huhuhu!"
Si Gatot yang masih terjepit , kini memberontak semakin brutal. Mungkin ukuran angka milik Nona Sora tidak sebesar kedua kakaknya, tapi lingkarnya dia besar, sehingga terasa penuh-sesak saat menekanku.
Otak udangku mendadak membayangkan hal yang tidak-tidak. Bagaimana jika Nona Sora sadar ada pentungan yang mengganjal di mainan squishy itu?
"A-anu, Non-Nona Sora," panggilku terbata-bata, tangan kiriku masih menopang bagian belakangnya yang sintal dan luar biasa empuk itu agar dia tidak jatuh.
Sumpah mati, tanganku gemetar bukan main merasakan tekstur daging yang kenyal dan padat di balik kain tipis itu. "Sumpah, Non, ini berat banget, Nona juga ngerangkulnya kuat banget. Lilinnya mau mati kalau Nona napasnya kencang begitu di dekat api."
"Nggak mau!" tolaknya tegas.
Saat si Gatot sudah hampir maksimal, aku baru sadar sesuatu.
Astaga, apakah dia tidak pakai kacamata? Rasanya seperti ada dua titik kecil yang menonjol menekan otot helm si Gatot, serasa geli-geli aneh.
“Gusti, lindungi iman hamba yang setipis kulit bawang ini, jangan dianggap dosa ya, Gusti, ini di luar kehendak hamba yang baik hati dan rajin menabung ini," batinku merana.
Namun, seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Dan seindah-indahnya momen ini, pasti akan berakhir dengan bencana.
LHAP!
Lampu ruang tengah tiba-tiba menyala terang benderang, menyilaukan mata kami yang sudah terbiasa dengan kegelapan.
Aku mengerjap-ngerjap kaget, tapi belum sempat aku menurunkan Nona Sora dari gendongan darurat ini, sebuah teriakan melengking yang penuh amarah sudah lebih dulu memecahkan gendang telingaku.
"HEH, Rafli! Apa-apaan kalian berdua?!"
Aku menoleh kaku ke pintu yang mengarah ke tangga lantai dua.
Di sana, berdiri Nona Shella dengan wajah yang lebih menyeramkan daripada kuntilanak di film horor. Tangannya berkacak pinggang dan matanya melotot tajam seolah ingin menguliti aku hidup-hidup.
Nona Sora yang kaget langsung melepaskan pelukannya dan meluncur turun dari tubuhku. Dia berdiri canggung di sampingku sambil merapikan kaus oblongnya yang kusut.
Nona Shella menuruni tangga dengan langkah lebar dan cepat, suara hentakan kakinya di lantai marmer terdengar mengintimidasi. Dia langsung berdiri tepat di depan wajahku, menunjuk hidungku dengan telunjuknya yang lentik namun tajam.
"Dasar sopir kampung nggak tahu diri! Ngapain kamu peluk-peluk adikku?! Kamu mau manfaatin keadaan, Hah? Mentang-mentang Sora takut gelap, kamu ga bisa seenaknya kayak gitu!"
Aku mundur selangkah, mengangkat kedua tangan dengan pose menyerah. "Sumpah, Non Shella! Saya nggak peluk-peluk! Saya tadi cuma lari bawa lilin karena Nona Sora teriak, eh tiba-tiba Nona Sora loncat jadi koala di badan saya!"
"Alasan!" potong Nona Shella. "Kamu pasti sengaja kan? Kamu pasti senang kan ada kesempatan buat grepe-grepe adikku di tempat gelap? Ngaku kamu, Rafli!"
"Ya Allah, Non, sumpah, boro-boro grepe, tangan saya sibuk megang lilin sama nahan... nahan beban…” Hampir saja aku keceplosan kalau tangan kiriku tadi sempat meremas bagian belakang adiknya, ya walau tiga remasan aja.
"Lagian saya mana berani sama Nona Sora, dia kan adik Nona Shella, pasti sama-sama galak."
"Kurang ajar! Kamu nyamain aku sama dia?" Nona Shella semakin murka. Dia maju selangkah lagi, mendesakku hingga punggungku menabrak dinding.
"Maaf, Non, saya tahu diri kok. Saya sadar saya cuma butiran debu di rumah ini. Saya berani sumpah, itu tadi murni kecelakaan, Non. Nona Sora takut petir terus ngerangkul saya."
"Halah, basi! Kamu itu laki-laki, pasti otaknya ngeres semua! Liat tuh celana kamu! Masih berani bilang nggak mikir jorok?"
Mampus.
Aku refleks menutupi area si Gatot dengan ember yang ada di dekatku. Wajahku panas bukan main, rasanya ingin menghilang ditelan bumi sekarang juga.
Nona Shella sudah mengangkat tangannya, bersiap melayangkan tamparan kedua malam ini ke pipiku yang satunya. Aku memejamkan mata pasrah, siap menerima nasib kalau malam ini aku ditampar dua kali.
Tapi tiba-tiba…
"Kak, udahlah, jangan marah-marah mulu, Sora bosen liat Kakak marah!"
Suara Nona Sora menghentikan gerakan tangan kakaknya di udara. Gadis bungsu itu maju, berdiri di antara aku dan Nona Shella.
"Mas Rafli nggak salah, Kak! Aku yang lompat ke dia. Aku takut banget tadi, gelap, terus ada petir. Kalau nggak ada dia, aku mungkin udah pingsan di lantai!" bela Nona Sora dengan suara serak.
Nona Shella menurunkan tangannya perlahan, menatap adiknya dengan tatapan tak percaya. "Kamu belain sopir dekil ini, Sora? Sadar, pliss, dia itu pasti manfaatin kesempatan buat bisa ambil keuntungan dari kamu. Liat mukanya yang sok polos itu, aslinya dia itu mesum!"
"Terserah Kakak mau ngomong apa, yang jelas dia nolongin aku! Ah udahlah, Kakak ini mesti berpikiran buruk terus ke orang lain, pantes gonta-ganti pacar, diputusin terus. Hari-hari kayak singa, sih!" Nona Sora kemudian menggandeng tanganku dan memintaku kembali.
Saat itu, Nona Sora menoleh ke arahku sekilas, pipinya merona merah saat melihatku, atau mungkin melihat ember yang menutupi Gatot.
Tanpa menunggu balasan dari Nona Shella yang terlihat siap meledak lagi, aku langsung melipir cepat menuju pintu belakang. Samar-samar, aku masih mendengar omelan Nona Shella di belakangku.
"Kamu tuh ya, Sora, jangan terlalu baik sama bawahan. Meskipun dia udah jadi sopir selama 6 bulan, tapi ingat, dia baru aja tinggal di sini. Kalau nanti dia ngelunjak, gimana? Lihat tuh, hari pertama aja dia udah kayak gini. Dia pasti lagi ngebayangin badan kamu di kamarnya sekarang!"
"Biarin aja! Kakak sendiri kenapa bajunya acak-acakan gitu? Terus, kenapa kancing atas kemeja Kakak hilang satu?” Nona Sora sepertinya muak dirinya disalahkan terus-menerus.
“Ah, serah kamu aja! Cepat, masuk kamar, tidur. Besok kamu kuliah daring pagi jam 8!”
Aku menutup pintu kamar pelayan dengan napas lega, lalu bersandar di baliknya sambil memegangi dada. Gila.
Benar-benar gila keluarga ini!
Yang satu habis main kuda-kudaan di mobil tapi sok suci, yang satu manja tapi meluknya kencang banget sampai bikin sesak napas dan sesak yang lain.
Tanganku meraba celana, merasakan si Gatot yang masih berdenyut nyeri. Aku kemudian menepuk-nepuknya pelan, seraya berujar, "Sabar ya, Tot. Belum rezeki kita malam ini. Kamu sabar dulu, jangan gampang bangun. Iya kalau dirimu kecil kayak cabai keriting, ga apa bangun aja. Masalahnya, gedemu itu kayak Tugu Pancoran dan ngecap banget kalau bangun!”
Baru saja aku hendak melepas baju seragam yang lengket oleh keringat, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu kamarku.
Tok!
Tok!
Suara ketukan itu sangat pelan dan membuat jantungku kembali berpacu.
Aku berjalan mendekati pintu dan membukanya sedikit.
Di sana, berdiri Nona Sora.
Dia sudah berganti pakaian, memakai piyama sutra tipis berwarna merah muda. Tangannya memegang sikat gigi, tapi matanya menatapku dengan sorot yang sulit diartikan.
"Mas Rafli," panggilnya lirih, suaranya jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Boleh minta tolong ambilin air panas di dispenser? Aku, aku masih gemetaran, nggak kuat angkat gelas buat air panas."
Aku menatapnya bingung.
Dispenser air ada di dapur, tinggal pencet. Terus, masa angkat gelas aja nggak kuat?
Tapi melihat bibirnya yang sedikit terbuka dan matanya yang melirik ke arah dadaku yang terekspos karena kancing seragamku sudah kubuka setengah, insting laki-lakiku mengatakan ini bukan sekadar soal air panas, apalagi ini sudah pukul satu pagi.